
Sebuah pemberitahuan pada ponsel di aplikasi driver car grab Afkar membuatnya menepikan mobil untuk membaca pesan, tujuan Martapura, segera dikirim balasan, tunggu sebentar, saya akan jemput.
Afkar memasuki sebuah komplek perumahan elite di Banjarbaru kilometer 30. Perlahan mengikuti petunjuk pada apikasinya. Titik menunjukan dia sudah sampai pada tempat tujuan, mobil menepi. Keluarlah seorang lelaki berusia lebih dari 50 tahun dari balik pagar dengan seorang satpam, lelaki itu berjalan dengan tangan yang penuh, satu tangan memegang ponsel yang aktif dengan panggilan telefon, yang satu membawa bungkusan.
Satpam membukakan pintu mobil dan mempersilakan lelaki itu masuk. Penumpang lelaki itu duduk di kursi belakang dan menyapa Afkar
" Antarkan saya ke alamat yang sudah saya kirim tadi"
" Baik pak"
Afkar menjalankan mobilnya dengan perlahan karena masih berada di dalam komplek, keluar menuju jalan besar Ahmad Yani ke arah Martapura, satu kota agamis di mana penduduknya sangat kental dengan acara-acara dan kegiatan keagamaan. Sesekali terdengar penumpangnya melakukan panggilan telefon dan membicarakan bisnis, Afkar sudah terbiasa dengan penumpang yang sibuk dengan telefonnya, dan memang sudah kode etiknya tidak akan mendengarkan karena itu adalah rahasia dari penumpangnya.
Mobil berhenti di satu rumah mewah, bertingkat dua dengan pagar tinggi yang tingginya hampir sama dengan lantai satunya. Penumpang lelaki belum turun juga seakan belum menyadari dia sudah sampai, Afkar hanya menoleh ke belakang untuk memberikan kode bahwa ini adalah titik dimana lokasi pengantarannya sudah sampai. Lelaki itu baru sadar setelah Afkar tersenyum dan mengangguk kearahnya.
" Maaf, saya sibuk, tidak tau kalau sudah sampai, berapa ongkosnya?"
Afkar menatap layar ponselnya
" 65 ribu pa"
Lelaki itu menyerahkan selembar uang 100 ribu pada Afkar, Afkar menyambutnya dan mulai membuka dompet untuk mengembalikan sisanya
" Tidak usah dikembalikan, ambil saja nak, terima kasih sudah mengantarkan saya"
" Saya ada kembaliannya pak sebentar"
Afkar menolak halus
" Ambil saja saya harus turun sekarang"
Pintu mobil dibuka, Afkar langsung berterima kasih sebelum lelaki itu keluar
" Terima kasih pak, semoga bapak sehat"
Lelaki itu menoleh sebentar dan masih saja sibuk dengan ponselnya, tapi masih saja sempat membalas Afkar
" Sama-sama nak"
Tuuup.
Pintu mobil di tutup. Afkar masih sempat melihat pagar tinggi bercat putih terbuka dan lelaki tua itu memasukinya.
" Sibuknya beliau dengan ponselnya, orang kaya dengan bisnisnya"
Afkar memutar mobilnya untuk pulang. Sudah jam sepuluh malam, saatnya berisitirahat, besok pagi dia akan mencoba mengurus perpindahan kuliahnya bersama Randi. Semoga semua lancar.
Sebelum turun dari mobil, Afkar memastikan kalau mobilnya dalam keadaan aman dan bersih, mungkin ada sisa sampah bekas penumpang, diliriknya bangku sampingnya sampai ke lantai bersih, kemudian menyalakan lampu dan menoleh ke belakang, apa ini?.
Afkar keluar dari mobil dan memasuki pintu belakang, sebuah bungkusan kresek hitam, Afkar meraba, seperti,,, persegi panjang dan berkotak-kotak. Berani tidak berani untuk membuka, tapi ini kan mobilnya, siapa lagi yang berhak untuk membuka barang penumpang yang ketinggalan di mobilnya. Meraba sekali lagi, pikirannya mulai curiga ke satu benda, astaga,, apakah ini???
Afkar memantapkan hatinya untuk membuka dengan niat karena Allah semata
" Bismillahi Rahmani Rahim"
Dan
Segepok uang lembaran seratus ribuan dalam jumlah yang sangat banyak, Afkar bahkan langsung menutupnya kembali dengan gemetar
" Astagfirullah"
Dadanya berdegup kencang, apakah ini milik penumpang terakhir yang sibuk dengan ponselnya sehingga melupakan barang berharganya ini?
Afkar tersandar di bangku penumpang, mengingat lagi penumpang hari ini, sejak pagi memang sudah ramai, tapi sebelum magrib tadi aku pulang dan mengecek keadaan di mobil tidak ada barang ini, kemudian aku berangkat lagi setelah magrib dan hanya ada dua penumpang, yang satu perempuan muda yang katanya baru pulang dari praktikum di kampus, dan satunya lagi bapak tadi.
Afkar meyakini kalau barang ini adalah milik penumpang terakhir, melirik jam di tangan sudah jam setengah 11 malam, apakah aku akan mengembalikan ini malam ini juga atau besok pagi saja? tapi kalau besok pagi, bapak tadi pasti akan sangat gelisah karena kehilangan uang dalam jumlah yang sangat besar ini, walaupun aku sendiri tidak berani memperkirakan berapa jumlah uang dalam kresek hitam ini.
Dan kalau malam ini apakah satpamnya akan memerolehkan aku menemui beliau. Seandainya beliau melaporkan kehilangan atas uang ini dan di cek keberadaan mobilku, aku bisa jadi tertuduh tidak mengembalikan. Afkar langsung turun dari bangku penumpang dan masuk ke dalam mobil di bangku pengemudi, aku harus mengembalikan uangnya malam ini juga, aku pasti tidak akan bisa tidur dengan uang orang sebanyak ini di sampingku.
Kembali ke titik terakhir pengantar penumpangnya tadi, akhirnya di putuskannya untuk mengembalikan barang berupa uang yang tertinggal itu kepada pemiliknya. Afkar turun dari mobil dan perlahan mendekati pagar tinggi. Sebentar mengintip-ngintip melihat ke dalam, ada tempas pos dan seorang satpam.
Afkar mengetuk pagar dengan kunci mobilnya. Satpam menoleh dan berjalan ke arahnya tanpa membuka pagar dan menyapanya dari balik pagar
" Iya mas?"
" Maaf pa, bisa saya bertemu dengan bapak yang tadi saya antar?"
Satpam terdiam sebentar
" Mas driver yang mengantar bapak Wijaya tadi?"
Afkar mengangguk, entahlah siapa namanya aku tidak sempat menanyakan, jangankan berkenalan, bersapapun hanya di akhir karena beliau terlalu sibuk dengan ponselnya
" Maaf mas, ada perlu apa?"
" Eemm, ada barang beliau tertinggal di mobil saya"
" Kalau begitu bisa titipkan pada saya saja mas"
Afkar diam, tidak aku tidak mau, ini barang berharga, mana bisa aku titipkan saja
" Saya harus bertemu beliau pa, ini penting"
" Jam begini beliau sudah istirahat pa"
Afkar diam, bagaimana caraku menjelaskan pada satpam ini ya
" Pa, boleh tolong saya, kalau tidak bisa bertemu mungkin saya bisa bicara lewat telefon atau bagaimana, agar saya bisa menitipkan barang ini"
Satpam kemudian mengangguk
__ADS_1
" Sebentar mas, saya hubungkan ke dalam"
Satpam kemudian kembali ke pos nya dan Afkar masih berdiri di luar menunggu kabar. Tidak lama satpam dengan pakaian putih bertopi itu kembali mendekati Afkar dan membukakan pagar
" Silakan masuk mas"
Afkar mengangguk dan mengikuti satpam itu berjalan ke dalam yang sebelumnya langsung menutup pagar kembali.
Satpam mengantar Afkar sampai di teras
" Tunggu di sini, bapak akan menemui"
Afkar mengangguk dan duduk di kursi menunggu. Selama 10 menit Afkar menunggu akhirnya yang di tunggu muncul menemuinya. Afkar segera berdiri
" Maaf menunggu nak"
" Ooh tidak apa-apa pak"
Pa Wijaya mengulurkan tangan
" Wijaya"
" Afkar"
" Silakan duduk"
" Terima kasih".
Pa Wijaya dan Afkar duduk di teras rumah mewah itu.
" Ada apa?"
" Maaf saya ingin bertanya pak, apakah bapak merasa kehilangan sesuatu dan tertinggal di mobil saya?"
Pa Wijaya terdiam seolah sedang mengingat sesuatu?. Afkar menunggu jawaban pak Wijaya, apakah aku salah orang ya? kenapa dia tidak ingat meninggalkan barang berupa uang sebanyak itu?
" Eemm, sebentar ya, saya cek dulu di dalam, saya memang ada membawa bungkusan kresek hitam dari tempat saudara saya, apakah barang itu saya bawa masuk atau saya tinggalkan di mobilmu"
Pa Wijaya berdiri akan masuk ke dalam rumah, sementara Afkar yang mendengar kalau pak Wijaya menyebut bungkusan kresek hitam langsung memastikan kalau barang temuannya memang milik pa Wijaya
" Maaf pak, tidak usah di periksa, barang bapak ada di mobil saya"
Pa Wijaya berhenti dari langkahnya dan membalikan tubuhnya
" Ketinggalan? hahahaa, kenapa saya melupakannya, ooh tadi saya memang sibuk bicara dengan teman kerja"
" Sebentar saya ambilkan pak, permisi"
Afkar berjalan cepat menuju pagar dan meminta dibukakan pagar untuk mengambil bungkusan pak Wijaya. Tak lama Afkar kembali dengan bungkusan kresek hitam di tangannya
" Ini barang bapak, maaf pak, tadi saya buka karena saya ingin tau barang apa yang tertinggal di mobil saya agar saya bisa mengembalikannya ke orang yang tepat"
" waah, terim kasih nak, Alhamdulillah masih banyak orang jujur"
Afkar mengangguk
" Tidak perlu, dengan kamu mengembalikan malam-malam begini saya sangat percaya kalau kamu orang jujur"
Afkar tersenyum
" Kalau begitu saya permisi dulu pa"
" Sebentar, siapa tadi namamu?"
" Afkar pak"
" Saya ingin ngobrol sebentar denganmu, duduk dulu. Kamu mau kopi?"
Deeg, kopi?? aku ingat bidadariku
" Tidak pa"
" Atau minuman apa?"
" Tidak usah repot pak"
" Tidak, teh hangat bisa?
Afkar mengangguk. Pa Wijaya memanggil satu nama
" Acil Niaaah"
Tak lama seorang perempuan berusia 40 tahunan lebih keluar.
" Inggih pak".
(iya pak)
" Ulahkan teh hangat dua, dan makanan apa yang ada di dapur?"
( Buatkan teh hangat dua, dan makanan apa yang ada di dapur?
" Ada pisang keju pa, tadi non Aprill menukar di muka"
( Ada pisang keju pa, tadi non Aprill membeli di depan)
" Bawakan keluar cil lah"
( Bawakan keluar bi lah)
__ADS_1
" Inggih pa"
( Iya pak).
Tak lebih dari 5 menit wanita yang di panggil Acil Niah datang dengan membawa baki berisi dua gelas teh hangat, dan satu piring pisang keju. Acil Niah meletakan baki di meja yang ada di antara pa Wijaya dan Afkar.
" Silakan nak"
" Terima kasih pak"
" Saya ini pelupa, maklum sudah tua. Kamu orang mana? di dengar logatnya bukan orang Banjar"
" Iya, saya orang Jakarta pak"
" Oh, merantau di sini atau ikut keluarga?"
" Merantau pak, saya sendiri di sini"
" Bagus, saya muda dulu juga begitu, saya orang Sulawesi, setelah lulus sekolah saya merantau ke sini, lalu ikut bekerja sebagai karyawan biasa, bos saya menyukai cara kerja saya yang yaaa, kadang nekat, hahaha"
Afkar ikut tersenyum walau belum mengerti sama sekali
" Saya suka petualangan, saya suka tantangan, sering diajak pimpinan saya untuk ikut proyek, dan selalu kami menangkan. Saya kemudian diangkat menjadi asisten manager. Dan dengan modal keberanian saya mulai mengerjakan proyek-proyek di luar pekerjaan kantor, saya mulai membuat CV kecil-kecilan, dan semakin lama semakin banyak dan Alhamdulillah maju berkembang. Saya akhirnya resign dari tempat kerja untuk lebih fokus ke CV saya. Sekarang saya punya 2 perusahaan inti yang ada di sini dan Tabalong, dan beberapa CV".
Afkar mengangguk, kali ini sudah mulai mengerti
" Saya punya dua anak, satu laki-laki yang memegang perusahaan di Tabalong, dia sudah berkeluarga dan saya mempunyai 3 cucu yang lucu-lucu, kadang mereka mengunjungi saya, kadang saya yang kesana dengan anak perempuan saya, Aprill namanya, dia berumur 18 tahun, sedang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat"
Afkar masih serius mendengarkan obrolan yang semuanya diborong pa Wijaya, dia sedikitpun tidak punya kesempatan bicara. Setelah puas dengan ceritanya akhirnya pa Wijaya ganti ingin tahu siapa Afkar.
" Kalau kamu kenapa sampai pindah kesini nak"
Afkar menunduk, selama enam bulan cerita siapa dirinya dan kenapa dia berada di sini masih tersimpan rapat, tapi entahlah kenapa dengan lelaki yang baru beberapa menit dikenalnya ini, cerita itu bisa keluar dengan kejujuran. Tentang dia yang bekerja sebagai OB di satu mall besar Yogyakarta, kemudian di terima menjadi karyawan satu perusahaan di Surabaya selama hampir tiga tahun, dan akhirnya harus pergi karena ingin memperbaiki masa depan dan berusaha melupakan masa lalu. Berada di kota ini seorang diri dan menjadi driver dengan mobil sewaan bahkan tempat kost kontrakan.
" Jadi mobilmu itu sewaan?"
" Iya pak"
" Ooh. Air minumnya sudah habis, mau tambah lagi?"
" Tidak pa, terima kasih. Sudah jam 12 malam, saya mau permisi dulu"
Pa Wijaya membuka bungkusan kresek hitamnya dan menyerahkan seikat uang pada Afkar, Afkar langsung menolak nya dengan sopan
" Maaf pak, bukan saya tidak menghargai pemberian bapak, tapi sejak awal saya memang hanya ingin mengembalikan ini"
Pa Wijaya menggeleng
" Ini tanda terima kasih saya, kamu sudah mengembalikannya malam begini, itu luar biasa bagi saya"
" Sekali lagi pak, saya mohon maaf. Saya ikhlas sekali melakukannya"
Pa Wijaya terdiam dan menatap Afkar
" Afkar, sejak saya mengobrol denganmu tadi saya sudah merasa nyaman, kamu sopan, jujur dan baik. Saya akan menawarkan sesuatu"
Afkar menatap lekat lelaki di sampingnya
" Supir kepercayaan saya sudah satu bulan yang lalu pulang ke Sulawesi, dan dia tidak akan kembali karena menikah, di sana ikut istrinya berdagang. Saya belum membuka pendaftaran untuk menjadi supir pribadi saya, selama 1 bulan ini saya hanya pakai taksi online, atau sesekali dengan supir anak saya. Sedangkan saya sudah tua, pelupa seperti kejadian barusan, hehehe. Untuk menyetir sendiri saya tidak terlalu berani lagi, usia saya sudah 58 tahun. Bagaimana kalau kamu menjadi supir pribadi saya?"
Afkar terdiam, apa maksudnya? aku kan sudah punya pekerjaan
" Begini nak, sebenarnya saya bisa saja menunjuk siapapun untuk menjadi supir pribadi saya, tapi saya benar-benar membutuhkan orang yang jujur"
Afkar masih terdiam
" Fasilitas yang akan kamu dapatkan adalah selama 24 jam makanmu akan kami tanggung, kamu tinggal ke dapur saja, ada acil Niah dan acil Irus yang setiap harinya bertugas membersihkan rumah dan memasak. Kalau kamu mau di bagian belakang ada 3 kamar, dua kamar sudah ditempati 2 satpam kami, salah satunya Rudi"
Pa Wijaya menunjuk satpam yang tadi membukakan pagar untuknya.
" Kamar itu terpisah dari bagian rumah ini, jadi kamu akan bisa bebas beristirahat jika waktumu untuk menemani saya sudah habis. Saya juga akan memberikanmu izin untuk keluar, atau kamu mau bepergian, asalkan sudah kita tentukan jam nya. Dan untuk gaji, sopir pribadi saya kemarin saya berikan gaji tetap 5 juta per bulan, selama bersama saya misalnya menemani saya makan atau main golf, semua saya yang tanggung"
Afkar mulai berdebar mendengar fasilitas yang bisa di dapatkan nya jika ia menerima tawaran ini. Aku tidak perlu lagi bayar sewa mobil, bayar kost, dan memikirkan makan, aku akan bisa menabung lebih banyak setiap bulan dengan gaji tetap ini.
" Untuk jam kerja, saya berangkat ke kantor dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Sabtu minggu saya biasa santai, paling-paling saya memancing atau mengunjungi anak dan cucu saya ke Tabalong. Malam juga saya jarang keluar lagi karena capek, kecuali ada undangan dari rekan dan relasi. Kalau kamu ada keperluan, silakan bilang saja, saya paham anak muda, mungkin malam minggu ingin bersantai dengan teman-teman"
Afkar semakin gelisah. Benar-benar penawaran yang menggiurkan, aku biasa pergi kerja dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam, sekarang waktunya di persingkat sampai jam 5 sore, untuk keluar menemani beliau malam katanyanjuga jarang.
" Kamu bingung kan dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore kamu mengerjakan apa? kamu ikut saya di kantor, boleh beristirahat di ruang manapun. Tapi biasanya sekretaris saya sudah punya jadwal sehari sebelumnya, kamu bisa memintanya sebelum pulang ke rumah agar tau kemana saja saya besok. Tapi siangnya wajib mengantar saya untuk makan siang, tidak mesti pulang ke rumah, saya bisa makan di rumah makan manapun"
Afkar menatap pa Wijaya
" Bagaimana nak? saya sudah memiliki rasa percaya padamu"
Afkar tidak menjawab, tapi anggukan pelannya membuat pa Wijaya tertawa
" Hahaha, baiklah, kamu boleh masuk kerja mulai lusa. Besok urus kembalikan mobil sewaanmu itu, bereskan pakaian mu untuk di bawa kemari. Saya akan bilang pada kedua satpam saya kalau mereka akan punya teman baru. Oh iya ada satu lagi Bang Jali namanya, dia supir anak saya, dia tidak tinggal di sini, tapi rumahnya hanya beberapa meter dari sini, jadi kapanpun Aprill memerlukannya, dia akan segera bisa kemari"
Seperti terhipnotis, Afkar kembali mengangguk
" Baiklah kalau kamu mau istirahat, saya sudah terlalu lama mengajakmu ngobrol, sebagai pemanasan, sebab mulai lusa kamu akan selalu menjadi pendengar yang baik untuk saya, hahahhaa"
Afkar akhirnya tertawa juga, kemudian mengulurkan tangannya
" Terima kasih pa, saya permisi dulu, Assalamualaikum"
"Waalaikum salam Afkar"
Afkar berjalan menuju pos penjagaan untuk minta dibukakan pagar karena akan pulang. Pa Wijaya menatap punggung Afkar yang sekarang sudah mencapai pagar tingginya
__ADS_1
" Kamu jujur nak, saya akan mencobamu dulu sebagai supir pribadi saya, jika kamu membuat saya senang, saya akan lebih memberikanmu banyak kebahagian"
Pak Wijaya masuk ke dalam rumah mewah dengan lantai dua nya, menaiki tangga dan melewati satu kamar yang pintu kamarnya penuh dengan aksesoris-aksesoris khas anak remaja perempuan. Mengecek apakah puterinya sudah tidur, terkunci, artinya Aprill sudah tertidur. Selamat malam nak, semoga mimpi indah.