CCI

CCI
27


__ADS_3

Ponselku tidak berhenti berdenting, ada banyak chat whatsapp dalam The Fantastic Eleven, sebuah grup whatsapp kami -- sebelas cucu-cucu nenek. Lima cucu dari anak pertama nenek, kami semua memanggil saudari pertama ibuku itu Ummi. Lalu dua orang cucu dari anak kedua nenek, yaitu ibuku, semua sepupuku memanggil ibuku Tante, dan terkadang memanggilnya Bunda. Dan empat orang cucu dari anak ketiga nenek, kami semua memanggilnya Tante atau Tante Mami, sedangkan anak-anaknya memanggil Mama, bukan Mami. Aneh? Memang.


Nama grup The Fantastic Eleven kami ambil dari sebuah situs di internet. Dalam grup itu juga ada Hengky, Dimas, dan Ari, mereka dihitung satu paket dengan pasangan mereka masing-masing. Setelah kuamat-amati, ternyata Reza sudah ada di dalam grup whatsapp itu, siapa lagi kalau bukan Zaza, sepupu tertua, juga selaku admin grup, yang mengundang kontak Reza untuk bergabung di dalamnya. Tentu, itu terjadi karena ibuku sudah menyampaikan kabar tentang pernikahan kami.


~ Inara


》Kok sudah gabung? Kan dia belum sah menjadi bagian dari kita.


~ Zaza


》Gampang. Tinggal didepak seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


~ Ari


》Dia tidak akan terdepak. Kecuali Inara sendiri yang memilih meninggalkan Reza.


~ Zizi


》Kami semua berharap hubungan kalian langgeng.


~ Zaza


》Aamiin...


~ Hengky


》Mari kita bahas penyambutan anggota baru. Jadi, kapan kalian akan ke sini?


~ Inara


》Sori. Aku tidak akan ke sana. Kalian saja yang ke Jakarta.


~ Dimas


》Weekend ini? Bagaimana? Setuju?

__ADS_1


~ Hengky


》Setuju


~ Ari


》Setuju


~ Zaza


》5Z Oke.


~ Rafasya


》Aku, Randika, Raline, dan Raheel (4R) siap berangkat dari Bogor.


~ Ihsan


》Sayangnya yang bersangkutan sedang holiday di Bali. Ha Ha Ha.


~ Ari


Mataku terbelalak. Menyusul? Oh Tuhan. Tapi... mana mungkin aku menolak.


Begitulah sebagian isi chatting di dalam grup whatsapp kami malam itu. Reza menanyakan pendapatku, apakah dia harus memberitahukan di mana keberadaan kami atau mengacuhkan saja sepupu-sepupuku itu? Kukatakan padanya beritahukan saja. Tentu saja karena aku tidak mau mereka semua menilai buruk calon suamiku itu.


"Sayang?"


"Emm?" sahutku. Saat itu aku tengah santai meringkuk di pangkuan Reza yang sedang menonton televisi di atas sofa.


"Kamu yakin aku tidak perlu pindah ke kamar lain?"


"Kenapa?" tanyaku. "Kamu merasa canggung karena pesan Bunda tadi? Atau karena omongan ayahku tempo hari?"


"Bukan," katanya. "Tapi di sini tidak ada extra bed. Nanti tidur kamu jadi tidak nyaman."

__ADS_1


"Aku percaya pada kamu. Justru aku lebih nyaman tidur dalam pelukan kamu. Tetap di sini, ya mas ya? Kumohon?"


Reza tidak menyatakan persetujuan, tapi dia juga tidak menyatakan penolakan.


"Terima kasih, Masku Sayang," ucapku yang kemudian nyengir lebar.


"Yeah. Apa pun untukmu."


"Sayangnya mana?"


"Iya... apa pun untuk kamu, Sayang...," katanya. Aku jadi cekikikan.


Malam itu Reza tengah asyik menonton tayangan di televisi. Aku tak kuasa bila harus mengganggunya. Jadi kubiarkan dia dengan keasyikannya. Beberapa kali Reza terkekeh karena lelucon sang wayang yang berperan dalam acara komedi yang ia tonton. Meski begitu, dia tidak melupakanku, tangannya tetap telaten membelai rambutku sampai aku tertidur di pangkuannya.


...♡♡♡...


Aku terbangun jam empat pagi. Kulihat Reza sedang tidur nyenyak di sofa, sementara aku dengan nyaman menempati kasurnya yang empuk. Saat itu, aku tidak menilai sikapnya itu sebagai penolakan, justru sebaliknya, dia memegang amanah ibuku untuk menjagaku, tapi di sisi lain, dia tetap memenuhi keinginanku yang menginginkan dia tetap satu ruangan bersamaku. Dia sempurna untukku, meski ia tak berjuba panjang dan tak berpeci putih.


"Kamu mau lanjut tidur?" tanyanya beberapa saat setelah dia terbangun, lalu ia menghampiriku yang masih selonjoran santai di kasur empuknya, dia ikut berbaring di sampingku.


Aku menggeleng. "Tidak," sahutku.


"Emm... waktu kamu tidur... Ari meneleponku, katanya mereka berangkat nanti siang. Tidak apa-apa, kan?"


Saat itu aku tidak menjawab, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Di satu sisi aku tidak keberatan keluargaku ikut liburan bersama kami. Tapi di sisi lain, aku juga ingin memiliki waktu Reza sepenuhnya, ingin berdekatan terus dengannya tanpa risih dengan tanggapan dan komentar orang lain. Tapi aku juga tidak ingin mengatakan hal itu padanya, aku tidak mau dia menilaiku haus akan perhatian dan kasih sayang darinya.


"Tenang, kita abaikan penilaian dan tanggapan orang lain. Terserah orang mau berkomentar apa. Kita berjauhan hanya di waktu tidur. Selebihnya aku dan waktuku hanya milik kamu. Kamu bebas mau melakukan apa saja, kamu boleh peluk aku, boleh cium aku, apa pun," katanya, lengkap dengan cengiran yang lebar. Dia membuatku menggeleng-gelengkan kepala. "So, mau ikut aku olahraga? Kita lari pagi ke pantai, satu jam cukup."


Menurutku itu gagasan yang bagus, tentu saja aku menyetujuinya, dan kami pun bergegas keluar dari mes dengan memakai sweater tebal. Aku senang, aku belum pernah pergi ke pantai pada jam begini; terasa gaib, tak berpenghuni, sepi, lengang dan tenang. Langit sangat jernih dan rembulan bagaikan cahaya lampu sorot yang dinyalakan khusus untuk kami, menerangi air laut dan mengubahnya menjadi lapisan kaca mahaluas, dengan angin yang berembus kencang, sekencang arus air yang membawa berbagai macam benda ke pinggir pantai.


Aku lari ke batas air, menengadah dan menerawangi cakrawala, kupejamkan mataku sesaat dengan menangkupkan kedua telapak tangan, ujung-ujung jariku persis tepat di bibirku. Di dalam hati aku berdoa memohon pada Tuhan; tolong lepaskan aku dari belenggu-belenggu masa lalu, berikan aku sebuah keajaiban, hingga aku bisa menemukan kedamaian yang hakiki. Aamiin.


Reza berdiri tepat di hadapanku saat aku membuka mata, seolah Tuhan mengirimkannya sebagai jawaban dari doa yang baru saja kupanjatkan. Matanya berbinar-binar, dan wajahnya tampak berpendar-pendar. Dia seperti malaikat dari laut yang langsung memelukku erat-erat sesaat setelah aku membuka mata, lalu menatapku dengan lekat. Bibirnya merekah dan senyumnya mengembang. Seketika itu, perasaan berdebar-debar itu datang lagi menguasai sekujur tubuhku.


"Jangan menatapku seperti itu," kataku.

__ADS_1


Dia tidak menjawab, hanya langsung melahapku dengan kebebasan  yang tak pernah kutahu bisa tersembunyi dalam ciuman. Bisa kurasakan gairahnya bangkit dan hasratku sendiri menyala, seluruh bagian tubuhku rasanya bergetar hebat. Itu pertama kali kami saling menikmati bibir satu sama lain, saling mel*mat, saling melahap, lidahnya lincah bermain-main di dalam mulutku. Reza membuatku serasa melayang-layang. Dan Kuta menjadi saksi bisu kenangan itu, kenangan pertama kali aku menikmati ciumannya, ciuman di tepi pantai, seperti keinginan yang kutulis dalam buku notesku. Tidak ada kata permintaan maaf, pertanyaan, ataupun komentar setelah ciuman itu berakhir. Hanya ada senyuman yang tersungging di bibir kami masing-masing. Dia membuatku tersipu-sipu, aku merasakan pipiku bersemu merah.


Saat itu aku tidak curiga kalau Reza diam-diam telah membaca buku notesku. Yang terbesit dalam pikiranku hanyalah kami harus berada di tempat terbuka jika ingin dia menciumku dengan penuh gairah. Tempat di mana dia tidak akan berpikir bahwa ia akan kelepasan, seperti yang ia takutkan jika dia menciumku di dalam ruangan yang tertutup.


__ADS_2