
Berdiri di satu rel menunggu kopernya dan koper pak Wijaya sesaat setelah turun dari pesawat. Hati Afkar tidak pernah merasa tenang sejak mendengar kemarin pa Wijaya menyebut kota ini. Afkar menatap satu bangku kosong, disana kemarin dia duduk bersama Alya, dengan candaan Alya yang menjemputnya disini. Sudut itu, di mana dia berlari memelukku dengan tawanya, kugandeng tangannya yang kecil namun penuh kekuatan saat memukul dan meninjuku. Baru sejenak kembali ke kotamu membuat ingatanku tumpah dalam bersama kemarin kita.
Setelah mendapatkan kopernya dan koper Pak Wijaya, Afkar mendekati Pak Wijaya yang duduk menunggunya, melewati pintu keluar, Afkar melirik lagi satu bangku dimana dia dan Alya bernegosiasi dimana akan meletakan koper ini, apakah akan ke hotel dulu atau membiarkan kopernya ikut kemana saja karena Afkar takut membawa Alya ke hotel mengingat sikap Alya yang bisa berubah dan bisa membuat rusuh. Afkar cepat menggeleng, stoop. Ini hidup baru ku, jangan mengikutiku lagi cintaku.
Sebuah hotel dengan empat lantai dan menghadap ke jalan besar. Afkar merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kota ini, aku kembali setelah setahun yang lalu kutinggalkan dengan kehancuran hati yang luar biasa, dan sampai sekarang belum ada penyembuhnya. Ponselnya berdering.
" Assalamualaikum pak"
" Waalaikum salam, Afkar, setengah jam lagi kami akan meeting, mungkin sampai sore. Kamu boleh kemana saja, mungkin kamu ingin bertemu teman-temanmu. Tapi nanti malam temani kami jalan-jalan ya. Kunci mobil ambil di receptionis, tadi sudah saya bilang kalau kamu akan memakainya"
" Baik pak, terima kasih, kalau bapak memerlukan saya, telepon saja pak"
" Hahaha, saya tidak akan mengganggu, mungkin kamu bisa menemuinya lagi untuk memperbaiki hubunganmu. Tapi nanti malam jangan lupa, saya ingin berkeliling menikmati Malioboro"
" Baik pak, terima kasih"
Klik.
Afkar menatap ponselnya. Apa maksud pa Wijaya aku bisa menemuinya dan memperbaiki hubungan? apakah aku akan menemui Alya? tidak. Aku tidak boleh lagi menemuinya setelah dia memperlakukan aku begini. Afkar menatap arloji, jam sepuluh pagi, Pak Wijaya akan memerlukankanku nanti malam, selama itu apa yang bisa aku lakukan? hey bukankah tadi dia bilang mobil sudah disiapkan dan aku bisa memakainya. Afkar mengganti pakaiannya dengan baju kaos santai dan celana jeans. Sedikit merapikan rambut dan turun ke lantai dasar untuk mengambil kunci.
Afkar menjalankan mobilnya tanpa tujuan, awalnya akan mampir ke mall tempatnya bekerja dulu, tapi diurungkannya. Justru mobil itu sekarang sudah memasuki komplek sebuah kampus.
Kampus kekasihnya, apakah dia masih ada di sini? dengan kaca tertutup siapapun tidak akan mengenaliku. Perlahan memasuki halaman dan memarkir mobilnya. Dari dalam mobil menatap gedung bertingkat tiga. Apakah kamu masih skripsi cintaku? apakah saat ini kamu berada di antara lantai-lantai itu, apakah diantara mereka yang terlihat bergerombol itu ada kamu? apakah kamu sedang ada di kantin? atau sedang berada di perpustakaan? atau sedang dalam ruangan dosen pembimbingmu untuk konsultasi?.
Memandang gedung kampusmu saja aku seperti hidup kembali cintaku. Di sebelah sana biasanya aku menjemputmu dengan motor matic hitammu, kamu menyebutku tukang ojek, kamu memintaku untuk tidak menjual motormu, kamu mengacak rambutku saat kulepas helm, katamu aku sangat keren dengan gaya rambut hasil tatananmu. Berada di dalam mobil selama setengah jam dengan kenangan yang dihidupkan kembali membuat dadanya sesak. Huuuh untuk apa aku kembali ke sini, untuk apa aku berharap bertemu dia di sini, jikapun bertemu dia akan menghindariku, bahkan untuk berkomunikasi lewat ponsel saja dia sudah tidak mau, apalagi bertemu denganku.
Mobil kembali melaju, entah kemana. Afkar hanya menginjak gas saja, keluar dari komplek kampus. Perlahan mengikuti alur lalu lintas, tapi tak lama mobil berwarna putih itu justru sudah berhenti di sebuah rumah dengan bangunan dua lantai berhalaman luas dan teras yang cukup besar. Afkar memandang bangunan itu, tangannya bergetar.
Teras itu, tempat aku duduk bersama kekasihku. Tempat aku menanyakan kenapa kepalanya benjol, tempat aku diperlakukannya dengan sangat manis, ditatapnya dengn tatapan penuh cinta, merebahkan kepalanya di bahuku, merangkul pinggangku, memberikanku pujian dengan puisi-puisinya, memainkan gitar dan bernyanyi tentang cinta dan rindu. Tetapi juga diperlakukannya dengan perlakuan seenaknya, memukul, meninju, menendang kakiku, bahkan kata-kata hinaan seperti menyebutku ceking, wajah datar, keliatan tua, itu sudah tidak asing di telingaku.
Menatap bangunan itu dan sedikit mendongakan kepala melihat ke balkon atas, apakah ada suara gitar di atas sana? apakah kamu sedang di dalam kamar dan mengerjakan skripsimu? atau sedang tertidur karena kelelahan karena baru datang dari kampus? Mana motor matic hitammu? tidak ada. Kamu sedang tidak di dalam?. Apa aku harus turun dan menekan bel itu agar aku tidak mati penasaran begini? tidak! memalukan jika kamu yang membuka pintu kemudian langsung menutupnya ketika melihat aku yang datang?. Afkar menggeleng, tidak akan.
Sepuluh menit menatap pada bangunan di depannya, mulutnya berkata tidak, tapi tubuhnya sudah ada di teras. Seorang gadis muda menegurnya
" Maaf, mau cari siapa kak?
Afkar menoleh kaget
" Eemm, mau cari,,"
Sebenarnya nama Yanti yang ada dalam rencananya, tapi mulutnya malah menyebut
" Cari Alya"
Gadis manis itu tersenyum
" Ooh, ka Alya sudah lulus ka, dua bulan yang lalu sudah pindah dari sini"
" Lulus?"
" Iya, sudah lulus"
Afkar terdiam
" Kalau Yanti?"
" Kak Yanti? maaf ka, saya tidak kenal, saya baru lima bulan yang lalu kost di sini, mungkin sudah keluar saat saya masuk di sini"
" Mungkin, dek maaf tau alamat Alya sekarang?"
" Tidak tau ka, tapi ka Alya sudah bekerja di perusahaan kakaknya, begitu yang saya dengar"
Perusahaan Pandu? bukankah Kevin banyak memiliki perusahaan, kenapa tidak ikut dengannya saja.
" Ka, maaf. Ini ka Afkar ya?"
Afkar kaget
" Iya, kok tau"
" Hehehe, bagaimana tidak tau, seisi kamar ka Alya penuh dengan tulisan nama Ka Afkar beserta foto, dan waktu pindahan ka Alya malah banyak kelupaan membawa barang-barangnya, dia cuma sibuk memasukan foto-foto dan puisi-puisinya"
Afkar menatap gadis didepannya dengan bengong.
" Ternyata ka Afkar memang cakep, walaupun tidak sebanyak yang ka Alya ceritakan hehehe".
Afkar tersenyum tipis, kamu ceritakan apa tentang aku cintaku?
" Dia cerita apa?"
" Kalau ka Afkar itu cinta pertamanya, laki-laki bertubuh tinggi dan ceking, berhidung mancung kaya pinokio. Suaranya lembut dan pintar membuat puisi, tapiii,,"
" Tapi apa?"
" Tapi jauh"
" Jauh saja?"
" Iya, katanya ka Afkar itu jauh, sampai akhirnya berpisah"
Afkar menunduk
" Maaf kalau Kevin bagaimana?"
" Kevin siapa?"
Afkar terhenyak
__ADS_1
" Hhmm, temannya Alya"
" Tidak tau, saya cuma tau ka Arga yang ganteng dan ka Roni yang kecenya selangit, hehehe"
Gadis ini sudah lima bulan pindah ke kost ini, tidak tau dengan Kevin? apakah Kevin tidak pernah menemui Alya di kost? ah mungkin saja mereka bertemu di tempat lain, Kevin kan termasuk lelaki berselera tinggi, mungkin Alya di jemput oleh supir pribadinya dan mereka bertemu di tempat lain.
Oh cintaku, bahkan untuk hal seperti ini saja kamu diperlakukan Kevin dengan berbeda.
" Terima kasih ya, aku permisi"
" Sama-sama kak"
Kembali melajukan mobilnya entah akan menuju kemana lagi, kepalanya pusing, betapa banyak perubahanmu cintaku. Tapi apa yang dikatakan gadis tadi aku sangat bingung, kamu masih menyimpan foto dan puisi-puisimu? kamu menceritakan tentang aku sebagai kekasihmu? kamu masih mengingatku? tapi kenapa kamu memutuskan komunikasi kita?
Perlahan memasuki halaman yang tidak begitu luas, memandang tujuh anak tangga yang akan membawanya ke sebuah tempat nongkrong untuk menikmati minuman santai.
" KEDAI PELANGI".
Afkar menaiki anak tangga dengan hati yang semakin teriris. Di sini kemarin dia dan Alya pertama kali menikmati kopi sejak mereka jadian. Duduk sendiri pada bagian pojok, disini kita dulu duduk berdua, lalu sahabatmu datang dan memberikan gitar baru khusus untukmu. Kamu duduk di atas sana dan membacakan puisi untukku cintaku. Tentang cinta yang akan membawa kita menuju kebahagiaan.
Sebuah tepukan di bahu membuat Afkar kaget
" Hallo Afkar, apa kabar? wah lama sekali tidak pernah mampir kesini"
" Oh Bowo, apa kabar?"
Afkar mengulurkan tangannya dan di balas Bowo dengan hangat
" Baik, lo apa kabar?"
" Alhamdulillah baik"
" Kapan datang?"
Afkar terdiam, Bowo akan mengira aku dari Surabaya, biarlah dia dengan perkiraannya itu
" Tadi pagi, aku menemani bosku, beliau ada meeting".
" Oh iya, baru seminggu yang lalu Alya dan teman-temannya datang, Arga kan sudah pindah ke Jakarta, jadi tidak bisa sering kumpul lagi"
Afkar mengangguk, Arga sudah lulus jua ya.
" Bowo, Alya sering kemari?"
" Sejak skripsi dia jarang main kesini, dia sering sakit, lo tau kan kemarin sampai tiga bulan dia istirahat di rumah saja"
Afkar memandang Bowo, Bowo tidak tau ya kalau kami sudah berpisah, Alya tidak bilang? dan apa tadi? Alya sering sakit-sakitan? tiga bulan beristirahat, sakit apa dia? berhubungan denganku? Cintaku, kamu kenapa?
" Maaf, sakit apa?"
" Lo tidak tau?"
" Maaf, kami sudah lama berpisah"
" Ooh, maaf Afkar"
" Tidak apa, boleh aku tau sakit apa?"
" Katanya kecapekan, sempat masuk rumah sakit juga pas di kampus, terus di bawa Arga sama Roni ke rumah sakit"
Afkar terdiam, cintaku maafkan aku.
" Kevin bagaimana?"
" Kevin di Hongkong, tidak tau apakah lama atau sebentar, cuma tau dia di Hongkong begitu saja"
Hongkong? pantas saja Alya tidak ikut kekasihnya ke sana.
" Alya kerja di mana?"
" Perusahaan tempat kakaknya kerja, gue juga tidak menanyakan di mana dan sebagai apa. Oh iya Afkar mau minum apa?"
" Minuman yang biasa di pesan Alya saja"
" Waah, kamu kangen ya, hahaha. Sebentar ya"
Bowo memanggil satu pelayan dan memesankan satu minuman favorit Alya. Kopi espresso.
" Sudah lama berpisah Afkar?"
Afkar mengangguk
" Alya itu gadis baik, walau sedikit gila, dia sangat peduli pada teman-temannya, dia juga penurut dengan orang tua"
" Iya"
" Sudah lama tidak bertemu Alya?"
" Sudah satu tahun"
" Alya sudah banyak berubah, pakaiannya sudah tidak seperti dulu lagi, bicaranya juga lebih santun, tidak ada lagi sikap konyolnya itu, lebih pendiam walaupun tidak pendiam, hehehe"
" Pasti dia lebih manis ya, hehe"
Bowo menatap Afkar, dia pasti sangat merindukan Alya.
" Kamu mau liat dia menyanyi minggu lalu? aku bisa putarkan lewat rekaman cctv"
__ADS_1
Afkar tersenyum dan mengangguk
" Ada? aku mau melihatnya"
"Sebentar gue ambil laptop"
Bowo berjalan memasuki satu ruang dan kembali dengan membawa laptopnya.
Afkar tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya, tangannya gemetar. Aku akan melihat Alya pada layar ini?.
Sebuah rekaman muncul, seorang gadis manis dengan tubuh mungil, memakai dress selulut berwarna cokelat muda berhias pita pada bagian dua sisi lengan yang hanya sebatas siku, memakai high heels berwarna cokelat tua dan duduk di kursi panggung dengan memetik gitarnya. Afkar tidak perduli bagaimana gaya pakaiannya, dia hanya ingin melihat apakah Alya masih memakai kalungnya. Iya, dia masih memakainya, kalung itu masih ada di lehernya dengan anggun. Alya, aku tidak percaya ini.
Alya duduk di satu kursi pada bagian tengah panggung, memetik gitar dan mulai menyanyi.
intro] C F
C Em F G
C G
aku yang pernah
Am Em
engkau kuatkan
F
aku yang pernah
Em
kau bangkitkan
Dm
aku yang pernah
G
kau beri rasa
C G
saat ku terjaga
Am Em
hingga ku terlelap nanti
F Em
selama itu aku akan
Dm G
selalu mengingatmu
[reff]
C Am
kapan lagi kutulis untukmu
Dm G
tulisan tulisan indahku yang dulu
Em Am
pernah warnai dunia
Dm G
puisi terindahku hanya untukmu
C Am
mungkinkah kaukan kembali lagi
Dm G
menemaniku menulis lagi
Em Am
kita arungi bersama
Dm F G
puisi terindahku hanya untukmu
[int] C Am Dm G
Em Am Dm G
Dm Em F D B
__ADS_1