
Percuma. Aku tidak bisa tidur sama sekali, karena memang aku tidak mengantuk dan kepalaku sama sekali tidak sakit. Berada dalam satu ruangan yang sama dengan Reza tapi tanpa bicara, rasanya justru lebih menyiksa batinku. Bagaimana aku bisa tidur kalau begitu? Berbeda dengan Reza yang bisa tertidur dengan nyenyak di sampingku.
Aku yang sedari tadi pura-pura tidur harus membuka mataku saat bel berbunyi. Aku pun membuka pintu dan mendapati Mayra dengan papper bag di tangannya.
"Meski kalian tidak jadi pergi, dress ini tetap kuantarkan ke sini, sebab ini sudah dibayar. Aku turut sedih, harusnya sore ini menjadi sore yang indah untuk kalian," tuturnya.
Aku bengong karena aku tidak mengerti. "Mas Reza tidak mengatakan apa-apa, May. Memangnya dia mau mengajakku ke mana?"
"Mana aku tahu," sahutnya dengan dua bahunya yang terangkat. "Yang aku tahu dia memintaku menyiapkan dress untuk sore ini dan sudah dia bayar. Tapi tiba-tiba dia bilang batal dan memintaku memajangnya kembali. Ya aku tahu dia tidak akan meminta uangnya kembali, tapi ini kan sudah dibayar, bukan hak-ku lagi. Makanya tetap kuantarkan ke sini. Dan tolong diterima, jangan disia-siakan. Mungkin suatu saat kamu bisa memakainya. Oke?"
Aku mengangguk dan berterima kasih pada Mayra dan dia pun langsung pulang. Waktu itu jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh lima menit. Kupikir aku punya waktu untuk mandi dan sedikit berdandan, atau paling tidak membiarkan Reza melihatku cantik dengan memakai dress itu -- Long dress tanpa tali tanpa lengan, hem ruffle asimetris -- yang menurutku terlalu seksi untukku, apalagi dengan warna merahnya yang elegan. Dasar Mayra. Terpaksa aku mengurai rambutku untuk menutupi bagian pundakku. Tapi tidak apa-apa, mungkin bisa sedikit menyenangkan hati Reza jika ia melihatku sudah cantik saat dia bangun nanti.
Kuambil peralatan mekapku yang sederhana itu dan kubawa ke toilet untuk berdandan di sana. Sekitar jam enam lewat sedikit, aku selesai berdandan, lalu membangunkan Reza yang masih terlelap dalam tidurnya. Dia yang masih sangat mengantuk berusaha bangun dan duduk bersandar di tempat tidur. "Cantik," pujinya.
"Kamu mau ajak aku ke mana?" tanyaku langsung ke intinya.
Dia meraih ponselnya untuk memastikan jam berapa saat itu. "Jam enam," gumamnya. "Oke. Aku mandi dan siap-siap dulu. Tunggu, ya."
Dia pun berlalu ke kamar sebelah tanpa menjawab pertanyaanku. Saat itulah aku berdiri di depan cermin, hendak memastikan penampilanku apakah sudah oke. Kulihat pantulan diriku di cermin, dan kusadari aku tidak memakai kalung dari Reza. Aku berusaha mencarinya, aku ingat sekali kalung itu kulemparkan ke tempat tidur. Kubolak-balik selimut dan seprai, berkali-kali, tetap saja nihil.
"Ayo," ajaknya. Dia sudah mandi dan berganti pakaian dengan kameja merah lengan panjang, senada dengan dress yang kupakai.
Ouwww... oke, dia menyamai warna dress-ku. "Oh ya. Sebentar, Mas. Aku... maksudku, apa kamu melihat kalungku?"
Reza mengangguk. "Ada padaku," jawabnya sambil melangkah menghampiriku lalu menarikku ke depan cermin. Dia berdiri di belakangku, menyibakkan rambutku ke sisi kanan, kemudian memasangkan kembali kalungku. Setelah itu dia mencium dan menempel lama di leherku. Aku merinding, darahku pun berdesir. Rona merah langsung menghiasi pipiku.
"Kamu sengaja melepasnya tadi?"
Sesaat kemudian ia menatapku di cermin dengan kedua lengannya memeluk erat tubuhku, sementara aku tidak berani menatapnya karena aku merasa bersalah.
"Emm... ti--"
"Jangan bohong," potongnya.
__ADS_1
"Maaf, Mas."
Reza menarik napas panjang. "Lupakan. Aku tidak akan lagi meminta kamu berjanji untuk tidak melepaskannya. Aku yang akan memahami kamu, kamu punya alasan pada setiap hal. Aku akan selalu berusaha memahami itu."
"Maafkan Nara, Mas?" Aku memohon dengan senyum manis menggoda.
Dia balas tersenyum, sangat tampan. "Iyyaaa," katanya sambil mencubit gemas pipiku. Lalu menenggerkan kembali kepalanya di pundakku dan menatapku lebih dalam dan lebih lama. Senyum malu-malu pun semakin mengembang di wajahku. "Kamu cantik. Kita tidak usah pergi, ya. Berduaan di sini saja." Sekali lagi, dia mencium leherku.
Iiih... ini berbahaya. Bisa keterusan. "Kita pergi, ya... jangan bikin dandananku sia-sia. Ayo pergi."
...♡♡♡...
Kurang dari dua puluh menit kemudian, kami tiba di pantai Jimbaran. Aku baru hendak membuka pintu mobil, tapi Reza langsung mencekal lenganku. "Biarkan aku yang membukakan pintu untukmu," katanya.
"Berlebihan kamu, Mas."
Dia mengerling. "Biarkan aku melakukannya sekali ini, oke?"
Aku mengangguk dan tersenyum. Ada getar bangga memenuhi dada. Kusadari betapa beruntungnya aku memiliki Reza. Dia selalu berusaha membuatku bahagia, memperlakukanku dengan istimewa, dengan cinta yang kurasa bahkan lebih luas daripada alam semesta.
"Kamu pesan banyak makanan, kelapanya kok cuma satu?"
"Biar uniklah. Orang kan biasanya sepiring berdua. Kalau kita sekelapa berdua," katanya. Dia pun langsung tergelak, seolah dia lelaki paling lucu di dunia ini. "Nanti bisa pesan lagi kalau kurang."
Setelah menunggu beberapa lama, hidangan kami pun tiba. Beberapa orang pelayan dengan cekatan membawa nampan yang dipenuhi makanan. Aroma hewan laut yang dibakar dengan bumbu khusus pun mulai merebak dan menggugah selera.
Makan malam yang begitu berkesan. Menikmati suapan demi suapan dengan sentuhan angin malam, dihiasi lilin-lilin kecil, di atas pasir putih dan langsung beratapkan langit beserta taburan bintang, ditambah indahnya kemilau lampu-lampu berwarna kuning di sepanjang pantai. Kami sepakat tidak membahas satu hal pun yang kiranya akan merusak suasana malam itu. Lebih baik diam, hanya saling menatap, melontarkan senyum, saling menyuapi, dan saling menyaksikan kebahagiaan di wajah satu sama lain. Tentu saja ia tidak lupa merekam momen bahagia kami saat itu, dan itu hukumnya wajib. Malam itu, dia menatapku seperti sebelum-sebelumnya, tatapan yang membuatku malu dan selalu salah tingkah.
"Belle fille," ucapnya dalam bahasa Prancis saat melihat rekaman video yang baru saja ia rekam. Aku tahu artinya "gadis yang cantik." Dia bermaksud memujiku tapi tidak bermaksud menyampaikannya langsung kepadaku.
Aku menatapnya. "Merci beaucoup," kataku. Aku mengucapkan terima kasih banyak.
"Hei, kamu bisa berbahasa Prancis?" tanyanya dengan girang.
__ADS_1
"Oui. Je parle un peu le français." (Ya. Aku bisa sedikit bahasa Prancis).
"Cette fille est très chouette." (Gadis ini luar biasa).
Aku mengangkat kedua bahuku. "Itu salah satu mata kuliah bahasa asing yang kupelajari semasa kuliah."
"Waw, keren. Bahasa lain?"
"Arab. Tapi aku sudah lupa. Soalnya tidak pernah dipakai sehari-hari. Di pantai ketemunya yang pakai bikini melulu," kataku sambil nyengir. "Padahal harusnya bagus kalau bisa berbahasa Arab. Mungkin itu bahasa yang dipakai waktu di akhirat nanti."
Reza mengangguk-anggukkan kepala. "Mungkin. Tapi yang pentingkan bisa mengaji." Seketika aku tertegun.
"Kenapa?" tanyanya. "Kamu bisa mengaji, kan?"
"Oh, eh, iya, bisa," jawabku gugup.
"Lalu, kenapa gugup?"
"Tidak apa-apa. Cuma teringat sesuatu," kilahku. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya lagi. "Kenapa? Tidak percaya? Begini-begini aku bisa mengaji, tahu! Mungkin lebih bagus daripada kamu," ujarku. Aku pun nyengir.
"Bagus dong kalau begitu, jadi nanti kamu bisa mengajari anak-anak kita mengaji," timpalnya.
Kurasakan bagai ada cangkang kepiting sangkut di tenggorokan mendengar ucapannya itu. Segera saja dia menyuruhku minum karena aku tersedak.
"Yeah," kataku sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Eh, tapi kan itu harusnya tugas kamu. Kan kamu papanya."
"Lo? Kan aku kerja cari nafkah buat kalian."
"Tidak bisa begitulah. Tugas suami kan bukan hanya mencari nafkah. Suami yang bertanggung jawab sepenuhnya untuk urusan dunia dan akhirat anggota keluarga. Sedangkan tugasnya istri cuma membantu suami meringankan tugas itu."
"Iya, Istriku."
"Memang harus iya. Kamu sebagai suami jangan hanya mengurus urusan duniawi saja."
__ADS_1
"Iya, Istriku yang bawel. Aku akan bertanggung jawab dunia akhirat. Swear," katanya dengan mengangkat dua jarinya.
Seketika kami langsung terbahak-bahak saat menyadari obrolan kami ngalur ngidul ke mana-mana. Akhirnya kami menyadari waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tubuh kami sudah mulai lelah, karena kekenyangan dan efek terkena embusan angin malam. Kami pun beranjak pulang -- membawa sejuta rasa dan keindahan untuk di bawa ke dalam mimpi.