
Pagi ini Reza tidak mengirim whatsapp untukku, itu membuat aku kembali merasa resah dan kembali mencemaskan keadaannya. Padahal aku dan dia baru putus tiga hari dan baru pagi ini saja dia tidak mencoba menghubungiku. Aku terpaksa merayu ibuku untuk meneleponnya, sekadar untuk menanyakan bagaimana kabarnya, apakah dia baik-baik saja, apakah dia sehat, dan bagaimana dengan lukanya -- apakah lukanya sudah membaik. Banyak yang ingin kuketahui tentangnya.
"Reza baik, Alhamdulillah sehat, luka Reza juga sudah mendingan," katanya. Aku bisa mendengar suaranya sebab ibuku mengaktifkan loudspeaker teleponnya.
"Well, kamu sudah dengar sendiri kan, Sayang? Bunda harus tanya apalagi?" Ibuku berkata dengan keras.
"Ih, Bunda. Nara kan bilang jangan kasih tahu Mas Reza kalau Nara yang nyuruh." Aku berbisik dengan jengkel. "Bunda sengaja, ya? Bunda bikin Nara malu, tahu!"
Aku merajuk, sementara Reza yang entah ada di mana malah terkekeh dengan senangnya -- mengetahui betapa aku masih sangat peduli terhadapnya.
Sekitar lima belas menit kemudian, bel rumah berbunyi memecah kesunyian. Waktu itu sekitar jam delapan pagi, aku sedang berdiri di depan wastafel, baru saja selesai mencuci piring kotor bekas kami sarapan.
"Sayang... buka pintu. Sepertinya ada tamu," seru ibuku. Ia sedang membawa keranjang pakaian kotor dari kamar Ihsan.
Argh... siapa sih bertamu pagi-pagi begini? Aku menggerutu sembari berjalan menuju pintu.
Sesaat kemudian, rasa-rasanya jantungku melompat keluar dan aku terperanjat saat mengintip dari balik tirai jendela. Sebab, yang berdiri di luar sana adalah Reza, lelaki yang kurindukan sekaligus orang yang ingin kujauhi. Aku langsung berlari ke belakang menghampiri ibuku, dan memintanya menemui Reza untuk mengatakan kalau aku sedang tidak di rumah. Aku pun langsung naik ke atas, bersembunyi di dalam kamar. Aku tahu, betapa bodoh dan pengecutnya sikapku itu.
...♡♡♡...
"Sayang, Aku tahu kamu di dalam. Keluar dong... kita baikan, please?" kata Reza. Dia berdiri persis di belakangku -- kami hanya terpisah oleh sebuah benda persegi panjang yang disebut pintu.
Huh! Aku yang masih ngos-ngosan sehabis berlari dan menaiki tangga -- malah harus bersusah payah meredam irama jantungku yang tak karuan karena keberadaan Reza di luar kamarku.
Bodoh! Sudah barang tentu ibuku mengizinkan Reza menyusulku ke atas. Mana mungkin dia mau mengatakan kalau aku sedang tidak di rumah.
__ADS_1
"Sayang, sudah tiga hari lo. Tidak baik marahnya lama-lama. Aku tahu kamu juga merindukan aku, ya kan?"
Oh Tuhan, aku harus mengerahkan segenap kekuatan di dalam diriku untuk menahan dorongan supaya diriku ini membukakan pintu untuknya. Harus kutahan keinginan itu mati-matian. Sebab, kalau aku melakukan itu aku pasti akan mengakui kebenarannya -- aku akan mengatakan bahwa aku juga merindukannya, tak ada yang lebih kuinginkan selain merebahkan kepalaku di lekuk antara pundak dan lehernya, menghirup aroma tubuhnya, dan mendengarkan dia mengocehkan kata-kata cintanya yang luar biasa gila di telingaku.
Tetapi aku tidak bergerak sedikit pun.
"Oke, tidak apa-apa kalau kamu belum mau bertemu denganku. Tapi nanti kamu harus coba kebaya dan gaun pengantin kamu, ya. Mudah-mudahan pas. Beritahu Mayra kalau kebesaran atau kekecilan. Atau kita bisa langsung ketemu May. Dia di Bogor sekarang. Pokoknya nanti kamu bisa kabari May. Oke? Aku sayang kamu. Aku pamit pulang, ya. Dah, Sayang."
Aku tetap berdiri di situ sampai beberapa menit berikutnya, sampai aku benar-benar yakin kalau Reza sudah pergi. Setelah itu kubuka pintu, berlari ke beranda depan untuk melihat Reza -- minimal bisa melihatnya sebentar saja, sekilas saja.
Tetapi Reza sudah tidak ada, dia sudah pergi. Mobilnya pun tidak lagi terparkir di bawah sana.
Kenapa sih aku ini?
Waktu itu Reza ingin menjelaskan semuanya, tapi aku malah ngamuk-ngamuk sampai aku menusuknya. Lalu dia terus menghubungiku, tapi aku malah jengkel terhadapnya. Saat dia tidak menghubungiku, aku malah jadi resah. Sekarang dia datang, aku malah mengacuhkannya. Setelah dia pergi, kenapa aku malah sedih? Kenapa?
"Aku masih di sini. Tidak akan mana-mana tanpa kamu."
Eh? Suara itu? Aku memutar badan secepat kilat. Reza sedang berdiri persis di hadapanku dengan kedua tangan di masukkan ke saku celana. Dia memakai kemeja pink pucat -- berlengan pendek. Dan di wajahnya tersungging cengiran lebar yang konyol.
"Siap-siap gih, ganti pakaian. Ikut aku ke Bogor."
"Aku tidak akan ke mana-mana denganmu," kataku, sekadar jual mahal sambil mengelap air mata yang terlanjur dilihat olehnya.
"Kamu tidak punya pilihan. Ikut aku atas kemauan sendiri, atau aku akan mengangkatmu dan kubawa pergi dari sini."
__ADS_1
"Ini bukan rumahmu dan kamu bukan siapa-siapa. Kamu tidak bisa berbuat sesukamu."
Aku menatap tajam padanya. Aku bisa sangat keras kepala kalau mau, bahkan tanpa perlu berusaha terlalu keras.
"Ayolah, Sayang. Kumohon? Aku hanya minta waktu kamu beberapa jam saja. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang."
Tidak mempan. "Aku tidak mau!"
Aku berjalan -- berusaha melewatinya. Tapi dia mencegatku. Lengannya yang kokoh langsung melingkari pinggangku sehingga aku refleks berpaut di bahunya. Dia pun mendesis menahan sakit, cengkeraman tanganku tak sengaja mengenai lukanya.
"Tidak apa-apa," katanya. "Aku kuat."
Aku langsung melengos membuang muka mendengar dia mengucapkan kalimat sialan itu. "Percuma. Hanya kuat fisik. Hatimu lemah, lembek, dasar pengecut!"
"Please, percayalah padaku. Aku tidak sungguh-sungguh mengucapkan janji itu pada Salsya, sama sekali bukan dari hati."
Persetan. "Ter se rah! Aku sama sekali tidak peduli. Jadi, tolong lepaskan aku."
"Oke," katanya sesaat setelah mendesah. "Bisa tidak kita lupakan sebentar apa yang sudah terjadi? Hari ini tanggal satu April. Aku mau ajak kamu ke panti. Ada syukuran di sana, acara tahunan."
"Kenapa kamu mengajakku? Tidak ada hubungannya kan denganku?"
"Ada," sahutnya. Kemudian dia mengeluarkan selembar surat, wasiat dari ibunya. "Ibu mau kamu menggantikan posisinya untuk mengurusi panti, meluangkan waktu dan memberikan perhatian untuk anak-anak di sana, sedikit saja."
Aku terdiam, aku tidak sanggup menolak sebab itu permintaan mendiang ibunya. Ibunya memang pernah menyampaikan langsung permintaan itu kepadaku sewaktu di rumah sakit. Tetapi waktu itu aku mengiyakan karena kupikir aku akan menjadi bagian keluarga mereka. Tetapi sekarang?
__ADS_1
"Please? Kumohon. Untuk kali ini saja jangan menolak. Bagaimana selanjutnya, kamu bisa pikirkan lagi nanti. Ya? Aku mohon?"
"Baiklah!" kataku sambil berusaha kelihatan sangat jengkel. "Bisa lepaskan aku sekarang? Aku harus siap-siap."