Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Persiapan Pengakuan Kedua


__ADS_3

Menu ayam bakar, ikan bakar dan bebek bakar sudah tertata di atas satu meja. Beberapa lalapan berupa terong ungu yang di bakar, tahu tempe goreng beserta sayur-sayur dan sambal terasi melengkapi hidangan untuk makan siang. Arga membawa Afkar dan Juan ke satu restoran yang berada tidak jauh dari kantornya.


" Alya masih suka makan pedas?"


Afkar menarik sambal terasi yang dihidangkan di dalam cobek batu dan mencicipi ikan bakarnya.


" Masih, tapi sudah lumayan berkurang levelnya, setelah masuk rumah sakit otaknya sudah mulai lebih waras"


Juan menatap Afkar, jadi kita jauh-jauh kesini hanya untuk menanyakan masalah cabe? bos aneh.


" Syukurlah, kupikir dia tidak akan bisa menghilangkan kebiasaan buruknya itu, kalau kopi?"


" Kami sudah jarang ke kedai kopi, ada sih beberapa kali termasuk membaca surat lo kemarin"


Afkar meminum es jeruk di depannya, meminum sebanyak tiga teguk dan meletakannya kembali.


" Bagaimana reaksinya setelah membacanya?"


" Apa lo pernah membuatnya tidak menangis?"


Kali ini Juan mendengarkan lebih seksama, mantan kekasihmu itu kamu apakan? bukankah katamu kamu yang menderita? kenapa perempuan itu yang menangis? mungkin maksudnya selalu kamu buat menangis?


" Kamu bersamanya?"


" Gue bahkan meminta Bowo untuk tidak mengabarinya dulu, gue tidak ingin Alya membaca sendiri surat lo dan setelahnya akan gantung diri di kedai itu"


Afkar tersenyum.


" Dia bahkan sudah membunuhku jauh sebelumnya"


" Benar dugaan Alya?"


" Tentang apa?"


" Kalau lo mengamati kalungnya?"


Afkar mengangguk


" Dia tahu dari mana? CCTV seperti aku melihatnya?"


" Iya"


" Aku memang mengamati kalung itu, dia masih memakainya, apa sekarang dia masih memakainya?"


Arga menghentikan makannya dan menatap Afkar dengan amarah.


" Tadi gue sudah menunaikan janji gue buat menghajar lo, sekarang sepertinya gue ingin memasukan lo ke kamar jenazah"


Juan memandang bos nya dengan wajah siaga, walaupun bos sekaligus temanku ini terkadang sangat menjengkelkan, tapi menjadi tanggung jawabku untuk melindunginya. Dia baru menghajar bosku? oh bibir yang sehabis berdarah itu akibat tadi berantem? astaga bos kamu kalah? mana sangar dan kerasmu?


" Maaf bos, biar saya di depan"


Juan benar-benar bersiaga. Afkar malah membentaknya.


" Diam kamu Juan"


Juan kaget, gila. Aku ini berada di mana sih? aku kan ingin melindungimu bos, huuh.


" Lo sudah bertemu dia kemarin, setelah dua tahun, ngapain aja lo kemarin? lo tidak melihat kalungnya?"


Afkar menggeleng.


" Jangankan kalungnya, wajahnya saja belum sempat, aku bahkan memanggil sekretarisku untuk memastikan apakah dia benar Alya"


" Lo tidak menyambutnya selayaknya Alya yang sangat menunggu pertemuan ini?Jangan salahkan gue lo balik tinggal nama"


Kali ini Juan tidak lagi ingin melindunginya, aku menolongmu mungkin saja aku yang akan mati lebih dulu, biarlah kamu mati ditangan Arga, paling-paling aku ganti bos baru yang tidak sepemarah dirimu.


" Aku bingung Arga, sejujurnya aku sangat gugup, aku tidak siap. Berbagai pikiran tiba-tiba memenuhi otakku, bagaimana kalau dia datang bersama Kevin? bagaimana kalau setelah bertemu denganku dia akan langsung pulang karena tidak sudi lagi melihatku, bukankah dia yang memutuskan hubungan kami ini. Aku tidak bisa berpikir jernih Arga"


" Dari dulupun lo tidak pernah berpikir"


" Apa maksudmu?"


" Kenapa lo tidak benar-benar mempertahankannya, sedang lo tau kalau Alya hanya mencintai lo?"


" Kamu sudah tau jawabannya kan? mana bisa aku bertahan dengan ketiadaan raga dan kemampuan materiku"


Arga mencuci tangan pada satu wadah berwarna hijau yang sudah disediakan di depannya, kemudian menggeser tempat itu agak jauh darinya.


" Alya tidak pernah mempermasalahkan itu"


" Aku tau, karena dia tidak pernah teruji dengan itu. Saat bersama orang tuanya, apapun kebutuhan sederhana atau berlebihnya terpenuhi. Setelah kuliah dia mengenalmu dan Roni yang begitu menjaga dan memanjakannya. Alya sangat beruntung memiliki sahabat sebaik kalian. Kemudian dia bersama Kevin, segala yang hanya kami impikan berdua bersama langsung diciptakan dan di hadirkan Kevin untuknya. Kamu tidak tau Arga, betapa matang rencana kami tentang masa depan. Aku berjanji akan memberinya tempat berteduh yang nyaman, aku memulai mencicil rumah kecil, aku berjanji akan membelikannya mobil agar ia tidak kehujanan dengan laptop dan laporan skripsinya, dengan mobil murah. Tapi apa? Kevin memberinya satu motor matic baru dan satu mobil baru yang mahal"


Arga sebentar berpikir, darimana dia tau soal mobil? kalau motor memang gue yang saat itu kebablasan ngomongnya.


" Aku tau mobil itu, saat terakhir aku datang, paginya aku pamit untuk ke bandara melalui panggilan telefon, tapi aku masih ingin melihatnya sekali lagi, aku datang ke kostnya pagi itu. Dia keluar untuk ke kampus, kupikir dia akan pergi dengan motor Kevin, ternyata tidak, dia pergi dengan mobil Kevin"


" Alya tidak memintanya, Kevin yang memaksanya, mereka ke showroom Roni, dan Roni cerita memang Kevin yang meminta Roni memilihkannya untuk Alya"


" Aku tidak menyalahkan Alya, aku hanya menyadarkanku kalau pilihan Alya benar untuk memilih Kevin. Alya tidak akan bisa denganku yang tidak bisa memberikannya apa-apa selain cinta"


Arga tertunduk. Mungkin benar yang dikatakan Afkar, Alya tidak meminta, tapi ia sudah diberikan kenyamanan, dan Afkar belum bisa memberikannya.


Selesai dengan perdebatan dua lelaki dan satu lelaki yang hanya ikut sebagai pendengar. Makan siang yang mengeluarkan banyak tenaga dan emosi.


" Apa rencana lo setelah ini?"


" Aku sangat menyesal, aku tidak ingin lagi kehilangannya"


" Setelah yang lo lakukan hari ini dan kemarin lo pikir dia tidak sakit hati? lo tidak mikir kenapa dia tidak cerita ke gue kalau bos jahat yang semalam suntuk dia bahas di group kami hanya orang lain, bukan lo?"


Afkar hanya diam


" Dia takut menceritakan pada kami karena Afkar sekarang yang dia temukan bukan Afkar yang dia cintai dulu. Dan hari ini, lo benar-benar membuatnya kecewa. Apa lo yakin dia bisa menerima lo dengan penyambutan luar biasa ini? dua tahun Afkar dia menunggu pertemuan romantis, dia menantikan saat kalian bertemu lo akan memeluknya, mencium tangannya, mencium keningnya, menyandarkan kepalanya di bahu lo, menghapus air mata bahagianya dan mengatakan semua akan baik-baik saja karena dia sudah ada di pelukan lo"


Afkar kali ini tercengang mendengar ucapan Arga.


" Kenapa? lo bingung gue tau perlakuan lo ini? kami sudah hapal susunan acara setiap pertemuan kalian berdua. Alya tidak pernah tidak bercerita tentang kalian. Termasuk peristiwa di hotel dan pertemuan terakhir kalian di taman malam itu dengan ciuman pertama bersama cinta pertamanya.


Kali ini Afkar yang melirik Juan yang juga sedang mendengar penuh konsentrasi, apa yang dilakukan bosku di hotel? ciuman pertama di taman? gaya dan lagunya saja bikin peraturan ketat, jomblo sih, coba pas kemarin punya pacar, nyuri kesempatan juga, sepertinya aku punya senjata kalau bos ku ngamuk-ngamuk lagi. Juan sedikit tersenyum dengan ide-ide jahilnya. Melihat wajah jahat Juan, Afkar semakin gelisah, hentikan Arga, jangan membuat Juan memikir aku lelaki brengsek, tidak ada apa-apa di hotel dan di taman malam itu, sahabatmu yang memulainya, walau akupun sangat menginginkannya.


" Arga, sekarang tolong aku. Telefon Alya"


" Untuk apa? telefon saja sendiri kalau berani"


Arga mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya.


" Arga, aku serius, panggilan video tapi jangan arahkan padaku, tanyakan bagaimana jika di Banjarmasin dia bertemu denganku"


" Tidak"


" Arga, aku ingin tau biar aku bisa mengambil langkah apa setelah aku pulang"


Dengan kesal Arga mengeluarkan ponselnya juga dan melakukan perintah Afkar.


" Assalamualaikum Ga"


" Waalaikum Salam"


" Lagi makan siang lo? gue barusan makan soto Banjar, enak Ga"


" Ooh Al, gue mau tanya. Seandainya Afkar juga berada di Banjarmasin bagaimana?"


" Gue cemplungin"

__ADS_1


" Terus dia mati?"


" Biarin"


" Lo masih sayang Al?"


" Sudah tidak pengaruh juga Ga"


" Gue nanya lo masih sayang apa tidak?"


" Lo mau nembak gue?"


" Enggak"


" Ya udah, apa manfaatnya lo nanya"


" Al, gue serius"


" Ga, gue benci ka Afkar"


" Ooh"


" Terus?"


" Terus apa"


" Lanjutan pertanyaan lo apalagi?"


" Enggak ada, sudah ya gue mau balik kantor"


" Aneh lo Ga"


" Nanti kita sambungin di group aja gue masih penasaran siapa si manajer galak lo itu"


" Sebel gue Ga hari ini di cuekin lagi"


" Besok masih ke sana?"


" Iya, gue enggak akan nyerah"


" Semoga sukses ya Al, kalau gagal lo balik dan langsung gue angkat jadi sekretaris gue di sini"


" Gaji gue besar Ga, sanggup lo bayar?"


" Kalau enggak sanggup gue kawinin lo"


" Hiih, dah Arga"


Klik.


Afkar menatap Arga tajam


" Jangan pernah bermimpi mau mengawini Alya"


" Kenapa? lo sudah punya kesempatan sejak lama tidak pernah memanfaatkan. Bodoh"


" Tapi sekarang aku sudah mempunyai kemampuan, siapa yang ingin bersaing sekarang boleh"


" Jangan sombong, masih yakin Alya menerima lo? lo tidak budeg kan tadi dia menjawab apa, dia bilang dia membenci lo"


" Aku dengar, dan sepertinya tidak semua hal tentang kami diceritakannya padamu" Afkar tersenyum dengan tatapan mengejek


" Maksud lo"


" Jika dia bilang membenciku, artinya dia mencintaiku, dia mengatakan itu saat pertama kali aku menyatakan perasaan ku di taman pinus"


" Buktikan saja, aku muak dengan kelemahanmu selama ini"


Afkar menoleh pada Juan


Juan mengangguk dan langsung membuka ponselnya.


Arga tersenyum, Alya semoga penderitamu selama ini berakhir. Cintamu sedang bersamaku sekarang, dia akan datang padamu sesuai dengan yang kamu inginkan dan diinginkan keluargamu dulu. Dia sudah sukses, dia sudah membuat dirinya berarti dan lebih berharga. Jangan lagi kalian berpisah. Aku tidak sabar Alya untuk menerima kabar bahagia ini dari mulutmu besok.


Mitsubishi Pajero sport berwarna Sterling Silver Metallic terparkir pada bagian tengah halaman kantor. Afkar turun dan merapikan jas hitamnya. Sebelumnya merapikan sedikit rambut, tepatnya bukan merapikan, sedikit mengacak pada bagian depan. Menatap wajah tampannya di spion, apakah aku sudah mirip seperti saat aku datang menemui cintaku pertama kali untuk menyatakan cintaku? hari ini akan menjadi kali kedua aku mengulangnya. Afkar mengambil satu tas jinjing kecil berisi bunga. Memalukan jika terlihat para karyawan aku membawa ini ke ruanganku, maka jadilah tas jinjing itu melindungi agar tak terlihat. Apa aku harus melepas jas ku agar masih terlihat muda? tapi aku belum tua, seandainya aku lebih tua, Alya pasti juga mengikut tua. Sebentar, kalau jas ini kulepas, apa lengan baju ku harus kugulung juga? Uuh repotnya aku pagi ini.


Sudahlah, lebih baik aku menyiapkan penampilanku di ruangan saja. Akhirnya turun dari mobil dengan menenteng tas jinjing berisi bunga dan rambut depan sedikit di acak. Sedikit saja bos muda berbeda tampilan pagi ini membuat mata karyawan perempuan yang sudah masuk kantor langsung terpana. Ada apa bos kita hari ini? keren banget, eh sambil senyum pula. Kabur satu hari tanpa kabar dan hanya sekretarisnya yang tau tanpa mau membocorkan pada siapapun, pergi kemana bos kemarin sampai membuatnya semanis dan sekece ini hari ini. Tak luput korban kekerenan Afkar hari ini adalah sekretarisnya sendiri. Wuuiih pak bos, seharian menemanimu di ruangan hari ini aku siap, tu rambut kenapa begitu? biasanya rapi dan klimis. Sapaan selamat pagi dan senyuman itu lho? kejutan apa ini?


Sofa besar yang berhadapan dengan meja kerjanya menjadi perhatian pertama Afkar. Afkar menghubungi ruang cleaning service melalui telefon kantor dengan kode tertentu


" Selamat pagi Pa Afkar"


" Assalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Terdengar suara gemetar dari penjawab karena takut. Salah sapaan sedikit bos muda ini bisa akan mendatanginya untuk menyuruh membenarkannya.


" Ini siapa?"


" Saya Muin pak"


" Oh pak Muin, sebentar keruangan saya"


" Baik pak"


Lelaki yang sudah mengabdikan hidupnya di perusahaan ini selama 15 tahun menjadi sedikit gemetar. Ya Allah, lindungi saya semoga pak Afkar tidak marah karena tadi saya salah sapaan. Aku harus segera meminta maaf.


Pak Muin setengah berlari dari lantai 1 menuju lantai dua keruangan bos muda.


Tok Tok


" Masuk"


" Assalamualaikum pak"


" Waalaikum salam"


" Maaf pak, tadi saya salah sapa, seharusnya saya mengucapkan salam pada bapak, maafkan saya pak"


Afkar tersenyum


" Saya memanggil bukan karena itu"


Pak Muin mengurut dadanya


" Alhamdulillah, saya pikir bapak akan memarahi saya"


" Tidak, yang menjadi urusan bapak sekarang adalah itu"


Afkar menunjuk sofa putihnya.


Pak Muin ikut arahan tangan Afkar


" Ada apa pak?"


" Sterilkan sofa ini sekarang"


" Maksudnya sterilkan bagaimana?"


" Semprotkan desinfektan, jangan sampai ada debu yang menempel di sana"


Pak Muin mengangguk, petugas kami setiap hari membersihkannya pak, kami menggunakan kain khusus untuk membersihkan sofa itu, tempat duduk bapak, meja bapak, lemari bapak, pegangan pintu bapak, bahkan rak sepatu bapak yang isinya hanya dua pasang sandal jepit yang akan bapak gunakan setiap akan shalat.


" Saya permisi pak mengambil alatnya"

__ADS_1


Pak Muin keluar dari ruangan dan tak lama datang dengan membawa peralatan kebersihannya.


Afkar memberikan instruksi dibagian mana saja yang harus dibersihkan, bukan hanya tempat duduk, sandaran sofa, kaki sofa bahkan lantai di sekitarnya. Cukup lama dengan kegiatan ini, dan bos mudanya sudah merasa puas pak Muin permisi keluar.


" Sebentar pak"


Afkar mengeluarkan lembaran uang kertas berwarna merah sebanyak lima lembar


" Terima kasih bantuannya"


Pak Muin tidak menerima justru menunduk


" Kenapa tidak diterima?"


" Pak, mohon saya jangan dipecat, kasian istri dan anak saya, tolong saya pak"


Afkar tertawa terbahak, betapa bebasnya pagi ini tawanya.


" Pak Muin, siapa yang memecat bapak? saya merasa puas dengan hasil kerja bapak pagi ini, dan ini tanda terimakasih saya, bapak tidak akan saya pecat"


Pa Muin mengangkat kepalanya


" Benar pak?"


Afkar mengangguk, Pak Muin meraih tangan Afkar dan berniat menciumnya tapi Afkar langsung menarik tangannya.


" Tidak perlu, bapak lebih tua dari saya, saya yang harus menghormati bapak"


Sekali lagi pak Muin membungkukan badannya tanda berterima kasih, menerima uang itu dan menciumnya


" Alhamdulillah, terima kasih pak, semoga hari bapak dilancarkan"


" Aamiin"


Pemilik punggung kecil itu keluar dari ruangannya, Afkar menatap pak Muin, aku dulu juga pernah menjadi dirimu pak, aku membersihkan mall itu dengan peralatan kebersihanku. Dengan pakaian seragam dan memakai topi. Tapi aku bangga, bisa hidup dan bertahan di Yogyakarta dengan hasil usahaku sendiri. Afkar kembali menatap sofa putihnya. Sebentar lagi bidadari ku datang dan akan duduk di sini. Aku akan menyatakan lagi perasaan cintaku padamu, di sofa ini.


Afkar melirik jam tangannya, sudah jam sembilan, Alya berjanji akan datang, aku harus menyiapkan diri. Afkar keluar dari ruang kerja dan memanggil Sasha.


" Sasha, jika ada tamu dari manapun katakan hari ini saya sibuk, saya tidak menerima tamu. Kecuali dari perusaahan Jaya Dirgantara itu adalah perusahaan penting, hari ini saya akan membuat perjanjian dengan mereka"


" Yang kemarin saya ajak makan bakso itu kan pak"


" Iya, oh ya saya belum sempat menanyakan kemarin, bagaimana baksonya?"


" Enak"


" Saya tau, bagaimana mereka suka? siapa namanya? nonaa siapa?"


" Nona Alya dan ibu Vera"


" Iya nona Alya"


" Dia keliatan menikmati pak, katanya dia memang hobi makan bakso, apalagi dengan rasa pedasnya"


Afkar tersenyum. Apakah sandiwaraku menanyakan namanya yang selalu kusebut di dalam doa-doaku tidak ketahuan?.Sandiwara di mulai sebentar lagi.


Tentu saja dia akan melahap bakso dengan rasa pedasnya.


" Baik, ingat pesan saya tadi. Saya di dalam ruangan saja hari ini tidak kemana-mana"


" Baik pak, saya disini, jika bapak perlu panggil saja"


Afkar memandang Sasha sebentar, membuat Sasha bergidik, aduh pak, tolong mata bapak membuat saya hampir tidak bisa berdiri tegak


" Sasha, usia kamu berapa?"


" 23 pak"


" Kamu setiap ke kantor memakai makeup?"


Sasha semakin gugup


" Sedikit pak"


" Kamu berani tampil tanpa makeup?"


" Emm, saya belum pernah mencobanya pak, hehehe"


Afkar mengangguk.


Luar biasa bidadariku, dia tidak pernah memakai make-up kenapa wajahnya selalu saja cantik. Tapi aku penasaran apakah hari ini dia masih saja hanya memakai bedak dengan cermin kecilnya itu. Apakah sekarang dia sudah mengenal peralatan makeup, diusianya menjelang 25 tahun seharusnya sudah mulai menghapal fungsi-fungsi kuas dan warna-warni untuk menghias pipinya.


Menunggu memang sesuatu yang membosankan, sejak setengah jam yang lalu Afkar sudah bersiap untuk menyambut kedatangan Alya, rambut yang sedikit di acak, jas yang di lepas dan sekarang tersandar pada kursi hitamnya. Sedikit menggulung kemeja putihnya agar terlihat lebih muda. Memakai parfum di bagian pundak agar jika nanti Alya memeluk dan menangis bahagia di dadanya ia akan menghirup aroma parfum ini. Sudah jam setengah sepuluh.


Ponsel yang sejak tadi menganggur di atas meja segera diraih dan di fungsikan.


Tiiit


" Hallo Afkar, pagi sekali mengabariku kabar bahagia? sudah diterima Alya? atau malah di tolaknya? hahhaaha.


" Arga, tolong hubungi Alya, sampai sekarang dia belum datang, aku khawatir"


" Aku heran, sejak di Yogya, Surabaya, Jakarta sampai sekarang di Banjarmasin, kalian berdua tidak pernah berhenti merepotkan aku, hubungi sendiri akan kukirim nomor ponsel Alya"


" Tidak, aku bahkan sudah menyiapkan kejutan, aku tidak mau rencanaku berantakan, tolong Arga hubungi dia sekarang"


" Kalau tidak karena gue juga ikut mengkhawatirkan Alya, gue tidak akan membantu lo"


" Sesegeranya kabari aku, aku menunggu"


Klik.


Afkar berjalan mondar mandir di ruangannya, kenapa Arga belum menghubungi. Arga jangan membuatku menunggu, rambutku sekarang sudah semakin kacau karena dari tadi ku acak-acak karena gelisah. Sepatu kulitnya sudah berganti sandal jepit berwarna biru muda karena kakinya sudah mulai pegal mondar mandir.


lima menit kemudian.


Panggilan telefon


" Arga, dimana Alya? dia jadikan ke sini"


" Afkar, nomornya aktif tapi dia tidak menjawab, sudah puluhan kali kuhubungi"


" Apa? kamu tau dimana dia menginap? aku bisa menghubungi penginapan nya"


" Alya tidak memberitahu gue"


Afkar bersandar di dinding ruangannya


" Di mana dia?"


" Gue tidak akan memaafkan lo kalau terjadi sesuatu pada Alya"


" Jangan mengancamku, aku lebih khawatir Arga"


" Ini kukirim nomor ponsel Alya, kalau lo masih diam juga tanpa usaha, gue kirim orang gue buat ngabisin lo"


Klik.


Afkar menatap ponselnya


" Kamu pikir aku bisa tenang begini? Alya cintaku, kamu dimana?"


Pesan masuk


" Ini nomor Alya"

__ADS_1


Afkar langsung menyalin ke kontak dan langsung menghubungi, benar. Nada tunggu tanpa jawaban. Semoga tidak terjadi apa-apa padamu Alya.


__ADS_2