Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Kedai Kopi


__ADS_3

Sebuah kedai kopi yang di desain dengan instagramable, ada 7 anak tangga yang menyambut sebelum kita memasuki pintu utama, pada sisi kanan kiri pintu terdapat pot-pot bunga Heucheta coral bell yang berwarna warni mulai dari warna persib hingga merah anggur. Terdapat juga bunga anthurium bentuk daun yang unik, bervariasi dan indah, tanaman hias indoor berupa bunga anthurium berwarna merah terang


bunga anthurium yang berukuran bervariasi, mulai dari daun seukuran koin hingga ukuran daun dewasa selebar piring. Berbagai bunga hias lain pun turut menghiasi pot bunga yang disusun dalam rak bunga atau flower stand. Rak ini digunakan untuk menata pot tanaman bunga agar terlihat lebih rapi. Bahan material menggunakan plastik. Ada 4 buah flower stand yang ada di depan pintu untuk menyambut pengunjung dengan masing-masing rak memiliki desain yang berbeda, ada yang memiliki 3 tingkat dengan bentuk mendatar, ada yang berbentuk setengah lingkaran, ada yang berbentuk menurun. Pengunjungpun dipersilakan untuk mengambil swa foto atau spot berfoto dengan latar ini. Setelah memasuki pintu, pandangan kita disuguhi dengan ruangan berukuran 20 x 40 meter pada bagian tengah ruangan disediakan 4 buah kursi yang mengelilingi setiap 1 meja. Dan di ruangan ini memiliki 12 set meja. Di bagian sisi kanan kiri ruangan terdapat meja memanjang single dan terdapat beberapa kursi bar, mungkin ini sengaja di desain agar pengunjung yang datang sendiri dan ingin menikmati kopi sambil mendengar hiburan di cafe ini tidak terganggu. Sedang di bagian depan ada panggung kecil. Seperti umumnya panggung yang menyediakan hiburan live musik, ada beberapa alat musik seperti gitar, drum set, bass, power amplifier , stand micropon, speaker dan sound sistem.


Alya menggandeng tangan Afkar ke dalam dan memilih satu sudut meja single dengan kursi bar


" Duduk dulu ka, mau pesan apa".


Seorang laki-laki muda dengan berpakaian khas anak muda mendekati mereka


" Sore Alya"


" Sore Jon, eh bos lu mana?"


Alya menduduki kursinya sambil menyetel ketinggian di kursi itu agar kakinya mudah di sanggakannya di tempat pijakan kursi yang sudah menyatu pada bagian bawah kursi itu


" Ada, lagi di dalam"


" Oh panggilin noh, bilangin nona Alya datang sama tuan Afkar"


Afkar mencolek ujung jari Alya


" Sayang, ngomongnya di perhalus dong, kok kaya gitu"


" Whahaa, santai aja ka, Jon, kenalin deh ini pacar gue, namanya ka Afkar"


Joni mengulurkan tangan


" Joni"


" Afkar"


" Jadi lo mau minum apa Al? kaya biasa?"


" Kalau gue kaya biasa, kaka mau minum apa?"


" Sayang mesan apa sih? aku belum liat menunya".


" Alya pesan ice blend ka"


" Ya udah, aku bukan penikmat kopi sayang, ikut aja lah"


" Jon, ice blend 2 yah"


" Oke, ada tambahan lagi Al?"


" Udah cukup, thanks ya Jon".


Joni meninggalkan mereka


Kurang lebih 10 menit Joni datang dan membawa 2 gelas ice blend


Minuman yang satu ini menggambarkan karakteristik penuh dengan keceriaan. Adapun sajian minuman ini dibuat dengan mencampurkan aneka minuman bersama dengan es batu yang dihancurkan. Kemudian selanjutnya diramu dalam mesin penghalus sekelas blender untuk memastikan bahwa racikan ini menyatu dengan sempurna.


" Hai Alya, sudah lama? Sorry tadi gue ada tamu di dalam".


Seorang lelaki muda berperawakan sedang dengan tubuh agak gempal mendekati mereka dan duduk disamping Alya


" Barusan aja"


" Oh, bawa teman Al?"


" Ini nih gue bawa barang bukti, lo kan selalu ngejekin gue gitar terus yang dipeluk, nih sekarang gue bawa pacar". Dan tangan jahilnya memeluk pinggang Afkar, Afkar risih melihat kelakuan norak Alya.


" Kenalin gue Bowo, teman sekampus Alya"


" Afkar"


" Kekasih gue Wo" Alya tertawa, gila pamer banget si jomblo, batin Bowo.


" Ooh, Alya sering main kesini sama anak-anak, kadang bisa sendiri juga kalau lagi haus dan enggak punya duit"


Alya menendang kaki Bowo


" Sembarangan, gue qa minta-minta disini, lo yang enggak pernah mau gue bayarin'


" Hehehe, gue biar tiap hari juga senang banget lo mau mampir, dia nih ya Afkar, kalau kesini biasa duduknya di sana tuh"


Bowo menunjuk panggung


" Gue mewajibkan dia main gitar sama nyanyi dulu, soalnya kalau dia live musik, biasanya kedai gue laris, banyak pengunjung yang suka sama penampilannya, dan itu kan bisa nambahin pemasukan gue" Bowo tertawa sambil memandang Alya


" Iya, lo manfaatin gue".


" Minum Afkar"


Bowo mempersilakan Afkar menikmati minumannya.


" Alya, gue ada beli gitar parlol, biar lo bisa lebih nyaman main, bentuknya lebih ramping, kata penjualnya cocok sama lo"


" Oh ya? mana Wo"


" Di ruangan gue, sengaja enggak gue taro di panggung, itu khusus gue beli buat lo, bukan untuk umum"


" Ciieee, baik banget sahabat gue, mana? gue mau nyoba'


Bowo memanggil Jono


" Jon, ambilin gitar Alya di ruangan gue"


Jono segera masuk ke dalam dan tak lama membawa sebuah gitar dengan warna cokelat muda. Alya langsung meraih gitar barunya dengan tertawa


' Keren banget Wo"


Alya meraba gitarnya, perlahan memetik satu dua nada pada senarnya.


" Coba diatas Al"


Bowo meminta Alya untuk keatas panggung yang sekarang sudah ada live musik.


" Tangan gue belum senyawa Wo sama gitar baru, ntar aja deh"


" Aah, masa bisa gitu, ayolah Al, nih pacar lo juga mau liat, iya kan Afkar?"


Afkar mengangguk.


" Tapi gue enggak nyanyi deh main musik aja"


" Terrserah lo, nih pick nya


" Ka, Alya mau manggung dulu, jangan lupa disawer"


" Iya, nanti kusawer sebanyak yang sayang mau"


Mata Afkar mengedip sebelah genit, Alya berlalu tapi sebelumnya sempat mencubit paha Afkar. Alya naik ke panggung sambil membawa gitar barunya, duduk di kursi sambil mendekatkan stand micropon


" Selamat sore pengunjung Kafe Pelangi, saya mohon izin kali ini akan menghibur kalian semua. Biasanya saya bermain gitar dan bernyanyi, kali ini saya akan memberikan yang berbeda, saya akan membacakan puisi dari penyair kesayangan saya " Kahlil Gibran". persembahkan untuk kekasih saya Afkar Rahadian. Alya mengambil pick dan mulai memainkan gitarnya sambil berpuisi


🎸 🎶


" Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai.


Dan, apa yang kucintai kini akan kucintai sampai akhir hidupku


karena cinta ialah semua yang dapat kucapai dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya”


“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih dan kesendirianku… sebengis kematian… Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…


di dalam pikiran malam.


Hari ini… aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan… sekecup ciuman”


“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu…


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…”


“…pabila cinta memanggilmu… ikutilah dia walau jalannya berliku-liku… Dan, pabila sayapnya merangkummu… pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu…”


“…kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang.


" Terima kasih".


Tepuk tangan hadirin memenuhi ruangan kedai kopi itu. Alya turun dari panggung dan mendekati Afkar dan Bowo

__ADS_1


" Keren banget Al, sumpah, gue sampe lupa merekam, nanti malam minggu lo kesini lagi bawain puisi itu lagi ya"


" Enggak janji gue ya Wo, kalau sore gue berani sendiri, kalau malam gue tanyain Arga dulu bisa enggak nemenin gue"


" Ntar gue yang bilangin Arga biar ngantar dan balikin lo, sini gitarnya, gue simpan di ruangan aja"


Bowo mengambil gitar di tangan Alya


" Oh iya, silakan dinikmati ya, gue tinggal dulu, Al pesenin Afkar minuman lain, dia harus menyicipi menu yang ada di kafe gue"


" Iya, gampang lah".


Bowo meninggalkan mereka berdua


" Sayang, aku kok tiba-tiba sedih


" Kenapa ka?"


Alya berpaling ke arah Afkar karena dari tadi dia sibuk ngobrol sama Bowo


" Sayang mau main kesini aja, harus nunggu Arga yang menemani, aku kayanya tidak bermanfaat"


" Huuus, kaya barang aja. Kalau kaka keberatan Alya bersedia kok kesini kalau sorean aja, jadi enggak perlu minta temanin Arga"


" Bukan begitu sayang, ini hobi sayang, aku sama sekali enggak keberatan, malah aku senang sayang berada bersama teman-teman yang baik dan melindungi, aku merasa sedih aja karena tidak bisa menemani"


" Terus gimana donk ka, biar Alya happy kaka juga enggak harus punya perasaan begitu"


Afkar terdiam


" Kita nikah aja yuk sayang"


Alya terbahak, "katanya belum siap materi"


Afkar kembali terdiam


Alya mengelus lengan Afkar


' Ka, tangan kekar ini yang akan bekerja dengan ikhlas agar kaka cepat bisa menikahi Alya, Alya percayakan semua pada kaka, Alya akan tunggu ka okeeey" Alya mengedipkan matanya. Kaaa, mampunya aku mengucapkan itu, hatiku begitu merintih ka.


" Terima kasih sayang"


Afkar membawa jemari Alya ke bibirnya dan menciumnya


" Aku akan bekerja dengan kuat, aku akan melakukan yang terbaik, untuk sayang, masa depanku".


" Alya percaya ka"


" Sudah mau magrib, kita pulang dulu".


" Malam ini kita mau kemana lagi ka?"


" Belum pulang sudah nanya jalan lagi?"


" Alya cuma enggak mau aja sedetikpun pisah sama kaka?"


" Hmmm, sayang bohong lagi kan?"


" Waah ketahuan yaa"


Mereka mulai berjalan ke depan pintu, disana sudah ada Bowo sedang mengobrol dengan karyawannya. Alya menepuk punggung nya


" Wo, kami balik ya, nge bon dulu gue".


Afkar langsung membuka tasnya untuk membayar, melihat itu Bowo langsung menahannya


" Maaf Afkar, khusus untuk Alya kafe ini memang gratis kapanpun dia kesini"


" Lho, itu tadi sayang bilang nge bon"


" Whahaha, kaka kaya enggak tau mulut Alya aja, justru Bowo seneng kalau Alya disini, dia enggak perlu bayar penyanyi, Alya kan nyanyi enggak pernah di bayar juga, punya temen tajir tapi pelit ya ini orangnya"


" Hoh, sembarangan lo, pertama-tama waktu gue mau bayar lo tolak"


" Itu kan basa-basi, eh ternyata lo seriusin, nyesel gue nolak kemaren". Alya meninju bahu Bowo sambil tertawa. mereka berdua begitu aneh di mata Afkar. Bisa-bisanya becanda begitu.


" Ya udah hati-hati ya"


" Terima kasih Bowo, kami pamit"


" Ka, ini kita mau kemana?".


" Mengantar sayang pulang"


" Kaka?"


" Aku juga mau ke hotel mau mandi dan shalat"


" Di kost Alya aja sekalian ka, biar enggak muter-muter lagi, nanti habis makan baru kaka balik ke hotel sekalian"


" Enggak apa-apa aku shalat di sana ?"


" Santai aja ka, kaka bisa mandi dan shalat di lantai bawah, kami kan semua kamarnya di atas juga"


" Hmm boleh deh".


Sambil terus melaju di jalan menuju kost Alya.


Setelah mandi dan shalat, Afkar duduk di ruang tamu menunggu Alya yang masih di kamarnya sambil memainkan handpone nya. Ada beberapa chat masuk dari group kantor. Afkar tidak ingin membacanya dulu, ini adalah malam terakhir dia bersama Alya disini, dia tidak ingin terganggu dengan urusan pekerjaan. Terdengar suara langkah menuruni tangga, Afkar menoleh


" Sudah shalat sayang?"


" Sudah ka". Mereka duduk berhadapan


" Ka, sudah mandi cakep banget"


" Kalau yang ini sayang enggak bohong"


" Kok ketahuan lagi?"


" Iya, sayang ini sudah orang yang ke seribu dua ratus enam puluh empat yang bilang begitu"


Alya menepuk dahi nya


" Ternyata selain cakep pacar Alya juga penipu"


Afkar pura-pura melotot


" sayang, jangan ngomong begitu, aku bukan penipu, tapi pembohong"


" Iih ngeri banget, dapat ilmu dari mana?"


" sayang kan yang ngajarin"


" Murid pinteerr"


Kekasihku ini, benar-benar gadis lucu, ceria, periang. Tapi kalau dia sedih, cepat sekali air matanya mengalir, selain denganku, siapa lagi ya yang pernah melihatnya menangis? Apa aku terlalu jahat, kenapa aku bisa membuat gadis seperiang ini tiba-tiba menangis karena sikapku.


" Sayang mau makan apa?"


" Terserah aja ka"


" Kita jalan kaki aja yu, di depan taman kan banyak warung, nanti kita liat warung mana yang sesuai selera"


" Boleh, sekarang?"


Afkar mengangguk.


Jalanan belum begitu ramai, di taman juga hanya terlihat beberapa orang yang sedang duduk santai, ada yang berolah raga lari, ada yang bersepeda


Di bagian sisi taman berjejer beberapa warung makan yang menjual makanan utama, seperti bakso, mie ayam, soto, nasi campur, seafood, nasi goreng, ada juga yang menjual gorengan, jajanan anak-anak, bahkan menu bakar-bakaran pun tersedia, seperti jagung bakar. Biasanya warung-warung ini semakin malam semakin ramai.


Malam ini mereka memilih makan nasi goreng dengan telur ceplok. Duduk di taman sambil menikmati nasi goreng. Terlihat biasa saja, tapi pasti berbeda bila dilakukan berdua, berdua kekasih.


" Enak ya sayang"


" Iya ka, bagi kerupuk nya dong"


Sambil mengambil kerupuk di piring Afkar


" Sudah habis kerupukmu?"


" Iya"

__ADS_1


" Padahal kan sama porsi kerupuk kita, kok aku belum?"


" Makanya jangan di irit-irit, keburu diambil orang rezekinya, ikhlas enggak nih"


Sebelum dijawab Afkar, kerupuk nya sudah masuk ke mulut Alya


" Jangankan kerupuk, hati, jiwa, raga ambil deh, sekalian dompet, nih"


Alya melirik


" Emang isi dompet kaka banyak"


Afkar tertawa


" Sayang,kok baru nanya itu sekarang?"


Alya mengelap mulutnya dengan tisu dan meminum teh hangat.


" Hal begitu perlu ditanyain ke pacar juga ya ka?"


" Menurut sayang?"


" Enggak tau, tapi Alya enggak pernah pengen tau".


" Maaf ya sayang, aku belum banyak punya duit,lagi usaha ini buat nyariin yang banyak buat sayang dan anak-anak kita"


Alya tersedak


" Ngomong apaan sih"


" Iya, kan ini memang untuk masa depan kita"


Alya tersenyum sendiri, pengen deh cepat-cepat jadi masa depannya kaka.


" Ka, besok pesawat jam berapa?'


" Jam tiga"


" Alya ada kuliah jam siang ka"


" Aku tau"


" Kok nggak ngambil jam malam sih ka?"


" Aku kan perlu istirahat, biar nyampe di Surabaya enggak terlalu malam, lusa kan aku sudah harus masuk kerja lagi".


" Alya bolos ya besok mau ngantar ke bandara"


" Jangan , aku bisa sendiri, dan aku juga enggak mau liat kamu nangis lagi di bandara"


" Tapi Alya kan mau melambaikan tangan lagi"


" Tiap kita video call sayang juga selalu melambaikan tangan kan?"


" Iih, kan beda melambaikan tangan saat di bandara, biar kaya di film-film gitu"


" Jangan jadi korban film deh"


Afkar menghabiskan minumannya dan memanggil penjaga warung untuk membayar makanannya.


" Kita duduk di sana yu"


Afkar menggandeng tangan Alya menuju tempat duduk di taman itu.


" Ka,, kalau Alya kangen gimana?"


" Kita kan tiap hari bisa komunikasi"


" Tapi kaka sekarang sombong, pertanyaan nya Alya kasih senin, di jawab sabtu"


" Iih, mana pernah, paling telat beberapa menit"


" Ngaraaang, kemarin malah seharian enggak di balas, padahal di read"


" Itu aku meeting, trus mau nelfon balik, disuruh nemuin tamu, jadi di undur lagi nelf nya"


Alya merebahkan kepalanya di bahu Afkar, tangan Afkar pun merangkul pundak Alya


" Ka, kalau Alya rindu, boleh tidak mengadu pada bulan?'


" Boleh, memang mau mengadu apa?"


" Ngaduin kaka telat balas chat Alya"


" Kalau itu enggak perlu, kasian bulan, masalah sepele begitu aja sampai ke bulan"


" Kalau Alya lagi kesal sama kaka, boleh ngadu?"


" Kesalnya kenapa?'"


" Chat Alya di ceklis dua biru tapi enggak di balas'


" Sama juga sayang,,,enggak usah".


" Kaa, nanti kalau sudah kaya banyak duitnya beli pesawat pribadi ya"


" Buat apa?"


" Kalau Alya rindu enggak usah video call, langsung aja datang"


" Kalau aku sudah kaya, ngapain kita masih jauhan begini"


" Iya ya"


" Kaaa"


" Hhmm"


" Kaka tidak khawatir kita jauh begini?"


" Jarak bukan untuk memisahkan, tapi untuk menguatkan, selama kita masih memandang langit yang sama, dan doa kita masih di jiwa yang sama, aku yakin kita akan baik-baik saja"


" Kaka tidak khawatir perasaan Alya berubah?"


" Aku sebisanya membahagiakanmu, tapi kalau sayang merasa tidak bahagia, aku tidak bisa memaksa"


" Apapun yang terjadi, kaka jangan pernah meninggalkan Alya ya"


" Iya sayang"


Alya memindah posisi dan menghadap Afkar. Memeluk tubuh itu dan mulai terisak lagi


" Ka, Alya sayang ka Afkar"


Afkar mengelus rambutnya


" Aku juga Al"


Alya tidak ingin memperdulikan beberapa mata yang melihat mereka di taman itu. Tidak ingin berpisah, begini saja ka.


" Sayang,, aku tidak bisa memberimu janji-janji. Tapi aku akan selalu memberikanmu tinta agar penamu selalu bisa berpuisi hal indah kita, aku akan menjadi nada untuk lagumu, hujan untuk mekarmu, dan menjadi malam agar bintang venus di matamu terus bisa bersinar".


" Alya juga suka bulan"


" Aku akan menjadi langit malam agar bulan selalu terlihat cantik. Sayang, besok aku ke bandara sendiri saja, kamu kuliah, dan lagi aku tidak sanggup melihatmu menangis, aku tidak bisa lagi menghapus air matamu, cukup sudah kesedihan yang kita rasakan selama ini, sudahi saja beban yang harusnya kita tanggung tidak seberat kemarin, ini salahku, dan aku tidak ingin kesalahanku terulang dan terulang lagi".


" Ka, Alya ikhlas kaka pergi. Jangan lama lagi, di sini ada hati yang menunggu kaka kembali"


" aku tidak bisa menjagamu dalam pelukan, aku juga tidak bisa mempercayakan penuh pada orang lain untuk menitipkan. Jaga diri baik-baik, secepatnya aku pulang untuk mengikatmu dengan benda yang melingkar di jari, membuat hubungan kita halal dan direstui."


" Ini kali kedua, kaka yang pergi, tapi Alya yang merasa sedih setengah mati, separuh jiwa terbagi, ingin ikut seluruhnya tapi tidak bisa, berdiam semua disini tapi seakan sebagian terbawa Alya bisa apa? Setidaknya untuk pergi kali ini Alya mempunyai jawaban dalam penantian. Dan cara untuk mencintai selain menunggu adalah saling mendoakan".


" Oh iya, berapa sih ukuran jarinya? Kemarin aku mau beli oleh-oleh cincin, tapi aku tidak tau ukurannya"


Alya menunjukan jarinya, Afkar memandangi. Sedetik kemudian Afkar juga menunjukan jari kelingkingnya


" Segini kurang lebih ya?"


" Iya kalau kaka enggak gendutan lagi"


" Secepatnya aku kembali biar ukuran ini tidak berubah banyak"


" Ngedoain Alya gendut ya?"

__ADS_1


" Iya"


Alya menonjok bahu Afkar,.kemudian kepalanya sudah tenggelam dalam sandaran bahu itu.


__ADS_2