Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Sekarang Sudah Waktunya


__ADS_3

Setelah tiga hari mengurus seseorang yang sakit, walaupun tanpa diuruspun akan sembuh dengan sendirinya. Kevin berpamitan pulang ke Bandung, sementara Om Hadi dan tante Risma sudah kemarin berangkat ke Jakarta


" Aku pergi dulu ya Al? kalau ada apa-apa hubungi aku"


" Kalau Alya ingat"


" Sadis"


" Tapi sudah jadi biasa kan?"


" Iya, nyebelin tapi aku selalu saja tetap merindukan itu, aku malah akan curiga kalau kamu tiba-tiba manis".


" Hehhee"


" Ada kesan dan pesan sebelum aku pergi?"


" Tidak ada"


" Ucapan terima kasih sudah menjaga selama 3 hari juga tidak?"


" Itu sih bukan menjaga, tepatnya mengawasi, Alya kan jadi terganggu mau chating, mau telfon, mau video call"


" Setelah aku pergi ini kamu akan bebas lagi ya Al"


Ada sedikit nada sumbang di balik senyuman terpaksa Kevin


" Sudah lah ka, enggak enak kan kalau begini"


" Iya sudah lah Alya, tidak enak kan begini"


Hahahaha.


" Kita ini bagaimana sih ka"


" Kamu yang bagaimana"


" Sampai kapan kaka mau begini"


" Sampai kapan kamu bisa memilihku saja"


" Kaka selama kita bersama Alya memangnya tidak pernah jatuh cinta?"


" Sering"


" Hah?"


" Aku selalu jatuh cinta setiap hari padamu"


" Kaka tidak mau mencoba dengan yang lain?"


" Belum ada niatan"


" Kaka boleh niatin mulai sekarang, kalau kaka jatuh cinta sama perempuan lain, kita akan bisa terlepas dari ini ka, kaka bisa membahagiakan orang tua kaka yang kepengen banget punya menantu, Alya juga akan bisa bersama dengan ka Afkar"


" Kamu yakin jika tidak bersamaku orang tuamu menyetujui kalian?"


" Alasan mereka kan selama ini karena ka Afkar tidak sama dengan kaka, jadi kalau tidak ada saingan lagi ya direstui lah"


Kevin mendekatkan wajahnya ke wajah Alya dan membuat Alya sedikit mundur


" Bagaimana kalau kamu saja yang mencoba mencintai aku? ini yang kedua kali aku meminta nya padamu"


" Tidak, kalau Alya tidak punya kekasih mungkin kaka tidak perlu memintanya"


" Bagaimana kalau Alfkar disana juga melakukan apa yang kamu lakukan disini?"


Alya menggelang


" Tidak mungkin"


" Dia juga berpikir kalau kamu tidak mungkin, padahal kamu melakukan kebohongan disini"


" Ka, jangan membuat Alya marah"


" Marah pada siapa?"


Uupps, iya marah pada siapa? gue kenapa tiba-tiba membayangkan ka Afkar juga sedang melakukan yang gue lakukan sekarang


" Aku tidak ingin membuatmu berfikir kalau Afkar pun sama berbohongnya denganmu, tapi jika nanti ada keraguan, kita bisa menyelidikinya bersama"


" Ide gila, dia kekasih Alya, kenapa harus tidak mempercayainya"


" Kamu juga kekasihnya, tapi seharusnya dia tidak mempercayaimu begini"


Alya terdiam, kenapa aku tidak pernah berfikir seperti ini, aku selama ini hanya berpikir tentangku, tidak pernah berpikir tentangnya.


" Kalau Alya mulai tidak mempercayainya Alya bisa menyelidikinya sendiri, tidak perlu bawa-bawa kaka"


Kevin tertawa


" Barangkali saja nanti saat kamu melihat ada hal-hal yang tidak ingin dilihat matamu aku bisa menjadi saksi"


Alya meninju lengan Kevin


" Jangan menghayal ya, Alya jamin ka Afkar tidak seperti itu"


" Aku juga tidak ingin mengkhayalkan itu, aku hanya berharap kamu akan jatuh hati dengan cara yang baik padaku"


Deerttt, ponsel Kevin berdering.


.....


" Alya, aku harus segera pergi, sebentar lagi ada yang akan menjemputku"


Alya menatap Kevin dengan tersenyum


" Hati-hati ya ka"


" Alya, apa ini yang harus terjadi padaku? mencintai dan tidak tau cara berhenti. Katamu aku harus segera mencari pengganti agar aku dan kamu bisa memiliki lagi kehidupan kita sendiri, mendapatkan yang pintar menggantipun percuma, aku masih tidak mau yang lain, karena yang lain itu bukan kamu. Apakah kita yang sudah lama akrab masih belum juga menjadi jawab? Setiap manusia memiliki batas kewarasannya, memilih bertahan, diam, mengejar ataupun melepaskan. Semua berjalan dengan kesepakatan akal dan hati. Begitu jua kita, kamu yang selalu berkunjung temu namun tidak menyisakan ruang untuk memberiku rindu atau hanya sepatah baris menunggu. Dan saat ini aku masih bersama mengikuti dengan hati, untuk masih ingin memperjuangkanmu. Pergiku kali ini tidak akan menandai hubungan ini selesai Tidak akan ada berpisah denganmu yang aku anggap tamat. Kamu masih menjadi kunci untukku pulang setelah perjalanan panjang. Aku mencintaimu hari ini, aku tidak tahu tentang waktu, yang kupahami itu sudah terjalani dari hari ke hari sejak bertemu denganmu, dan tidak pernah berkurang. Aku juga tidak berani mencintaimu semegah awan karena kamu sudah mencintai langit, tidak berani mencintaimu seluas bumi karena kamu sudah menggenggam galaksinya. Aku hanya berani mencintai dalam sekeping hati.


" Jangan jatuh cinta padaku begini, kita berbeda, Alya tidak akan menjadi seperti yang kaka mau, walau sebanyak-banyaknya usaha sudah kaka lakukan. Alya adalah Alya yang selalu mencintai hal-hal sederhana. Seperti menghirup wangi hangat di cangkir pada kedai kopi. Menyukai wangi tanah sesudah hujan sesaat setelah menikmati dan berbicara berlama-lama dengan titik hujan di bawah atap sebuah ruko tua, menyukai bau rumput pada sebuah taman labirin dan berlari sekuatnya, menyukai sesuatu yang tidak teratur seperti isi lemari pakaian yang selalu acak-acakan, menyukai warna putih baik itu pucat ataupun terang, menyukai kaos yang biasa saja dengan celana yang kaka bilang terlihat kumuh serta sandal jepit dan gelang kaki berisik. Menyukai menenteng gitar kemudian memainkannya untuk menghibur banyak rindu mereka diluar sana, bahkan sebelum Alya tau rindu itu seperti apa dan banyak hal lainnya yang jika Alya sebut semua akan berbusa-busa.


Jangan jatuh cinta padaku ka, Alya tidak bisa berlaku manis dan sopan seperti yang kaka ajarkan, jangan membanting pintu dengan keras karena selain bunyinya akan merusakan indera pendengaranmu, jantungmu juga akan terkejut, dan kemudian pintu itu akan cepat hancur, tutuplah dengan pelan.


Jangan lagi menendang kaki orang lain, bisa kamu bayangkan jika yang salah mulutmu kemudian kakimu yang menerima balasannya? sangat tidak adil kan?.


Jangan melakukan semua dengan berlari, tidak semua hal harus kamu selesaikan dengan segera, terkadang ada sesuatu yang harus kamu pertimbangkan dengan tenang tanpa terburu, siapa yang mengejarmu sampai kamu harus cepat-cepat berlalu? atau apa yang ingin kamu raih sampai harus mencapainya secepat itu?"


" Jika hal sederhana yang kamu cinta itu tidak membebaniku, justru aku yang akan belajar juga untuk mencintainya, dan jika permintaanku agar kamu bisa menjadi manis dan sopan belum bisa kamu lakukan, aku akan perlahan mengajarinya, tidak apa pelan dan terlambat, yang penting kamu nanti akan menjadi wanita terhormat"


Tiiiit, ponsel berdering


" Alya, aku sudah dijemput, aku pamit, tapi seperti janjiku, aku akan pulang sebanyak-banyaknya"


" Semoga semua lancar ya ka"


" Terima kasih cintaku"


Kevin menyentuh tangan Alya, mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Alya


" Aku akan bersabar"


Alya hanya bengong.


" Salam sama om dan tante"


Kali ini jemari Alya yang merasakan sentuhan bibir Kevin


" Aku masih mencintaimu hari ini Alya"


Kevin berdiri dan berjalan sambil menggandeng tangan Alya menuju halaman. Sebuah mobil hitam sudah menunggu Kevin untuk mengantarnya ke bandara.


" Kaa"


" Iya"


Kevin menoleh


" Terima kasih"


Kevin tersenyum


" Itu saja?"


Alya mengangguk


" Kupikir akan menahanku atau mau ikut denganku"


" Hehehe, hati-hati ka"


" Oh iya kalau chating sama orang lain jangan terlalu lama ya"


" Kenapa?"


" Aku cemburu"

__ADS_1


Keduanya tertawa, Alya melambaikan tangannya sebelum Kevin memasuki pintu mobil yang sudah dibukakan oleh lelaki yang menjemputnya.


Menonton acara berita di televisi papah selalu terlihat serius, setelah makan malam papah santai di ruang tamu ditemani segelas kopi, bukan segelas, tapi dua gelas, Alya membuatkan segelas untuk papah dan segelas untuknya. Tapi karena Alya menenteng gitar pemberian Afkar dan berniat memainkannya di ruang keluarga, sedangkan papah ingin menonton acar berita favoritnya maka jadilah Alya yang tegusur ke teras sambil membawa gitarnya, tidak mungkin kan papah yang tergusur ke teras dan membawa televisinya, ikutan senyum kan yang baca 😊


Mama masih di ruang praktiknya karena sedang ada 2 pasien yang menunggu sejak mereka makan malam tadi.


Ponsel mama berdering dari ruang keluarga, tidak ada yang menyentuhnya, papah masih terlalu konsentrasi dengan acaranya, paling juga Pandu pikir nya, begitu juga Alya yang masih memegang gitar nya dan belum memainkan karena masih mempersiapkan layar kamera pada ponselnya untuk menyimpan pada galeri video nya, masih belum ada ide mau menyanyikan apa.


Ponsel terus berdering membuat papah akhirnya melirik juga


" Siapa ini ya?"


Alya bisa melihat dari teras papah berjalan menuju meja kecil di sudut ruang tempat mama meletakan ponsel.


Papah mengangkat telefon dan terlihat berbicara, Alya tidak ingin kepo, sudah nemu lagu dan mulai memetik senar nya. Alya sudah larut dengan lagu Hingga Akhir Waktu. Papah keluar melihat Alya melakukan apa dan memastikan anaknya masih asik dengan hobinya, beliau kembali duduk dan menonton lagi berita di televisi.


Setengah jam kemudian mama menutup ruang praktik nya dan ikut duduk di sebelah papah


" Tidak yang tua yang muda minumnya kopi, Alya nanti kurangi ya kopinya"


Alya yang baru saja menyelesaikan lagu ketiganya menenteng gitar masuk ke dalam dan ikut duduk di ruang keluarga


" Sudah lama tidak mampir ke kedai kopi Bowo ma, sudah mulai hilang konsentrasi dan mood Alya sering jelek, kan juga bagus ma buat mencegah kepikunan, iya kan pah?"


" Tulang kamu cepat rapuh Alya"


" Iya kalau banyak, palingan juga dua hari sekali, ini aja Alya baru 2 kali minum selama nginap di sini"


Papah teringat sesuatu


" Ooh iya ma, barusan Risma menelfon, katanya kalau mama sudah tutup praktik telfon balik, ada yang mau diomongin"


Mama dan Alya berpandangan


" Alya, kamu sedang tidak bikin masalah kan sama Kevin?'


Alya menggeleng


" Tidak mah, kemarin malah ka Kevin nelfon nanyain kabar Alya, kami becanda aja, tidak ada masalah"


" Atau jangan-jangan Kevin sudah tau tentang Afkar?"


" Memang dari dulu tau"


" Apaa"


Mama dan papah kaget, bersamaan pula


Alya ikut kaget, ngapain gue bilangin ya?


" Terus gimana Kevin?"


" Ya mama liat kan ka kevin masih bertahan sampai sekarang"


Mama memegang tangan papah


" Pah, Alya benar-benar kelewatan"


Huuuh, kenapa gue lagi salahnya, yang mempertahankannkan ka Kevin, kenapa bukan dia aja ynag disalahin


" Ma, lebih baik mama telfon saja, siapa tau bukan itu, dan Alya kamu jangan masuk"


Papah sudah melihat gelagat anaknya yang mulai gelisah bersiap untuk berdiri. Mendapat teguran lisan begini batal deh mau kabur masuk kamar. Mama meraih ponselnya yang sekarang sudah ada di meja depan mereka, papah tadi lupa balikin ke tempat asalnya, minum kopi aja masih sering lupa apalagi enggak. Eh tapi kan itu gue, suka lupa sama sesuatu rahasia malah gue bongkar sendiri, ternyata ini warisan papah ke gue, kenapa bukan warisan pinternya sih pa, malah pelupanya.


" Waalaikum salam mba".


" Iya, kapan?"


" Nanti saya bicarakan sama suami saya"


" Ooh iya"


" Hehehe, terserah saja mba, dimana saja boleh"


" Tidak usah repot-repot ya"


" Bisalah kalau itu, nanti papahnya yang akan mengurus izinnya"


" Kalau Pandu sama Tasya sepertinya tidak bisa, istrinya masih hamil, dan Tasya sekolah"


" Tidak usah mba, gampang lah nanti, kasian Kevin"


" Bisa juga, nanti biar Alya yang menghubungi Kevin"


" Ini ada kok Alya nya disamping saya, iya nanti saya sampaikan"


" Waalaikum salam mba".


Klik


Mama menutup panggilan telfon, papah dan Alya sedang menunggu ada kabar apa di balik panggilan telefon tadi


" Mba Risma mau mengadakan syukuran wisuda Kevin sekaligus penyerahan jabatan perusahaan Kevin, kita diundang dan akan dijemput"


Alya tercengang, diundang? tante Risma tidak bercanda soal itu? gue harus bagaimana?


" Kapan mah?"


Papah dengan entengnya bertanya, dia memang sudah tau rencana itu, kemarin sempat mereka memperbincangkannya.


" 5 hari lagi, katanya papah minta izin 2 hari bisa kan? dan kita semua diundang, mama bilang Pandu dan Tasya tidak bisa, jadi cuma kita bertiga"


Mama selalu begitu, mengambil keputusan tidak musyawarah dulu, gue tidak ditanya ini bisa atau tidak, gue kan juga harus ngantor, lagian gue tidak siap, dan sebagiannya gue takut tante Risma punya ide apalagi buat manjang-manjangin hubungan ini


" Alya, kamu nanti telfon Kevin ya bilang tidak usah dijemput, kasian dia harus bolak balik, kita bisa kok bertiga kesana"


" Ma, kalian saja, Alya tidak ikut"


Mama memandang Alya dan sedikit mendelikan mata


" Alya, mereka tidak akan mengundang kita kalau bukan kamu, jadi jangan berpikir kalau kamu tidak akan ikut"


Alya meletakan gitar yang sejak tadi masih dipegangnya karena niatnya yang ingin kabur ke kamar.


" Ma, nanti tante Risma akan merencanakan apalagi buat kami, Alya tidak ingin ma"


" Kamu masih saja belum menerima Kevin?"


Alya mengangguk


Kali ini mama kembali terpancing emosi


" Alya kenapa kamu jadi keras kepala begini sih, kamu itu anak penurut, tidak pernah membantah apalagi menentang, tapi sekarang berubah begini, Afkar yang membuat kami berani begini?


Alya menggeleng


" Ma, jangan salahin ka Afkar, dia tidak tau apa-apa"


" Tapi kamu seperti ini karena dia, kamu tidak lagi mau mendengar kami"


" Alya cuma cinta sama ka Afkar, ka Kevin juga tau"


Mama menggeleng.


" Kamu benar-benar bikin mama marah ya Alya. Baik kalau kamu sudah tidak mau mendengarkan mama, mungkin Afkar mau mendengarkan mama"


" Apa maksud mama?"


" Mama akan telfon Pandu dan minta agar Pandu menjemput Afkar untuk menemui mama"


" Untuk apa?"


" Mama akan bicara pada Afkar tentang semuanya, dan minta dia yang mundur, mama juga akan menceritakan semua tentang Kevin, mama ingin tau apa yang bisa dia lakukan"


Deeegg, mama jangan


" Apa dia bisa juga melakukan apa yang sudah dilakukan Kevin padamu, menjagamu, menemanimu"


" Tentu saja tidak ma, dia kan juga harus bekerja"


" Kenapa tidak? Kevin juga bekerja jauh dan dia bisa menjagamu, dengan sering datang dan menemuimu, dengan orang tuanya yang juga memperhatikanmu dan sangat mengharapkan kalian bisa menikah"


Alya tertunduk lemas. Tidak bisa ma, itu bukan kemampuan ka Afkar.


" Mama akan telfon Pandu"


Mama meraih ponselnya yang diletakkan di atas meja. Memencet tombol hijau


" Ma, jangaaan"


Alya mendekati mama dan memegang tangannya mencegah mama menelfon Pandu


" Ma, Alya tidak mau"


Mama melepaskan tangan Alya

__ADS_1


" Mama sudah tidak kamu dengarkan Alya, dan sekarang mama mau langsung berhadapan dengan Afkar agar dia yang mendengarkan mama"


" Tidak ma, kasian ka Afkar"


" Kamu kasian sama Afkar tapi tidak kasian dengan Kevin yang sudah melakukan banyak hal pada kamu, dan sekarang hubungan ini tidak main-main Alya, keluarga Kevin sudah sangat serius"


" Alya tidak pernah memintanya, mereka yang memaksakan keadaan ini, seharusnya sejak Alya cerita pada ka Kevin tentang ka Afkar, kan harusnya dia yang mundur bukan malah semakin mempertahankan, tidak adil ma justru ka Afkar yang harus mundur"


" Adil saja Alya karena Kevin dan keluarganya sudah berlaku sangat baik pada kita".


" Berikan kami waktu ma"


" Kamu selalu begitu, pada akhirnya tetap saja Afkar, kita tidak bisa lagi mengulur waktu Alya. Dan kali ini kamu tidak usah berpikir bagaimana caranya, biar mama yang bicara pada Afkar"


Alya merasa sangat lemas


" Mama bicara pada Alya saja sakitnya begini, apalagi mama bicara pada Ka Afkar, tolong jangan ma"


" Alya, kamu bukan tidak tega sama Afkar, tapi kamu sendiri ragu kalau Afkar masih bisa mempertahankanmu kan? posisinya terlalu lemah untuk bisa diperbandingkan dengan Kevin, bahkan selama ini dia tidak melakukan apa-apa selain menghubungimu lewat ponselmu itu. Hayalan apa yang dia berikan padamu sampai kamu mempercayainya? sampai kamu meyakini kalau dia masa depanmu? sementara Kevin sudah membentangkan jalan yang bukan hayalan, dia memberikan bukti, ini bukan janji, tapi nyata Alya"


" Mama akan bicara apa?"


" Mama hanya ingin bertanya apa yang bisa dia lakukan untuk membahagiakan anak mama dan dimana dia selama ini saat Kevin yang justru menjaga dan melindungimu"


Kenapa ka Afkar harus menghadap mama? lalu dia akan menjawab apa? dia sudah menderita banyak rindu dan harus bekerja keras untuk bisa membawaku, sungguh aku melihat itu ma, dia sedang melakukannya untukku, apakah aku tega melihat dia datang dan duduk dihadapan kalian kemudian kepongahan dunia akan terpamerkan di telinganya? cerita seribu malam yang memang ada akan masuk ke kepalnya sedangkan kami sering bercerita diantara semangat dan peluhnya, terkadang kami harus menyimpan tawa karena kebisingan mesin dan kejaran materi.


Aku tidak ingin kamu dihadapkan diantara kemegahan pemilik kekuasaan, aku hanya ingin duduk bersamamu. Barangkali suara dan kelembutanmu mampu memperbaiki angan tentang hidup yang kian mahal dan terampas. Barangkali kita bisa mencipta dunia baru yang tak lagi dipertukarkan dengan upah dan kuasa. Memberiku rasa tabah untuk hidup yang dititipkan pada kita. Kisah cinta kita, kalian melihatnya hanya dari linangan air mata dan doa yang mendayu-dayu, sedangkan kami yang mencinta merasa ini adalah romantisme jiwa. Keindahan hati kami tidak akan pernah bisa kalian baca. Ka Afkar aku tidak hanya mencintaimu, aku juga mencintai kehidupanmu, sederhana mu yang sama biasanya dengan sederhana ku, selera makanmu yang sama standarnya dengan menu-menu pilihanku, gaya penampilan mu yang sopan dan rapi tidak mempermasalahkan gaya konyol dan cuekku. Walaupun terkadang kamu mengingatkan mulutku untuk mengeluarkan bahasa yang lebih santun. Dari kita tidak ada yang harus dipura-purakan, berjalan saja selurusnya dan tidak perlu dibuat-buat.


Alya merebahkan diri di tempat tidur berukuran sedang, di dalam kamar 3x4 bernuansa putih dengan minim aksesoris, kecuali sebuah meja rias dengan cermin besar dan lemari pakaian bentuk minimalis 2 pintu berbahan kayu. Menatap layar ponsel, memegang dengan gemetar dan merasakan tangannya dingin. Menekan tombol hijau


Tiiit


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam ka"


" Sedang apa bidadariku?"


" Rebahan aja ka"


" Sehat?"


" Iya, kaka sedang apa?"


" Sedang menunggu sayang menghubungi"


Hening


" Ka, ada yang mau Alya bicarakan"


" Iya, mau telfon atau video call?".


" Telfon aja ka"


" Boleh, cerita saja sayang, aku mendengarkan"


Alya merasakan tangannya semakin bergetar dan mulai berkeringat


" Ka, Alya sudah bicara dengan orang tua Alya"


Hening...


" Ka, mereka tetap tidak merestui hubungan kita".


Diam.


" Mereka tetap memilih ka Kevin.


Kenapa mulutku seakan terhenti. Kenapa ka Afkar tidak menjawab


" Ka,,,"


" Iya"


" Bagaimana?"


" Aku akan menemui orang tuamu"


" Tidak ka"


" Aku harus bicara Alya"


" Alya tidak mau kaka semakin terpojok dan dibandingkan"


" Kenapa aku selalu ditahan begini, sayang memang tidak mau berjuang?"


Apaaa, hentikan pikiranmu itu, apa kamu pikir ini tidak sedang dalam berjuang, aku bahkan tidak berani membayangkan kalau kamu datang, bagaimana hatimu mendengarnya


" Ka, Alya sudah sepenuhnya mengusahakan"


" Aku percaya, aku ingin memperjuangkan juga"


" Seperti nya sudah buntu ka, mereka bahkan sudah menganggap Alya pembangkang"


" Alya, kita sedang menjalani hal baik dan tujuan yang serius, ini bukan permainan"


" Itu juga yang Alya katakan pada mereka, tapi tidak merubah keputusan mereka ka"


" Besok aku akan mengurus cuti, aku akan ke Yogya"


" Jangan ka, Alya tidak ingin melihat ka Afkar semakin terpojok"


" Lebih baik aku terpojok daripada aku diam begini tanpa mengetahui ada apa sebenarnya"


" Yang sebenarnya adalah kita tidak direstui dan mereka ingin Alya memilih ka Kevin"


" Alya, aku jadi berpikir kalau kamu juga menginginkan Kevin"


" Ka Afkar"


Alya berteriak kesal, hatinya sakit. Kamu yang sedang aku perjuangkan, aku melakukan ini agar kamu tidak semakin luka lebih dalam, aku bahkan tidak berani membayangkan kamu akan kesini dan mendengar semua yang akan membuatmu terhina.


" Lalu untuk apa kamu bilang memperjuangkan sedangkan aku tetap di tahan untuk tidak melakukan apa-apa"


" Kaka tidak mengerti, mereka akan memperbandingkan kaka, cukup Alya yang mendengar dan merasakan sakitnya ka"


" Kamu sedang menanggung sakit untukku atau sedang memperjuangkan seseorang yang lain"


" Kenapa kaka bicara begitu?"


" Alya,, aku meyakini hubungan kita ini sedang kamu ulur perlahan-lahan untuk menjauh, kamu pikir aku tidak bisa merasakan bahwa sikapmu sekarang berubah, seakan ada sesuatu yang sedang kamu bagi, ada hal yang tersembunyikan di balik kesibukanmu, aku merasakan Alya tapi aku tidak berani menanyakannya, bahkan puisimu sekarang datar, tidak ada lagi ketulusan di dalamnya, senyummu juga semakin tawar, dan setiap aku ingin bisa maju kamu selalu menahanku, apa artinya ini Alya? memang agar hubungan ini tidak selayaknya yang aku impikan kan?"


Alya ingin sekali menghajar wajah Afkar mendengar tuduhan ini.


" Ka Afkar pikir untuk apa Alya bertahan sampai begini kalau Alya tidak mencintai kaka lagi? untuk apa Alya masih dan masih saja menolak ka Kevin jika Alya tidak ingin lagi bersama ka Afkar? untuk apa Alya rela saja dan tidak melawan begitu Alya disebut mama keras kepala dan pembangkang"


" Lalu kenapa aku masih saja begini, aku seolah tidak ada manfaat apa-apa Alya, aku seolah yang membuat beban pada hidupmu dan kamu yang akan menyelsaikannya sendiri? biar aku semakin tidak berarti dihadapan orang tuamu"


" Kaka mengajarkan Alya berpikir baik, tapi kenapa sekarang justru negatif thinking begini?"


" Ini buka negatif thingking, sesuatu yang aku takutkan sepertinya sudah di mulai, dan buruknya lagi aku dianggap tidak mampu untuk memperbaikinya"


" Bukan Alya meremehkan ka, Alya percaya kaka bisa menghadapinya, tapi Alya sakit jika kita tidak bisa melaluinya lagi berdua"


" Kamu terlalu sombong Alya dengan berpikir kamu mampu sendiri"


" Tidak ka, Alya tidak ingin kaka semakin terlihat lemah dan kalah, lalu kita bahkan tidak bisa lagi bersama"


" Kamu tidak mempercayaiku Alya? aku kekasihmu kan? masih ingin bermasa depan denganku kan? atau memang Kevin mencukupi perlumu dengan uangnya sedang aku masih saja dengan ketiadaanku?"


" Jangan bicara materi, Alya pernah meminta itu pada ka Afkar?"


" Kamu mau mundur Alya?


Hening


" Alyaaa,,,"


" Ka, Alya tidak tau"


" Itu meyakinkanku kalau cintamu memang sudah terbagi"


" Tidak ka, mengerti lah"


Hening


" Aku akan datang"


" Jangan ka"


" Alya,,,"


Klik.


Alya menutup ponsel dan menangis sejadinya, kenapa kaka malah menyalahkanku, kenapa tidak menyadari kalau ini memang salah kaka yang datang menyatakannya terlambat, benar kata mama dimana kaka saat ka Kevin yang menjaga Alya? Kenapa justru menjadi di balik?

__ADS_1


__ADS_2