CCI

CCI
17


__ADS_3

Berdasarkan pengalaman para sepupuku, mereka mengatakan bahwa mertua mereka -- dulu -- membuat mereka merasa ngeri pada perkenalan pertama. Dan hal itu tiba-tiba tertanam di pikiranku saat Reza mengatakan ibunya ingin berkenalan denganku lewat video call. Tetapi ketika aku akhirnya berkenalan dengan Nyonya Ratna Dinata, kesan yang kuperoleh sama sekali berbeda. Ketika pertama kali aku memanggilnya dengan sebutan Tante, dia langsung memintaku memanggilnya Ibu.


Mengobrol dengannya rasanya seperti mengobrol dengan ibuku sendiri. Aku yang awalnya cemas, malah langsung akrab karena keramahannya. Dari nada suaranya, bisa kutebak bahwa dia menyukaiku meski belum pernah bertemu denganku. Reza pasti sudah menceritakan beberapa sifat baikku padanya, kalau tidak tentunya dia tidak akan seramah itu padaku.


Ibu Reza memujiku cantik dan manis, persis yang dibilang Reza katanya. Waktu kami berbicara dalam panggilan video, ibu dan anak itu sedang bersama. Ibunya sedang duduk bersender di kursi kecil, sedangkan Reza berdiri dengan mencondongkan badan, persis di belakang ibunya. Tampak jelas hubungan mereka sebagai ibu dan anak sangat dekat.


Setelah mengamat-amatinya lebih lanjut, kuperkirakan dia melahirkan Reza waktu umurnya tiga puluhan, karena saat itu ibunya nampak berumur enam puluhan. Hanya sedikit sekali kemiripan di antara mereka, Ratna Dinata dan Reza Dinata. Mungkin secara fisik Reza mirip dengan ayahnya dibandingkan dengan ibunya yang warna kulitnya sangat putih, wajahnya bulat, dan matanya sipit. Aku tidak bisa melihat rambutnya karena ia memakai hijab. Menurutku dulu dia pasti sangat cantik ketika dia seusiaku. Dan aku jadi tidak habis pikir, kenapa ayahnya Reza dulu begitu tega melakukan kekerasan pada perempuan yang sudah memberikannya keturunan itu?


Sama herannya seperti saat aku memikirkan sosok ayahku yang tidak bertanggung jawab itu. Satria, nama lelaki itu, ia adalah seorang pengacara, ia mungkin seorang lelaki yang sukses dalam berkarir tapi ia menjadi pecundang dalam kehidupan rumah tangga. Betapa tidak, lelaki itu meninggalkan istrinya, ibuku, juga kedua anaknya, aku dan adikku, karena ia begitu sibuk memacari wanita-wanita selingkuhannya, sampai-sampai ia lupa punya istri dan dua anak, dan tega meninggalkan kami demi bersama wanita-wanita itu. Aku heran, bagaimana seorang laki-laki yang profesinya menjunjung tinggi rasa keadilan, tapi dia sendiri tidak bisa adil pada anak-anaknya, kepadaku dan adikku? Seharusnya dia berlaku adil dulu pada keluarganya, baru mengurusi keadilan untuk orang lain. Sikapnya itu secara tidak langsung membuatku tidak menyukai profesinya, dan membuatku cenderung menghindari orang-orang dengan profesi yang sama, karena mereka selalu mengingatkan aku pada sosok ayahku yang nilainya NOL BESAR di mataku.


"Kapan kamu bisa datang ke sini untuk bertemu Ibu?" Pertanyaan itu membuyarkan pikiranku. Dan aku meminta ibunya Reza mengulang pertanyaannya. "Kapan kamu bisa datang ke sini untuk bertemu Ibu?"


Aku pun mengatakan jawaban yang sama seperti jawaban yang kukatakan pada Reza hari itu. "Kuusahakan awal bulan depan, Bu. Sepulang dari Surabaya. Nanti aku ke sana menemui Ibu," jawabku.


"Oke, Ibu tunggu kedatangan kamu. Oh ya, omong-omong, Reza cerita pada Ibu, katanya kamu akan menerima Reza kalau Ibu dan ibu kamu sudah memberi restu. Benar begitu?"


Ya ampun... dia curhat pada ibunya? "Mmm... iya. Aku memang bilang begitu pada Mas Reza." Kata-kata itu terucap seperti anak Sekolah Dasar yang belum lancar membaca, terucap satu persatu. Aku merasa pipiku merona. Sedangkan Reza malah terkekeh-kekeh di belakang ibunya.


"Ibu merestui. Ibu senang anak Ibu bertemu gadis seperti kamu."


Ketika ibunya mengatakan bahwa ia merestui, ada semacam rasa dahaga yang terpuaskan dalam diriku. Tapi kalimat selanjutnya justru menohokku dengan sangat telak. Andai dia tahu bagaimana sifat-sifat burukku, dia tidak akan mengucapkan kalimat seperti itu.


Tiba-tiba pikiran rasa tidak layak menjadi istri seorang Reza Dinata kembali bermunculan dalam benakku. Tapi aku tidak punya pikiran akan menemukan lelaki lebih sempurna darinya. Dan jelas aku pun pasti tidak akan mau bila bersama dengan lelaki sialan seperti ayahku. Aku ingin berusaha memantaskan diri untuknya. Aku tidak yakin seratus persen apa aku bisa. Tapi ada semacam keinginan untuk mencoba. Lagipula Reza bisa menerimaku apa adanya.


Aku teringat ibuku pernah memberikan setelan pakaian hijab untukku, hijabnya panjang melebihi pinggang, dan bagian belakangnya menjuntai hampir selutut. Warnanya merah muda, yang sebenarnya selalu kubawa ke mana-mana, tapi tidak pernah sekali pun kucoba. Bahkan pakaian itu masih terbungkus rapi lengkap dengan plastiknya.


Aku berdiri di depan cermin setelah aku mengenakan pakaian itu. Aku nampak seperti ibuku dengan gaya pakaiannya. Tapi aku merasa aneh pada diriku sendiri, entah kenapa rasanya hati dan pikiranku tidak sejalan, meskipun aku menilai aku tetap cantik dengan berhijab, malah lebih cantik menurutku. Andai saja hati dan pikiranku tidak menolak, sudah barang tentu aku membuat bahagia ibuku yang menantikan perubahan itu sejak dulu, dan pasti Reza juga akan senang melihatnya. Aku yakin itu.


Tapi sayang, hanya sebatas andai saja.


Kulipat kembali set pakaian hijab itu rapi-rapi, kumasukkan kembali ke plastik, dan kusimpan lagi ke dalam koper. Suatu saat nanti akan kupakai, pasti.


...♡♡♡...


Sehari setelah aku berkenalan dengan ibunya Reza, aku mendapat panggilan telepon dari ibuku.


"Nak, terima kasih oleh-olehnya. Sudah Bunda terima, baru saja diantar ke sini oleh teman kamu." Suara ibuku terdengar girang di seberang sana.


Dahiku mengrnyit keheranan. "Diantar teman Nara? Bukannya diantar kurir, Bund?" tanyaku.


"Katanya teman kamu. Kalau tidak salah namanya Reza."


"Reza langsung yang antar ke sana?"


"Iya. Kamu belum pernah cerita lo kamu punya teman cowok. Omong-omong, orangnya tampan, ya. Mirip aktor Reza Rahadian, ramah lagi. Kapan-kapan ajaklah ke sini. Bunda suka pada anak itu. Rasanya seperti mengobrol dengan Reza Rahadian sungguhan," tuturnya memuji Reza.


"Reza Rahadian versi KW, Bunda...," sahutku.


Aku dan ibuku tergelak, seperti dua orang sahabat yang sedang asyik ngerumpi. Aku lupa kapan terakhir kami mengobrol seasyik itu. Hanya karena seorang Reza Dinata yang punya tampang seperti aktor Reza Rahadian, banyak hal yang berubah dalam hidupku.


Di telepon ibuku mengatakan kalau dia sangat menyukai ikan asap yang kubeli di Sentra Ikan Bulak. Dia sudah memasaknya dan mencicipinya, bahkan memintaku membawakannya lagi nanti saat aku pulang ke Jakarta. Katanya dia juga menyukai abon sapi dan rambak sapinya. Aku tahu ibuku akan suka semua itu, karena kami punya banyak kesamaan. Bahkan kurasa, kalau saja dulu tidak ada aku dan adikku, pasti ibuku sudah merantau jauh, pelarian yang sama seperti pelarianku. Aku sering membayangkan betapa dia terkungkung menjalani hari demi hari dalam lingkungan yang tidak disukainya itu.


"Dia menyukai kamu, ya?" Pertanyaan itu membuatku tertegun. Aku bertanya dia tahu dari mana. Katanya sih insting seorang ibu.


Aku pun mengakui kalau apa yang dipikirkan ibuku itu memang benar, dan aku juga mengatakan pada ibuku kalau Reza berniat untuk menikahi anak gadisnya ini, menjadikan aku sebagai istrinya. Ibuku senang bukan kepalang mendengar kabar yang membahagiakannya itu. Aku bisa membayangkan ekspresinya dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Kamu sendiri, bagaimana?" tanyanya. Aku diam, aku tidak tahu aku harus mengatakan apa. "Nak, Bunda tahu apa yang kamu pikirkan. Bunda tahu kamu masih terbelenggu dengan masa lalu. Tapi kamu tidak boleh membiarkan masa lalu itu terus menghantui kamu. Kamu harus jujur kalau kamu juga punya perasaan yang sama."


"Mmm..."


"Iya?" tanyanya lagi. Aku pun mengakui. "Bunda bahagia, Nak. Bunda bahagia karena hati kamu bisa tersentuh perasaan."


Samar-samar, aku mendengar isak tangis ibuku dari seberang sana. Bukan tangis kesedihan, justru sebaliknya, aku yakin seratus persen, saat itu ibuku sangat bahagia.


"Tapi, Bund, Nara baru mengenal Reza belakangan ini."


Waktu itu aku tidak mengatakan bahwa aku baru mengenal Reza baru seminggu. Konyol memang kalau aku yang tidak pernah jatuh cinta bisa punya perasaan secepat itu terhadap laki-laki asing yang baru kukenal.


"Lalu?" tanyanya lagi.


Aku berdeham. "Nara takut dia bukan orang yang tepat. Mmm... sebelum Bunda menikah, Bunda pasti mengira ayahku itu orang baik, kan? Tapi kenyataannya dia malah tega berselingkuh."


Ibuku menghela napas panjang. "Jangan jadikan pengalaman Bunda sebagai cambuk yang menakutkan. Kamu harus berani melangkah. Mungkin Reza tidak seperti ayahmu. Kalaupun suatu saat nanti dia seperti itu, Bunda tidak akan menyalahkan kamu kalau kamu mengambil keputusan yang sama seperti Bunda dulu. Bukan Bunda membenarkan perpisahan, tapi sebagai perempuan kita berhak memilih jalan hidup kita sendiri. Kamu mau kan Nak mencoba melangkah bersama Reza?"


"Tapi, Bund."


"Kenapa?"


"Sebelumnya Nara minta maaf, selama ini Nara kadang-kadang melewatkan salat." Aku diam, aku bingung merangkai kata-kata untuk berbicara pada ibuku.


"Sebagai orang tua, Bunda memaafkan. Bunda cuma menasihati kamu karena kamu sudah besar, kamu sudah berani menjalani hidup mandiri di luar sana. Selebihnya itu tanggung jawab kamu sendiri. Tanggung jawab kamu pada Tuhan. Terus apa hubungannya dengan Reza? Kamu takut dia tahu lalu meninggalkan kamu?"


Kujelaskan pada ibuku, bahwa Reza adalah sosok lelaki yang baik, yang rajin salat, berbeda sekali denganku, karena itu aku merasa tidak pantas untuk menjadi istrinya.


"Kalau itu masalahnya, kamu buat diri kamu pantas untuknya. Tapi dengan catatan, kamu salat dan kamu berubah bukan karena Reza, tapi karena kewajiban, karena kamu mau memperbaiki diri kamu. Paham?"


"Nak, ingat, kamu harus mengontrol diri. Jangan sampai karena perasaan cinta, kamu dan dia melakukan hal-hal yang melewati batas. Kamu paham kan maksud Bunda?"


"Iya, Bund. Pasti. Bunda tenang saja. Nara bisa menjaga diri," kataku meyakinkan ibuku.


Tidak akan lebih dari pelukan dan ciuman. Aku pun terkekeh dalam hati.


"Dan satu lagi, bawa Reza dan keluarganya ke sini. Supaya kita bisa saling mengenal satu sama lain. Karena kita harus mengenal silsilah keluarganya. Bukannya apa-apa, tapi untuk menghindari hubungan sedarah, karena kamu tidak mengenal keluarga ayahmu. Dia punya keluarga besar, baik dari ayahnya, juga dari ibunya, orang tuanya punya banyak saudara laki-laki, baik saudara kandung seayah seibu, maupun saudara yang hanya seayah. Bunda juga banyak tidak kenal pada saudara-saudara mereka. Begitu pun dengan ayahmu, kakak perempuan dan adik perempuannya punya anak laki-laki, bahkan kakak perempuannya punya anak yang tumbuh besar tanpa sepengetahuan keluarganya, Bunda sendiri juga tidak tahu siapa dan di mana anak laki-laki itu. Mungkin ada yang lain selain yang Bunda ketahui, karena dia punya beberapa anak yang masing-masing punya ayah yang berbeda. Dan Bunda juga dengar dari orang-orang bahwa ayahmu juga punya anak dari Yanti. Bunda tidak tahu perempuan atau laki-laki. Mana tahu, mungkin dia juga punya anak dari Rhea, atau perempuan-perempuan lain di luar sana. Jadi jangan sampai kamu jatuh cinta pada orang yang sedarah denganmu. Yang ini kamu juga paham, kan?"


Ibuku menjelaskan panjang lebar. Dan jawabanku hanya; "Paham."


"Kamu belum mengambil keputusan untuk pacaran, kan? Jangan, kenali dulu baik-baik keluarganya. Kalau semuanya oke, Bunda pasti merestui. Oke?"


"Ee... iya," jawabku. Entahlah, apa aku berbohong atau tidak pada ibuku saat itu.


"Iya apa?"


"Iya oke."


"Jadi kapan?"


"Nanti, Bunda... nanti Nara kabari. Oke?"


"Oke," sahutnya.


Ibuku seperti tidak sabar, membuatku berpikir sebegitu besarnya daya tarik seorang Reza Dinata.

__ADS_1


...♡♡♡...


Barusan Bunda meneleponku.


Bunda cerita kalau kamu sudah datang dan memperkenalkan diri.


Dan aku sudah mengatakan semuanya pada Bunda.


Bunda juga merestui asal... (nanti kita obrolkan).


Terima kasih karena kamu sudah membuka jalan itu sendiri.


Lalu kutekan tombol kirim.


Aku tidak mendapatkan balasan pesan atau telepon dari Reza selama beberapa jam, sampai cahaya matahari sudah digantikan dengan cahaya bulan. Dia baru meneleponku jam setengah delapan malam, dan menjelaskan padaku dia baru sampai rumah setelah magrib, Reza bercerita kalau dia pulang-pergi dengan KRL. Masih capek katanya kalau harus menyetir sendiri.


"Aku tidak meminta kamu mengantar paket itu langsung. Kan bisa lewat jasa pengiriman," kataku.


"Sebelumnya aku mengira kalau Bunda masih di Palembang. Eh, ternyata sudah pindah ke Jakarta. Ya apa salahnya kalau aku antar sendiri. Aku merasa ada kesempatan di situ, kesempatan untuk mengenal keluarga kamu lebih cepat. Aku tahu kalau sebenarnya kamu bingung untuk memulai hubungan ini, kamu bingung bagaimana bercerita ke Bunda, kamu bingung kapan kamu bisa mempertemukan aku dengan Bunda. Dan kebingungan-kebingungan lainnya," ujarnya.


Aku hanya bisa mengucapkan kata maaf untuk semua itu. Reza pun mengatakan kalau dia mengerti. Aku memang payah, pikirku. Tapi mana tahu, mungkin di luar sana masih banyak orang-orang payah sepertiku, orang-orang yang sudah masuk kategori dewasa tapi serba canggung ketika pertama kali jatuh cinta. Tidak mungkin kalau aku satu-satunya makhluk aneh di dunia ini.


Aku bertanya pada Reza apa yang dipesankan oleh ibuku tentang silsilah keluarga, dan dia malah meminta ibunya untuk menjelaskan itu padaku. Ibunya menjelaskan kalau dari pihak ibunya, mereka tidak punya siapa-siapa, seperti yang dijelaskan Reza waktu itu kalau ibunya dari panti asuhan. Sedangkan dari pihak ayah kandungnya, ayahnya dan kedua orang tua ayahnya adalah anak tunggal, kakek buyutnya juga anak tunggal, sedangkan dari nenek buyutnya punya beberapa saudara yang semuanya perempuan. Tapi ibunya sudah tidak pernah berhubungan dengan mereka semua semenjak perceraiannya dengan ayah kandung Reza dua puluh satu tahun silam. Dan sekalian aku bertanya apakah mereka bisa menerimaku dengan segala hal-hal yang ada dan segala yang terjadi dalam keluargaku. Tentu ujar ibunya, karena menurut ibunya semua hal itu bukan kesalahanku sebagai anak, dan tidak ada hubungannya denganku.


"Jadi, intinya Ibu sudah merestui, Bunda juga sudah merestui. So, bagaimana?" tanya Reza. Belum sempat aku menjawab, dia sudah mengatakan, "Tidak usah dijawab. Nanti saja kalau kita sudah bertemu. Aku mau melihat langsung ekspresi waktu kamu bilang iya."


Hah! Aku tergelak. "Percaya diri sekali. Kamu yakin aku akan mengatakan iya?"


"Yakin. Kamu tidak akan mungkin bilang tidak," ujarnya dengan percaya diri. "Kalaupun ada sesuatu yang menjadi penghalang, setidaknya kamu ingat kalau aku sudah berjuang untuk kamu, sudah berusaha sendiri untuk mendapatkan restu seperti yang kamu mau. Tapi seperti yang pernah kukatakan, aku tidak akan pernah memaksa."


Mendengar kalimat itu aku jadi termenung. Kami seperti sedang berperahu di atas air yang tenang. Akan tetap di tempat jika Reza tidak berusaha mendayungnya. Sementara aku hanya duduk diam, membiarkan dia membawaku ke tempat yang ia tuju. Sempat terbesit dalam benakku bagaimana jika dia meninggalkan aku sendiri bahkan sebelum kami mencapai dermaga?


Tidak, tidak, tidak. Aku berusaha meyakinkan hatiku kalau dia akan mewujudkan pernikahan itu, pernikahan yang sederhana di tepi pantai, kemudian kami akan tinggal di bawah atap yang sama, dan aku punya keinginan yang ingin kupraktikkan, seperti kisah cinta di dalam novel; bercinta di bawah bintang-bintang dan menikmati cokelat cair di tubuh satu sama lain. Dan masih banyak keinginan-keinginan lain seperti yang selalu kucatat dalam buku notesku. Bersama Reza Dinata, aku seperti menemukan jalan untuk bisa mencapai segalanya.


"Mas," panggilku dalam sambungan telepon itu. Aku merasa benar-benar payah, aku masih canggung memanggilnya Mas.


"Emm?"


"Kamu bisa main gitar?"


"Bisa, sedikit," katanya. "Memangnya kenapa?"


Kukatakan padanya kalau aku kepingin melihat dia bernyanyi sambil bermain gitar di tepi pantai.


"Itu saja? Ada keinginan lain?"


"Tidak ada," sahutku.


"Bagaimana dengan tulisanmu?" tanyanya.


"Emm... ya begitu. Baru beberapa bab pertama. Aku tidak mendapatkan inspirasi dalam seminggu ini."


"Pasti karena waktu dan pikiran kamu tersita oleh aku, kan? Kalau benar begitu, berhenti dulu memikirkan tentang aku, kamu boleh kembali ke dunia khayalanmu. Tenang saja, aku akan selalu memberikan kamu ruang."


Setelah itu dia meminta alamat lengkap tempat kost-ku, karyawannya mau mengantarkan pakaianku yang tertinggal di sana tempo hari. Kukatakan padanya itu tidak perlu, biar besok aku sendiri yang ke sana untuk mengambilnya. Lagipula setelah kepulangan Reza ke Bogor, aku belum pergi ke mana-mana, dan tidak tahu mau pergi ke mana. Setidaknya aku punya alasan dan tujuan ke mana aku akan pergi, sekadar berjalan-jalan atau cuci mata.

__ADS_1


__ADS_2