Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Kebahagiaan Alya


__ADS_3

Alya berlari dan terus saja mengelilingi pohon-pohon pinus, di belakangnya ada Afkar yang juga berlari mengejarnya


" Alya berhenti"


" Aku benci ka Afkar". Akhirnya tubuh Alya berhasil di tangkap Afkar, dengan gemas di gendongnya tubuh Alya dari belakang sambil berputar-putar ke udara


" Sudah ka, ampuuun"


Afkar tidak memperdulikan teriakan Alya dan terus membawa Alya di dalam pelukannya sambil terus berputar


" Sudah kaaa"


Merasa kepalanya pun ikut berputar Afkar menghentikan gerakannya, sedikit terhuyung Afkar mencoba berdiri tegak. Alya hilang kendali, langsung terduduk di tanah dan memijat kepalanya.


" Alya pusing ka"


" Hukuman kamu sudah membenciku"


" Kaa, Alya mau,,,"


Alya tiba-tiba muntah di dekat Afkar, Afkar langsung bingung dan mengurut leher belakang Alya


" Al, kamu sakit, maaf Al, aku cuma becanda, Al,,, jangan sandiwara lagi"


Alya benar-benar muntah karena kepalanya pusing akibat Afkar memutar-mutar tubuhnya berkali-kali. Beberapa orang melihat dari jauh, ada juga seorang ibu-ibu yang sedang bersama anak kecilnya agak mendekat. Alya yang setelah memuntahkan sedikit isi perutnya sudah bisa mengambil posisi duduk bersandar di pohon, menyadari ada yang memperhatikannya, walaupun masing pusing, tapi Alya masih bisa memunculkan ide untuk membalas kelakuan Afkar barusan. Alya menarik tangan Afkar.


" Mas,,, mas harus bertanggung jawab, ini akibat perbuatan mas"


Alya berpura-pura ingin muntah lagi dan tangan satunya memegang kepalanya seakan sangat pusing, Afkar bengong, Alya ngomong apa


" Mas, jawab aku, mas bertanggung jawab kan, jangan meninggalkan aku setelah mas berbuat ini padaku, huuhuuu"


Alya menutup wajahnya dan terisak-isak, Afkar semakin gugup


" Alya,,, sadar Al"


' Kamu yang seharusnya sadar mas, apa yang sudah kamu lakukan padaku".


Ibu yang tadi memperhatikan dari dekat semakin mendekati mereka


" Mbak, saya bawa minyak kayu putih, mungkin bisa mengurangi mualnya" sambil membuka botol kayu putih dan memijatkannya di leher Alya.


Ibu itu menoleh pada Afkar


" Mas, tidak kasian apa dengan mbak nya, mas harus bertanggung jawab, kasian anak yang dikandungnya mas, bagaimanapun kalian harus mempertanggung jawabkan ini, kalian yang salah"


" Tapi bu kami tidak,,,"


" Cukup mas, sekarang apa maunya mas"


Alya membentak.


Afkar memandang lesu Alya


Lelucon bodoh Alya,,hentikan pintanya dalam hati


" Mas, saya sebagai seorang ibu bisa merasakan apa yang mbak ini rasakan, tolong mas, mas harus bertanggung jawab" Ibu itu ikut memelas pada Afkar. Afkar melihat sejenak sekeliling, sudah ada beberapa pasang mata yang memandangi mereka, apa yang mereka liat, kenapa memandangku seperti aku adalah tersangka


" Mas, jawab!"


Alya kembali membuka suara


" Iya, aku akan bertanggung jawab" jawabnya lemah


Si ibu pun mengangguk


" Jaga anak kalian baik-baik, dan kamu mba, jaga kesehatan ya, kasian yang di dalam kandunganmu jangan sampai ikut stres" Membelai rambut Alya dengan lembut. Alya mencium tangan ibu itu


" Terima kasih ibu"


" Sama-sama nak".


Si ibu meninggalkan Alya yang tersenyum menang, sedang Afkar menundukan muka karena malu beberapa pengunjung melihatnya dengan tatapan sinis.


Alya melirik Afkar yang sekarang juga sudah duduk lemas disampingnya.


" Hhhmmm"


Bisik Alya, Afkar hanya melirik kesal


" Bagaimana bisa aku harus bertanggung jawab, mau mencium kamu saja aku sudah dianiaya begini"


" Yang sabar ya ka"


Alya menepuk pundak Afkar. Ingin lagi Afkar menggigit jari Alya, bukan hanya jarinya, tapi juga tangan dan seluruh tubuhnya, mengingat pandangan orang-orang tadi melihatnya.


" Alya"


" Hmmm"


Afkar memulai pembicaraan setelah kekonyolan dan keributan yang baru dilakukan Alya tadi memecah konsentrasinya untuk melakukan atraksi-atraksi romantis.


" Sejak tadi pagi sampai detik ini, kenapa tidak satupun hayalan yang aku impikan sebelumnya terjadi ya?"


" Menghayalkan apa"


" Tadi malam aku membayangkan kejutan kedatangan ku akan kamu sambut dengan senyuman,pelukan, bahkan mencium pipiku, kenyataannya malah aku yang terkejut langsung mendengar omelanmu?"


" Memang kaka masih ingat apa yang Alya omelin pagi tadi?"


Afkar memandang Alya gemas


" Bukan cuma ingat, tapi aku hapal semua".


Alya tersenyum, malu-maluin batinnya


" Lalu aku dihujani dengan tarikan membuka topeng pada daguku, di pukul, untung tidak sempat digampar"


" Bagus lah ka, nasib baik belum sempat,," Alya menutup mulutnya dengan telapak tangan, gila barusan aku ngomong apa.


" Aku juga ngebayangin saat aku ngomong aku cinta kamu, kamu tertawa bahagia, menyambutku dengan suka cita, dan seperti di film, ada kecupan mengejutkan tanda jadian. Ternyata tidak sama sekali, aku langsung disuguhi air mata, dipukul, bahkan di fitnah seperti ini, aku malu Al diliatin orang-orang"


Alya terkekeh


" Makanya jangan usil sama Alya, tadi kaka di jalan juga ngerjain Alya, bilangnya kita tersesat, ternyata cuma mau Alya peluk dari belakang"


" Iya lah, masa pegangan di paha, kaya ojek aja, lagian kalau enggak dipeluk kamu tidak tau kalau perut ku sudah sixpack, hasil nge gjm seminggu 2 kali"


" Duh sombong"


" Aku harus sombong sama kamu Al, kalau bukan ke kamu sama siapa lagi aku menyombongkan diri"


" Bohong juga Alya enggak tau"


" Eh nantang, mau liat hasil nge gjm ku"


Sambil berpura-pura mau melepas baju kaosnya


" Eh enggak usah, Alya percaya, keliatan sih, soalnya kaka pake baju ketat". Padahal Alya gugupnya sudah setengah mati, waktu Afkar dia panggil ceking aja sudah cinta sampe ke ubun-ubun, apalagi kekar sekarang, cintaku sekarang sudah tidak buta lagi, sudah tau mana yang ceking mana yang atletis. Afkar mencubit pipi Alya.


" Ngapain senyum-senyum, lagi ngebayangin tubuhku ya?" goda Afkar


Alya bergidik.


" Geer, enggak banget".


Afkar mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas nya


" Al, ini aku bawain oleh-oleh"


" Apaan?"


Alya mengambil kotak itu dan membukanya.


Jreeeeeeng


Sebuah kalung emas berliontin huruf


A L F A R


" Ka,,,bagus banget, Alya suka"


" Mau dipakein Al?"


Alya mengangguk


" Boleh"


Alya menyerahkan kalung itu ke tangan Afkar dan Alya berbalik tubuh agar Afkar bisa memasangkan kalungnya. Sedikit menyibakan rambut belakang Alya dan memasangkan kalung itu di lehernya.


" Terima kasih ya ka, kok bisa ketemu ide menggabungkan nama kita?"


" Nama dulu yang disatuin ,hati kan sudah, habis ini baru nanti menghalalkan kamu supaya kita benar-benar menyatu".


Alya mengulurkan jari kelingkingnya


" Janji ya ka, jangan pernah ninggalin Alya"


Afkar mengulurkan jari kelingkingnya juga


" Janji Al, aku tidak akan meninggalkan kamu"


Alya tersenyum, begini ya jadian? aneh banget.


" Al, ini enggak gratis lho"


" Hah? bayar? Astaga, sama pacar perhitungan banget"


" Iya lah, jauh-jauh aku datang ngapain kalau cuma dapat makian, tamparan, fitnahan"


" Berapa?"


" Bukan uang, tapi ciuman"


" Iih, norak, enggak"


" Di pipi doang, tanda jadian"


" Enggak"


" Ya udah, aku enggak maksa"


Afkar kembali ke posisinya memandang lurus ke depan.


Alya melirik


Dua tahun menanti ini cuma jadi lelucon konyol seharian, apa salahnya memberi ciuman pipi sama dia yang sudah sangat dicintainya


" Ka Afkar, Alya becanda, boleh deh"


" Enggak jadi"


" Iiiiihh, ngambek ya udah"


Alya pun memalingkan wajahnya


" Eh jadi deh"


" Aneeh"


" Sekarang ya, siap-siap ya,,, "


Alya mengangguk, duuh ciuman pertama guee, aduh warna apa pipi gue sekarang, Alya memejamkan mata, Afkar mulai menghitung


" 1,,2,,3"


Alya terbahak dan membuka matanya, Afkar bahkan sama sekali tidak mendekatkan wajahnya


" Whahaaaha, kaya mau lomba lari, udah ,,batal batal, enggak jadi". Afkar ikutan tertawa lepas. Sebenarnya tadi dia cuma bercanda, mana mungkin dia meminta sesuatu yang belum pantas didapatnya.


Merangkul bahu gadis di sebelahnya, seandainya ini terus bisa kita lakukan setiap hari ya Al, mengelus rambut Alya yang wangi.


" Ka, kalungnya boleh Alya jual enggak"


" Enggak!"


" Waktu belum jadian sok lembut, sok sopan, udah jadian pemarah"


" Kalau nanya yang lain aku enggak marah, baru aja dikasih kalung sudah mau dijual"


Alya mencubit hidung Afkar gemas


" Ni hidung asli apa palsu sih?"


" Alyaaa, mau aku cium beneran"


Alya menurunkan tangannya dan terkekeh.


" Ka, kapan ke Surabaya lagi?'


" Lusa"


" Alya ditinggal lagi?"


" Kalau kamu bersedia menikah sekarang sama aku, lanjutin kuliah disana dan ikut aku"


Alya menggaruk kepalanya


" Kenapa garuk-garuk, kutuan?"


Alya memukul lengan Afkar yang sekarang terlihat sangat kekar dan keren di matanya


" Ngaco, ka Alya lagi mikir, sampai kapan ya kita begini"


" Sampai kamu lulus kuliah, aku sudah punya tabungan cukup kita beli rumah dan mobil kita akan menikah dan punya anak-anak yang lucu dan sholeh"


Alya tersenyum, indahnya impian mu, aku serasa ingin secepatnya selesai kuliah, wisuda dan menikah denganmu. Memejamkan mata dan bersandar di dada Afkar yang bidang


" Aamiin".


Afkar merasakan sesuatu yang terlalu indah untuk diucapkan, perasaan yang bahkan hatinya pun masih terlalu bahagia untuk menyampaikan pesan. Ini sudah nyata, aku sudah melepas bebanku selama ini, Alya sudah menerimaku.


" Alya, boleh aku memanggilmu sayang?"


Alya bangun dari sandarannya di dada Afkar


" Kenapa?"


" Biar romantis Al"


" Terserah"


" Hmm, makasih sayang"


Alya kembali tertawa


" lucu"


" Kok lucu, mulai sekarang aku biasain"


" Kaka enggak minta aku panggilin apa? request gitu"

__ADS_1


Afkar menggeleng


" Seikhlasnya sayang aja "


" Ka, nama Alya disimpan di phonebook apa?"


Afkar mengeluarkan ponselnya dan memencet huruf


Bidadari


Alya tercekat.


" Jadi selama ini kaka simpan nama Alya itu, sejak kapan?"


" Sejak sayang ngirimin foto kita berdua di bandara".


" Ooh".


Afkar melirik arlojinya


" Sayang, sudah jam 3, kita pulang yu, nanti sampai kesorean, barangkali jadi kita ngumpul teman-teman, biar sayang sempat istirahat dulu".


Alya merapikan baju dan memasang jaketnya. Tangannya menyentuh lagi kalung itu, cantik sekali, Afkar tersenyum melihat tingkah Alya.


" Makasih ya ka"


Alya mendaratkan ciumannya di pipi kiri Afkar


" Eh, kok sayang yang nyium sih"


" Nungguin kaka kelaman, ini aja nungguin saat begini dua tahun baru di tembak". Afkar berdiri dan menyodorkan tangan membantu Alya berdiri. Berjalan ke parkiran sambil merangkul pundak Alya, sesekali dengan candaan yang sama sekali tidak berguna.


Menuju pulang, Alya sudah berani memeluk pinggang Afkar tanpa diminta, menikmati hembusan angin yang mulai sore, membawa perasaan yang tidak bisa dituangkan, mungkin nanti malam, buku diary berwarna merah jambunya akan penuh dengan cerita bersejarah hari ini, cerita yang akan kembali diceritakannya kepada putra dan putri mereka, duuh indahnya...


Di depan hotel Flamboyan motor berhenti


Afkar mematikan motor dan melepaskan helm


" Mau langsung pulang atau mampir dulu?"


" Mau pulang aja ka, takut kaka apa-apapin"


Afkar mencubit dagu Alya


" Sayang pikir aku tergoda sama tubuh sayang yang enggak ada seksi-seksinya itu"


" Ka Afkaarr, mau Alya bikin rusuh disini?"


" Enggak usah, mending pulang aja, istirahat. Nanti aku telf ya sayang"


" Barusan ketemu sudah mau nelf lagi aja, kan semua sudah kita ceritain?"


" Kangennya belum tuntas"


" Terus mau disambung?"


" Pokoknya sampai tua sampai maut memisahkan, perasaan ini akan terus menerus kita sambung, iya enggak sayang?"


" Iya aja lah, ka Alya pulang dulu ya,daah"


" Assalamualaikum sayang, bukan daah"


" Iya, Assalamualaikum"


" Waalaikum salam, hati-hati sayang,"


" Iya".


Alya melajukan motornya dari depan hotel menuju kost nya.


Sesampai di kost, Alya langsung mandi dan shalat. Sudah segar dan merebahkan diri di kasur, mengecek ponselnya karena sudah seharian tidak mengintip sosmed agar tidak mengganggu acaranya berdua dengan Afkar. Sempat tadi diliat cuma buat mengambil foto saat di pinus.


Chat group


Sylvia


" Alya, lo kemana aja, gue telf nomer di luar service area"


Roni


" Tadi sih bilang ke gue mau jalan-jalan sama Afkar, enggak tau jalan kemana sampai di luar area"


Sylvia


" Alya, kalau sudah aktif kabarin kita ya"


Roni


" Oh iya, gimana kalau malam ini kita ngumpul, mumpung Afkar masih disini,lusa sudah balik ke Surabaya"


Arga


" Boleeh, dimana? sambil makan malam aja Ron"


Roni


" Iya, dimana ya enaknya?"


Sylvia


" Di ayam goreng penyet jalan Kalimantan, gue pernah makan disitu sama Ka Agus, enak lho"


Roni


" Oh iya, gue tau tempatnya, gue ajak cewe gue ya"


Arga


mengacungkan jempol


Alya


" Haiii, gue baru datang, diajakin ke tempat wisata taman pinus, keren banget tempatnya, nanti kita kesana ya"


Alya mengirim foto dia sendiri hasil jepretan penata gaya, sekalian 5 gambar


Sylvia


" Gilaa, cakep banget Al, jauh enggak?"


Alya


" Sekitar 1 jam perjalanan naik motor gue"


Sylvia


" Jadi gimana ceritanya tadi Al?"


Alya


' Ntar gue ceritain, gue mau tidur dulu, capek, nanti kan kita makan habis magrib"


Roni


" Pamali Al, ini sudah mau magrib lo mau tidur"


Alya


" Masih setengah jam, masih sempet, asli gue capek banget, daaahh cinta cinta gueee".


Tidak sampai 5 menit Alya tertidur, tubuhnya memang sangat lelah, tapi hatinya sangat berbahagia, ka Afkar, terima kasih untuk hari ini.


Ting tong.


" Alya, ada Afkar"


Terdengar suara Yanti dari bawah, Yanti memang sedang memasak untuk makan malam. Alya berlari menuruni tangga setelah yakin dengan penampilan nya, di tambah tas selempang buat memasukan ponsel dan dompetnya. Terlihat Afkar dan Yanti sedang ngobrol.


" Sudah siap?"


" Kalau mau ngobrol sama Yanti enggak papa, kita qa terburu-buru juga"


" Sudah kok"


Alya mengangguk, Yanti meninggalkan mereka dan kembali melanjutkan memasaknya


" kita naik taksi online aja yang sayang, nanti pulang nya malam, kasian kan kalau naik motor" Bisik Afkar, rada malu juga terdengar manggil sayang gitu.


" Terserah aja ka"


Afkar membuka ponsel dan menyerahkannya pada Alya


" Aku enggak tau kemana tujuannya"


Alya meraih ponsel afkar dan mengetik tujuannya


" 5 menit lagi ka, kita tunggu di teras"


" Cantik banget sayangku malam ini"


" Biasa juga cantik, kaka aja yang enggak pernah nengokin Alya"


" Yaah, itu lagi yang di bahas"


Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan halaman kost


" Itu taksinya, ayo ka"


Afkar mengangguk


" Yan, gue berangkat dulu ya"


pamitnya sambil setengah berteriak dari pintu


" Iya, sekalian tutup pintu Al".


Bruk, Alya menutup pintu kost dan segera menuju taksi online yang baru di pesan.


Meja makan restoran sudah berisi 6 anak muda. Arga, Sylvia, Roni, Nanda, Alya dan Afkar. Seorang karyawan dengan memakai kemeja putih polos, celana hitam bersepatu dan memakai celemek biru mendekati meja mereka


" Silakan tuan, nyonya"


Sambil menyerahkan daftar menu


Alya dan Sylvia menunjuk beberapa menu, mereka tau lah selera Arga dan Roni, jadi tidak usah ditanya, mereka langsung memesankan, tinggal Nanda dan Afkar


" Ka, mau makan yang mana?"


Alya memberikan daftar menu


" Samain aja sayang"


Arga, Rony dan Sylvia langsung melirik mendengar jawaban Afkar, sayang??? sejak kapan ada nama depan sayang di depan nama Alya? Sejak Alya hilang di luar service areal tadi? Mereka tadi ngapain aja? sudah ada acara dor dor tembakannya ya? Alya pasti malu-maluin menjawab iya nya, lah sudah ditunggu bertahun-tahun. Alya dengan cueknya memesan menu yang sama pada karyawan itu, Nanda pun memesan menu yang sama.


" Gimana kabar kalian?"


Afkar mulai buka suara


" Kami ya gini, kadang jalan malam cuma buat makan malam, sekarang sudah masuk semester 5, matakuliah kita sudah masuk jurusan, jadi enggak selalu bisa kumpul lagi"


Roni menjawab


" Kabar kita sih baik aja, cuma Alya yang kayanya kurang baik"


Sahut Sylvia yang penasaran apa yang sudah terjadi dengan Alya seharian ini sampai ada panggilan sayang terucap di bibir Afkar.


Afkar memandang Alya, apa maksudnya kurang baik?


Arga mengalihkan pembicaraan


" Bagaimana perusahaan kamu di Surabaya? Papahku punya perusahaan cabang juga disana"


" Oh ya, perusahan apa"


" PT. Reksa Persada"


" Ooh aku tau, kami juga sering bekerja sama dengan perusaahan itu, bidang jasa juga kan?"


" Iya, tapi sekarang yang memimpin om ku, adik papah, kata papah kalau nanti aku lulus bisa ikut kerja disana, sambil belajar"


" Itu perusahaan orang tua kamu? kok ikut kerja, bukannya kamu akan jadi penerusnya?"


" Aku belum siap, mau jadi karyawan biasa aja, sambil belajar dulu"


Karyawan restoran datang sambil membawa 2 orang wanita yang lebih muda dan membawakan pesanan mereka.


Mereka berenam menikmati hidangan yang sudah disajikan. Sesekali terdengar lelucon mereka seperti biasa, sementara pada bagian panggung baru saja persiapan beberapa pemain musik yang siap memberikan mereka hiburan dengan lagu-lagu yang dipesan oleh tamu, semacam live musik.


" Al ada musik tuh, gue udah lama enggak liat lo main gitar"


Arga memberi kode pada Alya yang baru saja menyelesaikan makannya. Alya melirik ke panggung. Sound sistem sudah terpasang, pemain keyboard, pemain gitar dan seorang penyanyi cantik sudah mulai melantunkan lagu Surat Cinta Untuk Starla


" Enggak ah, malu"


" Ayo lah Al, biasanya lo cuek aja nyanyi"


Sylvia ikut memberi semangat. Alya melirik Afkar yang juga sedang memandangnya. Gue malu sama yang disamping gue.


" Kalau sayang mau main, silakan, teman-teman nunggu tuh"


Arga berdiri dan mendekati seorang anggota band, membisikan sesuatu, laki-laki itu mengangguk tanda mengerti dan mengacungkan jempolnya, Arga kembali duduk di kursinya


" Ga, lo ngomong apa sama dia?"


Alya mulai keliatan gelisah, pasti Arga mau ngerjain gue


Arga cuma menggelang tanpa memperdulikan pertanyaan Alya. Terdengar suara lembut penyanyi dari panggung.


" Selamat malam para pengunjung restoran, malam ini adalah malam istimewa, karena kita akan dihibur oleh seorang nona cantik pengunjung setia kita, dia akan mempersembahkan suara emasnya untuk kita nikmati, daaaan istimewanya, nona ini tidak hanya akan menyanyi, tapi juga memainkan gitarnya, mari kita beri sambutan yang meriah untuk nona Alyana, mari nona,,". Alya melotot ke Arga


" Lo di panggil noh"


Roni tertawa begitu mengetahui akal Arga. Alya menggeleng


" Malas gue, lo aja"


" Yang dipanggil lo, bukan gue"


Roni tertawa melihat Alya yang mulai salah tingkah. Alya memandang lagi ke Afkar, Afkar berbisik ditelinganya


" Naik aja sayang, kasian teman-temannya, aku juga pengen liat kehebatan kekasihku di atas panggung". Alya terdiam sejenak, akhirnya dengan langkah gontai ia berjalan menuju panggung dan mendekati salah satu pemain gitar.


" Mas, saya boleh pakai gitar yang mana?"


" Mbak biasa pakai apa? kita ada gitar steel string"


" Oh iya deh, kebetulan itu gitar pegangan saya, boleh mas". Lelaki itu menyerahkan gitar pilihan Alya, kemudian menggeser dan mengatur kursi agar posisi duduk Alya bisa nyaman saat memainkan gitar dan menyanyikannya.


" Selamat malam hadirin, mohon maaf ini adalah kejutan teman saya yang kurang kerjaan yang sekarang sedang dengan santainya mentertawakan saya" Alya menunjuk ke meja makan mereka agar pengunjung mengetahui kejahilan Arga. Pengunjung tertawa.


" Sebelumnya saya mohon maaf, karena saya sama sekali tidak mempersiapkan penampilan saya malam ini, jika kurang nyaman di telinga dan hati hadirin tolong dimaklumi"

__ADS_1


Terdengar tawa pengunjung kembali bergema.


" Malam ini saya akan mencoba membawakan sebuah lagu, dimana lagu ini khusus saya persembahkan untuk seseorang tercinta saya, yang pernah datang, pergi, datang, dan semoga tidak pergi lagi"


Alya mulai memetik beberapa nada dan mentester gitarnya, setelah dirasanya cukup, Alya mulai memainkankan lagunya


Intro : C G/B Am ~ Dm C G ~


     


 C                F


Aku tercipta oleh-Nya


  G                  C -G/B


Untuk slalu cintai kamu


Am            Dm


Beri aku kesempatan


    Fm               G


Tuk bahagiakan dirimu


  C                F


Kamu tercipta oleh-Nya


  G                   C -G/B


Untuk selalu aku cintai


Am                  Dm


Genggam erat tangan ini


  Fm                      G


Jangan sampai kau lepaskan ~


          C    G/B    Am


  Sampai aku tutup usia


      G         Dm


  Kan ku jaga hatimu


  C          G


  Sampai aku tua ~


    Em                   A


  Walau keriput dipipimu terlihat


     Dm            C


  Takkan goyahkan cintaku


       G       (C)


  Yang begitu kuat ~


Int. C G/B Am


*)


  C                F


Kamu tercipta oleh-Nya


  G                   C -G/B


Untuk selalu aku cintai


Am                  Dm


Genggam erat tangan ini


  Fm                      G


Jangan sampai kau lepaskan ~


Reff :


          C    G/B    Am


  Sampai aku tutup usia


      G         Dm


  Kan ku jaga hatimu


  C          G


  Sampai aku tua ~


    Em                   A


  Walau keriput dipipimu terlihat


     Dm            C


  Takkan goyahkan cintaku


       G       (Am)


  Yang begitu kuat ~


Song : Am D G C F D7 G


Reff :


          C    G/B    Am


  Sampai aku tutup usia


      G         Dm


  Kan ku jaga hatimu


  C          G


  Sampai aku tua ~


    Em                   A


  Walau keriput dipipimu terlihat


     Dm            C


  Takkan goyahkan cintaku


       G       (C)


  Yang begitu kuat ~


          C    G/B    Am


" Terima Kasih"


Pengunjung meminta Alya membawakan sebuah lagu lagi, Alya menolak halus, tiba-tiba seorang laki-laki separuh baya mendekatinya dan berbisik


" Selamat malam nona, kenalkan saya Pa Beny, saya adalah pemilik restoran ini. ,dengan penuh rasa hormat saya meminta untuk nona sekali lagi menghibur pengunjung, saya akan saya berterima kasih jika nona bersedia. Alya bingung, dia tidak siap jika manggung mendadak begini, tapi untuk menolak dia juga merasa tidak menghormati pemilik restoran ini, akhirnya Alya mengangguk dan diam memikirkan apa yang akan dibawakan. Sekali lagi mentes beberapa nada dan setelah merasa sudah pas, Alya kembali membenarkan posisi duduknya dan mengganti pick.


[Intro] Am G F 2x Fm


 


     Am      G            F


sedalam samudra t’lah aku selami


      Am            G                F


setinggi langit di angkasa t’lah aku arungi


     Am         G         F


sepanjang kehidupanku aku mencari


       Am        G           F


sebentuk kelembutan hati cinta sejati


Fm


Ooooo


 


[Reff]


C   G  Am            G              F


kini, usai sudah segala penantian panjangku


      Em          F                 G


setelah temukan dirimu duhai kekasihku


C   G  Am       G               F


hanya, di hatimu akan kulabuhkan hidupku


 Fm                            Am G F


karena kau..lah..cinta terakhirku


 


     Am         G           F


berjuta kejora terangi gelap malamku


      Am         G           F


tetap tak seindah cahaya mata hatimu


Fm  G


Ooo ho..


 


[Reff]


C   G  Am            G              F


kini, usai sudah segala penantian panjangku


      Em          F                 G


setelah temukan dirimu duhai kekasihku


C   G  Am       G               F


hanya, di hatimu akan kulabuhkan hidupku


 Fm                            Am G F


karena kau..lah..cinta terakhirku


 


[interlude] C G Am G F


 


[Reff]


C   G  Am            G              F


kini, usai sudah segala penantian panjangku


      Em          F                 G


setelah temukan dirimu duhai kekasihku


C   G  Am       G               F


hanya, di hatimu akan kulabuhkan hidupku


 Fm                            Am G F


karena kau..lah..cinta terakhirku


Alya menutup penampilannya dengan tersenyum dan sedikit membungkuk kepada pengunjung lainnya. Berdiri dan menyerahkan gitar pada pemain musik. Suara tepuk tangan pun terdengar riuh, karena saat itu pengunjung restoran memang banyak.


" Terima kasih, maaf ya"


" Sekali lagi boleh mba, bagus banget penampilannya"


Puji penyanyi perempuan itu ramah


" Sudah cukup mbak".


Alya berjalan mendekati meja nya sambil berjalan dan mendekati Arga, setelah berada di samping Arga, Alya langsung melingkarkan tangannya dan mencekik leher Arga


" Awww mati gue All"


" Bener-bener Lo ya becandanya enggak asik".


Semua yang di meja mentertawakan hasil dari keusilan Arga


Alya kembali duduk disamping Afkar


" Malu banget Alya ka"


" Bagus sayang, aku suka sekali, malah sudah aku rekam, buat nanti aku tonton tiap malam".


" Alya, gue izin posting di fb gue, tapi lo gue tag"


" Jangan Syl"


" Yah, telat jawab lo, udah gue posting"


Telat apanya, langsung Alya jawab, sebenarnya sejak Alya turun dari panggung tadi video rekaman dari ponsel Sylvia sudah di posting, tidak ada izin-izinan.

__ADS_1


__ADS_2