Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Pernikahan


__ADS_3

Yogya, Februari.


Dekorasi pelaminan minimalis berwarna putih, sengaja menerapkan tema putih dengan tujuan pernikahan yang sakral serta memang tidak ingin terlau banyak warna. Vendor yang ditunjuk mampu menciptakan backdrop yang minimalis dengan gorden yang warnanya sesuai dengan warna utama konsep pernikahan ini. Keluarga Alya ingin pelaminan yang terasa natural, maka digunakanlah gorden warna putih yang kemudian dihiasi dengan tanaman menjalar dan dilengkapi dengan adanya bunga-bunga warna senada.


Karena konsepnya minimalis, bunga pun tidak perlu diberikan secara berlebihan, cukup beberapa tangkai di berbagai sisi backdrop Agar tidak terlalu polos, ditambahkan beberapa bunga asli yang ditaruh di dalam lentera lama yang diletakkan pada sisi kanan dan kiri backdrop pelaminan.


Sejak pagi tadi Alya sudah di rias oleh tangan perias yang sudah ditunjuk oleh wedding organizer, kulit putihnya enteng saja menerima perlakuan apapun dari tangan make-up artis. Tidak terlalu tebal, alis tanpa dicukur karena permintaan papah, hanya diberi garis tebal, wajah di poles dengan beberapa bedak dan kuas, entahlah apa namanya, Alya hanya diam dan menutup matanya saja saat di rias, tidak terlalu lama wajah manisnya sudah berubah menjadi wajah bidadari.


Mama beberapa kali masuk ke kamar dan memastikan dandanan Alya tidak mencolok, sesekali terdengar obrolannya dengan perias


" Puteri kami ini tidak pernah kenal sama yang namanya dandan, dia cuma tau bedak padat sama lipstik"


" Pantas saja tante, wajahnya langsung berubah begini, sangat cantik"


Alya kembali mengingat pesan mama dulu saat dia merengek minta belikan alat makeup, mama bilang jangan, kalau sudah kenal makeup nanti saat pernikahan wajahnya tidak berubah, berarti mitos yang tidak kupercaya ini benar.


Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukan angka tujuh, para tamu dan kerabat sudah berhadir dan duduk di ruang tamu dan halaman. Sylvia pun sejak subuh tadi sudah berada di rumah Pandu demi menemani sahabat wanita satu-satunya yang sebentar lagi akan menikah.


" Syl, gue gugup"


" Santai aja Al, biar ka Afkar aja yang gugup, hehehe"


" Gue cantik tidak Syl?"


Sylvia mengacungkan dua jempolnya


" Cantik banget, perlu gue pake jempol kaki juga".


Alya mencibir.


Tasya masuk ke kamar


" Ka, rombongan datang, ka Afkar ganteng banget pake jas pake sarung"


Tasya membuka ponsel dan membuka galerinya, terlihat lelaki bertubuh tinggi dengan hidung mancung memakai jas hitam, peci hitam dan sarung.


" Huuuh, gue tambah gugup Syl"


" Udah diem aja lo, Arga sama Roni juga di depan memberikan semangat ka Afkar biar latihan mereka tadi malam di hotel lancar dan sukses"


Alya mengangguk.


Pesan masuk group WhatsApp, lima foto dan satu video, Alya membuka pesan yang dikirim Roni.


" Cakep banget Syl ka Afkar, eh pak Wijaya juga ikut"


" Ayah angkatnya itu Al?"


" Iya, Aprill ikut tidak ya?"


" Enggak kelihatan tamu nya Al, cuma ka Afkar sama beberapa pendampingnya saja".


Terdengar pengeras suara dari ruang tamu.


Pembacaan ayat suci Alquran, hening sekali, dan pelantunnya membawa ke suasana haru.


Dilanjutkan khotbah nikah dimana berisi tentang pembekalan pernikahan.


Dan acara sakral pun di mulai. Terdengar suara penghulu lantang


" Saudara Muhammad Afkar Rahadian Bin Sanjaya, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Alyana Puteri Pratama Binti Rangga Pratama dengan maskawinnya berupa cincin berlian dan seperangkat alat shalat tunai"


Afkar pun tidak kalah lantang sambil terus berjabat tangan dengan penghulu yang duduk di depannya menjawab


"Saya terima nikah dan kawinnya Alyana Puteri Pratama Binti Rangga Pratama dengan maskawinnya yang tersebut diatas tunai.”


" Sah? sah? Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir. Alhamdulillah"


Alya meneteskan air mata dan langsung memeluk Sylvia


" Al, jangan nangis, eh dandanan lo rusak. Duuh nangisnya entaran aja, Al,,"


Alya melepas pelukannya, segera Sylvia menempelkan tisu pada pipi sahabatnya


" Senyum dong, sekarang lo sudah halal, jadi istri ka Afkar".


Pandu masuk ke kamar dan menjemput Alya


" De, sudah bisa keluar, tanda tangan buku nikah, eh ngapain mata lo nangis? hapus dulu Syl"


Sylvia kembali menempelkan tisu pelan ke pipi Alya


" Sudah Al, kasian tamu menunggu, apalagi ka Afkar, pasti enggak sabar tu dia, hahhaa".


Pandu menggandeng adiknya dan membawa ke samping Afkar, Alya tidak berani menoleh sama sekali, kebaya putihnya sudah berdampingan dengan jas hitam Afkar, begitupun Afkar tidak berani menoleh.


Penghulu mulai menggoda


" Kenapa diam-diaman? ooh mereka ini sedang latihan ya, karena nanti malam akan banyak bekerja daripada banyak bicara, Alya semakin tersipu sementara Afkar memberanikan menoleh padanya. Uuupp, ini istriku? aku panas dingin sayang, tapi melihat wajahmu aku akan normal lagi.


" Boleh tanda tangan di sini"


Seorang di samping penghulu ber jas hitam membuka dua buku kecil bertulisan buku nikah dan sudah ada foto mereka


" Silakan tandatangani di sini"


Afkar meraih pena di atas meja dan menandatanganinya, bergantian kemudian Alya.


" Sekarang berhadapan, pengantin wanita mencium tangan mempelai pria, sebagai tanda akan selalu tunduk dan menghormati suami"


Alya dan Afkar mengubah posisi duduknya dan sekarang sudah saling berhadapan, Alya baru berani menatap Afkar


Hah, ini ka Afkar? suami gue?? astagaaaa kenapa gantengnya kebangetan sih hari ini, gemetar lagi gue,, jatuh cinta lagi gueee, bersarung berjas berpeci, deg deg deg jantung,,,jantung toloooong.


Perlahan Afkar mengulurkan tangannya dan di sambut Alya dengan menciumnya.


Setengah berbisik


" Semoga menjadi istri sholehah sayangku"


Alya perlahan mengangguk tanpa berani lagi menatap wajah Afkar yang menggilai hatinya lagi. Porak poranda di dalam isi tubuh ku ka, kembali jatuh cinta padamu.


Selesai dengan penanda tanganan surat dilanjutkan dengan meminta restu orang tua dan keluarga. Pertama papah, pelukan yang biasanya diiringi dengan kekonyolan papah yang sering menggelitiki pinggangnya kali ini lama dan erat.


" Papah serahkan kamu pada suamimu nak, papah percaya keberkahan keluarga akan diberikan jika kamu taat padanya. Dewasalah mulai sekarang nak, semoga kehidupan kalian mendapat rahmat"


Alya kembali mengucurkan air mata, Sylvia dengan sigap kembali menempelkan tisu ke pipi Alya, dilanjutkan mama


" Maafkan mama nak, semoga bahagia"


Mama memeluk Alya tanpa bisa berkata lagi, segala yang pernah terjadi pada Alya adalah karena tindakan dan keputusan para orang tua yang terkadang melupakan keinginan anaknya, tapi Alya juga sudah melupakannya, dia bahkan bersyukur semua membuatnya dewasa.


Kali ini Afkar yang mencium tangan papah


" Afkar, sekarang kamu adalah anak kami juga, kami menitipkan kesayangan kami padamu, jaga dan bahagiakan dia, dia sudah terlalu lama dengan kesedihannya"


" Iya pah"


Dan mama, pelukan mama kali ini lebih erat daripada pelukannya pada Alya


" Afkaar, mama tidak tau bagaimana meminta maaf padamu, mama selalu mendoakan kalian"


" Sudahlah ma, kami sangat merelakannya, doakan saja kami"


" Tentu saja nak"


Seorang wanita tersenyum menyambut Afkar dan memeluknya


" Ibuuu"


" Semoga bahagia nak, jadilah suami yang bertanggung jawab, setelah ini kamu akan mempunyai beban membawa istri dan anak-anak kalian menuju Syurga Nya"


" Iya bu"


Disampingnya duduk pak Wijaya.


Afkar memeluknya dan kali ini tidak bisa untuk tidak meneteskan air mata


" Afkaaar, hentikan tangisanmu, biar saya saja yang tau kelemahanmu begini, malu sama istri, hehehe"


Afkar melepaskan pelukannya


" Pak, terima kasih untuk semuanya, saya akan tetap bersama bapak sampai maut yang memisahkan kita"


Pak Wijaya mengangguk


" Saya percaya kamu nak, tegaplah, kamu sudah menjadi orang baru sekarang, seorang suami, betapa hebat kan status barumu? hehehe".


Diakhiri dengan foto bersama, sebagian tamu keluar dari ruangan dan menyantap hidangan yang tersedia di teras dan halaman rumah Pandu yang sudah diberikan tenda-tenda tempat para tamu bisa menikmati hidangan.


Afkar dengan cepat mendatangi Arga yang berdiri memegang kamera handycam nya, memeluk dengan erat


" Arga, entahlah kapan aku bisa membalas jasamu, kami melewati begitu banyak rintangan ini, tapi kamu selalu ada dan rela membantu. Aku tidak perduli apapun perlakuan dan ucapan konyolmu, aku juga minta maaf aku sering membuatmu kesal. Semoga semua kebaikanmu akan dibalas dengan berlipat ganda"


Afkar melepaskan pelukannya


" Alya sahabat kami, lo sahabat kami, apapun selama bisa pasti akan kami lakukan"


Afkar memeluk Roni


" Terima kasih sudah menjaga Alya dengan sabar, jika kalian perlu bantuan kami, aku pasti akan semampunya membantu"


Roni menepuk pundak Afkar


" Jangan terlalu berterima kasih, nanti kami minta balasan lho, hahahha".


Sylvia mendekati mereka


" Ka Afkar, ingat janji ya, jangan memisahkan kami terlalu lama kami akan sangat merindukan kalian"


" Iya, Alya akan pulang sesuai dengan jadwal pertemuan kalian selama ini, jangan takut".


Mereka memandang Alya yang sedang di potret fotografer di pelaminan


" Liat aja Alya noh, belagu banget gayanya, sudah kaya model aja"


" Ron, dia bukan Alya kita lagi, istri orang, ngomong seenaknya"


Roni menutup mulut dengan tangannya


" Uuuppss, sorry Afkar, hehehe"


" Tidak apa, selamanya dia masih menjadi Alya kalian".


Alya melambai ke arah mereka


" Yuk kita foto bareng".


Pelaminan sederhanapun berubah menjadi pelaminan huru hara, baru saja mama mewanti mereka agar jaga sikap, tapi apa daya situasi begini di luar kendalinya.


Beberapa tamu mulai meninggalkan rumah Pandu


" Jangan lupa nanti malam ya"


" Jeng Febi, nanti malam lo ya"


" Mbak Mita, nanti malam seluruh keluarga ya"


" Mas Raka istri sama anaknya nanti malam di ajak juga"


Setiap tamu yang berpamitan akan selalu diberikan mama pesan untuk datang kembali ke acara resepsi di gedung serba guna yang sudah disiapkan pihak weeding organizer.


" Kami pulang dulu tante, mau istirahat, ibu sudah capek"


Ka Mia mendekati mama yang dari tadi sibuk dengan tamu-tamunya.


" Lho, tidak istirahat di sini saja?".


" Acaranya nanti malam juga kan, ibu seperti nya perlu istirahat"


Mama mendekati ibu dan duduk disampingnya


" Mbak mau istirahat di sini atau di hotel?"


Ibu tersenyum


" Di hotel saja, tidak apa-apa kan?"


" Ooh tidak apa-apa, tapi nanti sebelum magrib ke sini dulu ya, soalnya perias kita semua di sini meriasnya"


Ka Mia mengangguk


" Kami tidak usah di rias mbak, mungkin Nanda saja"


Mama menoleh ke arah Nanda


" Si cantik kelas berapa sayang?"


" Dua SMA tante"

__ADS_1


" Oh iya, nanti Nanda di rias ya, minimalis saja, Alya juga begitu dulu, tidak pernah tante kasih izin, sampai sekarang tidak pernah dandan, hehehe"


Afkar mendekati keluarganya yang sudah berdiri dan bersiap untuk pamit


" Pulang sekarang ibu? ayo"


Ka Mia menepuk pundak Afkar


" Kamu mau kemana?"


" Ke hotel kan?"


" Hahaha, kamu sudah jadi suami, ya temani istri mu di sini Afkar"


Afkar melongo, jadi aku harus sudah bersama Alya mulai sekarang?


" Iya, lagipula nanti capek kamu bolak-balik, siapkan stamina mu saja buat nanti malam, hehehe"


Ka Dani suami ka Mia ikut menggodanya.


Kali ini Afkar tertunduk lagi, kenapa semua harus menggoda di saat banyak orang begini sih?


" Kamu di sini saja Afkar, nanti sore kami ke sini lagi"


" Iya ka Mia".


Tamu sudah pulang, yang tertinggal hanya keluarga besar yang memang menginap dan tidak kemana-mana, weeding organizer yang membereskan catering dan sahabat.


Alya sudah melepas sanggul dan kebayanya, sekarang lebih leluasa dengan dress nya dan wajah polos lagi. Sedang Afkar masih memakai kemeja putih tanpa jas.Menikmati makan siang yang belum mereka nikmati saat acara berlangsung tadi. Duduk di ruang keluarga dengan lesehan


" Afkar, lo kan mau bayarin jasa kami karena sudah jagain Alya, boleh gue minta?"


Afkar mengangguk.


" Kalau aku bisa pasti kuberikan, apa Ga?"


" Gue mau minta sarung lo, siapa tau habis lo, gue yang akan nikah"


" Boleh, tapi tidak sekarang"


" Kenapa?"


" Aku tidak bawa baju ganti, kalau sekarang aku pakai apa?"


Arga dan Roni langsung terbahak


" Bukannya lo memang sudah saatnya tidak pakai apa-apa".


Afkar ikut tertawa, mama yang kebetulan lewat dan mendengar langsung panik


" Afkar tidak bawa pakaian ganti?"


Afkar menggeleng


" Saya pikir tadi habis acara langsung ke hotel lagi"


" Panduuuu"


Mama langsung sibuk mencari Pandu


" Iya ma, kenapa ribut lagi?"


papah yang lebih santai duduk di meja makan dengan om Fauzan saudara beliau menyadarkan agar mama tidak terlalu sibuk


" Pandu mana? Afkar tidak bawa pakaian ganti, pinjemin dulu"


" Baru punya mantu lelaki sudah sayang banget ka Siska"


Om Fauzan tertawa, kakak iparnya ini memang selalu bersikap konyol dan diturunkan pada ketiga anaknya.


" Bukan begitu Zan, kakak cuma khawatir dia tidak punya baju ganti, lalu nanti di kamar lepasin baju, karena tidak punya baju ganti lalu tidak pakai baju, ngapain si Alya"


" Lho, sudah sah ini kenapa ditakutin?"


" Itu nanti, bukan sekarang, tidak seru nanti Alya kalau tiba-tiba siang bolong begini Afkar menunaikan tugas pertamanya, jangan sampai jangan sampai"


Tawa papah dan om Fauzan diikuti tawa Roni dan Arga yang ikut nguping karena sengaja


" Whahahaa, kasian banget lo Afkar, punya mertua di batasin jatah begini, mending lo berdua ikut ke hotel tuh"


" Iya Ga, tapi lucu juga nih kalau misalnya Afkar sama Alya ke hotel melarikan diri dari tante, tapi tetap diikutin tante, whaahaaa"


Afkar hanya garuk-garuk kepala, aku sudah terjerumus ke dalam keluarga ini, sepertinya aku memang akan semakin terjerumus juga dengan tingkah mereka.


Ketiga sahabatnya berpamitan pulang setelah menikmati makan siang dan akan beristirahat untuk mempersiapkan tenaga lagi untuk nanti malam yang akan meriah, Afkar sudah mengundang beberapa artis dalam kota untuk hiburan nanti malam dan itu membuat sahabat sangat antusias.Pandu meminjamkan baju kaos santai miliknya kepada Afkar.


" Ini pas sama kamu, kita kan tidak jauh beda, cuma perutku saja sekarang lebih besar, habisnya di bikinkan momy Danish masakan enak terus tiap hari, hehe"


" Iya, saya pinjam dulu ka".


" Oke"


Pandu meninggalkan mereka.


" Sayang, aku ganti baju di mana?"


" Ya di kamar mandi lah"


" Kamu tidak punya kamar?"


" Punya, masa ka Afkar masuk kamar Alya"


Afkar berbisik


" Sayang sudah jadi istri ku kan?"


" Oh iya, ya udah masuk aja, Alya tunggu di sini"


Afkar mencubit pipi Alya


" Masa iya aku sendiri di dalam kamu di sini"


" Terus masuk berdua? iih enggak masuk aja sendiri"


" Sayang, masa begitu sih, suami apa aku masuk di kamar ganti baju istrinya nungguin di depan kamar, kaya lagi berantem aja"


Alya diam


" Tapi jangan apa-apa ya?"


" Mikir apa sih kamu, jangan-jangan mikirin apa yang lagi aku pikirkan, hehehe"


" Apaan sih, ya sudah masuk berdua"


Afkar mengikuti Alya berjalan masuk ke kamar dan melewati beberapa keluarga yang sedang santai duduk dan berbaring di ruang keluarga.


" Ka, Alya merasa kita di awasi deh masuk kamar berdua begini"


" Terus bagaimana?"


" Pintunya Alya buka saja ya"


" Jangan, aku mau ganti baju, dan badanku pegal, mau istirahat sebentar, masa aktifitas kita terlihat mereka semua?"


" Terus bagaimana?"


Afkar duduk di tepi tempat tidur


" Biasanya orang bagaimana ya?"


Alya menggeleng


" Mana Alya tau ka"


" Ya sudah aku ganti baju dulu, baru nanti kita pikirin"


Afkar melepas kemejanya dan sekarang tinggal baju kaos dalaman putih, Alya melongo, sekarang tangannya sudah mulai bergerak untuk melepas pakaian atas terakhir itu


" Eeee tunggu ngapain?"


" Mau ganti baju kan?"


" Kenapa dilepasin semua?"


" Memang aku mau pakai baju berlapis-lapis?"


" Ooh, jangan depan Alya, sana"


" Sana kemana lagi? kamarmu seukuran begini, aku harus naik ke plafon?"


" Kalau gitu berbalik sana"


" Kalau aku yang berbalik kamu yang ngintip"


Alya mengangguk.


" Iya juga, Alya deh yang berbalik


" Ribet banget sih yang, biasanya aku sebentar saja melakukan ini, berdua kok enggak selesai-selesai"


" Ya udah dua-duanya berbalik"


" Sampai kapan?"


" Nanti kasih tau kalau sudah selesai"


" Iya"


Alya berbalik dan menunggu Afkar memberinya aba-aba kalau sudah mengganti pakaiannya


" Sudah belum?"


" Sudah"


Alya berbalik dan mata perawannya melihat tubuh lelaki di depannya tanpa pakaian, tegap bidang dan sedikit berkotak-kotak. Matanya terbelalak


" Ka Afkaaaaaar"


Afkar langsung menutup mulut Alya dengan telapak tangannya


" Ssstt, Alyaa"


Alya menggigit telapak tangan Alya keras sehingga membuatnya melepaskan dari gigitan


" Awwww".


Sebuah ketukan di pintu membuat keduanya berpandangan kaget


" Alya,,,"


" Iya maa"


" Kenapa itu"


Terdengar pertanyaan mama cemas, khawatir yang baru saja ditakutkan terjadi


" Ini Ka Afkar kejedot pintu"


" Hah, buka pintu biar diobati"


" Enggak apa-apa ma, saya kaget saja"


Kali ini Afkar menjawab karena takut Alya salah ngomong lagi


" Oh ya sudah, istirahat saja Alya, nanti malam kita acara besar"


" Iya ma"


Huuuuppp.


Alya meninju bahu Afkar


" Bohongin Alyaa"


" Tidak, pertanyaannya kan sudah belum? ya kujawab sudah, maksudnya sudah kulepasin, harusnya pertanyaannya sudah ganti pakaian belum, begitu"


Afkar mencolek dagu Alya menggodanya. Alya kembali terkesima melihat dada bidang Afkar. Baru kali ini melihat dada lelaki selain papah dan ka Pandu langsung begini seumur hidup


" Kenapa liat-liat"


Alya langsung berbalik lagi


" cepetan gantinya ka".


Afkar malah memeluknya dari belakang


" Aku ini suamimu, kamu istriku. Semua sudah halal sekarang, hhmmm"


Alya memejamkan matanya takut

__ADS_1


" Ka, lepasin Alya takut"


Afkar melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh Alya sehingga saling berhadapan


" Lucu sekali istriku ini, menentang badai sudah, menentang bos galak sudah, liat aku begini saja takut"


Alya masih memejamkan matanya


" Alyaa bukaaa"


Alya menggeleng


" sayang buka matanya"


Alya semakin kuat menggeleng


" Alyaaa bukaaa sayang"


Tok tok tok,,


" Alyaa apalagi?".


Alya membuka matanya sesaat setelah mendengar suara mamanya.


" Enggak apa-apa ma".


Mereka kembali berpandangan.


" Benar tidak apa-apa?"


" Iya, ini pintu lemari macet enggak bisa di buka"


" Ooh ya sudah tidur Alya"


" Iya ma"


Akhirnya Alya dan Afkar tidak bisa menahan tawa


" Kenapa saat bersamamu selalu begini ya sayang"


Afkar membelai rambut Alya dan menciumnya


" Entahlah ka"


" Karena sayang terlalu bawel"


Alya mencubit hidung Afkar


" Aku cape, mau istirahat, kita tidur"


Alya mengangguk


" Kakak pake baju dulu"


" Kamarmu tidak ber ac, aku kepanasan, biar begini saja"


" Kalau gitu jauh-jauh sana, ni guling kita kasih batas wilayah masing-masing"


" Kok pakai guling sih sayang? sekalian tu lemari pindahin ke sini biar jadi pembatas kita"


" Boleh, tarik deh lemarinya ke sini"


" Berantem gini kapan kita istirahat?"


" Makanya kakak diem"


" Sayang yang ngajak ribut dari tadi"


" Kakak lah, dari tadi,,,,,"


Afkar merebahkan tubuh mereka.


" Sudah dieeem, kita tidur, aku beneran capek"


Afkar memejamkan matanya sambil memiringkan tubuh menghadap Alya dan memeluknya, Alya diam sambil memandangi wajah Afkar yang kali ini sangat dekat, tampannya kamu kaaa. Alya mencium pipi Afkar


" Terima kasih suamiku, Alya sayang ka Afkar"


Afkar membuka matanya dan tersenyum


" Terima kasih juga istriku"


Mencium pipi Alya


" Kita tidur"


" Iya bos".


Alarm di ponsel Afkar berbunyi, Afkar terbangun, meraba ponsel di sebelah kiri


" Astagfirullah"


Alya yang merasa tubuhnya disentuh juga kaget dan terbangun


" Astagaaaaaa"


Mereka saling berpandangan, sedetik kemudian baru bisa loading


" Hehehe, aku kaget, kupikir mimpi tidur bersama wanita"


" Alya juga"


Afkar mengecup kening Alya, disambut Alya dengan senyuman


" Kita bangun, sebentar lagi ashar".


Alya duduk sebentar dan meraih ponselnya, mengecek apakah ada kabar dari group manapun


" Sayang kalau bangun tidur begini ya? langsung membuka ponsel?".


" Iya, otak Alya perlu kerja santai dulu ka, baru bisa mikir apa yang akan di lakukan setelahnya"


" Ooh, ayu bangun, temani aku wudhu"


" Jalan aja sendiri, tau kan kamar mandi?".


" Lupa? aku ini siapa?"


" Untung di ingetin, baru ingat ini suami Alya, hehehe"


Afkar mengecup rambut Alya


" Nanti kita sama-sama belajar untuk saling mengingatkan ya sayang"


" Iya"


Mereka berdua berjalan menuju kamar mandi, di ruang tengah sudah ada beberapa orang kerabat yang duduk di atas sejadah yang sudah di susun mama untuk melaksanakan shalat berjamah


" Shalat di sini Afkar"


" Iya pah, ganti baju dulu".


Alhamdulillah, aku dipertemukan dengan keluarga agamis, semoga selalu istiqamah ke depannya.


Ballroom kedua yang terletak di Gedung Serba guna adalah ruang Amarillis, ruang ini terletak di lantai 2 memiliki ukuran yaitu 35 x 25 m dan bisa menampung 1000-2000 orang. Arsitektur ruang Amirillis sangat menarik,langit langit di ruang Amirillis sudah di lengkapi dengan lampu kristal dengan ukuran besar. Sehingga menambah kesan mewah ruangan ini. Fasilitas yang ada di ruang inipun cukup lengkap,antara lain full AC,lantai yang sudah di lapisi full karpet,genset sebesar 330 KVA.


Fasilitas pendukung sound sistem dan pencahayaan sangat baik.   Fasilitas pendukung lainnya adanya Ruang VIP, Ruang Ganti/Rias,, Musholla, Ruang Pantry/Saji, Sound System, Genset, Kursi, Meja Tamu, Toilet, Parkir yang sangat luas.


Sejak jam delapan malam tamu undangan silih berganti, rekanan papah, rekanan mama, teman kantor Alya dan Pandu, teman sekolah, teman kuliah, pengajar kampus, tetangga dan handai taulan. Pesta meriah juga menghadirkan beberapa artis kota. Kemewahan yang Alya pikir akan bisa dimilikinya ketika berdampingan dengan Kevin akhirnya terwujud, dan kali ini berdampingan dengan Afkar. Tidak tanggung, pernikahan mewah ini tidak hanya sekali, tapi dua kali, karena satu minggu lagi akan di adakan di Banjarmasin.


Pengantin duduk anggun dengan memakai gaun pengantin Ballgown mewah dilapisi brokat tebal berwarna putih dengan panjang ekor 3 meter. Sementara pengantin lelaki memakai jas berwarna charcoal didalamnya kemeja putih dengan celana bahan dan bersepatu kulit. Jas yang dikenakan Afkar malam ini terbuat dari bahan wool silk, yaitu kain dengan tekstur yang lembut. Bahan wool silk Italia sedang nge-tren di kalangan pria karena teksturnya yang mengkilap, sehingga membuat pemakainya terlihat elegan. Dasi berwarna hitam dengan garis vertikal berwarna cokelat tua membuatnya sangat terlihat menawan malam ini.


Satu peristiwa yang membuat mama menangis, kedatangan tante Risma dan Kevin. Lelaki bertubuh atletis tampan itu didampingi seorang gadis bertubuh tinggi dan rambut tergerai, kulit putih dan wajah sedikit bule nya sangat pantas mendampingi Kevin malam itu yang tidak kalah memukaunya dari Afkar.


Kevin memeluk Afkar dengan erat


" Selamat Afkar, semoga kamu bisa membahagiakan Alya seperti aku yang dulu gila karena mencintainya"


Afkar ikut berbisik


" Dia hidup dan matiku, kamu akan mendengarnya sedang berbahagia kapanpun kamu menghubungi kami, aku jamin itu"


Kevin menjabat tangan Alya


" Ka, bukannya kakak ingin memeluk Alya?"


Alyaaaa, suamimu di sampingmu


" Kamu boleh memeluknya Kevin, sebentar"


Kevin memeluk Alya dan berbisik


" Dia lebih pantas untukmu sayang, tapi aku sudah sangat puas tujuanku untuk melihatmu bahagia sudah terujud hari ini, walau bukan bersamaku"


Kevin melepaskan pelukannya


" Ka Kevin adalah kakak Alya, tetaplah mengabari kami ya"


Kevin mengangguk dan tersenyum menatap mata Alya, heeeyy, aku hapal getaran dan suhu tanganmu yang berubah sekarang, tahan tangismu Alya, ini bahagiamu, aku hanyalah seorang penjaga mu kemarin, seorang penjaga yang harus merelakan kepada pemiliknya jika satu saat akan diambil kembali.


Sedang tante Risma lama memeluk Alya disertai tangisannya


" Sayang, kamu tetap akan menjadi anak tante"


" Alya sayang tante"


Sekuatnya Alya tidak meneteskan air mata demi menjaga perasaan Afkar, Afkar tidak usah tau bahwa selama ini tante Risma memperlakukannya dengan sangat cinta, sangat perhatian, tidak sedikit kenangan mereka yang sangat indah.


Sementara pendamping Kevin menjabat tangan Alya dengan lembut, sebenarnya keluarga dari mana sih Kevin dan Alya ini, kenapa keakrabanya bukan seperti keluarga, dan kenapa tante Risma harus menangis di perkawinan keponakannya? entahlah, nanti akan kutanyakan pada Kevin masalah ini.


Tatapan teduh Afkar tidak lepas memandang kesempurnaan Kevin sebagai laki-laki. Ini Kevin? wajah tampan berkarismanya, tubuh tinggi atletisnya, senyum menawan dengan mata penuh perlindungan. Terlahir dari keluarga mapan sejak dulu dan diwariskan kekayaan serta pemilik banyak perusahaan. Tangan lembut dan wangi tubuhnya, mungkin dia tidak pernah berkerja keras sepertiku, suara berat dan beribawanya. Dan lelaki yang penuh kebaikan dalam banyak hal. Ini yang bersaing denganku kemarin? bagaimana bisa Alya tidak menyukainya? untung aku tidak dipertemukan sejak dulu, karena jika aku tau ini Kevin, mungkin aku tidak akan percaya diri untuk bertahan.


Beginikah ketika pangeran dan bidadari bersanding? Sahabat memandangi mereka dari bawah panggung.


" Akhirnya selesai juga pencarian dan kesedihan Alya selama ini"


" Iya, tapi tadi gue pengen nangis lo Ga liat ka Kevin datang dan memeluk Ka Afkar dengan tabahnya"


" Kan dia juga bawa pasangan Syl"


" Bagaiamana pun ka Kevin pernah gila-gilaan mencintai Alya, tidak semudah itu juga Ga"


" Dua tahun Syl, pastilah Kevin juga sudah berusaha sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan Alya"


" Bukan kaya lo Ron, sebulan dua bulan sudah dapat baru lagi baru lagi, kapan seriusnya sih"


" Ntar kalau sudah ada yang sreg di hati"


" Lo Ga, kapan?'


" Insyaallah tahun ini, Fanya sudah siap saat gue tanyain kemarin"


" Aamiin, cepat nyusul Ga, biar Lee nanti banyak temannya"


Arga tertawa


" Iya, pokoknya nanti kita ngebut cariin Lee teman yang banyak, hahaha"


" Lo jadi kan ke Banjarmasin Ga?"


" Iya, gue bawa Fanya, kata Alya di Martapura banyak berlian bagus, kaya cincin dia itu, gue mau beliin Fanya di sana"


" Setuju, gue dukung lo Ga"


" Gue juga beli ah"


" Beliin siapa lo Ron?"


" Beli aja dulu cincinnya, yang akan memakainya menyusul"


" Hahhaaha"


" Sabtu gue berangkat berdua ka Agus lo Ga?"


" Sabtu juga, kelamaan di sana bingung juga kan, Alya dan Afkar enggak nemani kita, Lee enggak dibawa Syl?"


" Enggak, sama neneknya saja di sini, takutnya dia nanti rewel Ga di jalan"


" Alasan rewel, bilang aja mau bulan madu"


" Cerdas lo Ga, kalo Lo Ron?"


" Gue sabtu pagi juga, resepsinya kan hari minggu ya?"


" Kalau gitu kita janjian begitu sampai hotel yang sudah di sewa ka Afkar semua kamar itu, siangnya kita ke Martapura"


" Setuju"


" Setuju"

__ADS_1


__ADS_2