
Kedai Pelangi, Januari
Lho, kok tutup sih? tapi beberapa mobil masih terparkir rapi
" Ka, kenapa tulisannya tutup ya?"
Afkar mematikan mesin mobil Pandu dan mengalihkan matanya ke pintu utama yang untuk mencapainya harus dinaiki tujuh anak tangga dulu
" Iya ya, coba telefon Bowo sayang"
Alya mengelurkan ponsel dari tas kecilnya
" Assalamualaikum Al"
" Waalaikum salam, Wo kok tutup? katanya malam ini kita mau ngumpul di sin"
" Masuk aja Al, sengaja di tutup buat umum, khusus acara kita"
" Hah? siapa yang bikin ide begini?"
" Masuk deh, ngobrol di dalam"
" Iya Wo, kami masuk"
Afkar menatap kekasihnya
" Kenapa?"
" Katanya khusus acara kita, masuk yuk ka"
Alya dan Afkar menaiki tangga dan membuka pintu kaca kedai.
" Selamat datang calon pengantin"
Alya tertawa melihat teman-teman yang sudah duduk menunggunya.
" Apaan sih, siapa yang nutup kedai Bowo"
" Arga Al, katanya kedai ini disewa khusus malam ini"
Alya menepuk bahu Arga
" Enggak berubah lo Ga, hahhaa"
Afkar menarik satu kursi dan duduk disamping Alya.
" Mau minum apa?"
Alya terkekeh
" Selain kedainya di tutup Arga, pemiliknya juga di sewa Arga ya? akhirnya lo mengabulkan permintaan gue Ga, mau nyewa Bowo sekalian sama kedainya"
Bowo cemberut sambil berjalan ke ruang pantri
" Kalau bukan kalian enggak bakal gue mau begini"
Arga tertawa melihat Bowo yang mengomel.
Sebungkus rokok berwarna merah disodorkan pada Afkar
" Rokok Afkar"
Afkar tersenyum
" Aku masih bertahan tidak merokok"
" Kecuali kalau istri lo nanti bikin ulah ya"
Alya memandang Roni kesal
" Gue akan jadi istri sholehah, iya kan ka?"
Menoleh lelaki di sampingnya yang mengangguk
" Insyaallah"
Berbagai minuman kopi, teh, juice dan menu makan malam tersedia di meja besar berkapasitas 8 orang.
" Kita makan dulu ya, sudah lapar"
Menikmati makan malam dengan candaan bermutu dan lebih banyak tidak bermutunya. Afkar tersenyum melihat keakraban mereka yang tidak berubah, padahal dari mereka ini sudah sukses menjadi orang penting, tapi leluconnya masih saja sama saat mereka muda dulu.
" Ka Afkar, kalau nanti Alya di bawa ke Banjarmasin jangan terlalu lama ya, sesekali kalian ke sini, kami pasti akan kangen"
Sylvia meminta dengan pengharapan
Afkar mengangguk
" Kapanpun Alya mau, aku akan mengizinkannya pulang"
Alya menatap Afkar dengan senyuman
" Terima kasih ya ka"
" Sama-sama sayangku"
Tiit, pesan WhatsApp masuk
" Assalamualaikum Alya, sedang sibuk?"
Ka Kevin.
" Waalaikum salam ka, ini sedang kumpul teman-teman di kedai Bowo, sama ka Afkar juga"
" Kebetulan, bisa aku telefon, aku ingin bicara sama Afkar"
Alya melirik Afkar yang sekarang sudah menyelesaikan makannya.
" Ka, ka Kevin mau ngomong"
Afkar tercekat, ngomong? dia sudah di Indonesia? atau bahkan sudah di Yogya?.
Sementara sahabat lain berpandangan, Kevin mau bicara apa? kok semua jadi tegang begini sih. Afkar mengangguk
" Boleh"
Wuiiihh, keren jawabanmu Afkar.
Alya langsung mengetik pesan dan mengirimnya
" Iya ka, bisa"
Tiit, panggilan video
" Assalamualaikum ka Kevin"
" Waalaikum salam Alya, serunya rame pada ngumpul"
" Iya ka, kebetulan"
Kebetulan apa? memang direncanakan.
Alya sedikit memutar posisi kamera ke arah teman-temannya
" Hai Arga, bagaimana perusahannya?"
" Baik Kevin, mungkin nanti sesekali aku perlu juga belajar darimu yang sudah go International"
" Boleh, kapan-kapan kita bicarakan serius, aku siap kok kita belajar bersama"
" Hai Ka Kevin?" Lambaian Sylvia disambut dengan senyuman Kevin
" Sylvia, salam sama Pak Agus ya? sehat?"
" Sehat ka"
" Si cantik Lee bagaimana? kiriman boneka sudah sampai kan?"
" Lee senang sekali ka, terima kasih uncle Kevin katanya, hehehe"
" Sama-sama, semoga jadi anak sholehah"
" Terima kasih ka"
Roni ikut melambai
" Roni, bagaimana showroom nya?"
" Yaa, capai saja sih tiap bulan targetnya"
" Ya nyampe lah kalau dia promosiin ke gadis-gadis dengan gaya sok kerennya"
__ADS_1
Sylvia tertawa melihat Roni yang semakin hari semakin menjadi playboy saja
" Itu sih keberuntungan gue Syl"
" Kalau ada kesempatan boleh buka di Hongkong Ron, kita kerjasama"
" Hhmm, boleh juga idenya"
" Kalau nanti memang ada rencana serius hubungi saja aku, siap membantu"
" Terima kasih Kevin"
" Heey, gue enggak di sapa nih?"
Tubuh bongsor Bowo ikut berjejal di antara Roni dan Arga
" Waah, maaf tadi tidak masuk kamera sih, aku tidak menyapa"
" Kegedean badan, enggak bisa masuk lo Wo"
Arga menggeser posisinya karena tubuh Bowo benar membuatnya merasa berada di bis kota karena terhimpit.
" Apa kabar? menu baru apalagi yang belum aku cobain?"
" Ada dua menu, kalau kamu balik ke sini, mampir ya, pokoknya varian terbaru ini limited edition, belum ada di Hongkong, hahaha"
" Iya, aku nanti ada rencana pulang, tapi belum tau bisa mampir ke Yogya atau tidak"
Dan kali ini kamera mengarah pada Afkar.
Hening,, keduanya saling bertatap. Ini adalah pertama kalinya mereka bisa saling melihat wajah, walau sebenarnya adalah yang kedua, mereka saja yang tidak menyadari saat di minimarket kecil rebutan cokelat.
Afkar terlihat sedikit canggung, begitupun Kevin, walau sebisanya mereka mencoba sesantai mungkin. Alya sendiri merasa sedikit gelisah. Satu lelaki yang pernah penuh dalam hariku dan satu lelaki yang selalu penuh pada hatiku.
" Assalamualaikum Afkar"
" Waalaikum salam Kevin"
" Apa kabar?"
" Baik, Alhamdulillah"
" Eemm, bisa kita bicara berdua, mungkin tidak di panggilan video"
Afkar menatap Alya meminta persetujuan, kamera berpindah ke wajah Alya
" Ka Kevin mau panggilan telefon?"
" Iya, kalau Afkar tidak keberatan"
Alya menoleh dan disertai anggukan Afkar
" Iya, ka Afkar bersedia"
" Baik, tutup dulu telefonnya Alya"
" Iya ka"
Klik.
Alya dan Afkar berpandangan, Alya mengajak Afkar untuk duduk lebih jauh dari teman-temannya
" Kita di sini saja ya kak"
Afkar mengangguk
Berbagai perasaan sedang mengaduk isi kepalanya, apa yang ingin dibicarakan Kevin? apa dia akan memintaku meninggalkan Alya?
Tiit, panggilan telefon
" Iya ka"
" Alya boleh aku pinjam Afkar sebentar?"
" Hhmm"
" Alya, percayalah aku tidak akan membuat permasalahan atau mengacaukan hubungan kalian, seperti janjiku kemarin aku ingin memberikan pesan padanya agar bisa menjagamu"
" Alya percaya ka, sebentar"
Alya memberikan ponselnya ke tangan Afkar yang menunggu dengan gelisah.
Alya berdiri dan perlahan berjalan menuju meja teman-temannya yang menunggu tidak kalah gelisahnya
" Al, ngapain dia nelfon ka Afkar?"
" Al, Kevin tidak ingin hubungan kalian berantakan kan?"
Alya menggeleng
" Ka Kevin orang yang sangat baik, ka Afkar harus tau selama ini ada orang yang begitu menjaga kekasihnya".
Semua terdiam dan memandang Afkar yang sedang duduk menerima telefon mantan dari kekasihnya.
" Afkar,,"
" Iya"
" Kamu sudah melamar Alya?"
" Iya, tadi siang"
" Selamat Afkar, ternyata memang kamu orangnya"
Hening
" Aku ingin bercerita sedikit boleh?"
" Iya, aku mendengarnya".
Terdengar hembusan napas panjang
" Empat tahun yang lalu aku diperkenalkan dengan seorang gadis cantik, lucu, menggemaskan dan konyol"
Itu kekasihku Kevin.
" Kami dijodohkan setelahnya, kupikir tidak akan seserius itu. Berhari-hari aku menguatkan hati untuk menemuinya karena desakan orang tuaku. Satu sore aku menemuinya di tempat kostnya. Kami berbincang di kedai kecil depan kost, dia memesan juice alpukat, dia memang menyukainya seperti dia menyukai juice cokelat dan kopi, kamu tau kan?"
" Iya"
" Hari itu aku bertanya padanya dan mengingatkan kalau kami di jodohkan, aku meminta pendapatnya. Dia hanya bilang dia tidak mengerti kenapa orang tua kami mempunyai ide begini. Kutanyakan apakah dia mempunyai kekasih? dia menjawab belum, aku kembali bertanya, kenapa belum sih? sudah punya atau belum ada? atau sudah ada yang kamu tunggu? dia tidak menjawab hanya tersenyum"
Afkar melirik ke arah Alya yang sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya
" Iya, benar. Saat itu memang aku tidak memberikannya kepastian"
" Aku kemudian memberikan dia pernyataan, kalau aku akan serius dengan hubungan ini, aku memintanya untuk belajar juga mencintaiku, dia kembali tidak menjawab, kupikir saat itu dia tidak konsentrasi karena baru menerima telefon dari sahabatnya Arga untuk makan malam bersama dengan sahabat lainnya, ternyata aku salah, dia memang tidak menjawabnya karena belum ingin mencoba denganku saat itu"
" Dia masih menungguku"
Afkar, jangan terlalu ketus begitu.
" Tiga hari setelahnya aku kembali menemuinya, aku pamit untuk ke Bandung selama tiga hari, orang tuaku membuka cabang baru disana, dan selanjutnya perusaahan itu akan beralih padaku setelah kuselesaikan pasca sarjana. Hari itu aku meminta kepastian padanya, walaupun masih sama jawabannya tidak jelas, tapi lebih sedikit membuatku berani untuk memulai ini dengan serius, dia menjawab akan mencobanya walaupun tidak yakin. Hari itu menjadi awal dari kisah panjang kita ini, mungkin bisa dikatakan itu adalah hari jadian kami, entahlah sekarang dia masih ingat atau sudah melupakan tanggal itu, yang pasti aku tidak pernah melupakannya.
Aku pergi ke Bandung dengan perasaan yang sangat bahagia, aku sudah memiliki kekasih, sejak melihatnya pertama di rumah orang tuanya saat pernikahan Pandu aku sudah menyukainya walaupun kami sebenarnya terangga sejak kecil, kemudian berpisah setelah kami pindah begitu orang tua kami memberikan ide luar biasa ini aku sangat bersyukur, setidaknya aku tidak perlu memelas untuk menyatakan padanya kalau aku menginginkan dia menjadi kekasihku"
" Aku sudah pernah mendengar ini dari Alya"
Afkar mulai tidak menyukai obrolan ini, dia mulai meraba kalau di endingnya dialah yang akan disalahkan karena terlambat menyatakan perasaan pada Alya walau itu benar.
" Baiklah, aku percaya Alya akan menceritakan hal baik-baik saja tentang ku padamu"
Afkar menelan ludah.
" Seingatku begitu, dia bercerita kamu adalah lelaki baik dan sebagai pelengkap segala kurangku"
" Tidak begitu Afkar, aku bukan pelengkap, justru aku yang penuh kurang dimatanya"
" Tidak, segala yang kami impikan, yang kami cita-citakan sudah kamu berikan padanya dengan mudah, kamu menyempurnakan impiannya Kevin, aku yang sedang berjuang dan terengah-engah hanya memberikannya harapan dan cinta"
" Menurutmu begitu? apa kamu bisa berada di samping wanita yang kamu cintai sementara mulutnya selalu bicara tentang lelaki lain? hatinya selalu merindu tentang kekasihnya yang lain? aku sama sekali tidak dianggap dan aku membuat diriku seolah tak tanggap. Aku terus saja menciptakan dia menjadi wanita baru, bukan wanitamu, tapi wanitaku, aku hampir berhasil dengan sikap dan perilakunya, gaya bicara, santunnya, penampilannya, semua hampir bisa membuat dia menjadi Alyaku, bukan Alyamu, aku ingin menjadikannya ratuku, tapi kamu lebih dulu menjadikan dia bidadarimu"
" Kamu bukan hanya mengubah prilakunya, kamu juga berhasil mengubah pendiriannya dari mencintaiku menjadi mencintaimu"
" Tidak Afkar, tidak pernah bisa. Aku dulu percaya cintaku akan bisa memberikan cahaya pada mata yang sekalipun buta. Meski rinduku belum juga dia tangkap, meski rasa sayangku belum juga dia anggap, tapi aku akan bertahan di atas segala perasaan yang sudah terlanjur kurawat. Aku juga masih belajar sabar untuk menunggunya memiliki rindu yang sama padaku. Saat itu, aku hanya bisa menciumnya tanpa ciuman, memeluknya tanpa pelukan, bahkan memberi semua perasaan tanpa dia rasakan.
sesekali memang kami melakukan perjalanan dan cerita selayaknya kekasih, makan bersama, duduk di taman berdua, menikmati malam minggu di bawah purnama, tapi aku adalah hatimu yang tertitip lewat jasadku. Berkali-kali kami bahkan bertengkar karena kecemburuanku padamu"
" Aku tidak ada di antara kalian, apa yang membuatmu cemburu, harus nya aku yang marah dengan keadaan kemarin saat dia menjadi kekasihku tapi kamu malah mencumbunya dengan kekuatan materi dan kuasamu"
" Sekali lagi tidak begitu, benar aku pernah memeluknya, aku mencium tangannya, aku mengusap air matanya, aku membelai rambutnya, bahkan aku mencium pipi merahnya, tapi aku tidak bisa mencumbunya, dia masih saja ingin aku adalah kamu, aku seperti peran pengganti, tidak pernah benar-benar di hati"
__ADS_1
" Jangan menceritakan kemesraan kalian di depanku"
" Ada yang salah? kamu lupa dia dulu juga kekasihku? sesekali biarlah aku melupakan dia juga punya cinta yang lain, lebih tepatnya dia mencintai lelaki lain, aku hanyalah pemain figuran"
" Aku yang tersingkir, kamu memenangkannya"
" Tidak hatinya, aku sudah membuat harga diri dan jiwaku sempat hancur demi mempertahankan nya untuk tetap bersamaku, dia bersamaku Afkar, bukan bersamamu, tapi kenapa aku yang kalah? kamu masih saja sebagai prioritasnya, bukan aku. Sebodoh apa aku? Dia terlalu pandai membuat hatiku luka dengan cepat, kuobati dengan sabar dan dewasa, besok terjadi lagi dan begitu seterusnya. Bukan salahnya, aku yang terlalu mencintainya. Dan Alya tidak pernah dibawah kuasa dan materi seperti yang kamu sebutkan, dia tidak pernah meminta materi apapun padaku, dia juga tidak pernah memintaku memberikan pertolongan apapun padanya, aku yang menjaga dia dengan caraku, mengirimkan mereka yang kupercaya untuk mengawasi dan memastikan semut pun tidak ada yang boleh menyakitinya. Dia hanya meminta satu padaku, meminta agar aku pergi dan membiarkan kalian bisa bersama, setelah sejauh itu tentu aku tidak bisa dan tidak mau, siapa kamu Afkar? yang begitu tinggi derajatmu di hatinya? yang mengusirku secara terang-terangan begini. Aku sangat sakit Afkar. Bahkan setelah berpisah denganmu, satu hari kamu mengabarinya, aku menjadi kalap, mataku tertutup dengan kegelapan kecemburuan. Aku yang menciptanya, kenapa aku yang terbunuh olehnya? hatinya tercipta untuk mencintaimu
Alya adalah puisi yang beterbangan layaknya camar di setiap hari yang kulalui, dan aku adalah pembaca yang tidak mengenal tanda baca sehingga aku bersusah untuk mengeja aksara, bukan salahnya ketika terkadang harus ku jeda karena pandangan dan jiwaku sakit melanjutkan ceritanya. Otak dan hatiku kadang tidak terlalu baik bekerjasama, entah ini memang bahagia yang sesungguhnya, atau imajinasiku terlalu terlatih untuk mengada-ada, hanya dengan melihatnya tersenyum hatiku akan kembali kuat dan tidak memerlukan kaca untukku bercermin masih bisakah ini berlanjut? Atau memang aku tidak punya lagi pilihan lainnya selain tetap harus memperjuangkannya? Dan kemudian otakku selalu menggerutu, bisakah bahagia dengan cara begitu? Kemudian hatiku selalu menjawab, aku selalu bahagia bisa berbagi hari bersamanya Walaupun tidak berbagi hati.Yang kuyakin tetap mempertahankannya bukan pilihan, tapi keputusan.
Jatuh cinta akan selalu mejadi perasaan bahagia, jika menyakiti bukan salahnya tapi salahku yang sangat berambisi, mengharap aku dan dia akan menjadi kami. Harapanku tidaklah mudah untuk dia wujudkan, karena dia belum ingin sadar untuk itu, atau memang tidak pernah ingin, harapanku ini masih saja tergantung-gantung karena jawabannya adalah sudah memiliki seseorang yang harus dia pertahankan. Aku terhancurkan sebab aku mencintainya dengan cinta yang begitu hebat, apakah aku membuang waktu untuk ini, apakah aku harus menamatkan dan membiarkan dia pergi? Dan hatiku kembali mengatakan, aku masih bisa memperjuangkan bukan membiarkan. Aku masih saja keras kepala dan tidak ingin berhenti mengejarnya. Aku masih punya kesempatan hatinya bersedia untuk kumiliki, mengejar kemungkinan yang bisa saja ada setelah ini
Waktu yang belum juga berpihak padaku, diam dalam lingkaran penantian, aku harus menyudahi kenangan yang kami buat agar tak lebih dalam menyakitiku kelak.
Dia kekasih yang tak pernah merinduku
Rasa ku tak akan bisa sama dengan yang dia rasakan.
Semampu apapun sudah yang terlaku dan terberi.
Aku yang sudah menjatuhkan hatiku ditempat aku memulai.
Pilihan adalah masih menunggu?
Atau harus pergi dan melupa?
Dan menunggu sudah terlalu lama bahkan aku sudah tau jawabnya.
Untuk pergi dan melupa, sehancur apapun aku nanti, tapi dengan pergi sejauh ini setidaknya dia tidak akan melihatku sakit yang sebenarnya . Aku bisa mengatakan aku baik-baik saja.
Aku akhirnya pergi meninggalkannya, tanpa memberikan pesan atau aba-aba sebelumnya, terdengar bukan seperti ksatria ya? tapi aku melakukan untuk menjaga perasaannya. Bagaimana bisa aku tabah pergi jika dia menangis? bukan karena cinta, tapi karena dia harus sesadarnya setelah itu tidak lagi ada aku. Kemunduranku ini adalah yang pertama, semoga tidak lagi diikuti dengan kemunduranku selanjutnya, aku tidak ingin lagi kembali pada kami, sehancur apapun perasaanku, tidak boleh menghancurkan masa depanku. Aku akan serius dalam karirku, setidaknya aku akan berlindung dengan alasan itu seandainya dalam waktu lama tidak juga mendapat penggantinya, Perlakuanya menyakitiku walaupun tidak salah, aku bahkan tidak tau harus menyalahkan siapa, mungkin memang semua benar atas kehendaknya masing-masing.
Aku tidak ingin meninggalkan kotak-kotak berisi kisah sedihku sekarang untuk masa depan, berlama-lama dalam derita yang berkepanjangan, aku tidak mau menghadirkan air mata di dalam perjalanan.
Tidak semua rasa harus dijemput dengan sosok yang kita impikan. Aku sudah tidak mampu menunggu dan terlalu akrab dengan waktu kemudian aku hancur menjadi debu.
Aku pergi dengan membawa runtuhnya hati.
Aku harus pergi cepat agar tidak terlalu tersesat.
Agar aku masih bisa tau tempat mana yang akan aku tuju"
" Sebentar, soal mobil. Boleh Alya kembalikan?"
" Aku tidak akan menerimanya, dengan tidak mengurangi rasa hormatku padamu yang sekarang bahkan mampu membelikannya pesawat pribadi sekalipun, biarkan mobil itu di sana"
" Supaya Alya akan selalu mengenangmu?"
Terdengar pertanyaannya begitu sinis.
" Terserah Alya menilai nya untuk apa, jika kamu melarangnya memakai, bisa saja berikan pada tante atau Tasya"
Afkar menghembuskan napasnya
" Sebenarnya apa tujuanmu menceritakan ini"
" Bagus, pertanyanmu ini kutunggu. Aku sudah menceritakan sedikit dari sebanyak yang sudah terjadi dengan perasaanku dan hati Alya. Jika kuceritakan semua mungkin hatimu tidak mampu menampungnya"
" Masih banyak cerita Kevin?"
Kevin tertawa
" Semoga Alya akan bersikap manis agar emosimu bisa stabil Afkar. Baiklah ku jawab pertanyaanmu. Intinya aku pernah sangat menyayanginya, melebihi harga diriku. Jika sekarang kamu memilikinya bahkan akan menikahinya aku sangat merelakan dan merasa bebanku berkurang, aku sudah menceritakan pada lelaki yang akan bertanggungjawab untuk hidup dan matinya. Jika kamu menyakitinya, aku bisa melakukan dan mengulang hal kebaikan lebih dari pada yang sudah kulakukan kemarin padanya"
" Untuk itu tidak usah kamu ingatkan, aku akan menjaganya".
" Bukan hanya menjaganya, berikan dia tempat paling nyaman, baik untuk raganya ataupun jiwanya, dia sudah terlalu lama lelah, entah masih seberapa banyak lagi kekuatannya karena kemarin sudah sangat terkuras karenamu. Aku tidak pernah rela jika Alya tidak berbahagia bersama lelaki yang dia perjuangkan dan membuatku terusir, dia sudah lelah"
" Lelahnya karena ku atau karena mu yang selalu menahannya untuk tidak pergi darimu"
" Mungkin karena kita berdua. Tapi aku selalu berusaha menciptakan wajah manisnya tertawa di saat dia berair mata merindukanmu. Aku yang menghapus air matanya karena kamu Afkar"
" Kevin,,,"
Hening
" Kita tidak pernah bertemu, tapi kita dibuat bersaing, entah siapa sebenarnya diantara kita yang menjadi pemenang, kita bahkan sama-sama mengaku kalah. Tapi hari ini aku sudah melamarnya dan akan menikahinya. Dan ini sudah berakhir"
" Karena itulah aku ingin bicara padamu"
" Aku berterimakasih karena sudah menjaga dan memberikan segala perlindungan padanya di saat aku jauh"
" Aku tidak mengharapkan balasan untuk itu kecuali bahagiakan wanita yang pernah kucintai dengan sangat"
Afkar kembali menoleh Alya yang sekarang sedang menikmati kopinya.
" Aku sudah mencintainya sejak enam tahun yang lalu, dan akan terus mencintai nya di seluruh usiaku"
" Aku sudah tenang begini Afkar, selama ini kalau boleh jujur aku sering marah padamu, karena kamu adalah seseorang yang menahan hati kekasihku untuk mencintaiku. Tapi terkadang aku juga berpikir, mungkin kamu akan berpikir yang sama tentangku"
" Hhmm, aku juga berpikir begitu"
" Sekali lagi Afkar, berikan dia kebahagiaan, jangan pernah menyakitinya, aku tidak akan bisa menerima jika satu saat aku mendengarnya tidak berbahagia".
" Aku berjanji untuk itu"
" Terima kasih"
" Kita tidak akan bertemu?"
" Entahlah, aku akan pulang beberapa hari untuk mengenalkan kekasihku pada orangtuaku, entah sempat atau tidak aku bisa ke Yogya. Jujur Afkar, aku ingin sekali lagi bisa melihat Alya dan memeluknya, dia wanita luar biasa yang pernah memberiku bahagia tidak tercerita dan sedih paling meluka yang tidak pernah aku dapatkan dari orang lain"
Hening
" Kapan kamu akan pulang?"
" Mungkin minggu depan"
" Sebagai tanda di antara kita tidak ada lagi perasaan saling menyalahkan apalagi dendam. Dan sebagai tanda terima kasihku untuk kebaikan yang pernah kamu lakukan pada kekasihku, aku sendiri yang akan menemani Alya untuk menemuimu di Jakarta"
" Afkaaar,, ini benar?"
" Aku selalu serius dengan ucapanku"
" Aku akan menunggu janjimu. Baiklah kita sudah terlalu lama bicara, Alya pasti tidak sabar menunggumu, dia itu terlalu gegabah"
" Iya, aku akan terus memberikannya kebaikan sebisa yang aku mampu"
" Selamat Afkar, semoga kalian menjadi keluarga Sakinah mawaddah warrahmah dan dikarunia anak yang sholeh dan sholehah"
" Do'a yang sama untukmu Kevin"
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Klik.
Afkar berdiri dan perlahan berjalan menuju meja besar, hening karena takut apa yang akan terjadi setelah perbincangan dua lelaki yang pernah berjuang demi seorang wanita. Afkar mendekati Alya
" Mau memainkan dua lagu untukku sayang?"
Alya tersenyum, amaaan dia tidak marah-marah. Kembali lah menjadi ka Afkar ku yang dulu. Alya mengangguk
" Wo, gitar gue mana?"
Sementara Bowo masuk satu ruangan Afkar memandangi sahabat kekasihnya satu persatu
" Terima kasih pada kalian semua yang selama ini sudah menjaga Alya dan menyayanginya. Apapun keperluan Alya bisa kalian penuhi, sedangkan aku yang diakui sebagai kekasihnya tidak bisa melakukan apapun selain memberikannya air mata"
" Tidak apa Afkar, walaupun dia sangat merepotkan, kami menyayanginya, hehehe"
" Terima kasih Ron. Dan Arga, aku tidak tau cara berterima kasih padamu, kami selalu merepotkanmu, tapi kamu selalu bersedia membantu walaupun terkadang seperti tidak ikhlas, hehehe"
Arga tertawa
" Aku selalu ikhlas, lupakanlah, hahhaa"
" Sylvia, terima kasih juga sudah menemani Alya, mendengarkan semua celotehnya"
" Tidak apa ka, sudah sewajarnya satu sahabat berlaku begitu kepada sahabatnya kan?"
Bowo datang menenteng gitar Alya
" Dan kamu Bowo, terima kasih sudah menyediakan Alya tempat yang aman di kedai ini, disaat aku begitu mencemaskannya, apakah dia aman dan berada dimana untuk mengusir sepinya, ada kalian yang selalu ada untuknya. Aku tidak bisa membalasnya, sungguh. Aku hanya mendo'akan agar kalian akan berbahagia"
" Amiin, sama-sama Afkar".
" Dan kamu sayangku, terima kasih bisa bertahan selama ini dengan ketiadaanku, padahal kamu sangat banyak menerima kecukupan dari yang bukan aku, hal yang bisa saja kamu terima tanpa harus merasa salah atau terikat tanpa aku yang tidak memberimu kenyamanan dan keberadaan untuk waktu tenaga dan hati"
Alya mengangguk, bicara apa Ka Kevin barusan dan membuat ka Afkar menjadi begini?.
__ADS_1