
Aku sudah meminta Aris menemui kami di villa. Saat Aris datang, Reza sedang bicara di telepon ketika bel berbunyi. Terpaksa aku yang membukakan pintu.
"Hi, Aris. Jom masuk," kataku. "Sila duduk."
"Kat mana Reza?"
"Ada, kat belakang. Jap ye."
Aku pergi ke belakang, menemui Reza dan mengatakan bahwa Aris sudah datang dan menunggu di ruang tamu. Dia pun mengakhiri pembicaraan teleponnya dan langsung menemui Aris. Sementara aku terseok-seok pindah ke dapur, mengambil minuman dingin dari kulkas dan menuangkannya ke gelas. Perasaan cemas meliputi diriku. Aku merasa tidak nyaman berada di tempat yang sama dengan dua lekaki yang aku tahu mereka sama-sama mencintaiku.
Aku membawakan minuman dan sepiring kue cokelat ke ruang tamu. Saat itu Reza dan Aris tiba-tiba diam, nampak sekali apa yang mereka obrolkan tidak boleh kudengar. "Lagi membicarakan hal yang serius?" tanyaku.
Reza mengangguk. "Yeah," katanya. "Dan kalau tidak keberatan, bisa tolong..."
"Oke. Aku permisi. Silakan dilanjutkan."
Huh! Justru aku lebih senang tidak berada di antara mereka berdua, atau hal itu akan membuatku nampak seperti kambing congek tanpa tahu harus mengatakan apa, atau menjawab apa jika mereka bertanya.
Beberapa saat kemudian, aku sedang duduk di pinggir kolam dengan earphone di telingaku saat Aris menghampiri dan dengan sengaja mengagetkanku.
"Aris...," teriakku.
"Nara...," dia pun balas berteriak.
"It's not funny." Aku mengerang gemas kepadanya.
"Tekejot? Sorry... just kidding," katanya. Lalu dia duduk di lantai, persis di sampingku dan menghadapku. "So, are you ok?"
"Emm... yeah. I'm totally ok," kataku dengan sedikit berbohong, meski aku tahu itu percuma.
"Tak payah nak tipu. You ingat I tak paham ke?"
__ADS_1
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Aku tahu pertanyaannya itu hanya semacam pancingan untuk membaca ekspresiku. Kalau boleh jujur aku ingin mengatakan, ya aku cemas sebab kedatanganmu. Tapi tentu aku tidak akan mengatakan itu.
"You pengsan ke tadi? Kenape? Citerlah sikit."
"Citer apa pula? I pengsan sebab... tak sihat kot."
"And than...?"
"Tu je lah. I'm serious," jawabku -- berusaha meyakinkannya, walaupun aku tahu itu sia-sia belaka. "Dah lah Aris. Tak payah tanya soalan tu. You tanya macam I ni pesakit je. I tak selese you mengesan cam tu."
"Tak macam tu, Nara. I ask you as your brother. Macam abang tanya adik. So, Adik kena bagitau Abang. Please?"
"Seriously? As my brother?" tanyaku heran. "You tak--"
"Tak," celahnya cepat dengan menggelengkan kepala. "Saya ikhlaskan awak and Reza betunang. Saya ikhlas."
Lagi-lagi perasaan tidak enak hati merayapiku. Aku merasa bersalah pada lelaki di hadapanku itu. Tersirat ketulusan di wajah dan senyumannya. Namun matanya tak dapat menghindari binar-binar air mata. Aku menyadari bahwa itu sulit baginya. Terlebih setelah bertahun-tahun dia mengharapkanku, namun pada akhirnya dia harus mengalah dan menyerah -- mengalah pada egonya sendiri, dan menyerah pada takdir yang tidak berpihak padanya.
"Emm... tapi jangan bagitau Reza. Janji?" Aku berbisik.
"Ye lah, janji."
"Emm... I pengsan sebab takot. I ingat Reza marah tadi, lepas tu macam tak de hal. Kerana tu I ingat Reza tu psikopat." Kuucapkan itu dengan suara sepelan mungkin supaya Reza tidak mendengar. Saat itu dia tengah berdiri di dekat pintu, memerhatikan kami dari kejauahan. "Tetapi, I sedar I dah silap. Macam biasa, I..." aku tak bisa melanjutkan kalimatku, air mata tanpa izin langsung menetes.
"Sejak bila you kememeh cam ni?" Dia pun mengusap air mataku dengan jarinya. Dia membuatku semakin khawatir, aku takut Reza salah paham dengan sikapnya terhadapku. "Dah dah, tak payah menangis. Ok?"
"Yeah, I'm okay right now. I'm sure."
Setelah mendengar jawabanku, Aris langsung menatap iba padaku. Dia masih seperti dia yang dulu, dia yang setia menanyai setiap masalahku, yang setia menjadi pendengar yang baik untukku. Aku sendiri tidak memahami, kenapa aku tidak bisa jatuh cinta pada lelaki sebaik dia?
"Nara, adik Abang, jangan simpan masalah sendiri. Nara harus berbagi apa yang Nara rasa." Aris mengucapkannya dalam bahasa Indonesia dengan cukup fasih, meski terdengar aneh di telingaku. "You can tell me everything. You boleh talipon, mesej ke, whatsapp, messenger pun boleh. I am here for you. I sayangkan you."
__ADS_1
"Yeah. Thank you Aris. Eh, no, no. I mean thank you Abang." Aku tertawa.
"I nak balik KL dah ni," katanya persis setelah melirik jam tangannya.
"Meh, I hantar."
"Tak payah. I ada hal nak cakap sikit kepada Reza. You stay here. Ok?"
"Baiklah." Aku menganggukkan kepala.
"See you." Aris menyentuh dan mengelus puncak kepalaku dengan lembut.
Aduh... jangan sampai Mas Reza cemburu. Aku harus memastikan sendiri semuanya aman.
Diam-diam aku menguping di balik dinding. Aku ingin tahu apa yang ingin disampaikan oleh Aris. Dan aku lega, meskipun Aris mengatakan pada Reza bahwa Reza sudah membuatku ketakutan, tapi Aris tidak menjelaskan detailnya, dia tidak mengatakan bahwa aku sempat berpikir bahwa Reza adalah seorang psikopat. Kemudian Aris meminta Reza menghubunginya jika terjadi sesuatu di luar pemahaman Reza tentangku. Dan yeah, sesuai dugaanku, mereka berbicara dalam Bahasa Inggris. Padahal aku sudah khawatir mereka tidak memahami bahasa satu sama lain.
Aku masih di sana saat Reza dan Aris berjabat tangan sebagai tanda salam perpisahan. Dan masih berdiri di sana menatap saat Aris berjalan pergi. Lalu aku cepat-cepat masuk ke kamar saat Reza menutup pintu, pura-pura ke toilet dan berlama-lama di dalam sana. Aku tidak ingin ketahuan telah menguping pembicaraan mereka.
Reza sudah berdiri di dekat pintu kamar saat aku keluar dari toilet. Aku berdiri mematung, kupaksakan otakku berpikir cepat -- bagaimana menghindari obrolan apa pun itu yang bersangkutan dengan Aris dan hal-hal yang mungkin dibahas oleh mereka berdua.
"Mas... aku... aku ingin istirahat. Kepalaku sedikit pusing. Aku mau tidur," kataku. Itu satu-satunya alasan yang muncul di otakku. Setidaknya bisa membuatku menghindar sesaat.
Tetapi bukannya keluar dan menutup pintu, Reza justru melangkahkan kaki menghampiriku. "Biar kutemani," katanya.
Aku tak punya pilihan. Aku tidak ingin terkesan menghindar, sebab aku tidak ingin secuil pun dengan sengaja menyakiti hatinya.
"Kamu tidak keberatan kan kalau aku temani?"
Aku mengangguk. "Tentu. Tapi... tolong jangan bahas apa pun saat ini. Aku butuh istirahat."
Dia mengangguk, berjalan ke arah meja, lalu menyetel musik slow dan mengatur volume speaker.
__ADS_1
"Lo? Katanya mau tidur? Kok masih berdiri di situ?"