CCI

CCI
144


__ADS_3

Kecupan demi kecupan menghujaniku pagi ini, membuatku terbangun dari tidurku yang lelap. Dan senyuman manis nan hangat pun langsung menyambutku saat aku membuka mata.


Pagi yang indah. Tubuhku pun sudah kembali segar. Semalam aku bisa tidur dengan nyenyak, bahkan aku tidak terbangun sama sekali seperti malam-malam sebelumnya. Kendati demikian, Reza melarangku beraktifitas sehingga kami -- sedikit -- berdebat.


"Kamu oper protektif," kataku yang kemudian manyun.


"Sayang... bisa tidak jadi istri penurut? Kamu itu aneh, dikasih enak kok tidak mau?"


"Aku sudah sehat, Mas. Please... Nara mohon... ya?"


Dia menggeleng, wajahnya terlihat sebal. "Hmm... kamu tu, ya..."


"Atau begini, aku hanya mengurus urusan dapur, masak, cuci piring, plus cuci pakaian. Selebihnya kita kerjakan sama-sama. Eh, maksudku terserah kamu ding. Ya?"


Kena cium. Sebal dengan mulutku yang selalu bawel -- dia pun menciumku dengan kasar dan sangat lama, sampai aku merasa engap.


"Boleh, kan? Aku masak untuk kita lo. Untuk kamu, untuk anak-anak kita. Boleh, ya?"


Akhirnya suamiku itu mengangguk, dia mau mengalah dan menurunkan level protektifnya terhadapku. "Hari ini cuma masak. Kemarin kamu sudah nyuci, kan?"


"Iya, oke. Kamu mau sarapan apa?"


Omelet. Dan siangnya dia minta dimasakkan pindang pegagan.


Benar-benar ya dia. Tidak mau aku kelelahan, dia rela makan makanan yang gampang dimasak. Dia tidak mau merepotkanku dengan masakan-masakan yang ribet. Jadi aku bisa menyelesaikan masakanku dengan cepat. Apalagi pindang, tidak masalah aku memasaknya pagi hari, nanti tinggal kupanaskan saat menjelang jam makan siang. Pun Reza, dia sudah membantu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah. Bersih-bersih, menyapu lantai, dan membersihkan halaman belakang. Kendati rumah kami cukup besar, tidak banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, sebab itulah aku tidak suka memajang hiasan-hiasan di rumah, aku tidak mau ribet membersihkan semua itu dari debu dan sarang-sarang serangga. Sementara untuk gudang dan perabotan-perabotan di dalamnya, juga ruang galeri, roof top, plus panggung band dan alat-alat musiknya, hanya kami bersihkan sekali seminggu. Sedangkan kamar-kamar yang tidak ditempati itu jarang sekali dibersihkan, paling sebulan sekali, dan perabotan-perabotan di dalamnya hanya di tutup dengan kain hitam supaya tidak kotor.


Lantas, kenapa Reza begitu protektif? Karena dia pikir aku kelelahan karena pekerjaan rumah. Padahal...


Hmm, aku akan jujur padanya, meminta maaf, dan berterima kasih untuk segala bentuk cinta dan kepeduliannya selama ini, terutama kepeduliannya yang berlebih sejak semalam.


Hari ini, setelah selesai masak, aku sengaja menyetel lagu hindi dari flashdisk yang diberikan Aarin dulu. Kemudian membuatkan jus mangga untuk Reza, lalu merekamnya -- beserta diriku dan tubuh seksiku. Aku sengaja memakai baju renangku, pemberian dari Mayra. Dengan model backless yang mengekpos seluruh belakang tubuhku dari atas hingga ke pinggang, dan bagian depannya yang berleher rendah, dengan model tali-ikat yang tersalung ke leher, sementara bagian bawahnya hanya beberapa senti menutup paha -- tanpa dalaman.


《Just for you. Thanks for last night.


Kutulis kalimat itu sewaktu mengirimkan videoku ke whatsapp-nya. Aku sengaja menaruh gelas jus itu di pinggir kolam -- plus kejutan kecil, suplemen stamina untuknya.


Sembari menunggunya masuk, aku langsung berenang. Saat itu Reza sedang membersihkan daun-daun pisang yang sudah menguning di pekarangan belakang, lalu membuangnya.


Tidak butuh waktu lama, hanya selang beberapa menit -- Reza pun muncul dengan tubuh kekarnya. Dia bukan seseorang yang akan mengabaikan ponselnya ketika benda persegi itu bergetar-getar di dalam saku celananya.


Yap. Dia nyengir lebar begitu melihatku, istrinya yang rada-rada... suka-sukamu sajalah mau menyebutku apa. Yang pasti, dia -- suamiku -- Reza Dinata -- suka sekali kalau kuajak menggila. Dengan cepat ia menyambar suplemen itu dan menenggaknya. Kendati aku tidak melihat ketika dia melepas pakaiannya dan menyampirkannya ke ayunan rotanku, tapi aku merasakan ketika dia melompat ke kolam, ceburan tubuhnya ke dalam air menghasilkan dentuman, gelombang dan percikan air yang menyembur kuat. Dia berenang menghampiriku, dan langsung mencium bibirku ketika dia mendapatkanku ke dalam pelukannya.


"Kamu menginginkannya?"


"Mmm-hmm..."


"Tidak takut kelelahan?"


"Kan ada kamu."


Senyuman hangat pun langsung mengembang di wajahnya. Di lahapnya bibirku sekali lagi, lalu mengangkat dan menggendongku seperti koala kesayangan. Kami menepi, dia mendudukkanku di pinggir kolam. Sambil mencumbui leherku, Reza menarik tali pengikat baju renangku. Dan, terlepas.


"Are you ready?"


Euwww... suaranya menggelitik di telinga. Pun kedua tangannya sudah berpaut di leher dan pinggangku. "Mmm-hmm. Give me more."


Aku suka sekali melihatnya tersenyum di saat-saat seperti ini. Dia menghujani pundakku dengan beberapa kecupan lembut hingga ke leher. Lalu...


Ummmmm...


Hisapannya di leherku tak pernah membosankan. Juga...


Di dadaku, dia melukiskan cintanya yang merah. Lalu dengan sangat perlahan, dia merebahkan tubuhku, merenggangkan kakiku dan membenamkan wajahnya di antara pahaku. Aku sangat menyukai ketika lidahnya lincah dan membuatku menggeliat geli, pun hisapan demi hisapannya yang membuat saraf-sarafku tegang dan mengerang.


Kan... baru pemanasan, dia sudah mampu memberikan kenikmatan itu untukku.


Lalu...


Dia menarikku, membuatku kembali masuk ke air. Kemudian menyandarkanku dan menghimpitku ke dinding kolam. Sambil menghisap leherku -- tangannya perlahan menarik dan mengangkat kakiku. Dan...


Dia masuk. Membenamkan dirinya ke dalamku.


Santai... kandunganku baru lima bulan dan perutku belum membuncit. Belum ada jarak yang menghalangi kami untuk saling menempel. Dan jujur, kami belum pernah bercinta di kolam seperti ini, meski airnya dingin, tapi cinta kami tetaplah hangat.


"Belakang, Sayang," bisiknya seraya melepasku dan memutar tubuhku.


Dia pun kembali masuk. Sambil bergerak perlahan, dia mencium leherku sekali lagi, lalu bibirnya yang hangat berpindah ke punggungku. Dia menggigit plus menghisapku dengan ga*as. Setelah itu, tangannya menyelinap -- mer*mas dadaku dengan kuat hingga membuatku kembali mengerang.


Dan... triple point. Reza bisa melakukannya bersamaan.


Kau tahu, ini adegan yang sama persis dengan novel yang pernah kutulis. Hasil fantasiku yang liar saat aku masih gadis. Reza pernah membacanya, dan dia heran kenapa aku bisa menulis sebegitu detail tentang fantasi-fantasiku dalam adegan bercinta. Dan...


Hah! Aku tidak pernah menyangka kalau dia akan merealisasikan adegan ini dalam duniaku yang nyata.


"Sayang. Ke sofa, yuk?"


Aku mengangguk. Dia pun menggendongku dan kami melanjutkan ritual itu di sofa.


"Aku ingin mengatakan sesuatu," kataku akhirnya. "Bisa bercinta sambil mengobrol?"


Dia menyetujui. "Baiklah. Aku akan melakukannya perlahan."


"Tapi janji, kamu jangan emosi apalagi sampai marah, ya?"


Dahinya mengernyit. "Kenapa?"

__ADS_1


"Berjanjilah dulu. Please?"


Reza pun mengangguk. "Aku janji. Aku mencintaimu dan aku akan mengontrol emosiku. Demi kamu, demi anak-anak kita. Aku janji tidak akan emosi, tidak akan merah, apalagi kasar."


"Kalau kamu marah, kamu boleh menghukum aku dengan cara..."


"Apa?"


"Benamkan dirimu lebih dalam. Aku akan menerima hukuman itu dengan senang hati."


Reza terkekeh. "Hukuman macam apa itu? Hmm? Itu kan memang maumu. Kamu suka kalau aku menekanmu kuat-kuat. Dasar..."


Aku pun nyengir. Memang, aku suka itu."


"Jadi, apa? Katakan."


Aku berdeham. "Mas, aku minta maaf sebelumnya. Aku... rasa percayaku berkurang. Maksudku tidak seperti dulu. Aku tidak memercayai kamu sepenuhnya seperti dulu. Aku... aku seringkali menaruh curiga terhadap kamu."


"Itu hal yang wajar. Karena kesalahanku, kan? Aku tidak layak marah untuk hal itu."


Aku nyengir lebar. "Marah dong... please... tekan aku."


"Baiklah, aku marah, ya," katanya. Ikut sinting.


Dan...


Uuuh...


Tekanan yang nikmat.


"Lagi?"


Uh!


Ah!


Emmm!


"Suka?"


"He-em. Suka. Sangat suka. Kamu yang terbaik."


Pujian itu menghasilkan rasa gemas. Bibirku pun langsung dilahapnya dengan nikmat. "Lanjutkan," katanya.


"Ehm. Aku selalu terbangun setiap malam. Aku memaksakan mataku terbuka -- untuk melihat kamu. Apa kamu ada di sisiku, atau..."


Ah!


Aku kena marah. Eh, maksudku kena tekan lagi.


"Kamu marah, ya?"


"Tapi, kan--"


Ah...


"Hanya beberapa menit kok. Aku tidur lagi setelah itu."


"Lalu?"


"Jangan emosi, ya? Aku mau jujur."


Ah...


"Mas, aku belum ngomong lo."


Ah...


"Mas..."


Dia nyengir. "Ayo, ngomong."


"Aku..."


Ah!


"Mas..."


Idiiih... dia malah cengar-cengir. Parah!


"Lalu? Apa lagi?"


Aku menatap matanya. Dan...


Ah!


"Ngomong, Sayang..."


Yang ada aku makin diam kalau kamu tekan terus. Hihi. Aku terkikik dalam hati. "Emm... aku kemarin mengikuti kamu."


"Ap--"


Hening!


Giliran dia menatapku dengan tajam.

__ADS_1


"Mas... jangan marah... ingat anak-anak." Aku merengek, sekaligus ngeri.


Ah!


"Nakal!"


"Maaf, Mas..."


Ah!


"Aku sudah menawari kamu untuk ikut, kenapa tidak mau? Malah diam-diam keluar sendiri tanpa izinku."


"Maaf..."


Ah!


"Apalagi?"


"Emm... auw!" Pundakku kena gigit.


"Jujur. Katakan semuanya."


"Motorku kemarin mogok, terpaksa kudorong. Terus..."


"Apa?"


Ummmmm... kali ini dadaku yang jadi sasaran. Dia mer*masku.


"Aku menelepon Ihsan, aku minta dia membawa motorku ke bengkel dan mengantarku pulang."


Uh!


Ah!


Umm!


"Itu yang membuat kamu capek?"


Aku mengangguk.


"Lalu? Perut kamu?"


Eh?


"Emm..."


"Keram?"


Ah!


"Jujur!"


Ah!


"Ti--"


Ah!


"Jangan bohong!"


Aku mengangguk tanpa suara.


"Kamu itu, ya. Kenapa sih tidak berpikir panjang?"


"Maaf..."


"Apa susahnya bilang mau ikut?"


"Aku kan mau melihat sendiri kejujuran kamu..."


Aaah...


Ummm...


Kena tekan plus kena hisap leher. Kurasa ini benar-benar ia lakukan karena marah.


"Nara minta maaf, Mas."


Dia menggeleng, dan mencabut diri dariku. Lalu duduk.


"Nara minta maaf...," rengekku lagi. Aku pun bangkit, duduk di sampingnya. "Mas..."


Nangis sajalah. Dia pasti luluh. "Nara janji, Nara tidak akan seperti itu lagi."


"Sini," katanya. Menyuruhku duduk di pahanya.


Tuh... kan...


Aku tahu kamu tidak akan kuat melihatku menangis.


Aku senang. Bahkan kuposisikan diriku dengan pas dan membenamkannya lagi ke dalamku.


"Mas sayang kamu," katanya. "Kamu boleh curiga, boleh tidak percaya. Tapi jangan sampai itu mencelakai dirimu sendiri, apalagi mengorbankan anak-anak. Aku tahu, kesalahan-kesalahanku selama ini fatal. Tapi aku berusaha -- aku berusaha memperbaiki semuanya. Tolong, Sayang. Bantu aku menjaga keluarga kecil kita."


Dia menghapus air mataku. Aku pun mengangguk. "Nara minta maaf?"

__ADS_1


"Iya. Bahkan setelah ini aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian lagi. Aku akan selalu mengawasi kamu."


Haddeh... mulai... over protektif lagi.


__ADS_2