Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Pernikahan Sylvia


__ADS_3

Sebuah hotel mewah milik keluarga Pa Agus sudah disulap menjadi tempat resepsi pernikahan pa Agus dan Sylvia. Upacara pernikahan sudah dilakukan pagi tadi dengan khidmat di kediaman tante Sylvia, kenapa tidak di kampung halaman Sylvia? karena dengan pemikiran acara resepsi akan diadakan di hotel mereka sedangkan jarak tempuh perjalanan sekitar 5 jam, akan membuat panitia keluarga terlebih pengantin akan kelelahan, maka diputuskan untuk melaksanakannya di rumah tante Sylvia.


Malam itu Sylvia disulap bak seorang putri dari negeri dongeng, parasnya yang sudah bule dan cantik sejak belum dilahirkan semakin cantik dan semakin cantik saja. Tamu dari berbagai kelas hadir di resepsi mewah ini, dari rekan kerja kakek, teman sejawat dan kerabat jauh dekat, para dosen senior sampai yunior, bahkan mahasiswa mahasiswi tumpah ruah bak acara reuni fakultas dari angkatan tahun kapan sampai mahasiswa yang sedang aktif saat ini, ada beberapa yang tidak hadir sih, mungkin yang lagi patah hati ya. Decak kagum dari tamu tidak henti ditujukan padanya. Alya yang sedang duduk di bagian pojok hotel memandanginya dengan berbagai perasaan. Disampingnya ada Kevin, juga ada Arga dan calon pacarnya, Nisha. Juga ada Roni dan kekasihnya.


" Gue bahagia Ga, Sylvia sudah menikah, tapi gue juga sedih dia akan jarang bareng kita lagi"


" Masing-masing kan punya waktunya Al, lagian di kampus kita kan masih bisa bareng"


" Iya, tapi beda Ga, akhir-akhir ini aja kita sudah susah makan bakso bareng, makan ayam bakar bareng"


" Bisa lah itu di atur, awas lo mewek disini ya"


Alya menatap sahabatnya yang sekarang duduk di pelaminan dengan anggunnya.


Kevin menggenggam tangan Alya, dan Alya tidak berusaha melepaskan nya, saat ini dia memang merasa sangat sedih, tidak mungkin kan tiba-tiba dia meluk Arga untuk menguatkannya


" Sayang, harusnya kan bahagia Sylvia sudah bahagia".


" Alya bahagia kok ka"


Alya merasakan ponselnya bergetar, sempat diliriknya tas tangan kecil yang di dalamnya ada ponsel, melirik sedikit dan mengintip siapa penelpon, huuuppp Ka Afkar. Melirik Arga yang sedang menatap Sylvia, menatap Roni sedang memandang kekasihnya, menatap Kevin sedang memainkan ponselnya


" Ka Kevin, Alya mau ke toilet dulu ya"


" Mau aku temani sayang?"


" Alya bisa sendiri" Kevin mengangguk


" Jangan mewek lo di sana ya"


Arga tersenyum saat Alya melewatinya, dan kaki mungil Alya beserta selop berhak 5 cm nya menginjak kaki Arga


" Aww, Alya,,"


Alya berlalu saja dengan cueknya, sambil berjalan langsung mengetik pesan pada Arga


" Ka Afkar nelfon, sebisanya lo ngobrol biar dia tidak ngikutin gue"


Arga melirik ponselnya yang bergetar, alisnya terangkat


" Kapan gue bisa tenang, ini gue lagi sama calon pacar gue, dapat tugas lagi".


Alya memasuki toilet dan berdiri di samping cermin besar


" Assalamualaikum bidadari"


Karena ada di dalam toilet Alya tidak menjawab


" sudah di tempat acara sayang?"


" Iya ka"


" Sama siapa?"


" Sama Arga dan calon pacarnya, sama Roni dan pacarnya"


" Cuma sayang yang sendiri ya? maaf ya aku masih belum bisa ambil cuti"


" Iya, sudah dibilangin ke Sylvia, di maafin katanya, hehe"


" Nanti kirimi foto kalian ya".


" Siiip lah".


" Berapa ya sayang bugded nya pernikahan seperti Sylvia"


" Mewah banget ka, nanti Alya kirimi aja fotonya, enggak bisa diceritain deh"


" Kamu mau juga seperti itu?"


" Kalau kaka nanti kaya banget ya Alya mau, tapi kalau tidak bisa sederhana aja ka, yang penting kan setelahnya"


" Sayangku pinter banget"


" Iya lah, kan kaka yang ajarin".


" Tapi kok kedengarannya sepi, sayang lagi di mana sih ini"


" Di toilet"


Oopppps, kelepasan.


" Hah, ngapain terima telf di toilet?"


" Hmm, enggak papa, di depan soalnya berisik banget, suaranya qa kedengeran"


" Oh ya udah, nanti kita telfonan lagi ya sayang, salam sama teman-teman. Oh iya nanti pulang diantar Arga kan?"


" Enggak"


" Terus?".


Aduuuh keceplosan lagi.


" Maksud Alya sama Roni"

__ADS_1


" Oh iya deh, bilangin terima kasih dari Afkar sudah mengantarkan bidadarinya pulang"


" Iya ka"


" emuuah'


" Sayang ka Afkar"


" Sayang Alya".


Klik.


Alya keluar dari toilet dan memandang mukanya di cermin besar, sampai kapan gue begini, gue tidak ingin seperti ini, secepatnya harus selesai. Merapikan bedak di wajahnya dan segera keluar takut Kevin mengikutinya.


Kevin masih memainkan ponselnya saat Alya kembali duduk disampingnya, Kevin menoleh


" Sudah sayang?'


" Iya ka"


" Sudah jam setengah 10 malam, apa tidak apa-apa pulang jam segini?"


" Tadi Alya sudah bilang ke ibu kost kalau Alya pulang telat, ibu kost juga di undang kok kesini, tapi kayanya enggak datang tuh"


" Oh ya sudah, kita duduk di sana aja yu, disini terlalu ramai"


Kevin menunjuk satu sudut yang agak sedikit longgar dari pojok yang sekarang mereka duduki, Alya mengangguk


" Gue kesana dulu ya"


Alya pamit pada 4 orang yang mungkin lagi kasmaran itu, Arga berbisik


" Dia tadi main hp terus, jadi gue belum sempat menjalankan tugas"


"Bagus lah"


Roni menegadahkan wajahnya ke arah Alya seolah minta penjelasan, Alya tersenyum


" Amaan Ron"


Alya mengikuti Kevin, melihat Alya mulai mengikutinya Kevin segera menggandeng tangan Alya, dan kembali tanpa penolakan


" Di sini lebih santai sayang'


Kevin membawa Alya duduk di satu sofa kosong, walaupun di depan mereka tamu masih berlalu lalang, tapi lebih sepi daripada tempat sebelumnya tadi.


Kevin memandangi wajah Alya yang malam ini semakin cantik dan semakin cantik saja, tubuhnya terbungkus gaun cokelat muda dengan sedikit hiasan Swarovski di bagian dada. Kali ini kaki nya manja dengan selop berhak sedang. Rambutnya agak di sasak ke belakang hasil dari tangan mbak salon yang mereka singgahi sebelum ke acara resepsi ini


" Kenapa ka?"


Alya tersipu


" Jangan begitu ka, ini Alya hampir mau terbang"


" Kita terbang sama-sama yuk"


" Hehehe"


Kevin menarik jemari Alya dan menciumnya, Alya kaget dan spontan menariknya


" Kenapa sayang? kamu tidak pernah memperbolehkan aku menyentuhmu"


" Tidak sekarang ka".


" Tapi aku sering melihat tanganmu kadang spontan merangkul Arga dan Roni, mereka juga tidak segan mencubit pipi mu atau sekalian menjambak rambutmu saat bercanda, kenapa dengan pacarmu sendiri kamu jaga jarak?"


Terlihat ada sedikit kecewa di wajah Kevin


" Maaf ka, kalau sama mereka kan kami benar-benar sahabat tanpa perasaan cinta, jadi apapun becandaan kami tidak akan mengubah apa yang sudah ada"


Kevin mendekatkan wajahnya, huuh, kenapa tingkahnya seperti Ka Afkar sih


" Jadi sayang sudah bisa mencintaiku?"


Alya melongo, dari mana dapat kesimpulan itu sih?


" Belum ka".


" Kamu masih menepati janjimu kan untuk mencobanya?".


" Seandainya masih belum bisa ka?".


" Aku akan menunggu"


" Kalau masih belum bisa juga?"


" Aku akan tetap sabar menunggu"


" Kalau akhirnya memang tidak bisa?"


" Sayang serius mau belajar atau memang tidak pernah ingin mencobanya?"


Alya terdiam, Alya memang tidak ada niat mencobanya ka.


" Aku tidak akan memaksa dan tidak memberi batasan sampai kapan sayang akan bisa mencintaiku, semua dalam hidup ini belajar, sejak lahir kita belajar , belajar duduk, belajar berdiri, belajar berjalan, belajar menuntut ilmu, belajar mandiri, belajar dengan kehidupan berumah tangga, belajar dengan menjaga anak-anak kita, tidak akan pernah tamat untuk belajar sayang"

__ADS_1


" Iya, tapi untuk perasaan tidak bisa kaka samakan begitu"


" Perasaan itu datang, mungkin sebagai tamu biasa, atau mulai bersimpatik, maju lagi ke arah suka. Kalau lebih lama dan menyenangkan tentu bukan hanya sebagai tamu biasa, kita akan mulai menunggunya lagi untuk pertemuan kedua, simpatik, tertarik. Jika sudah lebih tertarik kita akan berulang menunggu dan menunggunya lagi. Itu namanya belajar untuk perasaan"


" Alya tidak mengerti"


" Kita di dunia ini bukan untuk mencari yang sempurna, tidak akan bertemu, tapi belajar mencintai yang tidak sempurna itu dengan cara yang sempurna"


Alya mengangguk.


" Sayang, kamu ingin pesta kita nanti begini?"


Alya terdiam, baru saja Afkar menanyakan itu padanya.


" Aku bisa memberikan pesta yang lebih mewah daripada ini, tapi aku tau sayang orangnya sedehana, pasti jawabannya kamu ingin pesta yang biasa, iya kan?"


Kevin menarik jemari Alya dan menggenggamnya


" Semoga akan cepat terlaksana ya sayang".


Alya memandangi jemarinya, aku tidak ingin mengamininya ka.


" Sudah jam 10, kita pamit atau bagaimana?"


" Terserah kaka"


Kevin berdiri dan mengulurkan tangannya. Tubuh tinggi yang berbalut kemeja cokelat muda, mereka memang berpenampilan couple hari ini, kapan Kevin tidak memperhatikan penampilan nya, dari atas ke bawah selalu terlihat menarik, wajah berkarisma memang seperti sudah menjadi takdirnya dan sangat pantas menjadi seorang pengusaha. Malam ini terlihat tampan di mata Alya, entah karena malam ini mereka sudah merasa lebih dekat karena Alya tidak menolak untuk digenggam tangannya ataukah karena hati Alya sudah merasa lebih terbuka untuk Kevin.


" Masih mau disini sayang?"


Alya terperanjat, huuh, kenapa aku jadi memerhatikan penampilan dia sih, sampai lupa berdiri.


Alya meraih tangan Kevin yang sudah sejak tadi terulur untuk membantunya berdiri dari sofa itu.


" Pamit dulu sama mempelai"


Kevin membawa tubuh gadis itu dengan melingkarkan tangannya di pinggang Alya. Sampai cara berjalan berdua begini saja Kevin jelas terlihat berkelas, darimana dia belajar sih. Menyalami mempelai dan pamit pada keluarganya


" Samawa ya sayang"


Bisik Alya di telinga Sylvia


" Semoga lo cepat menyusul"


Kevin yang mendengar ucapan Sylvia langsung mengaminkan


" Aamiin"


Alya hanya tersenyum dan mengambil ponselnya." Syl, selfie dulu"


Arga dan Roni langsung bergabung dan jadilah panggung menjadi acara selfie dadakan dengan gaya bebas anak-anak. Pa Agus yang melihat hanya tersenyum, aku tidak akan membatasi kamu untuk masih bisa menjalani hari-hari bahagiamu seperti biasa, batinnya.


Mobil silver melaju pelan


" Sayang besok aku jemput?".


" Tidak usah ka, Alya siangnya mau tugas kelompok".


" Baiklah, besok malam saja aku ke kost ya"


" Kalau sibuk enggak usah ka, Alya tidak mau merepotkan".


" Apa yang direpotkan sih, aku malah maunya siang malam bisa berada di samping kamu, biar hatiku nyaman dan memastikan kamu dalam keadaan baik-baik saja"


Alya tersenyum


" Terima kasih ya ka sudah baik sama Alya"


" Sama-sama sayang, kalau kamu sudah bisa membuka hatimu untukku, kamu tidak hanya mendapatkan perhatian dan hatiku saja, semua milikku adalah milikmu juga"


" Heheh"


" Ya sudah, sayang cuci muka dan istirahat ya"


," Iya ka"


" Selamat malam, mimpi indah ya Nyonya Kevin"


Alya tersipu dan tidak sengaja mencubit lengan Kevin


" Heey, aku sudah lama menunggu perlakuan begini".


Kevin mengulurkan tangan satunya lagi


" Yang ini lagi sayang"


Alya mencibirkan bibirnya kemudian tertawa. Membuka pintu mobilnya dan menoleh


" Terima kasih, selamat malam ka, Assalamualaikum"


" Waalaikum salam". Alya melangkah ke depan pintu dan memencet bel, Kevin sengaja tidak menjauh menunggu dan menurunkan kaca pintu mobilnya untuk memastikan keselamatan Alya sampai ada yang membukakan pintu untuk untuknya, begitu melihat Yanti membukakan pintu Alya menoleh padanya seolah berkata sudah bisa kaka pulang sekarang, Alya sudah aman


Alya melambaikan tangannya, begitupun Kevin. Di lajukannya mobilnya sambil tersenyum-senyum sendiri, lenganku baru saja di cubit Alya, serasa ingin kulaminating saja agar bekasnya tidak hilang, tuh kan aku sudah mulai menggilainya.


Aku benar-benar harus bersabar menghadapi sikapnya begini, memang usianya masih muda, tapi tidak terlalu muda sekali juga, kedepannya dia pasti akan berproses, kepompong saja perlu metamorfosis.

__ADS_1


__ADS_2