Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Jangan mengambilnya Dariku


__ADS_3

Makan siang bersama di ruang besar. Alya duduk di samping Afkar, sedang di seberang mereka duduk Pak Wijaya dan Aprill. Berbagai menu makan siang sudah terhidang di atas meja. Afkar mengisi piring pak Wijaya dengan nasi yang porsinya tidak banyak, mengambil sepotong ikan tuna yang dimasak semur dan diletakan di samping piring beliau. Secangkir air putih dan sebotol kecap manis. Sementara Aprill disodorkan nasi putih lembek karena masih sakit.


Seporsi piring besar berisi cumi asam manis yang baru saja khusus di masak oleh chef Afkar di dapur setelah memulangkan Aprill dari rumah sakit. Afkar yang sudah biasa memasak di dapur tidak segan untuk menyiapkan menu favorit Alya begitu tau Alya menyetujui untuk makan siang di rumah Pak Wijaya. Alya yang hanya membantu mengiris bawang sudah berderai-derai air mata, dan tahapan selanjutnya akan diselesaikan dengan baik oleh tangan yang lebih profesional. Alya melirik Afkar yang memindah sebagian cumi asam manis ke dalam piring Alya, teringat lagi ucapan Afkar yang membuat mereka ribut lagi di dapur yang saat itu dikuasai penuh oleh mereka berdua.


" Alya, iris bawangnya jangan melintang begitu, tapi begini"


" Sayang, jangan cuma di belah dua, diiris kecil-kecil"


" Ngiris cabe buang bijinya, sayang mau biji cabe masuk semua ke dalam perut? bangun besok pagi numbuh cabe dari kepala"


" Udah Alya liatin aja, mau bantuin salah terus"


Alya ngambek.


" Cerewet nih, Alya masak nasi goreng juga ngirisnya begini"


" Artinya selama ini salah"


" Tapi enak kok"


" Enak bukan berarti benar sayang".


Dan jadilah acara memasak hanya dilakukan hanya dari tangan Afkar, tidak jadi duet karena dipastikan hasilnya akan kacau.


Aprill melirik menu cumi asam manis favoritnya


" Ka, Aprill mau cumi"


" Jangan, Aprill masih sakit, lagipula ini tadi kakak masukin cabe yang banyak soalnya ka Alya suka pedas"


Aprill cemberut, buat nenek lampir itu? ini kan menu favoritku, ka Afkar jahat.


Alya sedikit melirik Aprill.


Dia cemberut? kamu tu lagi sakit, makan aja bubur sama irisan ayam dan telur, bagian cumi ini biar jatahku, baru kali ini mau merasakan hasil masakan kekasihku yang di klaim nya sebagai masakan terlezat di dunia.


" Afkar, kamu mau keluar siang ini?"


Afkar menatap Alya seolah meminta jawaban, Alya menggelang, maksudnya tidak mengerti kenapa Afkar memandangnya.


" Tidak pak, kenapa?"


" Saya mau istirahat, bangunkan sebelum ashar"


Afkar mengangguk.


" Baik pa"


Pak Wijaya berdiri


" Maaf nak Alya, saya mau ke atas, teruskan makannya ya"


" Iya pak, terima kasih"


Meja makan hanya tertinggal mereka bertiga.


" Aprill mau nambah? kakak ambilkan?"


Aprill menggelang.


" Sayang mau nambah?"


" Sudah kenyang ka".


" Aprill sudah selesai, mau ke atas dulu"


Aprill menyudahi makannya dan berniat berdiri


" Sebentar Aprill, ka Alya mau bicara"


Alya kaget, apaan ka Afkar?


" Sayang, Aprill sudah di sini, kalian bisa ngobrol, aku tinggal sebentar, mau telepon ibu dulu ya"


Afkar tersenyum, sementara tangan Alya mencubit kaki Afkar dari bawah meja, Afkar segera menepisnya bahkan sekarang sudah berdiri, sedikit berbisik pada Alya


" Sayang, aku duduk di depan, kalau ada insiden bunyikan sirine saja, hehehe".


Alya menunduk, tinggal berdua. Bukankah perjanjian awal bukan begini, bukankah kita akan menghadirkan Darel dulu, ka Afkar ingkar janji, masa aku sendiri begini menghadapi Aprill. Wanita di depannya menunduk sambil memainkan sendoknya di atas piring yang sudah kosong.


" Aprill,, bisa kita bicara?"


Aprill mengangguk dan sekarang menatap Alya.


" Aprill, sebelumnya aku ingin cerita. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakakku laki-laki dan adikku perempuan, usianya sepertimu saat ini, dia juga cantik dan pintar sepertimu, saat ini dia kuliah dan mengambil fakultas hukum"


Aprill mendengarkan cerita Alya


" Sejak lulus SMA aku sudah tidak serumah dengan kedua orang tuaku, walaupun masih satu kota di Yogyakarta, tapi jarak nya sejauh 160 km, dan itu membutku harus tinggal di kost. Semester pertama aku mengenal seorang lelaki sederhana, aku dikenalkan teman satu kamarku, lelaki itu baru putus dengan kekasihnya, namanya Afkar"

__ADS_1


Alya menghela napas. Kenapa aku berat begini saat mulai menceritakan tentang kita ka.


" Kami berkenalan di kost dia suatu sore di Yogyakarta, dia seorang yang lembut, bermata teduh dan santun. Bahkan di awal pertemuan itu aku menyebutnya lemah, tidak usah kuceritakan kenapa. Tidak lama setelahnya kami bertemu lagi tidak sengaja di satu mall saat aku berjalan dengan teman-temanku. Dia seorang Office Boy"


Office boy? ka Afkar seorang OB?


Aprill mencoba lebih tajam mendengarkan cerita. Nenek lampir ini bercerita ka Afkar kakak angkatku atau Afkar yang lain?


" Saat itu aku melihat dia pulang kerja, memakai kemeja berlengan panjang, celana jeans dan bertopi. Dia berjalan pelan di depan restoran tempat kami makan. Aku memanggilnya, dan akhirnya dia ikut bergabung bersama kami. Malam itu kami berempat duduk di taman, dia mengajakku bicara berdua di satu bangku taman di bawah purnama. Di sana aku merasakan debaran hebat, sesuatu yang tidak pernah kurasakan di dalam hidupku, aku gemetar, kamu tau rasanya? kupikir malaikat maut akan mencabut nyawaku. Aku bahkan tidak bisa berkata, bibirku terkunci. Aku tenggelam di dalam matanya, aku seperti sedang berada di pinggir jurang, jantungku mulai berulah berdetak puluhan kali per sekian detik, detakannya keras berbunyi seakan-akan bunyinya terdengar keluar dan dapat terdengar sampai jarak ber mil-mil. Tanganku bergetar hebat, seandainya aku memegang sehelai kapas saja, pasti kapas itu akan terlepas karena lemahnya kekuatan tanganku saat itu, bahkan tanah yang kupijak seperti sedang menarik kakiku untuk masuk ke dalam pori-pori tak terlihat. Senyumannya mematikan fungsi organ di dalam tubuhku.


Aku tidak tau itu apa, dia kemudian memapahku kembali pada teman-temanku, kami berpisah setelahnya. Besok paginya dia datang membawakanku sarapan bubur ayam, terlihat sederhana ya? tapi itulah penyembuhku, obat dari segala kebingunganku semalaman, apa yang sebenarnya terjadi padaku? ternyata aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada seorang lelaki ceking bertubuh jangkung dengan hidung mancung, dan dia adalah Afkar, seorang OB yang sedang berjuang sendiri di kota itu"


Alya meraih gelas berisi air putih di depannya. Aku akan melanjutkan kisah ini? apa aku mampu kembali bercerita dengan bibirku? aku harus bisa.


Selama enam bulan kami menjadi lebih dekat dan sering bersama. Suatu malam dia datang dan pamit akan ke Surabaya karena di terima bekerja di satu perusahaan, dia pergi tanpa mengatakan dia menyukai apalagi mencintaiku, sementara aku sudah memberikan cinta pertama untuknya, perasaan yang tidak terucap dari kami berdua. Aku sakit, tanpa tau apakah aku dicintai atau tidak. Dua tahun kami dalam keadaan seperti itu, aku terlunta tanpa tau harus menunggu atau pergi. Kemudian aku dijodohkan dengan kerabat orang tuaku, dia baik, santun dan sudah dipercaya untuk memegang satu perusahaan papahnya di usia sangat muda, 24 tahun. Aku yang seperti tidak punya harapan lagi mencoba menerima orang baru, namanya Ka Kevin.


Seseorang yang kutunggu datang besok pagi, dan mengungkapkan perasaanya di satu taman pinus. Aku menerimanya karena memang ini yang sudah aku tunggu selama dua tahun. Aku menganggap ini akan berjalan baik, ternyata aku salah, ka Kevin serius dengan perjodohan ini dan aku terperangkap dalam kisah tiga segitiga. Aku memilih kekasihku untuk kucintai, tapi aku tidak bisa keluar dari situasi yang tidak kuperkirakan sebelumnya, hubunganku dengan Kevin terlalu dalam pencampuran tangan kedua orang tua kami. Akhirnya kekasihku harus mundur, sampai akhirnya dia berada di sini, bersamamu"


Aprill menundukan kepalanya, benar dia Afkar kakakku


" Kamu tau Aprill? tanpa cinta sejati aku hancur dan tumbang sendiri, bagaimanapun sekitar menguatkan, ternyata masih tidak bisa. Aku hancur sehancurnya, masih menunggu dengan cinta yang sama saat aku jatuh cinta pertama kalinya. Aku berpisah dengan ke Kevin tanpa menemukan cinta sejatiku"


" Selama dua tahun terakhir kami tidak berkomunikasi lewat apapun, memang aku yang memintanya untuk pergi, tapi jangan hilang. Dan karena satu kesalah pahaman, akhirnya kami samasekali tidak tau kabar masing-masing. Hanya sepucuk surat yang ditulisnya di satu kedai kopi milik temanku yang memberitahuku bahwa dia masih hidup dan masih dengan cinta yang sama. Takdir membawa dan mempertemukan kami di sini, dengan caranya"


Aprill mengangkat kepalanya


" Aprill mengerti dan bisa merasakannya, sekarang Aprill yang akan bercerita"


Alya mengangguk.


" Ka Afkar tidak pernah bercerita tentang seorang wanita bernama Alya. Dia datang ke rumah ini satu malam sendiri. Dia menjaga dan menyayangi Aprill. Kakak bisa merasakan bagaimana diperhatikan dan disayangi selama 24 jam ka?. Hal kecil apapun dari Aprill terpenuhi"


Alya merasakan dadanya sesak.


" Ka Afkar datang dengan perlakuan memanjakan dan menyayangi Aprill. Bagaimana bisa Aprill percaya cerita ka Alya".


Alya memainkan jemarinya.


" Kamu sekarang ingin bagaimana Aprill?"


" Aprill tidak mau kehilangan sosok pelindung. Ka Alya itu baru datang, tidak tau apa yang sudah Aprill rasakan selama satu setengah tahun ini bersamanya. Ka Afkar tidak pernah mengucapkan cinta, tapi dia melakukan itu pada Aprill. Sekarang begini, tadi ka Alya bilang selama dua tahun ka Alya menunggunya tanpa kejelasan, kenapa ka Alya menunggunya padahal ka Afkar sudah di Surabaya?"


" Karena dia setiap hari menghubungiku dan kami selalu bercerita"


" Menghubungi dan bercerita saja ka Alya bersedia menunggu selama itu? lalu Aprill yang selalu diperlakukan manis dan dimanja setiap hari selama satu setengah tahun ini bagaimana? bisa rasakan sakitnya Aprill ka?"


Aprill bicara dengan lantang dan keras sehingga membuat Afkar datang dan duduk disampingnya.


Afkar terdiam, sebenarnya sejak tadi semua pembicaraan ini di dengarnya dari ruang keluarga, tapi melihat Alya dalam posisi terdesak dia harus datang, dan sialnya kata yang sudah tersusun itu hilang melihat tangis Aprill.


" Kenapa diam? bukankah biasanya ka Afkar akan membelai rambut Aprill dan mengusap air mata ini, lalu memeluk Aprill dan mengatakan semua akan baik-baik saja memastikan ka Afkar berada disamping Aprill dan tidak akan meninggalkan"


Afkar menatap dingin Aprill.


" Dengarkan kakak, semua perlakuan itu karena kakak menganggap Aprill adik yang harus kakak lindungi"


" Kenapa sebanyak dan semanis itu ka? setiap hari mata Aprill disuguhi dengan kebaikan dan pesona kakak, telinga Aprill dimasukan doa-doa untuk kebaikan sepanjang hari itu, apa kakak pikir Aprill ini boneka yang tidak bisa mengartikan itu, bahwa itu tidak berarti apa-apa?"


Alya yang dari tadi diam kemudian ikut bicara


" Aprill, kenapa kamu berharap lebih pada ka Afkar sedang kamu sendiri memiliki kekasih?"


Deeg, senjata pamungkas. Ka Afkar terlalu lamban.


Aprill menatap tajam Alya dengan mata yang masih basah.


" Apa maksud ka Alya?"


" Kenapa Darel kamu gantung? seandainya kamu sungguh ingin hubunganmu lebih pada ka Afkar, kenapa tidak kamu sudahi hubunganmu dengan Darel?"


" Jangan mencampuri urusanku ka"


" Semua yang berkaitan dengan ka Afkar akan menjadi urusanku sekarang"


Dada Alya berdegub keras, aku punya saingan anak kecil tapi maunya besar, sabar Alya,,,


Afkar menatap Alya dan memberinya kode untuk lebih santun. Tapi kali ini Alya sudah kembali menjadi Alya di enam tahun yang lalu. Aku sedang menghadapi anak kecil yang sudah melupakan kesantunannya, yang terbutakan dengan cinta nya, aku tidak bisa lemah.


" Aprill sudah tidak mempunyai hubungan dengannya karena ka Afkar"


Afkar mengernyitkan alisnya


" Kenapa aku?"


" Ka Afkar selalu mengawasi Aprill di mana saja dan melalui mata siapa saja, bagaimana bisa hubungan kami selayaknya kekasih lain dengan wajar?"


" Aprill, kamu tidak pernah membicarakan ini pada kakak, bagaimana aku tau kalau aku sedang memisahkan dua orang yang saling mencintai"


Aprill terdiam

__ADS_1


" Aprill, jangan membuat alasan, sebenarnya kamu tidak bisa melepaskan Darel karena masih menunggu ka Afkar menyatakan cintanya kan?"


" Alyaaa"


Afkar menatap Alya yang sudah terlalu berani


" Ka Afkar, apa yang Aprill rasakan sudah pernah Alya rasakan"


Aprill tertunduk


" Aprill, Darel anak baik, muda, tampan, santun, dan akan menjagamu lebih baik daripada sekarang"


Afkar meliirik Alya, selalu menghinaku di saat apapun, kamu menyebutku tua lagi.


" Jangan mengaturku, atur saja kehidupan ka Alya setelah ini tanpa ka Afkar"


Hhuuuuuppp, keringat menetes di wajah Alya, ruangan ini ber ac, tapi sejak bicara dengan gadis muda didepannya ini membuatnya sangat gerah.


Terdengar suara langkah menuruni tangga, Afkar segera menoleh, pak wijaya. Kenapa beliau bangun, jam dinding saja jarum panjangnya belum menyentuh di angka tiga, ashar masih lama.


" Aprill, kamu terlalu ribut, papah tidak bisa istirahat"


Satu kursi makan di samping Aprill sekarang sudah menjadi tempat duduk beliau.


" Maaf pak, kami bicara terlalu keras"


" Bukan kamu Afkar, tapi Aprill"


Alya tertunduk, tadi suaraku juga meninggi, apa ini penyebab pak Wijaya terganggu sehingga beliau sampai harus turun begini.


" Aprill, papah sudah dengar semuanya, semua yang diceritakan Alya tadi memang benar, ini bukan cerita rekaan ataupun lelucon. Afkar pernah cerita ini pada papah"


" Pah, benar atau tidak ini tidak lagi berpengaruh, terserah Aprill tidak ingin perduli. Aprill hanya ingin meminta penjelasan pada ka Afkar kenapa dia berbuat terlalu baik begini pada Aprill, berbuat baik kepada adik angkat tidak perlu semanis itu kan?"


Pak Wijaya mengangguk


" Benar katamu Aprill, papah menjadi saksi kebaikan dan ketulusan Afkar selama ini pada kita, tapi kenapa kamu menganggap lebih? bukankah Afkar tidak pernah menjanjikan apapun padamu?"


" Paah,,"


Aprill mulia tersedu lagi


" Jadi bagaimana menurutmu Aprill?"


Hening,,,


" Ka Afkar tidak boleh meninggalkan Aprill apalagi menikah dengan wanita yang pernah meninggalkan dan menghianatinya itu"


Uuuuuhhh, kaki Alya gemetar. Aku??? lancang sekali dia menyebutku begitu. Apa hakmu bicara itu di sini?


" Ka Alya sudah menyakiti ka Afkar, lalu meminta ka Afkar pergi. Di mana salah ka Afkar jika pun sebelum ka Alya menemukannya sekarang ka Afkar sudah bersama seseorang, baik itu Aprill atau bukan?. Ka Alya jangan lagi berharap kembali bersama ka Afkar, bukankah pasangan yang sesuai untuk orang yang sudah berkhianat itu adalah seseorang pengkhianat juga? bukan orang yang setia?"


Alya menatap Afkar, bicara ka bicara. Aku ingin sekali bicara banyak, tapi di depanku ada pak Wijaya, satu-satunya orang yang masih ku hormati detik ini. Afkar juga menatap Alya tapi dengan kebingungan.


" Aprill, aku datang ke sini untuk bekerja, aku juga tidak percaya saat menginjak kaki di kantor pagi senin itu akan bertemu lagi dengan ka Afkar, semua ini memang sudah takdir. Tapi seandainya aku datang hanya untuk menyakiti orang lain apalagi orang itu adalah kalian, aku akan mundur"


" Alyaaa"


Afkar berdiri dan mendekati Alya


" Kamu bicara apa? bukankah kita sudah membicarakan ini? aku tetap akan menikahimu"


" Iya, itu sebelum Alya tau apa yang terjadi sebelum Alya datang"


" Pak, kami permisi sebentar"


Afkar meminta izin pada pak Wijaya, anggukan beliau diiringi dengan tangan Alya yang di tarik pelan Afkar menuju ruang tamu.


" Kamu bicara apa?"


" Ka, cerita Aprill sudah cukup membuat Alya berpikir, ini memang bukan salah ka Afkar, benar katanya Alya yang datang sok tau dan mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya"


" Aku tidak mau"


" Alya sudah terbiasa begini , tidak akan sangat berat lagi, tapi bagi Aprill yang tidak pernah menghadapi hal berat, ini pasti akan sangat menyakitinya ka"


" Kamu tidak ingin berjuang bersamaku lagi?"


" Kakak yang tidak ingin berjuang, kenapa diam saja? kenapa hanya Alya yang mempertahankan hubungan ini? kenapa seperti Alya saja yang bersikap dan mengambil keputusan?"


" Aku tidak ingin menambah beban pak Wijaya sayang"


" Iya, benar itu ka. Karena itu memang Alya yang harus tau diri dan mundur, kehadiran Alya hanya merusak keluarga harmonis dan rukun kalian"


Afkar mengajak Alya duduk dan mencoba menenangkannya.


" Mau minum sayang? kuambilkan"


" Tidak usah, Alya pamit saja ka, kasian pak Wijaya"

__ADS_1


" Pamit kemana?"


" Alya mau pulang ke Yogya"


__ADS_2