
Memang perubahan yang kuinginkan dari mu kekasihku, tapi harusnya tidak sebanyak ini, aku hanya menginginkan perubahan hati, sedikit perubahan penampilan dan sedikit perubahan sikap, aku justru menyukai sikapmu yang berbeda dengan gadis lainnya, walaupun sikapmu kadang menjengkelkan, tapi bersikap baik dan santun lah kepada orang lain saja, padaku tetaplah dengan gaya aneh dan unikmu. Dan sikap penurutmu membuatku merasa bersedih, aku tau terkadang kamu mengangguk dan langsung melaksanakan apa yang kuminta, tapi aku tidak lagi melihat cahaya pada matamu, tidak lagi menemukan senyum nakal dan genitmu, tidak lagi mendengar tawa dengan ide dan niat jahatmu mengerjaiku.
Aku mendapatkanmu, tapi kenapa aku merasa kehilanganmu, apa ini sayangku?
3 bulan kita benar-benar tanpa orang lain diantara kita, tapi aku tidak merasa kita berdua, aku bisa menggenggam tanganmu yang tidak lagi kamu gunakan untuk memegang ponsel yang dulu selalu kamu gunakan untuk chatting dan melakukan komunikasi dengannya, tapi tanganmu seperti kamu selimuti dengan lapisan salju yang tidak bisa kutembus hanya dengan tangan kokohku yang akan membeku di depanmu.
Aku bisa membelai rambutmu yang dulu mungkin dibelai oleh tangan lain, tapi seakan ujung rambutmu berduri sehingga tanganku luka dan berdarah seusai menyentuh ujungnya.
Aku bisa memelukmu saat baru datang menemuimu dan ketika aku pulang kembali setiap 2 minggu sekali, tapi bukan balasan pelukan hangat yang kudapatkan, kamu memang membalas pelukanku, tapi ujung kuku seperti mencakar bahuku hingga terasa nyeri saat kulepaskan.
Dan aku ingin sekali masih kamu perlakukan sesukamu, tinjumu, cubitanmu, bahkan tendanganmu, dulu terasa sangat romantis dan manis setiap kamu melakukannya, tapi sekarang kamu hanya menjabat tanganku, dan dihadapan orang tuaku atau orang tuamu kamu akan mencium tanganku, tapi apa yang terasa dihatiku saat kamu mencium tanganku bukan hanya mencium tanganku, tapi seakan juga menggigitnya sehingga aku berusaha secepatnya untuk lepas.
Sebuah deringan pada ponsel Alya menghentikan makan siangnya bersama Kevin
" Assalamualaikum ma"
" Iya, sedang makan dengan ka Kevin"
" Minggu depan hari sabtu ya, nanti Alya bilang ke ka Kevin"
" Iya ma, waalaikum salam"
Klik
Kevin memandang Alya karena beberapa kali namanya di sebut
" Ka, mama titip salam"
" Iya, ada apa?"
" Ooh , minggu depan hari sabtu ka Pandu mau adakan acara aqiqah anaknya, mama ngundang kaka sama om dan tante juga"
Kevin mengangguk
" InsyaAllah, makan lagi sayang"
Alya meneruskan makannya
" Kalau misalnya kaka sibuk tidak usah dipaksa, kan jadwal kaka ke sini 2 minggu sekali"
" Apakah kamu tidak mau kalau aku datang setiap minggu? tidak kangen? hehehe"
Alya menggeleng
" Bukan begitu, Alya cuma tidak mau mengganggu jadwal kaka"
Kevin menatap Alya dengan lembut
" Jikapun kamu ingin aku setiap hari menemuimu pasti akan kulakukan, aku membuat jadwal 2 minggu sekali ini untuk memberimu waktu agar bisa merinduiku, tapi sudah selama ini aku belum pernah mendengar kamu mengucapkannya, semoga itu sudah ada di dalam hatimu, belum terucapkan saja" Kevin mulai menggodanya.
Alya tersenyum saja, rindu,,,???
Aku adalah sebuah hati yang mati karena rindu tak bertuan lagi.
Suasana rumah Pandu hari ini begitu ramai, mama papah dan Tasya sudah menginap sejal kemarin, sementara Alya dan Kevin berangkat pagi setelah shalat subuh. Datang juga tamu kehormatan om Hadi dan tante Risma, begitu Alya menyebutnya pada Tasya dan membuat Tasya tergelak
" Tamu istimewa di hati mama ya ka?"
" Iya, kita yang rakyat jelata ngikut aja"
" Ngikut aja sendiri, Tasya enggak"
Tasya mencibirkan mulutnya dan membuat Alya ikut tertawa, benar juga kata Tasya, disini kan yang harus menurut cuma gue, yang lain bisa punya hidupnya sendiri.
Alya menggendong Pandu yunior, namanya Danish Ravindra, seorang bayi laki-laki berkulit putih turunan papahnya dengan hidung mancung. Alya gemas sekali melihat hidungnya yang maju itu, begini mungkin tampang ka Afkar kecil, bentuk wajah yang panjang dengan hidung pinokio, hehehe, berkali-kali di ciumnya pipi lembut Danish yang wangi
" Tampan sekali ya sayang"
Kevin berbisik di telinga Alya
" Iya ka"
" Anak kita nanti juga cantik dan tampan seperti orang tua nya"
Alya melirik Kevin
" Iya, anak kita sayang, hehehe"
Alya hanya terkekeh sambil terus memandangi Danish kecil.
" Waah, calon mantu mama sudah pinter gendong bayi, sudah tidak sabar juga pengen punya mantu"
Tante Risma sudah nongol saja di samping Alya yang sedang menggendong Danish dengan Kevin yang selalu tidak jauh darinya. Alya hanya tersenyum
" Kevin, skripsi Alya di bantuin dong biar cepat selesai, dan setelah wisuda kita bisa langsung mengadakan acara pernikahan, iya kan dek Siska?"
Mama hanya tersenyum-senyum melihat keakraban Alya dan Kevin.
Panggilan telfon, Alya melirik tas yang ada di atas meja makan Pandu, Tasya yang sedang duduk di kursi membuka tas nya dan mengeluarkan ponsel Alya
" Ka Alya, Ka Afkar nelfon"
Bruuukk, Alya lemas. Danish dalam gendongannya masih bisa dipegangnya kuat. Alya langsung menyerahkan Danish pada kaka iparnya, sempat dilihatnya pandangan mata mama tajam ke arahnya. Kakinya seperti susah digerakan, tangannya kaku. Tasya malah dengan entengnya berjalan mendekati Alya dan menyerahkan ponselnya. Alya melirik Kevin yang masih duduk disampingnya
" Angkat saja, mungkin sangat penting untuknya"
Uuhh, komentar apa begitu, demi tidak mencurigakan semua orang Alya memberanikan diri mengangkat panggilan telfon tanpa menjauh dari tempat itu
" Assalamualaikum ka"
" Waalaikum salam Alya, apa kabar?"
" Alhamdulillah baik"
" Sedang dimana?"
" Di rumah ka Pandu, lagi acara tasmiah dan aqiqah ka".
" Ooh selamat ya, semoga menjadi anak yang sholeh dan sholehah, laki-laki atau perempuan?"
" Laki-laki ka"
" Sekarang masih acara?"
" Iya ka"
__ADS_1
" Boleh nanti kalau sudah selesai hubungi aku, ada yang ingin kuceritakan, aku sudah tidak di Surabaya lagi"
" Alyaaa, bisa bantuin mama"
Terdengar mama memberi perintah dengan suara sedikit berteriak seolah agar Afkar bisa mendengarkan nya
" Iya ma sebentar"
" Maaf kamu masih sibuk"
" Tidak juga ka, cuma masih acara saja"
" Alya sekalian ini buat Kevin"
Dan kali ini mama sudah berdiri disampingnya, Alya gemetar
" Ada Kevin juga Alya?"
" Iya ka"
" Kalau begitu nanti telfon aku ya, sekali saja, aku cuma mau tanya kabarmu dan mengabarkan kabarku, aku tunggu ya"
" Iya ka"
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Klik.
Alya tertunduk tidak berani menoleh ke arah manapun. Ka Afkar, sudah tiga bulan kita sama sekali tidak melakukan komunikasi apapun, dan kenapa harus menghubungiku di saat seperti ini? Mama meninggalkannya yang sekarang tinggal duduk berdua dengan Kevin di ruang makan Pandu.
Perlahan Kevin berdiri dan berjalan ke teras belakang, karena rumah Pandu sangat ramai dan hanya bagian belakang yang lebih sepi, walaupun masih ada beberapa keluarga yang juga sedang membereskan tempat makan piring para tamu. Alya mengikutinya dengan perasaan tidak jelas. Kevin duduk di satu bangku yang menghadap kolam ikan kecil berukuran 2x3 M yang berisi ikan hias.
" Ka Kevin marah?"
Kevin menoleh dan tersenyum
" Aku keliatan marah ya? memang aku pernah marah padamu sayang?"
Alya menggelang
" Tidak"
Kevin membuka ponselnya, entah sedang mencari apa
" Kenapa kaka diam saja?"
Kevin masih konsentrasi dengan pencarian di ponselnya
" Ka, Alya dan ka Afkar tidak pernah lagi berhubungan sejak Alya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, sungguh ka, Alya tidak bohong"
Kevin masih saja dengan aktivitasnya
" Ka, Alya tidak bohong"
Kevin melepas ponselnya dan mengubah duduk menghadap Alya
" Apa aku terlihat tidak mempercayaimu? kamu sudah pernah bilang dan aku percaya, iya kan sayang?"
" Tapi kaka mengacuhkan Alya, malah seperti tidak mendengarkan"
" Ya sudah, kita balik ke depan ka, masih banyak tamu"
" Aku ingin duduk disini dulu, kalau kamu mau ke depan silakan"
Alya menatap Kevin dengan perasaan marah, iya. Kali ini dia tau perasaannya sedang marah, tapi entahlah perasaan marah ini ditujukan kemana. Rasanya ingin berlari ke kamar tamu dan menumpahkan tangisnya. Bukan marah pada Kevin, marah pada Afkar? yang menghubunginya disaat begini? kemana saja 3 bulan ini? kenapa baru memberiku kabar? kenapa kita tidak sempat bicara banyak? kenapa mama melihat kejadian ini? dan satu lagi, kenapa Tasya membuka tasku dan menyerahkan ponsel ini. Alya berdiri dan ingin beranjak ke kamar tamu karena sudah tidak tahan dengan perasaan nya
" Mau kemana sayang?"
Tangan Kevin memegang lengan dan menahannya.
" Alya di cuekin juga disini, mau ke kamar saja"
" Tidak, aku cuma sebentar cari sesuatu di ponsel, ini sudah selesai, mau temani aku? atau mau ke kamar dan menyambung obrolan dengannya yang tadi terputus?"
Woooow, jenius pemikiranmu ka, aku saja sama sekali tidak membayangkan akan menelfon ka Afkar sekarang. Alya kembali duduk
" Alya tidak menelfon balik lagi ka, Alya bahkan tidak kepikiran itu. Alya di sini saja menemani ka Kevin"
Berdua menatap kolam ikan dengan kesedihan yang sama, tapi dalam isi kepala yang berbeda.
" Sayang menginap disini?"
" Belum tau, kenapa ka?"
" Aku pulang ke Bandung besok"
" Maksudnya?"
" Kalau sayang menginap di sini, aku akan kehilangan lagi satu hari bersamamu"
Alya mengangguk
" Bagaimana kalau kita pulang hari ini, tidak apa sore atau malam"
" Terserah kaka saja"
" Kok terserah? sayang ada rencana apa?"
" Tidak ada, Alya tidak punya rencana apapun, kalau ka Kevin dan mama yang perintahkan, Alya akan menurutinya"
Kevin membelai rambut Alya lembut
" Selama untuk kebaikan, semoga kamu mau menurutinya, aku akan mencoba memberikan yang terbaik dan membuatmu bahagia sayangku"
Kevin mengecup rambut Alya dengan perasaan galaunya. Heyyy, galau bagaimana Kevin? kamu punya rencana apalagi buat memberikan yang terbaik dan membuat bahagia Alya?.
Ka, kamu tau? yang terbaik dan membahagiakanku itu versi kita berbeda. Aku tau yang terbaik itu menurutmu adalah memberikanku keamanan kenyamanan dan kemewahan. Tapi itu bukan membahagiakan, aku akan semakin terkurung dalam istana yang kalian bangun. Aku ingin berlari sebentar dan bercerita pada rumput liar itu, yang aromanya tidak seharum bunga yang kamu hamparkan pada karpet beludru di dalam kamarku, tapi aku menyukainya karena aku bisa kemana saja.
Setelah shalat ashar, om Hadi dan tante Risma pamit untuk pulang, katanya akan menginap di rumah Kevin malam ini dan besok pagi akan pulang ke Jakarta. Begitu juga Kevin berpamitan untuk kembali karena besok akan ke Bandung, dan pastinya bersama Alya. Om Hadi dan tante Risma menggunakan mobil Kevin, sementara Kevin dan Alya menaiki mobil putih Alya.
" Aku selalu menyukai perjalanan sore begini, menuju senja,apalagi ini kan malam minggu, barangkali saja aku mendapat kejutan dari kekasihku"
Kevin memulai obrolan dengan ringan karena sejak tadi dilihatnya Alya hanya diam saja
__ADS_1
" hehehe"
Alya mulai menekan-nekan remote untuk memutar musik pada mobilnya, terdengar alunan musik pelan
" Sayang, nanti kalau sudah wisuda mau kerja di mana? di kantorku atau mau usaha lain?"
" Terserah ka"
" Jangan terserah, kalau mau usaha lain katakan saja, biar kusiapkan dari sekarang"
" Tidak usah merepotkan, biar ikut di kantor kaka saja"
Kevin mengangguk. Mobil memasuki sebuah gerai ponsel besar
" Kita mau apa ka?"
" Kita masuk dulu, ada ponsel terbaru yang cocok untuk kita, tadi di rumah Pandu aku searching di ponsel ada smartphone keluaran terbaru"
" Kapan liatnya?"
" Tadi, waktu kita di kolam ikan, turun yu sayang".
Alya dan Kevin berjalan menuju pintu utama, dan langsung di buka satu karyawan pria muda
" Selamat sore, silakan masuk"
Kevin mengangguk sementara Alya hanya tersenyum. Kevin menggandeng mesra tangan Alya dan mulai berjalan di depan counter etalase pajangan ponsel-ponsel. Seorang wanita cantik menghampiri mereka
" Selamat sore tuan, nona, ada yang bisa saya bantu?'
Kevin menoleh dan mengangguk
" Bisa liat ponsel terbaru dan canggih buat kami?"
Wanita itu mengangguk dan mempersilakan mereka duduk
" Sebentar tuan, nona, saya ambilkan beberapa smartphone tercanggih dan terbaru saat ini"
wanita itu kemudian memanggil 2 karyawan lainnya, Alya mulai berpikir, mungkin ini adalah pemilik gerai ini.
" Ka, memang kita mau beli lagi?"
Kevin merubah posisi tangannya dari menggandeng Alya, sekarang melingkarkan di pundak Alya
" Iya sayang, sepertinya smartphonemu sudah ketinggalan"
Alya tidak habis pikir, baru 2 bulan yang lalu mereka ganti ponsel dengan alasan aneh Kevin, mungkin ponsel Alya jaringannya tidak kuat karena tidak pernah menghubunginya selama ini, mungkin saja karena sinyal ponsel Alya yang tidak bagus, setelah dibelikan barupun Alya hanya sekali menghubungi, dan isinya pun hanya menanyakan apakah jadi Kevin datang ke acara Pandu. Saat itu Alya tertawa
" Bukan salah ponsel nya ka, memang Alya belum menghubungi ka Kevin"
Iya, Kevin cuma memang mencari alasan saja agar Alya bersedia menghubunginya sekedar menanyakan apa kabar ataupun menanyakan apakah sudah makan. Tapi memang tidak pernah ada, hanya Kevin yang selalu menghubunginya.
" ini rekomendasi terbaik kami tuan"
Wanita cantik itu menyerahkan 5 smartphone terbaik tercanggih dan terbaru mereka Alya hanya memandang saja tanpa ingin berkomentar apalagi memilih. Selama ini pun selera Kevin kan memang selalu bagus, sebanyak apapun komentar Alya pilihan akan tetap ada di tangan Kevin, dan parahnya jika Alya memilih, maka semua pilihannya akan di borong Kevin, mubajir, begitu Alya mengomel dulu, dan Kevin akan menjawab, kalau tidak ingin mubajir, pakai semuanya. Dan benar saja, akhirnya pilihan Kevin jatuh pada smartphone dengan lambang apel bergigit terbaru dan canggih.
Setelah membayar ke kasir Kevin tidak menyerahkan smartphone baru pada Alya, dia malah merangkul pundak Alya menuju satu counter kartu perdana
" Mas, bisa isikan kartu perdana ke ponsel ini"
" Bisa pa"
Kevin melepaskan tangannya dari pundak Alya
" Sayang, ponsel kamu mana?"
Alya bingung
" Kenapa ka?"
" Pindahkan kontak nama keluarga, dan teman-temanmu ke ponsel dan kartu baru ini"
Alya membelalakan matanya tanpa sadar
" Apa maksudnya? ponsel baru kan tidak perlu kartu baru?"
" Sekarang peraturannya begitu"
" Peraturan dari mana?"
" Sekarang perlu nya begitu dan bagus untuk hubungan kita"
Alya menyerahkan ponselnya pada Kevin dan Kevin mulai membuka kontak Alya
" Mas, bisa pinjam catatan, saya akan memilihkan kontak yang akan di salin ke ponsel baru"
Alya mulai loading, apakah ini artinya,,,,???
Kevin mulai menuliskan nama-nama yang akan di salin no nya
Mamah, Papah, ka Pandu, Arga, Sylvia, Roni, Bowo, Yanti, Ka Kevin, Om Hadi, Tante Risma.
Kevin menoleh pada Alya
" Sayang, masih ada nama yang ingin kamu salin kontaknya?"
" Maksud ka Kevin nama selain ini akan dihapus?"
" Iya"
Tatapan Alya kali ini benar-benar ingin membunuh, dihapus? Afkarku?
" Hapus saja semua ka"
Tapi mulutnya malah mengucapkan hal lain.
Kevin mengangguk.
Menunggu selama kurang lebih 20 menit dan mengisi beberapa aplikasi di smartphone baru, Kevin dan Alya meninggalkan gerai mewah itu. Ponsel lamanya sudah berpindah kepemilikan menjadi milik Kevin beserta semua isi dan datanya, alasan Kevin nanti akan di copy ke laptopnya agar tidak hilang datanya, nanti akan dikembalikan lagi. Kevin membukakan pintu mobil untuknya dan Alya masuk tanpa bicara. Kevin membawa Alya pulang ke kost karena sudah magrib.
" Sayang, aku pulang dulu, nanti malam aku datang, kita makan malam bersama ya"
Kevin mencium kening Alya, dan Alya hanya mengangguk
" Alya masuk dulu ka, Assalamualaikum"
__ADS_1
" Waalaikum salam sayangku"
Tuuuup, pintu mobil ditutup, Kevin menurunkan kaca mobil samping kiri untuk memastikan Alya akan masuk kekost nya dengan aman. Begitu pintu terbuka Alya melambaikan tangan ke arahnya, dan Kevin pun meninggalkan nya. Kontak telfonku,,, jangan bawa pergi,,huhuhuuu.