Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Pengakuan Afkar


__ADS_3

Terdengar tawa-tawa dua insan yang sangat berbahagia ini, mereka melaju di antara hiruk pikuk jalan yang memang sedang padat-padatnya. Afkar terus saja melajukan motor dengan kecepatan 50 km/jam. Mereka tidak sedang terburu, dan kelihatannya mereka pun tidak sedang ingin kemana-mana, jalan saja. Afkar membelokan motornya ke satu jalan di luar dari keramaian, jalanan tidak terlalu ramai seperti jalan utama, tapi begitu mereka sudah menjalani sepanjang 5 km mereka mulai mendapati jarak antara rumah ke rumah sudah mulai jauh, beberapa meter bahkan hanya terisi dengan barisan pohon-pohon tinggi yang berjejer rapi. Yang ketika mereka melewatinya, seakan pohon itu berlari mengikuti. Udaranya juga sejuk, siang yang biasanya dirasakan dengan panas dan bau asap knalpot pencemaran tidak dirasakan saat melewati jalan ini, mungkin karena tersaring oleh banyaknya pohon-pohon, dan pastinya ini memang bukan jalan besar, sehingga tidak banyak kendaraan roda empat yang memasukinya, sesekali memang bertemu, tapi lebih banyak roda dua yang melewatinya karena penduduk beraktifitas, terlihat beberapa masyarakat membawa karung-karung, kata Afkar itu karet karena mereka sempat mencium bau yang sangat menyengat dan Alya bahkan harus menahan napas ketika melewati satu gudang pabrik karet.


" Ka, bau apa sih?"


" Pabrik karet Al?"


" Apa penduduk disini tidak protes ka ada pabrik begini, apa mereka tidak terganggu"


" Mereka sudah terbiasa Al, jadi tidak akan terganggu, justru menguntungkan mereka karena tidak jauh lagi menjual hasil karet mereka"


" Kenapa harus jadi pekerjaan sih ka pohon karet ini"


" Pohon karet itu banyak manfaatnya lo Al, berperan sebagai reboisasi dan rehabilitasi lahan, getah yang dihasilkan dari pohon karet hasil dari penduduk yang menyadap setiap hari juga berfungsi untuk membuat karet, ban dan banyak bahan yang kita manfaatkan berbahan dasar karet, seperti alat rumah tangga, peralatan dapur. Tumbuhan ini juga menyerap gas karbondioksida yang akan diolah menjadi sumber karbon untuk fotosintesis. Hal itu dapat mengurangi atau mengatasi efek emisi rumah kaca seperti pemanasan global dan kerusakan lingkungan"


" Ooh begitu".


Motor terus melaju


" Ka, kita mau kemana?"


Alya mulai bingung kemana Afkar akan membawanya. Sepanjang jalan hanya ada jejeran pohon-pohon tanpa rumah penduduk. Afkar tiba-tiba punya ide jahil untuk mengerjai Alya


" Lho, kupikir tadi kamu tau ini kemana?"


" Alya enggak tau, qa pernah lewat sini"


" Yaah, tadi waktu aku belok kesini kamu ngomong terus, kupikir kamu tau dan qa protes"


" Yang belokin kan kaka, Alya pikir kaka punya tujuan".


Afkar senyum-senyum di depan


" Ka, jalanan tambah sepi, gimana nih"


" Ya terus aja dulu Al, nanti kita tanya orang deh"


Alya memperhatikanan jalanan


" Ka, sepi. Kita nyasar ya?"


" Kayanya iya Al". Hening


" Al, jangan colek-colek dong"


" Dari kampus sampai kesini Alya cuma pegangan di paha kaka, mana ada colek-colek"


" Ini barusan"


Alya diam, apaan sih, tangan gue dari tadi diam aja di pahanya Afkar.


" Al, jangan niup leherku, geli"


" Asal deh ka Afkar, ngapain Alya niup-niup leher ka Afkar"


" Jangan becanda Al"


" Ka,,, jangan bikin Alya takut"


Afkar sudah hampir tidak bisa menahan tawa, tangan kirinya secepat kilat mencolek tangan Alya yang masih berada di pahanya dan secepatnya mengembalikan ke posisi setang.


" Ka, apaan colek-colek"


" Siapa yang nyolek, tanganku aja pegang setang kiri kanan"


Alya langsung memindah tangannya dari paha ke pinggang Afkar, kali ini sangat erat.


" Kaa, Alya takut diikutin hantu"


" Kenapa takut, ini kan siang"


" Kita pulang aja"


" Pulang kemana, memang kamu tau beloknya jalan pulang?"


" Enggak tau".


" Ya udah, santai aja, berdoa ya Al".


Merasakan tangan Alya sedang erat memeluk pinggangnya Afkar tertawa bahagia, berhasil juga ide ngerjain Alya


5 menit kemudian mereka mulai bertemu jalan normal lagi. Kali ini jauh lebih asri dari pemandangan yang sudah mereka lalui.


Alya sempat melihat ada tulisan di gerbang


" Selamat Datang di Obyek Wisata Hutan Pinus"


" Ka, ini tempat wisata ya?"


" Iya'


" Ka Afkar ngerjain Alya ya"


" Iya"


Alya mencubit pinggang Afkar


" Aaaw"


" Tega banget sih, Alya beneran takut ka".


Afkar memasukan motor di deretan parkir yang tidak begitu banyak, karena ini memang bukan hari libur, tentu saja pengunjungnya tidak banyak. Afkar menggandeng tangan Alya dan membayar karcis masuk. Alya terperangah meliat pemandangan di depannya. Barisan pohon pinus yang berjejer rapi dan rimbun, sepanjang mata memandang akan disuguhi dengan pemandangan cantik. Tempatnya instagramable, juga di desain fotogenic


, gaya apa aja pasti terlihat cantik, tersedia jua tempat duduk ataupun berbaring di Hammock berwarna warni.


" Ka, Alya mau foto-foto"


" Boleh, disini ada pemandunya juga Al, ada juga yang nawarin jasa buat bantuin kita motret"


Afkar melambai kepada salah seorang yang pemandu wisata


" Mas, bisa minta tolong ada yang bisa bantuin motret"


" Oh ada, sebentar mas"


Si mas yang memakai baju batik itu memanggil satu pemuda yang sedang memainkan handphone nya.


" Yoga, bantuin ini masnya buat motret"

__ADS_1


Lelaki muda berusia lebih muda dari Afkar itu mendekatinya


" Iya mas, mau berfoto dimana?"


Afkar dan Alya terdiam, kalau foto sama teman-teman sih Alya jago nya, mau dari fose berdiri sampe jungkir balik juga oke terus, tapi kan ini lagi sama Afkar, selain foto di bandara dan ada drama-drama nangisnya, mereka tidak pernah lagi berfoto.


" Maaf mas, mbak, kalau mau saya bantuin mengarahkan gayanya boleh"


" Boleh" Alya langsung menjawab, sedang Afkar cuma mengangguk


Si penata gaya dadakan mengajak mereka di satu pohon besar yang di beri tambahan susunan kayu membentuk tempat duduk.


" Maaf mas, mba, bisa naik dulu duduk di situ"


Alya dan Afkar naik ke tempat bangku yang tidak terlalu tinggi itu.


" Si mba sebelah kiri ya, mas nya sebelah kanan"


Alya dan Afkar menempati posisi sesuai arahan.


" Mbak nya menoleh sedikit ke kiri dan nunjuk ke arah sana ya, si mas nya justru memandangi wajah mba nya"


Alya dengan mudahnya menoleh ke kiri dan menjauhkan wajahnya dari wajah Afkar, sedangkan Afkar sangat kikuk memandang wajah Alya hanya pipi kanannya saja yang terlihat Afkar.


" Iya,mbak nya sudah cakep, mas nya bisa senyum mas?"


Alya cekikan, tapi ditahannya karena lucu banget Afkar disuruh senyum, dasar manusia cool.


Yoga duduk dari bawah mengambil posisi low angle, dan terlihat seperti Afkar dan Alya berada di ketinggian


Cekrek, cekrek cekrek


Foto pertama selesai. Selanjutnya Yoga membimbing mereka di tengah jalan di antara pohon yang berbaris rapi


Mbak dan Mas nya pegangan dan saling berhadapan, tapi jangan dekat ya, sampai sejauhnya tangan masih bisa saling pegang. Kali ini keliatan sekali mereka berdua yang gugup, pegangan tangan? Duuh, panas dingin lagi gue.


" Saling tatap dan tertawa lepas ya mas, mba"


Alya yang memang sudah sifatnya ceria, mudah saja hahahihi, dan kali ini selain gugup, dia melihat Afkar sangat lucu dengan fose nanggung begitu, jadilah tawa Alya yang lepas disambut tawa Afkar yang nanggung.


Cekrek,cekrek, cekrek.


" Sekarang mbak dan mas nya jalan ke depan pelan-pelan ya sambil ngobrol"


Alya dan Afkar mengikuti arahan Yoga yang berjalan mundur untuk mengimbangi langkah Alya dan Afkar yang justru melangkah ke depan.


Alya berbisik


" Jalan pelan gini, Alya berasa jadi pengantin ka" Tiba-tiba mereka berdua tertawa lepas tanpa instruksi


cekrek cekrek cekrek,, benar-benar natural kali ini Afkar.


" Udahan Al, aku capek begini"


" Ya, padahal Alya belum puas"


" Kalau gitu kamu foto sendiri aja, biar Yoga tetap bantu kamu mengarahkan gaya". Alya setuju


" Mas, saya sendiri aja, dia udah kalah" Alya terbahak melihat tetes keringat sudah mengalir di wajah tampan Afkar.


Puas dengan puluhan foto dari kameranya, Alya merasa sudah cukup


" Sudahan ka, Udah banyak banget"


" Yakin?"


Alya mengangguk. Afkar membuka tas kecilnya dan mengeluarkan selembar uang merah dari dompetnya.


" Makasih mas Yoga"


" Terima kasih juga mas, mba"


Yoga menjabat tangan Afkar dengan hormat.


" Ka, Alya lapar"


Afkar melirik arloji, sudah setengah satu siang


" Al, kita shalat dulu yu, baru makan"


Afkar menggandeng tangan alya


" Ka, sering kesini ya, kok hapal"


" Pernah dua kali waktu acara di tempat kerja dulu, dan sekali sama teman-teman di kost waktu ulang tahun Arman"


Alya dan Afkar berhenti di depan mushalla kecil yang sudah disediakan di tempat wisata itu. Alya dan Afkar mengambil air wudhu dan shalat zuhur berjamaah, karena saat itu tidak ada orang lain selain mereka, tempatnya juga kecil, tidak ada pembatas antara laki-laki dan perempuan. Setelah membaca doa Afkar menoleh kebelakang memandang Alya yang sedang melipat mukena yang juga sudah disediakan di sana. Semoga aku akan selalu bisa menjadi imam shalat dan imam hidupmu Al nanti.


Alya melirik Afkar


" Ngapain liat-liat?"


" Ternyata wajah kamu asli ya Al, di hapus air wudhu tanpa polesan apapun memang sudah cantik". Alya tersipu dan membalikan tubuhnya, membuka tas dan mengambil bedak padat yang memang sudah ada kacanya, memoles tipis wajah dengan spons dan memutar stik lipstik mengoles ke bibirnya. Untuk rambut Alya hanya menyisirkan jarinya ke kepala agar tidak terlalu berantakan.


Afkar melipat sajadah dan mengajak Alya keluar dari mushalla


" Kita makan di sana Al"


Afkar menunjuk beberapa warung makan yang ada di dalam tempat wisata itu, terdapat rombong-rombong kecil yang berada di antara pohon pinus, begitu sejuknya.


Mereka memilih makan nasi yang piringnya di alasi dengan daun pisang, lauk ikan goreng dan lalapan.


Setelah makan Afkar mengajak Alya duduk di bawah pohon pinus yang agak rindang dan bisa melindungi mereka dari sinar matahari.


Pengunjung sepertinya sudah lebih banyak dari saat mereka datang tadi, Alya tersenyum melihat beberapa pasangan juga sedang diarahkan gaya oleh pemandu wisata


" Ka, liat deh itu kaya kita tadi, wajah kaka yang sangat tertekan dan terlihat penuh beban hahaha".


" Mana Al foto kita tadi"


Sambil duduk mereka mengamati hasil jepretan foto Yoga di ponsel Alya, beberapa kali mereka tertawa mentertawakan gaya Afkar yang kaku. Alya masih memandang foto-fotonya sendiri tadi, sedang Afkar menghela napas untuk bicara tentang urusan pentingnya dan satu-satunya alasan kenapa hari ini dia pulang ke kota ini.


" Alya, aku mau ngomong sesuatu"


Alya menoleh


" Ngomong aja".

__ADS_1


Iih, Alya begitu banget, apa dia tidak tau aku ini mau ngomong penting, ngomong masa depan kita.


Huuh ka Afkar, jangan bikin aku merinding, aku benar-benar gugup, apakah mungkin penantianku akan berakhir manis saat ini


" Alya,,,"


" Iya"


" Al, selama dua tahun ini apakah kamu pernah jatuh cinta?"


Alya menunduk apaan sih pertanyaannya kok begitu.


" Apa maksudnya?"


" Aku,,, aku ingin menjadi cinta pertama dan terakhimu Al"


Alya terdiam


Ini bukan mimpi Al, ini nyata, ini yang kamu tunggu, ini yang kamu harapkan sejak dua tahun yang lalu.


" Alya,,,"


Alya masih saja tertunduk


Afkar juga tidak berani lagi mendesak, dadanya bergemuruh hebat, apakah ini menjadi awal yang baik, atau sebalikmya menjadi akhir dari bahagia selama ini.


Alya memandang Afkar


" Kenapa?"


" Kenapa apa Al?"


" Kenapa baru sekarang ka?"


" Sudah lama Al, sudah dua tahun, tapi aku tidak ingin membuatmu kecewa karena memiliki aku yang tidak ada apa-apanya denganmu".


" Dengar ya, kaka sudah membuang waktuku selama dua tahun, kaka melumpuhkan jiwaku dengan rindu keparat tak bertuan, kaka juga mematahkan impianku untuk bisa percaya bahwa cinta pertama itu adalah keindahan untuk pemiliknya, buktinya Alya, menjatuhkan hati untuk orang yang akan pergi.Bahkan Alya tidak tau apakah penantian Alya ini akan terbayar baik atau gagal"


" Aku minta maaf Al"


" Kaka itu seenaknya saja, merenggut perasaan jatuh cinta pertama Alya, perasaan yang Alya tunggu-tunggu untuk datang di hati dan orang yang tepat, setelah mendapatkan kaka sia-siakan?"


Afkar tidak berani menjawab, dia masih ingin terus mendengarkan kekecewaan Alya padanya


" Alya lelah ka, seperti sedang berjuang tanpa senjata, menumpang harap penuh pada nahkoda yang tidak melakukan perjalanan kemana-mana. Alya dingin pada harapan kosong tanpa kaka minta


Alya menggigil untuk memanggil


Dalam rindu sepi tanpa peluk pasti


Kepada siapa surat dan puisi yang Alya buat untuk dibaca?


Mendengar suara dan kabar kaka saja Alya berbahagia


Alya marah dengan perasaan tidak wajar yang kurang ajar"


Alya bersandar di pohon untuk menguatkan hatinya agar tidak menangis.


Afkar mendekatkan wajahnya ke wajah Alya, ingin sekali dipeluknya untuk meminta maaf, sesakit apa Alya selama ini?


Benar,, runtuh juga kekuatan hatinya, air mata itu sudah mengalir deras tanpa bisa disudahi.


Afkar menghapus air mata itu dengan tangannya. Bukan berhenti malah semakin deras dan semakin deras, Afkar tidak sanggup melihat gadis yang dicintainya menangis karena ulahnya. Dipeluknya tubuh mungil yang sedang meluapkan marahnya itu. Alya menyambut dan membalas pelukannya erat.


" Alya capek ka, lelah, tapi Alya tidak bisa untuk menyerah, masih saja begini"


" Iya, sekarang sudah berakhir Al, aku sudah disini" Membelai rambut Alya


" Kamu mau memaafkan aku Al?"


" Iya ka".


Afkar melepaskan pelukannya dan kembali mengusap air mata Alya.


" Kamu boleh melakukan apa saja untuk melampiaskan marahmu, boleh pukul aku, boleh tinju aku, boleh tampar aku, boleh caci maki aku, aku siap Al".


Dan Alya benar-benar memukul dada Afkar bertubi-tubi, ingin dicekiknya leher Afkar, ingin di jambaknya rambut Afkar, tapi tenaganya semakin melemah semakin melemah.


" Alya benci ka Afkar, kenapa Alya bisa jatuh hati pada ka Afkar, Alya juga ingin merasakan begitu jatuh cinta akan bersambut baik, akan berjalan semestinya, melalui bagian-bagian indahnya, bisa berbagi cerita dan duduk bersama, bukan dengan menunggu tanpa kepastian ini"


Tangan mungil itu jatuh dipangkuan Afkar, masih dengan tangisannya yang belum juga berhenti


" Aku bukan ingin menyakitimu Al, aku ingin memantaskan diri untuk kamu cintai, untuk kamu tunjukan bahwa kekasihmu tidak dengan sebutan hanya seorang Afkar, aku ingin kamu mengenalkanku kepada mereka, inilah Afkar kekasihku, dia adalah seseorang. Aku tidak ingin kamu malu memamerkan aku, aku tidak ingin kamu sembunyi-sembunyi dan menutupi bahwa kamu memiliki kekasih hanya seorang Afkar, aku ingin kamu bangga denganku Al"


" Alya tidak memandang apapun dari ka Afkar, Alya tidak memilih untuk jatuh hati kepada siapa, ketika Alya sudah tau apa arti debaran yang menakjubkan di taman malam itu, Alya sudah semenerimanya ka Afkar. Sejauhnya kaka pergi, Alya masih saja ingin mendekatkan hati ini padamu, tidak berencana pergi. Alya juga tidak ingin ditinggal pergi, jangan melarikan diri dari perasaan ini, Alya ingin cinta ini waras ka"


" Alya, aku sudah lama memulai jatuh cinta padamu, dan tetap merasakannya setiap waktu. Kamu alasanku untuk berubah, kamu adalah rencana masa depanku bagaimana bisa aku membuatmu sakit begini. Aku ingin menempatkanmu menjadi wanita yang paling berbahagia, dan itu akan ada waktunya, jika kita paksa tidak pada masanya, akan ganjil Al, dan kita akan sulit menemukan genapnya. Dan puisimu, teruslah menari dengan pena, sebelum kamu cipta aku sudah membaca. Atau tentang lagu yang kamu nyanyikan, aku sudah membuat nada sebelum kamu mainkan gitarnya. Jangan lagi berjuang, aku disini tanpa kita harus berperang, biarkan juga nahkoda itu tidak kemana-mana, mulai sekarang kita berdua yang membawa kapalnya. Kita akan melaluinya. Kamu boleh ingin menyandarkan kapal itu di mana saja dan kapan saja, asal kita tetap bersama".


" Sepenting apa Alya untuk kaka?"


" Kamu tidak hanya penting, kamu adalah alasan untuk masa depanku. Bagaimana Al, kamu bersedia?".


Alya mengangguk dan tertunduk.


" Heyy, pandang aku Al, apa kamu mau menjalani masa depan kita, aku dan kamu?"


" Iya ka".


Afkar mengecup kening Alya lembut


" Aku terlalu merinduimu, pada lingkaran yang kupanggil waktu, tapi aku harus menjadi sesuatu agar kamu bisa nyaman, ternyata aku lupa ada hati yang sudah kutawan"


Alya rebah pada pelukan tulus ini, yang seharusnya sudah jadi sandarannya sejak dulu.


" Alya benci ka Afkar" bisiknya dan jari tangannya langsung di gigit Afkar


" Aaww"


" Berhenti menyebut membenciku"


" Alya benci ka Afkar"


Alya sudah menghentikan tangisnya dan sekarang sudah berani memandang sinis pada Afkar


" Kamu berani ya Al, jangan lagi menyebut membenciku, atau ku cium kamu Al"


" Coba saja kalau berani, Aku benci Ka Afkaaaarr" Alya malah berteriak dan berlari mengelilingi pohon-pohon pinus yang berjejer rapi dan menjadi bukti disini pernah ada cinta diam-diam yang akhirnya terungkapkan

__ADS_1


__ADS_2