Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Maukah Kamu Menerimaku Lagi


__ADS_3

Dua porsi soto Banjar dan dua gelas es teh sudah pindah ke dalam perut Afkar dan Alya.


" Masih mau tambah lagi Alya?"


Alya menggeleng


" Pantas saja kaka betah di sini, masakannya enak-enak"


" Iya, aku kalau makan soto Banjar ingat kamu, aku bayangin pasti di kasih limau kuit dan sambal yang banyak"


" Alya sekarang sudah bisa mengurangi pedas ka, kemarin sempat sakit"


" Bagus lah, di bilangin tidak pernah nurut, diberi sakit akhirnya bisa"


" Berarti untuk bisa lebih baik itu perlu sakit ya ka?"


Afkar mengangguk


" Mungkin, tapi mungkin juga sudah diberi sakit tapi masih tidak perduli, kaya aku sudah di beri sakit sampai ke tulang masih saja tidak memperdulikan perasaan, mau saja terus menunggu tanpa tau apakah masih bisa sembuh"


Alya melirik pada laki-laki disampingnya. Lagi ngomongin sambal atau perasaan sih?


" Kenapa lirik-lirik? naksir?"


" Enggak, cuma mikir aja, selama dua tahun enggak ketemu kenapa kaka tambah tua dan tambah jelek"


Afkar melongo,


" Rambut hancur, muka berantakan, pakaian kusut kaya enggak punya setrikaan, pemarah, ngomongnya nada tinggi"


" Muka berantakan bagaimana? kata karyawanku aku tampan"


" Itu janggut numbuh, dulu bersih enggak ada brewokan begini"


" Tipis doang, biar terkesan wibawa saja".


" Tapi keliatan tua, Alya kaya jalan sama aki-aki aja".


Afkar menatap tajam.


" Kamu pikir kamu tambah cantik? kalau aku tambah tua kamu juga makin tua, rambut digelombangin kaya emak-emak anak empat, sudah berusia duapuluh empat masih juga belum tau fungsi eyeshadow sama blush-on, sederhana boleh, jadul jangan"


" Alya jadul? kata teman-teman di kantor Alya cantik"


Afkar menggeleng


" Biasa aja"


Setelah membayar ke kasir, Afkar mengajak Alya jalan-jalan.


" Aku kangen jalan-jalan sama kamu"


" Ooh"


" Mau tidak? kalau tidak mau kuantar pulang"


" Dasar laki-laki sombong. Ini Alya belum jawab sudah diberikan pilihan, ya udah pulang saja".


Afkar menggaruk kepalanya.


Mobil perlahan-lahan meninggal kan rumah makan soto Banjar.


" Alya, aku mau bicara"


Alya menoleh ke arah Afkar


" Dari tadi memang sudah bicara, ngapain baru izin sekarang"


" Alya!"


" Tidak usah bentak, Alya dengar"


Alya membuang wajahnya ke samping kiri, menatap bangunan-bangunan perkantoran berjejer rapi dan lalu lintas yang cukup ramai, maklum ini adalah jam istirahat, pekerja-pekerja akan keluar untuk mencari makan siang dan istirahat.


" Aku ingin minta maaf atas perlakuanku dalam penyambutan kedatanganmu, aku kaget aku tidak siap, walaupun ini yang sangat aku nantikan dalam hidupku selama kita berpisah"


Alya diam saja sambil terus mengarahkan pandangannya ke sisi kiri jalan


" Kamu dengar tidak?".


" Hhmm"


" Aku benar-benar dalam keadaan tidak terkendali saat melihatmu lagi kemarin, aku kehilangan pikiran jernih"


" Bisa kan sebenarnya kaka sebentar menemui kami?"


" Tidak bisa, aku sangat gugup dan gemetar saat itu"


" Apa yang kaka lakukan di ruangan setelah itu"


" Memeluk foto kita"


Alya merubah posisi wajahnya, kali ini menghadap Afkar.


" Untuk apa?"


" Aku sudah terbiasa saja memelukmu begitu di saat aku menjalani hari-hari beratku.


Aku memarahi sekretarisku karena sudah membuatmu lama menungguku tanpa air minum, kamu pasti kehausan, aku juga menanyakan nya kenapa tidak memberimu hiburan seperti menyalakan televisi agar kamu tidak bosan menunggu, menonton musik misalnya, dia bilang aku yang membuat peraturan tidak boleh menyalakan televisi di jam kerja.


Aku tau kamu pasti kelaparan karena menungguku tanpa aktivitas apapun, makanya Sasha kuminta untuk menemanimu menikmati bakso. Aku mengerti semua yang kamu inginkan di depan ruanganku, tapi aku tidak berdaya untuk melakukannya sendiri.


Kalau kamu ngapain saat menungguku?"


" Mengucapkan sumpah serapah"


" Heh, sudah kuduga. Sebaik apapun doaku, pasti akan kamu balas dengan kejahatan"


" Ka, Alya sedih sekali kemarin. Orang yang Alya rindukan memperlakukan Alya begitu, menghindar, dan kembali hilang. Alya datang dari jauh ka, bertemu dengan cinta Alya yang seharusnya memberikan peristiwa terbaik dan istimewa, tapi ternyata begini"


Afkar menyentuh tangan Alya, tapi segera dilepaskan Alya


" Alya aku ingin menggenggam tanganmu lagi, aku rindu banyak hal yang selalu aku impikan"


" Ka Afkar bukan yang dulu lagi, Alya kecewa ka"


" Bukan yang dulu lagi bagaimana? aku masih saja mencintai dengan gila begini"


" Bukan itu. Ka Afkar sangat emosi, pemarah, kasar, menakutkan".


" Aku juga bingung , sejak kamu mengganti nomor kontak dulu, aku sangat kecewa dan sedih yang teramat, tiba-tiba aku menjadi begini, sebentar emosiku bisa meledak, cepat tersinggung"


" Jadi kaka menyalahkan Alya"


" Iya"


Afkar tersenyum menggoda, tapi Alya cuek saja.


" Ka, kita mau kemana?"


" Aku juga tidak tau, kita jalan saja"


" Ini kan jam kerja"


" Kantor itu punyaku"


Alya terdiam, satu lagi, sombongmu melebihi levelku saat aku berkekayaan saat bersama ka Kevin.


" Kaka belum cerita bagaimana bisa jadi sukses begini"


" Mana sempat aku bercerita, sejak tadi kita berantem terus"


" Siapa yang ngajakin berantem duluan?"


" Kamu"


" Jadi bagaimana ceritanya?"


" Nanti saja, aku masih kangen"


" Terus?"


Afkar membelokan mobilnya di Taman Labirin Banua (Kebun Raya Banua) yang ada di Aneka Tambang, Palam, Cempaka, Kota Banjar Baru. Pada objek wisata ini pengunjung dapat menjumpai berbagai taman seperti taman buah, taman bunga, dan taman labirin untuk bermain petak umpet.


" Kita turun dulu Alya"


Alya turun dari mobil dan mengikuti langkah Afkar menuju satu pohon besar dan duduk di bawahnya sambil menselonjorkan kaki


" Ini tempat apa ka?"


" Wisata"


" Sering kesini?"


" Tidak juga, tapi pernah"


" Sama pacar kaka?"


" Iya dong"


" Banyak punya pacar?"


" Kamu pikir aku tidak laku?"


" Alya tidak percaya"


" Terserah"


Alya tertawa


" Siapa yang berani naksir sama bos seperti singa begini".


" Siapa bilang?"


" Karyawan kaka,hahaha'


Afkar menaikan alisnya


" Mereka bilang begitu?"


" Awalnya Alya pikir bohong, setelah melihat kaka, memang benar, benar sekali, bos galak"


" Hehehe"


Afkar ikut tertawa, rupanya aku benar-benar galak.


" Ka, Alya ingat sesuatu"


" Ingat apa? Duduk di sini Alya"


Afkar menepuk tanah yang penuh dengan rumput lembut dan meminta Alya duduk di sampingnya, Alya menurut saja


" Ingat empat tahun yang lalu ka Afkar menyatakan cinta pada Alya di tempat seperti ini"


Afkar tertawa dan mengenggam tangan Alya, kali ini tanpa penolakan


" Aku memang ingin mengulangnya lagi"

__ADS_1


Alya menoleh dan menatap Afkar dengan sendu.


" Alya, aku tidak pernah bisa berhenti mencintaimu, sejauh ini aku sudah berlari untuk menghilang dan mencoba menghilangkanmu, tapi tetap saja namamu yang kusebut di dalam doaku"


" Bohong, tadi bilangnya banyak punya pacar"


" Itu tadi aku bohong"


Afkar mencubit pipi kanan Alya gemas.


" Aku memang pernah mencoba punya pacar, seperti yang kutulis di surat kemarin, tapi tidak lama, aku memutuskannya"


" Kenapa?"


" Dia memintaku menurunkan foto-fotomu di dinding kamarku, aku marah, aku kemudian pindah dan kami putus"


" Kaka mencintainya?"


" Belum sempat"


" Jahat, Alya tidak pernah mencoba mencari pengganti kaka"


" Bohongmu berlebihan, kamu bahkan menduakanku sebelum kita berpisah"


Alya tidak berani membantah, benar juga.


" Bagaimana kalau kita kembali lagi seperti dulu Alya"


Alya menggeleng


" Alya takut"


" Takut apa?"


" Takut sama bos galak, haha"


Afkar memindahkan tangannya ke pundak Alya dan sedikit menarik kepala Alya agar merebahkan kepalanya di bahu Afkar.


" Aku lelah sekali begini Alya, aku tidak ingin lagi kehilanganmu"


Alya tidak ingin memberikan komentar apapun, masih ingin mendengar suara Afkar yang terlalu dirindukannya.


" Alya kamu masih mau kan denganku"


Alya tidak menjawab


" Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"


" Lagi? memang dulu Alya cinta sama kaka?"


Huaaaa, pertanyaan apa ini Alya? kamu sadar kan?


Ini Afkar !! saya sebagai penulis menyatakan satu kebenaran ini memang Afkar, walaupun benar terlihat lebih jelek dari saat bersamamu dulu, hehe. ( seharusnya pendapat author tidak harus masuk ke dalam dialog ya, ngaapain ikut gabung di saat kami beduaan begini sih?, maaf saya ikut greget sama Alya kali ini)


Afkar melepas kan tangannya dari pundak Alya


" Benar, dari dulupun kamu tidak pernah mencintaiku"


Alya melirik dan sedikit tersenyum


" Ka, Alya boleh jujur?"


Afkar mengangguk


" Kamu jujur, kamu bohong, aku sudah terbiasa"


" Hehehe. Kaka beneran tambah jelek begini"


Afkar membenarkan posisi duduknya


" Aku jelek sekali ya Al sekarang?"


Alya mengangguk


" Kusut banget ka"


" Pantas saja kamu tolak, tidak mungkin ya kita kembali bersama"


" Iya, tidak mungkin ka, tidak mungkin Alya menolak ka Afkar"


Afkar kaget dan menatap Alya


" Ini jujur atau bohong?"


" Bohong, hahaha"


Afkar meraih jemari Alya


" Aku tidak perduli kamu jujur atau bohong kali ini. Tapi aku serius, aku masih sangat mencintaimu, apakah kamu masih bersedia menjadi kekasihku?"


Alya tersipu, tapi kemudian mengangguk


" Alya sangat bersedia ka"


Afkar langsung memeluk tubuh Alya yang tidak semungil empat tahun lalu, saat dia berumur duapuluh tahun, saat dia mengatakan ini adalah cinta pertamanya.


Tangan Afkar mulai meraba leher Alya dan mengeluarkan kalung istimewa mereka. Afkar melepaskannya, Alya membiarkan saja dan menunggu apa yang akan Afkar lakukan.


" Ini adalah pengakuan cintaku yang kedua padamu, boleh aku pasangkan sekali lagi kalung ini?"


Alya tersenyum dan mengangguk.


Afkar memasangkan kembali ke leher Alya, Alya terkekeh.


" Perbuatan yang sia-sia, ngapain tadi di lepas terus dipasangkan lagi?"


" Romantis atau enggak mau modal? beliin lagi satu, biar kenangannya ada, dua kali menyatakan, barangnya itu lagi itu lagi"


" Kamu bisa berhenti bawel tidak?"


Alya tertawa melihat wajah Afkar yang menatapnya tajam.


" Kenapa hal romantis tidak pernah aku dapatkan di saat istimewa begini ya? empat tahun yang lalu juga begini"


" Kalau tidak kacau begini, bukan cinta Alya dan Afkar namanya ka"


Afkar mengangguk.


" Perencanaanku sudah matang, tapi di setiap pelaksanaannya selalu gagal total"


Alya mencubit hidung Afkar


" Aww"


" Kalau nanti di kantor kakak, Alya tidak akan berani begini memperlakukan kakak"


" Tentu saja, hancur harga diriku begini, biar denganmu saja aku membiarkan diriku tidak berharga"


" Hahaha, tidak. Setelah ini Alya akan selalu menghormati ka Afkar"


" Kamu tau aku sudah menyiapkan bunga di ruanganku. Aku juga memakai parfum dengan wangi kesukaanmu, tadi pagi aku keramas dengan sampo dengan wangi yang kamu sukai. Semua sudah kupersiapkan dengan baik, tapi kamu menghancurkan suasana romantisnya"


" Alya lagi yang salah".


Afkar membawa jemari Alya ke bibir dan menciumnya


" Boleh aku memanggilmu sayang lagi?"


" Terserah saja"


Afkar melirik jam tangannya.


" Sudah jam setengah tiga sore, aku harus mengecek karyawanku. Aku akan mengantarmu pulang. Menginap dimana sayang?"


" Guest house kilometer enam ka"


" Ikut aku ke kantor dulu ya, nanti jam lima aku pulang, tas sayang bagaimana?"


" Kita mampir ke kantor cabang dulu ya ka, seharian tidak pegang handphone berasa aneh juga, siapa tau kekasih Alya yang lain sibuk menghubungi Alya"


Alya terkekeh, sedang Afkar cemberut


" Baru beberapa detik jadian, aku sudah disakitin begini"


" Sabar ya ka, nanti juga bahagia, hehehe"


" Iya, kita mampir ke kantor cabangmu dulu, baru ke kantorku. Oh iya, urusan kerjasama kita belum di bicarakan".


" Iya, kapan?"


" Eemm, aku mau mendengar seluruh cerita sayang dulu sejak kita berpisah kemarin, baru nanti kita cerita kerjasama itu. Aku juga ingin mendengar dan melihat langsung bagaimana kehebatan kekasihku dalam bekerja dan caranya bisa menaklukanku agar aku mau bekerjasama, aku tidak mau bekerjasama dengan sesuatu yang biasa saja. Aku kan selama ini hanya tau kehebatannya berbohong padaku saja"


Alya tertawa


" Kalau Alya tidak hebat bekerja, tidak mungkin ditugaskan untuk beban berat menghadapai bos galak seperti ka Afkar"


Afkar tertawa


" Kita balik sayang, nanti malam kita akan menghabiskan waktu berdua, aku tidak ingin sayang melewatkan sedikitpun cerita tentang sayang"


Alya mengangguk


" Boleh , stok kehebatan Alya berbohong pada kaka masih banyak"


Afkar berdiri dan mengulurkan tangannya agar Alya ikut berdiri. Tepat saat Alya berdiri di depan Afkar,,,,


Cuuupp.


Alya memberikan ciumannya di pipi kiri Afkar, Afkar kaget dan tertawa.


" Kamu tidak berubah sayang ku, masih sangat cekatan"


" Kaka juga tidak berubah, terlalu lamban"


Afkar menggandeng tangan Alya.


" Sayang serius kan menerima aku"


" Pokoknya Alya harus mengiyakan apa saja maunya kaka sekarang"


" Karena sayang juga mencintaiku kan?"


" Bukan, karena saat ini hanya kaka yang bisa memberi Alya pertolongan, Alya tidak pegang ponsel, dan saat ini sepersenpun Alya tidak pegang uang"


" Sayang mau uang berapa? nanti aku pinjami"


" Bayarnya kapan?"


" Eemmm, nanti malam"


Afkar berbisik di telinga Alya dan membuatnya bergidik


" Iih, geli, sana"


Berdua bergandeng tangan menuju mobil


" Sayang, benar aku jelek?"

__ADS_1


" Iya, nanti Alya temani ke salon ya"


" Benar? besok ya"


" Iya, Alya juga malu dikira jalan sama om-om, hahaha"


" Sayang, benar aku jelek?"


" Huuuh, berapa kali nanyain itu sih?"


" Aku tidak percaya, hari ini aku memang sangat kacau, seharian mengkhawatirkan keadaanmu, di sini kamu sendiri, tidak punya siapa-siapa, aku akan di bunuh Arga jika kamu sampai kenapa-kenapa?"


" Kenapa Arga? dari kantor tadi kaka menyebutnya"


" Kemarin aku ke Jakarta menemuinya?"


" Apa? jadi saat Arga menelepon Alya ka Afkar ada disamping Arga?"


" Iya, aku juga ingat sayang bilang mau nyemplungin aku ke sungai".


" Hehehe, maaf ya"


" Telingaku sudah biasa mendengar mulutmu memakiku"


" Ya bagus lah, jadi tidak kaget lagi"


" Kenapa sayang tidak cerita sama mereka sudah bertemu aku"


" Alya tidak berani ka, Alya takut melihat ka Afkar yang menghindari Alya kemarin. Alya pikir kalau memang kaka membenci Alya, Alya pulang ke Yogya saja, kalau Alya di pecat Alya akan ikut kerja di kantor Arga saja, siapa tau nanti Alya dikawini sama Arga."


Afkar melingkarkan tangannya dengan kencang di leher Alya


" Aduuuhh ka, sakit"


" Langkahi dulu mayatku kalau sayang mau dikawini Arga, enak saja"


" Ka, Arga benar sudah menghajar kaka?"


" Kenapa? sepertinya sayang sudah menunggu itu"


" Tidak, nanti akan Alya balas dia, enak saja main hajar kekasih Alya"


" Tidak apa sayang, selama ini dia sudah menjagamu dengan baik, melindungimu, dia tau saat sayang senang, sedih, wajar dia melakukannya"


" Sakit ka?"


" Lumayan"


" Di mana?"


Afkar menunjuk ujung bibirnya, Alya memegang ujung bibir Afkar


" Masih ada bekasnya"


" Sayang harus bertanggung jawab"


" Tanggung jawab apa, kan Arga yang melakukannya? balas saja nanti kalau ketemu"


" Bukan itu, sayang harus mengobati bibirku ini"


" Jangan manja, sudah sembuh ini"


" Belum, dengan bibir sayang juga, biar impas, Hehehe"


Alya meninju bahu Afkar


" Noh sudah Alya kasih"


Afkar terus saja menggoda Alya yang semakin tersipu. Mobil terus melaju menuju kantor Afkar.


" Sayang, nanti kita ulangi peristiwa di taman itu ya, tanggung"


" Iih, enggak, jorok".


" Aku belum bisa, makanya kita perlu banyak latihan"


Alya semakin malu dan berkali kali memukul bahu Afkar gemas.


" Ka, stop. Alya maluuuu"


" Tapi aku tidak mau pakai air mata lagi"


" Ka Afkaaarr"


" Hahahaha"


" Eh tapi aku penasaran, benar itu yang pertama?"


" Ka Afkar pikir Alya cewek apaan?"


" Tapi kok berani sama aku?"


" Yaa, Alya pikir itu kan terakhir kali kita bertemu, ya sudah biarlah akan menjadi yang pertama dan terakhir"


" Benar yang pertama?"


" Kekasih Alya memang ada berapa?"


" Dua kan?"


Alya cemberut dan membuang muka ke samping kiri


" Hahaha,, aku bercanda, aku tau kok itu yang pertama, jelek begitu caranya"


Alya kembali tersipu dan kali ini meninju bahu Afkar lebih keras.


" Hahaha, sudah sayang".


Perlahan mobil memutar di bundaran Simpang empat Banjarbaru, Alya sudah mendapatkan tas nya lagi.


" Masih setengah jam lagi, sayang mau ikut masuk ke ruanganku atau tunggu di mobil?"


" Di mobil saja, Alya malu tadi diliatin sama karyawannya ka Afkar"


Afkar tertawa


" Aku juga malu, sangat malu, aku keras lo dengan disiplin kerja, peraturanku tidak boleh ada yang melakukan hal tidak sopan, bahkan mereka tidak kuberi ruangan agar aku selalu bisa memantau"


" Mereka pikir tadi kita ngapain ya?"


" Mungkin saja mereka pikir aku lelaki brengsek, kenapa juga tadi ada kejadian begitu, aku seperti hilang harga diri"


" Makanya, jangan kelamaan jomblo, bikin peraturan, melanggar sendiri"


" Sayang harus bersyukur aku menjaga status jomblo ku, coba kalau aku sudah punya kekasih sekarang, bagaimana?"


" Ya tidak apa-apa, Alya balik lagi ke Yogya"


" Benar? tidak sedih?"


" Tidak, kaka pikir Alya tidak laku"


Alya membalas ucapan Afkar di taman tadi.


Mobil berhenti di halaman parkir kantor Afkar.


" Mana mungkin sayang tidak laku, kemarin saja aku hampir mati mempertahankan kekasihku ini"


Afkar mencubit lagi pipi Alya yang memerah


" Sayang, aku masuk dulu, kalau mau nyalain musik, ini remote nya"


" Tidak, Alya mau nelfon Arga saja"


" Astaga, ponsel kumatikan seharian, dia pasti marah lagi"


" Biarin aja, biar sekalian tidak hanya ujung bibir kaka saja yang kena tinjunya"


" Sayang, kekasih apa sih kamu sejahat ini"


" Bukan begitu, tadi kaka bilang Alya harus bertanggung jawab untuk mengobati ujung bibir kaka, kalau semua bagian wajah ka Afkar bonyok kan Alya jadi punya alasan buat mengobati seluruh wajah kaka sama bibir Alya, tanggung ujung bibir saja"


Afkar tertawa terbahak


" Tidak usah menunggu bonyok di hajar Arga, nanti malam kuserahkan semua wajahku, mau diapain sama sayang juga aku tidak akan menolak, hahaha"


Alya dan Afkar tertawa bersama.


" Ka, rambutnya beresin, nanti dikira yang lain memang benar tadi kaka melakukan hal menjijikan, hahaha"


Afkar memandangi wajahnya di spion dan membereskan rambutnya dengan jari


" Sudah rapi belum ya"


" Belum terlalu, tapi lumayan sudah mendingan. Dan masih ganteng, hehehe"


Afkar tersenyum.


" Benar aku ganteng?"


Alya mengangguk


" Kalau menghinaku suaramu keras lantang dan tegas, kalau memujiku cuma pakai kode"


" Iya, cinta Alya yang ganteeeeng"


" Tunggu ya, aku mau kerja dulu"


" Iya, Alya tunggu di sini. Selamat bekerja cintanya Alya"


Afkar meraih jemari Alya dan mengecupnya


" Emuuuh"


Alya membuka mulutnya kaget


" Masih juga salamnya itu, hahaha"


" Ya udah, aku turun. Ponsel kuaktifkan, kalau perlu apa hubungi aku"


" Sebentar ka, dari dua tahun yang lalu memang pernah memberi Alya nomor? enak aja minta hubungi"


Afkar menarik ponsel Alya


" Sayang lihat ya panggilan tak terjawab, selain nomor Arga ada ratusan panggilan dari nomorku, kecuali ada lagi nomor lain selain nomor kami berdua yang menghubungimu, mungkin dari nomor kekasihmu yang satunya"


Alya mencolek pinggang Afkar


" Ciyeeee, masih cemburu aja hari gini"


Afkar memajukan bibirnya seolah sedang mencium Alya yang sedang menggodanya


" Aku turun sayang, daah, emuuuaah".


Tuup, pintu tertutup.


Alya memandangi tubuh Afkar yang sedang berjalan menuju pintu utama. Lelaki bertubuh tinggi dan sekarang badannya jauh lebih berisi daripada enam tahun yang lalu saat mereka bertemu di kost Afkar bersama Yanti.

__ADS_1


" Kekasihku,, aku juga masih sangat mencintaimu. Terima kasih mau menungguku selama dan seletih ini"


__ADS_2