
Berakhir perjalanan panjang hari ini, Alya sudah mandi dan sekarang merebahkan dirinya di tempat tidur, sudah jam 12 malam. Ka Afkar, kamu di mana? sebegitu marahkah keluargamu sampai tidak bersedia menyebutkan kamu ada di mana, sama sekali tidak ada informasi yang kami dapat agar aku bisa menghubungimu, semoga saja nomor ponsel ku yang baru akan segera kamu terima, dan kamu akan menghubungiku secepatnya. Aku menerima ka atas tuduhan apapun yang ditujukan padaku, sungguh aku tidak marah karena itu memang benar walau tidak sepenuhnya. Aku yang memutuskan hubungan kita, tapi aku tidak pernah meninggalkan, sampai detik ini aku hanya bisa memikirkanmu, aku masih saja menunggu ada keajaiban yang terjadi pada kita.
Kesedihan ini sampai kapan mampu aku tanggung ka? aku bahkan belum punya keinginan untuk mengakhiri kerinduanku.
Kamu harus tau ka, tidak ada yang benar-benar selesai dari kita. Belum usai usahaku untuk mengetahui dimana dan apa kabarmu. belum habis waktu, peluh tanpa keluh untuk mencari keberadaanmu. Terlelap dengan lamunan kesedihan yang tidak bisa berkesudahan. Mata yang terpejam itu masih saja meneteskan air matanya, mengalir dan mengalir saja. Datang lah ka, hapuskan sebentar air mataku, jika ingin pergi, pergilah setelahnya. Menahan rindu yang tiada habisnya, terbunuh sepi, belati menyayat.
6 bulan kemudian
Skripsi Alya sudah sampai pada bab hasil dan pembahasan, di titik ini Alya benar-benar larut dengan kesibukannya. Larut dan sangat menikmati, wisuda impian harus segera terkejar, beserta satu ingin yang lain, membebaskan diri dari rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam. Menjadilah kesibukan skripsi menjadi alasan untuk mengejar kedua hal itu.
" Sayang sudah makan?"
" Istirahat dulu, sambung besok saja"
" Laptop dan printer nya masih nyaman dipakai?"
" Minggu depan aku datang, kita jalan-jalan dulu, kasian otaknya sayang di suruh kerja terus"
" sudah jam 10 malam belum tidur juga? sudahlah tutup dulu latopnya, besok pagi di sambung lagi ya"
" Jangan terlalu di paksa sayang, aku percaya semester depan bisa terkejar wisudanya"
Kevin melihat semangat Alya yang luar biasa, ini membuatnya bahagia, karena akan semakin mendekati wisuda, dan akan memudahkannya untuk segera melamar dan menikahi Alya, kan hanya itu alasan kenapa mereka belum menikah sekarang, menunggu Alya lulus kuliah dulu. Sementara Alya menenggelamkan dirinya bukan karena itu, tapi karena ingin secepatnya wisuda dan bisa mencari pekerjaan ke kota mana saja, ingin melepaskan diri dari keadaan menyakitkan sekarang, kebersalahan yang setiap saat menyakitinya.
Keluar dari ruang pembimbingnya dan duduk di satu bangku panjang lantai 2 kampusnya, Alya merasa pusing, sejak tadi pagi perutnya tidak nyaman dan ingin muntah. Diraihnya ponsel yabg berada di dalam tas dan menekan panggilan
" Iya Al"
" Syl, lo di mana?"
" Di perpustakaan"
" Syl, gue pusing, ini ada di depan ruang dosen pembimbing gue"
" Lo sakit? ini ada Roni, sebentar gue suruh dia kesana secepatnya, gue nyusul, tunggu ya"
Klik.
Sylvia memang tidak lagi sesigap dulu, dia sedang hamil dan sekarang usianya sudah 7 bulan, tapi otaknya masih bisa menjadi tempat sasaran curhat Alya. Tak lama Roni datang dengan keadaan setengah berlari dan tas di pundak. Roni meraba dahi Alya
" Deman, kita ke rumah sakit Al"
" Enggak usah, gue cuma pusing, anterin gue pulang aja bisa Ron?"
Roni mengangguk dan membangunkan Alya dari tempat duduknya
" Gue bisa jalan sendiri Ron, enggak usah di papah juga, malu gue"
" Enggak papa, biar kelihatan sakit lo parah gitu, hahaha"
Tak lama Sylvia muncul dengan perut besarnya
" Gimana Al?"
" Gue antar Alya pulang Syl"
" Iya Ron".
Sylvia membuka ponsel dan menghubungi Arga
" Ga, lo di mana?"
" Di parkiran kampus mau pulang"
" Itu si Roni mau ke parkiran, mau ngantar Alya pulang, sakit dia"
" Sakit? iya gue tunggu".
Klik.
Di parkiran Roni benar-benar memapah Alya karena pusing Alya bertambah begitu turun dari tangga, Arga berlari ikut memegangi tubuh Alya
" Al, kita ke rumah sakit saja"
Alya menggeleng
" Gue mau pulang saja"
Dan tiba-tiba tubuhnya ambruk di antara tubuh kedua sahabatnya
" Alya,,,pingsan dia Ron, kita ke rumah sakit saja, gue bawa motor, lo pakai apa?"
" Gue juga bawa motor, Alya bawa mobil, kita pakai mobil Alya"
" Iya, lo tahanin Alya, gue cari kunci di tasnya"
Arga membuka tas Alya dan menemukan kunci mobilnya, berdua menggendong tubuh Alya masuk ke dalam mobil dan mereka menuju rumah sakit
Tiiit
" Kenapa Ron?"
" Gue sama Arga bawa Alya ke rumah sakit, pingsan dia Syl, lo kabarin keluarganya ya, Ka Pandu deh yang lebih dekat"
__ADS_1
" Iya Ron, nanti kabarin gue"
Sylvia membuka phonebook di ponselnya, mencari satu nama, Ka Pandu
Tiit
" Assalamualaikum Syl"
" Waalaikum salam, Ka Pandu Alya pingsan, sedang di bawa Arga sama Roni ke rumah sakit"
" Pingsan? di rumah sakit mana? bisa kirimkan nomor Arga?"
" Belum tau rumah sakit mana, iya ini Sylvia kirimin nomor Arga ka"
" Terima kasih Syl"
" Sama-sama ka"
Klik.
Sylvia menyalin nomor Arga dan mengirimkannya ke ponsel Pandu.
Sebuah rangkulan di pundak mengejutkan Sylvia
" Sayang kenapa panik begitu"
Pa Agus sejak tadi memperhatikan istri cantiknya yang sedang berbadan besar sibuk dan terlihat panik dengan ponselnya
" Alya sakit ka, dia pingsan dan sekarang sedang di bawa ke rumah sakit, Sylvia baru mengabarkan sama ka Pandu"
" Kecapean Alya, di rumah sakit mana?"
" Belum tau, Arga masih di perjalanan"
" Sayang duduk dulu, nanti kalau Arga sudah memberi kabar kita langsung kesana. Oh iya tadi aku liat pa Juan sudah ada di ruangannya, apa sebaiknya sayang konsultasi dulu sambil kita menunggu kabar Arga?"
Sylvia mengangguk
" Iya ka, Sylvia konsultasi dulu"
Pa Agus mengedipkan matanya
" Hati-hati di jalan ya sayang, jangan lupa selalu rindukan aku"
Sylvia mencubit pinggang suaminya
" Cuman beberapa langkah ini pisahnya, hahhaa"
Pa Agus merapikan rambut Sylvia yang lumayan berantakan akibat kepanikannya barusan.
Pa Agus membungkukan badannya seolah memberikan penghormatan pada istrinya yang sudah tersipu-sipu malu karena beberapa pasang mata mahasiswa sedang memandang dan tersenyum ke arah mereka. Takut suami usilnya bertindak lebih jauh, Sylvia segera berlalu dengan sedikit tawanya.
Arga memarkir mobil putih Alya di depan sebuah rumah sakit bertingkat tiga yang mempunyai parkiran sangat luas
" Kita lewat mana Ga? gue enggak pernah kesini"
Roni yang menemani Alya di kursi belakang mulai mencari-cari tempat mana yang akan mereka datangi langsung
" Gue juga tidak pernah kesini, oh itu Ron ada tulisan IGD, bawa Alya keluar Ron"
" Bawa gimana dia pingsan begini, lo turun dulu, angkat dia baru bisa gue keluar"
Arga turun dari pintu pengemudi dan membukakan pintu Roni, sebentar menarik tubuh Alya yang tidak berdaya, dan segera menahannya
" Cepat keluar Ron, berdua nih"
" Elo tubuh aja atletis, gendong Alya yang kurus perlu bantuan"
" Heh, kalau tidak pingsan jelas gue mampu, berat orang yang pingsan lebih berat dari yang sadar"
" Ya udah, kita angkat berdua, kunci dulu mobil Ga"
Tiiit, Arga menekan salah satu tombol pada remote mobil Alya. Berdua menggendong tubuh Alya memasuki ruang yang bertulisan UGD. Kedatangan mereka yang sedang menggendong Alya berdua langsung di sambut 2 perawat laki-laki dan satu perawat wanita berusia muda
" Kenapa mas?"
" Teman saya pingsan sus"
Alya langsung di rebahkan pada tempat tidur yang bisa di dorong. Mereka bertiga membawa Alya di satu ruangan pemeriksaan sedang Arga dan Roni duduk di bangku depan ruang pemeriksaan.
" Alya kenapa ya Ron?"
" Kecapean, dia kan terlalu semangat dengan laporan skripsinya"
" Gue rasa kecapean pikiran Ron"
" Iya Ga, kasian Alya ya, cantik-cantik bebannya banyak"
" Mending juga sih beban banyak cantik, kan parah kalau tidak cantik beban banyak, hahaha"
Tak lama keluar seorang perawat wanita yang tadi membawa Alya ke dalam ruang pemeriksaan
" Permisi mas, yang mana keluarganya?"
__ADS_1
" Kami temannya, keluarganya belum ada"
" Sepertinya pasien harus rawat inap mas"
Arga dan Roni saling berpandangan
" Iya sus, inapkan saja dia"
" Kalau begitu silakan ikut saya untuk mengurus administrasi"
Dengan kompak Roni dan Arga berdiri dan mengikuti suster menuju loket administrasi.
Mengisi formulir data pasien
" Mau ruangan yang mana mas?"
Arga dan Roni kembali berpandangan, tidak mengerti
" Kami menyediakan berbagai ruangan yang sesuai dengan permintaan pasien"
Jawaban seorang ibu yang berada di loket depan mereka seakan memberikan jawaban atas pertanyaan yang belum mereka tanyakan
" Tempatkan teman kami di ruangan paling bagus bu"
" Baik, silakan tunggu sebentar"
Setengah jam mengurus administrasi dan membawa Alya yang sudah siuman di ruangan Super VVIP. Sylvia dan Pak Agus pun ikut mendampingi Alya yang masih terbaring lemah dengan tangan dipasangi inpus. Pandu datang setelah mendapatkan informasi dari Arga. Pandu duduk di samping Alya
" Kenapa de sampai begini, lo kecapean ya?"
" Iya kali ka"
Sahabat-sahabatnya hanya memandang Alya dengan perasaan sedih, bukan karena Alya yang terbaring lemah, bukan juga karena inpus yang tergantung di depan mereka, tapi pada perasaan Alya. Iya, sesatu yang dipendamnya dan tidak bisa untuk dikeluarkan lagi.
" Mama sudah kukabari de, beliau segera kesini"
" Iya"
Alya menatap sahabatnya satu per satu, tanpa mengucapkan apapun, dia tau dengan tatapannya mereka tau Alya ingin berterima kasih atas pertolongan mereka.
Tiiit, panggilan telefon.
Kevin yang sedang memimpin meeting tidak menghiraukan suara ponselnya. Dalam bekerja harus totalitas, itu prinsip yang dipegangnya. Dan juga karena tidak mungkin Alya yang menghubunginya, selama ini juga tidak pernah. Mama pun tidak mungkin karena tau sekarang adalah jam kerja.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu membuat pembicaraan terhenti sebentar, satu karyawan yang duduk di depan pintu berjalan dan membukakan pintu. Seorang wanita dengan memakai blazer biru tua dan rok selutut menganggakukan kepala memberi hormat kepada peserta meeting. Dina, sekretaris Kevin yang berusia 30 tahun tapi terlihat jauh lebih muda dari usianya berjalan mendekati Kevin. Kevin menatapnya dengan mata tidak senang, kenapa Dina mengganggu meeting ku, siapapun relasi yang ingin bicara denganku sekarang tunda saja, atau ada tamu dari manapun suruh tunggu saja, begitu pikirnya saat Dina berjalan mendekatinya. Dina sedikit berbisik
" Maaf pak, ibu Risma baru saja menghubungi saya, katanya bapak tidak mengangkat telefonnya, saya bilang bapak sedang meeting"
" Kenapa mama menghubungiku sekarang? ada apa?"
Kevin mulai tidak enak perasaan, walaupun mama itu pengatur, cerewet dan apa maunya harus selalu dituruti, tapi mama selalu menghargai waktu dan sangat menghormati kesibukan keluarganya, sepenting apa berita yang akan di dengarnya.
" Pa, ibu bilang nona Alya sakit dan saat ini sedang di rawat di Rumah Sakit"
" Apaaa?"
Kevin tidak sadar mengucapkan kata dengan keras dan membuat peserta meeting menoleh padanya.
" Maaf saya permisi sebentar"
Kevin mengambil ponselnya yang sejak tadi ada disamping tapi tidak diperhatikannya, berjalan ke luar ruang meeting diikuti Dina
Tiit
" Assalamualaikum Kevin"
" Waalaikum salam mah, bagaimana keadaan Alya"
" Baru saja tante Siska menghubungi mama, katanya sudah di ruang inap, ada Pandu dan teman-temannya yang menemani, tante Siska juga sedang dalam perjalanan menuju kesana"
" Baik, saya akan terbang hari ini juga ke Yogya mah"
" Iya, kamu duluan Kevin, mama akan menyusul nanti"
" Iya ma, saya segera menemui Alya, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Klik
" Dina, saya harus ke Yogya sekarang. Tolong cancel semua kegiatan saya di minggu ini, pending tamu-tamu yang sudah ada janji bertemu dengan saya minggu ini. Om Yuda dimana?"
" Pa Yuda sedang ada meeting dengan tamu kita di rumah makan pa, satu jam lagi selesai"
" Saya tidak bisa menunggu selama itu, bilang semua yang ada di perusahaan ini selama satu minggu menjadi tanggung jawabnya"
" Baik pa"
" Dina, segera urus keberangkatan saya sekarang juga, cari pesawat dengan jadwal penerbangan hari ini juga, saya tunggu kabarmu secepatnya saya akan ke ruang meeting untuk menutup meeting"
" Baik pak, segera".
__ADS_1
Dina menatap punggung bos mudanya, bagaimana sih pak sosok yang bernama nona Alya itu, secantik dan seanggun apa dia? Begitu banyak gadis-gadis cantik dan berkelas yang menunggu untuk menjadi kekasihmu, kamu tinggal pilih saja. Bahkan di kantor ini saja, tidak terhitung wanita yang selalu mencuri-curi perhatianmu, tapi selalu kamu acuhkan. Kamu selalu tenang dalam menghadapi masalah di perusahaanmu ini, selalu bijaksana dalam mengambil tindakan. Tapi jika menyangkut persoalan nona Alya kamu selalu panik.
Setiap jadwal kepulanganmu ke Jogya setiap jum'at sore, kamu tidak akan menerima tamu atau relasi manapun, semua jadwal akan ditutup setelah shalat Jumat, tidak ada kegiatan apapun lagi selain pekerjaan rutin para karyawan. Dan sekarang nona Alya mu itu sedang sakit, semoga tidak parah agar pekerjaan di perusahaan tidak dibebankan kepadaku dan pak Yuda, om yang juga merangkap sebagai Asisten manager.