CCI

CCI
101


__ADS_3

Aku bertanya-tanya di mana aku berada -- sesaat setelah aku membuka kelopak mata. Lengan dan kakiku terasa berat, seolah-olah masih tertidur. Aku berguling ke samping, dan merasakan tarikan otot yang menyakitkan.


Saat mataku terbuka sepenuhnya, Reza mulai terlihat, ia berbaring di sampingku -- memelukku. Dan aku menyadari bahwa aku berbaring menelentang, rambutku menyebar di sekitarku, dengan selimut menutupi tubuh kami. Rasa lelah sekaligus senang dan puas langsung menguasaiku -- benar-benar rasa puas yang membahagiakan.


Menyadari waktu hampir menjelang subuh, aku pun bangkit hendak turun dari tempat tidur. Kupaksakan diri untuk berdiri. Kaki dan pahaku terasa pegal, seolah-olah aku habis berlari maraton, dan butuh sesaat bagiku untuk membiasakan diri dengan perasaan itu. Dengan susah payah aku masuk ke kamar mandi, menyiapkan air panas untuk memenuhi bathup.


"Sayang," Reza memanggilku sembari mengetuk pintu. Cepat-cepat aku menarik handuk dan melilitkannya ke tubuhku, barulah aku membuka pintu.


Eh? Reza langsung menyelinap masuk. "Kamu mau mandi duluan?" tanyaku.


"Kenapa harus duluan? Kan kita bisa mandi bersama."


Spontan dahiku mengerut. "Tapi..." Protesku terhenti dalam panasnya ciuman Reza. Dalam sedetik, handuk itu sudah terlepas lagi dari tubuhku.


"Lagi, ya?" Reza berbisik.


Uh... dia lelaki yang tangguh. Kendati sebenarnya aku masih sangat lelah, tapi aku tidak tega menolaknya. Aku miliknya, dan dia berhak atas diriku.


"Baiklah," kataku. Kuserahkan diriku padanya. Sesukanya. Sebebasnya. Dari depan, dari belakang, duduk, berdiri, apa pun gaya yang dia mau, oke. Bebas. "Aku milikmu."


Setidaknya dia pengertian dan sangat bijak. Dia bertanggung jawab karena sudah membuatku kelelahan, dia membantuku mandi dan bersedia memijatku. Lumayan, tangannya cukup terampil.


...♡♡♡...


Kuhabiskan sepanjang pagi dan siang di tempat tidur. Tenagaku habis karena ketangguhan Reza. Dia membuatku benar-benar kelelahan.


Sorenya, barulah kami menghabiskan waktu di pantai, menyusul ibuku dan sepupu-sepupuku yang sudah pergi lebih dulu, mereka sudah pergi sejak siang.


"Ecieee... yang habis malam pertama. Sukses, Bro? Sanggup berapa ronde?"


Ya Tuhan...


Pertanyaan Ari membuat semua orang memandangku dan Reza dengan heran. Pasti Alfi yang sudah menceritakan hal itu padanya.


"Malam pertama? Maksudnya?" Ibuku mulai curiga.


Ari yang tidak tahu kalau keluargaku tidak tahu tentang hal itu langsung merasa bersalah. "Sori," katanya. "Aku tidak tahu kalau..."


"Biar Nara jelaskan, Bund." Kuhampiri ibuku dan kuceritakan semuanya dengan detail. Dia syok mendengar cerita perihal penusukan itu. Untung saja ibuku tidak punya riwayat sakit jantung, kalau tidak... ya kau pasti tahu lah, selain hal itu mengancam nyawanya, tentu berakhir juga bulan madu kami.


Pada akhirnya Reza meminta maaf pada ibuku, dan berusaha meyakinkannya kalau semuanya baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Dia menjamin Alvaro tidak akan lagi mengulangi perbuatannya. Reza pun berjanji pada ibuku bahwa dia akan menjagaku dengan baik, tidak akan membiarkan siapa pun mencelakaiku.


"Ya, sudah. Semuanya sudah terjadi," katanya. "Tapi ke depannya nanti -- jangan merahasiakan apa pun dari Bunda. Meski sekarang kamu sudah jadi istri, kamu tetaplah anak Bunda. Dan Reza pun sudah menjadi anak Bunda. Bunda berhak tahu apa pun yang terjadi dan apa pun yang kalian alami."


Aku mengangguk. "Iya, Nara janji. Sudah ya, Bund. Jangan bahas ini lagi." Aku pun mencium dan merengkuhnya dengan hangat.


"Hei, gerai rambutmu, Nak." Ibuku berbisik setelah melihat bekas merah di leherku. Hmm... aku sampai tidak menyadarinya, jejak merah itu ada di sisi belakang leherku.

__ADS_1


Hiks! Aku ingin menggeleng -- tidak ingin menggerai rambutku. Panas Cin... belum lagi nanti rambutku bisa kusut tertiup angin. Tapi aku tidak ingin membantah. Aku langsung menurut dan melepas pengikat rambutku. Dan seperti biasa -- Reza hanya cengengesan.


...♡♡♡...


Pada keesokan paginya, pada jam yang sama -- menjelang subuh, Reza mengajakku berjalan-jalan sedikit. "On va a la plage. Ini malam terakhir kita di sini."


"Ke pantai? Jam segini?"


"Satu jam saja. Malam ini sayang untuk dilewatkan," katanya sambil bangkit berdiri dan memakai mantelnya.


"Oke. Aku ganti baju dulu."


"Tidak usah. Aku suka gaun tidurmu, cantik."


Wah, apa maksudnya? Tapi dipikirnya itu sudah cukup untuk meyakinkan aku."


Sambil berjalan menyusuri pantai, aku teringat waktu pertama kali dia mengajakku ke pantai pada jam-jam seperti ini -- sewaktu kami di Bali. Aku teringat saat pertama kali dia menciumku dengan bebas. "Kenapa kamu mengajakku ke sini? Mau menciumku di tepi laut?"


"Lebih dari itu," ujarnya. "Aku ingin berdansa di tengah keheningan. Hanya ada aku, kamu, dan musik. Bisa buka mantelmu?"


"Dingin, Mas..."


"Kan ada aku."


Aneh. Tapi aku tidak keberatan untuk itu. Kulepaskan mantelku dan kujatuhkan ke atas pasir. Aku mengambil tangannya yang terulur dan mengikutinya masuk ke garis lingkaran yang ia ukir sendiri -- seolah itu adalah lantai dansa. Reza melingkarkan tangan di pinggangku, dan aku memeluk lehernya. Intro lambat sudah mulai mengalun, kurebahkan kepala di bahunya lalu kupejamkan mata.


Dia melihat ke bawah. "Terima kasih. Kamu juga istri yang luar biasa," katanya.


Lagu yang mengiringi dansa kami hampir berakhir ketika perasaan melankolis menguasaiku. Kesedihan, tampak jelas dan mencolok, melandaku, dan itu bukan hanya karena musik yang ringan atau lirik yang lembut.


"Aku ingin mengatakan sesuatu."


"Apa?"


"Empat belas April, di tanggal yang sama dengan hari pernikahan kita, kedua orang tuaku dulu juga menikah di tanggal itu, juga di tempat yang sama. Aku tidak--"


"Aku tidak--" katanya bersamaan dengan ucapanku. "Aku tidak tahu, maaf."


"Ya, aku tahu kalau kamu tidak tahu tentang itu. Aku tahu itu hanya kebetulan. Itulah kenapa... yah, aku takut, Mas."


"Kamu tidak percaya padaku?"


"Aku percaya kamu, Mas. Tapi..."


Tidak. Aku tidak mau menyinggung-nyinggung soal traumanya.


"Sudahlah. Lupakan saja," kataku. Aku memperlambat gerakanku, lalu berhenti, menurunkan tanganku dari leher ke lengannya. "Cium aku."

__ADS_1


Alih-alih menciumku, Reza justru menggendongku dan membawaku masuk ke air. Dia tidak peduli kendati aku meronta-ronta melarangnya.


"Aku takut dingin...," teriakku. Tidak berguna. Saat itulah ekspresi wajahnya langsung berubah dari serius menjadi nakal. Sambil menggendongku -- dia berputar-putar hingga kami ambruk jatuh ke dalam air. Sekujur tubuhku seperti kena serangan sakit kepala akibat makan es krim. Aku menggigil kedinginan.


Ketika kami muncul kembali ke permukaan, Reza menggoyang-goyangkan kepalanya sambil melolong kegirangan.


"Sinting!" kataku sambil lari ke pantai dengan gemetaran. Dia langsung mengejarku dan memintaku tetap menemaninya di dalam air. Hah! Gokil. Itu namanya cari mati.


Ketika dia berhasil menangkapku, kami justru tumbang bergulingan di pasir. Dengan secepat kilat dia berhasil membalikkan tubuhku, secepat itu pula dia membuka kaus dan memperlihatkan otot-ototnya yang kekar, kemudian langsung menekankan tubuhnya rapat-rapat ke tubuhku. Gairahnya bangkit, aku bisa merasakannya.


"Jangan...," kataku ketika menyadari tangannya menarik gaun tidurku hingga bagian kakiku terekspos.


Dia tidak menghiraukan, hanya langsung melahapku dengan ciuman panas menggairahkan. Kurasa kali ini dia ingin bercinta dengan kasar. Aku berusaha menghalanginya ketika dia menarik pakaian dalamku dengan paksa, dan mencoba masuk. Aku juga menginginkannya -- sangat -- tetapi aku tidak ingin melakukan itu di tempat terbuka. Aku berusaha bertahan sekuat tenaga.


"Jangan di sini," kataku.


"Ayolah... tidak ada siapa pun yang melihat, tidak ada orang."


"Mana kita tahu."


"Apa masalahnya? Kita suami istri. Sah."


"Iya. Tapi kan..."


Protesku kembali terhenti. Reza menciumiku dengan lebih ganas. Semakin aku meronta-ronta, dia malah semakin bernafsu dan langsung menurunkan sedikit celananya.


Aku berhenti melawan ketika ia berhasil merenggangkan kadua kakiku dan berhasil masuk -- ia langsung bergerak di dalamku, tapi ia berhenti sesaat untuk mendaratkan bibirnya di leherku -- menghisapku dengan sangat ganas sampai aku mengerang keras.


"Aku ingin dari belakang," bisiknya beberapa saat kemudian. Aku menurutinya, memutar tubuhku -- setengah tengkurap -- sesaat setelah Reza mengangkat tubuhnya dariku.


Hanya butuh beberapa detik, Reza langsung kembali masuk. Kali ini ia melakukannya sambil menjelajah ke balik gaun tidurku. Tangannya meraba-rabaiku hingga ke dada, meremasku kuat-kuat dengan tangannya yang kokoh. Aku kembali mengerang -- merasakan kenikmatan yang memuncak.


Kami kembali berganti posisi. Ia memintaku duduk di atas pahanya. Memasukkannya. Ia keras dan tegang. Tetapi tidak langsung bergerak. Entah kebetulan atau apa saat itu aku memakai gaun tidur ritsleting di depan, dengan mudah Reza menurunkannya dan aku pun dalam keadaan tidak memakai bra. Reza memandangiku hingga aku merasa malu dan menundukkan pandanganku. Setelah itu pandangannya beralih ke lekuk tubuhku, dan berhenti di bagian dadaku dan menangkupnya dengan kedua tangan, pandangan matanya seolah berdecak kagum dan memuja-mujanya dengan agung. Dengan perlahan ia kembali meremasku, kemudian lebih kuat dan lebih kuat lagi. Hingga aku mendongakkan kepala dengan mata terpejam.


"Aku ingin merasakannya." Reza berkata sambil merebahkan tubuhku dengan lembut hingga aku kembali terlentang di bawahnya. Ia pun langsung menikmati dadaku, menghisapku dan meninggalkan jejak-jejak merah.


Dengan malu, kudorong kepalanya dengan lembut. "Turun," kataku. "Beri aku kenikmatan lebih."


Reza mengangguk dan langsung turun ke pahaku, sementara aku menutup kembali ritsleting gaunku -- antisipasi, mana tahu ada orang di sekitar sana. Tetapi konsentrasiku kembali buyar saat Reza mengemut-emutiku dengan sensual. Yap, hal yang paling kusukai. Itu membuatku tak henti menggeliat, mengerang, sekaligus menegang hingga mengepalkan tangan setiap kali Reza menghisapnya dengan kuat. Aku menjerit, memanggil-manggilnya dengan napasku yang tersengal.


Menyadari kami tidak punya banyak waktu, Reza pun kembali masuk. Dia menyelesaikan tugasnya dengan gerakan-gerakan cepat kemudian ikut mengerang. Aku sangat suka mendengarnya. Erangan itu terdengar seksi dan menggema di telinga.


"Terima kasih. Aku mencintaimu," katanya, nyaris berbisik lalu menciumi keningku. Kemudian ia mencabut itunya setelah ia berhenti berdenyut. Reza menggeser tubuhnya, menarik gaunku hingga menutupi pahaku, barulah ia berbaring di sebelahku. Gaun tidurku basah, banyak butiran pasir yang menempel di permukaan kainnya. Jujur saja rasanya tidak nyaman dan aku ingin segera kembali ke cottage, ingin cepat mandi supaya bisa berganti pakaian. Tapi itu harus kutahan, sebab Reza butuh sedikit waktu untuk memulihkan tubuhnya.


Sembari mengelus tubuhku dari atas ke bawah, Reza mengatakan sesuatu; "Aku memakai obat kuatnya. Kamu suka?"


Aku agak tercengang, sempat mendelik, tapi akhirnya aku tersenyum dengan malu. "Ya," kataku. "Luar biasa."

__ADS_1


"Mmm-hmm... benar-benar luar biasa," katanya. "Jadi, bagaimana rasanya bercinta di bawah bintang-bintang?"


__ADS_2