Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Pendekatan


__ADS_3

Motor matic Alya memasuki halaman kostnya, setelah mengunci motor dan melapas helm Alya beranjak masuk ke dalam, tapi di teras sudah ada seorang laki-laki tampan dengan tubuh tinggi dan berbadan atletis. Lelaki itu tersenyum dan berdiri sejak melihat Alya masuk ke halaman." Sore Al,baru pulang kuliah?"


" eh Ka Kevin, udah lama ka? kok enggak ngabarin Alya dulu"


" Santai aja Al"


" Masuk yu ka" Ajak Alya mempersilakan Kevin ke dalam ruang tamu."


" Di sini aja Al, enak adem, anginnya sepoy-sepoy. Coba aja kamu datang 15 menitan lagi, bisa-bisa aku ketiduran di sini"


Alya melirik ke samping kost, iya benar adem, ada beberapa pohon milik nenek Sum, yang sudah bikin geger satu kost karena Alya gelantungan enggak bisa turun saat manjat pohon jambu


" Boleh"


Alya ikutan duduk di teras yang memang sudah disediakan untuk tamu yang ingin menikmati pemandangan jalan.


" Al, depan ini depot, kita minum yuk"


" Kebetulan, Alya juga haus ka, ayo"


Depot ini memang sangat dekat, tinggal menyeberang beberapa langkah saja mereka sudah ke tempat mangkal muda-mudi itu.


" Kamu mau minum apa Al?"


" Juice alpukat ka"


" Mba, juice alpukat sama juice apel ya"


Kevin memesan minuman saat seorang wanita muda mendekati untuk menanyakan pesanan.


Tidak lebih dari 5 menit 2 minuman berbeda warna berbeda rasa itu sudah disuguhkan ke hadapan mereka


" Minum Al"


" Iya ka"


" Sudah semester berapa Al?"


" Sudah semester 4 ka, kalau ka Kevin?"


" Baru semester 2"


" Kaka ngambil pasca ya"


" Iya"


" Kalau sudah punya perusahaan kok masih aja sekolah ka, kenapa enggak kerja aja langsung"


" Biar makin pinter Al"


Mereka berdua tertawa ringan


" Kamu masih suka manjat Al?"


" kemarin manjat itu tuh"


Alya mengarahkan telunjuknya ke pohon jambu milik nek Sum


" Naik nya gampang, turunnya enggak bisa"


" Whahhaa, nekat juga, aku enggak pernah nyobain lagi sekarang Al, kapan-kapan kita manjat bareng lagi yu"


Alya menggeleng


" Alya kapok, enggak lagi ka, kalau ka Kevin mau naik, silakan,Alya di bawah aja jadi supporter"


" Emang aku mau main apa di atas sampai di suporter in segala Al?" Alya terkekeh


" Kali aja kaka mau bikin atraksi apa gitu di atas".


Mereka menikmati minuman masing-masing, sore jam 5 begini memang pas banget buat mendinginkan tenggorokan. Ponsel Alya berdering


Arga


" Hallo Ga"


" Al, Roni ngajakin makan malam, katanya ada restoran baru buka, menu ayam bakar Al, lo


mau ikut?"


" Sylvia ikut enggak?"


" Kalau lo mau ikut, habis ini gue telfonin dia, gimana?"


" Hmm, jam berapa?"


" Habis magrib Al"


" Oke deh, ntar jemput gue ya kalau Sylvia bisa ikut"


" Siap,,, gue telf Sylvia dulu ya'


" Oke, dah Arga".


Alya menutup oanggilan dan senyum-senyum, engga rugi punya teman-teman doyan makan yang enggak pelit, ketularan kenyang


" Pacar Al?"


Kevin yang merasa mulai dicuekin tiba-tiba nanya


" Bukan ka, teman Alya, mau ngajakin makan malam"


" Ooh, rame ya Al jalan-jalan sama teman-teman"


" Ya begitu ka, teman-teman Alya orangnya baik, ngejagain Alya, selalu sama-sama dalam susah dan senang"


" Hhmm, Alya. Kamu sudah punya pacar?"


Alya diam, mulai memikirkan akan menjurus ke obrolan apa lagi nih


" Belum sih ka".


" Kok sih? ada yang ditungguin ya?"


Senyum Kevin menggoda. Alya cuma menggeleng tersenyum


" Kamu sudah tau kan rencana orang tua kita Al?"


Alya mengangguk dan mulai tertunduk, tuh kan, sudah gue tebak bakal begini


" Gimana menurut kamu Al?"


" Alya qa tau ka, Alya juga enggak ngerti mau nya orang tua kita gimana"


" Mereka mau nya kita menikah"


Ooppss, Alya menelan ludah, ringan banget Ka Kevin menjawab, dia pikir ini lagi ngajakin makan malam kaya Arga tadi?


" Kamu keberatan Al?"


Alya masih saja dengan diamnya


" Maaf ya Al, kalau pertanyaanku membuat kamu bingung"


" Kalau kaka gimana?"


" Aku nunggu jawaban kamu, kalau kamu setuju ya kita mulai jalan sama-sama, tapi kalau kamu keberatan, kayanya kita harus berhadapan dengan masalah yang lebih besar"


" Masalah??? maksudnya?"


" Mama sudah menyebarkan berita ini ke kerabat dan teman-temannya, dan pastinya ini juga terdengar ke teman-teman mama kamu, kamu tau artinya Al? artinya untuk menolak ini kita perlu melakukan rencana paling hebat, dan aku bukan orang pemikir untuk hal seperti ini"


" Alya perlu waktu ka".


Alya meminum tetesan terakhir dari gelasnya yang sekarang benar-benar sudah habis.

__ADS_1


" Kita bisa memulainya dengan perlahan Al, aku tidak akan memaksa kamu, bagaimanapun ini adalah kehidupan, masa depan kita berdua, aku ingin memulainya dengan baik"


Alya memandang Kevin


" Kalau kamu mempertanyakan hatiku, aku jawab, sejak orang tua kita merencanakan ini, aku sudah memastikan, bahwa aku akan belajar mencintai kamu, seandainya kamu akan menerima perjodohan ini, aku akan bersiap untuk menjadi pendamping dan imam yang baik"


" Boleh kita sambung lagi nanti ka? Alya belum shalat ashar"


" Iya, aku juga mau pulang dulu, terima kasih Al mau menemaniku minum"


" Iya, sama-sama ka".


Setelah membayar ke kasir, mereka menyeberang lagi ke kost Alya. Kevin langsung pamit dan meninggalkan Alya dengan mobil berlogo segitiga di dalam lingkaran berwarna silver.


Alya segera berlari ke kamar mandi untuk berudhu karena melirik jam sudah sangat telat untuk shalat.


Dengan menepuk spons bedak ke pipi, mengoleskan lipstik tipis ke bibir, Alya sudah merasa cukup dengan penampilannya malam ini, makan malam bareng teman-temannya, Alya segera menuruni tangga dan menunggu di teras karena Arga baru saja menelfonnya karena ia sudah menjemput Sylvia dan sebentar lagi menjemput Alya.


" Tiiit"


" Yoi"


Alya menghampiri mobil sport hitam Arga dan membuka pintu belakang, sudah ada Sylvia menyambutnya dengan senyum lebar


" Pokoknya malam ini kita makan besar Al"


" Gue sengaja ngosongin perut Syl, biar menu apa aja bisa masuk"


" Motto kita sama, pergi cantik, pulang kenyang, whahahaa"


Arga cuma melirik dari kaca spion, huuh


" Roni nya mana Ga?"


" Dia baru nyampe di sana Al"


" Sendiri dia?"


" Sama calon pacar katanya?"


" hah, calon? ngapain ngajak kita?"


" Kita bertiga bertugas menilai calon cewenya itu"


" Cih, gue kirain ngajak makan gratis, ternyata ada tugas"


" Udah Al, cuek aja sama tugasnya, yang penting kita makan dulu" Sylvia menengahi


" Ini lagi satu, ngakunya calon istri orang tajir, dikasih gratisan masih aja nyambar"


" Sekarang kan belum Al,hehe"


" Jadi motor butut lo itu dikemanain Syl setelah dapat pengganti motor baru"


" Disimpan lah, kenang-kenangan gue, gara-gara tu motor merubah hidup gue dari babu jadi Cinderella"


Mereka bertiga tertawa,nasib siapa yang tau, sebentra lagi Sylvia akan mengakhiri status nya, dia akan segera dinikahi Pa Agus, dosen terkece se antero kampus, beruntungnyaa nasib sahabat gue.


Makan malam berjalan lancar, calon cewe Roni bertubuh mungil dan berambut hitam lurus. Manis banget untuk ukuran seusia mereka, walaupun agak pemalu tapi tetap bisa nyambung dengan obrolan yang kadang tidak bermutu dari mulut-mulut mereka. Roni pamit lebih awal dengan alasan qa enak bawa anak orang kemalaman, padahal baru juga Isya, alasan yang sangat tidak dipercaya mereka bertiga.


" Gue tadi didatangin Ka Kevin"


Alya memulai pembicaraan saat mereka sudah ditinggal Roni


" Ngomong apaan?" Tanya Sylya


" Dia bilang, sepertinya hubungan ini sangat serius karena orang tua kami seakan sudah menganggap kami menerima perjodohan ini, mereka sudah mengabarkan ke keluarga besar dan teman-temannya"


" Lo jawab apa?"


" Gue perlu waktu, gitu aja"


Arga yang tadi diam sambil memainkan handpone nya menyelutuk


" Al, ini bukan hanya masalah perjodohan yang orang tua sudah sangat mengharapkan terjadi, lo coba tanya perasaan lo sendiri, kura-kira lo bisa nyaman qa sama dia?"


Sylvia menopangkan wajah di telapak tangannya sendiri di atas meja


" Ooh so sweet nya Al, gini gue demen"


" Apaan sih lo, sok imut"


" Tapi gue masih menunggu ka Afkar"


2 temannya langsung merubah wajah


" Masiiih aja, sebel banget gue"


" Al, gue cowo nih, gue enggak akan ngegantung cewe yang gue cintai selama 1 tahun lebih, kalau gue cinta ya gue nyatain dan gue jaga, gue masih bingung sama otak lo Al"


" Ga, ini bukan otak gue yang berperan, tapi hati gue"


" Bener kata Roni, hati ko ketutupan sambel Al" Sahut Sylvia tertawa


" Lo berdua enggak dukung gue sama ka Afkar?"


" Enggak" keduanya menjawab kompak.


" jahat"


" Kami itu justru sayang Al sama lo, pengen gue benturin juga kepala lo di tiang listrik, kesetrum-kesetrum deh lo biar waras"


" Jadi gue mesti gimana?".


" Terima aja Al, sudah dapat dukungan begitu, iya kan Ga?"


" Walaupun gue patah hati, tapi gue lebih mendukung lo sama Kevin"


" Masih belum bisa lo move on dari Alya?"


Goda Sylvia


" Emang boleh bapak naksir anak kandung?"


" Hah, apa maksud lo"


" Si Alya lebih nganggap gue tulang punggung dari pada tulang rusuk, maka jadilah energi kebapakan gue semakin maksimal saat gue bersama 2 cewe enggak tau diri ini"


" Hahahaha,,,"


Mereka bertiga keluar dari restoran baru opening itu dengan tertawa.


Jam sudah menunjukan jam 10 malam, biasanya Afkar sudah memberinya salam tidur, Alya mencoba menghubungi dulu lewat WhatsApp


" Tes"


5 menit


10 menit


20 menit


30 menit


Alya tertidur dengan perut yang sangat kenyang.


Di kota seberang, Afkar masih tenggelam dengan pekerjaannya, menggantikan tugas dari bagian divisi promosi dan masih juga dengan kewajibannya sebagai staff pemasar membuatnya harus ektra tenaga dan pikiran, lupa dengan kebiasaannya untuk menghubungi Alya. Sadar seperti ada yang terlupa, Afkar meraih ponselnya, ya Ampun Alya chat sejam yang lalu, apa Alya sudah tidur ya


" tes juga"


Tidak ada jawaban


Afkar mengecek status WhatsApp Alya, foto Alya, Sylvia, Arga, Roni dan seorang gadis berambut panjang. Ooh mereka makan malam bersama.


" Selamat malam, selamat tidur Alya"

__ADS_1


Pesan kedua dikirim, agar kapanpun Alya membuka akan menerima kedua pesan Afkar. Menggerakan leher dan berdiri, Afkar sngat merasa lelah, bahkan pekerjaan kantor harus ia bawa ke rumah, karena ia tidak ingin pekerjaan hari ini akan tertumpuk besok, sedangkan besok akan ada pekerjaan baru lagi. Merenggangkan otot dan mencuci muka, badannya sudah sangat lelah dan mata mengantuk, mengambil foto mereka berdua yang berbingkai, memeluk dan memejamkan mata, mimpi indah Alya.


Bangun tidur Alya mengecek handphone, ka Afkar membalas jam 11 lewat, apa dia sangat sibuk ya? Alya turun ke bawah dan mandi. Notifikasi


Ka Kevin


" Assalamualaikum, sudah bangun Alya?


Alya


" Sudah ka?"


Ka Kevin


" Kuliah jam berapa?"


Alya


" Jam 8 pagi ka"


Ka Kevin


" Aku masuk jam 10, boleh aku antar ke kampus Al?"


Alya


" Enggak merepoti ka?"


Ka Kevin


" Enggak lah, sekalian aku mau sarapan lontong yang kamu makan kemarin pagi?"


Alya


" Kok tau sih?"


Ka Kevin


" Iya, dikirimin mamaku, katanya kiriman mama kamu yang katanya kamu salah kirim"


Duh pusing pala gue menterjemahkannya, cuma sarapan lontong kemarin kabarnya sudah nyampe kemana-mana, percaya banget gue soal perjodohan ini sudah merebak di seluruh jagad maya mama mereka.


Alya


" Boleh ka, aku siap-siap dulu"


Ka Kevin


" Aku jemput sekarang ya"


Alya


" Siipp"


Alya memandangi wajahnya di depan cermin, apakah Ka Kevin memang dikirim ke gue buat menyadarkan kewarasan gue sepeti kata teman-teman?. Apakah ini sudah jalan hidup gue untuk merasakan cinta pertama yang tidak kunjung bersambut. Kenapa gue harus tetap bertahan begini, kenapa gue enggak pernah nanya Ka Afkar apakah sekarang dia juga masih sendiri?. Perlahan Alya menuruni tangga dan menunggu kedatangan Kevin di teras. Melihat mobil silver berhenti, walaupun Alya belum sempat melihat apalagi menghapal no plat nya Alya yakin itu mobil Kevin, Alya bergegas ke halaman, Kevin membukakan pintu mobil bagian depan


" Pagi Al"


" Pagi ka"


Kevin mengitari mobilnya dan masuk dari pintu samping, duduk di belakang kemudi.


" Jadi kita ke arah mana kalau mau sarapan lontong?"


" Depan belok kanan ka, enggak jauh dari sini"


" Oke, pakai sabuk pengaman dulu Al"


" Iya ka".


Mobil melaju perlahan menuju tempat sarapan Alya kemarin


" Kaka mau pesan apa?"


" Pesan yang kamu pesan kemarin"


" kok nyontek?"


" Kan aku lagi belajar memahami selera kamu"


" boleh, tapi hasil jadinya nanti pasti beda?'


" Apanya yang beda Al?"


" Liat aja nanti"


Alya tersenyum membayangkan mata Kevin yang melotot melihat sambel pedas akan memenuhi piring Alya


2 porsi lontong dan 2 teh hangat sudah ada di depan mereka. Alya mulai memasukan sambal pedas ke dalam piringnya


" Al,,,"


" kenapa?"


Alya mulai melihat ' ketegangan di wajah Kevin


" Al, itu pedas lo"


" Iya tau, kaka mau nyamanin selera kan?"


Kevin terdiam, Alya terkekeh


" Ya udah ka, masing-masing kita berbeda selera ka, enggak usah dipaksa sama, jatuhnya nanti bisa menyakiti salah satunya"


Kevin mengangguk, ketika Alya mulai menyendok Kevin menegurnya


" Al, tunggu"


" Kenapa?"


" Enggak di foto dulu?"


" Ngapain?"


" Mamaku minta kirimin foto nya"


" Buat apa?"


" Enggak tau"


" ya udah"


" Bukan piringnya aja Al, tapi sama kitanya"


" Lho,,,kok jadi ribet sih"


Cekrek cekrek, Kevin memoto piring lontong beserta mereka berdua


Foto terkirim


Mama


" Manisnya mantu mama"


Kevin


" Tapi lontongnya sangar ma, cabenya ampuuun"


Mama


" Ya sudah kalau begitu mulai sekarang kamu belajar makan cabe, udah ya mama mau pamerin buat kirim ke group mama'


Kevin


" Jangan maa"

__ADS_1


Tuh mama, kenapa usil terus sih, batin Kevin


Dan pagi itu, sebuah foto 2 porsi lontong beserta 2 wajah remaja cantik dan ganteng sudah menyebar luas bak model kuliner, sebagian memberi komentar selamat datang mantu baru sebagian lagi menanyakan dimana lokasi tempat sarapan ini, dan jadilah warung makan pagi Haji Dijah viral hari itu.


__ADS_2