
Satu tas kerja berwarna hitam yang terletak di atas sofa di dalam ruangan besar dengan nuansa putih dibuka Afkar dengan tergesa. Mengambil satu kunci dan membuka laci meja kerjanya. Beberapa dokumen penting tersusun rapi di dalam laci rahasia yang hanya dia boleh membukanya. Dari bagian bawah menarik satu benda. Sebuah foto berfigura. Tangan dinginnya yang gemetar membawa benda itu ke dadanya.
" Kamu ada di sini Sekarang ? kamu menungguku di depan ruang kerjaku?. Kamu yang di setiap waktu masih saja kuhidupkan di dalam pikirku. Tapi apa benar itu kamu? apakah ini halusinasi ku lagi yang berlebihan. Ini hanya keinginanku yang belum juga terujud kemudian dijelmakan hari ini hanya agar bisa memulihkan sedikit dari penderitaanku"
Telefon kantor yang berada di depannya segera di angkat untuk menelfon sekretarisnya.
" Sasha, bisa ke ruangan saya segera"
Klik.
Hanya beberapa detik Sasha sudah berada dalam ruangan Afkar tentunya terlebih dahulu mengetuk pintu
" Sasha, siapa nama tamu di depan?"
" Dari perusahaan cabang ibu Vera Veronika, sedangkan dari pusat nona Alyana"
Afkar menghembus napas, benar dia Alya.
" Kapan mereka datang?"
" Setengah jam sebelum meeting bapak tadi selesai"
" Kenapa tidak mengabari saya secepatnya? kamu membiarkan dia menunggu selama itu? "
" Maaf pak, bukankah sudah menjadi peraturan di kantor selama bapak melakukan meeting tidak boleh ada yang mengganggu kecuali bapak Wijaya dan nona Aprill?"
Afkar mengangguk, iya itu peraturanku, tapi juga tidak berlaku untuk wanita yang bernama Alya, apakah aku tidak memasukan di daftar peraturanku? tentu saja tidak, kapan aku pernah membayangkan ini benar-benar menjadi kenyataan walau aku sangat mengharapkan.
" Tapi bagaimana bisa kamu membiarkan dia merasakan bosan menunggu saya? kamu bahkan tidak menawarkan air minum untuknya? , selama itu dia pasti kehausan. Bahkan televisi saja tidak dinyalakan? apa yang dia liat selama menunggu saya? seharusnya kamu nyalakan televisi, cari station televisi yang menyiarkan musik atau film agar dia tidak bosan menunggu"
" Pak, ini jam kerja, bukankah televisi akan boleh dinyalakan saat jam break dan ishoma? dan acara televisi yang dibukapun hanya berita. Chanel televisi kita bahkan tidak pernah dipindah selama satu tahun terakhir, yang berganti hanya volume"
Afkar menatap Sasha dengan tajam, berani sekali dia menjawabku? siapa yang membuat peraturan begitu? aku? oh iya, memang aku karena saat itu aku marah melihat beberapa karyawati berkumpul di depan televisi saat jam kerja karena sedang menonton infotainment seorang artis cantik terciduk dengan kasus prostitusi, yang kata mereka sedang viral, siapa yang perduli dengan berita tidak bermanfaat seperti itu? aku langsung memberlakukan bahwa Chanel televisi hanya boleh ada di satu stasiun yang memang khusus menanyangkan berita. Tapi untuk Alya, semua boleh, bahkan jika dia ingin menonton acara tidak berguna seperti yang dia tonton biasanya di kost itupun boleh dilakukannya di kantor ini.
" Maaf pak jika saya tidak memperlakukan tamu dengan baik, kedepannya saya akan merubah sikap saya, untuk membayar kesalahan saya akan saya panggil mereka masuk sekarang"
Sasha merasa takut jika kemarahan bosnya semakin bertambah, dengan dipanggilnya tamu itu, mungkin saja bos akan melupakan kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahannya. Dasar aneh bikin peraturan mau melanggar peraturan.
." Siapa yang suruh kamu memberi izin mereka masuk kesini?"
Sasha menggeleng
" Tidak ada, tapi bapak bilang tadi kan mereka sudah lama menunggu"
" Suruh mereka menunggu, mungkin satu jam lagi"
Sasha menatap bosnya dengan tatapan bingung, apa maunya sih? tadi aku kena omelan membiarkan tamu menunggu lama, sekarang kamu malah meminta satu jam lagi. Sepertinya bos ku perlu vitamin hari ini.
" Baik pak"
Sasha membalikan tubuhnya ingin cepat-cepat pergi dari bos anehnya hari ini
" Sasha tunggu".
Jantung Sasha berdegub, ada apalagi bos?
" Berikan mereka minuman, tanyakan apakah mereka sudah lapar? ajak ke kantin, bakso pak Mun sudah buka atau belum jam begini?"
" Baru jam 10 pagi pak, sepertinya belum"
" Belum ya? kalau begitu ajak mereka ke bakso Batuah"
" Bersama saya pak ke bakso Batuahnya?"
Ada sedikit senyum di wajah Sasha
" Saya sedang bicara sama kamu kan? ya sama kamu kesana"
Sasha tersenyum lebih lebar, gilaa bos ku hari ini memberiku izin keluar kantor, makan bakso pula, kepengen deh memeluk tubuhnya yang bagus itu sebagai tanda terima kasih.
" Ini uangnya, dan ingat jangan sampai mereka yang membayar, kalau itu terjadi kamu saya pecat"
__ADS_1
Deg, huuh hanya karena semangkok bakso aku mempertaruhkan pekerjaanku. Mending aku makan bakso sama kekasihku, tidak ada ancaman memilukan begini.
" Baik pak, bagaimana kalau antriannya lama? mungkin akan lebih dari satu jam"
" Berapapun lamanya, tapi ingat, bakso Batuah hanya berjarak 1 kilometer dari sini, jika kamu mulai berpikir membohongi saya, kamu tau akibatnya"
Sasha mengangguk, katanya berapapun lamanya, tapi tetap dengan mengingatkan jarak yang dekat, bagaimana jika di depan ada demonstrasi massa dan membuat jalan macet? bagaimana kalau mobil kami mogok? iiiihh.
Secepat kilat Sasha keluar dari ruangan bos galaknya. Sasha langsung mendekati kedua wanita yang duduk manis menunggu janji akan bertemu manager 10 menit itu.
" Ibu dan nona, apakah kalian lapar?"
Bu Vera dan Alya saling berpandangan, keduanya menggeleng. Sasha ikut tersenyum, iya juga, pertanyaan ku yang aneh, ini kan kantor, bukan warung makan, oke kuganti pertanyaannya.
" Begini, bapak sedang sibuk dan baru bisa menemui ibu dan nona satu jam lagi, kalau tidak keberatan saya akan ajak makan bakso dulu"
Bu Vera dan Alya kembali berpandangan
" Kami masih kenyang"
Jawab bu Vera.
Sasha mulai gelisah, tolonglah bu, buat perut ibu lapar, nanti saya kena omelan bos galak saya lagi.
" Memangnya kenapa?"
Kali ini Alya yang bertanya
" Hhmm, bagaimana ya, maaf nona, barusan saya kena marah bapak, katanya saya tidak memperlakukan tamu dengan baik, agar kesalahan saya bisa dimaafkan saya harus membawa ibu dan nona untuk makan bakso. Di dekat sini ada yang enak loh, namanya bakso Batuah"
Bu Vera menatap Alya, sepertinya meminta persetujuannya. Boleh juga ajakannya, daripada satu jam kita menunggu disini.
Alya langsung mengangguk. Oke,, aku ikuti permainanmu hai manager angkuh. Kenapa kamu memarahi sekretarismu karena hal remeh begini, kamu ingin melayaniku dengan baik? buka saja pintu ruanganmu, aku ingin melihat sambutan apa yang akan kamu tunjukan padaku. Alya mengambil tas yang berada disampingnya dan ikut berdiri, sebelum berjalan Alya sempat menoleh ke arah kamera CCTV dan mendongakan wajahnya seperti sedang mengajak berbicara.
Sementara dari dalam ruangan Afkar kaget, Alya memandangku lewat kamera CCTV di ruang tunggu, kamu menantangku?.Iya, kamu sedang menantang ku. Kamu pikir aku takut dan bersembunyi? tapi itu memang benar, aku harus tidak menemuimu dulu.
Afkar duduk di kursi besar hitamnya sambil memandang satu foto, foto dia dan Alya di bandara. Cintaku,, aku belum bisa menemuimu dulu, aku tidak tau apa yang bisa kukatakan padamu, apakah aku bisa lagi menguraikan puisi-puisiku? atau aku akan marah padamu?. Baiklah, semoga Sasha mengajak mereka berkeliling dulu, aku harus menenangkan perasaan ku.
Tapi takdir apa? bukankah kamu sudah memiliki takdirmu sendiri, Kevin. Sebentar, kenapa kamu sampai di kota ini? dimana Kevinmu? kenapa dia membiarkanmu pergi sejauh ini untuk satu proyek begini. Bukankah dia memiliki banyak kuasa? kamu akan bebas memilih dimanapun kamu ingin jika itu bukan Hongkong. Atau kamu kesini bersama Kevin? dia juga ada di kota ini? lalu kita akan bertemu? Walaupun aku sudah mempunyai jabatan dan kekuasaan, boleh kita bersaing untuk itu sekarang, tapi aku masih saja kalah, kamu memilikinya raganya, mungkin juga hatinya? sementara aku??. Afkar meninju meja dengan kepalan tangannya hingga berdarah.
Satu ide muncul di kepalanya, PT. Reksa Persada. Segera menelfon satu staff
" Raka, segera ke ruangan saya"
Klik.
Tidak lama sebuah ketukan di pintu terdengar
" Masuk"
" Iya pak"
" Duduk"
Raka seorang staff ahli bidang IT di perusaahan itu duduk di hadapan Afkar
" Raka, kamu bisa mencari seseorang dengan keahlianmu itu?"
" Maksud bapak?"
" Saya sedang mencari teman lama, namanya Arga, saya lupa nama panjang nya, dia anak dari seorang pengusaha di Surabaya, tapi saya dengar kemarin dia bekerja di Jakarta, saya tidak terlalu yakin juga apa posisinya sekarang, yang jelas dia adalah penerus perusahaan itu"
" Apa nama perusahaan nya pak?"
" PT. Reksa Persada".
" Akan saya coba"
" Kapan bisa saya terima informasinya? lima menit? "
Raka memandang bos mudanya
__ADS_1
" Saya belum berani memastikannya pak?"
" Saya perlu Informasi sekarang?"
" Tapi saya juga perlu ketelitian agar tidak salah orang"
Afkar mulai emosi lagi
" Raka, sebelum setengah jam kamu sudah harus mendapatkan informasinya"
Raka mengangguk
" Kalau begitu saya permisi, akan saya berikan informasi secepatnya"
Raka segera berlalu dan langsung duduk di hadapan monitor komputernya.
Tok tok tok.
" Masuk"
Pria muda berkacamata tebal dengan pakaian rapi memasuki ruangan Afkar
" Bagaimana Raka? kamu sudah menghabiskan waktu selama 20 menit"
" Saya sudah menemukannya pak, bapak Arga dari PT. Reksa Persada sekarang menjabat kepala Divisi Marketing di kota Jakarta"
" Bagus, terima kasih. Panggil Juan menghadap saya"
" Baik saya permisi"
Dua menit kemudian staff bernama Juan sudah ada di depan bosnya.
" Juan, siapkan tiket pesawat ke Jakarta hari ini, kamu ikut aku, persiapkan juga hotel dengan dua kamar"
" Untuk pulang nya juga dipesan sekarang ?"
" Tidak usah, aku belum tau sampai berapa hari kita disana"
" Maksudnya bagaimana sih ini? kita mau ngapain? file apa yang kupersiapkan?"
" Tidak usah membawa file apapun, kamu hanya perlu mental yang kuat untuk menjagaku"
Juan menatap atasan tapi juga teman akrab di saat jam luar kantor. Mereka sering bersama sekedar meminum kopi atau makan malam.
" Jangan bilang kamu mengajakku untuk berantem disana"
" Mungkin saja itu terjadi, aku tidak tau siapa yang akan kita hadapi di sana, apakah masih orang yang sama atau sudah berubah"
Juan menggeleng
" Terserah, tapi jika membahayakanku, kamu saja yang maju. Oh iya jangan lupa kabari Pak Wijaya, bisa-bisa dicabut hak warismu dari perusahaan kalau kabur tidak pamitan"
Afkar menepuk jidatnya
" Astaga benar, aku lupa. Cepat urus Juan, kita sudah harus sampai di Jakarta sebelum malam, aku akan menyiapkan diri untuk pertemuan penting besok"
Juan berdiri
" Baik, berapa potong pakaian yang harus aku bawa ?"
Afkar melirik
" Pikir saja sendiri".
Juan melangkah keluar.
" Acara apa sih mendadak begini dan tidak tau pulangnya kapan? untung kamu jadi bosku, kalau aku yang jadi bosmu, kamu yang ku pecat"
" Juan, aku mendengarnya"
Juan cepat menutup pintu, tidak ingin menambah masalah dan langsung mengurusi tiket dan penginapan ke Jakarta.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian Afkar dan Juan langsung pulang karena Juan mendapatkan tiket penerbangan ke Jakarta jam empat sore. Mereka perlu berkemas terlebih Afkar, bukan berkemas pakaian, tapi mengemas perasaan-perasaanya untuk bisa besar menghadapi Arga.