
Roni mengantar pulang Alya dan Afkar dari makan malam.
" Mampir dulu Ron?"
Ajak Afkar ketika mereka turun di kost Alya
" Enggak, ini mau antar Nanda lagi"
" Oh iya, terima kasih ya Ron"
" Siipp"
Afkar dan Alya memilih duduk di teras karena di ruang tamu sudah ada Yanti dan ka Hans.
" Ka, jadi pulangnya lusa?"
" Iya, aku sudah beli tiketnya"
Alya tertunduk lesu
" Ka, bisa enggak cari kerja disini aja"
Afkar menatap Alya mesra
" Sayang kenapa? takut?"
" Alya enggak mau lagi kita jauh ka".
" Sayang, aku juga berat meninggalkan, sayang akan semakin sulit untuk kupeluk dan rengkuh disaat sayang takut, dadaku jauh disaat sedihmu ingin berlabuh. Selalu aku bertanya pada siapa kamu akan berbagi cerita. Tapi banyak hal yang lebih penting dari rindu, masa depan"
" Ka, kita bisa mencoba dari nol, kita akan bersama melaluinya"
" Tidak seperti bayanganmu sayang, hidup ini berat, dan aku tidak ingin membaginya denganmu, aku hanya akan membagi bahagia, bukan membagi beban".
Alya memainkan jemarinya.
" Sayang, ingat enggak dulu aku kesini, kamu ngintipin aku?"
Afkar tidak ingin Alya bertambah larut dengan ketakutannya, kita cuma punya 2 hari lagi bersama, dan aku ingin menciptakan bahagia saja.
" Hehehe, ingat"
" Aku belum pernah nanya, ngapain dandan begitu?"
" Kaka enggak suka?"
" Aku lebih suka kamu yang asli, setelah shalat tadi cantik banget"
Alya tersipu
" Alya enggak bisa dandan ya ka?"
" Bagus, aku tidak suka wanita yang suka bersolek, oh iya, ngapain juga dulu sayang pake acara dandan segala?"
" Biar cantik, Alya kan mau cari perhatian kakak"
" Hahaha, terus?"
" Qa tau, kakanya cuek aja, Alya tungguin enggak ada nembak-nembak, padahal kayanya sudah Alya kasih kode keras"
" Aku minder sayang, pertama kali ketemu Roni aja aku sampe berasa hilang kepercayaan diri"
" Kenapa ka?"
" Iya, aku kan laki-laki, liat saingan berat ya harus tau diri, apalagi sayang sering bilang aku ceking, makin enggak ada harga dirinya"
Alya menepuk bahu Afkar
" Kasian banget ka jadi laki-laki"
" Bukan laki-laki nya, kasian Afkar nya sayang"
" Terus ka"
" Makanya aku enggak mungkin kan nembak dulu, aku cuma apa? mau bersaing bagaimana? aku takut sayang malu mengakui aku"
" Tapi bener ka, Alya enggak pernah memandang kaka begitu, Alya juga bingung, kok bisa suka sama kaka"
" Sekarang sudah punya jawabannya?'
" Belum"
" Hah, sampai sekarang aku belum ada kelebihan di matamu sayang?"
" Iya"
Alya tertawa melihat Afkar yang menaikan satu alisnya
" Enggak lah ka, Alya belum bisa menemukan kekurangan kaka, walaupun lebihnya juga belum ada, hahahaa".
Afkar mengacak rambut depan Alya.
" Besok sayang mau diajakin kemana lagi?"
" Terserah aja, kita tersesat lagi juga Alya mau, asal berdua sama kaka aja"
" Sayang makin berani ya?"
" Dampak terlalu lama digantung".
" Boleh aku tau sejak di taman malam itu sayang mulai menyukai aku?"
Alya tersenyum membayangkan lagi saat dia pertama kali merasakan jatuh cinta.
" Iya, Alya merasa sangat gugup saat melihat kaka tertawa waktu Alya cerita kejadian konyol Alya sama Arga dikampus, terus kaka ngajakin Alya ngobrol berdua, perasaan kaya mau di cabut malaikat maut"
"Heheh, emang tau rasanya?"
" kaya enggak bisa napas gitu, saluran-saluran dan organ tubuh Alya kaya enggak berjalan normal saat itu"
" Aku malah mikir aku salah ngomong, atau sayang itu punya penyakit ayan, Ya aku doain semoga cepat sembuh"
" Hah, jahat banget mikir Alya penyakitan"
" Tapi setelah itu, aku yang jadi penyakitan"
" Kaka sakit apa?"
" Sakit merindui setiap waktu"
Alya mencubit lengan Afkar dan tangannya langsung digenggam Afkar.
" Bisa tidak kalau ngobrol itu enggak usah nyakitin fisik?"
" Enggak"
" Ya sudah, tangannya biar ku pegangin aja biar enggak usil lagi". Afkar membawa jemari itu dan menciumnya.
" Apaan sih" Alya menarik-narik tangannya
" Sudah diam, terus lanjutannya apa?"
Alya merasa tidak akan bisa lagi menarik tangannya dari genggaman Afkar dan akhirnya meneruskan ceritanya
" Setelah itu setiap kaka datang Alya cari-cari perhatian, tapi dicuekin, sayang banget kaka melewatkan makhluk semanis Alya"
Afkar tertawa
" Yang paling bikin sebel, malam tahun baru kok nyariin Yanti bukan nyariin Alya"
" Nah itu kesalahan tekhnis sayang, aku bawa dua helm mau ngajakin sayang jalan-jalan, terus di depan pintu ada mba Cici, setelah salam aku mau minta panggilin sayang, ternyata mba Cici langsung manggilin Yanti, aku aja kaget, makanya setelah sayang jalan sama Sylvia dan Roni aku langsung pulang, dengan hati yang sakit lagi, meliat sayang jalan sama laki-laki lain yang penampilannya sangat keren, tampan, kaya"
" andai saja saat itu kaka ngomong mau ajakin Alya jalan, kita kan bisa jalan berlima, teman-teman Alya kan baik ka"
" Mana mungkin aku berani sayang"
" ka, di Surabaya kaka enggak punya cewe kan?"
" Kok baru ditanyain sekarang? aku sudah lama nunggu pertanyaan ini"
" kok nungguin Alya yang nanya?"
" Aku mau ditanyain, biar aku tau kalau sayang itu cinta sama aku"
" enggak kebalik ka?"
" Aku mikir, kita sempat bersama disini setengah tahun, kita jauh satu setengah tahun, dua tahun sayang, tapi sayang enggak pernah nanya apakah aku sudah punya kekasih, aku jadi berpikir, apakah sayang sama sekali tidak memperdulikan keadaan hatiku"
" Kaka juga tidak pernah nanya sama Alya"
" Aku cuma tidak siap mendengar kalau sayang sudah memiliki orang lain, aku kan sedang berjuang hebat disana"
" Sehebat apa?"
" Aku berjuang untuk masa depan kita, sayang tau, aku mau di ajukan buat pegang satu proyek tahun depan, kata asisten manager, kalau aku bisa memenangkan tender, aku dapat bonus, aku semangat sekali"
" Bonusnya buat apa?"
" Aku mau beli mobil, walaupun cuma yang second, tapi aku ingin sayang enggak kepanasan lagi, tidak kehujanan, apalagi kan ini sudah beda jurusan sama teman-teman, nanti akan jarang bisa sama-sama pergi dan pulang sama mereka, Sylvia juga sebentar lagi menikah, sayang akan lebih banyak melakukan kegiatan sendiri, makanya aku sangat semangat buat bisa belikan sayang mobil, walau yang murah, sayang enggak keberatan ka?"
" Kenapa beli mobil buat Alya, kaka kan juga enggak punya mobil?"
" Aku ada motor, dan kalau kemana-mana gampang naik taksi, lagian aku kan laki-laki, kalau pulang malam tidak beresiko, kalau sayang kan pergi sendiri naik motor atau taksi, bikin aku khawatir, aku sudah tidak bisa menemani karena jauh, aku ingin melindungi sayang dengan cara ini".
" Alya bisa kok minta sama papah atau ka Pandu, Alya tidak mau merepotkan kaka"
" Aku sama sekali tidak merasa direpotkan, bukannya alasanku untuk berjuang itu buat sayang?"
Alya mengangguk, rasanya ingin memeluk dan menangis di dada kekasihnya, begitu baiknya kamu ka, dengan kesederhanaan hidupmu, aku yang kamu pentingkan.
" Kenapa menangis lagi?"
Alya tertunduk dan tidak sadar air matanya menetes, segera di hapusnya dan langsung salah tingkah
" Sayang sedih cuma mau dibelikan mobil second yang murah ya?"
" Iya ka"
Jawab Alya berniat mengusili lagi.
Afkar tertawa sambil ikut menghapus air mata dari wajah kekasih yang sangat ia sayangi
" Jangan terlalu lucu dan manis seperti ini pada lelaki lain ya sayang, siapapun akan bisa jatuh cinta dengan kepolosan sayang seperti ini"
Sambil mencium tangan Alya dengan penuh rasa cinta. Alya tersenyum.
" Sudah jam 10 malam, istirahat ya, aku mau pulang"
" Ka, jadi besok gimana?"
" Sayang kuliah pagi kan? Aku kesini pagi-pagi buat ngantar, trus kaya tadi juga, aku nungguin, pulang kuliah kita jalan-jalan lagi"
" Kalau gitu kaka bawa motor Alya aja malam ini, biar besok pagi bisa jemput Alya"
Afkar mengangguk
" Ini pinjamin iklhas kan?"
" Mana ada yang gratis ka, ini cuma sogokan, biar nanti Alya dibelikan mobil baru yang mewah, jangan yang second dan murah"
Afkar tertawa dan merangkul pundak Alya
" Matre nya kekasihku, iya deh, abang kerja keras cari duit lagi, biar bisa belikan mobil yang mewah, kalau perlu yang di desain khusus buat bidadari abang, satu-satunya mobil yang ada di dunia"
" Itu sih kelewatan ka"
" kelewatan apanya?"
" kelewatan bohongnya"
" Hahhaa"
" Sebentar ka, Alya ambilin kunci motornya dulu".
__ADS_1
Alya masuk kedalam kost nya dan sebentar keluar lagi menyerahkan sebuah kunci pada Afkar.
" Aku bawa dulu motornya ya sayang"
" Iya, hati-hati ya ka"
" Iya, assalamualaikum"
" Waalaikum salam, dah ka Afkar".
Bisanya aku jatuh hati sama lelaki sederhana yang terlalu baik ini, si amor ternyata tidak salah membidik panah, tepat sasaran.
Notifikasi, ting
Ka Afkar
" Assalamualaikum"
Bidadari
" Waalaikum salam"
Ka Afkar
" Sudah bangun sayang?"
Bidadari
" Duuh manisnya sapaannya pagi ini, Sudah mandi malah".
Ka Afkar
" Aku jemput jam berapa?"
Bidadari
" Terserah kapan bisa"
Ka Afkar
" Aku mandi dulu ya, habis itu aku jemput"
Bidadari
" Alya juga mau dandan"
Ka Afkar
" Dandannya enggak usah terlalu cantik, ini aja aku sudah berasa qa bisa ninggalin sayang lagi"
Bidadari
" Kalau gitu Alya mau dandan secantik-cantiknya biar ka Afkar qa jadi pergi"
Ka Afkar
" Hehe, udah ya sayang, aku mandi dulu, Assalamualaikum"
Bidadari
" Waalaikum salam"
Ka Afkar
" Emuuuaah"
Bidadari
" Apaan itu"
Ka Afkar
" Salam cinta, kan kita belum halal, enggak boleh melakukan salam cinta begitu secara fisik, lewat gini aja"
Bidadari
" Satu lagi nih penemuan yang bikin Alya melayang-layang"
Emo amor pun bertebar-tebar.
Alya menuruni tangga dan berjalan menuju teras. Seperti kemarin Afkar menyambutnya dengan tersenyum, dan hari ini tidak disambut dengan caci maki, tapi pujian
" Ganteng banget pacar Alya, enggak salah pilih ternyata"
Afkar tertawa
" Alhamdulillah, kayanya hari ini hidupku lebih baik karena pagi-pagi sudah dapat pujian dari bidadari".
" Yaaach, pagi-pagi Alya sudah bikin dosa"
" Kenapa sayang?"
Afkar terlihat panik
" Barusan yang Alya omongin tadi bohong"
" Sayaaaang"
Afkar menggelitik pinggang Alya gemas. Alya terloncat-loncat nenahan geli.
" Bisa qa sama aku romantis kaya pasangan lain, aku dihujat terus"
" Salahnya milih Alya jadi pacar kaka, coba pacaran sama yang lain, enggak begini nasib kaka"
" Ooh, jadi boleh nih aku jalan sama yang lain?"
Afkar mendekatkan wajahnya sambil menggoda
" Boleh asal qa ketahuan, kalau ketahuan Alya ulek campur di sambal"
" Wuiiih seramnya, enggak jadi deh"
" Memang kaka ada niatan?"
Sambil mencium pucuk rambut Alya, Alya tersipu. Kok rasanya pengeen aja diperlakukan begini, berasa sangat dicintai.
" Kita mau sarapan di mana sayang?"
" Terserah ka, bubur ayam yang kaka kasih ke Alya dulu enak"
" Boleh, yuk"
Sambil menggandeng Alya ke halaman tempat Afkar memarkir motor Alya.
" Tangan sayang kecil banget, kapan ada rencana gemukin badan?"
" Enggak ada, biar aja kurus, kaka enggak malu kan punya pacar kaya Alya". Sambil memasang helm dan menguncinya
" Aku bahagia banget, mana mungkin aku malu, kayanya pengen aku ceritain ke dunia deh kalau sekarang sayang itu milikku". Afkar menyalakan mesin motornya
" Pegangan sayang, abang mau bawa ke langit ke tujuh".
Alya menonjok bahu Afkar, kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang kekar Afkar dan menyandarkan kepalanya di punggung itu.
" Bawa eneng kemana aja bang, asal berdua eneng rela".
Afkar menggenggam tangan Alya yang ada dipinggangnya dengan tangan kirinya, motor melaju tenang diantaran kendaraan lain di jalan yang belum terlalu ramai karena masih sangat pagi. Setelah sarapan bubur ayam, Afkar mengantarkan Alya ke kampus
" Mau nunggu Alya dimana ka?"
" Aku mau balik ke hotel dulu, mau istirahat, kan nanti kita mau jalan-jalan lagi"
" Kita mau kemana sih ka"
" Sebenarnya aku mau banget ketemu mama papa sayang, mau minta izin buat mencintai dan akan bertanggung jawab dengan putri mereka". Alya terhenyak
" Tapi kayanya waktunya tidak cukup ya, kesana memakan waktu 5 jam, ngobrol sebentar, balik kesini lagi 5 jam. Sayang aja pulang kuliahnya jam setengah 11"
Alya langsung setuju, mana mungkin Alya memberi tahu berita yang sangat membahagiakan Alya ini kepada mereka.
" Iya ka, kapan-kapan aja"
" Besok aku harus sudah pergi lagi"
" Kaka masih akan pulang kesini lagi kan? nanti ambil cuti yang panjang ya ka".
Alya bersikap sok bijak, Afkar mengangguk
" Terima kasih sayang mau mengerti"
Alya tersenyum, selamaaaaatt gue kali ini, huuh, kok aku baru mikir akan ada kejadian begini. Kepalanya mendadak pusing, tapi segera diusirnya pikiran yang mau permisi ke otaknya
" Ka, Alya masuk dulu ya. Nanti jemput jam setengah 11".
Afkar mengangguk
" Langsung masuk kan sayang? enggak ada yang ketinggalan lagi, biar enggak bolak-balik kaya kemarin"
Alya tertawa, kapan aku bisa tidak salah tingkah di depan pujaan hatiku ini.
Afkar merebahkan diri di tempat tidur setelah mengantar Alya. Memandangi foto mereka kemarin. Inginnya aku selalu bisa memberimu tawa ini, akupun sangat tidak ingin jauh, tapi jika aku masih disini, aku tidak akan maju, aku ingin berhasil, berpenghasilan dan bisa memberikanmu kenyamanan. Aku tau kebahagianmu bukan terletak dari materi, buktinya saat aku masih menjadi OB kamu sudah mencintaiku, bahkan ketika aku pergi, kamupun tidak bertanya apa pekerjaan ku, berapa penghasilan ku, apa yang sudah kutabung, bagaimana perekonomian keluargaku, dan saat aku datang sekarang pun, saat aku sudah menjadi kekasihmu,kamu sama sekali tidak bertanya apapun selain menanyakan hatiku. Sekarang aku memang sudah jauh lebih baik dari saat pertama kamu mengenalku, tapi jujur sekarang aku memang belum memiliki apa-apa,. Aku masih tinggal di rumah khusus karyawan, aku sudah membeli motor baru, aku juga sudah mempunyai tabungan walau belum banyak, tapi seandainya satu waktu kita akan berat menjalani cinta berjarak ini, aku tidak kaget dan bisa membiayai pernikahan kita asalkan tidak semewah pesta ka Pandu. Beri aku waktu dulu sayang, aku sedang berusaha. Tapi aku yakin, dengan kita bersama ini, aku semakin kuat.
Arloji Alya sudah menunjukan jam setengah sebelas lewat 10, Ka Afkar kenapa belum menelfon ku
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam, sayang dimana?"
" Di lantai 2, kaka dimana?"
" Aku di depan kampus"
" Iya tungguin, Alya turun". klik
" Kok telat siiih, jangan bilang macet ya"
" Tadi aku mampir ke bengkel, service motor sayang, ban nya sudah aku ganti, oli, aki juga sudah aku ganti"
" Ngapain kaka perbaiki? perasaan enggak ada masalah?"
" Nunggu masalah dulu baru diperbaiki, lebih baik di cegah kan? Aku khawatir aja nanti habis aku pulang, motor sayang ada kerusakan".
Alya begitu kagum pada Afkar, hal yang begini diperhatikan? Alya sama sekali tidak pernah perduli dengan kesehatan motornya, selama bisa nyala dan jalan, gue pikir semua sehat-sehat aja, luar biasa pacar gue.
" Makasih ya ka, jadi enak nih"
" Sama-sama sayang, kita sudah bisa pergi?"
" Lets gooo"
Alya memakai helm duduk di belakang Afkar
" Hari ini ada kejutan apa lagi ka?"
" Enggak ada kejutan, aku mau ajak jalan sayang ke taman bunga, mau?"
" Mauu, ada tempat buat foto qa ka?"
" Kayanya sih memang bertujuan untuk pengunjung bisa foto deh yang"
Jawab Afkar, heran sama Alya, pertanyaan enggak penting ditanyain, yang harusnya penting sama sekali dia tidak peduli.
Taman ini memanjakan mata dengan berbagai tanaman langka, unik dan pastinya cantik, saat memandangnya hati akan terasa nyaman dan sejuk, apalagi tertata apik akan melengkapi nilai estetik. Beberapa spot foto sudah mereka coba, Alya tertarik dengan labirin
" Ka, kita masuk labirin yuk"
" Nanti sayang pusing lagi"
" Alya jangan di puter-puter lagi dong"
" Kalau kita terjebak di dalamnya bagaimana?"
" Jangankan labirin yang akan banyak pertolongan dari penjaga, di perangkap hati kaka aja dua tahun terjebak tanpa kejelasan, Alya bisa melaluinya"
__ADS_1
" Sayaaang, jangan bikin aku tambah menyesal dong"
" Heheee iya,, enggak lagi ngomong itu hari ini, besok aja lagi"
" Sayaaang". Afkar pura-pura melotot.
Tangan Alya sudah langsung menggandengnya untuk masuk ke labirin, Afkar pun dengan sangat tidak keberatan mengikuti Alya.
" Ka,, terima kasih ya untuk yang sudah kaka lakukan ke Alya"
" Sudah sepantasnya sayang kamu mendapatkannya seharusnya lebih dan sudah lama kamu dapatkan"
" Ka, rasanya Alya tidak ingin sedetikpun memejamkan mata, agar Alya selalu bisa memandang keajaiban yang terjadi pada Alya sekarang, dan semua ini sangat berarti. Apapun yang kaka katakan dan lakukan ke Alya sangat sempurna". Alya bergelayut di lengan Afkar, seakan tidak pernah ingin melepasnya.
" Lakukan apapun yang sayang mau, lakukan sebanyak apapun yang sayang perlu, aku masih disini".
"Alya tidak ingin berandai, karena itu seakan menyesali keadaan, Alya hanya ingin membuat pengharapan, kita bisa lebih lama lagi seperti ini".
" Sayang, aku mempercayakan kapal ini akan kita nahkoda berdua, tapi harus kita kuatkan pondasi nya, perjalanan kita akan sangat lama, sampai maut yang memisahkan, kita tidak boleh hancur dengan angin atau badai yang mungkin nanti akan sempat menjumpai kita dengan caranya. Jika kita berlayar sekarang, kita hanya punya dinding dan hiasan, sementara layar belum kita siapkan"
Mereka kembali diam dengan pikiran masing-masing tapi dengan tujuan yang sama.
" Ka, Alya cape"
" Ya udah, kita duduk dulu".
Mereka duduk di atas rumput yang hijau dan bersih, sekeliling mereka hanya labirin tanpa tau ujungnya dimana.
" Ka, seandainya nanti, kita akan bertemu dengan angin atau badai yang seperti kaka bilang tadi, bagaimana?"
" Kita hadapi"
Alya memandang wajah tenang Afkar yang juga sedang memandanginya.
" Kenapa sayang?"
Alya menggeleng
" Ka, apapun yang terjadi, tetap kuat ya, dan kaka harus percaya Alya sangat cinta ka Afkar"
" Bukanya sayang bilang membenciku"
Goda Afkar sambil meraih dagu Alya dan sekarang wajah mereka sudah sangat dekat
Deeegg deegg mau ngapain? mau ngapain? tanda-tandanya udah mirip kaya di film romantis begitu. Mata mereka sudah beradu dan hidung mancung Afkar hampir sudah menyentuh hidung Alya.
" Kenapa sayang ngomong begitu?"
Wajah Afkar kembali menjauh, huuuhh hampir saja, hampir gila aku membayangkan, ngapain tadi dekat begitu sih, oksigen bantu aku.
" Enggak apa-apa"
" Sayang, kita ngomongin yang lain aja ya, ini kan aku mau bikin kamu senang"
" Iya"
" Ya udah sayang ngomong"
" Mau ngomong apa?"
" Biasanya sayang banyak ide"
" Ya entar lah, belum ada ide"
" Whahaah, tumben belum ada ide". Mengusap rambut Alya lembut.
" Ka, nanti sore kita ke kedai kopi langganan Alya ya"
" Boleh"
" Alya mau ngenalin sama Bowo, pemilik kedai rese itu, dia selalu bilang kapan Alya kesana gandeng pacar, gandeng gitar terus, Alya selalu bilang nanti. Hari ini Alya mau bawa barang bukti, ini ni pacar gue"
" Sayang memang sering kesana?"
" Sering ka, dia teman sekampus Alya, dia juga tau Alya bukan pacar Arga, makanya dia selalu meremehkan Alya, dikiranya Alya enggak ada yang naksir kali"
" Emang ada yang naksir?"
Alya menarik hidung Afkar
" Aww, sakit sayang"
" Ini yang di depan Alya enggak naksir?"
" Enggak"
Huuh, Alya cemberut
" Aku enggak perlu naksir, tapi aku mau menikahi sayang langsung"
" Ooh so sweet nya,,,"
Muka Alya sudah kaya kepiting rebus.
" Kapan kita jalan lagi? Apa kita nginap di labirin ini aja?"
" Boleh, sesekali kita nginap di outdoor begini"
" Beneraan??? ini kalau malam gelap, seraaamm, terkadang ada suara-suara aneh gitu"
Alya memandang sekeliling, walaupun ini masih siang, tapi mereka tidak punya pemandangan apapapun selain dikelilingi labirin yang berbelok-belok, membayangkan saat gelap mereka berdua disini, hiiiii
" Ka, jangan nakutin"
" Memang begitu, nih ada di titik mana kita enggak tau kan, mau lari, lari kemana?"
Alya memeluk tubuh Afkar
" Alya takuut"
" Tenang sayang, aku disini"
Afkar membalas pelukan Alya sambil mengelus rambutnya dan sesekali mencium wangi rambut itu, berhasil lagi rencanaku,hehehe.
Setelah 15 menit mencari jalan keluar, akhirnya mereka terbebas dari labirin itu. Sebelum pulang mereka makan siang di tepi jalan di sebuah warung sederhana. Memesan 2 porsi ayam goreng dan 2 gelas es teh, makan apapun dan dimanapun saat bersama Afkar seperti sedang menikmati makanan mahal di restoran mewah.
Seorang pengamen mendekati dan mulai memainkan gitarnya
" Mas, boleh minta lagu Cinta luar biasa?"
Afkar merequest lagu pada pengamen muda itu
" Boleh mas"
" Khusus untuk calon istri saya" sambil menggenggam tangan Alya, Alya ingin menarik tangannya dari Afkar karena beberapa pengunjung yang makan disitu mulai melirik ke arah mereka.
Si pengamen mulai memetik gitar dan bernyanyi di samping mereka
Waktu pertama kali
Kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa
Geloranya hati ini tak kusangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Hari-hari berganti
Kini cinta pun hadir
Melihatmu, memandangmu bagai bidadari
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggun terikat
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia…
Sambil mendengar lagu Afkar tidak melepaskan genggaman tangannya dan memandang Alya, sedangkan Alya beberapa kali tertunduk malu, kamu terlalu sederhana ka, tapi setiap perlakuanmu sangat membuatku bahagia, entah karena memang aku sudah memulai dengan mencintai lalu semua terlihat indah, atau karena perlakuanmu yang luar biasa ini yang membuat cintaku menjadi indah dan menjadi sangat indah.
" Alya sayang ka Afkar"
Bisiknya di telinga Afkar, Afkar terkejut.
Diapun mendekatkan bibirnya ingin berbisik ke telinga Alya, dan tiba-tiba
Sebuah kecupan mendarat di pipi merah Alya.
" Kaa, Alya malu, diliatin orang"
Sambil mencubit tangan Afkar
" Biarkan saja, anggap mereka enggak ada, kata pepatah kan kalau sudah cinta dunia milik berdua"
" Berdua apaan, tuh pengamen sudah selesai nyanyi, bayarin".
Afkar memberikan uang pada pengamen itu
" Makasih ya mas"
" Sama-sama om"
Alya langsung terbahak
" Hah dipanggil om, whahaaa, tua banget pacar Alya"
Afkar mencolek-colek pundak Alya karena tawa Alya yang kencang membuat pengunjung menoleh pada mereka
" Bisa tidak sayang tidak membuat keributan?"
" Kan dunia milik berdua, bebas aja lah"
Afkar memandang kekasih uniknya
" Kalau becanda liat kondisi dan keadaan sayang" Bisiknya pasrah sambil melepas rangkulan tangannya.
__ADS_1