Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Pamit dari Lelaki Lainnya


__ADS_3

Ponsel berwarna hitam milik Alya di letakan diatas dashboard mobil putihnya ketika Alya dan Kevin akan bersiap pulang dan masih berada di parkiran menuju perjalanan pulang, Alya memutar rekaman video saat Kevin mengambil air mineral di kantin tadi siang


" Ciyeee, jalannya aja di tegap-tegapin begitu"


Alya langsung komentar begitu video baru diputar saat Kevin berdiri dari kursinya.


Mendekati meja para geng fullcolor dan mengangguk


" Whahha, liat tu ka yang rambutnya pirang langsung melotot matanya"


Kevin ikut tertawa dan ikut mengamati


" Kaka memang genit, ngapain menganggukin kepala?"


" Bukan genit itu, supaya sopan Alya"


" Ooh"


Kembali menuju kursi dan tiiiing, sebuah sendok jatuh dari atas meja, keduanya berbarengan tertawa


" Whahaa, untung cuma sendok, coba kalau piring gelas dan teman-temannya ya ka"


" Ternyata aku menarik juga ya kalau di rekam begini"


" Lumayan"


" Lebih menarik yang asli atau rekaman?"


" Yang asli dong"


" Hahhaa"


" Kenapa ketawa?"


" Ternyata kamu pengagumku diam-diam juga ya"


Alya mencubit lengan Kevin


" Apaan"


" Di video itu aku terlihat tampan tidak?"


" Iya"


" Aslinya gimana?"


" Tampan"


" Hehehe"


Alya kaget, terlontar juga kata itu


" Geer"


" Enggak, sudah biasa dengernya"


" Sombong"


" Tampan aja tidak diperdulikan, apalagi tidak tampan ya Al, hahaha"


Alya ikutan tertawa


Kevin tertawa melihat tingkah Alya yang membuatnya sangat bahagia


" Kita pulang sekarang?"


Alya mengangguk.


Mobil perlahan keluar dari halaman parkir, Kevin membuka sedikit kaca jendela saat melewati pos penjagaan dan mengangguk


" Selamat sore pa, semoga selamat di perjalanan"


" Terima kasih".


Kevin kembali menutup kaca jendela.


Alya tertegun melihat sikap Kevin


" Ka, kok sopan sih sama orang-orang?"


" Memangnya tidak boleh?"


" Sangat boleh, Alya suka"

__ADS_1


Sore ini kamu tidak sadar Alya, sudah berapa pujian yang kamu ucapkan.


" Aku besok mau ke Bandung"


" Lho, katanya sehabis wisuda saja"


"Masih dua minggu, lumayan aku sambil belajar lagi, sudah lama aku tinggalin"


" Kesini lagi kapan?"


" Menjelang wisuda".


Alya menatap samping jendela, ada titik-titik air yang mulai jatuh dari awan-awan berwarna kelabu di bawah langit.


" Gerimis ka"


" Iya, ini yang aku khawatirkan jika aku tidak ada, tubuhmu, laptopmu, file mu, ponselmu, dimana kamu akan berteduh. Dengan meninggalkan mobil ini setidaknya aku tau kamu akan aman tanpa kehujanan"


Alya menoleh Kevin, pemikiranmu begitu? kenapa aku tidak tau.


" Selama skripsi nanti juga, kita tidak tau medan apa yang akan kamu hadapi, sejauh apa perjalanan yang akan kamu lewati, dan waktu terkadang tidak bisa kita tentukan, aku tidak tenang saja mendengarmu masih ada di jalan waktu malam dengan motor tanpa aku, sahabat-sahabatmu pun akan sama sibuknya. Dengan ini kamu akan lebih aman"


Semua yang dikatakan Kevin benar, aku sudah melihat saat mba Cici skripsi, betapa sibuknya dia, tapi ada ka Anji kekasihnya yang selalu bisa menemaninya. Terkadang mbak Cici pulang larut malam karena harus memperbaiki laporannya bersama teman-temannya. Bahkan kadang mereka akan mengingatkan jam makan karena kalau sudah di depan laptop mba Cici akan lupa waktu.


" Kenapa kaka mengkhawatirkan Alya?"


" Karena akan memperdulikan orang yang aku sayangi".


Kevin melirik Alya yang sedang memandangnya


" Aku minta maaf kalau perlakuanku terkadang over ya, tapi aku hanya ingin kamu tidak mengalami kesulitan, aku ingin terus menjagamu, tapi sekarang aku malah akan meninggalkanmu disaat penting mu begini, seandainya bisa perusahaanku ada disini, atau kuliahmu bisa pindah ke Bandung, pasti sudah aku lakukan"


Alya tertunduk, kenapa ini seperti flashback?


Aku kan sudah pernah mengalami kejadian ini, bersama ka Afkar.


Tapi kenapa kepergian Kevin kali ini sangat berbeda, selama 8 bulan di kurangi sebulan kita break, kita selalu bersama, kebutuhan apapun kamu penuhi ka, keperluan apapun selalu kamu bantu, dari hal besar sampai hal sepele kamu tidak pernah menolak bahkan selalu menawarkan, kamu selalu sibuk untuk membereskan keluhanku yang terkadang juga sangat tidak penting. Walaupun sungguh tidak ada perasaan cinta di dalamnya, tapi aku mulai tergantung padamu, dan hari ini aku mulai berpikir, apa saja yang kamu lakukan tadi saat meninggalkanku di ruangan tadi? kamu pasti melakukan sesuatu agar selama magang ini aku tetap nyaman, walaupun di kantor papahku sendiri. Entah apa dan siapa yang kamu datangi tadi ka.


Kevin menoleh ke arah Alya yang tertunduk, mobil menepi ke tepi jalan yang memang tidak terlalu ramai karena pengendara motor berhenti karena hujan, yang ada di jalan ini hanya mobil yang jumlahnya tidak terlalu banyak.


Kevin menghentikan mobilnya


" Alya,,, kenapa?"


" Tidak apa ka, kenapa berhenti?"


" Kamu diajak ngomong malah melamun, sakit?".


Alya menggeleng


" Tidak ka"


" Capek?"


" Tidak"


" Kenapa melamun?"


" Hhmmm, Alya cuma memikirkan saja apa yang kaka omongin tadi"


" Aku minta maaf, aku menyakitimu Alya?"


Alya tersenyum


" Tidak ka, malah Alya minta maaf terlalu merepotkan kaka selama ini"


Kevin meraih tangan kanan Alya dan menggenggamnya


" Tidak akan pernah merepotkan ku, bahkan jika kamu mau apapun lagi sebisanya akan ku lakukan"


Alya tersenyum, benar-benar flashback


" Selama aku jauh, sesegeranya hubungi aku apapun yang kamu butuhkan, jika aku terlambat datang, hubungi Pa Budi, dia akan siap membantumu"


" Terlambat datang?"


" Aku akan mengusahakan sebanyak-banyaknya pulang untuk menemuimu".


Uupps, kenapa kalimat sederhana ini membuat kakiku bergetar?


" Aku bisa saja menelfon bahkan memvideo call, tapi sepertinya cara itu tidak tepat untukku karena itu adalah cara milik Afkar, selain hatimu, ponselmu dan seluruh isinya adalah miliknya. Aku tidak ingin menggunakan cara yang sama"


Alya melepaskan tangannya dari genggaman Kevin

__ADS_1


" Alya akan baik-baik saja ka"


" Aku akan menjagamu setiap tidurmu,lelaplah seingin nyenyakmu, akan kutahan laju waktu tak berlalu, agar mimpi-mimpimu selalu indah,tak terusik hal yang menimbulkan air matamu. Tidur dan lelaplah, tak perlu gerak gelisah, ada aku menjagamu semampu dan sebanyak hadirku"


Kevin mengangkat dagu Alya untuk kembali menatapnya. Alya tersenyum.


Ka, aku tidak tau ini perasaan apa, tapi sangat kupastikan bukan cinta.


" Ka, terima kasih atas rasa nyaman ini, Alya diperlakukan dengan sangat baik bahagia. Tapi sepertinya Alya merasa akan lebih berbahagia kalau kaka disini dan tidak beranjak pergi"


Akhirnya kata yang tidak boleh terucapkan ini keluar juga, bodohnya akuu.


Kevin kembali meraih tangan Alya dan mengecupnya, kali ini dia tidak akan melapaskannya lagi


"Alya cintaku, Aku tau perasaanku sama sekali belum kamu balas, dan tidak akan pernah kupaksakan untuk itu, tapi cukup katakan kamu rindu, maka aku akan mempunyai sejuta alasan untuk kembali ke kotamu dan pulang. Aku juga percaya cintaku akan bisa memberikan cahaya pada mata yang sekalipun buta. Meski rinduku belum juga kamu tangkap, meski rasa sayangku belum juga kamu anggap, tapi aku akan bertahan di atas segala perasaan yang sudah terlanjur kurawat, hanya Tuhan yang mampu membuat kita bisa lebih dekat. Aku juga masih belajar sabar untuk menunggu kamu memiliki rindu yang sama padaku. Saat ini, aku hanya bisa menciumu tanpa ciuman, memelukmu tanpa pelukan, bahkan memberi semua perasaan tanpa kamu rasakan.


Sesekali, berkunjunglah ke hatiku, aku sudah banyak menjamu dan menyiapkan berbagai sajian"


Alya menggeleng


" Alya sudah lebih dulu mampir di sebuah kedai kecil sederhana dan meneguk air pelepas dahaga bersama kekasih ka, senyaman apapun hidangan setelahnya Alya tidak akan menikmatinya karena perut ini sudah terisi"


" Tapi belum mengenyangkanmu"


" Sudah cukup untuk bisa membuat kami berjalan lagi".


" Kamu adalah puisi yang beterbangan layaknya camar di setiap hari yang kulalui, dan aku adalah pembaca yang tidak mengenal tanda baca sehingga aku bersusah untuk mengeja aksara, bukan salahmu, ketika terkadang harus ku jeda karena pandangan dan jiwaku sakit melanjutkan ceritanya. Otak dan hatiku kadang tidak terlalu baik bekerjasama, entah ini memang bahagia yang sesungguhnya, atau imajinasiku terlalu terlatih untuk mengada-ada, hanya dengan melihatmu tersenyum hatiku akan kembali kuat dan tidak memerlukan kaca untukku bercermin masih bisakah ini berlanjut? Atau memang aku tidak punya lagi pilihan lainnya selain tetap harus memperjuangkanmu? Dan kemudian otakku selalu menggerutu, adakah bahagia dengan cara begitu? Kemudian hatiku selalu menjawab, aku selalu bahagia bisa berbagi hari bersamamu Walaupun tidak berbagi hati.Yang kuyakin tetap mempertahankanmu bukan pilihan, tapi keputusan"


" Ka, jangan berlelah-lelah begini, saat ini kaka tau pengakhirannya kan?"


" Iya, untuk saat ini, meski kamu memilih jalan yang tak pernah melewati pintu hatiku, tapi bagaimana jika satu waktu perjalananmu tersesat kemudian berteduh di berandaku, mengetuk pintuku dan akan kuberikan selimut yang sudh lama kusiapkan untuk menghangatkan perjalananmu yang sudah melelahkan"


" Kenapa tidak menyerah saja ka, kami tidak akan tersesat selama penunjuk jalan itu tidak mengubah arahnya"


" Aku ini sedang berjuang untuk seorang yang berjuang demi orang lain, tapi setiap melihat senyummu itu menjadi sumber kekuatanku, 250 hari aku duduk di sebelahmu dan menjagamu menikmati setiap bersama kita, Bahumu selalu kupersiapkan untuk pelabuhan tempat kepalamu saat kamu, walau kamu tidak pernah ingin menyandarkannya, inginku kamu bisa terjatuh tak sengaja, dan bisa kamu rasakan nyamannya juga seperti bahu satunya. Tapi masih saja tidak, walau aku tau sesekali kamu oleng. Kamu dekat tapi selalu membuat jarak dan tak ingin mendekat. Kamu ada tapi terkadang membuat menjadi ketiada.


Selalu kutunggu inginnya menjadi satu-satunya wajah yang kaupandang lekat-lekat, kenyataannya justru kamu biarkan pekat, masihkah aku menjadi sesuatu yang tidak menarik perhatianmu? Sapaan yang tak terdengar, atau kamu sengaja menutup telinga untuk sadar? Keberadaanku yang tak terlihat, atau memang kamu tidak ingin kita akan lebih dekat?


Harus sejauh mana aku menyentuh hatimu, atau mungkin setidaknya kamu tak buru-buru berlalu dari sisiku


Lalu, ketika kini aku terlanjur cinta, rasa ini harus dikusimpan di bagian mana? Sementara ke hatimu saja aku terus meraba arahnya.


Kamu terlalu jauh untuk kurengkuh atau memang sengaja selalu berlari cepat menjauh? Sebab berulang kali aku menunjukkan diri, masih saja kamu tidak peduli. Bagaimana bila rasa ini bukanlah untuk sementara? Bagaimana bila malah menetapkan hati ini selamanya meski tak kutemukan kepastian? Barangkali terlalu sulit bagimu untuk menaruh peduli, sedangkan terlalu mudahnya aku untuk memberi hati. Walaupun kadang harus mematahkan kepentinganku.


Semoga di suatu saat yang entah, kamu akan tahu bahwa aku pernah sebegitunya ingin untuk diinginkan, dan semoga tidak terlambat.


Jatuh cinta adalah tetap mejadi perasaan bahagia, jika menyakiti bukan salahnya tapi salahku yang sangat berambisi, mengharap aku dan kamu akan menjadi kita. Harapanku tidaklah mudah untuk kamu wujudkan, karena kamu belum sadar untuk itu, atau memang tidak pernah ingin, harapanku ini masih saja tergantung-gantung karena jawabanmu adalah sudah memiliki sesorang yang harus kamu pertahankan. Aku terhancurkan sebab aku mencintaimu dengan cinta yang begitu hebat, apakah aku membuang waktu untuk ini, apakah aku harus menamatkan dan membiarkan kamu pergi? Dan hatiku kembali mengatakan, aku masih bisa memperjuangkan bukan membiarkan. Aku masih saja keras kepala dan tidak ingin berhenti mengejarmu. Aku masih punya kesempatan hatimu bersedia untuk kumiliki, mengejar kemungkinan yang bisa saja ada setelah ini"


Air mata Alya khirnya tidak bisa tertahan lagi, entah dengan tujuan apa, Kevin menghapus dengan jarinya.


" Aku ini siapa? kenapa aku yang harus menjadi pengemis untuk kamu beri hati? Bukankah aku yang lebih dahulu memintamu untuk bisa menjalani hidup kita. Bukankah aku yang kamu beri jawaban iya terlebih dahulu? Dan kuterima jawabanmu bahwa hati yang kuminta tidak akan kamu berikan, tapi aku juga minta waktu untuk bayaran kalau aku kamu khianati, liat dan ukur saja setelah ini semampu dan semampus apa aku akan mampu memperjuangkanmu"


" Ka, sudahlah, jangan lagi membuat Alya semakin bersalah"


" Aku akan pergi, aku harus menyampaikan semuanya agar kamu tau ada hati lain yang sedang menunggumu juga selain hati yang selama ini kamu banggakan"


" Alya tidak memintanya"


" Tapi kita berdua yang memulainya"


" Jangan salahkan kita"


" Tidak, bukan cinta, bukan kamu, tapi aku".


Kevin melirik arloji di tangannya


" Sudah mendekati magrib, kita mampir di mesjid dulu, kita makan malam di luar saja ya, telfon tante biar beliau tidak khawatir"


" Tidak langsung pulang ka?"


" Aku masih belum bisa berpisah secepat ini"


Alya mengambil ponselnya yang masih di dashboard mobil dan menekan tombol panggilan telfon. Sebelumnya kembali menghapus air matanya, kenapa aku bisa menangis untuk ini, ada apa denganku? Dimana aku yang sedang segagahnya menyatakan tidak ada yang akan mengubah hatiku, ini apa??? pamitan Kevin kali ini kenapa membuatku luluh begini? aku harus memegang lagi kerasnya hatiku, dia bukan siapa-siapaku.


" Aku sesegeranya pulang sayang"


Alya menoleh


" Boleh aku kembali memanggilmu sayang? aku rindu mengucapkannya padamu"


Alya tersenyum


" Terserah ka"

__ADS_1


Aku ingin bisa di keadaan ini Alya, saat aku pamit kamu terlihat mulai terjaga, kemarin kamu tidur saja, walau belum bangun setidaknya kamu mulai tau bahwa aku ini ada. Aku akan sabar Alya.


__ADS_2