
Mengguyur tubuh dengan air sejuk di subuh begini sempat membuat tubuh Alya menggigil. Tidak ingin berlama-lama Alya segera menyelesaikan mandi paginya, bersenandung lagu-lagu tidak jelas dapat membuat sedikit dinginnya berkurang. Baru saja Kevin menelfon dan mengabarkan hari ini adalah peresmian perusahaan cabang baru Om Hadi yang kelak akan diteruskan padanya setelah gelar magister resmi disandangnya. Alya hanya mengucapkan selamat tanpa ada perasaan ikut memiliki, kata Kevin, kalau nanti mereka menikah, Alya akan berubah status menjadi Nyonya Kevin dan berhak juga atas perusahaan itu, Alya tidak ingin ambil pusing. Dicoloknya handphone ke charger dan memasang pada colokan listrik. Sebelumnya mengecek apakah subuh ini Afkar lupa lagi menyapanya, tidak ada, online kemarin pukul 19.30. Kemana dia ya, kenapa handphone nya tidak aktif sejak tadi malam, apa dia baik-baik saja, tangannya sudah gatal ingin memencet panggilan telfon, tapi diurungkannya, sudah berhari-hari aku diperlakukan begini, sangat memalukan jika inipun kembali diabaikan.
Menyalakan televisi kecil di kamarnya sambil membuka lemari pakaian, memilih hari ini akan memakai apa ke kampus. sambil telinganya mendengarkan berita di televisi,.Alya memakai baju dan memoles wajahnya dengan bedak dan lipstik tipis. Kenapa mama melarangku untuk ikutan memakai makeup seperti temanku yang lain, aku bahkan tidak pernah punya pensil alis, penjepit bulu mata, maskara, apalagi bedak berbagai warna untuk di poles pada bagian pipi atau mata. Bedak yang sekarang dipakainya pun baru sejak kuliah dia boleh menggunakannya, sebelumnya dari bayi sampai SMA Alya hanya menggunakan bedak tabur bayi, mama bilang jangan ikut-ikutan teman atau yang lagi trend, sayang kulit wajah kalau sampai jerawatan apalagi rusak gara-gara salah pemakaian kosmetik. Kadang dalam 6 bulan sekali diajak mama ke salon buta cuci muka, potong rambut dan creambath, itu saja, tidak ada perawatan apapun, padahal di salon kan banyak menyediakan berbagai jenis perawatan, pengen juga sih nyobain. Ketemu sahabat juga sama, Sylvia juga begitu, cuma sesekali dia bisa menggunakan bedak berwarna itu, katanya juga hasil nyontek tutorial di YouTube, kalau Sylvia sih cucu bule, enggak diapa-apain juga cantik banget, lah gue wajah tradisional, enggak boleh di poles-poles pula. Setiap Alya protes mama selalu bilang, anak perawan jangan dipoles apapun, biar nanti saat didandanin pas jadi pengantin mukanya berubah jadi cantik banget, entahlah mama dapat alasan itu dapat dari leluhur yang mana.
Judika, jikalau kau cinta,,
Ka Afkar
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Ada apa ka?"
" Lho, kok gitu nanya nya? marah ya?"
" Enggak"
" Ya udah, aku minta maaf, nanti aku jelasin kenapa akhir-akhir ini aku jarang bisa ngabarin"
" Hhmm"
" Mau kuliah Al?"
" Iya"
" Waah, bener-bener ngambek nih, gimana caranya aku minta maaf"
" Enggak perlu, mau Alya marah, mau senang, kaka juga enggak tau"
" Aku bisa tau"
" Gimana"
" Ya tinggal aku pandangin wajahnya, terus aku mau minta maaf sambil mencium jemarinya lagi, kuusapin rambutnya"
" mimpi"
" Semoga bukan mimpi"
" Ka, Alya lagi kesal nih sama kaka".
" terus?"
" Alya mau kuliah dulu"
" Jadi aku ditinggalin nih?"
" Iya"
" Kalau aku ditinggalin di cuekin, aku yang ngejar"
" Terserah, Alya mau berangkat dulu, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam".
Alya mencabut charger dan memasukan handpone ke dalam tas kuliahnya, berlari kecil di tangga dan menuju pintu, mencari sepatu di rak sepatu yang terletak di teras kostnya. Alya melirik ke samping ke kanan, ada bayangan Afkar tersenyum, Alya mengibaskan tangan ke depan wajahnya sendiri
" Apa aku benar sudah gila, bahkan bayangannya saja seperti nyata"
Alya memasang sepatunya sambil jongkok, tapi mulutnya tetap saja mengomel sendiri
" Seharusnya kaka itu datang, jangan cuma selalu bayangannya saja yang terus menghantuiku, walaupun suara tanpa raga kaka itu cukup membahagiakanku karena aku tau kaka baik-baik saja, aku juga perlu dijenguk, sudah pergi tiba-tiba, sekali pergi betah lama-lama, emangnya dipikirnya hatiku ini batu"
Alya berdiri di depan kaca yang terbuat dari riben di samping pintu.
"Udah cakep belum ya".
" Kunci gue tadi mana ya"
Sambil membuka tasnya lagi, di taro di mana sih. Sebuah tangan menyodorkan kunci motornya, Alya menyambutnya
" Makasih".
Dan saat Alya melongok siapa yang barusan menyerahkan kunci, Alya terpekik dan hampir jatuh. Seorang laki-laki dengan nemakai baju kaos hitam berlogo mirip burung garuda bertulis simbol AG dengan model ngepres dan menampilkan bentuk badannya, celana jeans, badannya lumayan atletis. Alis tebal dengan mata teduh dan berhidung mancung.
" Ini kuncinya, tadi kan kamu jongkok, kuncinya di taruh di lantai"
Alya mengucek-ngucek matanya
" Kamu siapa? kamu pakai topeng ya?"
Tangan mungil Alya menarik dagu laki-laki itu
" Aww, sakit Al"
Alya benar-benar mundur dan akhirnya tubuhnya tersandar di dinding, mata terbelalak dan tenggorokannya seperti di cekik
" Kok pagi-pagi sudah marah? nanti cepat tua Tapi kalau belum selesai marahnya, aku masih siap dengar kok". Laki-laki itu sedikit menunduk agar bisa lekat memandang wanita yang teramat dirindukannya itu, bahkan hembusan napasnya pun dapat Alya rasakan karena wajah itu semakin mendekat.
Plaaaakk.
"Awww"
Sebuah pukulan mendarat di punggung laki-laki itu
" Alyaaa, kamu kenapa?"
Alya menatap telapak tangannya yang baru saja memukul lelaki itu, sakiiit.
" Ternyata ini bukan mimpi"
" Ini memang bukan mimpi, aku bahkan bertubi-tubi mendapat sapaan selamat datang yang sangat mesra ini".
Alya terpana dengan sosok di depannya, langsung memeluk lelaki itu di luar sadarnya dan langsung terisak-isak. lelaki itu sedikit menundukan tubuhnya agar Alya benar-benar penuh dalam pelukannya
" Ka Afkar jahaaat, aku benci kaka"
Tangannya tak henti memukul pundak belakang Afkar. Afkar tidak berkata apa-apa, ia ingin lagi mendengar ocehan-ocehan Alya yang selama 1,5 tahun ini hanya bisa ia dengarkan melalui handphone. Afkar mempererat pelukannya, tidak peduli wajah-wajah pengguna jalan yang saat itu sedang melewati mereka memandang dengan heran. Sambil terus terisak Alya melepaskan pelukannya
" Kenapa kaka tidak mengabari Alya?"
" Karena kalau aku mengabari, aku tidak akan mendengar omelan kamu sepagi begini"
Afkar tersenyum manis. Deg,,, Alya seperti merasakan lagi saat dia harus jatuh bangun dengan cintanya dua tahun yang lalu, debarannya sama sekali tidak berubah.
" Alya mau ke kampus?"
Afkar mengangkat dagu Alya yang masih terisak dan tertunduk agar bisa dipandangnya dengan puas. Alya mengangguk
" Masih terlalu pagi, kamu mau berangkat sekarang?"
" Alya mau sarapan dulu"
" Boleh aku temanin?"
" Iya ka, kapan-kapan kita bisa sarapan berdua"
" Bisa kok, nanti,,,"
" Kaka mau pindah kesini maksudnya?"
" Bukan, kamu yang ikut aku Surabaya" mencolek hidung Alya.
Alya tersenyum, manis banget ajakannya, segitu aja bohongnya aku sudah segirang ini, gimana kalau beneran, jadi kepengen, Alya senyum-senyum sendiri.
" Jadi enggak?"
Afkar mendekatkan lagi wajahnya, Alya mendorong tubuh Afkar, gugup.
" Ayo, Alya tadi sudah lapar, ditambah kaget sekarang jadi gemetaran"
" gemetar kaget, apa gemetar ketemu akuuu?"
__ADS_1
Afkar mulai menggoda lagi dengan senyumannya yang kali ini lebih mematikan.
Berada di belakang Afkar lagi, setelah 2 tahun yang lalu, memandang punggung laki-laki yang sangat dirindukannya. Afkar sekarang sudah sangat berbeda, tubuh ceking jangkungnya berubah menjadi tubuh atletis dengan beberapa otot yang terpampang di balik baju kaos nya, lengannya yang dulu kecil sudah lebih berotot dan kekar. Kulitnya yang dulu walaupun lembut namun terlihat tidak terawat, sekarang benar-benar lembut dan lebih putih, dapat Alya rasakan ketika menyentuhnya saat tidak sengaja memeluk tadi. Tapi harum tubuh, gaya dan wangi rambutnya masih sama. Inginnya kupeluk lelaki yang sedang membawaku dengan motor kesayanganku ini.
" Kita makan dimana Al?"
Pertanyaan Afkar menghentikan lamunan Alya
" Kaka mau sarapan bubur ayam atau lontong?"
" Sudah lama tidak makan lontong Haji Dijah, boleh"
" Iya, kita makan disana aja ka".
Mereka memesan 2 porsi lontong dan teh hangat
" Alya, kamu belum mengurangi kebiasaanmu?"
Begitu Alya mulai menyendok sambal pedas di piringnya
" Sudah diusahain ka"
Afkar menggeleng
" Kayanya belum diusahain sama sekali"
" Iya, nanti Alya kurangin, yang ini sudah dimasukin, enggak bisa dibalikin"
" Dikurangin sedikit-sedikit Al, bukan di hentikan"
" Ka, lama enggak ketemu, jadi bawel ya"
" Kalau aku enggak sayang ngapain aku bawel"
Deerr, sendok Alya bergetar, sayang?? Dia bilang apa tadi? bisa di ulang enggak?. Alya melirik ke samping, Afkar mulai menyantap lontongnya dengan lahap
" Ka, kaka balik kesini ada urusan ya?"
" Iya" masih dengan serius menyantap
" Penting?"
" Penting banget"
" Ooh"
Alya mendadak murung dan kurang berselera, berarti dia pulang bukan untukku, dia sedang mengurus sesuatu
" Berangkat dari Surabaya kesini jam berapa ka?"
" Tadi malam"
" Nginapnya di mana?"
" Hotel Flamboyan"
" Tadi ke kost Alya naik apa?"
" taksi"
" Ka,,"
Afkar menghentikan makannya dan memandangi Alya
" Kamu kapan makannya, katanya masuk pagi, nanti telat"
Alya mulai menyendok sarapan.
" Ka, Alya mau kuliah pagi, kaka mau kemana?"
" Nanti pulang kuliah, aku mau ajak kamu jalan-jalan, sambil nunggu kamu pulang kuliah, aku mau main dulu ke mall tempatku bekerja dulu, sudah kangen sama teman-teman"
" Alya mau" tiba-tiba menutup mulutnya dengan telapak tangan, rem gue blong lagi
Afkar tertawa, kapan kamu bisa lebih berhati-hati Al
Afkar mengangguk
" Habisin dulu Al sarapannya, sudah jam setengah 8".
Begitu cepatnya wajah Alya berubah jika berhubungan dengan Afkar, baru beberapa detik muram, kemudian ceria lagi mendengar Afkar mau mengajaknya jalan-jalan. Ilmu apa yang kamu pakai bisa bikin aku enggak punya pendirian begini ka.
Alya melepas helm di kepalanya setelah Afkar berhenti di depan kampusnya
" Ka, helm Alya biar dititipin di parkiran aja, ntar kalau kaka bawa helm 2 dikira kaka ngojek"
" Kalau ada, ya sekalian Al, kapan penumpang bisa dapat tukang ojek kaya aku"
" bener sih, tukang ojek paling tampan sedunia"
" Terima kasih, tapi pujiannya berlebihan"
Alya menyodorkan tangannya seperti sedang meminta
" Kenapa Al?"
" Katanya berlebihan, sini balikin"
" Ooh, lebihannya ku balikin, tukang ojeknya paling ganteng sedunia, dan kamu penumpangnya paling cantik sedunia"
Alya memegangi kepalanya dan terus meladeni candaan Afkar
" Aduh ka, ngebalikinnya kebanyakan, puyeng nih"
" Hahaha, ya udah mau nerusin becanda atau kuliah?"
' iya, Alya masuk dulu ya" Alya melambai tangan dan membalikan tubuh. Sedetik kemudian kembali mendekati Afkar yang masih memandangi tubuh gadis yang sangat dicintainya
" Ka, jam setengah 11 ya"
" Iya al"
Melambai tangan lagi dan berbalik, eh kembali lagi
" Ka, tunggunya di sini atau dimana?"
" Handphone bawa kan Al? nanti ku telf"
Alya mengangguk, melambai lagi dan berbalik, nah berbalik lagi
" Ka, motor Alya jangan di jual"
Kali ini Afkar tertawa
" Alya, sekali lagi kamu balik, aku kasih piring cantik". Alya ikutan tertawa
" Dah Ka Afkar, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Afkar belum beranjak menunggu sampai Alya hilang dari pandangan nya.
Gadis seimut selucu kamu, kenapa aku bodoh sekali membiarkan melepasmu tanpa khawatir apapun, dengan sikapmu begitu, siapa yang tidak tertarik padamu, aku harus berterima kasih pada Arga karena sudah menjaga baik Alya sehingga tidak ada laki-laki lain yang mendekatinya selama aku tidak ada karena mengira Alya dan Arga adalah pasangan kekasih, Afkar tau itu karena mendengar cerita Alya, bahwa ada satu dua orang laki-laki yang berusaha mendekatinya tapi langsung tuntas begitu tau Arga adalah kekasihnya. Nanti saat aku sudah mengungkapkan perasaanku dan Alya menerimanya, aku akan menemuimu Arga.
Afkar menghidupkan motor matic Alya dan melaju menuju tempatnya bekerja dulu, bagaimana kabar teman-temanku ya. Sambil menunggu Alya pulang kuliah, Afkar terlihat sangat gembira bisa bertemu teman-teman lamanya, mereka sempat bertukar cerita, bertukar alamat, dan saling menanyakan kabar. Teman-teman Afkar banyak yang memuji penampilannya.
" Cakep banget ka Afkar" Sapa Nindya penjaga coffe shop yang biasa selalu curhat soal bos nya yang sangat pelit dengan waktu.
" Afkar, lo apain tubuh lo, jadi kaya popaye makan bayam aja sekarang"
" Sudah jadi bos sekarang ya, nanti kalau ada kerjaan gue di tawarin lah Afkar, biar bisa kaya lo juga"
" Aku masih Afkar yang dulu, aku juga karyawan biasa, tapi nanti kalau ada lowongan InsyaAllah aku kabarin"
__ADS_1
Afkar duduk di kursi depan satu counter pakaian laki-laki
" Firda, masih aja suka main sosmed, ini jam kerja". Firda menengok ke arah Afkar
" Waaah, ini ka Afkar ya, ganteng banget". Si centil Firda yang dulu baru lulus SMA langsung diterima di counter ini
" Hehehe, apa kabar Fir"
" Baik ka, kapan datang ka"
" Tadi malam"
" Mau ngelamar cewenya yaaa?"
Firda mengedipkan sebelah matanya
" mau nya sih,udah ya Fir, aku mau jalan lagi".
" Oke ka, semoga berhasil ya"
Afkar mengacungkan jempolnya dan tertawa.
Mereka masih baik, ramah dan bersahabat. Afkar mampir ke counter pakaian wanita dan memilih satu jaket jeans biru muda dengan hiasan beberapa tambalan kain berwarna pink dan kuning, dengan panjang sampai pinggul. Alya akan memerlukan ini agar kulitnya tidak tersengat panas matahari saat jalan denganku nanti. Sebelum menjemput Alya ke kampus Afkar juga mampir ke spbu untuk mengisi bensin motor, dilihatnya di jok Alya tidak membawa jas hujan, bisa-bisanya Alya tidak membawa jas hujan di motornya, atau dia memang jarang naik motor, kan teman-temannya biasa menjemput naik mobil, Afkar tersenyum, Alya memang kadang kurang waspada, membawa jas hujan di jok motor itu kan penting. Dilihatnya dipinggir jalan ada toko menjual helm dan jas hujan, kembali Afkar mampir untuk membelikan jas hujan, sepotong jas hujan dengan model atasan dan bawahan rok berwarna pink dengan motif polkadot menarik perhatiannya, Alya pasti suka, model begini akan nyaman saat Alya memakainya jika satu waktu hujan turun.
Melirik arloji, 10 menit lagi setengah 11, aku sudah harus menjemputnya kalau tidak ingin mendengar omelannya lagi.
Afkar melihat beberapa mahasiswa menuruni tangga, apa Alya ada di salah satunya ya, mengambil handphone dari tas kecilnya dan memencet tombol hijau.
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam, Alya dimana?"
" Masih di atas, kenapa ka?"
" Aku sudah di depan kampus"
" Oke, Alya turun, dah kaka"
Klik.
Terlihat si cantik Alya sedang berjalan dengan seorang laki-laki tampan
" Hai Afkar, apa kabar?"
" Baik Ron, yang lain mana?"
" Arga kuliah siang, Sylvia lagi nungguin Pa Agus, katanya mau makan siang" Alya menjawab pertanyaan Afkar.
" Kapan datang"
" Tadi malam Ron"
" Lama disini Afkar?"
" Aku cuma boleh cuti 3 hari"
" Ooh, ini mau jalan ya?"
" Iya, sudah lama tidak kesini, kangen juga mau jalan dan makan disini lagi"
" Ooh ya udah, nanti kita ngumpul-ngumpul, mumpung lo disini, iya qa Al?"
" Iya, lo atur deh, gue ngikut aja, iya kan ka?"
Afkar mengangguk
" Iya, malam ini boleh, besok boleh, tapi besoknya aku sudah harus balik"
" Nanti gue telf Arga, sekalian mau ngenalin pacar baru gue"
" Ooh, yang kamu ceritain itu ya Al?"
" Heh, Alya udah cerita?"
" Apa yang gue enggak ceritaan, kucing tetangga ngelahirin aja gue ceritain"
" Kasian lo Afkar, gue aja kadang nutup kuping kalo dia cerita, apalagi kalo denger omelannya"
" Aku aja tadi pagi sudah di omelin, di tarikin dagu, di gampar, padahal baru ketemu, kaya salam pembuka gitu Ron" Alya mencubit pinggang Afkar
" Oke, aku duluan ya, mau menghadap dosen bimbingan"
" semoga lancar ya Ron"
" Siip, nanti gue kabarin Al kita kapan ngumpulnya".
Alya mengangguk.
Begitu beberapa langkah Roni menjauhi, Alya berlari mengejar dan menyuruh Roni sedikit membungkuk sambil merangkul pundak Roni, dengan posisi membelakangi Afkar yang sudah duduk di motornya, Alya berbisik
" Doain gue ya Ron, moga aja kali ini gue di tembak"
" Gue bingung doain apa buat lo Al, semoga semua berjalan lancar aja deh"
" Gue grogi nih"
" Apa perlu gue buntutin kaya Sylvia kemarin"
" Kalau sama yang ini sih kayanya gue yang qa jamin keselamatan ka Afkar, lebih buas gue"
" Iya lah, lo kan macan kami"
" Sialan lo" Sambil meninju bahu Roni
Afkar melihat dari kaca spion, ngebisikin apa sih, ngapain Alya rangkul-rangkulan gitu, trus ngapain juga Alya cekikan dan ninju bahu Roni. Alya kembali mendekati Afkar dan langsung duduk di belakang Afkar sambil memasang helm nya
" Om ojek, yuk jalan"
Sambil mencolek pundak Afkar.
Hhmm, begini ya cewe yang mau kunyatain cinta, masa aku dibilang om ojek, baru 200 meter dan sekarang berada di gerbang kampus, Afkar menghentikan motornya.
" Kenapa ka?"
Afkar mengambil bungkusan yang di beli di mall tadi
" Pake ini dulu Al, biar kulitnya enggak kena sinar matahari"
Sambil menyodorkan bungkusan pada Alya.
Alya menerimanya dan langsung membuka dengan bingung tanpa turun dari boncengan
" Jaket? punya siapa ka?"
" Tadi aku beliin biar kamu enggak kepanasan, pakai Al"
Alya memakai jaket pemberian Afkar
" Pas banget jaket Alya yang warna ini sudah hampir Alya mesiumkan, pas lagi ukurannya, makasih ya ka".
" Sama-sama Al".
Afkar mulai menjalankan motornya perlahan
Alya menepuk pundak Afkar
" Ada apa Al?"
" Bensin Alya kayanya udah hampir habis, mampir isi dulu ka"
" Sudah tadi kuiisi".
" Wuuiihh, keren banget ka Afkar, tau aja apa yang Alya perluin"
__ADS_1
Sambil menepuk-nepuk pundak Afkar dengan bangga.
Afkar terkekeh, ada yang jual mesin cetakan biar hasil akhirnya kaya Alya gini qa ya, kok bisa hidupnya tanpa beban, polos, lucu, manis, tapi bener kata Roni, nyebelin