CCI

CCI
1


__ADS_3

Waktu umurku dua belas tahun, ibuku menceritakan tentang kepergian ayahku, bahwa ayahku pergi tanpa alasan yang jelas setelah terjadi pertengkaran kecil di antara mereka -- pertengkaran yang dimulai oleh ayahku sendiri. Sejak itu ia pergi dan tidak pernah kembali. Seratus hari kemudian, ia membawa pulang seorang wanita ke rumah orang tuanya. Ayahku adalah seorang pengacara, dan wanita yang ia bawa itu adalah mantan kliennya dalam kasus perceraian. Entah bagaimana ceritanya mereka malah berselingkuh di belakang ibuku. Mungkin terjadi semacam cinta lokasi di antara mereka -- cinta terlarang antara dua anak manusia, cinta dari sudut pandang yang salah, yang tidak bisa dibenarkan oleh akal sehat. Fakta itu adalah jawaban atas pertanyaanku yang sudah bertahun-tahun kutunggu, kebenaran yang selalu disembunyikan semua orang dariku. Tapi, apa pun alasan kepergian ayahku, apa pun alasan perpisahan antara ayah dan ibuku -- bukan menjadi permasalahan utama bagiku. Karena yang menjadi permasalahan utama bagiku adalah; ayahku sudah meninggalkan aku, dia menelantarkan aku, dan membiarkan aku tumbuh besar tanpa sosok seorang ayah. Tidak ada alasan untuk membuatku maklum tentang hal itu, dan tidak ada alasan bagiku untuk memaafkan dan tidak membencinya.


Aku masih ingat saat-saat pertama aku mengetahui cerita yang menyakitkan itu, cerita tentang siapa ayahku dan bagaimana karakter ayahku yang sebenarnya. Saat itu, di pesta perayaan ulang tahunku, dalam masa liburanku naik ke kelas tujuh, kukatakan pada ibuku bahwa aku tidak akan merayakan ulang tahun itu sebelum ia menceritakan kenapa ayahku pergi. Aku merasa sudah cukup besar untuk mengetahui cerita yang sebenarnya. Aku siap meski aku tahu mungkin hatiku akan sangat sakit setelahnya. Toh, segala sesuatu di dunia ini adalah bentuk sebab-musabab antara satu hal dan hal lainnya.


Kue ulang tahun yang berhiaskan cokelat, bertuliskan ucapan Selamat Ulang Tahun Inara, dan dilengkapi dengan lilinnya yang menyala -- sudah tertata rapi di atas meja beserta pisau potong dan piring-piring kecilnya. Semua itu hanya kutatap lekat-lekat. Setelah itu aku pergi, kutinggalkan ruangan pesta itu dan masuk ke kamar, ibuku pun menyusul dan membujukku untuk tidak bersikap kekanakan. Aneh, waktu itu aku memang anak-anak, wajar saja jika aku bersikap kekanakan. Dan jika tidak begitu -- sampai kapan aku akan bertanya-tanya -- kenapa ayahku pergi?


Kuakui cara ibuku dan semua orang memang benar, mereka menutupi cerita yang sebenarnya atas kepergian ayahku karena sebelum hari itu aku masih terlalu kecil untuk memahami permasalahan orang dewasa. Tapi tentu tidak akan baik jika terus menutupinya sampai aku beranjak remaja, saat aku sudah mengerti tentang suatu makna di balik cerita, di saat yang menurutku -- aku sudah bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah.


Akhirnya ibuku mengalah, dia menceritakan kepadaku kejadian-kejadian pilu itu. Katanya, saat umurku belum genap satu tahun -- dia tidak sengaja membuka lalu membaca pesan yang ditulis seseorang untuk ayahku. Pesan itu dari seorang wanita bernama Yanti, seorang janda dua anak. Dalam pesannya dia mengatakan bahwa dia sakit hati karena ayahku selalu mengutamakan keluarga pertamanya, sedangkan dia selalu dinomor duakan, katanya mentang-mentang dia hanya seorang istri siri. Saat itu nampak jelas ibuku berusaha tegar dan kuat untuk mengungkap kisahnya yang pahit. Suaranya terdengar gemetar, tentu dia merasakan sakit di kerongkongannya.


"Ayahmu menyangkal. Dia mengatakan bahwa mungkin Yanti hanya salah kirim pesan atau bermaksud memfitnahnya untuk menghancurkan rumah tangga kami. Bunda dan ayahmu saat itu sudah hampir bercerai. Tetapi, demi kamu -- Bunda memaafkan kesalahan ayahmu. Bunda pikir mungkin rumah tangga kami masih bisa diperbaiki, tapi nyatanya itu mustahil."

__ADS_1


Ibuku diam sejenak, menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, dan memulai lagi ceritanya.


"Seminggu setelah lebaran idulfitri, umurmu belum genap dua tahun, dan adikmu baru berumur empat bulan dua minggu, dia masih bayi kecil, masih tertidur dengan pulas. Saat itu ayahmu pulang dalam keadaan marah hanya karena masalah kecil yang terjadi saat kamu masih bayi. Bunda tidak tahu kenapa tiba-tiba dia mengungkit masalah yang sudah satu setengah tahun berlalu, itu terkesan seperti hanya sebuah alibi. Setelah itu, ayahmu pergi dari rumah. Dia tidak pernah pulang juga tidak pernah memberikan kabar. Sampai seratus hari setelah dia pergi -- Bunda mendengar kabar bahwa ayahmu membawa pulang seorang wanita bernama Rhea. Dia mengatakan pada orang-orang -- bahwa kami sudah bercerai, sudah jatuh talak katanya. Tapi tidak apa-apa, Bunda bisa menerima semua itu. Yang membuat Bunda kesal pada diri Bunda sendiri; kenapa Bunda tidak mengetahui perselingkuhan itu sejak awal? Padahal Bunda sudah lama tahu keberadaan Rhea. Dia dulu klien ayahmu, ayahmu yang membantu Rhea bercerai dengan suaminya. Entah bagaimana ceritanya, mereka malah berhubungan setelah Rhea resmi menyandang statusnya sebagai janda. Tapi pihak keluarga ayahmu menyangkal dan mengatakan bahwa itu semua dusta, omong kosong katanya."


Setelah kata-kata itu, ibuku mulai menangis. Tapi mungkin karena sudah terlanjur, ibuku tetap melanjutkan ceritanya.


"Bukan cuma itu. Dulu waktu Bunda melahirkan adikmu, Ihsan, empat hari Bunda di rumah sakit, Bunda melahirkan secara sesar. Sama seperti kamu, kamu juga lahir dengan operasi sesar," katanya. "Ayahmu sering menghilang, dia baru kembali ke rumah sakit saat malam. Waktu itu hanya ada tantemu yang mengurus Bunda. Ayahmu bilang dia bekerja. Tapi setelah kami berpisah, Bunda baru tahu kalau ternyata ayahmu saat itu sibuk bersama Rhea -- di rumah sakit lain. Mereka mengurusi keluarganya yang sedang sakit. Saat itu Bunda merasa bodoh sekali -- sebab mereka berhasil membodohi Bunda. Sejak saat itulah Bunda tidak pernah lagi memikirkan rumah tangga Bunda dengan ayahmu. Bunda menerima kekalahan, Bunda menerima nasib. Akhirnya Bunda menjadi janda karena suami Bunda direbut janda lain. Status Bunda pun menjadi janda dua anak, yang selalu dipandang sinis oleh tetangga, dijadikan bahan gunjingan, juga merasa malu di depan semua keluarga. Tapi Bunda bisa apa? Pasrah, cuma itu."


Di luar kamar, adikku, Ihsan Satria, yang usianya satu setengah tahun lebih muda dariku -- mendengar semua cerita pahit itu. Dia masuk ke kamarku dalam keadaan menangis, lalu memeluk ibu kami. "Ihsan janji, Ihsan akan membuat Bunda bahagia. Bunda tidak perlu menangis karena orang itu," katanya.


Aku tidak menyangka, di usia adikku yang waktu itu baru sepuluh tahun enam bulan, dia yang lebih muda dari aku, tapi dia bisa mengerti dan bersikap sebijak itu. Mungkin itulah alasan Tuhan menitipkannya pada ibuku, dia menjadi "satria" pelengkap keluarga kami yang tidak utuh, meski sebenarnya tidak akan pernah utuh bagiku.

__ADS_1


Aku mendekat. "Maafkan Nara, Bund. Nara janji tidak akan membahas hal ini lagi." Kemudian kupeluk ibu dan adikku dengan hangat.


"Perpisahan itu adalah masalah orang dewasa, masalah antara Bunda dan ayah kalian, bukan masalah kalian berdua. Kalian tidak boleh membenci dia, apalagi kalau kalian sampai dendam. Tidak boleh. Kalian berdua adalah anak-anak yang baik," katanya berpesan padaku dan adikku. "Janji pada Bunda, hati kalian tidak boleh ada rasa benci terhadapnya, ya?"


Aku dan adikku hanya saling melihat, tidak mengiyakan, tidak berjanji, juga tidak membantah. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan adikku, tapi aku ingat dan tahu persis bagaimana isi hatiku saat itu -- aku tidak mungkin tidak membencinya atas apa yang sudah ia lakukan. Dia meninggalkan aku, menelantarkan aku, dan membiarkan aku tumbuh besar tanpa sosok seorang ayah. Yang ia lakukan itu JAHAT!


Sejak kecil aku kehilangan sosok lelaki yang seharusnya menjadi pedoman dalam hidupku, yang seharusnya menggenggam erat tanganku setiap kali aku terjatuh, tapi justru dialah yang menjadi penyebab utama kekacauan dalam hidupku. Itu adalah kenyataan yang tak terbantahkan dan tidak bisa kulupakan.


"Sudah, kita hapus air mata, lalu kita keluar, kita mulai pestanya," kata ibuku yang mulai tenang.


Kami pun keluar dari kamarku, kembali ke ruang pesta yang berhiaskan bunga-bunga cantik dan balon warna-warni. Kami memulai pesta ulang tahunku yang kedua belas, pesta kesebelas kali tanpa sosok ayah yang mulai hari itu tidak lagi kurindukan. Aku mulai membencinya, sangat sangat membencinya.

__ADS_1


__ADS_2