
Saat itu azan subuh sudah berkumandang sekitar lima menit yang lalu, tetapi sewaktu aku kembali ke kamar, Reza masih terbaring di tempat tidur. Dengan segera rasa cemas dan khawatir langsung menyergapku, sebab Reza belum pernah seperti itu, selama ini dia selalu bangun sebelum subuh.
Apa dia sakit? Cepat-cepat aku menghampirinya dan memeriksa suhu tubuhnya.
Tidak panas. Dia tidak sakit. Kutarik kembali tanganku dan aku mematung di sana -- dengan penuh keraguan. Aku belum pernah membangunkannya untuk salat, justru selama ini dia yang selalu membangunkan aku dan mengajakku salat. Terlebih itu berarti aku mengajaknya bicara setelah mendiamkannya semalaman. Tapi membiarkannya tetap tidur jelas itu salah. Jadi, ya sudahlah. Terpaksa kutepuk-tepuk bahunya dan kukeluarkan suaraku untuk membangunkannya.
"Mas," kataku -- pelan. "Bangun, subuh."
Tak ada reaksi. Aku pun duduk di sisinya dan menepuk-nepuk bahunya lagi. Saat itulah dengan cepat Reza menarikku dan aku tertelungkup di atasnya. Dia memelukku dengan erat. "Terima kasih, sudah perhatian padaku."
Oh, ternyata kamu sudah bangun dari tadi dan pura-pura tidur.
"Give me a kiss," pintanya. Melihatku yang tidak bereaksi -- secara tidak langsung itu membuat Reza menyadari penolakanku, dia langsung saja mencetuskan kalimat andalannya. "Kamu istriku, sebagai suami aku berhak mendapatkan apa pun yang kumau dari kamu."
Kalau kamu suami yang baik dan tidak mengecewakanku seperti ini, apa pun kuberikan dan kulakukan untuk kamu, Mas. Apa pun. "Baiklah." Satu ciuman kilat langsung mendarat ke bibirnya.
"Senyum, kumohon..."
Aku menggerutu. "Jangan serakah. Cepat bangun dan pergilah ke kamar mandi. Kamu harus mandi wajib."
Reza menyeringai. "Kenapa?"
"Karena seekor drakula jalang sudah menempel dan menghisapi lehermu."
Kalimatku menghasilkan ceringaian yang lebih super di wajah Reza. "Seekor?" Dia melepaskan tangannya dari tubuhku dan kami sama-sama segera berdiri. "Aku tahu kamu marah, tapi--"
"Terserah kalau kamu tidak suka. Tapi dia tidak pantas disebut manusia."
Reza memalingkan wajah -- dan itu sudah cukup sebagai jawaban bagiku. Kamu masih mau membelanya, Mas? Lagi-lagi kamu menyakitiku.
Benakku dibanjiri semua yang terjadi malam ini. Air mata mulai menggenangi mataku, lalu aku pun memalingkan wajahku. Tanpa kusadari, Reza sudah berada di depanku, untuk memelukku. "Jangan bicara kasar, tidak enak--"
__ADS_1
Bagus. Salahkan saja aku. Fix! Aku kesal. Amarah menggelegak di dalam diriku dan kupukuli dadanya dengan kedua tanganku. "Aku memang kasar, aku memang barbar," kataku sengit sambil terus memukul. "Kenapa? Kamu tidak suka? Hmm? Ceraikan saja aku. Gampang, kan?"
Aku tidak tahu ini cemburu yang membabi buta atau apa? Tapi jelas, rasa marahku pada Reza semakin menjadi-jadi. Dan pastilah Reza terkejut mendengarnya. Pun ketajaman nadaku membuatnya tersentak, aku tahu itu menyakitkan. Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku, bahkan aku tidak menyangka aku bisa mencetuskannya dengan lantang.
"Maaf," kataku. Pada akhirnya aku tersadar kata-kataku keterlaluan. Tetapi Reza tidak menanggapi kata maaf itu. Dia meraih tanganku dan mengajakku ke kamar mandi, mandi sekaligus bercinta bersamanya. Aku jadi teringat pagi pertama setelah -- malam pertama -- kami, dan momen bercinta seperti ini terulang lagi setelah pertengkaran pertama ini.
Dan, rasanya aneh. Jujur saja secara teknis aku menikmatinya. Siapa sih yang tidak suka bercinta dengan suami di bawah pancuran air yang menambah kesan hangat dalam hubungan? Tetapi amarahku masih enggan pergi, aku masih tidak mau bicara dengannya kendati deru napas kami beradu dan dia meninggalkan jejak-jejak cintanya yang merah di tubuhku. Kali ini aku tidak bisa berbaikan dengannya -- segampang -- dulu.
"Aku mencintaimu. Kita hanya akan terpisah oleh kematian. Bukan karena perceraian." Reza mengatakannya sambil memelukku erat-erat, setelah ia selesai dengan terapis cintanya pagi itu.
Tapi aku tetap tidak ingin berbaikan semudah itu. Aku harus menyentilnya dengan peringatan keras, supaya dia membuka matanya dan segera menentukan sikap. "Aku butuh waktu. Entah berapa lama. Tapi aku harus menata kembali rasa percayaku. Dan sebaiknya... cepat mandi. Keburu siang."
Lalu hening -- keheningan yang terasa memekakkan dan membuat hati semakin nyeri plus ngilu.
...♡♡♡...
Aku tahu Reza menungguku sampai aku selesai berhias, dan meski tidak mengatakan apa pun, aku tahu dia ingin kami turun ke bawah bersama-sama, supaya semua orang melihat bahwa hubungan kami baik-baik saja.
Tetapi, saat kami keluar dari kamar, kekacauan Ihsan justru menahanku. Aku meminta Reza untuk turun duluan, sementara aku menghampiri Ihsan yang tengah bengong sendiri di beranda depan. Dia sudah rapi dengan penampilan ala karyawan kantoran, dengan kemeja polos lengan panjang, warna abu-abu kesukaannya. Matanya berkaca-kaca saat dia melihatku -- dengan mata sembab yang tidak bisa kututupi dengan mekap sekalipun.
"Tidak juga," kataku. "Hanya semalam, dan... pagi ini."
Wajah Ihsan menjadi merah, sewarna dengan dress yang kupakai pagi itu. "Aku akan membunuhnya!"
Ihsan berbalik dan hendak turun. Cepat-cepat aku meraih tangannya dan memohon supaya ia tenang. Ekspresinya itu lagi-lagi mengingatkanku pada zaman SMA dulu, saat dia melindungi dari remaja-remaja nakal yang menggangguku. Tapi kali ini dia jauh lebih marah, bahkan lebih marah daripada marahnya pada ayahku yang datang bersama Rhea dulu.
"Tidak seburuk itu. Hanya saja aku yang terlalu emosi," kataku.
Sambil menangkupkan kedua belah tangan ke wajahku, Ihsan menatapku. "Aku tahu ini salah. Tapi aku ingin kamu ikut pulang denganku. Aku tidak ingin kamu menderita di sini."
"Tidak. Aku tidak akan pergi," kataku sambil memegangi dan menurunkan tangannya yang menangkup wajahku. "Aku akan baik-baik saja. Aku harus menyelesaikan masalahku sendiri."
__ADS_1
Ihsan mengerang. "Baiklah," jawabnya.
Tidak ingin membahas topik yang sudah sangat tidak nyaman ini, cepat-cepat kukatakan permintaanku. "Ihsan, aku ingin..."
Ihsan menyeringai. "Apa?"
"Tolong, kamu minta maaf pada Mas Reza. Demi aku. Aku tahu kamu membelaku, tapi...," aku menggeleng, tidak bisa menyelesaikan kalimatku. "Aku ingin kalian berbaikan."
Ihsan mengangguk. "Akan kulakukan. Demi kamu."
Lima menit kemudian, aku dan Ihsan turun. Amarahnya sudah -- sedikit -- meredam. Sewaktu kami turun, Alfi dan Reza tengah duduk di kursi meja bar. Sedangkan Mayra dan Aarin berada di dapur, menyiapkan sarapan.
"Sepertinya kita butuh meja makan," celetukku memecahkan keheningan. "Meja lesehan ini tidak cocok untuk kemeja kerja kalian."
Mayra sependapat denganku. "Tapi bagusnya ditaruh di mana?"
"Mungkin sebaiknya kita mengalihfungsikan teras belakang menjadi ruang makan," kata Reza. Lalu dia menuturkan ide-ide berikutnya; membobol bagian tengah dinding penyekat antara dapur dan bakal ruang makan itu -- dengan tetap membiarkan dinding bagian atas dan bawahnya, sebab sayang kalau mau membongkar laci yang menempel di sana. Waktu itu aku sudah bisa membayangkan bahwa itu akan terlihat seperti interior ala cafe. Kemudian Reza menambahkan ide untuk memanfaatkan space yang tersisa sebagai teras baru -- yang langsung menyatu dengan kolam anak-anak di sisi kanan, dan kolam ikan di sisi kiri. Juga menaruh kursi teras minimalis di masing-masing area teras. Sedangkan di tengah-tengahnya -- antara kolam anak dan kolam ikan -- dibiarkan plong sebagai jalan setepak ke area pekarangan belakang.
"Kedengarannya menarik. Kurasa aku menyukai ide itu. Tapi omong-omong, Ihsan ingin bicara denganmu."
Selama sepersekian detik, semua orang melongo dengan pengalihan topik pembicaraan yang tiba-tiba kucetuskan itu. Seakan-akan obrolan yang baru saja terjadi tidak cukup untuk mencairkan suasana. "Ayolah, tidak usah tegang begitu."
"Baiklah," Reza berdiri dari kursinya dan mengajak Ihsan ke halaman belakang.
Sementara mereka berlalu, wajah Aarin langsung berubah pucat pasi. "Apa tidak apa-apa Mbak kita membiarkan mereka berdua?"
"Mudah-mudahan aman, Rin. Aku sudah meminta Ihsan untuk meminta maaf."
"Semoga." Mayra yang menyahut. "Aku senang kalian sudah berbaikan."
Aku tidak menyahut -- tidak mengiyakan, juga tidak membantah.
__ADS_1
Reza dan Ihsan pun kembali setelah beberapa menit. Aku tahu Ihsan tidak akan mengecewakanku, dan meski aku tidak meminta -- Reza pasti memaafkan Ihsan dan meminta maaf juga padanya. Dan meski tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, aku yakin -- Ihsan pasti menyampaikan beberapa kalimat yang berupa "ancaman halus" pada kakak iparnya itu. Sementara Reza hanya mengatakan oke, dia tidak akan membantahnya sedikit pun.
-- Walau tanpa sengaja, suatu saat ia pasti melanggarnya. Lagi.