
Pa Rangga memesan kamar hotel dengan tipe double rooms yang. Di dalamnya terdapat 2 kasur. Ukuran kamar ini kurang lebih 40 hingga 45 meter persegi. Sejak makan malam bersama Kevin tadi Alya merengek mau menginap di hotel, bukan tanpa alasan, Alya mau sedikit demi sedikit membicarakan masa depannya, masa depan dia dan Afkar.
Mama mencuci muka di kamar mandi, sementara papah mulai menyalakan televisi dan menonton berita politik yang selalu bikin papah akan banyak komentar setelahnya.
Alya merebahkan diri di ranjang single sambil membuka ponselnya.
" Alya, jangan main ponsel sambil berbaring"
"Iya pah"
Alya menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang
" Alya cuci muka baru tidur"
Mama sudah keluar dari kamar mandi dan mulai merebahkan diri juga di ranjang yang lebih besar
" Ma, pah, dapat salam dari Ka Afkar"
" Ya, waalaikum salam" jawab mama.
" Apa kabar Afkar? gimana kerjaannya?"
" Baik pah, senang aja dia sama kerjaannya, walaupun sudah sering sibuk katanya"
" Bagus lah, laki-laki memang harus begitu".
Papah mulai serius lagi menonton acara favoritnya
" Alya, gimana kamu sama Kevin? mama belum ada telfonan sama Ka Risma"
" Alya juga baru tadi ketemu lagi mah, kemaren ka Kevin pergi ke Bandung"
" Iya, buka cabang baru Om Hadi"
" Tadi ngobrol apa di mobil Al?"
" Ngobrol biasa aja mah'
Papah mulai mengomentari siaran berita politik di televisi, beberapa kali mama sempat juga adu debat, Alya cuma bisa dengerin, enggak ikutan komentar karena memang enggak ngerti juga. Memandang papah yang sedang serius timbul isengnya.
" Pah dulu naksir mama karena apa?"
" cantik"
" Terus??"
" Hmmmm,,,".
Papah menoleh pada Alya dan belum meneruskan
" Whhaaaaha, kasian papah mikir keras enggak bisa jawab selain alasan cantik"
" Alyaa" Mama melotot, tapi Alya belum juga niat berhenti dengan keisengannya
" Apaan lagi pah?"
" Baik"
" Waah, itu sih jawaban orang yang nyerah, enggak ada alasan lain lagi?"
" Jangan salah kamu Alya, papah naksir mama karena terlalu banyak kelebihan, makanya papah lagi bingung, kelebihan mama yang mana nih yang mau di prioritaskan dijawab duluan" Mama membela diri karena merasa sama sekali tidak akan dibela oleh suami nya sendiri.
Papah mengangguk aja.
' Kalau mamah naksir papah kenapa?"
" Ya takdir"
" Whhaaahaaa, parah pah, sama sekali enggak ada sebab musabab nya, tiba-tiba naksir aja".
" Alya, orang tua dikerjain"
Papah kembali konsentrasi ke layar televisi.
" Memang kamu sudah menemukan juga perasaan jatuh cinta pertama yang sering kamu ributin itu?"
Kali ini mama terlihat serius
" Iya, Alya sudah merasakan jatuh cinta ma"
" Sama Kevin?'
Mama mulai tersenyum
" Bukan mah"
" Lho, bukannya kata Kevin kamu sudah menerimanya?"
" Hah? mama tau dari mana?"
" Tante Risma"
" katanya mama enggak ada telfonan sama tante Risma"
" Hari ini enggak ada, kalau kemarin-kemarin ada"
" Kaya gitu aja kok bisa nyebar"
" Itu berita besar, lontong kamu aja nyebar waktu sarapan sama Kevin"
" Mah,, rese banget sih tante Risma"
" Iya, eh qa boleh ngomong gitu, itu calon mertua kamu"
" Alya mau berubah pikiran mah"
" Pikiran apa?"
" Alya jatuh cinta sama ka Afkar, dan Alya sudah jadian kemarin" Alya tersipu mengatakan itu. Dan di luar dugaanya mama langsung marah
" Alya,,, kamu ini kenapa? kamu pikir ini main-main heh?". Alya kaget dan tertunduk, mama marah?
Papah yang tadi sibuk dengan acaranya kali ini menoleh ke arah mereka
" Ma, tidak usah teriak, bicara baik-baik"
" Pah, gimana mama tidak marah, ini anak sadar tidak sih apa yang sudah dilakukannya?"
" Iya pelanin suaranya"
Mama yang tadi duduk di ranjangnya sekarang sudah ada disamping Alya
" Alya, kabar kamu sama Kevin jadian itu sudah menyebar, mama juga taunya dari tante Risma, kamu belum cerita ke mama, tiba-tiba kamu cerita malah jadian sama Afkar, kamu bisa jelaskan?"
Alya yang tertunduk mencoba berani untuk memandang mama yang masih keliatan marah.
" Kemarin itu ka Kevin maksa Alya memberi kepastian karena dia mau ke Bandung selama 4 minggu, dia bilang dia tidak mau pergi dengan keadaan gantung begini. Ka Kevin cuma nanya apakah Alya mau mencoba belajar mencintai dia, karena Alya terus didesak ya Alya bilang Alya coba, itu kan bukan jadian mah"
Mama terdiam
" Soal Afkar bagaimana?"
" Ka Afkar datang sehari setelah ka Kevin pergi, terus dia cerita selama dua tahun ini juga naksir Alya, tapi tidak berani mengungkapkan karena dia tidak percaya diri sama kita, sama teman-teman Alya"
" Terus kamu jawab apa?"
" Mama kan tau dari dulu Alya sudah naksir ka Afkar"
" Perasaan apa itu, naksir tapi enggak dianggap"
Deg, Alya kok merasa tertusuk mendengar ucapan mama.
" Dianggap kok mah, buktinya ka Afkar datang buat Alya".
" Alyaa, kamu ini sedang serius menjalankan hubungan dengan Kevin, jangan main-main ya "
" Hubungan? bukannya Alya tidak tau tiba-tiba saja keluarga Ka Kevin punya ide begitu, kami sama sekali tidak menghendakinya kan ma?"
" Iya awalnya begitu, tapi kamu kan sudah nenerimanya?"
" Alya belum menerimanya ma"
" Itu yang kamu bilang kamu mau berusaha mencoba mencintainya, itu artinya kamu sudah menerimanya Alya"
" Mah kenapa jadi ribet begini sih, harusnya kan ini cuma jadi urusan Alya sama Ka Kevin, ngapain jadi besar begini"
" Karena dari awal ini sudah melibatkan para orang tua Alya"
" Ya sudah, kalau ini sudah dianggap Alya menerima, besok Alya mau bicara sama ka Kevin?"
" Bicara minta maaf"
" Bicara kami besok putus"
" Alyaaaa"
Kali ini mama berteriak lebih keras.
Papah langsung menarik tangan mama dan mendudukannya di ranjang besar, papah kemudian mendekati Alya
" Alya, tidak usah dibahas dulu ya, mama masih kaget aja dengan apa yang kamu ceritakan, besok kita sambung lagi, kita perlu istirahat" Alya memandang papah dengan tatapan memelas, bisa bantu Alya pah? mata Alya meminta belas kasihan, papah seperti mengerti isyarat putrinya, papah mencium lembut kepala Alya
" Sudahlah, istirahat ya sayang".
Malam kedua Alya tidak bisa tertidur nyenyak, kenapa jadi begini? Aku kan harusnya bahagia sudah menemukan yang selama ini aku cari dan aku tunggu. Sepertinya aku memang harus bicara pada Ka Kevin, tapi dia sedang sibuk mengurus pengajuan judul tesisnya, mungkin lusa. Aku harus menyelesaikan ini. Ka Afkar, baru setengah hari kita berpisah, aku ingin kaka ada di sini, aku perlu bantuannya. Meraih ponselnya dan membuka pesan WhatsApp mengetik satu nama
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Belum tidur ka?"
" Belum sayang"
" Ooh"
" Ada apa?"
__ADS_1
" Enggak apa-apa"
" Ku telf ya"
" Enggak usah, Alya nginap di hotel sama mama papah, mereka sudah tidur"
" Oh, sayang tidur aja, sudah malam"
" Alya kangen aja ka, pengen liat wajah kaka"
" Mau video call?"
" Boleh, tapi jangan ngomong ya"
" Iya".
Menutup ponsel dan kembali bergetar, panggilan video.
Wajah kekasih ku dengan mata teduh,yang mengajakku untuk memulai bersama. Padamu wajah kekasihku, kulukis masa depan, kamu saja.
Wajah cantikmu kekasih ku,
Pada wajahmu kulekat sebuah impian
Aku ingin melukis napasmu dengan kanvas jiwaku, biar kita lebih cepat menjadi masa depan.
Afkar tersenyum memandangi wajah letih Alya, kenapa kamu tidak sehangat kemarin? kamu punya beban? Bagikan saja, aku sudah menyiapkan diri untuk keluh kesahmu
Alya tersenyum memandang wajah tegar Afkar, Aku ingin bercerita sesuatu, tapi biar aku saja, aku sudah mengawali satu langkah yang salah, aku tidak ingin meneruskan kemudian semakin salah, apalagi harus mengajakmu, doa kan aku bisa kekasihku.
Alya melambai sebelum menutup panggilan video.
Bidadari
" Terima kasih"
Ka Afkar
" Sama-sama sayangku, istirahat ya, selamat malam selamat tidur"
Bidadari
" Waalaikum salam"
Ka Afkar
" Emuuah"
Bidadari
Emo amor.
Setelah mandi dan shalat subuh, papah dan mama mengantar Alya ke kost karena Alya masuk kuliah pagi, sedangkan orang tuanya masih harus menyelesaikan pekerjaan nya.
" Sayang, hati-hati ya, kabari mama, jangan nunggu mama terus yang ngabari"
" Iya mah".
" Uang belanja masih ada Alya?'
Papah dari balik kemudi melirik Alya yang duduk di belakang
" Masih pah, tapi kalau mau nambahin masih muat kok"
" Nanti awal bulan, sekalian bayar sewa kost ya"
" Siipp lah".
" Kami tidak ikut turun ya Al, kami langsung saja, biar urusannya cepat selesai dan bisa balik hari ini, Tasya kalau tidak dipantau makin bebas aja dia main PS"
" Iya ma, ini Alya juga mau siap-siap ke kampus"
Alya mencium tangan mama dan papanya. "Assalamualaikum"
" Waalaikum salam".
Alya turun dari mobil dan melambai tangan
Papah kembali meneruskan perjalanan.
" Pah, mama kok merasa tidak enak ya sejak tadi malam"
" Mama itu terlalu emosi, kasian kan Alya"
" Iya, mama menyesal. Mama liat dia video call sama Afkar, tapi tidak ngomong pah, setelah ditutup mama liat Alya menutup wajahnya dengan selimut, dia menangis pah"
Papah tidak memberi komentar, matanya masih berkonsentrasi pada jalan.
" Menurut papah, apakah Alya benar-benar mencintai Afkar?"
" Mungkin juga"
" Tapi menurut mama, mumpung mereka belum cinta betul-betul, kalau berpisah baik-baik sekarang tidak akan menyakitkan keduanya, kan katanya baru jadian kemarin"
" Tapi kita tidak mungkin lah ma memutuskannya sendiri, itu kan hatinya mereka, bisalah mereka memutuskan"
" Papah ini gimana, Alya aja tadi malam bilang mau putus sama Kevin, bagaimana kalau itu dilakukannya"
" Mama tau, Alya itu anak penurut walau ngeselin, tapi yang mama takut, dia bergerak sebelum kita, seandainya ini tidak menyangkut peran orang tua, apalagi orang tua Kevin, mama tidak khawatir begini pah"
" Kita tidak meraba juga ya ma akan seserius ini, papah kemarin juga kaget tiba-tiba mas Hadi bilang Kevin sudah menemui Alya di kost dan memulai pendekatan, sedangkan kita sama sekali tidak melakukan pengawalan pada Alya".
" Semoga Alya bisa berpikir jernih"
" Maksud mama?"
" Semoga Alya tidak memutuskan Kevin".
" Mama mau Alya putus sama Afkar?"
" Sebenarnya memang berat, tapi Alya harus memilih, dia tidak boleh bersikap begini, siapapun akan sakit jika perasaan cinta harus diakhiri sebelah pihak, tapi jika Alya memilih memutuskan Afkar, resiko dan akibat yang bisa ditimbulkan tidak akan separah kalau Alya memutuskan Kevin".
" Dari segi apa ma?"
" Maksud papah?"
" Karena Kevin penerus perusahaan? masa depannya sudah terlihat? sedangkan Afkar baru memulai?"
" Banyak faktor yang harus kita pertimbangkan pah. Kalau mau banding-bandingin, ya dari semua segi lah Kevin lebih unggul, keluarga, pekerjaan, pendidikan, materi, sedangkan Afkar, jangankan mama, coba kita tanya nanti, siapa Afkar dan dari keluarga apa, bisa jawab tidak Alya?. Mama tidak matre pah, Alya bebas kok, tapi sekarangnkan dalam posisi memilih, kita sebagai orang tua kan boleh memberikan dia pandangan".
" Papah sebenarnya ingin bicara berdua dengannya, mungkin dia mau sedikit mendengarkan, tapi ini aja kita lari-lari mengejar waktu"
" Pah, Pandu aja yang kita minta secepatnya bicara, mama bener khawatir pah dengan sikap Alya"
" Terserah mah".
Mama mengambil ponsel dan mulai mencari kontak
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam, kamu dimana nak?"
" Kantor mah, kenapa?"
" Bisa kamu temui Alya?"
" Dia baik-baik aja ma, sehat aja, 3 hari yang lalu kami ngobrol di telf, dia minta beliin gitar baru"
" Mama juga tau dia baik dan sehat, ini barusan mama ngantar dia ke kost, tadi malam kami nginap di hotel"
" Lho, baru ketemu kok minta aku jengukin lagi, mana gitarnya belum aku beliin"
" Siapa yang minta bawain gitar sih, mama mau minta tolong kamu beri dia saran dan pendapat, ini sudah serius Pandu"
" Masalah apa sih, Alya memang begitu suka rusuh, biarin aja dia nyelesain sendiri"
" Pandu ini bukan soal dia bikin kejahilan, ini soal masa depannya, ,,,,
,,,,,,
,,,,,
,,,,,"
" Oh begitu, ya udah minggu ini aku mampir kesana"
" Bukan minggu ini, tapi hari ini Pandu"
" Tapi maaaa, "
" Mama tunggu kabarnya hari ini, oke mama sama papah lagi dijalan, nanti kabarin mama, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Klik
" Semoga Pandu bisa memberikan kabar baik ya pah"
" Aamiin"
Tepat jam lima sore Pandu keluar dari kantornya, mama kalau memberi instruksi selalu begini, mengejutkan dan dengan waktu yang ditentukan sendiri. Setelah mampir ke toko musik untuk membelikan gitar baru pesanan Alya, Pandu menjalankan mobilnya, perlu waktu selama 1, 5 jam untuk bisa sampai ke kost adiknya. Berhenti sebentar di mesjid untuk shalat magrib dan kembali meneruskan perjalanan. Sebelumnya sempat menelfon Alya agar tidak kemana-mana karena ia akan datang membawakan hadiah gitar. Kedatangannya disambut Alya dengan bahagia, tentu saja kedatangannya sepaket dengan hadiahnya
" Beruntungnya gue punya sodara macam ka Pandu, cakep iya baik iya, enggak pelit iya, coba aja gue punya 10 sodara yang kaya gini"
" Untung gue satu-satunya kaka lo, kalau 10 orang bisa kacau ke sepuluhnya lo bikin ribet"
" Disyukurin punya ade kaya gue, carii noh di dunia bagian lain, enggak nemu lo"
" Emang enggak bakalan nemu, lo ini limited edition. De, kita makan malam yu"
" Ayu, gue ganti baju dulu ya". Alya ke atas dan mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih sopan karena sebelumnya cuma pakai baju kebangsaan nya celana jeans pendek dan baju kaos.
Pandu membawa mobilnya dengan santai
" kabar kaka ipar gimana? udah diusahain bikin ponakan buat gue?"
" Sudah, sering malah, lo tungguin aja"
__ADS_1
" Emang gue kurang kerjaan nungguin hasil kerja keras lo"
" Whhaaaa, mesum lo dek. Eh gue kangen makan di restoran langganan papah deh, kita makan di sana yu"
" Rezeki gue ya, tadi malam makan enak, malam ini makan enak, emang anak sholeh gue'
" Beruntung lo punya sodara kaya gue'
" Emang, tadi kan sudah gue puji"
Pandu memarkir mobilnya di sebuah restoran.
" Lo mau makan apa de?"
" Cumi lada hitam ka"
" Mba cumi lada hitam satu, kerang saos tiram kecap satu. Minumnya es jeruk 2". Pelayan permisi untuk menyediakan pesanan Alya dan Pandu.
Judika, jikalau kau cinta
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam, sedang apa Alya"
" Lagi makan sama ka Pandu ka, ada apa?"
" Ooh enggak apa-apa, mau bilangin malam ini aku tidak bisa ke sana, aku masih sibuk, qa papa ka?"
" Iya, qa papa, semoga lancar ya ka"
" Aamiin, terima kasih Alya salam sama ka Pandu ya"
" Iya, nanti Alya sampein"
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Klik.
" Siapa de?"
" Ka Kevin, salam katanya"
" Apa kabar dia?"
" Lagi ngurusin tesis, kemarin baru datang dari Bandung"
" Ooh, gimana perjodohan lo?"
" Alya udah salah sikap ka, kemarin dia nanya apa gue mau nyoba belajar mencintainya, karena keadaan terdesak, soalnya dia mau berangkat ke Bandung, dia mau ada Kepastian di antara kami, ya gue jawab aja iya"
" Terus?"
" Besok nya ka Afkar datang, nyatain juga, gue terima, lo tau kan ka, ka Afkar itu cinta pertama gue"
" Kalau lo cinta sama Afkar ngapain lo terima juga Kevin, rakus tu Al"
Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka
" Terima kasih mba"
" Bukan begitu, sebelum kedatangan ka Afkar, hubungan komunikasi kami sangat renggang, kata ka Afkar dia sibuk, tapi gue rada kecewa gitu, galau dan di saat yang sama Ka Kevin sering nemuin gue, ngantarin ke kampus, jemputin, makan siang, sarapan, lah di dua dunia berbeda tempat dan beda sikap ini otak gue kan juga kerja ka, mana yang bikin gue sedih dan kecewa mana yang bikin gue nyaman, gue pikir apa salahnya gue buat membuka hati ke orang baru yang lebih perhatian, baik, dan pastinya wujudnya ada di depan gue, gue ya enggak mikirin ka Afkar bakal datang dan menyatakan perasaannya juga, dua tahun lo ka Alya begini, kaya enggak ada harapan lagi kan?".
Mereka mulai menyantap hidangannya dengan pikiran masing-masing. Setelah selesai makan Pandu mulai dengan tugas wajibnya, beban sorang kaka yang harus membereskan persoalan adik-adiknya, terbayang wajah mama yang sedang menunggu kabarnya, belum bisa lepas juga tanggung jawab gue.
" De, ini kan sudah terlanjur nih, lo harus milih, enggak bisa keduanya lo terusin"
" Gue tau"
" Lo milih siapa?"
" Ka Kevin"
" Ooh ya udah, selesai dah, beres, mama tidak akan pusing lagi, hubungan persahabatan mereka tetap berjalan baik, mungkin kerjasama pekerjaan papah dan gue bisa lebih luas, masa depan lo bakal lebih cerah karena menjadi seorang istri pemilik perusahaan, dia juga ganteng de, enggak salah pilihan lo, dan perhatian, ini dia baru menghubungin lo kan?
" Maksud gue, gue milih ka Kevin buat gue putusin"
" Haah??"
" Kok kaget, lo juga tau kan gimana perasaan cinta?"
" Maksud gue bukan itu, coba deh lo mulai meraba pelan-pelan kemungkinan apa yang bakal terjadi kalau yang lo pikirin itu lo lakuin?"
" Kalau gue mutusin ka Kevin, masih berjejer tuh yang nungguin dia, kaya, cakep, pintar, bodinya bagus, tajir, dari keluarga baik-baik. itu dampak buat dia, dan dampak buat gue, gue bakal bahagia hidup sama ka Afkar'
" Kok kaya timpang gue dengernya de'
" Timpang apa?"
" Tadi lo nyebutin kelebihan Kevin, tapi pas sampe di Afkar lo cuma bilang lo akan bahagia, bisa lo sebutin juga kelebihannya?'
Alya diam
" De"
" Dia baik banget ka, kemarin dia datang beliin gue jaket katanya biar gue enggak kepanasan, jas hujan biar enggak kehujanan, isiin bensin motor gue, ke bengkel mengecek kondisi motor gue".
Pandu menaikan alisnya
" Lo bisa nyeritain itu ke orang-orang sebagai kelebihan Afkar? itu biasa banget de? enggak usah deh itu di masukin"
" Tapi gue luar biasa bangganya ka, itu memang terlihat sepele, tapi gue bahagia banget kalau dekat sama dia dengan perlakuannya yang luar biasa itu"
" Okee, bisa sebutin kelebihannya lagi?"
" Dia cakep banget ka"
" Heem, cakep sih, tapi enggak pake banget juga Al".
" Bodi nya ka"
" Whaaaha, bukannya dia kurus, lo aja manggil ceking"
" Udah beda ka, dia sudah rajin nge gjm"
" ya udah, gue enggak liat sih, percaya aja deh, terus?"
" Dia juga sudah kerja di perusahaan ka, katanya jadi staf"
" Ooh"
" Kok enggak ditanggapin ka?"
" Lo udah bilang jadi staf, gue enggak perlu nanyain lagi lah gajinya, gue udah bisa nebak, maaf ya Al, kalau dia ngaku kaya sekarang dengan jabatan dia, perlu lo selidiki jangan-jangan dia korupsi, bahaya lo"
" Enggak, dia cerita ini mau nabung, nanti mau bikin rumah buat kami, mau beli mobil second buat gue biar enggak tergantung sama teman-teman lagi"
" Dia mau beliin lo mobil? dia udah punya?"
" Belum ka, katanya gue yang lebih penting"
" Maaf nih ya de, orang tua nya kerja apa?"
Alya menggeleng
" Gue enggak nanya".
" Keluarganya?"
" Gue belum nanya"
Pandu menghela napas panjang
" De, hidup ini bukan cuma mengandalkan cinta, lagian nih kan lo baru aja jadian sama Afkar, kalau misalnya sekarang hhmm, putus misalnya, enggak terlalu sakit Al"
" Maksud lo apa?"
" Resiko akibat dan dampak yang lo dapat mutusin Afkar lebih kecil daripada lo mutusin Kevin"
" Kaka sama aja deh sama mama, mikirin materi"
" Gue tadi nanya gajinya enggak? enggak kan? gue nanya keluarga nya, nanya oramg tuanya, lo sendiri enggak punya jawaban, apa yang mau lo ajukan buat menguatkan alasan lo milih Afkar"
" Gue cinta, titik"
" Gue tau lo cinta, tapi kedepan nya lo akan sangat membutuhkan faktor pendukung lain dan nantinya faktor pendukung itu yang akan mengambil alih kemana perjalanan kehidupan kita ini akan berjalan, apakah lebih meguatkan si cinta itu atau bahkan akan melumpuhkannya"
" berat banget ka penjelasannya, bisa dipermudah enggak?"
" Begini de, gue tau lo cinta sama Afkar, dan pastinya tujuan kalian menikah kan? faktor apalagi yang akan menguatkan cinta kalian nanti? kalau sama Kevin, sekarang taro kata lo belum cinta, tapi kalau lo jalananin, lo bisa minta tolong dia disini, lo ada jaminan pengawasan dari Kevin, dia juga punya masa depan tanpa lo harus mikirin pekerjaan setelah lulus ini, mama papa juga kenal baik keluarganya, nantinya cinta itu akan tumbuh baik, mekar dan kuat de"
Alya terdiam
" De, lo paham maksud gue"
" Gue maknai satu-satu deh, efek kenyang nih gue belum bisa menterjemahkan semua"
" Ya udah, lo istirahat aja dulu, kami tidak memaksa de, kami cuma pengen liat lo bahagia, bukan bahagia sekarang aja, tapi sampai nanti"
Alya mengangguk
" Gue anterin pulang, kasian bini gue ditinggal sendirian di rumah, mana dia enggak bisa tidur kalo enggak gue peluk"
" Pamer, baru juga beberapa hari kawin sombong banget, biasanya sebelum kawin juga dia tidur sendiri kan?"
" Iya, tapi setelah menikah dia enggak bisa ditinggalin, gue kan punya magnet"
" hehehe"
" Itu namanya terbiasa de, walau sebelumnya enggak kaya gitu, kalau dibiasain kan jadi menyenangkan, begitu juga perasaan lo, bisa kok dibiasakan untuk lebih mencintai Kevin'
Alya tersenyum saja sambil menggandeng tangan Pandu menuju tempat parkiran sambil mulai merayu kapan diajakin jalan ke mall lagi
" Entar kapan-kapan libur gue ajakin bini gue kesini, puas in deh lo berdua belanja, biar gue yang kerja"
" Wuiiih, bener-bener lelaki idaman lo ka"
__ADS_1
" Jadi intinya apa de? materi kan?'
Alya diam lagi, telak terus gue sama si kekar berkulit putih ini, kok kalau dia ngomong walau asal suka bener ya.