
Tapi penyiksaan untuk hatinya harus tetap berlanjut. Sambil terisak sesedih-sedihnya, kubungkus tubuhku dengan selimut dan aku lari ke roof top. Di atas sana, aku berteriak sekencang yang bisa dihasilkan pita suaraku dengan tampang frustasi. Aku tahu Reza pasti mengikutiku. Dan aku juga tahu, kerapuhanku adalah serpihan kaca yang bisa menyakiti hatinya. Sekalian saja pura-pura pingsan.
Seperti kebakaran janggut, Reza menepuk-nepuk pipiku dan memanggil-manggilku supaya aku lekas siuman. Karena tidak ada reaksi, ia membopongku turun dan menaruhku di sofabed ruang galeri. Dengan tergopoh-tergopoh, ia menuruni lagi anak tangga menuju kamar dan kembali dengan sebotol minyak kayu putih di tangannya. Aku pun menyudahi pingsanku begitu aroma minyak kayu putih menusuk indra penciumanku, lalu beringsut duduk, dan seketika itu juga Reza memelukku erat-erat.
"Ayahku adalah seorang lelaki dengan kebutuhan **** yang cukup tinggi," tuturku, yang membuat pelukan Reza langsung melonggar, dia melepaskan pelukannya dan menyelubungiku dengan selimut sewaktu aku menekuk kaki dan menutupi tubuhku dengan kedua tangan. "Yah, dia lelaki seperti itu. Kebutuhannya akan hal itu cukup tinggi. Sedangkan Bunda, tipe wanita yang hormon dalam tubuhnya sangat memengaruhi mood dan kesehatan fisiknya. Dalam keadaan normal, mood Bunda juga normal. Tapi dalam keadaan hamil, mood-nya cenderung menurun, tapi itu tidak jadi masalah. Meskipun dalam keadaan bad mood, Bunda masih mau memenuhi kewajibannya untuk ayahku. Setelah melahirkan, barulah masalah tentang itu bermunculan. Bunda tidak cocok dengan hormon alat kontrasepsi. Sebagai efek sampingnya, Bunda mengalami nyeri di bagian dada. Jangankan karena guncangan, efek santuhan sedikit saja membuatnya nyeri. Dan yang lebih parah, Bunda merasakan sakit dan perih saat berhubungan badan. Tetapi ayahku tidak mengizinkannya memasang IUD dengan sejuta alasan konyol. Hingga pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi di antara mereka, sampai Bunda membaca pesan dari Yanti untuk ayahku. Pesan itu merupakan puncak pertengkaran mereka, yang menceritakan kenyataan bahwa Yanti adalah istri siri ayahku. Tapi pada akhirnya, Ayah dan Bunda sepakat memperbaiki rumah tangga mereka, dan Bunda memilih untuk tidak memakai alat kontrasepsi apa pun. Mood Bunda pun kembali normal dan fisiknya membaik, sampai secara tidak sengaja Bunda hamil lagi dan prahara di antara mereka mulai muncul lagi. Karena Bunda melahirkan dengan operasi, Bunda tidak mau kalau sampai kebobolan lagi. Akhirnya, Bunda kembali suntik kb setelah melahirkan Ihsan. Hingga efek yang timbul lebih parah, Bunda sampai menangis karena kesakitan saat ayahku memaksanya bercinta. Entah karena organ Bunda yang mengalami penyempitan atau karena apa -- hingga ayahku kesulitan masuk, sementara Bunda sampai menangis menahan sakit. Tetapi ayahku berengsek. Bukannya iba pada Bunda, dia malah marah dan meninggalkan Bunda begitu saja di ranjang. Setelah itu dia malah curhat dan membeberkan aib Bunda pada Ummi. Dia bilang bahwa Bunda tidak mau melayaninya dan lebay -- pura-pura kesakitan. Dan setelah satu setengah bulan kemudian, efek suntik kb itu membuat Bunda mengalami menstruasi berkepanjangan, seperti pendaharaan. Itu terjadi setiap hari, selama hampir dua bulan, dan menimbulkan rasa sakit yang hebat seperti kontraksi sampai Bunda tak henti menangis karenanya. Waktu itu Tante Mami sudah bekerja di rumah sakit di kota, melalui sambungan telepon, ia menganjurkan Bunda untuk konsumsi obat penghilang nyeri, tapi tidak mempan. Lalu, Bunda pun periksa ke klinik, Bidan di klinik itu meresepkan obat penghilang nyeri dengan dosis lebih tinggi dengan aturan minum tiga kali sehari. Obat itu ampuh, Bunda tidak merasakan nyeri lagi selama obat itu bereaksi, tapi hanya selama enam jam. Akhirnya Bunda nekat mengonsumsinya empat kali sehari, per enam jam -- melebihi dosis yang dianjurkan. Dalam keadaan Bunda yang sedang sakit itu, ayahku menciptakan sebuah pertengkaran tentang petistiwa masa lalu yang sekaligus ia jadikan alasan untuk pergi dari rumah. Dan dia benar-benar pergi. Setelah tiga bulan, dia malah pulang ke rumah orang tuanya dan membawa seorang perempuan. Rhea. Dan ternyata, mereka sudah menjalin hubungan -- jauh sebelum Bunda melahirkan Ihsan. Kamu tahu, Bunda tidak pernah menyalahkan alasan kenapa ayahku berselingkuh, karena Bunda menyadari kelemahannya. Bunda hanya tidak terima dengan perselingkuhan itu. Seandainya ayahku mengajaknya bercerai baik-baik, Bunda pasti bersedia. Setelah mereka bercerai, terserah ayahku mau punya perempuan seberapa banyak. Bunda tidak akan peduli, asal jangan berselingkuh saat masih menjalin hubungan dengan Bunda. Terus terang, aku baru tahu cerita ini menjelang hari pernikahan kita. Kesimpulannya, Bunda minta supaya aku melayani suamiku dengan baik, tidak peduli aku capek, tidak mood, atau saat kita bertengkar sekali pun. Selama aku masih berstatus sebagai istri, aku wajib melayani kamu. Coba kamu pikir, apa yang tidak kulakukan untukmu? Aku di sini, aku menutup kisah pengembaraanku demi hidup bersama kamu. Aku bahkan masuk ke dapur, belajar masak khusus untuk kamu. Aku melayani kamu seperti Dewa, kamu selalu menjadi prioritas utamaku dalam setiap hal. Tapi yang kamu lakukan padaku justru sebaliknya. Kamu menyakitiku. Kamu selalu membawaku ke ranjang untuk menyelesaikan masalah. Asal kamu tahu, itu justru membuatku merasa terhina." Kusembunyikan wajahku dan kubiarkan diriku sesenggukan di antara kedua kakiku, kendati sebenarnya aku sudah menangis sedari tadi.
Malangnya, Reza hanya memelukku tanpa bisa mengatakan apa pun selain kata maaf.
"Aku mencintai kamu, Mas. Aku tidak menyesal dan tidak akan pernah menyesali keputusanku telah menikah dengan kamu. Aku lega, aku sudah menepati janjiku pada ibumu. Jujur, aku juga tidak mau kita berpisah. Aku juga tidak mau meninggalkan kamu. Tapi aku lebih tidak mau kalau hatiku terus terluka. Jadi maaf, keputusanku sudah bulat. Aku ingin kita berpisah -- berpisah dengan cara baik-baik. Supaya aku tidak perlu menghabiskan sisa hidupku dengan membenci kamu. Tolong, Mas, ceraikan aku."
Tidak ada jawaban.
"Mas? Tolong?"
__ADS_1
Ya Tuhan, hanya ada gelengan dan tetesan air mata. Sungguh menyebalkan.
"Terserah kamu." Kulepaskan kalungku dan cincin kawin dari jariku, kutaruh dua benda pengikat itu ke telapak tangannya. Lalu aku berdiri dan pergi ke kamar, mengenakan baju, kemudian meraih tasku.
Lagi-lagi Reza mencegahku. Dia berusaha memelukku, tapi aku meronta-ronta. Saat berhasil melepaskan diri darinya, kukeluarkan pisau kecil dari dalam tasku. Jujur saja aku sengaja mempersiapkan pisau itu untuk mengancam Reza. Kutempelkan mata pisau itu ke pergelangan tanganku, hingga Reza menyerah dan tidak mendekatiku. Kuambil koperku lalu keluar dari kamar.
Sialan! Kenapa dia tidak mengejarku dan membuang pisau ini dari tanganku? Argh...
Sewaktu aku hendak menyimpan ponselku, tangan Reza langsung melingkari tubuhku. Dengan isakan tangis dia memintaku untuk tidak pergi.
Ini yang kuinginkan. Berlutut dan memohonlah padaku. Aku ingin kamu berjanji akan meninggalkan Salsya demi aku. "Aku akan tetap pergi," kataku.
"Aku mohon, jangan tinggalkan aku," pintanya -- sesuai harapanku, ia berlutut sambil memeluk kakiku. "Aku janji. Aku tidak akan memedulikan Salsya lagi. Berikan aku kesempatan. Ya?"
__ADS_1
Aku menggeleng.
"Tolong..." Reza memohon dengan tangan yang semakin erat memegangi kakiku.
"Kamu sanggup bersumpah atas nama Tuhan?"
Reza menganggukkan kepala dengan yakin. "Aku bersumpah. Demi Tuhan, aku tidak akan peduli lagi pada Salsya," katanya dengan takzim. "Aku mohon, berikan aku kesempatan. Please? Tolong?"
"Kesempatan terakhir?"
"Iya. Terakhir. Aku bersumpah, tidak akan kusia-siakan."
Aku menghela napas panjang. "Aku tahu kamu akan memilihku." Meski kamu membuat drama ini terlalu panjang.
__ADS_1