Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Motor Mogok


__ADS_3

Setiap hari selalu saja ada kejutan manis dari Afkar


Ting notifikasi masuk


Ka Afkar


" Pagi Al"


Bidadari


" Pagi juga ka"


Ka Afkar


" Matahari kok rada redup ya hari ini"


Bidadari


" Di sini lumayan cerah ka"


Ka Afkar


" Ooh pantas, cahayanya pindah ke wajah kamu"


Bidadari


" Hhhmmm,,,"


Ka Afkar


" Enggak di balas nih"


Bidadari


" Jangan menggoda Alya sepagian ya ka, kalau keterusan Alya bisa jatuh cinta beneran nih"


Ka Afkar


" Memang itu yang aku mau"


Bidadari


emoji menjulurkan lidah


Ka Afkar


" Aku berangkat kerja dulu ya Al, nanti kita sambung"


Bidadari


" Selamat kerja ka, Alya juga mau berangkat kuliah"


Ka Afkar


" Assalamualaikum"


Bidadari


" Waalaikum salam".


Sudah setahun Afkar pergi, setahun juga Alya diberi sapaan setiap pagi dan sebelum tidur, rasanya itu sudah membuat hati merasa tenang, kalau yang pergi dan yang ditinggalkan dalam keadaan baik-baik. Bercerita tentang rencana Ka Pandu yang sebentar lagi akan menikah, tentang Ka Cici yang akan di wisuda, Arga yang kemarin di tilang polisi gara-gara membawa mobil sport nya dengan kecepatan tinggi, Roni yang patah hati karena Mey cewek incarannya sudah di gaet Rio kaka angkatan yang gantengnya kaya Leonardo De Caprio. Dan rencana papah yang akan pindah tugas karena perusahaannya buka cabang di Kabupaten lain. Rumah makan yang baru buka di dekat kampus Alya yang cabe nya enak banget, bahkan cerita receh yang sama sekali tidak bermanfaatpun akan sampai ke telinga Afkar yang selalu sabar mendengarkan celoteh Alya, Sebenarnya hari ini Alya akan bercerita tentang hal luar biasa tentang Sylvia, tapi cerita ini perlu banyak waktu, karena pagi mereka akan disibukan dengan kegiatan masing-masing, Alya memilih waktu berceritanya nanti nalam saja.


2 hari yang lalu Alya diantar Arga pulang kuliah, sedang Sylvia pulang sendiri ke rumah tantenya, Sylvia memang menumpang di rumah tantenya selama kuliah, rumahnya dekat dengan rumah Alya, makanya setiap pulang kampung mereka selalu janjian. Sylvia menstarter motor maticnya, lho kok qa bisa hidup, sekali lagi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Mau minta tolong di parkiran sudah tidak ada siapa-siapa lagi, Arga sudah 15 menit yang lalu meninggalkannya bersama Alya karena tadi Sylvia ada urusan tugas bersama teman-teman kelompoknya. Mencari no handphone Rony, tuutt,,tuut,, no yang ada hubungi sedang berada di luar service areal, silakan tinggalkan pesan,,,". Sylvia menutup telfonya. Sekali lagi memandang sekeliling parkiran, hanya ada 3 motor lagi yng ada disitu. Memang ini sudah jam terakhir perkuliahan, hanya tertinggal 2 mobil lagi yang terparkir di jalur kanan khusus untuk mobil, melirik jam di pergelangan tangannya, sudah jam setengah enam sore. Sekali lagi menstarter motornya, masih saja tidak berhasil. Menyerah saja, telf Arga dan Alya biar balik ke kampus untuk menolongnya. Handphone yang tadi sudah disimpan di dalam tas punggungnya kembali dikeluarkan, aaaahhh sialan, low bat. Sylvia memandang kampusnya, siapapun yang ada di sini tolongin guee pintanya. Melirik lagi ke pergelangan tangan, ya ampun sudah hampir jam 6, sudah mulai gelap, aku takuuut. Tangisnya pecah sambil duduk disamping motor kesayangannya.


" Tapi kakek, saya tidak mau menikah dengannya, saya tau bagaimana dia, dia,,,"


" Kalau kamu menolak artinya kamu punya wanita lain".


" Kek, saya masih menikmati hidup begini"


" Agus, kamu bukan gay kan"

__ADS_1


" Astagfirullah kek, Saya benar-benar lelaki, lelaki sejati kek"


' Baik, pilihannya hanya ada 2, kamu terima Nadia sebagai calon istri atau besok malam bawa calon istrimu ke restoran xxx, kakek sudah menyewa tempat itu untuk merayakan ulang tahun mama kamu"


" Tidak ada pilihan ketiga kek"


" Ada"


" Apa kek?"


" Nama kamu kakek coret di kartu keluarga"


Huuuuppp.


" Ingat Gus, habis Isya, kakek tunggu".


Klik, telfon terputus.


Pa Agus menggebrak meja kerjanya. Kakek selalu begitu, orang tuaku saja tidak memaksa ku untuk menikah.


Nadiaaa,,, putri tunggal keluarga Adi Wijaya pemilik saham di salah satu perusaan kakek yang sekarang diwariskan ke papah. Cantik, bahkan sangat cantik berusia 25 tahun, berperawakan tinggi dan berkulit putih Kenapa seorang wanita secantik dan sekaya itu belum menikah? karena kerjaannya suka ke club malam, bersama teman-temannya, suka berpenampilan sexi dan menggoda. Bagaimana mungkin ia harus memperistri gadis seperti itu, Pak Agus sudah pernah menceritakan itu pada orang tuanya, tapi mereka tidak percaya karena kalau siang gadis itu berubah menjadi kucing pemalu yang mengeong lembut. Dia boleh tidak menerima perjodohan ini,tapi harus mempunyai penggantinya. Pa Agus menyimpan handphone dan laptop ke dalam tas jinjingnya, jam dinding di ruangannya sudah menunjukan pukul 6 sore, hari sudah mulai gelap, kampus pun sudah sangat sepi, berjalan menuruni lantai dasar untuk pulang.


Pa Agus mendekati mobil silver berlogo 4 cincin miliknya, belum sampai menyentuh mobilnya telinganya mendengar suara isak tangis. Pa Agus berhenti dan menoleh ke belakang, tidak ada siapapun. Kembali terdengar isakan, ia sangat penasaran, ini memang mau magrib, seperti cerita-cerita takhayul jam begini memang berkeliaran jin-jin pengganggu. Tapi masa iyaa??? Dia memutuskan untuk mencari asal suara, apapun yang akan kulihat akan kuhadapi batinnya. Perlahan ia mengendap ke arah parkiran motor sebelah kanannya, semakin jelas suara itu, dan tiba-tiba


" Astagfirullah"


" Hantuuuuu" Sylvia menutup wajahnya dengan tas.


Pa Agus kaget melihat seorang gadis meringkuk disamping motor matic, Sylvia kaget karena melihat sebuah kepala saja muncul di balik motornya tanpa badan, karena posisi pa Agus memang sedang melongok, tidak sempurna berdiri.


" Heeyy, kamu,,, kenapa??"


Pa Agus mendekatinya, mendengar pertanyaan itu adalah suara manusia Sylvia membuka matanya.


" Maaf pa, maaaf pa"


Katanya ketakutan


Pa Agus menggeleng, dimana-mana semua gadis yang meliatku akan berdecak kagum dan memujiku, bahkan tidak sedikit yang terang-terangan mengejarku, baru kali ini aku di bilang hantu.


" Maaf pa, saya tidak melihat, saya ketakutan"


" Kamu ngapain disitu? Kamu mahasiswi saya kan?"


Sylvia mengangguk


" Motor saya mogok pak, saya mau menelfon teman saya tapi handphone sama lowbat, boleh saya minta tolong pa?"


Pa Agus mengangguk


" Boleh saya pinjam handpone Bapak, saya mau menelfon teman saya pa"


Pa Agus mengeluarkan handphone nya dari saku kemejanya.


" Terima kasih pa"


Sambil menerima handphone dari tangan pa Agus, ketika Sylvia mau menekan tombol telf dia melongo


" Maaf pa, saya tidak hapal no telfon teman saya, bawa menyimpan kontaknya?"


Pa Agus kaget


" Saya saja tidak kenal kamu, bagaimana saya bisa menyimpan kontak teman kamu"


Sylvia kembali terisak, gue bisa nginap di kampus ini, bisa ketemu hantu beneraaaann.


" Sudah lah, begini saja, rumah kamu dimana? biar saya antar"


Sylvia melihat wajah pa Agus. Beliau kelihatannya baik dan tidak berniat menculikku kan


" Mau? terserah kalau tidak mau saya tinggal"

__ADS_1


Pa Agus membalikan badan dan berniat meninggalkannya.


" Pa Agus tunggu"


Melihat pa Agus adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya dari kegelapan dan hantu yang bisa saja datang beneran ia langsung berlari dan mengejar pa Agus.


Diantara perbatasan arel parkir mobil dan motor itu ada pemisah berupa semacam polisi tidur, Sylvia yang ketakutan dan berlari tidak menyadari lagi, tiba-tiba ia terjerembab dan jatuh


" Aaawww,,"


Pa Agus berbalik badan lagi dan menarik tangan Sylvia untuk berdiri


" Kamu kenapa lari, ayo bangun"


Sylvia mendengus kesal, ngapain lari??? lah bapak mau ninggalin saya sendirian disini gimana saya bisa jalan ala model di catwalk sementara bayangan-bayangan menyeramkan sudah ada di pelupuk matanya sejak tadi. Pa Agus membukakan pintu depan agar Sylvia bisa masuk, setelah itu beliau mengelilingi mobil dan membuka pintu pengemudi. Pa Agus melihat Sylvia


" Rumah kamu dimana?"


" Di perumahan Tunjung Maya Km, 3, 5 pak"


Pa Agus mengangguk dan mulai menjalankan mobil silvernya.


" Maaf ya pak merepotkan"


" Tidak apa-apa, siapa nama kamu?"


" Sylvia pa"


" Oh Sylvia"


Handphone Pa Agus berdering, beliau mengambil dari saku kemejanya


" Assalamualaikum mah"


" Kata kakek besok malam kamu bawa calon istri ya?"


Cepat betul kabar ini menyebar, aku bahkan tidak tau siapa yang akan kubawa. Tiba-tiba Sylvia bersin


" Hatchii, Alhamdulillah"


" Agus, itu suara wanita, itu calon istri kamu ya"


Pa Agus melirik Sylvia, tiba-tiba dia bersemangat


" Iya ma, oh iya ini aku lagi nyetir di jalan mau pulang, enggak pakai headset, nanti lagi ya mah"


" Iya sayang hati-hati, salam buat mantu mamah"


Pa Agus menutup telfon nya.


" Syl, hhhmmm"


" Iya pa?"


" Besok pagi bisa temui saya di ruangan?"


Sylvia mengernyitkan alisnya, waaah jangan-jangan beliau minta bayaran ngantarin guee sekarang, secara gue naik mobil semewah ini berapa bayarannya, seumur-umur gue belum pernah naik mobil semewah ini, sering juga naik mobil sport mewah Arga, itu juga gue di dalam mesti rela dengerin omongan enggak enak dari bibirnya Alya, kapan gue bisa tenang duduk di mobil mewah, kali ini gue malah disuruh bayar, nasiiibb.


" Syl,,,?"


" Iya pa, besok pagi saya ada kuliah pagi, jam 10 bisa pa?"


" Saya juga ngajar jam 8, setelah saya ngajar saya ada di ruangan"


" Iya pa".


Pa Agus berfikir, tapi apakah tidak berbahaya tiba-aku membawa anak gadis orang dan memperkenakannya sebagai kekasih kepada keluargaku, bahkan malam besok adalah pesta ulang tahun mama, mereka bisa saja membuat kejutan-kejutan aneh. Bagaimana kalau Sylvia sudah punya kekasih, aku bisa saja membuat hubungan mereka retak, lalu apakah aku harus menanyakan apakah dia sudah punya kekasih, tidak!!! jangan-jangan nanti dia berpikir aku naksir dia, dia saja baru menyebutku dengan hantu.


" Syl, kenapa kamu tidak di jemput kekasihmu?"


Pa Agus mulai membuka jalan agar Sylvia tidak menganggapnya macam-macam

__ADS_1


" Saya tidak punya kekasih pa"


Pa Agus lega, ooohh aman, berarti rencanaku bisa berlanjut, akan mengenalkanmu pada kakek. Kakek juga, kenapa selalu mendesakku untuk menikah, menyebutku Gay. Aku ini laki-laki dewasa, aku juga tertarik pada wanita, tapi mereka selalu lebih tertarik dengan uangku, aku tidak menjamin mereka menyukaiku karena aku. Pa Agus melirik ke sampingnya, tampak Sylvia bersandar pada kursi, keliatan sekali ia lelah, bahkan memejamkan mata, apakah ia tertidur. Enak saja, apa dia pikir aku ini supirnya? wanita di luar sana tidak akan menyia-nyiakan waktu ketika bersamaku, gadis ini malah tertidur, apakah aku sama sekali tidak menarik di matanya?. Tapi dia lucu, polos, walaupun menyebalkan dan merepotkanku. Setidaknya malam besok aku aman, apapun yang terjadi nantinya, semua akan berjalan dengan semestinya.


__ADS_2