Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Petuah Mama


__ADS_3

Alya baru saja memarkir motornya, bunyi klakson mengejutkannya


" Ka Pandu?"


Pandu keluar dari pintu depan, diikuti pintu yang terbuka dari belakang


" Mama?"


Alya mencium tangan mama dan tangan Pandu


" Baru pulang kuliah de?"


Pandu merangkul pundak Alya


" Iya ka, kok enggak bilang mau kesini?"


" Mendadak"


Mama menjawab dengan singkat namun sangat jelas terdengar tidak biasa di telinga Alya.


" Masuk deh"


Alya memegang tangan mama mengajak masuk tapi mama menolak


" Kita jalan saja Al".


Alya memandang Pandu dengan tatapan bingung


" Mama ngajakin kita jalan de" Seakan menjawab pertanyaan di dalam hati Alya


" Iya, Alya pamit ke teman-teman dulu ya".


Alya masuk sebentar ke dalam kost nya, dengan setengah berlari ia sudah kembali bersama mama dan Pandu. Mereka bertiga memasuki mobil Pandu.


Alya masih bingung, ada apa ini tiba-tiba ngajak jalan, enggak ada kabar duluan.


Mobil mereka berhenti di sebuah restoran masakan Jepang. Pandu keluar membukakan pintu untuk mama dan Alya. Mereka berjalan menuju pintu dan terlihat dari bagian sebelah kanan terdapat meja besar dan disana sudah ada 3 orang. Alya bergetar begitu mama menggandengnya menuju meja makan besar itu


" Selamat datang sayang"


Tante Risma menyambutnya dengan mencium pipi kanan dan kiri Alya, Alya masih dengan ketegangannya. Medekati seorang pria yang lebih tua dari ayahnya, tapi wajah beribawa itu tetap saja masih menyisakan ketampanannya di waktu muda. Alya mencium tangan lelaki itu


" Assalamualaikum om Hadi"


" Waalaikum salam Alya, bagaimana? sehat?"


Alya mengangguk


" Alhamdulillah sehat om".


Alya kemudian menatap satu orang lain.


Mendekati pria muda itu dan menjabat tangannya


" Ka Kevin"


" Alya"


Keduanya kembali diam.


" Nak Pandu, Mba Siska ayo duduk"


Di depan meja mereka sudah tersaji makanan khas Jepang, ada Sukiyaki, Yakisoba dan Sop Miso


" Ayo silakan di makan dulu".


Mama dan Ka Pandu mengambil mangkok yang sudah ada di depan mereka, sedangkan Alya terasa sangat kaku untuk menggerakan tangannya. Tante Risma melihat Alya masih saja diam langsung mengambilkan mangkok dan mulai mengambilkan Yakisoba


" Kata Kevin Alya suka makan ini, mirip mie goreng ya sayang, hehe"


Alya cuma tersenyum, teringat satu waktu pernah sekali Kevin membawanya ke restoran ini, Alya yang bingung tidak tau harus memesan apa karena tidak pernah ke restoran menu Jepang cuma berbisik dan minta pesankan mie goreng saja. Saat itu Kevin tertawa, kalau cuma mau makan mie goreng, kita balik ke kost Alya saja, bukankah Alya cerita kalau lemari dapurnya harus punya stok mie goreng, agar kalau malam hari perutnya lapar ada pengganjal perut. Kevin memesankan Yakisoba untuknya. Yakisoba adalah masakan mi goreng Jepang dengan bahan mi, kol, sayur-sayuran dan daging, ditambah bumbu saus uster atau saus yakisoba. Meskipun bernama yakisoba (soba goreng), yakisoba memakai mi yang sudah dikukus matang dari bahan tepung terigu mirip dengan ramen, dan bukan soba yang dibuat seperti mi goreng. Walaupun tidak terlalu mirip, setidaknya masih sekelas dengan mie, dan Alya menikmatinya saat itu.


Alya melirik Kevin, menu yang aku makanpun kamu ceritakan ka?


Mereka ber enam pun mulai menikmati hidangan yang tersedia, tanpa kata-kata, semakin terasa menyeramkan bagi Alya.


Selama 15 menit tanpa ada obrolan, sesekali hanya ada suara tante Risma dan Om Hadi untuk mempersilakan mereka untuk menambah lagi, tentu saja balasannya adalah penolakan halus dari mama dan Pandu.


" Alya tidak dihabisin ya makananya?"


" Alya sudah makan di kampus tadi tante"


Jawab Alya berbohong, mana bisa makan di suasana setegang ini


" Maaf ya de Siska, Pandu, Alya, kami mengundang mendadak begini. Ini kami lakukan agar masalah anak-anak kita ini bisa kita luruskan, walaupun soal menyelesaikannya akan kembali pada mereka"


Tante Risma mulai membuka obrolan.


Huupp, benar kan dugaanku, pasti akan membahas hubungan kami, mengadu apalagi sih ka Kevin


" Tidak apa mba Risma, daripada kita saling tidak enak di belakang, memang lebih baik semua kita pertemukan begini supaya jelas"


Mama ikutan menyambung.


Tante Risma memandang Alya yang sekarang sudah duduk di sampingnya


" Alya, boleh cerita sama kami, kenapa Alya meminta agar hubungan baik yang sudah sangat baik ini berakhir?".


Alya menunduk, nada suara tante Risma sangat lembut, tapi seperti sedang mencakar seluruh tubuhnya. Alya mencoba untuk kuat, menatap Kevin sebentar yang juga sedang menatapnya


" Alya, Kevin tidak bercerita apa-apa pada kami, tadi malam tante telfon dia, tante tanya kenapa dia tidak menemui kamu, dia jawab mulai sekarang sampai satu bulan kedepan kalian memutuskan hubungan komunikasi dalam bentuk apapun dulu. Tante tanya lagi ada apa? dia tidak menjawab katanya Alya yang menginginkannya"


Tante Risma menjelaskan sesaat setelah melihat tatapan dingin Alya seperti ingin menghujani anaknya dengan kekesalan.


Alya mengangkat wajahnya, gue tidak boleh lemah, ini hidup gue.


" Sebelumnya maafin Alya om, tante. Kami dulu pernah berjanji untuk sama-sama saling belajar untuk mencintai, tapi semakin kesini Alya masih saja belum bisa untuk mencintai Ka Kevin, Alya cuma tidak mau ini akan membuang waktu kami, ka Kevin sangat layak untuk mendapatkan pendamping yang jauh lebih segalanya dari Alya"


Hening, kali ini Om Hadi yang bicara


" Alya, kami sudah sangat menyenangi dan berbahagia mendengar selama ini hubungan kalian semakin membaik, kami juga tau di awal Alya sama sekali tidak peduli pada Kevin, tapi akhir-akhir ini Kevin selalu bercerita tentang kelucuan kalian sehari-hari, dan hubungan yang sudah lebih baik, kenapa tiba-tiba Alya bisa mengatakan ini tidak bisa diteruskan? Dan soal Kevin pantas mendapatkan yang lebih baik itu salah, justru kami melihat Alya itu sudah baik sehingga Kevin yang harus belajar lebih baik agar ia pantas untuk kamu"

__ADS_1


Deeerr, apaan ini? gue yang slengean begini di sebut sudah pantas dan justru Kevin yang harus belajar lagi? cerita apa sih Kevin soal kelakuan gue? Bohongnya tolong jangan kelewatan ka.


" Maaf om, Alya sangat berterima kasih sama Ka Kevin selama ini tulus jagain Alya, antar jemput, menemani jalan-jalan, makan bahkan untuk perawatan dan penampilan Alya ka Kevin begitu memperhatikan, Alya juga sudah nyaman dengan semua kebaikan ka Kevin tapi Alya benar-benar belum bisa mencintainya".


Kalau ini gue enggak bohong, ini beneran om.


" Kalau kamu sudah nyaman, ya lanjutkan saja, kenapa harus diputuskan? Semua akan berjalan dengan baik Alya, nyaman itu adalah awal dari perasaan baik lainnya, hal baik dan membahagiakan lainnya akan mengikuti"


Alya hanya bisa tertunduk, mana mungkin gue bilang kalau sebenarnya gue sudah memiliki kekasih. Alya memandang mama dan Kevin yang dari tadi cuma jadi pendengar setia.


" Alya, Kevin tidak memaksamu untuk mencintainya sekarang kan? Kevin bilang pada kami akan tetap bersabar, dan ia akan terus berusaha membuatmu bahagia, kamu masih bisa memberikan ia waktu untuk itu kan?"


Alya semakin dalam dengan diamnya, kenapa semua membenarkan Kevin? gue merasa terpojok, ada yang bisa bantuin gue?


" Alya, Kevin bilang kalian mau break dulu selama sebulan, baiklah, kami memang tidak bisa lebih jauh mencampuri ini, tapi kami sangat berharap kalau selama berpisah ini kalian akan merasakan perasaan kehilangan, perasan rindu, perasaan membutuhkan, hingga nanti kalian akan bisa menyadari bahwa sebenarnya kalian ini memang sudah saling mencintai"


Mama yang sejak awal diam akhirnya bicara


" Maafkan anak kami mba, mas. Tapi menurut saya memang mungkin lebih baik mereka break dulu, benar kata mba tadi, nanti mereka akan merasakan perasaan kalau sebenarnya mereka itu saling membutuhkan. Biar dulu mereka memutuskan komunikasi mereka, siapa tau ke depan nya ini akan menjadi lebih baik".


Alya tidak habis pikir, tadi katanya tidak mencampuri lebih jauh, ini kok sekarang mereka yang memutuskan agar hubungan ini break dulu. Lebih baik kalian mencampuri hubungan kami tapi tidak memutuskan hasilnya, daripada tidak mencampuri tapi keputusannya ada di kalian juga, sok bijak di awal tapi mencekik di akhir. Tapi di keadaan inj sepertinya kalian memborong sikap ya, ya mencampuri ya memutuskan. Bisa apa gue??


Mama, Pandu dan Alya pamit lebih dulu karena mereka akan menginap di rumah Pandu malam ini, besok akan di jemput papah. Mama dan Alya akhirnya menginap di rumah Pandu malam itu. Dan sudah sangat bisa ditebak kejadian apa yang terjadi malam itu di rumah Pandu.


Setelah makan malam di rumah Pandu dengan menu rumahan karena istri Pandu mulai hamil muda dan tidak suka jajan di luar, maka jadilah menu nasi putih dengan ikan goreng, oseng-oseng tahu tempe dan kacang buncis serta kerupuk menjadi hidangan malam itu. Mama duduk di sofa depan televisi, Pandu membantu istrinya membereskan meja makan dan mencuci piring kotor, sementara Alya seperti terdakwa duduk di sofa bagian lain tapi masih di depan televisi juga.


" Alya,, mama mau tanya. Sebenarnya belum mencintai Kevin itu bukan alasan utama kan?"


Alya sudah bisa menebak Kemana arah bicara ini


" Mama pikir hubunganmu dengan Kevin selama ini yang mama dengar semakin membaik, kalian sudah semakin akrab, kuliahmu di antar jemput, diberikan motor baru, hadiah-hadiah bahkan untuk perawatan diri semua Kevin bisa memberikan nya, dan memang akan menuju baik, mama tidak ingin membicarakan hal lain yang bisa merusak hubungan ini kemarin-kemarin. Dan sepertinya nya memang kamu sudah menerima Kevin. Mama tidak menyangka Alya kamu malah memutuskan di saat seperti ini"


" Ma, selama ini Alya pernah melawan mama? tidak kan. Alya pernah meminta sesuatu selain uang jajan sama mama? tidak kan?. Untuk satu hal ini tolong ma, Alya meminta izinkan Alya menentukan pilihan Alya sendiri"


Mama menatap Alya yang sedang memohon padanya


" Kali ini Alya membohongi mama"


" Tidak ma, Alya tidak pernah bohong, mama yang tidak pernah menanyakannya"


" Mama tidak menanyakanya karena kelihatannya kamu sudah sangat baik dan hubunganmu dengan Kevin terlihat lebih serius"


Alya tertunduk lemas, iya ma Alya memang seakan sudah menerima Kevin, tapi bukan perasaannya, kenapa juga aku bodoh begini, apa benar kata Arga aku memanfaatkan Kevin?.


" Kenapa kamu masih saja berhubungan dengan Afkar?"


" Alya cinta".


Hening.


Pandu dan istrinya datang, duduk di sofa bagian lain dari mereka, tapi tidak berani ikut komentar.


" Apa yang kamu harapkan dari Afkar?"


" Ka Afkar akan melamar Alya setelah kami lulus kuliah"


" Bagaimana keluarganya?"


Mama memandang tajam Alya


" Kamu tidak tau sama sekali Alya?"


Mama semakin marah mendengar jawaban Alya.


" Kenapa mama selalu memojokan ka Afkar? dia sangat baik ma, selalu membuat Alya bahagia"


" Mama tidak memojokan Afkar, mama tidak pernah kan membedakan teman-temanmu selama mereka bersikap baik dan tulus menjagamu. Ini berbeda Alya, ini tentang masa depan"


" Masa depan itu bukan di tangan kita ma"


" Memang bukan, tapi sekarang kamu ada di dua pilihan, dan pilihan ini ada di depan kita dan perbedaan nya terlalu jauh Alya"


" Kehidupan ka Afkar sudah jauh lebih baik ma"


" Jauh lebih baik, tapi masih jauuuh terlalu baik kehidupan Kevin sekarang"


" Tapi Ka Afkar berusaha sendiri ma, bukan dengan bantuan orang tua, hasil dari keringatnya sendiri"


" Alya, kenapa kamu mau bersama dengan seseorang yang sedang berusaha dari 0 sedangkan kamu masih mempunyai pilihan bersama orang yang sudah mapan"


" Kami akan bangga dan puas nantinya ma".


Mama menggelang


" Kamu tidak pahan dengan itu nak, berjuang itu berat, ini hidup Alya, yang semua kebutuhan akan kita beli dengan materi berbentuk uang"


" Ka Afkar mempunyai pekerjaan ma, jika mama tidak mau Alya juga bekerja, ka Afkar bisa memenuhi kebutuhan Alya"


" Alya, kehidupan pemilik perusahaan dan pekerja biasa di perusahaan itu berbeda, papah dulu waktu masih staf pernah di PHK Alya, untung mama juga bekerja, mama bisa mengambil alih tanggung jawab perekonomian keluarga, mama yang bekerja siang dan malam harus buka praktik untuk bisa mencukupi kebutuhan kita, mama tidak bisa bercerita betapa lelahnya mama untuk itu, beruntungnya papah bukan orang yang patah semangat, papah terus berusaha dan akhirnya di terima di perusahaan sekarang sampai menduduki jabatan sekarang. Mama tidak ingin pengalaman mama terulang sama kamu Alya. Sejak kecil kebutuhan kalian sudah kami cukupi, walaupun kita bukan orang kaya tapi kita tidak kekurangan, kalian terbiasa dengan apapun yang kalian butuhkan kami dengan segera mencukupinya selama itu masih bisa kami lakukan. Berat Alya untuk kalian jika harus berjuang juga, sekarang zamanya sudah berbeda, kami mungkin bisa melewati nya dengan sabar dan baik, tapi kamu?"


" Kalau mama bisa melewatinya dengan baik berdua papah, kenapa mama mengkhawatirkan Alya?"


" Kamu terbiasa hidup nyaman Alya"


" Ka Afkar itu bertanggung jawab ma, dulu saja dia tidak apa bekerja sebagai OB, yang penting halal, dan sekarang dia sudah bekerja di perusahaan, dia juga sudah mempunyai sebuah motor dan baru mencicil rumah ma"


" Itu yang mama bilang, berat Alya menemani dari 0. Seandainya kamu tidak punya pilihan lain dan usia kamu sudah sangat mengharuskan kamu menikah mama tidak akan keberatan begini, tapi kamu memiliki pilihan lain Alya"


" Alya paham ma, makanya Alya menghilangkan pilihan itu sekarang agar Ka Afkar bisa diterima"


" Sayang nya kamu memutuskannya terlambat Alya"


" Ma,,, ini hidup Alya"


Alya menahan tangisnya


" Karena ini hidup Alya, dan kami orang tuamu nak, kami sangat peduli padamu. Kami juga sudah akrab dengan Kevin dan keluarganya, kami merasa aman Alya kalau kamu bisa menikah dengannya"


Alya tidak bisa lagi menjawab mama, sebenarnya begitu banyak yang ada di pikirannya, tapi tidak bisa keluar dari mulutnya.


" Begitu banyak pertimbangan kami Alya, kami sama sekali tidak ingin membuatmu sedih, kami hanya membukakan pikiran kamu agar bisa melihat mana yang terbaik untukmu"

__ADS_1


Alya hanya mengangguk


" Kamu bisa kembali dengan Kevin sayang?"


Alya memandang mama


" Bukannya tadi mama yang sudah memutuskan kami break dulu selama sebulan ini?"


Mama kaget Alya semakin berani saja sekarang, dan jawabannya ini seakan menyalahkan mama


" Iya, baiklah. Sudah jam setengah 10, besok pagi Ka Pandu akan mengantar kamu ke kampus, dan besok papah akan menjemput mama. Kita istirahat dulu"


Mama mencium kening Alya dan beranjak menuju kamar tamu untuk beristirahat


Alya belum beranjak dan masih saja berbaring dan sofa ruang tengah, padahal sudah jam 10 malam, Kevin duduk disampingnya


" De, coba deh lo pikirin lagi omongan mama"


" Percuma ka, Alya malah makin sakit setiap dengar kata-kata mama, Alya sedih karena selalu merendahkan ka Afkar"


" Bukan merendahkan de, tapi semua itu benar, lo aja yang membabi buta mencintai Afkar"


" Alya enggak membabi buta, Ka Afkar memang baik banget ka, dan memang Alya tidak bisa menceritakan bagian mana yang membuat Alya begitu mencintai nya, karena semua cuma memandang dari sisi materi, sedang Alya melihat dari hati"


" De, terkadang kita harus mendengarkan sesuatu dari mata orang lain, karena bisa aja kan saat ini mata kita sedang tertutup kabut, kaya lo sekarang. Ya udah, masuk kamar deh, temani mama, gue mau istirahat dulu".


Pandu berdiri dan menepuk pundak Adiknya yang malah lebih menikmati berbaring dan menselonjorkan kaki pada tepi sofa. Ngapain juga para orang tua ini harus mempertemukan gue dengan ka Kevin begini, sepertinya gue sebagai orang yang akan disidang. Ka Kevin tidak menceritakan alasan gue memutuskannya karena Ka Afkar, bagus lah, cukup pintar juga dia tau bagaimana menghormati wanita.


Alya mengambil ponsel dari tasnya, sejak dijemput setengah paksa oleh Pandu dan mama siang tadi Alya belum menyentuh ponselnya karena takut salah lagi di mata mama.


Banyak sekali chat wa group kampus, group wa ber empat, ka Afkar


" Sayang, kok tidak bisa dihubungi?"


" Sayang ada dimana? Sylvia ku telfon juga tidak tau sayang dimana?"


" Sayang baik-baik saja?"


" Sayang kalau sudah aktif jam berapapun bisa hubungi aku? aku khawatir".


Group WA


" Al, lo dimana?"


" Kenapa tidak aktif?"


" Al, tadi gue ke kost, kata anak-anak lo di jemput Ka Pandu"


" Lo baik-baik aja kan Al?"


Arga


" Al, lo dimana? kalau sudah aktif telfon gue ya"


Baiknya kalian sahabat gue


Alya membalas pesan Arga


" Gue nginap di rumah ka Pandu, baik aja, maaf td enggak aktif, kelupaan nyalain, hehe"


Membalas chat group wa." Gue nginap di rumah ka Pandu, baru aktif nih"


Menekan tombol panggilan


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam ka"


" Sayang dimana?"


" Alya nginap di tempat ka Pandu ka sama mama, maaf tadi habis dari kuliah lupa nyalain lagi"


" Oh iya udah, enggak apa-apa"


" Besok jadi datang ka?"


" Iya, pesawat sore, aku mau masuk dulu, nanti siang duluan izin pulang, langsung ke bandara"


" Iya ka, Alya jemput ya"


" Enggak usah, takut kemalaman"


" Kan pesawat sore, Alya pulang kuliahnya jam 4 sore, nanti Alya langsung jemput"


" Iya deh"


" Ka, Alya ngantuk"


" Loh, ini sudahan?"


" Kan besok kita ketemu? bisa puas-puas ngobrolnya"


" Tapi kalau besok jemput aku jangan pakai caci maki, di pukul lagi ya sayang?"


" Kayanya enggak ka, tapi belum tau juga siapa tau besok Alya punya ide baru lagi, kita liat aja".


" Aku siap kok diapain juga, hehehe. Sayang istirahat dulu ya, aku juga mau nyiapin stamina buat besok ketemu sayang"


" Hhmm"


" Assalamualaikum".


" Waalaikum salam ka"


" Emuuah"


" Sayang ka Afkar".


klik.


Bantu aku menguatkan cinta ini ka.

__ADS_1


__ADS_2