Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Kita Lanjutkan Lagi


__ADS_3

Di depan pintu kost yang mempunyai satu bangku panjang Alya memasang sepatu kets berwarna putih dengan garis tepi biru tua. Pagi ini Alya akan berangkat ke kampus memakai kemeja lengan sampai bawah siku berwarna biru muda dan celana jeans warna senada. Tas ransel kecil berbahan kulit berwarna hitam sudah tersangga di punggungnya. Sambil bernyanyi kecil Alya tidak menyadari sepasang mata sudah sejak tadi mengamatinya dari halaman. Saat Alya selesai dengan urusan sepatu serta sudah berdiri di depan kaca jendela kost, merapikan sedikit kemeja nya, dan kaget dari pantulan kaca di belakangnya ada sesosok tubuh berdiri, Alya membalikan tubuhnya.


" Ka Kevin?"


Kevin tersenyum dan berjalan mendekati


" Selamat pagi Alya, waah serunya pagi-pagi telingaku sudah terhibur dengan lagu-lagunya"


Alya menatap Kevin, seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan gaya khas karismatiknya yang selalu tampil berkelas. Sudah satu bulan tidak bertemu, dia tidak berubah, masih dengan senyuman yang manis dan wajah yang menenangkan, seperti seorang ayah yang pulang kerja mendatangi anaknya dan berkata ayah pulaaanng, lalu apa saja bisa untuk dikeluhkesahkan, bisa untuk diminta pertolongan apapun, bisa untuk di rengek minta temani kemanapun, huuuhh apa ini, Alya langsung mengusir pikirannya. Sementara Kevin juga menatap Alya, tapi tentu saja tidak berpikir kalau sedang menemui seorang ibu untuk dia merengek meminta perlindungan, tapi lebih sebuah perasaan sayang seolah mengucapkan aku datang, semua yang kamu tanggung kemarin akan aku ambil alih, sekarang tenanglah, kemarin aku menjagamu dengan tangan para suruhanku, sekarang aku akan menjagamu dengan tanganku sendiri.


" Kapan kaka berdiri di situ?"


" Sejak Alya keluar dari pintu, bernyanyi, memasang sepatu, berdiri di depan kaca jendela sampai melihatku dari kaca"


Alya tertawa


" Alya jadi malu"


" Kenapa? aku kangen kan mendengar lagumu, kangen melihat tawa mu, terlebih kangen mau sarapan bareng kamu"


Alya tersipu, iya satu bulan kita tidak bertemu, tidak melakukan kontak via apapun. Kevin pun tersenyum, waluapun aku tau semua yang kamu lakukan selama satu bulan ini, aku hanya bisa melihat dari video yang terkirim di ponselku, tapi sungguh aku rindu menatapmu langsung.


" Mau sarapan bareng aku?"


Alya melongo, sarapan bareng? ini semacam apa ya? hubungan kita bagaimana? apakah setelah break itu hubungan akan kembali seperti biasa atau terputus? aah aku tidak mengerti.


" Ka, kan kita sudah tidak ada hubungan apa-apa"


" Untuk sarapan bersama apakah harus ada hubungan? kita bisa saja makan bersama siapapun kan?"


Alya mengangguk, benar juga kata ka Kevin, pertanyaan ku tadi apakah membuatku terlihat bodoh?


" Hhm, boleh mau makan dimana ka?"


" Terserah saja, aku rindu semua rumah makan yang pernah kita singgahi, dimanapun Alya mengajak, aku pasti mau"


Alya kembali tersipu, satu bulan berpisah kaku semakin punya kosakata rindu ya ka


" Iya deh, Alya ambil motor dulu ya?"


" Kenapa tidak bareng aku saja?"


" Alya naik motor saja ka"


" Jangan takut, nanti pulangnya aku antar lagi, tidak perlu pesan gojek, hehe".


" Bukan begitu, tapi Alya nanti mau puter puter dulu, hari ini mau konsultasi, jadi jam pulangnya belum tau tergantung dosen pembimbing"


" Kalau begitu aku standbye di kampus Alya, jam berapapun bisa pulang, aku sudah siap disana"


" Jangan ka, kaka juga mengurus tesis kan?"


" Tesis ku sudah selesai, aku sudah ujian kemarin dan dinyatakan lulus, tinggal menunggu wisuda"


" Ooh"


" Cuma oh?"


" Lalu?"


" Tidak ada ucapan selamat begitu?"


Kevin berniat menggoda


" Selamat ya ka"


Kevin malah tertawa


" Datar dan terdengar terpaksa ya, tapi lumayan lah diucapin selamat daripada cuma kata ooh"


Kali ini Alya yang tertawa.


" Jadi bagaimana, ikut aku saja ya"


" Alya mau naik motor saja"


" Baiklah"


Alya berjalan menuju halaman, tapi tangan Kevin langsung memegang tangan Alya


" Kunci nya mana?"


Alya menegadahkan wajahnya menatap Kevin


" Kunci apa?"


" Kunci motor"


" Motor apa?"


" Katanya mau naik motor, iya sini kunci nya aku yang bonceng"


Alya terdiam bingung


" Maksud Alya naik motor sendiri, kaka naik mobil aja"


" Kayanya mobilku lagi pengen disitu aja, katanya rindu lama tidak parkir di sana"


Sambil menunjuk mobilnya yang memang terparkir manis di depan kost nya.


Alya menggaruk kepalanya


" Jadi naik motor berdua?"


" Iya, kan katanya mau naik motor".


Aneh, di paham tidak maksud gue tadi, kenapa sih gue kalau ngomong sama dia seperti melempar batu kearahnya tapi batu nya malah ngenain wajah gue


" Kaka mau motor yang mana?"


" Motor kita boleh?"


Deeg, motor kita??? itu kan punya dia, belum ada akad kalau kepemilikan nya berdua


" Kalau begitu Alya naik dulu ambil kuncinya"


" Iya, tapi jangan lama ya, sebulan aja ditinggalin aku sudah seperti seribu tahun rindunya"


Alya kembali tersipu


Ini yang ketiga kalinya ka, jangan lagi, aku tiba-tiba beneran lapar. Alya masuk ke kost nya dan kembali dengan membawa satu kunci menyerahkannya pada Kevin, Kevin mengambil kunci dari tangan Alya


" Helm ku di mana ya?"


Alya menepuk jidat


" Oh iya, sebentar Alya ambil"


Alya masuk lagi ke dalam, memandang 2 helm yang berbeda di bawah tangga, sama-sama berwarna hitam, yang satu helm Afkar yang dibelinya 6 bulan yang lalu, sedangkan yang satunya milik Kevin yang dibeli 3 bulan yang lalu, Alya mengambil helm yang memiliki shell luar, liner EPS dan aksesori yang menyertainya. Pada shell luarnya helm ini menggunakan High Performance Fiber Composite (HPFC) dan Full Carbon Fiber dengan fiberglass komposit berlapis bentuk anyaman dan resin organik yang menghasilkan bahan kuat dan bobot sangat ringan. Membentuk shell kaku untuk memberi keamanan terhadap dampak benturan yang keras. Itu alasan Kevin membeli helm dengan harga lumayan, lebih mahal dari harga gitarnya, fantastis untuk harga 1 helm, menurut Alya sih.


" Ini ka"


" Terima kasih"


Kevin memasang helm itu di kepalanya dan menguncinya. Alya pun memakai helm kesayangannya nya berwarna putih dan menguncinya.


" Kita berangkat ya"


" Iya ka"


Motor melaju diantara jalan yang mulai ramai, hati Alya benar-benar kalut, apakah aku mengkhianati ka Afkar? tapi kata ka Kevin untuk sarapan kan memang tidak ada aturan harus mempunyai hubungan, tapi sekarang aku diboncengnya, apakah ini pun akan menyakiti ka Afkar? tapi kan ini cuma berboncengan, tidak ada apa-apa, aku juga kadang ikut boncengan sama teman-teman lain yang kebetulan akan ke perpustakaan atau mencari tugas praktikum. Aku juga tidak memeluknya, gojek juga begitu kan? Alya memandang tubuh Kevin dari belakang.


Keren sekali kamu ka, harusnya bukan aku yang di belakangmu saat ini, bukankah di luar sana bertebaran gadis cantik modis yang sangat bersedia menggantikan posisiku sekarang ini.


Motor berhenti di depan kampus Alya


" Kaka mau ke kampus juga?"


" Kalau Alya tidak mau ditinggal aku bersedia kok nungguin disini sampai urusan nya selesai"


Rambutnya yang sedikit berantakan karena baru saja melepas helm membuat Alya teringat saat Afkar melepaskan helm nya, Alya akan semakin mengacak rambut Afkar karena menurutnya itu adalah saat Afkar ganteng maksimal, dan saat Kevin melakukan yang sama tentu saja Alya tidak berani melakukannya


" Lucu, emang Alya anak Taman Kanak-kanak di tungguin di sekolah sampai pulang, hahha"


" Ya udah, kalau begitu aku jemput jam setengah sebelas bagaimana?"


Tiba-tiba Alya teringat janjinya pada Afkar


" Ka, Alya tidak usah dijemput"


Kevin mengernyitkan alisnya


" Kenapa, sudah ada janji sama teman-teman?"


" Bukan begitu, motornya Alya balikin aja, kan di kost sudah ada motor Alya juga, lebih baik ini kaka aja yang pakai"


" Alya mau digantiin model lain yang lebih baru?"


" Tidak ka, Alya cuma merasa tidak enak saja, yang punya kaka tapi di taruhnya di kost Alya"


" Ini kan fungsinya memang buat kita, kaya tadi Alya mau nya naik motor saja, ya kita pakai saja yang ini"


" Memangnya kaka akan sering jemputin Alya? kan cuma hari ini?"


" Kedengarannya aku di tolak ini buat atar jemput".


Kevin mendekatkan wajahnya dan membuat Alya sedikit mundur


" Kita kan memang sudah tidak punya hubungan apa-apa ka, jadi tidak perlu lah kaka repot antar jemput Alya"


Kevin terdiam, tapi bukan Kevin namanya jika menyerah


" Baiklah, kita akan bicarakan ini setelah kamu pulang kuliah, aku segera selesaikan urusanku, jam setengah sebelas aku jemput, bagaimana?"


" Alya masih mau konsultasi ka, kasian kalau kelamaan nunggu"


" Kalau begitu jam sebelas?"


Alya menarik napas panjang


" Terserah kaka saja, tapi kalau Alya belum selesai kaka boleh kok ninggalin Alya"


Kevin tersenyum


" Memang pernah aku ninggalin kamu? yang ada aku yang ditinggalin".


Alya akhirnya tertawa

__ADS_1


" Apaan sih".


Kevin membalas tawa Alya, sejuknya hatiku mendengar tawamu, aku akan selalu menciptakan tawa-tawa lain dan tidak akan membiarkan kamu menangis lagi.


Sambil memasang lagi helm nya Kevin pamit


" Ya sudah, kamu masuk dulu, aku juga mau ke kampus, Assalamualaikum"


" Waalaikum salam ka".


Kevin meninggalkan Alya yang masih mematung di depan halaman


Tiiit


Alya menoleh karena kaget, Arga dengan klakson bisingnya


" Heeh, lo pikir gue tuli?"


Arga membuka kaca penutup helm nya


" Lo yang berdiri di tengah, emang halaman ini punya nenek moyang lo, orang lain juga pengen lewat"


" Badan gue seiprit gini, lo bisa lewat sono, lewat sono"


Alya menunjuk samping kiri kanannya


" Gue parkir sebentar, gue mau ngomong"


Sebelum dapat jawaban Arga langsung menepikan motor besarnya di tempat parkir diikuti Alya


" Lo kalau bicara pengen ngomong ke gue tu gue kaya dengar lo mau menyidang gue Ga"


" Emang itu".


Arga melihat wajahnya di spion sambil meraikan rambutnya yang sedikit berantakan, huuh sebel gue sepagian liat cowok-cowok yang rambutnya berantakan, barusan Ka Kevin, sekarang Arga, dan yang jauh disana Ka Afkar ikutan mampir, mana cakep semua, whahhaaa.


Alya mensejajarkan tubuhnya di samping Arga yang juga mulai berjalan sambil menyandangkan ranselnya ke punggung


" Ngapain lo di antar Kevin?"


" Lo liat?"


" Lo pikir bisa nyembunyiin badan dia yang gede gitu?"


Alya meninju bahu Arga


" Aww"


" Gue bukan nyembunyiin, tapi gue lagi malas berdebat sama lo"


" Gue cuma nanya ngapain dia ngantar lo? kan break?"


" Sudah sebulan katanya"


" Jadi lo balikan?"


" Enggak, tadi gue dipaksa dianterin?"


" Al, cepat deh setelah ini lo beresin, gue enggak suka liat lo plin plan begini"


" Heh, dengar ya, gue enggak plin plan buktinya gue milih ka Afkar kan?"


" Tapi baru sehari selesai break lo udah jalan aja sama Kevin"


" Ini baru mau diberesin, nanti pulang kuliah dia mau ngomong katanya, gue juga mau balikin motornya, pesan ka Afkar"


" Kalau enggak ketahuan Afkar enggak lo balikin kan!"


" Balikin lah, dimana harga diri gue"


" Bagus lah"


" Ga, pulang kuliah lo mau kemana?".


" Konsultasi"


" Gue juga, bareng ya"


Arga cuma menoleh sedikit


" Ga, lo sudah ikutin saran gue ke dokter THT? Kalau gue ngomong di balas, lo kalau ngomong gue dengerin dan gue jawab".


Arga cuek saja sambil terus menaiki tangga diikuti Alya.


" Cakep cakep budeg"


Arga menarik tangan Alya menaiki tangga


" Gue denger, lo yang budeg berkali-kali gue nasihatin enggak di pake, dari makan sambel jangan banyak, kalau ngomong jangan nonjok bahu gue, kalau gue jalan di depan lo narik baju gue biar jalan kita sama, lo cuma bilang iya, iya, besok ya lo ulangi lagi ulangi lagi"


Alya kaget


" Ga, pelanin suara lo, gue malu".


Arga menghentikan omelannya dan melepas tangannya. Alya melotot


" Dasar suka marah".


Arga cuma diam dan langsung masuk ke sebuah ruangan, pagi ini mereka memang mengambil mata kuliah yang berbeda.


Duduk di bangku depan ruangan yang di dalamnya ada Arga yang sedang konsultasi, tidak lama keluar Arga dan begitu melihat Alya sudah menunggunya Arga pun ikut duduk disampingnya


" Gimana Al?"


" Gue disetujui magang di kantor papah"


" Ya udah, lebih baik buat lo akan dipantau, hehehe"


" Lo jahat, lo gimana?"


" Gue ya tetap di Jakarta".


Alya menarik- narik baju Arga


" Ga, lo ninggalin gue"


" Lepasin Al, lagian sebentar aja"


" Kalau gue perlu apa-apa sama siapa?"


" Lo kan di kantor papah lo, ya sama papah lah"


" Bukan itu, masa gue minta temani makan siang, temani nongkrong sama papah?".


" Gue mau ninggalin aja baru lo sedih, gue tiap hari ada lo cuekin"


" Iih, kapan gue nyuekin lo"


" Tu lo enggak mau dengar nasihat gue"


" Udah deh balik lagi kesitu omongan lo"


Alya melepaskan tangannya dari baju bagian bawah Arga


Alya membuka ponselnya, ada pesan dari Kevin


" Aku ada di lantai bawah, tapi kalau belum selesai tidak apa, aku tetap nunggu disini"


Alya menoleh pada Arga


" Gue balik dulu ya"


" Dijemput atau gue antar?"


" Gue dijemput, ini mau diomongin lagi sama dia, semoga gue bisa ya benar-benar memutuskan hubungan ini"


Arga mengangguk


" Gue tau lo cewek kuat, kalau lo mulai lemah bayangin wajah Afkar, lo ngerti?"


Alya menepuk pundak Arga


" Oke boss, gue turun dulu, daaah".


Seorang pria berwajah tampan dengan penampilan khasnya sedang memainkan ponsel dan duduk di satu kursi bagian pojok lantai bawah, Alya mendekati


" Maaf ya ka, lama nunggu?"


" Kalau menunggu yang tercinta itu tidak akan pernah membosankan walaupun waktu berlalu seakan sangat lama"


Alya tersenyum


" Sudah pinter ngegombal ya?"


" Iya, soalnya kalau serius aku malah tidak dianggap"


" Hehehe"


" Habis ini mau kemana?"


" Pulang"


" Boleh kita jalan-jalan dulu? sudah sebulan tidak jalan-jalan sama kamu"


" Kemana?"


" Kemana saja"


Apa dia mau ngomong hubungan kami ini ya? okelah, mungkin memang sudah saatnya.


" Kalau gitu di depan aja ka ada tamannya"


" Boleh, ayo"


Mereka berdua berjalan menuju parkiran motor dan segera pergi dari kampus itu.


Alya memberi petunjuk dimana harus memarkir motornya, sebulan yang lalu kan dia memang pernah mampir kesini bersama Afkar.


" Duduk disana aja ka"


" Boleh".


Menemukan sebuah bangku yang diatasnya terlindung dari sinar matahari karena ada beberapa pohon rindang yang berada disamping mereka


" Ka, mau ngomong apa?"


Kevin memposisikan tubuhnya agar bisa berhadapan walaupun mereka dalam posisi berdampingan

__ADS_1


" Alya, sebentar lagi aku akan wisuda, dan otomatis aku akan pindah ke Jakarta untuk mengurus perusahaan papah"


" Iya, lalu?"


" Sebelum aku teruskan aku mau tanya, selama sebulan ini apa yang kamu rasakan?"


" Biasa saja"


Kevin sedikit membuang mukanya, tapi dengan sangat pelan. Memang biasa bagimu, kamu tau segala yang kamu lakukan dibawah pengawasanku, selalu ada anak buahku yang akan menangani semua masalahmu, yang membuat kamu tidak sendiri, dan kamu menjawab biasa saja, sepertinya ada jarum yang menusuk hatiku.


" Apa pernah kamu mengingatku?"


" Pernah"


Kevin merasa mendadak jarum yang tadi menusuknya tercabut dan seakan Alya akan memperban dan mengobatinya


" Sungguh?"


" Iya, kan Alya mau balikin motornya, jadi Alya nungguin kaka datang buat mengambilnya"


Jarum yang tercabut tadi kembali menancap, kali ini lebih dalam


" Jadi menurutmu hubungan ini memang harus berakhir?"


Alya mengangguk


" Karena Afkar?"


Deg, kali ini Alya yang bergetar


" Dia kekasih Alya ka, Alya mencintainya"


Kevin mengangguk


" Iya aku tau, walaupun dia terlambat menyatakannya lebih dulu aku, tapi aku tidak bisa memaksamu".


Baguslah ka , biar aku tidak perlu menjabarkan perasaanku lagi, karena itu pastinya akan menyakitimu


" Kalau orang tua kita menanyakanya, aku boleh bilang alasannya karena itu?"


" Terserah"


Heeyyy,,, kenapa gue jawab begitu, gue berani??


" Tidak, kamu tenang saja, aku tidak akan mengatakan pada orang tuaku, kecuali orang tuamu yang mengatakannya lebih dulu".


Alya mulai mencerna, Ka Kevin sering kali menjebakku dengan kata-katanya


" Aku juga akan pergi, jadi posisi kami sama, sama-sama jauh darimu"


" Apa maksudnya ka?"


" Kami akan bersaing dengan baik"


" Alya tidak akan membuat ini menjadi persaingan"


" Alya, aku sudah tau siapa Afkar, dan aku tidak ingin dikalahkan secara sepihak begini"


" Ka, Alya mencintainya, tidak ada pihak lain"


" Oh ya, aku tau kamu mencintainya, aku juga tau kamu tidak sepenuhnya menolakku"


" Apa maksud kaka?"


" Kenapa kemarin aku diputus mendadak sesaat setelah Afkar akan datang?"


Awwww, bocoran dari mana ini?


" Bisa saja kan seharusnya sebelum itu? atau begini, seandainya dia tidak datang, kamu yakin memutuskan hubungan ini?"


Alya terdiam


" Aku tidak memaksa agar hubungan ini berlanjut, aku hanya minta ini tidak putus".


Alya menggeleng


" Tidak mau"


" Begini, sekarang dia jauh dan sebentar lagi aku pun jauh, tapi aku akan berusaha membuktikan aku lebih bisa membuatmu bahagia, aku lebih bisa menghadirkan aku saat kamu butuhkan, aku akan membuat wajah cantik ini tertawa bukan malah menangis"


Alya menatap tajam Kevin, memang kamu mau hubungan aneh ini berlanjut? dimana kamu letakan ketampanan, kekuasaan, strata, keluarga yang bermartabat sehingga kamu sampai memohon hal gila begini?


" Tidak ka"


" Apa merugikanmu? aku sudah bilang, aku tidak akan menuntutmu untuk hal lebih, kamu hanya akan bisa melihat dan merasakan nanti saat aku dan dia berjuang dengan cara masing-masing"


" Alya cinta dia, bukan cinta kaka"


Alya seperti sudah ingin menangis, mengingat pesan Arga agar jika ia lemah hadirkan Afkar dipikirannya


" Aku tau, tapi aku meyakini, aku tidak sepenuhnya di tolak, dan aku ingin juga berjuang"


Wajah lembut Afkar begitu kuat di bayangannya, aku tidak akan main-main lagi


" Ka, Alya sudah bilang tidak"


" Alya, tolong pahami aku, kali ini aku sudah melepaskan harga diriku di depanmu, sedang kamu sangat meninggikan dia di depanku. Kamu tau siapa Afkar?"


" Tentu saja"


" Kamu tau kehidupannya?"


" Tau"


" Kamu tau keluarganya?"


Alya terdiam


" Kalau kamu ingin tau aku bisa menceritakan"


" Tidak perlu, dia kekasih Alya, Alya bisa tanya sendiri"


" Baik, aku tidak ingin menjatuhkannya dihadapanmu, kamu akan tau dengan sendirinya nanti, itu pun jika kamu menanyakannya"


" Jangan terlalu jauh mencampuri kami ka"


" Aku tidak mencampuri hubungan kalian, aku hanya mencoba memperbaiki hubungan kita".


" Kenapa kaka sampai mencari tau siapa ka Afkar? apa itu penting?"


" Tentu saja, aku hanya akan mundur jika dia adalah orang tepat yang akan membahagiakanmu, kalau aku ragu kenapa aku melepaskanmu?"


" Alya tidak peduli ka"


" Baik, aku tau semua yang mencinta memang begitu, aku juga. Kamu tau selama sebulan ini apa yang terjadi padaku? otakku bilang hentikan saja, biarkan ini berakhir, tapi hatiku bicara, teruskan, orang yang kamu cintai membutuhkanmu, diluar dia cinta atau tidak, kamu masih berarti untuknya. Dan aku menuruti hatiku Alya, aku harus memperjuangkan hubungan ini, walaupun pada akhirnya nanti aku tetap akan tidak berharga untukmu, setidaknya aku sudah berjuang"


Alya menghela napas


" Alya tidak perlu materi ka"


" Aku tidak membicarakan materi sejak tadi, aku hanya membicarakan untuk bersaing dengan baik, berjuang untuk mendapatkanmu. Walau aku tau aku sekarang masih di garis start sedang dia sudah jauh di depanku, tapi aku masih melihat finish nya masih sangat jauh, aku masih punya waktu"


Alya memainkan jemarinya


" Alya tidak mencintai kaka"


" Tidak apa untuk sekarang, entahlah nanti"


Alya tertunduk.


" Mau nya kaka apa?"


" Kita teruskan hubungan ini, aku tidak akan memaksamu mencintaiku, aku juga tidak akan melarangmu untuk tetap mencintainya, beri saja aku waktu agar kamu tau, kamu lebih nyaman bersama dia atau aku"


" Terserah"


" Terima kasih"


" Satu lagi, bawa saja motor ini ka"


" Baiklah, hari ini akan aku bawa motor ini, dan akan aku gantikan dengan mobil agar kamu tidak lagi kehujanan dan berteduh dibawah toko kecil alat tulis itu, aku tidak ingin kamu sakit"


" Pa Budi yang ngasih tau?"


" Bisa saja kan gelang kakimu yang berisik itu yang bercerita pada ku, hehe".


" Tidak usah ka, Alya bisa minta papah kalau perlu"


" kali ini bukan milik kita, mobil itu akan kita beli atas namamu, jadi tidak perlu lagi dikembalikan, bagaimana?"


Alya menggeleng


" Jangan ka"


" Anggap saja ini adalah tanda penutup hubungan break kita kemarin, jangan di tolak ya"


" Terserah Kaka"


" Kalau begitu ayu kita pergi"


" Kemana?"


" Ke showroom Roni, kamu pilih sendiri mobilnya"


" Kenapa harus ke tempat Roni? memang dia punya showroom?"


Kevin terkekeh


" Roni sahabatmu saja kamu tidak pernah menanyakan dia anak siapa, kekasihmu Afkar juga tidak pernah kamu tanyakan siapa keluarganya, seperti nya mulai sekarang aku akan belajar untuk menemanimu membuka mata dan telinga".


" Dia punya showroom?"


Kevin mengangguk


" Sahabat yang sering kamu tonjok itu, yang sering kamu jambak rambutnya, yang sering kamu injak kakinya, yang sering kamu telfon untuk menemani nongkrong, dia memiliki showroom terbesar di kota ini"


" Kenapa kaka tau?"


" Tentu saja tau, beberapa orang penting itu kadang harus kita kenali, siapa tau nanti bisa bekerjasama dan saling menguntungkan"


Alya menutup mulut dengan telapak tangannya


" Orang penting? kenapa Roni tidak pernah bercerita"


" Kamu beruntung, sahabat-sahabatmu itu adalah orang penting, besar tapi masih rela saja sabar menemanimu yang sering bikin ulah, hehehe"


Alya mengikuti langkah Kevin ke parkiran, hatinya tidak sedang memikirkan mobil apa yang akan dihadiahi Kevin, tapi bagaimana cara dia minta maaf pada Roni akibat ulahnya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2