Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Aku Pamit Saja


__ADS_3

Suasana senja di tepi siring.


Alya duduk pada satu bangku kecil di satu sudut, beberapa pasang orang tua sedang menemani anak-anak mereka bermain sepeda dan sepatu roda. Terdengar juga senda gurau remaja dengan menenteng minuman tea dan kopi di tangan mereka. Kepulan asap bakaran tempe tahu sosis sesekali wanginya sampai ke penciuman Alya. Semua tidak terlalu menarik sekarang. Alya hanya menatap langit yang sebentar lagi mengubah sore menjadi senja.


Senja yang mengajarkan bahwa menanti itu tidak mudah, berjuang bahkan hampir mendapatkannya pun juga sama susahnya. Senja itu setia, yang tidak berjanji untuk kembali, hanya butuh waktu untuk menepati. Senja sebentar meninggalkan namun bukan mengusaikan harapan, memastikan dan menguji pada siapa menempatkan kesetiaan.


Kekasihku, apakah kita hanya sebatas langit dan daratan?


Saling melihat sempat berjabat tapi tak bisa terikat?


Saling menatap namun tak kuasa saling menetap?


Masih saja inginku kamu yang menemani melepas senja, menenangkanku di saat malam kemudian membuka hari bersama, mencium wangi rumput dengan titik embun di atasnya, beserta wangi tanah yang basah.


Aku selalu jatuh cinta padamu, tapi sebentar kemudian menjadi patah hati. Datang ditemukan kemudian dipaksa hilang. Aku yang menemukan tapi diatur untuk mundur. Aku yang datang dan segera di antar pulang.


Aku tidak tau kekasihku, apakah ini senja terakhirku di kotamu, mataku yang letih dan basah, akhirnya hari ini aku menyerah dan kalah.


Alya memandang jari manisnya, benda yang melingkar ini, tadi dikecup kekasihku dengan lama sekali. Dia melarangku pergi, tapi dia juga tidak bisa mengikuti, tangisan Aprill dan tatapan sendu pak Wijaya meruntuhkan keras inginmu kemarin yang menjanjikan akan meneruskan ini seburuk apapun keadaan. Aku yang pamit pergi hanya kamu antarkan sampai pintu pagar tinggi yang akan menenggelamkanmu lagi di dalam sana bersama bahagia-bahagia yang selalu kamu cipta bersamanya. Bisakah aku percaya tidak ada hati yang kamu titip dalam jiwa Aprill, bahkan kamu terlihat begitu lemah ketika Aprill memanggilmu yang akan melangkah untuk mengantarkan ku ke penginapan.


Hembusan berat napasku tidak bisa membuang pemandangan menyakitkkan tadi ka, saat tanganmu di sentuhnya untuk tidak meninggalkannya, saat pak Wijaya mengatakan lakukan yang tidak membuatmu sakit Afkar. Kamu melepasku ka, kamu membisikan agar aku tidak akan melakukan hal apapun, tinggal saja dipenginapan, kamu akan segera datang menemuiku malam ini. Aku menyetujuinya.


Tiiit


Panggilan video


" Assalamualaikum ka"


" Waalaikum sayang, lagi di mana?"


" Di Siring"


" Sudah shalat?"


" Sedang tidak shalat"


" Aku masih Banjarbaru, dalam perjalanan menuju Banjarmasin. Sayang mau menungguku di siring atau pulang ke penginapan?"


" Alya tunggu di sini saja ka"


" Iya, aku langsung ke sana. Hati-hati sayang, jangan kemana-mana"


" Iya ka"


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Emuuahh"


Alya melambaikan tangan.


Klik.


Semoga kali ini kamu bisa mengambil sikap ka.


Tiit, siapa lagi???


Ka Kevin?


" Assalamualaikum ka"


" Waalaikum salam, mengganggu Alya?"


" Tidak ka, lagi santai"


" Dimana?"


" Duduk di tepi sungai, sendiri"


" Ooh, Alya di Banjarmasin?"


" Iya ka, oh iya kemarin ka Kevin bilang tau kalau ka Afkar di Banjarmasin, kenapa tidak bilang ka?"


" Maaf Alya, aku memang tidak memberitahumu, aku tidak ingin kamu menemukan cintamu saat itu, dia bekerja sebagai grab car"


" Iya, benar dia dulu bekerja itu, tapi sekarang sudah menjadi anak angkat seorang pemilik perusahaan dan menjadi manager"


" Syukurlah, aku sangat lega mendengarnya. Segeralah menikah Alya"


" Kenapa ka Kevin yang menyarankan begitu? hehehe"


" Aku sangat lega kalau kamu bisa menikah dengan orang yang kamu sayangi dan bisa memberikan kehidupan yang baik, bukankah itu memang tujuanku selama ini, hehe"


" Ka Kevin,,, Alya jadi ingat cerita kita dulu, hehhe".


" Alya, ada yang ingin kuceritakan padamu, apa aku bisa bicara?"


" Bisa, Alya juga kangen dengar suara ka kevin yang beribawa, hahaha"


" Alya, seandainya dekat sudah kucubit pipimu sekarang, hahhaa"


" Cerita apa ka?"


" Begini, enam bulan yang lalu aku bertemu mantan kekasihku saat masih di Yogyakarta kemarin. Dia juga bekerja di Hongkong ikut orang tuanya. Kami kembali menjalin hubungan, dia memintaku untuk serius"


" Alhamdulillah, terus kapan rencananya ka"


" Aku tidak menjawab, aku masih menunggu kabarmu"


" Maksudnya?"


" Aku masih menjaga perasaanmu dan perasan keluargamu"


" Bukankah kita memang sudah berakhir ka? kenapa harus menjaga perasaan kami?"


" Alya, aku pernah berjanji untuk membahagiakanmu, tapi kemudian aku gagal, malah aku pergi tanpa pamit dengan benar. Aku tidak pernah berhenti menyalahkan diriku sejak kamu sakit-sakitan kemarin, melewati skripsi tanpa aku dan tanpa Afkar. Tapi aku memang tidak punya pilihan lain, kamu tidak akan bisa mencintaiku, kelak itu akan menyakitimu"


" Itu salah Alya ka, kaka sama sekali tidak salah, Alya malah harus banyak berterima kasih untuk segala kebaikan ka Kevin"


" Aku memang sudah serius Alya dengan hubungan ini, dan aku akan menikah setelah kamu menikah"

__ADS_1


" Maksudnya ka?"


" Aku akan lega dan tanpa beban saat menikah kamu juga menikah dengan orang yang kamu cintai, saat kemarin kamu bilang berada di Banjarmasin aku sangat berharap kamu menemukannya, dan ternyata benar dia memang Afkarmu. Kamu akan segera menikah kan Alya?"


" Kakak duluan saja, jangan menunggu Alya"


" Tidak, aku tidak bisa. Aku akan sabar menunggu jika kamu belum siap, tapi apa yang tidak siap? bukankah Afkar sudah menjadi seorang yang akan mampu membahagiakan mu secara materi dan kalian pun sudah mencintai sejak dulu"


" Kami memang saling mencintai"


Kenapa suaraku? tolong jangan berubah hai pita suara. Aku jangan membuat ka Kevin yang sangat baik ini ikut sedih


" Aku turut berbahagia Alya. Aku akan pulang ke Indonesia minggu depan dan akan mengabarkan ini pada orang tuaku, sudah begini kan aku tidak punya beban lagi. Rencananya kapan kamu akan menikah?"


Alya terdiam dan melihat lagi jari manisnya, berusaha agar tidak ada air mata yang keluar


" Kemarin ka Afkar bilang minggu depan akan ke Yogya melamar Alya ka"


" Sungguh? akan kusempatkan untuk mengunjungimu ke yogya, aku juga ingin bicara pada Afkar agar bisa menjagamu dengan baik, aku belum pernah kamu perkenalkan dengan saingan beratku itu kan Alya? hahhaa"


" Boleh, nanti kita kabar-kabaran lagi ka"


" Aku akan menunggu kabarmu dulu biar aku bisa pulang tepat waktu Alya, selain ingin meminta restu orang tua dan bertemu Afkar nanti aku juga mau jujur"


" Jujur apa ka?"


" Aku ingin sekali memelukmu sekali lagi, sebelum kita menjadi jodoh orang lain. Aku merindukan bisa lagi memeluk cinta terhebat dalam perjalanan cintaku"


" Iya ka, Alya juga kangen ka Kevin. Semoga kita semua bisa berbahagia"


" Aamiin. Sudah makan malam Alya?"


" Belum ka, barusan magrib di sini"


" Oh iya, kalau begitu makan dulu, calon pengantin harus banyak makan, nanti kan tenaganya banyak keluar, hehehe"


" Ka Kevin juga kan? hehehe"


" Salam sama Afkar ya. Sama om dan tante juga"


" Iya salam sayang juga sama om dan tante ka"


" Iya Alya, assalamualaikum"


" Waalaikum salam ka"


Klik


Tepukan di pundak membuat Alya kaget dan tidak sengaja menjadi gagap


" Eh ka Kevin astaga"


Afkar mendekatkan wajahnya


" Sayang mikirin Kevin?"


Terlihat wajahnya menjadi murung.


Alya menarik pelan tangan Afkar untuk duduk di sampingnya.


" Ooh, waalaikum salam".


Tampak wajah tidak bersemangat lagi


" Apa kabar dia?"


Alya tidak ingin semakin membuat Afkar gelisah


" Dia baik, sudah punya kekasih dan akan menikah"


" Syukur lah, biar aku tidak usah ikut memikirkannya"


Alya menoleh lelaki di sampingnya


Seandainya kamu tau ka betapa baiknya ka Kevin memperlakukan aku sejak dulu sampai sekarang, bahkan beberapa detik yang lalu dia masih menanyakan kabarmu dan ikut senang saat kuberi tahu keadaanmu sudah tidak seperti dulu lagi. Dia bahkan menungguku untuk memberinya kabar kapan aku menikah agar dia bisa lega dan mengikuti kita juga. Tapi sekarang kamu yang kugadang-gadang menjadi pengantin raga dan jiwaku sedang memperlakukan aku begini. Seandainya ka Kevin tau sekarang aku sedang kembali berada di titik kesakitan lagi begini, mungkin dia akan datang dengan tujuan berbeda, aaahh, kenapa aku mengingatnya lagi?.


Afkar menoleh ke samping kiri, meraba setiap inchi dari wajah Alya dengan mata sendunya.


" Sayang, aku minta maaf kejadian tadi siang"


Alya mengangguk


" Tidak ada yang salah, Alya saja yang datangnya terlalu terlambat, hehehe"


Afkar menggenggam tangan Alya


" Sayang masih mau berjuang bersamaku?"


" Berjuang untuk apa lagi ka? Ka Afkar saja sudah nyaman dengan keadaan sebelum Alya datang, begitu juga mereka, ka Afkar tega sama pak Wijaya?"


" Aku harus bagaimana sayang?"


Afkar melepas genggaman tangan nya di jari Alya. Dua telapak tangannya sekarang sudah menutup wajahnya dan menyandarkan punggung pada bangku cokelat yang mereka duduki.


" Mereka tidak bisa melepas ka Afkar, begitupun kakak tidak bisa pergi dari mereka. Alya ikhlas ka jika ini yang terbaik. Lagipula saat Alya ke kota ini Alya tidak membayangkan bisa bertemu kakak, anggap saja setelah Alya pulang, ini tidak pernah terjadi"


Kenapa suaraku serak begini, kuat Alya kuat, jangan cengeng.


Hening.


" Pak Wijaya seperti orang tuaku, aku mampu lepas dari Aprill, aku tidak perduli lagi padanya, tapi aku tidak bisa meninggalkan pak Wijaya"


" Benar ka, Alya sudah melihatnya"


Afkar mengangkat kepalanya dan menatap Alya.


" Ka, ini berulang lagi, dulu Alya tidak bisa menolak permintaan orang tua, dan sekarang kakak tidak bisa menolak keinginan puteri pak Wijaya yang sudah kakak anggap orang tua. Kakak akhirnya mengerti kan bagaimana perasaan Alya dulu"


" Sayang benar ingin pergi?"


Alya mengangguk.

__ADS_1


" Alya tidak punya masa depan di sini ka, ini bukan tempat yang tepat untuk Alya. Alya sejak tadi disini membaca kenangan hingga senja tak lagi jingga, bahkan nafas ditenggorokan bisa sesakkan dada, mengingat peristiwa yang terjadi menjadi bait-bait luka tak berjeda untuk Alya mainkan nantinya.Berhari-hari menunggu dan terbenam tak berdaya, masih saja kau tegarkan kata seakan tak terjadi apa-apa.


Alya tau ini adalah isyarat Tuhan tentang dosa sekarang dan di masa lalu hingga harus Alya tebus seperih ini. Rencana Nya tidak pernah keliru apalagi salah makna.


Kesakitan ini biarlah akan di basuh dengan air mata. Alya masih bisa tau kapan waktunya berhenti. Daripada lebih luka memintal harapan pergi atau tetap menanti. Bersama mu semua seperti tidak pasti. Inilah saatnya menjeda, melepasmu dengan ketulusan cinta.


Jika sekarang Alya pamit, kakak akan menjadi bebas kembali, semua ikatan hati yang selama ini kita tahan akan tuntas dan lepas.


Alya pamit ka, undur diri sebelum yang lainnya mengikuti untuk hancur, cukup hati.


Setelah ini kakak masih menjadi bagian terfavorit dalam hidup Alya. Seperti seduhan kopi di kedai itu yang pernah menyimpan banyak kata dengan suratnya. Masih semesra jari ini ketika menyatu dengan senar gitar cokelat tua pemberian kakak untuk selalu melantunkan keindahan cinta pemiliknya tanpa harus menyakitkan untuk yang lainnya. Akan tetap menjadi tinta pengisi pena ketika Alya ingin menuliskan bahasa cinta dalam puisi-puisi yang hanya akan Alya tulis dan baca sendiri. Dan menjadi jingga dalam senja.


Wanita lemah seperti Alya memiliki titik henti, ataupun kesadaran untuk tahu kapan ia harus menghapus lelah dan rehat, walaupun untuk benar-benar pergi tidak akan pernah mudah, terlebih perihal kamu dan cinta sejatiku"


Afkar menggelang


" Sayang tidak akan kemana-mana tanpa aku".


" Alya tidak bisa di sini sementara ka Afkar hanya bicara cinta tanpa sikap"


Alya perlahan melepas cincin berlian di jarinya.


" Entahlah ini akan cantik di jari tangan siapa nantinya. Alya kembalikan ka"


Afkar bergetar saat menyentuh cincin itu dan tidak menerimanya. Kembali cincin itu terpasang di jari manis Alya.


" Jangan pergi kekasihku, bukankah cinta baru akan kita mulai pada coretan puisimu yang selalu menggila


pada nyanyian suara dan gitarmu yang bercerita indahnya cinta


Jangan pergi kekasihku, aku baru saja bangun dari mimpi kemarin malam kamu datang pada lena tidurku. Kita mengulit kerinduan yang teramat


Masih banyak rindu dan mimpi yang sama dan belum kita wujudkan. Cinta tanpamu aku akan mati.


Seduhan kopimu, kita akan menghirup aromanya berdua sambil melagukan cinta dengan gitarmu bersama perasaan yang masih sama"


Alya menggeleng


" Kakak tidak akan pernah bisa memutuskan nya ka, dan Alya tidak ingin menjadi pertaruhan hidup kakak untuk menjadi yang kalah. Alya mempunyai kehidupan yang lebih baik walaupun bukan yang Alya impikan, setidaknya tidak hancur semua. Alya akan punya karir dan bermasa depan, walaupun bukan bersama ka Afkar lagi.


" Sayang, kita masih punya Darel. Bertahan lah sebentar, kali ini aku yang akan berusaha, sayang sudah terlalu lelah. Jangan pernah berpikir untuk pergi, karena aku tidak akan membiarkanmu sendiri"


Lautan kerlipan bintang-bintang yang indah memantul pada air sungai. Terbawa kedalam sebuah suasana yang tak mampu diungkapkan


Suara hati kecil yang berontak


Berontak untuk menyikap tebalnya tirai yang menghalang, membelenggu dan memenjarakan hati suci.


Pajero sport Afkar berhenti di satu tempat sederhana.


" Ka, itu Darel"


Alya menunjuk seorang lelaki yang sedang sibuk memainkan kuas pada kanvas nya.


" Bisa diganggu tidak ya?"


" Alya telepon ya kak?"


" Iya"


Satu menit kemudian tubuh tinggi Darel sudah berada di dalam mobil Afkar


" Darel, besok pagi kamu harus datang ke rumah Aprill, aku akan menunggumu"


" Kalau Aprill menolak?"


" Kamu bisa tidak berfikir hal baik dulu"


Alya mencolek lengan Afkar


" Ssttt, bicara pelan-pelan ka"


Afkar membenarkan posisi duduknya


" Kamu sudah harus datang jam delapan pagi, aku tidak ingin melihatmu terlambat"


" Baik ka, saya akan kesana tepat jam delapan pagi. Ka Alya ikut?"


" Tidak, Alya harus beristirahat di penginapan, dia sudah lelah memperjungkanmu tadi siang"


Alya melirik


Memperjuangkan siapa? aku memperjuangkanmu ka, kamu saja yang hanya diam.


Selama 10 menit perbincangan mendadak di dalam mobil, Darel keluar dan berlalu dari keduanya. Mereka masih melihat Darel mengemasi alat lukisnya dan menaiki motor berwarna hitam. Afkar menyuruhnya pulang agar besok pikirannya jernih untuk bertemu Aprill dan menegaskan bagaimana kelanjutan hubungan mereka.


" Sudah jam sembilan malam, kuantar pulang, sayang istirahat saja, jangan lagi berpikir apapun, apalagi untuk pulang"


Alya diam.


" Sayang dengar aku kan?"


" Iya"


" Aku akan secepatnya mengabarimu hasil pembicaraan besok, aku minta doanya"


Alya mengangguk


" Semoga semua dilancarkan ya ka"


Afkar membelai rambut Alya


" Aku terlalu mencintaimu sayang, aku benar-benar gila jika kamu pergi lagi"


Alya tersenyum


" Jika ka Afkar tidak bersikap, bersiap lah untuk mengantar Alya ke Bandara Syamsuddin Noor besok"


Afkar menutup mulut Alya


" Jangan ulangi lagi kata itu, kita akan berdua, baik itu di Banjarmasin ataupun kota lainnya"

__ADS_1


" Semoga kalimat ini tidak berubah lagi"


Sedikit dengan nada sinis, Afkar tau Alya sedang sangat menyindirnya, tapi lebih baik diam karena jika membalas akan lebih banyak sindiran yang keluar dari mulut kekasihnya ini.


__ADS_2