
Dasi terlempar ke sofa, foto berfigura yang sejak tadi berada dipelukannya pun turun mesra dan berdampingan dengan dasi di tempat yang sama. Kali ini rambut Afkar sudah hancur berantakan entah memakai model apa. Sudah setengah sepuluh pagi. Dimana kamu Alya?
Kemeja putihnya sudah kusut seperti tidak berseterika. Sudah ratusan panggilan di tujukannya ke ponsel Alya tanpa jawaban, sementara Arga terus menterornya.
" Arga, kamu bisa diam tidak? aku sedang berusaha"
" Kamu dari tadi hanya mondar-mandir di ruanganmu, usaha apa itu, kamu punya kaki kan? jalan keluar, suruh karyawanmu mencarinya"
" Mencari kemana?"
" Mana aku tau, aku tidak pernah ke Banjarmasin"
" Aku bahkan tidak tau dia menginap dimana?"
" Kamu bisa menghubungi kantor cabangnya kan? tanyakan dimana dia"
" Alasan apa aku menghubungi kesana dan menanyakannya?".
" Pikirkan sendiri, aku akan menghubungimu lagi lima menit, kalau kamu masih saja di dalam ruanganmu itu habis kamu Afkar".
Klik.
" Juan, ke ruanganku sekarang"
Klik.
Dalam hitungan detik Juan sudah berada dihadapannya, melihat Afkar dengan wajah kusut, rambut kusut, pakaian kusut bisa dipastikan hatinyan pun sedang kusut
" Ada apa? bos kenapa?"
" Cari Alya".
" Dimana?"
" Aku juga tidak tau"
" Wajahnya bagaimana?"
Afkar menendang kaki sofa.
" Wanita yang kamu liat kemarin di depan ruanganku"
" Aku tidak memperhatikannya"
Tiiiit, panggilan video.
" Arga, kalau saja ini tidak dalam keadaan tentang Alya sudah kublokir nomormu"
" Kamu masih berada di ruanganmu?"
" Aku sudah mau turun, jangan menghubungiku lagi".
Klik.
Juan ikut bingung melihat Afkar yang mondar mandir
" Jadi bagaimana?"
" Kita turun ke bawah"
" Kita cari dimana?"
" Aku juga tidak tau".
Afkar berjalan menuju pintu tapi segera di tahan Juan
" Bos, kamu mau keluar dengan keadaanmu begini? liat sebentar di cermin?"
Afkar yang bingung dan emosi mau sedikit menurut kata Juan dan mendekati cermin di dinding dekat kamar mandi di dalam ruangannya. Kenapa aku berantakan begini.
Juan menyerahkan sisir kecil
" Bereskan rambutmu, rapikan bajumu"
Afkar mengambil sisir dari tangan Juan dan membereskan sedikit rambutnya.
" Cepat Juan kita turun, aku khawatir dengan keselamatan Alya"
Juan membukakan pintu ruangan bos mudanya dan berdua setengah berlari menuruni tangga. Beberapa karyawan menatap heran, ada insiden apa di lantai bawah sampai dua orang muda, tampan, keren ini berlari, bahkan satu dua karyawan lelaki ikut berlari turun karena khawatir ada kejadian tak diinginkan di bawah. Juan memberi mereka kode agar tak mendekati Afkar yang sudah seperti orang kesurupan.
" Kita pakai mobil mencarinya?"
Afkar hanya berdiri mematung di depan kantornya, kemudian berjalan ke depan parkiran dan berhenti di pos penjagaan.
" Ada yang melihat tamu saya seorang wanita berusia dua puluh empat tahun, berkulit putih dengan tinggi 153 cm, berat badan 45 kilogram dan rambutnya sebahu.
Satpam menggeleng
" Tidak ada pak"
Juan menarik tangan Afkar menepi
" Jangan memalukan diri seperti itu bos, mereka akan curiga tamu apa yang kamu tunggu sampai kamu hapal identitas pengenalnya begitu"
Afkar menatap Juan.
" Ambil mobil, kita cari dia"
Juan mengangguk, kembali dengan setengah berlari mereka menuju parkiran mobil Afkar. Perlahan mobil akan keluar dari gerbang utama, tapi terhenti.
" Kenapa angkot ini berhenti tepat di depan mobil kita"
" Klakson Juan, biar dia menjauh, kita harus segera mencari Alya"
" Tidak bisa, dia sedang menurunkan penumpang"
Afkar menunggu, lama sekali, siapa sih yang naik angkot ke kantorku?
" Aku turun Juan, berani sekali sopir ini menghalangi jalan ku, dia tidak tau ini dalam keadaan darurat?"
" Tentu saja dia tidak tau, bos yang harus lebih tenang"
" Tenang bagaimana? Alya hilang di kotaku, aku harus bertanggung jawab, aku turun"
__ADS_1
" Bos tunggu, liaatt"
Seorang gadis memakai blazer berwarna cokelat muda dengan celana panjang turun dari angkot, rambutnya yang tergerai dengan gelombang dibagian bawah tertiup-tiup angin.
" Sepertinya dia seorang wanita berusia dua puluh empat tahun, berkulit putih, tinggi 153 cm dengan berat 45 kg"
Afkar menatapnya dari kaca mobil
" Dia Alyaku, dia Alyaku"
Perlahan Alya berjalan memasuki gerbang utama, melewati mobil Afkar yang berada di tengah karena tidak bisa lewat akibat angkot berwarna hijau menghalangi jalannya.
" Apa yang harus kulakukan Juan?"
" Bos mencarinya kan? dia sedang mencarimu, temui dia"
Afkar membuka ponselnya.
" Sasha, ada tamu untukku nona Alyana, suruh tunggu, aku akan segera masuk ke ruanganku"
Klik.
" Juan, aku akan masuk, siapapun jangan ada yang berani masuk ke ruanganku, ini masa depanku"
" Baik, aku dan Sasha akan berjaga di depan ruanganmu"
" Terima kasih"
" Semoga berhasil bos, hehehe"
Juan tertawa sendiri mengingat cerita Arga kemarin tentang kejadian dulu, bos anehku nakal juga.
Afkar turun dari mobil setelah memastikan Alya sudah menaiki lantai dua dan menunggunya di sana. Kenapa dia naik angkot? angkot hijau? darimana dia?.
Masih dengan sedikit terengah-engah Afkar menaiki tangga, dilihatnya Alya sudah duduk manis sendiri, tanpa ibu Vera. Bagus.
Perlahan berjalan menuju ruangannya dan melewati Alya seakan tidak melihatnya karena berpura-pura sedang melakukan panggilan telefon. Sasha perlahan mendekati
" Pak, nona Alya sudah menunggu"
Afkar menoleh ke arah Alya yang juga sedang menatap nya. Afkar mengangguk
" Mari masuk"
Alya berdiri dan berjalan mengikuti Afkar yang sudah membukakan pintu untuknya.
" Silakan duduk"
Afkar menunjuk sofa, iya sofa putih yang tadi pagi sudah di sterilkan di setiap sisinya. Sofa yang akan di duduki mantan dan calon kekasihnya. Alya perlahan mendekati sofa dan ketika akan duduk matanya tertuju pada dua benda, dasi dan sebuah bingkai foto, semakin dekat semakin jelas itu foto apa. Afkar yang baru menyadari benda itu semakin dekat dengan Alya langsung berlari dan mengambilnya untuk menyembunyikan.
" Maaf"
Alya terdiam.
Afkar berjalan dan mendekati pintu untuk menutupnya kembali. Kenapa napasku masih saja terengah-engah begini? aku sudah lama tidak olahraga, berlari sebentar saja aku sudah mau kehabisan napas, atau karena dia sekarang ada di depanku, hanya berdua di dalam ruanganku.
" Nona, kenapa terlambat?"
Yes, aku berhasil mengembalikan wibawa ku. Awal percakapan yang bagus.
Uuuppss, jawabanmu kenapa membuatku hilang wibawa lagi ? kamu masih sombong Alya. Tapi benar, kamu tidak berjanji datang padaku, tapi pada Arga
Tiit, panggilan video, Afkar melirik, langsung menekan tombol merah. Tetapi mengirim satu pesan
" Aku sudah menemukan Alya, ponsel ku matikan, jangan menggangguku".
Benar saja, Afkar menekan tombol off dan selesai. Arga tidak akan mengancamku, di depan ada Juan dan Sasha yang akan melarang siapapun masuk untuk mengganggu misiku.
Afkar tidak sadar ikut duduk disamping Alya dan menyandarkan punggung dengan mata tidak berani menoleh pada Alya, hanya menatap lurus ke depan tepatnya ke meja kerjanya.
" Apa kabarmu Alya? kenapa pagi ini kamu menghilang? aku sibuk mencarimu sampai aku lelah begini"
Alya melirik pada lelaki disampingnya, si pemarah dengan kekucelannya.
" Rambut bapak tidak tersisir sejak tahun kapan? katanya bapak calon penerus perusahaan besar ini, tidak punya pembantu untuk menyetrika pakaian? bapak belum makan? wajahnya seperti orang kelaparan?"
Deg, keluar juga penghinaan yang sudah dua tahun lebih tidak didengarnya lagi.
" Ini gara-gara kamu"
Afkar meninggikan nada suaranya, siapa yang seberani ini menghinaku di kantorku.
Alya merubah posisinya untuk menghadap Afkar, begitupun Afkar yang tadi hanya menyandarkan punggungnya karena tingkat stresnya sudah berada di puncak, kali ini merubah posisi duduknya agar tegak dan bisa membalas tatapan Alya yang sekarang lebih mirip tatapan elang yang siap memakan mangsa.
" Apa maksud bapak ini gara-gara Alya?"
Afkar membalas tatapan tajam Alya walau tidak segarang tatapan Alya.
" Kamu tau nona Alyana Putri Pratama. Sejak pukul delapan aku menunggumu di sini, menyiapkan sofa ini dengan memanggil petugas cleaning service khusus agar kamu dapat duduk dengan nyaman, bersih, wangi dan lebih rileks. Aku juga mengganti vas bunga ini dengan yang baru. Hari ini aku sudah memakai pakaian favoritku agar matamu nyaman melihatku.
Aku memakai parfumku yang dulu, saat kamu bilang wangiku akan selalu menutup indera penciumanmu untuk bisa mencium wangi lelaki yang lain. Di sini Alya, di dadaku agar saat kita berdua bisa bicara dan berbagi cerita dengan baik-baik kemudian kamu menangis bahagia dengan pertemuan ini kamu akan merebahkan kepalamu di dadaku sambil bisa menikmati aroma kesukaanmu di tubuhku. Khusus hari ini aku tidak menerima tamu manapun, aku hanya ingin bisa berdua denganmu dan berbicara tentang kita.Aku juga membeli bunga untuk kuberikan padamu seperti suasana romantis di film-film yang kamu tonton di bioskop bersama teman-temanmu. Tapi kamu belum juga datang-datang, aku sangat mengkhawatirkan keberadaanmu.
Aku bahkan menghubungimu lewat panggilan telefon ratusan kali, kamu tidak mengangkatnya. Aku panik, meminta agar stafku mencarimu kemana saja. Tapi dia tidak mengetahui bagaimana rupamu. Aku berlari ke bawah untuk mencarimu sendiri menanyakan di pos penjagaan apakah sudah melihat ada seorang wanita cantik berkulit putih dengan tinggi 153 cm dan berat 45 kg. Katanya belum ada, aku akhinya memutuskan untuk mencarimu entah dimana dengan mobil.
Setelah aku akan meninggalkan kantorku, di depan gerbang ada sebuah angkot hijau berhenti dan menghalangi jalanku, ternyata kamu yang turun dengan santainya tanpa tau betapa sibuknya aku pagi ini. Jangankan meminta maaf, kamu bahkan menghinaku, aku sudah biasa dengan penghinaan mu sejak dulu, aku tidak akan tersinggung, aku hanya marah karena kamu sama sekali tidak menghargaiku. Dan satu lagi bahkan sahabat mu itu bukan hanya mencaciku, dia juga menghajar wajahku karena janjinya padamu, dan pagi ini dia bahkan mengancam untuk menghabisiku jika aku tidak menemukanmu".
Alya mendengarkan ucapan Afkar dengan teliti, dia sedang membicarakan siapa? aku? kenapa ceritanya berbeda dengan perlakuannya yang seakan tidak ingin menganggapku ada?.
Alya menghela napas panjang.
" Baik bapak Afkar Rahadian yang saya hormati. Bapak pikir khayalan tingkat tinggi bapak tadi bisa saya percaya?. Bapak tau saya jauh-jauh datang dari Yogyakarta ke Banjarmasin, mempertaruhkan karir dan pekerjaan saya, seorang diri dengan beban agar proyek saya ini bisa bekerja sama lancar dengan perusahaan bapak. Saya datang kesini menunggu bapak di lantai bawah selama setengah jam, kemudian disuruh naik ke lantai 2 katanya meeting bapak akan segera berakhir dan bapak akan menerima kami.
Selama 15 menit lagi kami menunggu, bapak keluar dan tetap mengacuhkan kami dengan kesibukan panggilan telefon. Sebentar melihat pada kami kemudian bapak masuk keruangan. Sekretaris bapak bilang kami diminta menunggu selama 10 menit. Kemudian sekretaris bapak mengajak kami keluar untuk makan bakso, kami menolak, tapi dia bilang bapak masih sibuk dan meminta waktu satu jam lagi.
Kami pun menuruti tawarannya yang aneh menurut saya, tapi baiklah, saya sudah lama terbiasa menurut. Kami kemudian balik lagi ke kantor ini, ternyata bapak sudah tidak ada, bahkan sekretaris bapak sendiri tidak mendapat kabar. Dia kemudian menghubungi bapak, kami melihatnya sambil duduk di depan ruang bapak. Kemudian dia kembali pada kami, katanya bapak ada urusan mendadak, kami diminta untuk datang lagi besok.
Besoknya saya datang lagi ke sini pak, menunggu bapak sejak pagi pukul delapan seperti janji kami. Sampai jam sepuluh pak saya duduk menunggu, tapi tidak ada kabar apapun, tidak ada kejelasan apapun bapak bisa menemui saya. Beruntung satu sahabat menghubungi saya dan meminta agar saya pulang saja, awalnya saya menolak karena berpikir mungkin saja sebentar lagi bapak akan datang, tapi dia memastikan bahwa bapak tidak akan ke kantor hari ini, entahlah dia punya penglihatan apa, seolah bapak ada di dekatnya untuk memberitahukannya. Saya pulang tanpa bisa menemui bapak.
Dan pagi ini, walaupun saya kecewa sudah dua hari tidak bapak perdulikan, oh maaf, lebih pantas dengan kata saya diacuhkan dan tidak diharapkan, saya tetap datang dengan semangat yang sama, saya harap bapak akan sudi menerima saya.
Jam setengah delapan pagi saya sudah siap dari penginapan menuju ke kantor bapak. 20 menit diperjalanan tiba-tiba mobil kantor mogok, saya menyetir sendiri pak. Saya tidak tau apa yang bisa saya lakukan untuk mengenali ada masalah apa dengan mobil kantor itu. Saya kemudian menghubungi satu staff kantor cabang untuk meminta tolong. Beliau bilang tunggu dan share lokasi.
Setengah jam saya menunggu akhirnya datang dua orang karyawan untuk menolong saya. Mobil saya di tarik ke bengkel terdekat, saya bisa naik grab car, begitu mereka menderek mobil itu, saya sendiri di tempat itu, saya akan memesan grab car, tapi apa? ternyata tas saya masih di dalam mobil, sementara di dalam tas saya ada dompet, dan ponsel saya. Saya bingung harus melakukan apa, saya tidak bisa menghubungi siapapun, saya tidak punya uang.
__ADS_1
Saya melihat sekeliling ada pohon besar yang bisa melindungi saya dari sinar matahari yang mulai membuat saya kepanasan, saya berteduh dibawahnya sambil mencoba berfikir apa yang bisa saya lakukan, dalam keadaan bingung, tiba-tiba satu angkot berwarna hijau berhenti di depan saya, katanya apakah saya mau naik? saya bertanya angkot ini mau kemana? dia balik nanya saya mau kemana? saya bilang ke Martapura, katanya naik saja, sebelum naik saya bilang, tas dan ponsel saya tertinggal di dalam mobil dan mobilnya sudah di derek ke bengkel, saya tidak bisa bayar. Kata supir yang baik hati itu, tidak apa, kali ini gratis, saya pun berani masuk ke angkotnya dan mendoakannya agar hari ini rezekinya dilipat gandakan. Saya tidak tau sebenarnya berapa ongkosnya, tapi saya berharap bisa bertemu sopir itu lagi dan membayarnya.
Begitu saya memasuki kantor bapak ini, saya disuguhi pemandangan wajah kusut seorang bos yang pemarah, nada bicaranya tinggi, angkuh, suka membuat peraturan seenaknya, dan telinga saya mendengar cerita yang tidak masuk akal dari mulutnya yang jika berbicara segalak singa. Bagaimana mungkin kedatangan saya ditunggu dengan mempersiapkan ruangan ini dengan nyaman sementara dasi dan figura bapak saja di taruh sembarangan.
Lalu bapak mencari saya, menelfon saya? saya sangat ingin tidak mendengar itu sekarang. seharusnya itu bapak lakukan dua tahun yang lalu saja kalau bapak punya nomor ponsel saya? dan sahabat saya yang sudah menghajar bapak karena janjinya? saya akan memarahinya, kenapa tidak meninggalkan bekas? kenapa tidak bikin bonyok bapak saja sekalian. Dan ancaman? saya suka gaya sahabat saya yang selalu melindungi saya. Seandainya memang benar sahabat saya punya akses untuk melakukan semua yang bapak katakan itu saya merasa sangat berbahagia"
Alya sudah sangat kehabisan napas dengan cerita dan cacian nya yang begitu panjang, bahkan dia perlu banyak detik untuk mengatur lagi napas nya. Afkar memandang Alya dengan kesedihan.
" Kamu benar ingin membuat ancaman sahabatmu menjadi kenyataan?"
" Kenapa tidak?"
Afkar kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa, matanya terpejam. Begitupun Alya kembali ke posisinya awal duduk menghadap meja kerja besar dan masih mengatur napasnya yang memburu.
" Alya, sudah lah hentikan. Aku tidak ingin pertemuan ini menjadi puncak emosi kita, aku sudah sangat lelah"
" Bapak pikir saya tidak lelah? saya lebih lelah"
" Jangan panggil aku bapak, aku masih Afkar mu"
Alya melirik
" Ka Afkar sudah mati pak, dia hilang, dia pergi meninggalkan satu pesan dengan suratnya tanpa memberikan deretan angka yang membuat saya bisa menghubunginya. Dia menuliskan banyak hal dalam surat terakhirnya dan membangun lagi harapan saya untuk bisa bersamanya. Ternyata saya salah menafsirkannya, dia bahkan tidak ingin melihat saya lagi"
Afkar menoleh dengan kepala yang masih bersandar pada sofa.
" Jiwaku tidak akan pernah mati. Tidak ada yang berubah Alya"
" Tidak, bukan tidak ada yang berubah pak, tidak ada yang masih sama, bapak terlalu banyak berubah, saya begitu ingin mempercayai bapak adalah ka Afkar saya yang dulu, tapi memang bukan"
Afkar mendekatkan wajahnya ke wajah Alya. Alya memandanginya, aku tidak boleh lemah dihadapanmu, hey hembusan napasmu, masih sama seperti enam tahun yang lalu ka.
" Aku masih Afkarmu bidadariku".
Alya menjauhkan wajahnya dengan lemah.
" Tapi saya bukan lagi bidadarimu".
Afkar justru duduk semakin dekat dan semakin dekat, tangannya meraih tangan Alya tapi segera tertepis
" Jangan menyentuh saya pak"
" Sayang berhenti bersandiwara. Jangan memanggilku pa, aku merindukan panggilan sayangmu"
" Alya benci ka Afkar"
Alya menunduk dan memainkan jemarinya, lagi, itu yang aku tunggu Alya. Aku ingin melihatmu memainkan jemarimu tanda kamu sedang gemetar dan gugup, lalu menyebut membenciku sebagai pengganti kata kamu mencintaiku.
Kali ini Afkar sudah tidak sabar, perlahan menyibakan rambut Alya yang tergerai dan langsung di tepis Alya.
" Ka Afkar mau apa?"
" Aku ingin melihat kebohonganmu selanjutnya, mana kalung itu"
Alya menutup blazernya yang sebenarnya sudah tertutup.
" Alya, aku hanya ingin memastikan kamu masih memakainya"
" Alya sudah tidak memakainya, sudah Alya jual buat ongkos ke sini"
Afkar semakin emosi dan semakin berusaha melepaskan tangan Alya yang berusaha mempertahankan lehernya.
" Alya, jangan membuat aku aku marah, mana kalung itu, aku hanya ingin melihatnya dan memastikan kamu juga masih mencintaiku"
" Alya tidak mencintai ka Afkar, untuk apa menyimpan barang tidak berguna seperti itu"
Afkar berdiri dan menarik Alya agar ikut berdiri, tentu saja tenaga Alya yang tidak banyak membuatnya ikut berdiri
" Buka Alya"
" Sudah Alya katakan tidak ada"
Afkar semakin kuat mencoba melepaskan blazer bagian atas Alya
" Alya buka...."
" Tidaaakk"
Bruuugkk.
Pintu ruangan Afkar terbuka lebar. Aprill masuk diikuti Juan dan Sasha. Aprill membelalakan matanya dan mulutnya terbuka lebar
" Ka Afkar,,,"
Sedangkan Juan dan Sasha takjub melihat pemandangan di depan mata mereka.
Bos muda dengan rambut acak-acakan dan dasi di atas sofa, kemeja putih yang kusut dengan tangan bersiap membuka blazer seorang wanita muda. Dan wanita muda itu sedang mempertahankan dirinya dengan menutup bagian atas dadanya.
Afkar dan Alya kaget pintu ruangan terbuka dan di tonton secara langsung oleh tiga orang. Afkar melepaskan tangannya dengan gemetar. Apa yang kalian pikirkan?.
Aprill langsung berbalik dan keluar dari ruangan Afkar. Sasha menundukan badan
" Maaf pak, tadi sudah kami tahan, tapi nona Aprill bersikeras untuk masuk ke ruangan bapak, kami tidak bisa menahannya. Saya permisi pak"
Dan pendobrak terakhir, sedikit memberi senyum nakal pada Afkar
" Saya juga permisi, maaf tidak bisa menahan nona Aprill. Silakan dilanjutkan mungkin masih ada bagian di hotel dan di taman yang belum terselesaikan"
Tuuupp. Pintu ditutup Juan dari luar.
Afkar duduk di sofa dengan siku menempel pada lutut dan telapak tangan menutupi wajahnya.
Begitupun Alya, duduk disamping Afkar tanpa suara.
Hening.
Tidak ada suara sama sekali, sibuk dengan pikiran yang berbeda, satu menit, dua menit, tiga menit.
" Ka,,"
Afkar membuka tangan yang menutupi wajahnya dan menoleh pada Alya dengan tatapan sendu.
" Ada apa bidadariku?"
__ADS_1
" Alya lapar".