
"Kamu tidak takut kan kuajak ke sini?" Reza bertanya padaku saat kami tiba di kawasan TPU Bukit Lama. "Aku mau ziarah ke makam ayahku."
Deg!
Hatiku tertonjok.
Bagaimana hati itu masih bisa mencintai ayahnya dengan begitu tulus? Dia membuatku merasa kecil hingga ingin rasanya aku enyah sebentar dari sisinya.
Sembari berjalan menuju pusara ayahnya, Reza menyapa para penjaga makam yang sedang sibuk menyapu area makam. Ada juga yang sedang menggali kuburan untuk jenazah yang akan dimakamkan pada hari itu.
"Kamu sering ke sini, Mas?"
"Rutinnya hanya dua kali setahun, saat ada pekerjaan dan saat menjelang Ramadan. Tapi ada yang jaga kok, ada yang rutin membersihkan makam ayahku."
Aku manggut-manggut sambil memastikan langkah kakiku tetap terarah dan tidak tersandung apa pun. Kemudian ikut duduk saat kami sudah sampai di pusara ayahnya, lalu berdoa beberapa saat di sana.
"Sayang?"
"Emm?"
"Kalau nanti ayahmu meninggal lebih dulu, kamu mau rajin berziarah ke makamnya? Minimal sekali dalam setahun?" tanya Reza yang membuatku membisu. "Aku tahu kamu mau bilang tidak."
"Kalau tahu jawabannya, kenapa bertanya?"
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar pemakaman untuk menghindari tatapan mata Reza. Tetapi dia malah mengajakku duduk rileks. Pusara ayahnya dikelilingi pembatas yang terbuat dari semen, kami duduk di pembatas yang terbuat dari semen itu. Aku tahu itu artinya dia hendak mengobrol serius denganku.
"Kamu mau menikah denganku?"
"Apa yang mau kamu katakan sebenarnya? Langsung saja pada intinya," kataku, straight to the point.
Seulas senyum pun terbit di bibir Reza. Dia meraih tanganku, menggenggam dan meremasnya lembut, lalu berdeham. "Jadilah penyabar dan jawab pertanyaanku."
"Penya-nya tidak, barbar-nya iya," kataku.
Dia memonyongkar bibir. "Bisa serius?"
"Iya, Mas... aku mau menikah dengan kamu...," jawabku dengan memanjangkan suku kata terakhir, dan berujung ikut memonyongkan bibir.
"Seandainya jodoh kita panjang, sampai kita menua bersama dan terpisah oleh kematian, aku ingin kita tetap berjodoh sampai akhirat, sampai ke surga. Apa kamu juga?"
__ADS_1
"Iya, lalu?"
"Artinya kita harus masuk surga."
"Itu tugas kamu untuk membimbingku. Kalau aku masuk neraka, kamu juga akan masuk neraka. Karena kamu suamiku, kamu yang akan menanggung dosaku."
"Pintar, seratus buat kamu," katanya dengan jari telunjuk mendarat di hidungku.
"Seratus juta atau seratus ciuman?" candaku dengan alis naik dan senyum menyungging.
"Keduanya, kalau nanti kita sudah menikah. Sekarang bisa serius?"
"Oke." Aku mengangguk.
Tanganku yang tadinya hanya ia genggam, sekarang sudah mengait dengan jemarinya.
"Dengar, menikah bukan sekadar menghalalkan, bukan sekadar kata sah dan kita bisa hidup bersama. Menikah, berarti aku menjadi suami kamu dan kamu menjadi istriku, aku berperan sebagai imam, pemimpin dan kepala rumah tangga untuk kamu sebagai makmumku."
Aku menggangguk. "He'em, lalu?"
"Tugasku sebagai seorang suami bukan sekadar menafkahi keluarga. Tetapi juga wajib mendidik istriku agar menjadi pribadi istri yang salehah, juga belajar memperbaiki diriku sendiri. Maksudku nanti setelah kita menikah. Tapi kita bisa memulainya dari sekarang."
"Aku mau kamu menjadi istri salehah, agar kita sama-sama ke surga. Tidak perlu perubahan drastis, harus begini harus begitu, tidak boleh ini tidak boleh itu, kita bisa memperbaiki diri seiring jalan setelah kita menikah. Tapi setidaknya kita mulai dari membersihkan hati dulu."
Ini pembahasan yang sensitif. "Apa menurut kamu aku ini anak durhaka?"
Reza menggeleng, "Ayahmu sudah meminta maaf, harusnya kamu mau memaafkannya. Menyimpan kebencian dan dendam itu dosa. Termasuk memutus silaturrahmi, itu juga dosa."
"Aku tidak bisa memaafkan dia. Aku tidak mau berdamai." Aku tertunduk, menelan ludah getir.
"Kamu belum bisa dan belum mau memaafkan, bukannya tidak bisa." Aku baru akan membuka mulut, tapi Reza lebih dulu menyalip apa yang ingin kukatakan. "Kamu bisa memaafkannya secara perlahan. Kamu hanya perlu membiasakan diri dengan kehadirannya. Coba untuk menerimanya saat dia ingin bertemu denganmu."
Aku tahu apa yang dikatakan oleh Reza itu tidak salah. Kenyataannya memang aku yang menolak kehadiran ayahku dan menganggap semuanya sudah terlambat dan sudah tidak bisa diperbaiki.
"Aku tidak mau." Suaraku melemah. "Sama kan seperti kamu? Kamu juga tidak bisa memaafkan Dannali?" Kutatap ia nanar.
Reza menggeleng. "Situasinya berbeda, Sayang. Dia bahkan tidak pernah meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Dia tidak sedikit pun punya niat mempertanggung jawabkan perbuatannya. Jelas konteksnya berbeda."
"Tolong, Mas. Jangan paksa aku."
__ADS_1
Reza menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya perlahan. "Aku rasa sebaiknya pernikahan kita dibatalkan," ujarnya dengan wajah tertunduk.
Aku tersentak mendengar ucapannya itu. "Ap-- apa? Apa maksud kamu?" Aku terbata.
"Maaf, aku tidak bermaksud...," katanya dengan suara tercekat, genggamannya pun menguat. "Aku takut -- aku tidak mampu membimbing kamu. Kamu butuh seseorang yang bisa kamu hargai, orang yang bisa kamu dengar dan kamu turuti perkataannya."
"Aku cuma mau kamu, Mas."
"Nara... ini untuk kebaikanmu," katanya. Lalu ia melepaskan tautan jemarinya dariku. "Aku minta maaf kalau aku terkesan pengecut. Aku minta maaf kalau kemarin-kemarin aku terlalu percaya diri, aku merasa aku yang terbaik untuk kamu. Tapi aku sadar, aku tidak mampu. Aku takut, Ra. Aku takut aku tidak mampu menjalankan amanah untuk membimbing kamu, aku takut tidak mampu mengemban tanggung jawab sebagai imam untuk kamu." Reza membungkuk dan meremas rambutnya.
Hatiku seperti dicubit. Sakitnya melebihi rasa sakit ditinggal ayahku selama bertahun-tahun. Aku tak kuasa menahan genangan air mata hingga ia mengalir membentuk anak sungai. "Bagaimana dengan janji-janji kamu selama ini, Mas? Kamu bilang kamu akan menikahiku apa pun yang terjadi. Kamu bilang kamu akan selalu memperjuangkan aku." Suaraku parau menahan sesak.
"Aku minta maaf. Aku tidak cukup baik untuk kamu. Aku tidak pernah bisa membuat rasa benci dan dendammu luruh."
Aku mendesah kecewa. "Baiklah, jika ini pilihan kamu. Aku tak bisa memaksa." Lalu aku berdiri, dan melangkah pergi.
"Ra...," suara itu sayup kudengar saat langkahku belum jauh. "Aku akan mengantar kamu pulang. Biar aku yang menjelaskan hal ini pada Bunda dan Ihsan."
Kuhapus lelehan air yang meluncur dari sudut mata sambil mengangguk. Baguslah, setidaknya aku tidak perlu repot-repot mendengarkan semua orang menceramahiku.
Reza membukakan pintu mobil untukku. Aku pun masuk, duduk, dan menoleh ke luar jendela di sepanjang perjalanan. Sementara kami pulang menuju bandara, kemurunganku -- juga Reza, menyebar dan mengisi keseluruhan mobil, seperti kabut asap. Hati kami sama-sama hancur. Aku sadar, akulah penyebabnya. Seharusnya aku bisa membunuh egoku, bukan mengikutinya yang belum ingin berdamai.
Di parkiran bandara, selagi menunggu karyawannya untuk mengembalikan kunci mobil, Reza menelepon Ihsan, supaya Ihsan tidak ke mana-mana sampai kami tiba di rumah. Dia hendak menjelaskan tentang pembatalan pernikahan ini.
"Mas...," panggilku. Air mata kembali merembes dari sudut mata.
Reza menangkup wajahku dengan kedua tangannya dan menghapus air mataku yang mengalir. "Aku akan selalu mendoakanmu, aku berharap Tuhan secepatnya mengirimkan seseorang yang tepat untukmu, yang bisa menjadikan kamu pribadi yang lebih baik. Yang saking sayangnya kamu, kamu akan menuruti semua perkataan dan--"
"Aku mau menuruti perkataanmu," potongku cepat sambil meraih tangannya, membuat dia terpaku dan matanya berbinar, seakan tak percaya dengan yang baru saja ia dengar. "Aku mau mencoba menerima ayahku. Tapi beri aku waktu, tidak akan mudah bagiku memaafkannya."
Reza mengangguk kuat. Kebahagiaannya membuncah terlihat dari ekspresi wajahnya yang seketika berubah ceria. "Janji, kamu akan selalu menuruti perkataanku sebagai suami?"
Aku mengangguk, mengucapkan janji dengan takzim. "Aku janji. Sebagai istri aku akan menuruti setiap perkataanmu."
Dia menarik kepalaku ke dadanya lalu mengecup lembut puncak kepalaku. Dengan kebahagiaan yang membuncah, kulingkarkan tanganku ke pinggangnya, bersandar, dan membiarkan air mata membasahi kemejanya. "Terima kasih. Aku sayang kamu, Nara. Melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri. Aku bahkan rela melepaskan kamu supaya kamu mendapatkan pasangan yang lebih baik dariku."
"Aku hanya ingin menikah dengan kamu, Mas. Kamu jangan pernah meninggalkan aku, ya?"
"Tidak akan pernah, selama kita seiya sekata, dan bisa saling mendengarkan. Kita akan selalu bersama, sama-sama belajar menjadi pasangan yang baik untuk satu sama lain."
__ADS_1
Mataku basah dalam senyuman. Tak dapat kutahan haru yang menyeruak. Kurengkuh erat tubuh Reza yang juga merengkuhku tak kalah erat. I love You, Mas. Be my best love forever and ever.