Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Kebijaksanaan Kevin


__ADS_3

Ruang keluarga Alya berubah menjadi ruang sidang yang menakutkan, Alya di sidang lagi? bukan. Tapi Kevin, sayangnya Kevin tidak berada di tempat ini. Orang tua Kevin duduk berhadapan dengan mama papah dan Alya. Tante Risma masih saja terisak sejak om Hadi mengutarakan maksud kedatangan mereka sedangkan mama dan papah terdiam mendengarkan masih dengan ketidakpercayaan.


" Alya, kami atas nama keluarga benar-benar minta maaf dan minta kerelaan kamu atas perlakuan Kevin. Kami bahkan sama sekali tidak menyangka dia akan mengambil keputusan besar seperti ini. Awalnya kami pikir dia hanya akan menyelesaikan proyek besarnya di Hongkong, mungkin memang akan lama, beberapa bulan, tapi dia malah mengambil keputusan untuk tinggal di sana dan membuka cabang baru. Dia bilang prospek perusahaan sangat baik jika mempunyai cabang juga di sana, dan dia sangat antusias untuk itu"


Alya yang sejak tadi mendengarkan tidak berkomentar apapun.


" Alya, dia pernah membicarakan ini denganmu sebelumnya?"


Alya menghela napas sebentar dan menjawab dengan pelan


" Tiga bulan yang lalu ka Kevin menghubungi Alya dan bilang mau pamit akan ke Hongkong untuk mengurus proyeknya, Alya tanya sampai kapan, dia menjawab belum tau, katanya mungkin membutuhkan waktu yang lama. Setelah itu ka Kevin menghubungi Alya lagi dan bilang sudah berada di Hongkong, Alya kaget dan menanyakan kenapa tidak menemui Alya dulu, dia bilang semua serba mendadak dan tidak sempat untuk ke Yogya. Sejak itu ka Kevin tidak pernah lagi menghubungi Alya, lalu Alya mencoba menghubungi, setiap ka Kevin mengangkat dia selalu bilang sedang meeting, sedang ada tamu, sedang berada di luar, Alya tidak pernah punya waktu untuk bicara. Akhirnya Alya putus asa, sebulan yang lalu Alya chat yang isinya kapanpun kaka punya waktu hubungi Alya, cuma ingin tau kenapa selalu menghindar, setengah hari baru ka Kevin menghubungi Alya, katanya,,,"


Alya terdiam, mencoba mengingat lagi pembicaraan terakhir mereka, mencoba untuk kuat. Apa aku bisa mengatakan semuanya pada mereka, apa mereka sudah tau alasan sebenarnya?


" Apa yang dia katakan sayang?"


Tante Risma memandang Alya dengan wajah memohon agar Alya membuka saja semua rahasia diantara mereka


" Diantara kami memang belum ada perasaan saling mencintai, jadi untuk apa hubungan ini dilanjutkan"


Mereka yang ada di ruangan itu saling berpandangan, masih saja dengan alasan kuno seperti dulu? kalian tidak sedang bercanda kan?


" Apa maksud kalian"


Tante Risma meninggikan suaranya, om Hadi langsung menggenggam tangan tante Risma agar mengontrol emosinya, sementara wajah mama langsung memerah karena tau ini adalah alasan mengada-ada Alya.


" Kami memang menjalani ini sesuai permintaan kalian, sejak awal kami memang berniat untuk serius dalam hubungan ini, tapi sudah satu setengah tahun keadaan tetap seperti ini, jika kami meneruskan kami akan terbebani dengan hal yang sebenarnya tidak kami inginkan"


Tante Risma memandang Om Hadi dengan lemah


" Pah, ini tidak mungkin, Kevin sangat mencintai Alya, bagaimana bisa sekarang mereka menyebut ini sebagai alasan perpisahan mereka".


Om Hadi mengangguk dan meminta tante Risma untuk diam dulu, mungkin Alya masih akan bicara.


" Bagaimana kalau kita telfon Kevin sekarang, maaf Alya kami bukan tidak mempercayaimu, tapi Kevin tidak menyebutkan apapun alasan perpisahan kalian pada kami, bisa di mengerti?"


Om Hadi yang sejak tadi hanya mendengarkan sekarang ikut bicara. Alya mengangguk.


" Silakan om"


Om Hadi mengambil ponsel dari saku kemejanya dan memulai menekan tombol panggilan video. Alya bergetar melihat panggilan video diangkat. Seraut wajah yang dirindukannya sejak tiga bulan yang lalu muncul di balik layar ponsel om Hadi. Wajah tenang berkarisma itu tersenyum saat layar menghadap ke arahnya. Bibirnya gemetar dan tangannya mencari pegangan untuk bisa sekuat yang ia inginkan. Alya berusaha kuat dan membalas senyuman itu, jelas itu bukan senyum yang ingin ditunjukannya pada Kevin sejak tiga bulan yang lalu, saat dia mengakui bahwa hatinya sudah jatuh pada lelaki yang dijodohkan untuknya satu setengah tahun yang lalu.


" Assalamualaikum"


Terdengar suara Kevin, ooh aku merindukan Salam ini ka, suaramu yang berat dan beribawa, sudah lama hilang dari indera pendengaranku. Sapa yang selalu kamu hadirkan setiap kuangkat panggilan telefonmu, suara yang menanyakan kabarku, mengingatkanku untuk makan, beristirahat, tidur jangan larut malam, menanyakan apakah ada masalah dengan mobilku, apakah uangku di dompet masih ada.


" Waalaikum salam"


Semua yang ada di ruangan itu menjawab


" Kevin, sekarang mama dan papah ada di rumah Alya untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu, sekarang jelaskan kenapa ini bisa terjadi"


Tante Risma yang biasa bersikap manis terlihat sangat marah


" Apakah Alya sudah cerita ma?"


" Sudah, tapi kami ingin dengar dari mulutmu"


" Semua yang Alya bilang itu benar ma, dan kami sepakat untuk mengakhiri ini sekarang dan cara yang baik"


" Baik apa? kamu bahkan memutuskan ini di saat kamu sudah berada jauh darinya, tanggung jawab apa ini Kevin? kami selalu mengajarimu tanggung jawab, dan selama ini kmau tidak pernah mengecewakan kami, tapi sekarang? ini memalukan dan menyakitkan Kevin.


Tante Risma benar-benar sangat marah, om Hadi segera menenangkannya

__ADS_1


" Ma sabar, kita dengar penjelasan Kevin"


Mama dan papah hanya memandang layar di ponsel om Hadi dengan tatapan sendu. Ini mimpi saja, tidak mungkin Kevin bisa mengatakan hubungan ini berakhir dengan alasan yang sama dengan Alya.


" Om, tante. Saya atas nama pribadi mohon ampun dan meminta kerelaannya karena selama ini belum bisa membahagiakan Puteri kalian, sering mengecewakan Alya dan tidak sepenuhnya bisa menjaganya. Apalagi dengan jarak sekarang yang membuat saya tidak bisa bolak balik ke Indonesia seperti saya kemarin bisa setiap dua minggu sekali menemuinya. Mungkin ini adalah saat yang paling tepat untuk kami berpisah. Saya tidak ingin Alya terkekang menunggu tanpa saya bisa menjaganya dengan baik, kami pun sudah sepakat untuk berpisah dengan baik tanpa perasaan sakit hati, tanpa dendam, bahkan kami saling mendoakan"


Mama tiba-tiba menitikan air mata, ini keluar dari mulut Kevin? ini kebohongan Kevin, kamu yang selalu menjaga Alya, terlalu memperhatikannya dan membuat Alya berubah sebanyak dan sebaik ini, kamu bilang kamu belum bisa membahagiakannya? kami bahkan melihat tulusnya kamu menjaga Alya saat dia sakit, betapa cemasnya kamu tentang kesehatan Alya, betapa pedulinya kamu pada keperluan Alya? kalian bersandiwara apa saat ini?


" Kevin, kami sebagai orang tua hanya bisa mengarahkan dan menyarankan yang terbaik untuk kalian berdua, semua keputusannya memang ada pada kalian, tapi masih bisa kah ini tidak berakhir? Alya sedang skripsi dan semoga sebentar lagi bisa wisuda, setelahnya kami merelakan dia ikut denganmu dimanapun kamu bekerja sekalipun di Hongkong, kami sudah merasa aman jika Alya ada bersamamu"


Papah mencoba untuk meyakinkan Kevin bahwa hubungan berjarak ini hanya sebentar, Alya akan wisuda beberapa bulan lagi, mungkin satu semester, paling lama dua semester karena laporan skripsinya sudah ada di bab pembahasan.


Kevin tersenyum


" Kami sudah sangat lama mencobanya om, dan sampai sekarang tidak berhasil, kami saling menyayangi, seperti saudara, bukan seperti kekasih, dan sepertinya itu tidak bisa lagi di rubah, percayalah, kami akan selalu menyayangi, namun bukan untuk berumah tangga"


Alya tertunduk, ka Kevin. Hatimu terbuat dari apa? di keadaan terdesak seperti ini kamu boleh menjawab yang sebenarnya, katakan seperti yang kamu katakan sebulan yang lalu di perbincangan terakhir kita, biarkan saja semua di buka di sini, aku ikhlas ka.Tapi kamu tetap melindungiku, seakan ini karena kita berdua, kamu bahkan rela di salahkan orang tua mu karena kesalahanku.


Sebulan yang lalu.


Ka Kevin, kenapa memghindariku? aku tidak bisa begini, apa maumu. Alya membuka WhatsApp dan mengetik sesuatu


" Ka Kevin, hubungi Alya secepatnya, Alya tunggu 1 x 24 jam"


Pesan terkirim.


Satu jam kemudian, panggilan telepon


" Assalamualaikum ka"


" Waalaikum salam Alya"


" Ka, langsung saja, Alya sudah tidak tahan dengan ini, apa maksud ka Kevin menghindari Alya?"


" Ka, jangan bercanda. Alya benar-benar marah"


" Jadi apa maumu?"


" Aneh, harusnya Alya yang tanya apa mau ka Kevin?"


Hening


" Alya, aku minta maaf"


" Untuk apa?"


" Waktu kamu di rumah sakit, ponselmu baterai nya kosong, dan malam itu kubawa pulang untuk ku isikan"


" Lalu?"


" Aku membaca semua percakapan mu dengan ketiga sahabatmu di group"


" Yang mana?"


" Semua"


Alya terdiam, apakah ada yang menyinggung mu ka?


" Terus?"


" Kamu membicarakan dia lagi, kamu ke Surabaya, kamu meninggalkan nomor barumu, kamu menunggu dia menghubungimu, kamu bersedih karena dia belum juga memberimu kabar, kamu masih sangat mencintai nya. Aku tidak bisa memaksa untuk itu, itu perasaan mu. Apa yang membuatku kecewa? sampai sekarang kamu belum memiliki perasaan untukku, aku kekasihmu, tapi sama sekali tidak kamu anggap"


Alya terhenyak, astaga.

__ADS_1


" Di depanku kamu bersikap diam penurut dan tanpa penolakan, walau aku tau itu memang belum cinta, tapi kupikir kamu sudah mau belajar. tapi saat aku membaca curhatanmu di group, mana mungkin kamu akan mau belajar mencintaiku jika seluruh isi kepalamu hanya berisi tentang dia dia dan dia. Aku akan mati sia-sia Alya jika hanya menuruti semua sandiwara ini"


" Ka, bukan begitu"


" Bukan begitu bagaimana? jelas Alya, sangat jelas bagiku"


Alya terdiam tanpa pembelaan


" Ka, boleh Alya jujur? sejak kaka pulang ke Bandung tadi, Alya sudah merasakan jatuh cinta ka, Alya merasa sangat bahagia kaka perlakukan dengan baik di rumah sakit itu. Benar kata ka Kevin kemarin, sejak dulu pun Alya kaka perlakukan dengan baik, tapi kemarin itu berbeda ka"


" Kamu ingin mengatakan sudah jatuh cinta padaku?"


Pertanyaan Kevin langsung di sambut Alya dengan jawaban tegas


" Iya ka"


" Alya maaf, semua kata-katamu sejak pertama kita sepakat untuk belajar menjalani hubungan baik ini ku rekam dalam ingatanku. Berkali-kali kamu berjanji akan belajar dan belajar, berusaha dan berusaha, kupikir benar kamu sedang mengusahakannya. Tapi malam itu, aku meyakini, selama dia masih ada dipikiranmu, itu tidak akan pernah terjadi, itu ilusi ku Alya, kamu tetaplah menjadi Alya yang mencintai dia, bukan aku. Untuk apa lagi aku bertahan begini Alya? sampai aku hancur?. Aku tidak ingin menghancurkan hidupku karena ini, aku ingin masa depan yang baik. Aku juga meyakini yang pergi tidak lagi akan mengalami Kepahitan yang masih terus meracuni dan yang tinggal tidak akan lagi terbebani. Akupun tidak ingin bertamu pada pintu patah hati, walau sekarang aku cukup tidak waras lagi. Aku juga tidak ingin kamu terkurung di penikmat air mata yang terus saja meratap pada nasib. Jika ini masih kita pertahankan, aku masih akan terus berpegang pada tiang kebodohan yang bisa rubuh dan menimpa kehidupan menjadikan aku lelaki malang, meratap pada pojok cinta kekasih yang sepi. Sekarang masih ada waktuku untuk kembali, aku masih ingat jalan pulang seperti juga jalan saat aku datang"


" Cukup ka, kita masih bisa mengulang dan Alya janji akan memperbaiki, tidak begini"


" Perpisahan ini akan baik untukmu, berakhir deritamu bersamaku, akan kamu tutup. Terima perpisahan ini, aku pergi karena cukuplah sudah aku kamu jadikan tempat melepas penat. Aku tidak akan menyalahkanmu, aku ataupun perasaan, tidak ada yang salah. Aku belajar berdamai dengan masa laluku. Terima kasih pernah membuat cerita dalam hidupku, tempat aku menanam harapan masa depan, tempat aku mengisi bahagiaku yang bodoh, aku tidak bisa mengatur kata selembut kekasihmu, bahkan hanya puisi yang patah, kekuatanku habis daya, aku menyerah"


" Baik, Alya terima semua. Tidak ada juga lagi kata yang bisa membuat kaka percaya. Lalu bagaimana sekarang? bisa kaka jelaskan pada orang tua kita? lalu Alya akan menjadi terdakwa yang memang salah pada semua ini? sedang kaka begitu nyamannya pergi sebelum ini usai? Alya yang akan menanggungnya sendiri? Ka Kevin memang selalu benar di mata siapapun sejak dulu"


" Alya, aku tidak akan seegois itu, aku menyayangimu, mana mungkin aku tidak mempertanggung jawabkan ini dan membuatmu satu-satunya orang yang bersalah atas ini. Katakan saja kita belum bisa untuk saling mencintai"


" Siapa yang akan mempercayai itu ka?"


" Semua akan mempercayainya Alya"


" Siapa yang akan memulai mengatakan ini pada mereka?"


" Kamu"


" Alya? yang mengingkan hubungan ini berakhir siapa? ka Kevin kan? cerita saja pada mereka"


" Aku tidak menginginkan perpisahan Alya, kamu yang memohon sejak dulu, aku yang memohon untuk tidak, kamu sadar tidak"


Alya terdiam, benar ka, itu dulu, tidak untuk sekarang, aku ingin kita serius dan memulainya lagi


" Aku sudah sangat menolongmu dengan tidak akan mengatakan yang sebenarnya, sekarang tolong aku untuk tidak berbohong di depan mereka. Biar kamu saja yang menceritakan yang tidak sebenarnya ini"


" Ka Kevin,,,"


" Aku akan selalu menyayangimu Alya, dan mulai sekarang sayang itu akan kurubah dalam bentuk lain, sebuah sayang untukmu menemukan bahagia lagi, dan bukan bersamaku"


" Ka,, baiklah. Ini sudah selesai, walaupun Alya sakit dengan ini tapi Alya terima. Dan Alya sangat berterima masih dengan semua yang sudah ka Kevin berikan dan lakukan, Alya akan mendoakan kaka agar bahagia dan sukses. Alya juga minta maaf atas perlakuan Alya selama ini, dan sayangnya penyadaran ini terjadi di saat ka kevin tidak akan mempercayai Alya lagi"


" Kita saling mendoakan saja Alya, doa kan juga aku untuk bisa kuat atas perpisahan ini"


" Sama-sama ka"


" Baik-baik ya Alya, selesaikan skripsi mu, jangan telat makan dan jangan lupa istirahat. Jika lulus nanti kamu membutuhkan pekerjaan, datang saja pada om Yuda, nanti aku akan merekomendasikan di kantor mana kamu ingin bekerja. Asal jangan mengikutiku ke Hongkong"


" Kenapa? tidak ingin melihat Alya lagi?"


" Bukan begitu, bahasa Inggrismu tidak terlalu bagus, nanti aku capek mengajarimu, hahahaha. Oh iya, untuk mobil dan lainnya, jangan pernah punya ide untuk mengembalikannya, pakai saja, sebagai tanda kita akan selalu saling menyayangi sampai kehidupan kita berakhir"


" Iya ka, Alya akan memakainya sebagai tanda ka Kevin adalah seorang yang teramat baik yang pernah dekat dengan Alya. Kapan ada rencana pulang ka?"


" Belum ada, aku harus menyembuhkan luka dulu, menginjak kotamu pasti menyakitkan untukku, nanti saja, mungkin saat kita sudah mempunyai keluarga baru, dengan anak-anak yang lucu, baru aku akan bisa pulang"


Alya tersenyum, ka Kevin. Terima kasih untuk semuanya, aku akan selalu mengenangmu dalam bagian paling dalam di hatiku. Semoga kamu akan bahagia karena kamu terlalu baik. Salam ku ka.

__ADS_1


__ADS_2