
Bel berbunyi, Kevin melangkah menuju pintu dan membukanya
" Selamat malam tuan"
" Malam, silakan masuk"
Lelaki yang tadi sore datang berdua kali ini datang sendiri
" Maaf sore tadi saya tidak bisa menahan emosi"
" Tidak apa tuan, saya mengerti"
" Kamu masih punya informasi tambahan?"
" Iya tuan"
" Ceritakan semuanya, saya ingin mendengar"
" Tuan Afkar adalah seorang pemuda yang baik, rajin dan ramah. Seminggu dua kali melakukan olah raga di tempat fitnes. Rumah yang sekarang beliau tinggali adalah perumahan yang sedang dicicil selama 5 tahun dan ini adalah tahun kedua. Sudah menjalin hubungan dengan nona Alya selama enam bulan". Kevin membuang mukanya, iya memang enam bulan, sama sepertiku.
Lelaki itu mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan menyerahkannya pada Kevin
" Ini foto tuan Afkar".
Kevin membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Seorang pemuda yang mungkin seumur denganku. Kenapa aku seperti pernah bertemu dia, apakah dia teman satu kampusku? bukan. Atau karyawan papah? juga bukan. Atau bahkan karyawanku sendiri? sepertinya juga bukan?.
" Saya masih perlu bantuannya, saya minta 2 orang untuk mengikuti kemanapun Alya pergi, pastikan tidak ada yang mengganggunya, walau semut sekalipun. Dia mempunyai 4 orang sahabat Arga, Sylvia dan Roni. Dia juga senang mampir ke kedai kopi pelangi, pemiliknya adalah temannya bernama Bowo. Jika dia ada diantara mereka biarkan mereka, tapi jika diluar itu beri dia pengawasan dan perlindungan"
" Kapan kami bisa melaksanakan tugas ini tuan?"
" Besok pagi sampai 1 bulan ke depan, bekerja sama lah dengan pa Budi".
" Baik tuan kami permisi"
Kevin mengangguk.
Kenapa aku saja yang mencinta dalam hubungan ini, masuk ke dalam porosmu dan tidak bisa keluar, terjebak dalam duniamu yang kadang bukan dunia ku.
Aku perasaan dan imajinasi
Atau menghentikan fakta yang kamu buat?
Aku yang memprioritaskanmu, sedang kamu memprioritaskan dia.
Menjagamu dari sakit hati, menjagamu dengan caraku.
Aku tidak tau cara melupakan dengan baik dan benar
Seperti juga kamu tidak tau cara menghargai dan mencintai ku dengan benar.
Kenapa masih saja aku yang sibuk mengejarmu, sedang kamu sibuk mempertahankannya.
Beberapa rasa memang lebih baik untuk menjadi rahasia, seperti rahasia mu yang akan hanya aku genggam, darimu, dari orang tuaku
Segala pesonamu yang sudah membuatku terpikat tapi tidak pernah bersedia untuk ku ikat.
" Assalamualaikum ka"
" Waalaikum salam bidadari, sudah mau berangkat kuliah?"
" Iya ka, ka Afkar mau berangkat kerja?"
" Iya"
" Cakep banget cinta nya Alya, jangan selingkuh ya!"
" Tidak kebalik sayang? hahaha"
" Jangan bikin Alya ngambek lagi ya pagi-pagi"
" Iya, maaf. Aku ada meeting jam 10 nanti, kalau tidak balas chat jangan marah ya"
" Iya, Alya juga mau konsultasi dosen pembimbing ka mau ajuin tempat magang, doain di terima pengajuan nya di kantor papahnya Arga ya ka"
" Amiin, semoga lancar urusannya sayang"
" Iya, terima kasih ka, kaka juga semoga lancar kerjaannya, dapat duit banyak biar cepat lamar Alya"
" Aamiin, ya udah aku berangkat dulu ya,. jangan lupa sarapan, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Emuuah"
" Sayang ka Afkar, terima kasih"
Alya melambaikan tangan di depan kamera ponselnya
Klik.
Alya melajukan motornya menuju warung makan Bu Haji Dijah, kali ini mau sarapan nasi kuning saja dengan sambal merah ynag ditasnya bertabur bawang goreng dan memesan segelas teh hangat. Mengecek apakah ada chat group nya
Sylvia
" Guys, kira-kira bulan madu dimana ya yang romantis?"
Arga
" Paris"
Roni
" Pantai di Maldives"
Arga
" Venice di Itali"
Sylvia
" Ka Agus nawarin ke Abu Dhabi, tapi katanya gue yang pilih dulu, gue bingung nih, nginjak luar negri aja enggak pernah"
Alya
" Dimanapun romantis, asal sama Ka Afkar"
__ADS_1
Emo love berjejer
Sylvia
" Masa gue bulan madu sama ka Afkar?"
Alya
" Bukan elo, tapi gue, iih pala lo udah ngeres aja mentang-mentang mau bulan madu"
Sylvia
" Duuh yang pengen juga bulan madu, nikah dulu sana"
Emo ketawa lebar
Arga
" Gimana kalau kita jagain Sylvia bulan madu, kita ikut di belakang"
Alya
" Setuju, beliin gue tiket Ga"
Roni
" Akuur, gue biaya sendiri aja, tapi kalau oleh-oleh boleh deh duit lo Ga"
Sylvia
" Jangan ikut-ikutan, bisa kacau honeymoon gue"
Alya cekikan membaca chat Group WA nya, ngikut aja ni pasukan, orang mau bulan madu juga. Setelah sarapan Alya langsung menuju kampus, semoga hari ini pengajuan tempat magang gue disetujui. Ribet juga kalau magang di perusahaan lain, selain tidak kenal, bakalan jauh dari Arga sepertinya akan merepotkan, dan kasian juga Arga, kalau bukan gue yang ngerepotin siapa lagi, enggak ada kerjaan lagi dia.
Sebuah video terkirim ke ke ponsel Kevin. Seorang perempuan mengendarai motor matic dan berhenti di sebuah tempat makan pagi, duduk sendiri dan memainkan ponselnya sambil menunggu pesanan, sepiring nasi kuning dengan lauk telur dan secangkir teh hangat, sesekali matanya melirik ke ponsel dan tangannya menyentuh layar, bibirnya berkali-kali tertawa sambil tetap memperhatikan layar ponselnya. Lanjut video kedua Alya sudah memarkir motor di halaman parkir kampus dan berjalan menuju tangga, video terhenti.
" Iya, tunggu dia pulang kuliah".
Setelah mengirim pesan Kevin pun melangkah menuju lantai 2 kampusnya untuk segera menemui dosen pembimbingnya dan mengajukan dalam minggu ini akan segera melaksanakan seminar hasil untuk tesisnya.
Judika
" Iya Ga"
" Lo dimana Al?"
" Lantai 2, lo dimana?"
" Gue di kantin"
" Tunggu ya"
Klik.
Alya berlari menuruni tangga dan langsung masuk ke dalam kantin. Melihat Arga sedang duduk santai bersama Roni dan teman-temannya, Alya langsung mendekati
" Ga, tempat magang gue enggak di setujui"
Alya duduk disamping Arga
Tanya Roni
" Katanya kejauhan kalau Jakarta, beliau bilang cari yang dekat sini aja dulu"
" Kantor papah lo aja Al, atau kantor ka Pandu" sambung Roni lagi
Alya terdiam, sebenarnya gue juga sempat mikir itu, tapi gue enggak enak aja, kalau di perusahaan Arga kan gue orang lain.
Arga melirik Alya
" Betul juga".
Alya cuma terdiam dan mengambil sebotol air mineral yang ada di meja kantin
" Iya deh nanti gue omongin sama papah".
" Lo naik motor Al?"
" Iya Ga"
" Gue mau pulang"
" Gue juga, Ron lo enggak pulang?"
" Sebentar lagi, nunggu dosen"
" Ya udah kami duluan ya"
Alya menepuk pundak Roni dan berjalan mengiringi langkah Arga
" Al, gue tau kenapa lo masih berpikir mau magang di tempat bokap lo"
Alya mencolek pinggang Arga
" Sok tau lo"
" Iya, lo malas kan kalau harus nginap di rumah selama 2 bulan, terus tiap pagi dan sore ikut sama bokap lo ke kantor"
" Enggak juga"
" Dan yang bikin lo rada takut malamnya, lo enggak bisa bebas telfonan sama Afkar karena telinga lo bakal penuh dengan nama Kevin"
Alya menghentikan langkahnya, Arga pun ikut menghentikan langkahnya tepat di ujung tangga
" Ga, lo bisa baca pikiran gue"
" Sepertinya memang itu kan yang bakal terjadi?"
" Iya Ga"
" Gue juga mau lo bahagia Al, tapi gue bingung mau doain lo apa, gue nyaranin lo lanjut ke Kevin gue tau lo sakit hati, nyaranin lo tetap ke Afkar, lo nentang orang tua"
Alya mulai menuruni tangga dengan hati yang sedih. Sudah setengah bulan Afkar pergi dan setengah bulan lagi juga masa break dia dan Kevin berakhir. Arga mengiringi langkah Alya menuju parkiran
" Langsung pulang Al?"
__ADS_1
" Iya"
" Mendung banget, kaya mau hujan"
Alya melihat ke atas
" ya udah, gue pulang sekarang, biar tidak kehujanan"
" Gue juga pakai motor, kalau pakai mobil gue antar lo"
" Iya deh, gue duluan Ga"
" Siipp".
Benar saja dugaan Arga, tiba di tengah jalan Alya merasakan gerimis mulai membasahi tangannya, Alya segera mencari tempat berteduh yang bisa disinggahi, gerimis mulai berubah menjadi hujan dan Alya tidak bisa memilih tempat lagi, langsung dibelokannya motornya ke satu toko kecil yang menjual alat tulis kantor dan fotocopyan. Setelah memarkir motor Alya langsung berlari ke depan pintu toko.
" Bu, numpang berteduh ya"
Si ibu yang melihat dari dalam menjawab
" Iya silakan".
Alya merapatkan tubuhnya ke dinding karena atap toko itu terlalu kecil sehingga tetesan air hujan sesekali masih menyentuh tubuhnya. Di sana juga sudah ada beberapa mahasiswa dan pejalan kaki yang berteduh sehingga tempatnya yang kecil semakin menjadi sempit saja. Alya ingat di bawah jok nya ada jas hujan pemberian Afkar, awalnya dia berniat untuk berlari mengambilnya, tapi sesaat hujan semakin lebat saja, sementara jaraknya berteduh dengan motor lumayan jauh, lariku tidak akan bisa mengimbangi lebatnya hujan ini, aku pasti basah kuyup. Akhirnya niatnya dibatalkan. Ditunggu saja, mungkin sebentar lagi reda. Sambil menatap hujan dari atap toko Alya tersenyum teringat menikmati saat berhujan bersama Afkar
hujan adalah sepotong kisah yang mengikatku pada sebuah kenangan masa lalu dan membawaku pada keindahan hari ini
dawai hujan akan selalu ternada
Hujan itu sebuah penjaga rahasia dimana kita bisa menangis dibalik hujan
Dan selalu berirama untuk menjadikannya sebuah lagu diantara titik-titiknya.
Aku ingin lagi melihat wajahmu yang basah, aku ingin mengusapnya, dan air hujan itu jatuh satu-satu dari helai rambutmu.
Alya menjulurkan tangannya agar air hujan dari atap itu bisa menyetuh tangannya, merasakan hadir kekasih juga menyentuh pori-porinya. Membasuhkan air itu ke wajahnya, ciuman mesra kekasihku.
Sebuah video terkirim
Seorang gadis mengendari motor matic dan tiba-tiba menepikan motornya di sebuah toko kecil di pinggir jalan karena hujan. Memarkir motornya dan segera berlari untuk berteduh, semakin merapatkan tubuhnya ke dinding karena beberapa kali air hujan mengenai tubuhnya akibat tempatnya kecil dan terlihat sesak. Awalnya sepertinya gadis itu menyiapkan dirinya untuk berlari, tapi tidak jadi karena hujan semakin menjadi. Gadis itu memandang ke atas seperti memperhatikan air hujan yang turun dari atap dan tersenyum. Menjulurkan tangannya agar air hujan yang jatuh dari atap itu membasahi telapak tangannya, kemudian membasuhkannya ke wajahnya, dan kali ini senyum itu berubah menjadi datar, bukan hanya wajahnya yang basah, tapi juga matanya. Menangis?
Kevin langsung menekan tombol panggilan
" Iya tuan"
" Pa Budi jemput Alya di toko alat tulis, dia kehujanan"
" Di toko mana tuan? saya masih di depan kost nona Alya"
" Hubungi Hans sekarang juga, saya tidak ingin Alya kehujanan dan demam"
" Baik tuan, saya segera menjemput nona"
Klik.
Alya masih saja menikmati tetesan air hujan, membayangkan dia sedang menari di bawah sana bersama Afkar. Aku tidak pernah membenci hujan, untuk apa aku harus berteduh, aku kan bisa bermain di sana. Tapi aku tidak konyol, walaupun aku tidak membenci hujan, tapi aku sangat mencintai kekasihku, aku tidak ingin dia mendengar aku sakit sehingga membuatnya khawatir, dan mungkin saja nanti tanganku agar menggigil, lalu aku kelupaan untuk menuliskan rindu ini pada diary merah jambuku, kemudian aku tidak menuliskan puisi untuknya, dan ujung-ujungnya tanganku tidak bisa memetik gitar untuk menyanyikan lagu cintaku untuknya.
Sebuah mobil sedan putih berhenti tepat di depan toko alat tulis kantor, seorang lelaki paruh baya keluar dengan membawa payung dan mendekati Alya
" Nona Alya, mari ikut saya saja, disini hujan dan pakaian nona sebagian sudah basah"
" Pa Budi, sedang apa disini?"
" Saya kebetulan lewat melihat motor nona terparkir di sana, dan benar nona sedang berteduh disini"
" Ooh"
" Mari nona ikut saya"
" Tidak usah pa, sebentar lagi juga mungkin reda"
" Ayo lah nona, ini hujannya lebat sekali, di depan toko ini juga sangat sempit, nona tidak bisa duduk"
" Saya bawa motor pa, kalau saya ikut bapak saya nanti harus ambil lagi motor saya"
" Kalau itu tidak usah dipikirkan nona, nona bawa saja mobil saya, saya akan membawakan motor nona ke kost, bagaimana?"
" Kasian bapak kehujanan, sungguh pa saya tidak apa-apa"
" Nona, saya tidak apa-apa. Atau begini saja, saya bisa suruh orang membawakan motor nona ke kost saat hujan reda, sekarang saya bisa mengantar nona kemana nona mau"
Alya memandang pa Budi, mungkin ada benarnya, tidak salah menerima ajakan baik pa Budi yang juga asisten rumah tangga Kevin ini, lagipula tubuhku sudah menggigil.
" Saya tidak kemana-mana pa, saya cuma mau pulang"
" Baiklah nona, mari ikut saya"
Pa Budi menyerahkan payung yang tadi dipakainya, Alya menerimanya, Alya pikir mereka akan menuju mobil dengan sepayung berdua, ternyata tidak. Pa Budi dengan berjalan cepat menuju mobilnya dan segera membukakan pintu mobil. Alya pun berjalan cepat agar pa Budi tidak terlalu lama kehujanan. Alya langsung masuk dan Pa Budi segera menutup pintu. Mobil langsung melaju menuju tempat kost Alya. Alya turun dan sebelumnya mengucapkan terima kasih dan menyerahkan kunci motornya.
Video terkirim
Seorang pria paruh baya sedang mendekati seorang gadis yang sedang berteduh di toko alat tulis kecil sambil memegang payung. Berbicara dengan gadis itu, terlihat gadis itu seperti menolak ajakannya, tapi lelaki itu sepertinya masih terus membujuk, akhirnya lelaki paruh baya itu berjalan cepat menuju mobilnya dan membukakan pintu mobil, terlihat gadis memakai payung menuju payung.
Video terkirim
Seorang gadis turun dari mobil sedan putih dan setengah berlari menuju pintu kost. Mobil sedan putih segera melaju dan berhenti di depan taman. Terlihat mobil sport dark grey mendekati dan seorang lelaki berusia 40 tahunan turun dan menjulurkan tangannya ke dalan mobil seperti mengambil sebuah benda. Mobil dark grey melaju dan berhenti di sebuah toko alat tulis, seorang pria turun dari mobil dan langsung mengambil sebuah motor matic hitam. Mobil dark grey dan motor matic hitam beriringan menuju kost gadis tadi.
Alya yang baru saja mandi akibat kehujanan mendengar suara ketukan pintu, membukakan pintu dan kaget
" Pa Budi?"
" Nona, ini kunci motornya, dan itu motornya"
" Lho, ini kan masih hujan, kenapa di antarnya sekarang pa?"
" Tidak apa nona, kebetulan teman saya lewat disana"
" Baik, terima kasih ya pa"
" Sama-sama nona, saya permisi"
Pa Budi terlihat sedikit membungkuk dan langsung berjalan cepat menuju mobil putihnya
Video terkirim
Motor matic berhenti di depan kost, pa Budi terlihat langsung mengambil motor dan mengetuk pintu most, seorang gadis terlihat membukakan pintu dan mengambil sesuatu dari tangan pa Budi. Bercakap sebentar dan Pa Budi langsung meninggalkan gadis itu dan memasuki mobilnya.
__ADS_1
Kevin mengamati setiap video yang terkirim dari ponsel Hans. Alya, aku belum bisa menjagamu langsung karena perjanjian kita, tapi jangan takut, cintaku ini akan selalu menjagamu dengan caraku. Jangan takut sendiri, aku selalu ada di balik perasaan sayangku ini. Dan jangan menangis lagi Alya, aku tidak akan membiarkanmu sakit ataupun menangis, apalagi karena laki-laki lain.