
Reza memintaku membuktikan janji. Dia langsung menelepon ayahku dan membuat janji untuk bertemu. Maka aku pun terpaksa setuju untuk bertemu ayahku.
"Aku sangat bangga padamu," Reza berkata setelah menutup telepon.
"Ah, monyet."
"Apa?"
"Monyet...," pekikku yang langsung meronta geli akibat gelitikan parah dari Reza yang membuat kami sama-sama larut dalam tawa.
"Mas benar-benar sayang kamu," katanya selepas tawanya reda. Dia mengatakan itu seraya membelai wajahku dan dengan tatapan mata yang penuh cinta, membuat hatiku berdendang ria dan jiwaku melayang ke angkasa. Sebab Reza bukan lelaki yang suka mengumbar kata-kata cinta dan sayangnya tanpa sebab dan alasan, lebih tepatnya dia mengatakan itu hanya di saat-saat tertentu, di momen yang penuh arti dalam hubungan kami.
Kami pun langsung menuju kawasan resto Demang Lebar Daun untuk bertemu ayahku, sembari untuk mengisi perut yang sedikit keroncongan minta diisi. Begitu sampai di sana, rupa-rupanya ayahku sudah sampai lebih dulu, dengan style ala pengacara kondang, lengkap dengan kaca mata, jas, dan dasi panjangnya. Kami pun langsung duduk di meja yang sama -- ya, ya, kuakui sebenarnya Reza menarikku dengan kuat untuk sampai di meja itu. Kemudian dia langsung menyalimi tangan ayahku. Sedangkan aku pura-pura bodoh. Aku berlagak tidak melihat adegan itu. Reza pun menghela napas, dan berkata dengan bibir agak dikatupkan, "Sayang, ingat aku bilang apa padamu?"
Yang sopan, itulah yang dikatakannya padaku, tepat sebelum kami turun dari mobil.
Ayahku menyodorkan kelapa muda yang sudah ia pesankan untuk kami masing-masing. Dia bergerak-gerak gelisah di dekatku, seperti ingin memelukku, tetapi tidak tahu apa aku akan memperbolehkannya. Setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya dia hanya mencekal pundakku dengan mantap. "Aku senang sekali bertemu denganmu, Sayang."
Kulihat ayahku mengangguk pada Reza, seperti hendak berkata, "Dan semua ini berkat dirimu, terima kasih."
Dasar...
Ayahku memuji-mujiku, menanyakan tentang kehidupanku, dan ramah-tamahnya juga tidak kelihatan palsu; singkatnya, dia bersikap sebagai orang yang tahu bahwa akulah yang memegang kekuasaan di sini. Dia sekadar ingin aku menyukai dan menerimanya.
"Jadi berapa banyak istri Anda sekarang?" Aku tidak tahu kenapa aku bertanya seperti itu, sementara ayahku tidak menjawab. "Yanti? Rhea? Tia? Tiga orang? Atau lebih?"
"Cuma mereka." Ayahku menyahut dengan pelan.
__ADS_1
"Cuma?" kataku dengan nada jauh lebih sengit daripada yang kuniatkan. Seputar meja seketika hening.
Ayahku menunduk memandang lantai di bawah pijakan kakinya, berusaha menyembunyikan rasa malu dari wajahnya.
Reza memiringkan kepala dan mengangkat satu alisnya padaku, seolah-olah aku telah melanggar janji. Sialan, kataku dalam hati, dengan dada panas terbakar dendam masa lalu. Kenapa cuma aku seorang yang luka-luka masa lalunya tidak bisa disembuhkan oleh waktu? Apakah memang hanya aku yang menganggap masa lalu itu begitu buruk?
"Apa mereka semua tahu Anda punya tiga orang istri?" tanyaku, ayahku mengangguk tanpa suara. "Heran, kenapa mereka mau?" Aku mendengus. Reza yang ada di depanku nampak tak bisa berkutik, hanya melotot yang tak kugubris.
"Mereka semua janda, punya anak. Mereka butuh pendamping untuk--"
"Dengan mendepak aku dan ibuku? Juga adikku, bayi berusia empat bulan?" ceplosku memotong ucapannya.
"Nak, Ayah punya alasan--"
"Aku tahu," potongku lagi. Kali ini Reza nampak membiarkan aku melampiaskan amarahku yang tak terbendung. "Aku tahu semuanya," sambungku. "Aku tahu segala kemungkinan kenapa Anda meninggalkan kami. Tapi bukan itu permasalahannya."
"Nak..."
"Nara!" sergah Reza, tapi tak kupedulikan.
"Harusnya Anda bicara baik-baik. Katakan kalau sudah tidak mencintai kami. Kembalikan ibuku baik-baik pada keluarganya, sebagaimana Anda memintanya dengan baik."
Ayahku beberapa kali mengucapkan kata maaf di sela-sela ucapanku, yang sama sekali tidak kupedulikan.
"Meskipun Anda dan Bunda tidak bersama, harusnya Anda tetap datang dan bertanggung jawab terhadap anak-anak Anda. Terhadap aku. Seharusnya Anda tetap menafkahi aku dan memberikan kasih sayang untukku. Keabsenan Anda, itu -- yang membuatku sangat benci. Itu yang tidak bisa kutolerir sama sekali."
"Ayah waktu itu tidak mampu--"
__ADS_1
"Waktu itu Anda mampu membeli motor." Aku melotot. "Anda bahkan punya niat membeli mobil."
"Ayah butuh--"
"Oom...," Reza mencekal. "Bisa kita mengobrol sebentar di luar?"
Ayahku mengangguk, menyetujui permintaannya, dan mereka pun keluar, meninggalkan aku sendiri di meja itu. Aku berharap telingaku dapat memanjang elastis agar dapat mendengar pembicaraan mereka yang tampak serius. Sayangnya, aku bukan tokoh kartun yang bisa memanjangkan telinga begitu saja. Jadi, aku hanya dapat menebak-nebak apa yang mereka bicarakan.
Kemungkinan yang paling masuk akal: Reza meminta ayahku jangan bersikeras membela diri di depanku. Sebab hal itu akan semakin membuatku marah, panas, dan semakin membencinya.
Aku sudah mendapatkan pesananku, nasi goreng ijo dengan telor mata sapi -- saat Reza dan ayahku kembali duduk. Sengaja kusumbat telinga dengar earphone lalu memutar lagu dari ponsel.
"Aku mau menikmati makananku. Kalian silakan mengobrol saja," kataku. Aku memilih menghindari obrolan dengan mereka.
Untuk mencairkan suasana -- kurasa -- Reza menanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan dunia pengacara pada ayahku, dan ini berkembang menjadi obrolan tentang hal-hal lain, misalnya tentang Hak Asasi Manusia dan tentang kasus-kasus korupsi yang terjadi di negara ini.
"Ayah benar-benar senang bertemu denganmu," ayahku berkata lagi sebelum kami berpamitan, maksudku -- sebelum Reza berpamitan. Kali ini dia memelukku. Erat. Meskipun aku tidak balas memeluknya. Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku tidak suka dia memelukku, tetapi aku tidak punya keberanian untuk mengucapkannya, sebab Reza tak hentinya mengawasiku dengan sorot mata mengancam.
Ayahku mencoba memberikan sebuah amplop berisi sejumlah uang untuk kami. "Belilah hadiah untuk merayakan pernikahan kalian," katanya.
Aku menggeleng. "Tidak perlu. Aku sudah besar, sudah cukup dewasa dan bisa cari uang sendiri," kataku menolak. Aku tidak ingin menerima uang dari ayahku, aku bukan Inara kecil yang membutuhkan uang yang dihasilkan dari keringat dan jerih payahnya.
"Nak...," suara gemetar ayahku menyetop langkah kakiku yang sudah berjalan beberapa langkah menuju parkiran tanpa pamit. Aku meninggalkan Reza dan ayahku yang masih bercuap-cuap di depan resto. "Apa Ayah boleh datang ke pernikahanmu?"
Aku mengangguk tanpa membalik badan. "Datanglah sebagai keluarga, bukan sebagai wali nikah," kataku, "Dan... datanglah sendirian, jangan mengajak siapa pun."
"Baiklah," sahutnya. Entah kenapa, meskipun responsku begitu cuek, aku merasa dia pasti tersenyum bahagia di belakang sana.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, kukatakan pada Reza untuk tidak berkomentar sedikit pun, yang penting aku sudah membiarkan ayahku bertemu denganku tanpa aku menghindar dan menjauh.
Sungguh, cinta ini mampu mematahkan egoku.