CCI

CCI
31


__ADS_3

Hampir jam satu dini hari, aku belum bisa tidur. Kakiku pegal luar biasa, meski sudah dipijit oleh tukang pijit panggilan yang diundang Alfi ke villa, meski selonjoran, meski kucoba memejamkan mata, tapi aku tetap tidak bisa tidur, hanya ditemani alunan musik dari earphone di telingaku. Aku tidak bisa mendengar suara apa pun selain musik yang mengalun merdu itu.


Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sampai sekian puluh menit, rasa kantuk pun mulai datang, tapi...


Sekelebat bayangan hitam membuatku tersentak.


Aku tak berdaya. Beberapa orang bertopeng dengan pakaian serba hitam langsung menyergapku, menutup mulutku, menahan kaki dan tanganku. Salah seorang naik ke atas tempat tidur dan mengambil posisi persis di atasku. Sambil nyengir bak setan dengan tanduk merah -- dia mengeluarkan sepotong kain dari sakunya, lalu dengan kecepatan setan orang itu menutup mulut dan hidungku.


Obat bius. Aku tahu itu obat bius. Aku tidak bisa melawan. Mataku langsung berkunang, kepalaku terasa berat, seperti berton-ton semen menimpaku. Dan semua menjadi gelap.


...♡♡♡...


"Sayang? Kamu sudah sadar?" suara gemetar Reza yang duduk di sisi tempat tidur menyambutku, wajahnya pucat pasi, jelas matanya seperti orang yang habis menangis. Dan aroma minyak kayu putih yang menusuk memasuki indera penciumanku. Otakku memutar kejadian sebelum aku pingsan. Ini semua bukan mimpi. Kepalaku masih terasa ngilu seperti ditusuk-tusuk. Rasa cemas, panik, bingung, tiba-tiba menyergapku. Segala pikiran negatif bermunculan dan berkecamuk di dalam otakku, mentalku terguncang, berharap yang terjadi sebelum aku pingsan hanyalah sebuah mimpi, tapi itu benar-benar nyata, benar-benar terjadi. Bajuku robek di sana sini, kancing-kancingnya terlepas. Oh Tuhan, apa yang orang-orang itu lakukan padaku?


Air mata mulai mengalir dengan sendirinya. Aku ingin tahu apa yang terjadi padaku setelah aku pingsan. Suaraku tercekat, tenggorokanku rasanya tercekik, tak ada suara yang keluar dari mulutku. Sementara semua mata yang menatap seolah menelanjangiku. Aku ingin berdiri, ingin kusibakkan selimut yang menutupi kakiku, tapi Zaza mencegahku. Aku memaksa, aku tetap menyibaknya. Dan, rasanya semakin menyesakkan.


Darah? Seprai putih itu dikotori bercak darah, begitu pun dengan celana yang kupakai. Aku hancur. Hatiku tercabik-cabik. Betapa malangnya nasibku. Tangisku langsung pecah. Seketika itu Reza langsung memelukku.


"Darah? Berarti Reza belum pernah nyentuh Nara?" bisik Zia pada Ari, tapi tetap terdengar oleh semua orang.


"Jaga mulut kamu, Yank," sahut si suami.


"Kasihan, setelah ini pasti Mas Reza langsung ngajak putus," Raheel ikut berbisik.


"Tolong kalian semua keluar." Reza yang mulai panas mengusir mereka secara halus.


Semua orang keluar satu persatu. Menyisakan aku dan Reza yang masih berpelukan, hanya berdua dan berisakan air mata, tanpa bicara.


Di luar kamar, orang-orang itu bergunjingan. Dimulai dari Aarin yang mengucapkan kalimat penyesalan, sebab dia yang malam sebelumnya tidur denganku, malam itu malah tidur di kamar Raline dan Raheel.


"Kalau kamu tidur di sana, kamu juga kena perk*sa dong," sahut Rafasya, aku mengenali suaranya.


"Makanya kalau tidur itu jangan ngangkang. Tidur ngangkang itu sama saja ngundang," cetus Randika.


"Tidak perlu menangis berlebihan. Anggap saja pembobol jalan. Jadi nanti malam pertamanya langsung lancar," celetuk Zaim yang kemudian cekikikan, membuat Reza memanas dan keluar dari kamar.


Sementara aku masih membeku di atas tempat tidur. Aku tidak punya keberanian menampakkan wajahku di depan mereka semua. Reza mengamuk, terdengar suara Ari dan Alfi menahannya, menyuruhnya untuk sabar.


"Yang kena musibah itu sepupu kalian, tega-teganya kalian berkomentar seperti itu," ucap Reza dengan penuh emosi, suaranya tinggi. Dan itu pertama kali aku mendengar suaranya dengan amarah.


Beruntung Alfi melerainya. "Sudah, Za. Tidak tepat kalau kalian ribut-ribut begitu. Kasihan Nara."


Lalu hening. Tak ada suara sama sekali selama sekian detik, yang justru membuatku semakin tegang dan bertanya-tanya; apa yang terjadi di luar sana?


"Mas, mamaku pernah bilang, dalam situasi seperti ini, kita harus memberikan pertolongan pertama ke korban. Bawa ke rumah sakit atau klinik. Nanti dikasih pil pencegah kehamilan. Terus nanti di pasang IUD untuk mensteril sp*rma supaya tidak berkembang," tutur Raline, yang merupakan anak seorang bidan.


Benar. Apa yang dituturkan Raline itu benar. Aku langsung teringat pesan ibuku yang juga pernah menjelaskan tentang hal itu.


"Bawa ke klinik di pertigaan sana, Za. Kliniknya buka dua puluh empat jam. Dokternya perempuan, supaya Nara tidak risih pas dicek," Mayra ikut bersuara.


Kutarik jaket yang tergantung di belakang pintu. Aku tidak boleh berdiam diri. Aku harus menyelamatkan diriku sendiri, pikirku. Karena aku masih punya kesadaran, aku masih mengingat ibuku yang selalu mengingatkan bahwa aku harus selalu berjuang hidup meski dunia menghancurkan aku. Meski semua ketakutan menyergapku dan memupus semua harapanku. Alih-alih menikah, Reza pasti akan memutuskan hubungannya denganku. Aku akan malu dan tidak bisa lagi menampakkan wajahku di depan semua keluargaku, juga ketakutan akan hamil benih yang akan dicap masyarakat sebagai anak haram, terlebih takut terinfeksi penyakit kelamin. Tidak. Aku tidak boleh larut dalam kenestapaan yang semakin dalam. Aku harus berjuang, setidaknya untuk diriku sendiri.


"Ihsan," panggilku setelah aku membuka pintu kamar.


Ihsan tidak ada, baru kusadari, dia langsung keluar dari kamarku begitu aku siuman tadi.

__ADS_1


"Ihsan di kamar," sahut Aarin. "Dia mengunci pintu kamar dari dalam."


"Tolong panggil. Antar aku ke klinik," kataku.


"Mungkin sebaiknya Mbak pergi dengan Mas Reza. Tadi aku melihat Ihsan menangis, dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Mbak katanya," sahut Aarin lagi.


Aku langsung nyelonong keluar dari villa tanpa takut, meski saat itu baru sekitar jam dua pagi. Lalu Reza menyusulku. Dengan ego, aku melarangnya mengikutiku. Kukatakan padanya bahwa aku bisa pergi sendiri.


"Tolong, jangan buat aku merasa lebih gagal menjagamu. Aku salah, aku minta maaf karena tidak bisa melindungimu. Tapi tolong, jangan buat kehadiranku lebih tidak berarti lagi dengan membiarkan kamu pergi sendiri. Biarkan aku selalu ada untuk kamu. Aku mohon?" Dia bicara sambil memegangi bahuku.


Aku terdiam. Di satu sisi aku ingin melepaskan dia, dengan keadaanku saat itu, aku merasa lebih tidak pantas daripada sebelumnya. Tapi di sisi lain, aku juga tak kuasa menolak Reza yang memohon padaku.


Dalam perjalanan itu, kami tidak berbicara sepatah kata pun. Pandanganku kabur karena air mata, isakan tangis mengganjal di tenggorokan. Dan, meski Reza berusaha tegar, aku menyaksikan sendiri air matanya menetes. Mata yang selalu memikatku itu kini tergenang air, meski selalu ia hapus dengan tangannya. Ia berusaha tegar di depanku.


Hanya beberapa menit, kami tiba di sebuah klinik bersalin yang buka dua puluh empat jam.


"Sebaiknya kamu pergi, Mas," kataku setelah Reza mematikan mesin mobil. "Tidak adil untuk kamu kalau kamu memaksakan diri bersamaku. Kamu berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku."


"Nara, Sayang. Dengarkan aku," kata Reza. Satu tangannya menggenggam tanganku, dan satu lagi menyentuh kepalaku. "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada untuk kamu."


"Tapi, Mas. Aku kotor. Tidak ada yang bisa kubanggakan dari diriku. Aku sudah tidak per*wan."


"Stop."


"Kamu yang stop. Jangan bohongi diri kamu demi aku. Jangan memberi aku harapan. Ini dunia nyata, bukan cerita fiksi. Tidak ada laki-laki yang mau menerima gadis korban pemerkos*an. Aku saja jijik pada diriku sendiri. Apalagi kamu."


"Ssst... jangan bahas ini lagi, oke?" ucap Reza, suaranya mulai parau. "Sini," katanya. Dia menarikku ke dalam pelukannya. "Tenangkan dirimu. Seperti janjiku, aku akan terima kamu apa adanya. Semuanya akan baik-baik saja. Kita bisa melewati ini sama-sama. Oke? Sekarang kita masuk ke klinik, ketemu dokter."


Sesaat kemudian, sewaktu aku hendak keluar dari mobil Reza memanggilku. Aku pun menoleh. "Mas Reza sayang kamu."


Oh, hatiku tersentuh. Meski hanya empat kata, tapi berhasil melebur kegundahan dalam hatiku.


Aku mengangguk. Jelas aku tidak akan ke mana-mana. Aku masih bisa berpikir sedikit jernih. Aku ingin mensterilkan diriku supaya tidak sampai hamil dari sperm* lelaki biadab.


Reza keluar dari ruangan dokter beberapa menit kemudian, lalu menyuruhku masuk menemui dokter.


Dengan sedikit basa-basi ala tenaga medis kepada pasien, dokter itu memberikan sugesti positif, barulah membahas inti dari permasalahan kami. Pertama, dokter memberikan resep pil yang harus diminum dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam setelah peristiwa pemerkos*an. Dia menjelaskan tidak boleh lewat dari jangka waktu tersebut karena jika demikian sel telur mungkin telah matang dan sudah dibuahi katanya. Selanjutnya dokter menganjurkanku untuk langsung memasang alat kontrasepsi IUD (intra-uterine device) yang berbahan dasar tembaga (copper IUD) untuk membunuh sel-sel sperm* di dalam rahim. Katanya pemasangan IUD tidak boleh lebih dari lima hari setelah waktu pemerkos*an. Aku pun langsung menyetujuinya.


Dokter memintaku membersihkan organ int*mku terlebih dulu, dan memintaku berganti pakaian sekiranya aku membawa pakaian ganti. Kebetulan koper Mayra untuk pakaian foto prewedding kami tidak ia keluarkan dari mobil, sehingga aku bisa berganti pakaian.


Saat dokter "mengecekku", dokter itu mengernyitkan dahi. Diulanginya sekali lagi, tetap dengan ekspresi yang sama. Lalu ia meminta suster mengambil pakaianku yang bernoda itu untuk dibawa ke laboratorium. Sang dokter pun permisi menyusul perawat itu. Tinggallah aku sendirian di ruangan itu, menunggu dokter dengan harap-harap cemas. Resah dan gelisah membumbung tinggi di puncak kepalaku.


Dokter kembali beberapa menit kemudian, diikuti Reza di belakangnya. Senyum sumringah sang dokter membuatku jengkel. Bisa-bisanya dia tersenyum begitu sumringah di depan manusia yang sedang berada di titik terendah sepertiku? Tapi aku tidak berdaya, sebagai pasien aku menaruh rasa hormat padanya. Aku yang sudah duduk di kursi di depan mejanya hanya bisa menunduk lemah, meremas-remas tangan di bawah meja.


Dia berdeham sebelum membuka suara. "Boleh saya tahu kalian sedang apa saat kejadian tadi? Maksud saya, apa kalian sedang kumpul keluarga atau sedang merayakan reuni, misalnya?"


Aku bingung, kenapa dokter bertanya seperti itu, aku yakin Reza pun sama bingungnya denganku.


"Ya, Dok. Benar," Reza menjawab.


"Kalau begitu selamat, saya yakin kalian kena prank."


Reza dan aku tidak bergeming. Entah apa yang di kepala Reza, bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku. Terharu, sedih, senang, marah, semuanya nano-nano. Ada  rasa tidak percaya, tapi juga ada rasa senang, rasa syukur seandainya aku benar-benar dalam keadaan baik.


"Mbaknya baik-baik saja," dokter menjelaskan.

__ADS_1


"Maksudnya, Dok?" tanya Reza seakan tak percaya apa yang baru saja dia dengar.


"Emm... menurut saya kalian hanya dikerjai. Tidak terjadi kekerasan seksual pada calon istri Anda. Maaf, selaput darahnya masih utuh. Dengan kata lain, Mbaknya masih per*wan."


Fiuhhh... lega. Meski air mata tetap saja mengalir. Tapi bukan lagi air mata kesedihan, justru sebaliknya, aku bahagia. Aku lega. Aku masih memiliki sesuatu yang bisa kupersembahkan untuk seseorang yang nanti menyandang status sebagai suamiku, MAHKOTAKU, sesuatu milikku yang amat berharga.


Sebentar, tunggu dulu. "Dokter yakin saya masih per*wan?"


"Iya, seratus persen yakin. Dan soal bercak merah di pakaian Mbak, itu hanya pewarna makanan, yang entah dicampur apa bisa jadi kental berlendir menyerupai darah. Mungkin karena Mbaknya panik, jadi tidak berpikir kenapa tidak merasakan sakit di organ int*mnya."


Aku gugup saking senangnya. Menahan tawa bahagia, senyum sumringah, meluapkan rasa syukur yang tiada tara.


"Oke. Kalau begitu terima kasih, Dok. Maaf sudah mengganggu waktu Dokter dengan hal semacam ini," kata Reza. "Kami permisi."


"Tidak apa-apa. Silakan," sahutnya ramah.


Uuuh... aku melompat kegirangan ke pelukan Reza sewaktu kami keluar dari ruang pemeriksaan. Dia pun membalas pelukanku.


"Aku cinta kamu, Mas." Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku.


"Boleh aku dengar sekali lagi?" Pertanyaan Reza membuatku tersadar sepenuhnya.


Reza melepaskan pelukanku. Dengan ekspresi serius dia menatap mataku, kedua tangannya memegangi bahuku.


Serrr... aku tidak bisa tahan dalam situasi seperti ini. Dia membuatku langsung salah tingkah. "Sayang? Lihat mataku, dan katakanlah sekali lagi. Emm?"


"Aku cinta kamu," ucapku setengah berbisik dengan malu-malu, aku berlari keluar dari klinik meninggalkan Reza yang masih senyum lebar di belakangku.


...♡♡♡...


"Selamat malam para pendengar setiaku. Selamat malam Rabu bagi semua yang merasakan keindahan malam ini. Kita bertemu lagi di acara Bersama Cinta. Bagaimana kabar cinta Anda hari ini? Apakah hati Anda meremang bila mengingat orang yang Anda cintai? Atau justru Anda sedang merasa cinta itu pergi entah ke mana? Kok tidak terasa lagi? Hati-hati lo... siapa tahu saking sibuknya Anda, sampai lupa untuk menelepon, kirim SMS, atau Whatsapp kepada orang tercinta sehingga pelan-pelan cinta memudar. So, bersama Cinta di sini, coba deh diingat lagi, kapan sih terakhir kali Anda menyatakan perasaan kepada orang terkasih? Sudahkah mengungkapkannya hari ini? Kalau belum, jangan tunda lagi. Lakukan sekarang juga, jangan sampai kita baru tersadar sangat mencintainya justru ketika dia sudah pergi dari kehidupan kita. Seperti lagu pertama kita malam ini, Cinta Katakan Cinta miliknya Anima. Selamat mendengarkan, guys..."


Suara musik pun mulai mengalun menemani perjalanan kami malam itu. Reza yang ada di sebelahku tercengir lebar mendengar celotehan si penyiar radio.


Untung saja aku sudah mengatakannya barusan. Kalau tidak, aku makin mati kutu. "Kamu menertawaiku, ya?"


Reza menolehku, lalu mengelus-elus kepalaku. "Jangan baper."


"Emm... Mas, kita jangan langsung pulang, ya?" pintaku.


Tanpa menjawab, Reza menekan pedal gas ketika lampu berubah hijau, dan kami melesat mendahului mobil-mobil lainnya menuju pantai.


Setibanya di sana, kami hanya duduk berdua, tidak berbicara selama beberapa menit. Meski sempat tersenyum karena pernyataan cintaku, Reza nampak masih syok akibat kejahilan para sepupuku, kemudian ia berbaring di atas pasir tanpa alas. "Sini, berbaring di sisiku," pintanya.


Aku menurut, itu kesempatan bagiku untuk mulai bicara. "Mas, apa kamu marah pada sepupu-sepupuku?"


Reza tersenyum kecut. "Bohong kalau aku bilang aku tidak marah," katanya. "Memangnya kamu tidak marah?"


Kujelaskan padanya bahwa aku juga marah, tetapi aku tidak berniat melampiaskan amarahku. Biarlah kupendam dan kuredam sendiri, kataku. Tak ayal, Reza merasa heran padaku, yang pernah dia lihat aku begitu mudah emosi, tapi dalam hal ini malah berusaha tenang.


"Sebab, bagi Bunda keluarga adalah segalanya. Aku tidak mau merusak hubungan kami hanya karena tidak terima mereka menjahiliku. Kata Bunda, Bunda dulu beberapa kali pernah melakukan kesalahan, tapi keluarga tetap menerimanya. Sebab itu, Bunda mau anak-anaknya selalu bersikap toleran pada anggota keluarga. Karena di sana tempat kita untuk kembali, tempat kita pulang."


Reza mengangguk-angguk, ada sedikit senyum terukir dari bibirnya. "Aku juga tidak akan melampiaskan amarahku. Demi kamu," katanya. "Meskipun sebenarnya mereka sangat keterlaluan, sampai membiarkan kita ke klinik bertemu dokter. Kan malu."


"Aku minta maaf atas nama mereka, Mas. Dan terima kasih atas pengertian kamu," kataku. Reza hanya tersenyum. "Terima kasih juga atas kesetiaan kamu. Kamu membuktikan ketulusan kamu mencintaiku. Tidak peduli bagaimanapun dan apa pun keadaanku, kamu tetap setia di sisiku. Aku sayang kamu, Mas."

__ADS_1


Reza tersenyum. "Aku tahu," jawabnya singkat.


Aku lega. Rasanya berton-ton semen yang menimpaku itu sudah tidak berbekas sama sekali. Kami tetap di sana sampai masuk waktu subuh. Setelah itu kami pun langsung pulang ke villa dan disambut tawa cengengesan seisi villa. JAHAT!


__ADS_2