Bidadari Dalam Puisi

Bidadari Dalam Puisi
Monolog Kevin


__ADS_3

Kevin memandang wallpaper pada ponselnya. Senyum Alya yang keterlaluan manisnya.


Kemarin aku mengajakmu dan keluargamu liburan ke Paris di akhir tahun ini saat aku menyelesaikan tesisku dan menyiapkan agar kamu bisa refreshing sejenak sebelum memulai skripsinya, aku ingin duduk dan menikmati indahnya menara Eiffel sebuah menara besi di Champ de Mars di tepi Sungai Seine, Paris. Aku tidak bisa mengirimimu foto cantik lampunya yang berkedip itu karena sekarang sudah dilarang, karenanya aku ingin membawamu untuk bisa langsung melihat keindahannya, aku juga ingin memperbandingkan, mana yang lebih cantik lampu menara itu yang sudah diakui dunia ataukah masih lebih indah cahaya pada matamu. Tapi apa jawabanmu, kamu lebih tertarik untuk mengunjungi taman pinus sederhana yang memiliki pohon tinggi dan berjejer rapi di kota ini, katamu pernafasan mu lebih sehat jika menghirup udaranya. Aku menyetujuinya, tapi kamu malah punya syarat aneh, kaca jendela mobil harus kita buka. Kita melewati pabrik dan pohon karet , tutup saja kataku, kamu bilang jika kita saling mencinta, tidak akan menyakitkan untuk melewatinya, meski hidungku sangat sesak dan aku harus mengatur napas sebisanya agar tidak mual, tetap saja aku turuti maumu, aku mencintaimu Alya, tapi bukankah bisa kita menutup jendela kaca mobil saat melewatinya agar kita tidak saling sakit menghirup udaranya?, dan aku,,tetap menurut apa inginmu


Dan kemarin lagi, aku kembali mengajakmu nanti kita akan jalan-jalan ke Swiss dan Itali, aku ingin kita menikmati indahnya pegunungan Alpen, kamu jawab apa? Kamu cukup senang jika bisa mengunjungi sebuah taman kecil di kotamu juga, ada spot foto cantik, kamu juga ingin berlari di dalam labirin, aku pun menyetujuinya, kupikir aku akan bisa menggandeng tanganmu, merangkul bahumu sambil sesekali mencium wangi rambutmu dan saling bertutur selayaknya kekasih dan kita akan melalui nya bersama, tapi aku salah, kamu malah berlari sendiri dengan cepat dan memintaku mengejarmu sampai dapat, bagaimana aku bisa mengejar larimu yang secepat kilat, katamu kamu terbiasa berlari karena harus kuliah pagi dan bangunmu telat.


Kemarinnyaaa lagi, saat kujemput dari kampus dan akan mengajakmu makan siang hujan turun, tiba-tiba kamu memintaku menepikan mobilku, kamu ingin berteduh di sebuah ruko kecil pinggir jalan, kenapa kita harus berteduh sedangkan kita punya mobil untuk tetap tidak kehujanan bahkan kita bisa melanjutkan perjalanan, katamu kamu rindu melihat titik hujan yang jatuh dari atap genteng ruko. Walaupun mata pemilik ruko itu sangat bingung karena kita yang sudah teduh di dalam mobil harus rela turun dan malah berteduh di depan ruko miliknya. Saat aku akan mengambil payung di bagasi belakang kamu melarangku, katamu kamu ingin melihatku terkena titik air hujan yang nanti akan jatuh di atas rambutku dan ke hidungku. Aku harus berlari dari parkiran mobil dan mendekatimu yang sudah lebih dulu berteduh di bawah atap ruko itu. Walaupun aku sedikit basah dan benar saja katamu, akhirnya tetes air hujan itu memang membasahi rambut dan wajahku. Tapi aku sangat bahagia ketika kamu menyeka air hujan di wajahku dengan tanganmu yang lembut, tapi kenapa tatapanmu sedih? Oh kamu minta maaf karena permintaanmu aku menjadi basah, tapi sudahlah, aku bahkan merelakan jika kamu minta saat itu aku berdiam saja di bawah hujan tanpa perlu bernaung di bawah ruko itu, kenapa? agar tanganmu bisa menyeka seluruh yang basah dariku, hehe..

__ADS_1


Dan sebuah kedai kopi


kamu penikmat kopi, dan aku tidak. Kuturutkan saja kamu untuk memesan berbagai kopi yang kamu bilang rasanya sangat manis, kamu bilang dulu sekali, kopi disana pahit semua, tapi sejak 3 bulan terakhir semua minuman ini manis semua, bahkan jika tanpa diberi gula sekalipun. Kamu tidak tau ya, menurutku yang sudah dicampur gula pun kopi di sana masih terasa ada pahitnya. Tapi aku berpura-pura setuju saja, walaupun lidahku sangat tidak menerima kepura-puraanku. Setelahnya kamu akan memberikanku hadiah, menyanyikanku lagu dengan gitarmu, tapi terkadang lagumu penuh nada rindu, kenapa harus rindu, bukankah aku selalu ada untukmu tanyaku? kamu hanya menjawab, untuk menghibur hati mereka yang sedang rindu, betapa baiknya kekasihku ini.


Aku juga bertanya kenapa kamu suka sekali dengan satu restoran di sebelah barat kota kita? kamu jawab disana ada live musik nya, kamu akan dengan senang hati menerima tawaran dari lelaki separo baya yang setiap melihatmu akan selalu memintamu untuk naik ke panggungnya yang tidak besar itu, kamu akan bernyanyi dan memainkan gitarmu, kenapa selalu dua lagu? katamu kalau 1 lagu pasti pemilik restoran itu akan meminta 1 lagu lagi, kenapa tidak 3 ? katamu akan ganjil, dan sulit menemukan genapnya. Walaupun aku tidak mengerti maknanya, tapi aku bahagia karena setiap selesai dari atas panggung kamu selalu berbisik, sebenarnya kamu malu, dan setiap aku menjawab penampilan mu sangat bagus, kamu akan menatapku hangat dan berterima kasih.


Aku kemudian bercerita kalau motor itu tidak kugunakan dan tidak kamu gunakan, kemudian kamu memberi usul, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke satu tempat makan yang lumayan jauh, berada di pinggiran sungai yang banyak perahunya, walaupun tanganku pegal karena jarang menggunakan motor, apalagi dengan perjalanan lumayan jauh ini, tapi aku sangat senang melihatmu yang berdecak kagum pada penarik sampan di perahu-perahu kecil itu, kamu juga mengajakku berkeliling untuk memilih makanan, walaupun akhirnya tetaplah kamu yang memutuskan di warung mana kita akan makan. Dan pulangnya kamu berharap kita bertemu gerimis, kenapa tanyaku? biar romantis ka jawabmu, aku kemudian berhenti di tepi jalan dan memberi ide, apa kamu mau sekarang juga aku akan menyewa heli untuk memberikan gerimis buatan untuk kita agar perjalanan kita ini akan romantis, katamu tidak perlu, biar kamu saja yang gila, jangan dua-duanya gila, harus ada yang waras dintara kita. pertama kalinya hari itu kamu tersenyum sangat manis dan tulus, dan itulah pertama kalinya kamu menyandarkan kepalamu dipunggungku, sejak hari itu aku rajin menjemput dan mengantarmu dengan motor baru kita, sepertinya kamu lebih menyukai hidup sederhana, walaupun kadang kulitku terasa sedikit sakit karena harus terkena sinar matahari langsung, tapi aku mulai tidak peduli, yang aku pedulikan kulitmu, tidak apakah kamu berada di bawah terik matahari, bukankah kita punya mobil yang bisa melindunginu dari panas dan hujan? katamu, sesuatu itu tidak harus di nilai dengan kemewahan.

__ADS_1


Perempuan akan menjadi istimewa karena cinta. Iya, cinta akan membuatnya selalu bersinar, tetapi harus dilengkapi dengan kemewahan juga. Wanita cinta dengan hal-hal yang tasty. Busana yang chic, selera yang bagus, dan mendapat cinta yang spesial dari seseorangnya. Jika semua itu sedikit ditaburi dengan perhiasan, maka sempurnalah keistimewaanya. Perhiasan bukanlah hal yang wajib, namun perlu dimiliki oleh setiap wanita, karena tidak setiap waktu adalah ordinary time. Ada saat-saat istimewa di mana wanita perlu tampil semakin indah dengan perhiasan kebanggaannya. Aku pernah membahas kalung yang tidak pernah lepas dari lehermu. Mama sempat jalan-jalan ke Eropa, disana dia menelfon kita dan menanyakan kamu ingin kalung yang mana, mama menunjukan bentuk dan potongan berlian model princess, round, emerald, assher, cushion, atau oval. Kamu cuma tertawa, kamu bilang tidak usah, kamu takut menyimpannya di kost karena kamu sering pergi-pergi, pakai saja kataku, kamu bilang apalagi dipakai, anak kost mana yang berani memakai barang mewah itu ke kampus atau jalan nongkrong sambil menenteng gitarmu. Tidak akan aman katamu, kali ini aku membenarkan alasanmu


Tapi apapun yang aku lakukan kenapa seperti terlihat biasa saja bagimu? Aku juga ini ingin seperti mereka, apakah kamu terlalu lugu? aku bisa mengajarimu, atau,,, sebenarnya kamu bisa saja melakukannya tapi bukan denganku? Sempat lagi saat kita bersama ponsel mu berdering, kamu menyebutnya seseorang yang memberimu kabar baik, tapi tidak kamu angkat, katamu nanti juga akan menelfonmu lagi? siapa yang akan menghubungi berkali-kali untuk memberikanmu kabar baik? aku yang sekarang sedang membuatkan cerita baik bahkan seperti tidak kamu anggap. Sekali waktu saat kita menonton film di bioskop, aku mencoba memegang tanganmu, kamu selalu menarik kembali, aku ini kekasihmu kataku, nanti dulu katamu. Kenapa kamu diam saja ketika mataku memohon mu syahdu, kenapa selalu kamu acuhkan bahasa tubuhku. Hingga kamu tidak menaruh sedikit saja perhatianku. Aku merasakan kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan, ada yang salah dari caraku mencintaimu? Apa kamu pernah memikirkanku sebentar saja?. Tapi aku akan sabar, karena janjimu akan belajar untuk mencintai ku, harapanku adalah waktu itu akan datang secepatnya. Memang alasan pertama aku menerima perjodohan ini karena parasmu yang cantik, kemudian aku mulai menyukai lakumu, ceriamu, bahkan cemberut dan ngambekmu, tapi sedikitpun membuatku marah, malah aku belajar sabar. Perlahan aku mulai menggila dalam mencintaimu, di luar ini perjodohan atau tidak, aku ingin kamu menjadi hatiku, dan hatimu menjadi hidupku. Aku mau seperti orang gila menuruti kemauan anehmu. Padahal aku ini bukan orang biasa, aku terbiasa di hormati, di perusahaan yang sebentar lagi akan kupimpin, sekarang saja setiap aku melangkah di sana semua karyawanku akan menunduk hormat walau aku tidak terlalu suka juga, di kampus berapa banyak mahasiswi yang mencoba menarik perhatian ku, dan tampilan mereka berkelas, sedang berjalan denganmu? kamu terlalu cuek memakai celana pendek belel mu dengan baju kaos ketat, bahkan sandal jepitmu yang lumayan usang itu harus di tambah dengan gelang kaki berisikmu, kamu bilang kalau kamu tersesat aku bisa menemukanmu dengan mendengar suaranya. Kamu pikir kalau kamu hilang aku tidak sanggup membayar mata-mata untuk mengamati kemana kamu pergi? tapi aku percaya kamu baik-baik saja selama bersamaku. Aku berkali-kali membawamu ke boutique ternama, kamu bersedia untuk tampil seperti yang aku mau, makan malam dengan gaun panjang dan rambut terurai, betapa cantiknya kekasihku, tapi besoknya kamu kembali ke wujud asalmu. Tapi kenapa juga kamu selalu manis? polesan saat aku membawamu ke salon ternama membuatmu bak peri, tapi ketika kamu cuci muka karena katamu seperti topeng monyet malah terlihat wajahmu bak bidadari. Aku setuju, tapi sesekali tampilah berkelas, mungkin memang belum sekarang, nanti saat kamu menjadi ratuku.


Bercerita tentangmu kekasih kecilku, kenapa harus aku yang memohon untuk dicintai? aku bahkan bisa memilih salah satu dari mereka, tapi kembali dan kembali inginku hanya mau kamu saja. Aku ingin kamu cintai seperti gelang kaki dan kalung yang tidak pernah kamu lepaskan itu, aku ingin kamu cintai seperti gitar yang kamu bilang adalah teman saat sepimu, saat kutanya sepi apa, bukankah aku selalu ada? sepi itu bukan hanya tentang ada raga, tapi perlunya rasa jawabmu, aku semakin tidak memahaminya. Aku ingin ketika kamu bangun, aku adalah orang orang pertama yang kamu ingat, sebiasanya aku akan menjagamu dengan baik, memperhatikan kesehatan dan penampilan mu agar kita layak. Dan tugas-tugas kuliahmu, serahkan semua padaku, aku akan bantu, agar kepalamu tidak terlalu penuh dengan beban, agar masih kau sisakan untuk memikirkan dan mencintaiku.


Sebentar lagi, kita akan menikah dan kamu benar-benar akan kumiliki, aku akan membahagiakanmu, aku tidak akan membiarkanmu terjaga lagi saat kamu merasakan sedih seperti katamu.

__ADS_1


__ADS_2