
Mentari mulai tenggelam dengan sinarnya yang mulai memerah.
Burung pun membentuk kelompok berkepak mulai beranjak pulang
Sang surya yang sebentar lagi menghilang akan di sambut dengan rembulan yang akan datang.
Alya menatap petang yang hampir merayu senja dengan cumbuan jingga.
Terbayang kembali saat meeting bersama dengan kepala-kepala divisi dan pemimpin perusaahan tempatnya bekerja sebagai public relations. Sudah enam bulan menjabat posisi itu setelah enam bulan sebelumnya menjadi staff personalia. Alya yang cakap dan pintar dalam hal publik speaking membuat pemimpin perusahaan memindah posisinya. Di luar dari Alya anak seorang dari Pak Rangga Asisten manager di perusaahan rekanan mereka ataupun adik dari Pandu seorang kepala Divisi Alya dinilai cukup tangguh untuk memegang posisi ini.
" Nona Alya, kita akan mengajukan kerjasama dengan satu perusahaan besar, tugas anda sebagai publik relations kali ini akan di uji lebih besar"
Alya menatap manager dengan pikiran yang masih bingung. Meeting mendadak ini sama sekali tidak disiapkan, bahkan sebelumnya dia sedang santai menikmati makan siang bersama rekan kerjanya. Satu panggilan di bagian Informasi menyebutkan meeting divisi akan dilaksanakan 10 menit lagi. Alya segera menghabiskan makannya dan bersiap memasuki ruang meeting, tidak ada bocoran sebelumnya.
" Ini adalah pengajuan kerjasama yang tidak biasa, kali ini kita akan mencoba bekerjasama dengan satu perusahaan tambang di Kalimantan"
Alya mengernyitkan alisnya, Kalimantan?
Aku bahkan belum pernah sekalipun menginjakan kaki di sana.
" Maaf pak, bukankah kita sudah mempunyai anak cabang perusahaan di Kalimantan, pastinya mereka juga punya divisi kehumasan?"
" Iya, tapi kami sudah merundingkannya dengan perusahaan cabang, akan lebih baik mereka di sana akan kamu dampingi. Kecakapanmu sudah terbukti dan layak untuk kami turunkan di misi ini. Dan pastinya keputusan nanti akan bisa kamu pikirkan baik dan manfaatnya bagi perusahaan"
Ini karirku, bukankah aku memang mengejar setinggi-tingginya ini untuk kehidupan ku?
" Nona Alya, jika anda bisa membuktikan lagi kemampuan anda, maka kami sudah menyiapkan posisi yang lebih baik"
Mendengar tawaran ini Alya menjadi bersemangat.
" Berapa lama saya akan melaksanakan tugas itu pak?"
" Selama yang anda mau"
Alya menatap manager dengan wajah kebingungan
" Jika ini berhasil dan perusahaan kita mampu bekerja sama, maka satu posisi kepala divisi akan bisa kamu dapatkan di sana"
Sehebat apa perusahaan di Kalimantan itu sampai pembayaran untuk usahaku sebesar ini? aku tidak salah dengar?
" Maaf pak, apakah ini memang pantas untuk saya? apakah bapak yakin saya bisa melakukan ini untuk perusahaan?"
Manager tertawa
" Kami meyakini dengan kemampuanmu nona Alya. Kami juga sudah dengar kehidupanmu yang mandiri saat masih bersekolah, anda itu mandiri, dan itu menjadi satu alasan kami untuk memilih anda mengemban amanah perusahaan untuk proyek besar kali ini"
Alya mengangguk
" Seandainya saya bisa melaksanakan ini, seperti yang tadi bapak bilang saya menjabat kepala salah satu divisi, untuk Kalimantan atau di sini?"
" Kalimantan nona Alya"
" Kalimantan mana pak?"
" Kalimantan Selatan, Banjarmasin"
" Bagaimana jika saya gagal pak"
Manager kembali tertawa
" Kalau sampai kamu menyerah, kembali saja kesini, tidak akan dihukum apapun, iya kan Pandu? hahaha"
Alya menatap ka Pandu sesaat. Pandu tersenyum dan sedikit mengangguk. Sudah cukup jawaban Pandu membesarkan hati dan nyalinya.
" Baik, saya terima. Mohon dukungan dan bantuan dari perusahaan pak, saya akan berusaha memberikan yang terbaik"
" Baik, untuk tempat tinggal kita mempunyai guest house yang memang diperuntukkan untuk karyawan. Sedangkan untuk transportasi juga akan disediakan perusahaan cabang yang ada di kota Banjarmasin. Karena jarak antara penginapan dan perusahaan tambang itu sekitar 35 KM tepatnya di Martapura. Jika kamu berhasil dengan proyek ini, selanjutnya akan kita bicarakan lagi".
" Kapan saya bisa melaksanakan tugas pak?"
" Kami menginginkan secepatnya, tapi mengingat anda masih belum berkeluarga dan masih menjadi tanggung jawab orang tua, maka meminta izin lah dulu dengan mereka, karena proyek besar ini sepertinya membutuhkan waktu yang cukup lama"
Alya mengangguk
" Baik pak, secepat akan saya siapkan diri untuk proyek ini"
" Dengan nona Alya menyetujui ini, meeting kita tutup. Semoga semua berjalan dengan lancar dan sesuai yang kita harapkan"
Meeting pun ditutup setelah satu jam membicarakan proyek yang direncanakan dan harus dengan matang.
Pandu mensejajari langkah Alya
__ADS_1
" Gila lo de, diberi kesempatan besar begini, jangan main-main lagi ya"
" Tentu saja ka, Alya tidak ingin main-main urusan karir"
" Oh iya lupa gue, selain karir kan memang belum ada hal lain yang harus lo kejar, hahaha"
Alya menggelitik pinggang kakaknya
" De udah de, hahha".
Mendengar Alya menyetujui akan berangkat ke Banjarmasin, mama dan papah langsung menemuinya di rumah Pandu. Selama satu tahun bekerja Alya memang tinggal di rumah Pandu karena mama tidak mengizinkannya kost lagi, Pandu dan istrinya justru senang karena Alya sangat pintar menemani Danish yang sedang lucu-lucunya.
" Alya, kamu menerima ini bukan karena ingin pergi membawa hatimu kan?"
Alya menyerahkan sepiring kecil kue kering yang baru saja dikeluarkan dari oven buatan istri Pandu
" Mah, fresh oven, ketemu resep baru katanya. Di sini Alya tambah gemuk, dibikinin kue terus, niat diet biarlah selalu menjadi niat, mungkin nanti bisa dilaksanakan ya mah, hehehe"
Mama menatap wajah Alya yang sedang tertawa namun dipaksa
" Alya, jawab mama"
Alya mengunyah satu potongan kue nastar
" Apaan sih mama, kemana-mana juga pasti bawa hati, memang bisa di tinggal. Cobain deh ma nastarnya, pasti ketagihan"
Mama mencomot satu dan ikut merasakan kelezatan si mungil berbentuk bundar dan agak pipih yang terbuat dari tepung terigu, mentega telur dan beberapa bahan lainnya. Nastar hasil dari menantunya itu kali ini diisi dengan selai nenas.
Terlihat Alya, sejak dua tahun perpisahan dengan dia yang kamu sebut cinta sejati itu, wajahmu berubah. Kamu masih anak mama yang cantik, gesit, pintar, tapi tidak lagi membuat kami tertawa terbahak karena kekonyolanmu, tidak lagi menjadi teman berantem mama yang suka menyembunyikan kacamata mama saat mama akan memainkan sosial media bersama teman-teman mama, yang tidak lagi berlarian sepanjang rumah karena harus berebut stik PlayStation adikmu. Tidak lagi membuat keonaran dengan membuat dapur berantakan akibat menu nasi goreng yang kamu bilang spesial padahal rasanya biasa saja. Yang merajuk dan menangis keras saat papah ketahuan memasang status WhatsApp nya sedang berada di kedai kopi dengan teman-temannya sementara kamu tidak diajak.
" Alya, mama selalu berdoa untuk kebahagiaanmu"
Mengusap rambut Alya dan langsung dibalas Alya dengan pelukan
" Alya tau ma, doa siapa lagi yang Alya harapkan selain doa mama dan papah. Alya sayang mama"
Alya semakin mempererat pelukannya
" Alya akan pintar di sana ma, percayalah. Ini adalah karir Alya, sebisanya Alya akan memberikan yang terbaik"
" Kamu akan lama di sana nak?"
Mama melepaskan pelukannya
" Memang kamu di rumah sakit pakai dijenguk"
Keisengan mama mulai lagi, demi agar air matanya tidak jatuh dihadapan puteri yang disayanginya itu.
" Kali aja lama tidak balik Alya akan di coret dari kartu keluarga"
" Mama maunya memang begitu"
" Astaga ma, Alya beneran anak kandung kan? bukan anak yang diambil dari panti kan?"
Mama memukul lengan Alya pelan
" Sembarangan, maksud mama, kamu akan keluar sendiri dari Kartu Keluarga karena sudah memiliki keluarga baru"
Tawa mereka terdengar sampai ke ruang keluarga Pandu, lagi ngomongin apa sih sampe gitu, Pandu ikut memasuki kamar Alya.
" Senang banget mama melepas lo de, gue curiga mama sudah lama menunggu saat-saat membahagiakan ini, hahhaa"
" Ngapain kita nangis-nangisan, air mata Alya sudah dihabiskan kemarin-kemarin ka"
Kali ini mama merasa tertusuk dengan candaan Alya.
" Maafkan mama Alya"
Alya baru tersadar dengan ucapannya
" Bukan begitu ma, aduuh ka Pandu sih Alya jadi salah ngomong"
" Apaan gue baru nongol langsung di salah-salahin"
Seorang bocah berumur hampir dua tahun ikutan bergabung
" Omaa, mau uee"
Alya langsung mengendong Danish
" Sayang, selama aunty pergi Danish pinter di rumah ya, dengerin apa yang dady momy minta, tapi kalau menyesatkan jangan dituruti"
__ADS_1
" Mana ada gue ngajarin hal buruk buat anak gue, ngaco"
Alya mencium pipi lembut Danish yang sedang mengunyah kue nastar dari tangan oma.
Danish turun dari gendongan Alya dan mulai usil ingin tau apa isi koper Alya yang masih berisi dua potong pakaian
" Chayaaang, jangan ganggu koper aunty ya, atau mau aunty masukin juga ke koper biar kita berdua ke Banjarmasin"
Danish tetap saja mengacak dan mengeluarkan pakaian Alya di dalam koper. Beberapa detik kemudian semua pakaian Alya ada di luar koper, sementara bayi comel sudah sempurna duduk di dalam koper.
Alya mengabadikan ke dalam ponselnya, sedang si tampan masih menikmati ruang barunya yang aneh.
Malam terakhir sebelum keberangkatan ke Banjarmasin.
Group WhatsApp
" Hai cinta-cinta"
" Hai juga,,, eh Al. Baby Lee sudah bisa ngomong maem dan bobo lho"
" Iih lucunya, nanti kalau ketemu numpang nyubit ya"
" Awas aja lo"
" Gue pamit ya"
" Alyaa, gue sedih"
" Bagus lah, siapa tau ketemu jodoh di Banjarmasin"
" Barusan nyokap gue juga doain gitu Ron, hahahaa"
" Semoga lo betah ya Al"
" Nanti kalau gue lamaan di sana datangin ya Ga"
" Iya, kalau gue ingat"
" Seikhlasnya aja, gue udah biasa dilupain"
" Whahaha, bapernya cepat banget, di detik ke 3 ya Ga"
" Iya nih Alya, sekarang becanda dikit langsung diseriusi, iya deh, kalau sampai sebulan lo belum balik gue samperin, kirim alamat lo"
" Beneran Ga? iya gue kirimin nanti. Lo juga ya Ron"
" Siiyap, kita kabar-kabaran aja"
" Gue enggak di undang Al?"
" Kalau pak Agus tidak keberatan nemenin lo gue senang banget"
" Enggak usah Syl, lo diundang nanti pas acara resepsi perkawinan Alya aja"
" Jangan nyumpahin gue lama jomblo gini dong Ga"
" Semoga aja begitu di Banjarmasin lo ketemu jodoh, doa gue kan bagus"
" Al, bapernya bisa dikurangin 90 derajat enggak?"
" Whahaha, iyaa. Doain gue ya"
" Pasti Al, kami semua sayang lo"
" Makasih Syl"
" Penerbangan jam berapa Al?"
" Jam tujuh pagi Ga, biar gue masih bisa istirahat. Besoknya senin biar gue fresh menghadapi kerjaan baru"
" Selamat bekerja Alya"
" Terima kasih Ron. Udah dulu ya, gue mu istirahat"
" Okee"
Sebelum menutup koper, Alya meraih satu foto di atas meja riasnya. Foto pertamanya berdua dengan Afkar. Sebentar memandang dan mengusap wajah Afkar kemudian menciumnya.
" Alya pergi ka, entahlah jarak kita menjadi semakin jauh atau semakin dekat, karena ka Afkar tidak pernah lagi memberi kabar, tidak juga meninggalkan pesan kemana Alya bisa menemui. Tidak memberikan sederet angka yang bisa membuat Alya menghubungi kaka. Semoga kita masih bisa bertemu ka"
Alya memasukan foto berfigura ke dalam kopernya, takut ketinggalan.
__ADS_1