
Panggilan video kedua.
Alya ikut emosi, tangannya langsung menekan tombol hijau.
" Assalamualaikum ka"
" Waalaikum salam Alya, sedang di perjalanan ya?"
" Iya ka, apa kabar?"
" Alhamdulillah baik, Alya bagaimana?"
" Baik ka"
" Om tante dan si tampanku bagaimana?"
" Semua baik, Danish sudah mulai pinter ngomong, walaupun kadang kami tidak mengerti, hehehe"
" Duuh, kangennya sama Danish"
" Lagi lucu-lucunya lho ka".
" Iya, kangen banget sama Danish, apalagi sama aunty nya"
Tiiiit.
" Awww"
Afkar menginjak rem mendadak dan membuat Alya sedikit memajukan tubuhnya, untung sudah memakai sabuk pengaman, Alya melirik Afkar yang sedang meliriknya, huuhh cemburu?
" Kenapa Alya?"
" Tidak tau, mungkin drivernya galau, hehe"
" Ooh, kamu tidak memintaku pulang Alya?"
" kenapa?"
" Biar aku punya alasan untuk pulang dan menemuimu, hehe"
" Kalau ingin pulang tidak perlu menunggu Alya panggil kan?"
" Aku tidak dirindukan?"
Alya tersenyum, mana mungin aku menjawab merindukanmu ka di saat ada singa di sampingku.
" Bagaimana pekerjaanmu?"
" Baik, Alya sedang di luar kota, dipercayakan menangani satu proyek ka"
" Waah, aku percaya kamu bisa, kamu kan pintar ngomong, hehehe"
" Tapi Alya yang kurang percaya ka, biasanya sih tidak serumit ini"
" Kenapa?"
" Bos nya galak, hehe"
Terdengar tawa Kevin dari balik layar, Afkar sudah sangat kesal mendengar lelucon Alya yang sangat tidak bermutu kali ini. Afkar menaikan volume pada tape mobilnya membuat Alya dan Kevin kaget. Alya mencoba meraih remote yang ada di tangan Afkar untuk menurunkan volumenya, tapi Afkar memindahkannya ke samping kanan agar Alya tidak bisa merebut remotenya.
" Sedang di mana sih Al?"
" Banjarmasin"
" Banjarmasin? sedang naik grab?"
Alya bingung, kenapa ka Kevin menebak begitu
" Alya di Banjarmasin dan sekarang naik grab?"
" Kenapa kaget ka?"
" Alya, kamu tidak sedang bersama Afkar kan?".
Alya diam dan bengong
" Maaf Alya, aku tau Afkar berada di Banjarmasin dan bekerja sebagai grab car"
Alya semakin bingung, darimana ka Kevin tau? aku saja baru tadi pagi diceritakan.
" Iya, Alya bersamaku Kevin"
Afkar tiba-tiba menjawab pertanyaan Kevin dan membuat Kevin sangat terkejut.
" Tapi aku bukan driver nya"
Alya mencubit pinggang Afkar
" Baik Alya, maaf aku mengganggu. Nanti aku telefon lagi boleh?"
" Boleh ka, salam sama om dan tante ya"
" Iya, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam ka"
Klik.
Afkar menurunkan volume musik kembali sementara Alya cemberut disampingnya.
" Kapan dia mau menghubungimu lagi?"
" Tidak tau, ka Kevin tadi tidak bilang kan?"
" Sayang, bisa nanti tidak menerima telefonnya lagi?"
" Egois"
" Apa?"
" Ka Afkar barusan memamerkan kedekatan kakak dengan Aprill, kemudian telinga Alya mendengar cerita kemesraan kalian selama ini, itu tidak menyakiti Alya? bahkan banyak hal yang tidak ka Afkar lakukan ke Alya, justru ka Afkar berikan pada Aprill, dan barusan Alya hanya di telfon ka Kevin tapi tingkah kakak seperti anak-anak"
" Alya, kita jarang sekali bersama, sedang dengan Aprill, aku setiap hari bertemu, tentu saja banyak hal yang bisa kami lakukan"
" Ka, dulu saat kakak bilang Alya mendua, Alya tidak setia, Alya terima, tapi Alya tidak pernah menceritakan apa yang kami lakukan saat bersama, tidak memamerkan kemesraan, itu sudah ka Afkar sebut menyakitkan, dan hari ini Alya melihat dan mendengar kekasih Alya begitu hebatnya menjalani hari-hari menyenangkan dengan wanita lain di saat kita tidak bersama dengan mata dan telinga Alya sendiri ka, ka Afkar bisa mengerti perasaan Alya sekarang?"
Afkar memarkirkan mobilnya di satu tempat perbelanjaan.
" Sayang, kita beli makanan dulu buat kamu di penginapan"
" Jangan mengalihkan pembicaraan"
Afkar nenghela napas.
" Sayang, ini berbeda. Aku tidak pernah mencintai Aprill seperti kekasih, sedang kamu bersama Kevin dengan cinta"
" Tidak ka"
" Tapi kamu pernah dan ingin mencobanya kan?"
Alya terdiam.
" Aku tidak pernah Alya, aku tidak pernah ingin mencoba bersama orang lain, bahkan fotomu saja ingin diturunkan dari dinding kamarku aku begitu marah"
" Bohong, kenapa kakak menerima Cindi?"
" Itu kesalahan sayang, saat itu aku mengalami tingkat kekecewaan tertinggi, bahkan aku hampir tidak percaya aku melakukannya, dan memang aku tidak bisa mencintai siapapun lagi selain kamu"
Kali ini Alya menyerah, berhari-hari bertahan untuk kuat dan setetes air matapun tidak pernah dia hadirkan. Tapi sekarang, air mata itu jatuh juga, perlahan. Afkar memegang wajah Alya dan menghapus air matanya, menarik tubuh Alya ke dalam pelukannya
" Maafkan aku sayang, aku tidak bisa membahagiakanmu, bahkan di keadaan seperti ini, keadaan yang sudah berubah. Aku masih saja menyakitimu"
Afkar melepas pelukannya dan kembali menghapus air mata Alya
" Aku cemburu, aku sangat cemburu jika Kevin masih menghubungimu, diantara kalian sudah banyak sekali tercipta cerita, mungkin lebih indah dari yang sudah kita lewati karena dia sering mengunjungi dan bersamamu, dia bebas menghubungimu kapanpun dia mau, tidak seperti aku yang bahkan sekali menghubungimu sudah terputus kontak kita karena kecemburuannya. Kamu mempunyai banyak kenangan bersamanya, jika kalian berhubungan lagi aku takut sayang rapuh lagi.
Apalagi jika sebentar lagi aku kehilangan pekerjaanku karena harus pamit pada Pak Wijaya karena memilihmu bukan memilih puteri beliau, lalu kembali seperti dulu, dengan pekerjaan yang biasa, lalu Kevin datang lagi dengan kekuasaan dan kemampuan-kemampuannya,akan jadi apa aku sayang, kamu bisa mengerti?"
Alya mengangguk.
" Alya yang minta maaf ka"
" Tidak, aku yang salah"
Alya kembali mengangguk dan sedikit tersenyum
" Iya, memang kaka yang salah, hehehe"
Afkar mencubit pipi Alya
" Terus saja aku yang salah dan sayang selalu benar"
" Memang"
Afkar tersenyum
" Aku sudah lama tidak melihatmu menangis, ternyata masih sama"
__ADS_1
" Sama apa?"
" Sama jeleknya seperti dulu"
Alya mencubit pinggang Afkar berkali-kali
" Hahaha, sudah sudah aku geli"
" Kalau jelek kenapa naksir?"
" Aku belum menemukan jawabannya"
" Jahat"
" Memang"
" Ka, kapan kakak akan bicara pada pak Wijaya masalah ini?"
" Besok beliau datang, aku akan membicarakannya"
" Kakak sudah siap dengan resikonya?"
" Aku selalu siap, asalkan sayang tetap berada di sampingku, jangan pergi ya"
Alya mengangguk.
" Jadi bagaimana?"
" Bagaimana apa?"
" Kita putar balik, kita ke Martapura sekarang"
" Ka, Alya pusing sejak pagi kita cuma muter-muter begini"
" Makanya jangan bawel, aku juga pusing, kita ke Martapura sekarang ya?"
Alya mengangguk perlahan.
" Coba dari tadi begini, tanganku sudah pegal, gantian nyetir mau?"
" Enggak mau, begitu saja pegal, bagaimana nanti menjadi ayah dari anak-anak Alya"
Afkar tertawa
" Aku senang sekali mendengar ini sayangku, okeee aku akan menyiapkan kan bahu, lengan dan semua tubuh serta jiwaku untuk istri dan anak-anakku"
" Norak"
" Biarin"
" Sok keren"
" Memang keren"
" Merasa cakep aja direbutin cewek"
" Kenyataan"
" Ka Afkaaarr"
Afkar kembali mencubit pipi Alya
" Tidak sabarnya aku punya istri ajaib kaya kamu ini"
" Ka Afkar yang ajaib"
Afkar tertawa melihat tingkah konyol kekasihnya.
" Ka, punya obat luka? kita obati luka di lengan kakak"
" Ada, di bangku belakang"
" Biar Alya yang turun mengambil, kaka di sini saja"
" Jangan, aku saja, aku takut sayang turun dan hilang di culik Kevin, hahaha" Afkar menaikan alisnya dan mencoba mencium pipi Alya tapi langsung di dorong Alya.
" Iih, sana jauh-jauh"
Alya mencibir, calon suami aneh.
Akhirnya melalui satu hari yang cukup melelahkan, Alya diantar sampai ke penginapan jam enam sore menjelang magrib. Sesaat setelah mobil memasuki halaman parkir guest house Afkar memegang jari manis Alya yang sekarang sudah memakai cincin berlian mata satu berbentuk Emerald yaitu bentuk persegi panjang
, cincin solitaire ini yang menjadi favorit sekarang, begitu saran pemilik toko tadi.
Ciri khas dari cincin ini adalah sudut-sudut yang sedikit dibulatkan, atau biasa disebut dengan bevel dan dipotong bertingkat pada permukaannya. Bentuknya yang unik ini, membuat kejernihan sebuah berlian bisa menjadi sangat memancar.
Alya mengangguk
" Terima kasih ya kak"
" Terima kasih juga untuk bersedia memakainya, semoga ini menjadi seumur hidup ya sayang"
" Aamiin"
" Sayang, besok pagi aku akan bicara dulu dengan Pak Wijaya, sayang tidak usah ke kantor"
" Ka, Alya kapan kerjanya disini"
" Sayang ngapain ke kantor kalau aku tidak ada? mau cari perhatian Juan?"
Tatapan Afkar mulai tidak bersahabat lagi
" Iih, heran deh, kalau sudah bicara pekerjaan kenapa berubah jadi singa lagi sih, eh tapi boleh tau Juan itu masih jomblo ya?"
" Apa urusan sayang?"
" Salamin ya"
" Enggak"
" Di pandang-pandang cakep juga"
" Kalau sayang mulai berpikir yang tidak-tidak besok Juan ku pecat"
" Hahhaa, baru kali ini ketemu bos aneh kaya ka Afkar"
" Makanya jangan membuatku tambah aneh, bebanku sudah banyak"
" Ya sudah, besok Alya tunggu kabarnya, kalau kakak bilang Alya sudah bisa ke kantor nanti Alya kesana"
" Iya, begitu dong jadi anak manis"
" Heheh, ka malam ini Alya boleh pakai mobilnya?"
" Mau kemana?"
" Muter saja"
" Mau kukirimkan supir?".
" Tidak, Alya mau cari makan saja nanti"
" Makan saja, jangan kemana-mana lagi ya"
" Ka, ini Alya, bukan Aprill yang kakak atur-atur seenaknya"
" Iya, justru sayang ini Alya, aku harus extra ketat menjaga, disini kamu sendiri, aku punya tanggung jawab penuh padamu"
Alya mengangguk
" Iya pak bos"
Afkar membelai rambut Alya.
" Semoga bisa menjadi istri sholehah"
Alya tertawa
" Yakin diterima orang tua Alya?"
Afkar terdiam dan wajahnya mendadak berubah.
" Hahaha, nanti Alya bantu deh, kalau sudah selesai urusan dengan pak Wijaya, kita telefon mama dan papah Alya ya kak"
" Iya sayang"
Alya tersenyum memberikan semangat pada Afkar.
" Baik-baik ya sayang, aku pamit"
Alya mengulurkan tangannya dan mencium tangan Afkar.
" Malam ini menginap di rumah sakit ka?"
" Tidak, aku mau istirahat, menyiapkan mental dan bahan pembicaraan besok"
" Hati-hati ka, semoga semua dimudahkan dan lancar"
__ADS_1
" Terima kasih sayang"
" Assalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Dah ka Afkar"
Afkar memonyongkan bibirnya
" Emuuah"
Alya menutup pintu mobil dan melambaikan tangannya.
Selesai shalat magrib Alya menyiapkan diri untuk jalan-jalan mencari makan malam. Memakai celana jeans dan baju kaos santai. Membuka tas dan mengecek ponsel dan dompet sudah berada di dalamnya.
Tiiit
" Assalamualaikum bidadari"
" Waalaikum salam, ka Alya mau cari makan"
" Panggilan video dulu sebentar"
" Iya"
Klik.
Tiit
" Iya ka"
" Mau makan di mana sayang?"
" Belum tau, jalan dulu saja"
" Cari rumah makan saja ya, sayang jalan sendirian jangan makan di luaran, kurang aman"
" Iya, Alya cari rumah makan saja"
" Jangan pulang larut malam".
" Iya ka"
" Nanti kabarin kalau sudah pulang ya".
" Iya boooss, hehehe, kakak dimana ini?"
Afkar memutar kamera pada ponselnya, satu ruang besar yang sangat cantik
" Lagi di meja makan, sedang makan malam sama acil Niah"
" Oh iya deh ka, Alya pamit ya, Assalamualaikum"
" Waalaikum salam, emuuah".
Klik.
Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan waktu Indonesia Tengah. Perut sudah terisi, Alya sudah berniat pulang. Tapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di satu sudut seperti cafe tapi bukan kafe, hanya warung kecil tapi menyediakan tempat duduk dan sedikit ramai. Beberapa muda mudi duduk rapi sambil memegang kuas dan beberapa alat lukis di depan mereka. Alya menepikan mobil dan memarkirnya.
Ooh ini para remaja kreativ. Alya turun dan mulai berjalan pelan mendekati apa yang mereka lakukan. Satu kertas besar terpampang di depan mereka, masing-masing memegang alat lukis, ada mini canvas dan display easel set dengan ukuran 20x20 cm, kuas, palet, pisau palet dan beberapa pewarna seperti cat air, cat minyak, tinta bak dan berbagai peralatan melukis lainnya. Karena Alya tidak pernah dekat dengan hobi melukis, dia tidak mengenal nama-nama benda yang sekarang ada di depannya.
Alya tertarik dengan satu pelukis yang duduk membelakanginya, pemuda itu melukis kupu-kupu, tapi kenapa berada di dalam sangkar, bukankah seharusnya dia melukis burung?. Alya mendekati dan berdiri di samping pemuda itu. Merasakan ada seseorang di sampingnya pemuda itu menoleh, Alya tersenyum.
" Haii, apa kabar?"
Pemuda itu mengangguk, Alya tertawa
" Kamu lupa sama aku? aku yang kemarin menumpang taksi mu dan belum bayar ongkosnya sampai sekarang, hehhe"
Pemuda itu mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Alya sedikit kaget, lah kok gue di cuekin.
" Hai mas, kamu sudah lupa ya? memang ya orang baik itu akan melupakan sesuatu kebaikan yang pernah dilakukannya, tapi yang diberi kebaikan tidak akan melupakannya"
Sekali lagi pemuda itu menoleh
" Maaf mbak siapa? saya sedang melukis"
pemuda ini terlihat sangat muda, sepertinya lima tahunan di bawah usiaku.
" Oh kenalin aku Alya, kamu ingat tidak kemarin pernah membawaku dengan taksi warna hijaumu dari Liang Anggang ke Martapura, mobilku mogok dan dompetku ketinggalan di mobil yang sudah di derek temanku, dan kamu bersedia mengantarku ke Martapura tanpa kuberikan ongkosnya"
Kali ini pemuda itu sedikit memberikan respon dengan tersenyum dan mengangguk
" Iya, maaf ya mbak, saya mau melukis"
" Iya, tapi boleh saya berdiri di sini, saya suka lukisanmu"
Pemuda itu mengangguk.
" Acil Odah, pinjam kursi sebuting"
( Bi Odah, pinjam kursi satu).
Seorang perempuan dengan memakai kain panjang dan berjilbab membawakan satu kursi dan meletakannya di depan Alya
" Terima kasih bu"
Perempuan itu mengangguk dan meninggalkan mereka.
Alya duduk di samping pemuda itu, di tolehnya ke samping kanan dan kiri, beberapa lainnya juga sedang melukis seperti yang dilakukan pemuda ini.
" Ini memang tempat untuk melukis?"
" Tidak juga, kami berkumpul tidak sengaja, dan kebetulan beberapa mempunyai hobi yang sama, maka sejak tiga bulan yang lalu kami memutuskan agar waktu berkumpul kami ini lebih bermanfaat"
" Oh iya, bagus sekali itu"
" Maaf mbak, bisa tidak mengajak saya ngobrol? lukisan saya sebentar lagi selesai, kalau mau ngobrol saya temani setelahnya"
Eeiii, Alya kaget, ooh pelukis tidak boleh diajakin ngobrol ya, hehehe
" Ooh maaf saya tidak tau, silakan di lanjut deh, saya tunggu, soalnya saya penasaran dengan lukisanmu"
Pemuda itu mengangguk dan kembali fokus pada gambar di depannya yang belum selesai.
Selama 10 menit Alya menunggu dengan rasa penasarannya yang luar biasa, sesekali dipandangnya pemuda pemudi lain yang beberapa sudah selesai dan memamerkannya pada bagian sisi kanan warung itu.
" Sudah selesai mbak, bagaimana lukisan saya"
Alya kembali mengamati.
" Cantik sekali, sungguh. Saya bukan penikmat lukisan, saya lebih suka menyanyi dan main gitar, tapi melihat dan memperhatikan kamu dari tadi saya jadi tertarik"
" Kalau mbak tertarik, datang saja dua hari lagi, kami akan berkumpul lagi di sini"
" Benarkah? oke kalau saya bisa, saya akan main kesini"
Pemuda itu membereskan alat lukisnya
" Hei, aku belum berterima kasih padamu"
" Ooh, tidak apa mbak, selama saya bisa menolong, lagipula saya tidak rugi membawa penumpang seperti mbak yang mengalami musibah kemarin, bayar ongkos atau tidak saya memang akan ke Martapura"
" Kamu anak baik, siapa namamu?"
" Darel mbak"
" Ooh Darel, orang asli Banjarmasin?"
" Iya mbak, kalau mbak?"
" Saya orang Yogyakarta, ke sini karena ada urusan kantor"
" Ooh pantas tadi mbak bilang suka menyanyi dan main gitar, kota seniman sih"
" Tidak juga, hanya hobi, saya bukan ahlinya, hehehe"
Darel menunjuk satu tempat
" Kita kesana mbak, mbak mau minum apa?"
" Saya barusan makan, masih kenyang".
" Ooh"
" Pekerjaanmu supir angkot Darel?"
" Saya mahasiswa mbak, kemarin itu saya jam kosong, kebetulan supir taksi nya tidak masuk, daripada saya bengong di rumah lebih baik saya menarik saja"
" Taksinya punya kamu?"
" Bukan, punya orang tua saya"
" Sama saja kan, hehehe"
Baru beberapa menit terlibat obrolan Alya dan Darel sudah terlihat akrab, Alya yang memang selalu banyak ngomong dan cepat akrab, dan Darel yang santun serta cerdas selalu bisa menjawab pertanyaan Alya dengan memuaskan.
__ADS_1