CCI

CCI
Sisi Lain Seorang Reza Dinata


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, kami mampir sejenak di salah satu minimarket di jalan Hanjawar. Setelah dirasa camilan dan minuman yang kami butuhkan sudah cukup, aku meninggalkan Reza di meja kasir dan kembali ke mobil, mengambil pakaian ganti, handuk kecil, dan pembersih wajah. Selanjutnya aku pun membawa barang-barang bawaanku dan menumpang ke toilet untuk membersihkan dan merapikan diri, mulai dari rambut yang awut-awutan, baju dan wajahku yang sama-sama kusut dan minta dilucut, plus bau keringat sehabis naik dan turun gunung yang lumayan tinggi. Bisa dibilang aku mandi bebek karena tidak membasahkan rambut dan membersihkan tubuh tanpa sabun. Kecuali wajahku, aku membersihkan mekapku dengan sabun wajah, lalu mengelap tubuh dengan handuk, dan...


Hmm... aku lupa membawa pembalut sementara percik kecokelatan keluar lagi meskipun sedikit. Untung saja aku membawa ponselku.


"Mas, ambilkan pembalutku," pintaku pada Reza via telepon.


"Kamu menaruhnya di mana?"


"Di koper."


"Ya ampun, Sayang. Masa aku harus bongkar-bongkar koper?"


"Ya sudah, kalau begitu tolong belikan yang baru."


"Hah? Aku?"


"Iya. Aku kan di toilet. Tidak mau pakai celana kalau belum pakai pembalut." Aku berkata dengan setengah merengek. "Tolong, Mas?" bujukku lagi, sementara Reza hanya berdeham dari luar sana.


Dengan polosnya dia meminta bantuan pada karyawan minimarket untuk mencarikan benda yang kuperlukan itu.


"Merek apa, Mas?" tanya si karyawan perempuan, aku bisa mendengar suaranya melalui sambungan telepon.


"Terserah," kataku.


"Terserah," Reza membeo.


Setelah mendapatkan benda itu dan membayarnya, Reza mengetuk pintu toilet dan memberikannya padaku. Aku masih sempat-sempatnya tertawa melihat ekspresinya yang menahan malu. Setelah keadaanku kembali normal karena aku sudah selesai dengan segala urusanku dan sudah berganti pakaian, aku pun keluar dari ruangan berukuran dua kali dua meter itu.


Kasak-kusuk -- kasak-kusuk. Ada keributan di lapangan parkir minimarket.


Awalnya aku cuek saja pada keributan itu. Aku tipe orang yang tidak peduli terhadap apa pun kekacauan yang terjadi di luar ruang lingkup kehidupanku. Tapi akhirnya...


Betapa terkejutnya aku ketika menyadari dua orang lelaki yang tengah berkelahi itu adalah dua orang yang kukenal, Reza Dinata versus Dannali. Beruntung, beberapa orang yang berada di sekitar sana bisa memisahkan duel di antara mereka.


Aku terpaku. Rasanya sulit dipercaya, bagaimana bisa seorang Reza yang kukenal berjiwa tenang terlibat perkelahian di depan umum? Itu membuatku bertanya-tanya, apa yang telah dilakukan seorang Dannali hingga mampu menculut api pada jiwa calon suamiku itu? Yeah, hari itu, pertama kali aku melihat sosok lain dalam diri Reza, sosok yang menyimpan api dengan baranya yang panas.


Kulihat wajahnya memerah saat aku menghampirinya. Dia pasti ingin menghajar habis-habisan lawan duelnya itu jika saja tidak ada yang melerai, aku yakin sekali. Kuremas tangannya dan kutarik dia masuk ke mobil.


"Mas, ada apa?" tanyaku pelan -- memulai obrolan.


"Tidak ada," katanya seraya menggeleng.


"Kenapa kamu sampai berkelahi?"


"Itu... emm... tadi... tadi di minimarket dia mengejekku karena membeli keperluan perempuan."


"Hanya karena itu?"

__ADS_1


Reza mengangguk, tapi jelas dia berusaha menghindari tatapan mataku.


"Kamu bohong. Kamu bukan orang yang mudah tersinggung. Kamu tidak mungkin sampai berkelahi hanya karena diledek seseorang. Itu bukan kamu."


Reza terdiam, tidak merespons, bahkan tidak menolehku sama sekali. Sementara di sisi lain, meskipun tidak mengenal akrab sosok Dannali, aku tahu dia bukan lelaki dengan mulut lambe, meskipun dia terkenal dengan sikap playboy kelas kakap, yang kerap kali berselingkuh dan mendekati perempuan hanya untuk kesenangan sesaat, padahal dia sudah punya istri. Dan meskipun belum dua bulan aku mengenal Reza, tapi aku yakin Reza bukan tipe orang yang suka mencari masalah.


"Aku mengenal pria yang berkelahi dengan kamu tadi. Dari karakternya, aku yakin kalian ribut soal perempuan. Iya kan?"


Lagi-lagi Reza terdiam seribu bahasa. Sikapnya semakin membuatku bertanya-tanya. "Jangan bohongi aku, Mas. Aku tahu kamu bohong. Seseorang dengan tipe tenang seperti kamu -- biasanya marah besar jika itu berkenaan dengan seseorang atau sesuatu yang berharga bagi kamu. Mana mungkin hanya karena hal sepele, hanya karena diledek membeli pembalut." Kukatakan itu dengan nada datar, tapi Reza tetap saja tak merespons. "Apa ini tentang Salsya?"


"Apa sih? Kenapa bawa-bawa Salsya?"


Aku terlonjak. Untuk pertama kali sepercik emosi yang belum padam itu menyemburku, dia menjawabku dengan intonasi tinggi. "Kalau begitu jelaskan. Kenapa dari tadi kamu diam saja?" Aku mulai mencercanya dengan nada lebih tinggi. "Kenapa diam? Kalau aku sebut-sebut nama Salsya -- cepat sekali kamu bereaksi. Kenapa sekarang diam lagi? Hah? Jawab!"


Lagi, Reza tetap diam, tapi amarah dari raut wajahnya belum juga padam. Dia menstarter mobil dan melaju tanpa memedulikan aku.


"Jadi benar, Mas? Ini tentang Salsya? Iya?"


"Bukan."


"Lalu?"


"Tidak usah dibahas. Ini tidak ada hubungannya dengan kamu."


"Waw. Dua kali," kataku dengan dua jari mengacung. "Dua kali kamu menjawabku seperti ini. Kamu ingat tempo hari di Bali? Kamu juga bilang begitu."


Kuanggukkan kepala. "Baiklah," kataku. "Mari kita ingat lagi, waktu kamu menyadari aku menyimpan banyak hal yang belum kamu ketahui, kamu memintaku untuk jujur dan menceritakan semuanya. Dan aku bisa, aku jujur, aku menceritakan semuanya ke kamu. Sekarang--"


"Aku tidak pernah memaksa kamu," ceplosnya -- memotong kalimatku.


Dalam sepersekian detik itu, dia seperti sosok Baim Wong dalam karakter antagonis. Seketika aku merasa ngeri. "Well, ya, ya, kamu tidak pernah memaksa," kataku dengan nada jengkel tapi dalam intonasi lemah.


"Hei, belajar nyetir yang benar, berengsek!" Reza berteriak pada mobil yang nyaris membuat kami melenceng keluar dari jalanan. Beruntung dia mampu mengendalikan kemudi dan segera menginjak rem untuk menghentikan laju mobilnya. Dia pasti masih hendak meneruskan caci makinya dengan meneriakkan beberapa umpatan lagi, tetapi aku segera membuka pintu dan keluar dari mobil. "Kamu mau ke mana?" teriaknya.


Aku tidak peduli, bahkan aku berusaha melarikan diri dari sana. Aku tidak suka berada di dekatnya yang saat itu seratus delapan puluh derajat bertolak belakang dengan Reza yang tenang dan manis, Reza yang kukenal sejak pertama kali kami berjabat tangan.


Cittt... seorang pengendara mengerem sepeda motor yang ditungganginya. Hampir saja dia menabrakku seandainya aku tidak refleks mundur dan terjengkang.


"Kalau mau bunuh diri jangan menyusahkan orang. Dasar sinting," katanya mengumpatku.


Aku syok, separuh napasku terbang entah ke mana, yang pasti bukan terbang bersamamu seperti penggalan lirik lagu Separuh Nafasku miliknya Dewa 19. Lagipula memang nyatanya aku yang salah berlari di tengah keramaian kendaraan yang lalu lalang melintasi jalan. Aku tidak bisa marah apalagi membalas umpatannya.


Sesaat kemudian aku menyadari keberadaan Reza di dekatku. Dia langsung melontarkan ucapan permohonan maaf kepada si pengendara itu dan langsung membopongku menuju mobil.


"Ada yang sakit?" Reza bertanya padaku saat dia menurunkan aku dan mendudukkan aku di kursi mobil, sementara dia berjongkok di sampingku.


Tapi, pertanyaan macam apa itu? Tentu saja kaki, tangan, dan pantatku sakit karena terjengkang tadi. Aku tidak menyahut. Aku masih kesal padanya.

__ADS_1


Menyadari posisi mobilnya memicu kemacetan, Reza segera berdiri, menutup pintu, memutar, lalu masuk ke mobil. Dia pun segera melajukan mobil dan menepi di halaman parkir sebuah masjid, tidak jauh dari sana. Aku lupa nama masjidnya.


"Dannali itu pernah pacaran dengan Aruna, adikku." Reza mulai menjelaskan. "Sori, aku belum pernah cerita kalau aku punya adik."


"Aku tahu. Aku pernah melihat fotonya di album. Ibu bilang itu adik kamu."


"Oh."


"Jadi? Apa yang terjadi? Sori maksudku aku ingin tahu cerita selanjutnya."


"Aruna mencintai si keparat itu. Tapi ternyata dia hanya menjadikan Aruna sebagai mainan. Dia punya istri."


"Adik kamu pelakor?" Aku keceplosan. "Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud. Aku... cuma bertanya."


"Dia tidak tahu kalau pria itu sudah beristri."


Ah, kalau saja aku belum pernah di bawa Reza ke rumahnya dan bertemu ibunya, sudah pasti aku akan kalang kabut mendengar hal ini dan ancang-ancang memintanya menunjukkan kartu tanda penduduknya.


"Suatu hari, saat mereka sedang bersama, tiba-tiba istrinya datang dan melabrak Aruna. Aruna dipermalukan di depan umum, dicerca, dihina, dikata-katai, semua orang menuduhnya pelakor. Dia jadi tontonan semua orang." Suara Reza tertahan, telaga bening itu tak mampu membendung genangan air di kelopak matanya, air matanya menetes, mengalir seperti anak sungai yang tak berujung. "Aruna Depresi. Dua bulan setelah kejadian itu, dia bunuh diri. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jasadnya tergantung dengan leher terikat."


Kutelan ludah getir mendengar cerita pilu yang ia tuturkan. Wajar jika dia menyimpan dendam pada playboy tengil itu. Kuraih tangannya dan kugenggam sebagai tanda bahwa aku sudah memahami apa yang terjadi padanya hari ini.


"Aku merasa gagal sebagai kakak. Aku tidak bisa melindungi adikku sendiri. Aku--"


Dia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Aku tahu benar, kerongkongan itu pasti terasa sakit dan lidah itu pasti keluh sampai tak mampu lagi berucap. Begitu pun hati yang ada di dalam sana, pasti pilu, hingga semuanya melebur dalam derai air mata yang tak mampu ia tahan.


"Mas, aku tidak tahu harus mengatakan apa tentang apa yang kamu ceritakan barusan. Tapi aku berterima kasih karena kamu mau menceritakannya padaku. Dan, aku minta maaf, harusnya aku tidak mengajak kamu ke sini, gara-gara aku kamu jadi bertemu Dannali."


Jelas aku merasa itu salahku. Andai aku tidak mengajak Reza -- andai kami langsung pulang, andai...


Yah, andai saja.


Tapi kenyataan tak memberikan kesempatan untuk berandai-andai.


"Bukan salah kamu. Kalau sudah takdirnya bertemu, mau di mana pun pasti akan bertemu. Lagipula aku yang mengajak kamu ke Bandung."


"Kamu menculikku," kataku setengah berbisik, berharap Reza bisa tertawa dan menetralisir kesedihannya. Dan benar saja, itu cukup efektif -- setidaknya untuk sementara bisa membuat Reza menghapus air matanya.


"Iya, aku menculik kamu, dan..."


"Dan apa?"


"Emm... apa yang harus kulakukan pada tawananku ini?"


"Apa? Kamu mau ngapain aku? Emm? Lakukan saja. Kali ini aku tidak akan menolak. Aku tidak takut." Kukerlingkan mata padanya. Ceritanya aku pura-pura menantang.


"M. E. S. U. M. Mesum." Dia meledekku -- seraya menepuk-nepukkan jarinya ke bibirku. "Sebentar lagi magrib. Aku mau salat. Kamu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana. Oke?"

__ADS_1


Aku mengangguk. Aku tidak perlu mengatakan oke ataupun berjanji. Reza sudah paham akan hal itu.


__ADS_2