Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Ibu, Aku Menunggu Restumu


__ADS_3

Menyandarkan punggung di tepi tempat tidur dengan mata terpejam, meraba apa yang akan terjadi setelahnya. Aku harus mengutarakan keadaan untuk sebuah perpisahan dengan beranjak dari kehidupanmu. Mengakhiri sebuah hubungan yang kita mimpikan akan berlabuh pada pernikahan, namun justru kandas setelah perjalanan panjang itu akan terasa tidak adil. Terlalu banyak kekuatan cinta kita yang kemudian mengarahkanmu pada pertemuan, kita mampu bertahan selama dan sesakit itu,


tapi inilah takdir untuk perjalanan kita.


Setelahnya,


Apakah aku akan menjadi burung yang terbang dengan satu sayap, yang melintasi awan namun dengan kesakitan menahan beban kesedihan.


Atau menggigil bersama gelapnya malam


yang ditemani bulan tanpa bintang di rasi scorpio dengan bentuk kalajengking favoritmu, yang mampu menemani jiwa yang sepi meski tanpa keindahan.


Kehilanganmu membuatku belum tahu harus ke mana, dengan siapa dan apa-apa yang harus kulakukan.


Ataukah aku akan menjadi matahari yang kekurangan cahaya, yang tak punya kehangatan meski mampu menerangi


Bahkan mungkin aku yang kehilangan separuh nyawa, masih mampu berdiri, namun isi jiwa terbawamu pergi.


Tanpamu kekasihku,


Puisi-puisiku akan menjadi tulisan tanpa kata.Aku melepaskanmu pergi dengan bebas tanpa terikat, orang yang aku cintai tapi harus aku tinggalkan.


Perlahan membuka mata dan memandangi foto mereka kemarin di bandara saat Afkar mengantar Alya di bandara, tidak. Aku tidak akan bisa bertahan dengan ini, dia Alya ku. Benar kata Arga, aku lelaki tanpa usaha, hanya perasaanku yang berusaha, tapi sikapku tidak. Afkar bangun dan keluar dari kamar. Wanita setengah baya yang sangat dicintai dan dihormatinya itu terlihat masih sangat cekatan mengulek rempah-rempah untuk memasak menu makan siang mereka.


" Bu, sedang apa?"


" Sedang bikin bumbu, mau masak ayam kecap kesukaanmu"


Tangan ibu masih mengulek beberapa bumbu dapur.


" Bu, saya bisa bicara?"


Ibu mengangguk


" Iya, ada apa nak?"


Afkar meraih satu kursi di dapur dan duduk dekat ibu yang masih sibuk membuat bumbu.


" Saya kembali meminta izin bu, apakah ibu akan memberi restu pada saya untuk menikah dengan Alya atau tidak?"


Ibu berjalan dan mencuci tangan di wastafel kemudian mengeringkannya dengan serbet yang tergantung di atasnya. Afkar berdiri dan kembali mengambilkan kursi untuk ibu


" Duduk di sini bu"


Tubuh yang tidak sekuat dulu di masa mudanya membuat ibu sedikit perlahan menggeser kaki kursi


" Kaki ibu akhir-akhir ini sering ngilu, rematik"


" Jangan keluar malam bu"


" Iya, ibu memang sudah menghindari itu"


Ibu sudah duduk di samping Afkar dan menatap puteranya.


" Bagaimana Afkar?"


" Saya tidak mungkin berdiam dan bersembunyi begini bu, saya harus mengambil sikap"


" Semua ibu serahkan padamu"


Afkar menggeleng.


" Saya tidak akan maju kecuali hanya dengan restu ibu"


Ibu terdiam dan menatap wajah Afkar yang sangat terlihat memohon.


" Kamu mencintainya kan"


" Sangat bu"


" Jika ibu tidak merestuimu bagaimana?"


" Saya akan segera ke Yogya, saya akan bertanggung jawab dan mengundurkan diri dengan baik-baik. Saya tidak mau menggantungnya begini, dia sudah terlalu lama menunggu, dan saat kami saling menemukan saya tidak bisa memberikan apa yang sudah kami impikan sejak dulu, setidaknya saya akan melepasnya dengan doa dan kebaikan. Berharap ini adalah perpisahan yang baik dan saya akan jujur pada orang tuanya ini adalah takdir, bukan karena saya lepas tanggung jawab"


" Kamu bisa melakukan itu?"


" Kami sudah sangat lama berada di keadaan yang membuat kami bersedih dan menderita, mungkin ini adalah titik terakhirnya, saya yakin Alya akan kuat"


" Kamu kuat?"


" Entahlah bu, tidak akan mungkin untuk kami melawan takdir, selama ini kami bisa menjalani hari berat dan sakit teramat dengan ketabahan karena kami bersahabat dengan takdir, semoga setelah inipun ketabahan kami masih diberikan perlindungan, yang jelas saya akan kembali ke Banjarmasin, saya harus melalui hari-hari saya lagi, dan mungkin dengan tujuan dan doa yang tidak lagi sama"


" Kamu kecewa?"


" Saya lebih meyakini restu ibu adalah hal paling berharga untuk hidup saya, jika tidak ada restu sebanyak apapun usaha saya untuk membuat keluarga saya bahagia akan terasa kosong bu"


" Kamu mengikhlaskannya?"


" Saya akan meyakinkan Alya tentang keihklasan"


" Kenapa kamu hanya menjawab dengan perasaan Alya saja? kamu sangat melindunginya, mungkin saja kan tidak bersamamu dia justru akan lebih baik seperti kamu kemarin?"


" Bu, saya terlihat lebih baik ketika berpisah dengannya hanya dari pandangan mata saja bu, saya memang bisa jauh lebih berderajat, lebih punya kuasa dan materi. Tapi untuk apa jika saya tidak memiliki seseorang yang sangat saya sayangi, seseorang yang menjadi tujuan hidup saya, untuk apa saya bertahan selama itu menutup mata dan hati saya pada wanita lain, kalau bukan untuk menunggu cinta saya kembali dengan jalan dan takdir Nya. Saya yang setiap malam duduk mendoakan hal baik untuknya, merindui masa yang sudah berlalu, menunggu perjumpaan yang entah bagaimana caranya, terkadang bisikan kejahatan terlintas berkali-kali, saya tidak merelakan perpisahan dan derita ini. Jiwa saya terkadang hilang, lepas melalui ritual pekerjaan dan membebaskan emosi tidak terkontrol saya menguasainya. Bertahun membuat kami mendewasa dan masih bertahan untuk terus saling mendo'akan. Kami tidak berpisah dengan kebencian, kami berpisah dengan menyakini masih saling menyayangi dan itu akan menjadi beban dalam usia kami"


" Kamu belum iklhas nak"


" Saya mengikhlaskannya jika dia sudah menemukan seseorang yang lebih baik dari saya, tapi saya masih saja berdoa saya yang lebih pantas untuknya karena saya sedang berjuang untuk memantaskan diri untuknya sekarang"

__ADS_1


Maaf aku bohong bu, bagaimana bisa aku mencoba baik dan bersikap mengihkasakannya, sudah selama ini aku berjanji akan mencoba menyelesaikan perasaan ku padanya, tapi masih tidak bisa bu. Bahkan baru saja aku membayangkan aku pergi tanpa dia aku sudah hancur begini. Dan sahabatnya mengabarkan kalau Kevin akan datang bu, dia akan menjemut Alya dan mungkin akan segera pergi jauh, aku benar-benar akan kehilanganya kali ini. Kekasihku, lihatlah egoisnya cintaku yang mengusirmu tapi menginginkanmu


Aku sedang berusaha untuk pindah tapi hatiku masih tertinggal .


" Kapan kamu akan ke yogya untuk menemuinya?"


Afkar masih dengan tertunduk, mencoba menyembunyikan kesedihannya paling dalam. Tidak bisakah hatimu melunak bu, dia adalah seseorang yang bagaimana lagi bisa kuceritakan keindahannya, kecantikannya, kelincahannya, sedang bibirku di kunci untuk menceritakannya, mataku di tutup dengan masa lalu untuk melihat lagi keindahannya , tanganku diikat untuk menuliskan semua penyebab rasa cintaku yang tidak akan habis dengan tulisan, pandangan ataupun ucapan.


" Setelah ini saya akan mencari tiket bu, secepatnya akan lebih baik, walaupun itu adalah untuk mengakhiri. Saya tidak ingin membuatnya menunggu lebih lama dengan keputusan saya meninggalkannya, saya berharap dengan segera dia akan bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dan menjaganya dengan baik, sebaik saya menjaganya selama ini dengan doa saya"


Afkar berdiri dan meninggalkan ibu yang masih memandang punggung Afkar yang berlalu darinya.


Aku ini ibumu nak, aku memahami apa yang kamu rasakan saat ini.


" Afkaaar"


Afkar menoleh dan berbalik menghadap ibu


" Kamu mau kemana?"


" Mau ke kamar mengambil ponsel bu, saya akan memesan tiket ke yogya"


" Kamu pesan tiket berapa?"


" Satu"


" Pesankan ibu juga nak"


Afkar menggeleng


" Jangan khawatir bu, saya akan bisa menghadapinya, saya akan kuat, ibu di sini saja, cukup berikan saya do'a, semua akan baik-baik saja, dan lagi saya akan sekalian memesan tiket ke Banjarmasin setelah saya selesai membicarakan ini dengan orang tuanya. Saya tidak balik lagi ke Jakarta. Saya akan mempunyai hari baru di Banjarmasin mulai lusa"


Ibu berdiri dan menepuk punggung Afkar yang jauh lebih tinggi dari tubuh mungilnya


" Kita makan dulu, nanti kamu akan lama tidak merasakan masakan ibu"


Afkar mengangguk.


" Senyum nak, kamu harus makan banyak, karena nanti kamu akan banyak urusan di Yogya untuk mengurus pernikahanmu"


Afkar menatap ibu bingung


" Ibu ikut ke Yogya, untuk melamar menantu ibu yang cantik, Alyana".


Segala yang tertahan di mata dan hati Afkar runtuh juga, Afkar tersungkur bersujud dan mencium kaki ibu. Tidak ada kalimat apapun yang keluar dari mulutnya, hanya air mata, hanya air mata. Air yang jatuh dari matanya kali ini tidak sama dengan air matanya dua tahun yang lalu saat meminta izin pada ibu untuk pergi ke Banjarmasin karena ingin melupakan masa lalunya dengan Alya. Kali ini adalah air mata syukur dan kebahagiaan.


" Naak, ibu merestuimu"


" Ibu, terima kasih"


Afkar masih saja dengan keharuannya, tidak ingin lagi berpikir apapun, siapapun, setelah restu ibu terucap, aku akan menjadi kuat. Jauh akan lebih kuat dari saat dulu aku mencoba merelakanmu, saat aku bertahan untuk hal yang kuminta tapi tidak kuyakini.


" Kalau kamu tidak berhenti begini, bagaiamana ibu bisa melanjutkan memasak? kita kan harus berangkat Afkar? hehhee"


Afkar bangun dari posisinya dan memeluk ibu


" Terima kasih bu, selalu lindungi saya dengan doa dan restu ibu"


" Tentu saja, hubungi menantu ibu, katakan ibu akan segera melamarnya"


Afkar tersenyum dan mengangguk


" Dia wanita baik dan tangguh bu, seperti ibu"


" Ibu percaya dengan pilihanmu nak"


" Dia tidak seperti yang dibayangkan kak Mia"


" Iya"


Afkar masih menatap ibunya.


Dia memang tidak seburuk seperti yang dipikirkan kak Mia bu, tapi dia sering jahat padaku, Alya yang konyol, semoga dia tidak membuat keributan saat ibu datang menemui dan melamarnya.


Tiiit,


" Assalamualaikum ka"


" Waalaikum salam bidadari, sedang apa?"


" Barusan meeting ka, dan Alya jawab saja pertanyaan bos seperti yang ka Afkar ajarin tadi malam, hehehe"


" Oh ya, waah bagaimana kalau aku membatalkannya ya"


Hening


" Kaaa"


" Kalau sayang dipecat, mendaftar saja di kantorku, aku akan senang hati menerima sekretaris selucu sayang"


" Ka, jangan bercanda, Alya tidak ingin kehilangan pekerjaan"


" Aku kan sudah bilang, kerja saja di kantorku"


" Alya tidak mau punya bos galak"


" Aku tidak akan galak lagi"

__ADS_1


" Kenapa?"


" Selama ini aku galak karena sering baper saja"


" Baper kenapa?"


" Tingkat kesedihanku yang terlalu tinggi dalam menanti cintaku datang kembali".


" Hehehe"


" Apalagi dia akan datang bukan sebagai kekasih lagi, tapi sebagai istri yang sholehah"


" Maksudnya ka?"


" Besok aku akan datang bersama ibu untuk melamar kekasihku dan menjadikannya ratu di dalam rumahku"


" Kaaa"


" Iya, ibu sudah merestui kita sayang"


" Kaaa,,,"


" Sayang kamu kenapa?"


" Rasanya ingin pingsan"


" Jangan pingsan, nanti saja kalau aku sudah mengucapkan ijab kabul, akan kuberikan napas buatan sebanyak-banyaknya"


" Hahhaha, jangan bikin Alya ngakak di kantor ya kak"


" Ya udah, besok pagi aku berangkat bersama ibu, aku akan kemana? di rumah orang tuamu atau ka Pandu?"


" Ka Pandu saja, kasian kakak dan ibu harus menempuh perjalanan 3 jam lagi"


" Aku tidak tau alamatnya"


" Nanti ada yang jemput"


" Baiklah, sayang persiapkan kedatanganku ya"


" Bukan Alya, tapi kakak yang harus menyiapkan mental, hehehe"


" Do' akan aku ya Sayang"


" Iya ka, Alya akan selalu mendo'akan calon suami Alya yang cakep ini"


" Hmmm, bohong kan kalimat yang bagian akhir"


" Hehehe, kali ini jujur"


" Ya sudah, aku mau siap-siap ya, selamat bekerja Sayang"


" Iya, terima kasih untuk kabar baik ini ka, Alya juga mau minta izin tidak masuk kantor besok"


" Iya, salam sama om dan tante ya"


" Salam juga sama ibu, dari menantu terkece sedunia"


" Duuuh manisnya, ya udah. Assalamualaikum"


" Waalaikum ka"


" Emuuah".


Klik.


Panggilan telefon


" Assalamualaikum Afkar"


" Waalaikum salam Arga"


" Bagaimana"


" Alhamdulillah akhirnya orang tuaku merestui kami, besok aku akan ke Yogya"


" Alhamdulillah, aku tidak perlu lagi repot-repot membantumu"


" Hahhaa".


" Aku akan memesan tiket untuk besok, sampai bertemu di Yogya, oh iya di rumah ka Pandu ya?"


" Iya"


" Ya sudah Arga, terima kasih untuk semuanya, banyak hal besok yang akan kubicarakan padamu"


" Boleh, nanti kita kumpul di kedai Bowo, aku bisa ajak anak-anak"


" Iya, terima kasih, aku mau siap-siap dulu, maaf mengganggumu"


" Aku sudah terbiasa terganggu oleh kalian berdua"


" Hehehehe. Assalamualaikum Arga"


" Waalaikum salam"


Klik.

__ADS_1


__ADS_2