
Alfi sudah memesan kamar di Bintang homestay -- sebuah penginapan yang tarifnya paling murah berdasarkan aplikasi di internet, dan letaknya tidak jauh dari Crystal Bay. Salah satu tempat yang para stafnya ramah meski dengan tarif murah untuk menginap semalam - dua malam.
Alfi mengatakan pada kami bahwa banyak hotel di Nusa Penida yang bagus dan romantis, dengan tarif tidak terlalu mahal, tetapi kami cuek. Kami lebih suka kelihatan kere daripada menghabiskan banyak uang hanya untuk menumpang tidur dan menikmati fasilitas mewah. Terutama bagi kaum cewek-cewek, yang penting bagi mereka pakai AC. Kalau aku ada kipas angin itu sudah cukup, yang penting tidak kepanasan, sebab panas membuatku tidak bisa tidur. Dan jika ada kolam renang dan dapat sarapan gratis, itu nilai plus yang patut diacungi jempol.
Yap, salah satu hal yang membuat para "usahawan muda" itu jatuh cinta pada putri-putri The Fantastic Eleven -- adalah dari sikap sederhananya. Meskipun memiliki suami yang mapan, dalam acara liburan semua tetap sepakat menekan budget sekecil-kecilnya. Liburan itu harus, berhemat juga harus, begitulah prinsip kami. Tapi mengenai villa mewah milik keluarga Alfi, jika ada yang mewah dan gratis, tentu saja tidak akan ditolak, justru itu lebih sangat menekan pengeluaran, meski yang mengeluarkan uang itu adalah kaum lelaki. Begitu pun soal penampilan, berpenampilan menarik bukan berarti harus dengan pakaian dengan harga selangit, sebab kami bukan seleb yang ke mana-mana selalu diliput media.
Bicara tentang penginapan, kami hanya butuh tempat istirahat dan tidur nyaman, itu sudah cukup. Dan kami tidak suka tempat yang banyak biaya embel-embelnya, seperti halnya biaya tambahan untuk layanan kebersihan, yang menurut kami itu servis yang sudah sepantasnya didapat oleh customer. Yeah, itu adalah pendapat kami. Kalau kau tidak sependapat, sah-sah saja. Silakan.
Sedikit kuceritakan, semua biaya operasional sementara di cover oleh Hengky, kecuali biaya yang sifatnya pribadi seperti jajan atau makan individu, tiket menikmati objek wisata seperti jetski, paragliding, dan lain-lain, juga tiket pesawat. Selain itu yang sifatnya digunakan sama-sama, semua di-cover lebih dulu, lalu semua dicatat rapi oleh Zaza. Di akhir perjalanan nanti, dia akan memberikan struk tagihan pada setiap orang. Dan dia juga tidak sungkan menagih pada orang tua kami jika kami tidak segera setoran. Sebab itu kami memberikan julukan Mrs. Perfect padanya, dia bisa berperan sebagai apa pun, terlebih dalam memimpin kami, sepupu-sepupu kesayangannya.
Sebagai pemilik usaha Tour and Travel, Alfi sudah biasa memesan penginapan untuk para tamunya. Jadi tidak masalah jika kami chek in malam hari untuk kamar yang sudah di booked dari hari sebelumnya. Setelah makan malam, kami langsung menuju penginapan. Dan saat itulah aku menyadari daya tahan tubuhku melemah, akibat kurang istirahat dan hujan-hujanan kemarin malam, ditambah panas-panasan sepanjang hari. Aku ngedrop dan ingin segera sampai ke penginapan.
Seperti biasa, aku sekamar dengan Aarin, type twins room, dengan dua bed terpisah. Saat itu Aarin masih di luar bersama Ihsan. Sementara aku dan Reza sudah di kamar, setidaknya kami bisa berduaan sampai Aarin datang untuk istirahat. "Aku kangen," kataku.
Reza mengernyitkan dahi. "Kan setiap hari kita sama-sama." Kali ini dia tidak peka.
"Memang, tapi aku kangen, kangen seperti ini, berduaan, cuma berdua dengan kamu, terus... bisa bersandar di pelukan kamu."
"Terus?"
"Tidak ada terusannya, Mas," ujarku manja.
"Oh, aku kira kangen dicium juga."
"Emm... kalau iya?"
"Kalau iya..."
Dia tidak melanjutkan kalimatnya, secepat kilat dia merebahkanku dan langsung menindihku. Aku terkesiap -- meski dia tidak langsung menciumku, melainkan tetap dengan cara khasnya -- dia menatap lekat kedua mataku, tatapan yang menembus ke setiap saraf-sarafku. Aku menegang. Uh... aku masih saja deg-degan kalau dia memperlakukanku seperti itu.
"Kenapa? Masih deg-degan?" tanyanya. Pertanyaannya itu -- selalu membuatku tersipu malu dan membuat pipiku langsung memerah. Dan...
Satu. Dua. Tiga. Kuhitung perlahan, lalu...
Emmmmmuach. Reza menciumku, tepat di bibirku. Emm... tidak. Belum selesai. Dia menciumku lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ah, entah berapa kali. Dia menciumku lama, menikmati bibirku dengan gairahnya. Memberikan sensasi luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku yang masih mampu menguasai pikiranku memohon ampun dalam hati karena aku dengan sengaja menikmati setiap lum*tannya. Aku menyukainya, menyukai keliarannya terhadapku.
Stop, aku engap, aku butuh bernapas. Kudorong ia lembut. "Izinkan aku bernapas," kataku -- aku menyerah. Lalu hening, hanya terdengar deru napasku yang tak beraturan. Senyuman di bibirku terukir indah menyapaku.
"Dengar aku, aku tidak mau sering-sering mencium kamu. Aku tidak mau kamu sampai bosan dan ciumanku terasa hambar. Jangan sampai seperti itu. Aku mau -- ciumanku selalu spesial, ciuman yang akan selalu kamu tunggu setiap waktu," ucapnya dengan jeda yang pas di setiap penggalan katanya, dia berkata sambil memain-mainkan jarinya di wajahku.
Kutelan ludah, kata-katanya mungkin terdengar gombal. Tapi aku bisa meresapinya hingga tersampai dengan baik ke hatiku. Kemudian diciumnya aku sekali lagi, ciuman penutup sebelum ia mendekapku dan menyandarkanku lagi ke pelukannya, kembali ke posisi semula.
"Mbak," panggil Aarin seraya mengetuk pintu kamar.
__ADS_1
"Masuk saja, Rin," sahutku, tanpa merubah posisi, seolah Aarin adalah orang yang sudah lama kukenal, dan akan maklum dengan kemesraan kami.
Aarin pun masuk, diiringi Ihsan di belakangnya. Ihsan pun nampak biasa saja melihatku dipeluk Reza. Dia menyodorkan plastik berisi obat dan suplemen untukku.
"Thanks, Brother," ucapku sumringah. Ihsan mengacungkan jempol dan langsung duduk bersandar di bed Aarin.
"Aku suka lihat persaudaraan kalian," ujar Reza. "Kalian saling menyayangi."
"Bukan. Dia itu takut Bunda marah kalau dia membiarkan aku sakit," jawabku, persis setelah aku menenggakkan suplemen dengan bantuan air mineral.
Ucapan itu, ucapan yang bukan dari hati, hanya sekadar ceplosan yang meluncur tanpa maksud menyakiti.
Ihsan berdeham. "Tunggu nanti saat aku menjadi wali nikah yang menikahkanmu, baru kamu merasakan besarnya rasa sayangku padamu."
Aku tertegun mendengar jawaban Ihsan, membuatku refleks dan flash back ke masa lalu. Bagaimana Inara kecil dan Ihsan kecil tumbuh besar bersama, bagaimana dia melindungiku dulu saat anak-anak remaja nakal mencoba mendekatiku, dan dia jugalah yang mengajakku untuk belajar ilmu bela diri, katanya aku harus bisa melindungi diriku sendiri, karena dia tidak selalu bisa bersamaku.
"Hei, Tampan. Terima kasih, ya. Aku juga sayang padamu." Kalimat itu, rasa-rasanya ucapan sayangku yang pertama, setidaknya begitulah yang kusadari saat kami sudah dewasa. Ihsan hanya mengacungkan jempolnya.
Sesaat kemudian ada seseorang di luar kamar mengetuk pintu. Aarin yang tadinya duduk di depan Ihsan, beranjak untuk membukakan pintu.
"Ada yang mencari Mas Reza di luar," kata Raline.
"Siapa?" tanya Reza.
"Katanya namanya Salsya."
"Ikut aku."
"Hah?" Aku terbelalak. Aku tidak menyangka dia akan mengajakku.
"Ayo," katanya. Dia sudah berdiri, danĀ mengulurkan tangan.
Kusambut tangannya, kuikuti langkah kakinya. Sampai kami benar-benar bertatap muka dengan Salsya.
"Hai," sapa Reza.
Perempuan itu tersenyum. Dia masih secantik dulu, seperti potret yang kulihat dalam foto album waktu itu.
"Sya, kenalkan ini Inara, calon istriku."
Jantungku berdetak, seperti tabuhan genderang perang. Rasa takut, cemas, khawatir, marah, dan segala perasaan buruk perlahan merasuk.
"Salsya," ucapnya dengan menjulurkan jabat tangan. Dan kusambut jabat tangannya dengan cengkeraman kuat.
__ADS_1
"Aw!" Dia kesakitan.
"Oh, sori," kataku. Masih untung tidak kupatahkan.
Reza hanya menggeleng melihat kelakuan barbar-ku. "Oh ya, ada apa?" tanyanya.
"Boleh tidak kalau kita ngobrolnya berdua?" pinta Salsya.
Reza menolehku, dan kupelototi dia, kode bahwa aku tidak mengizinkan.
"Sebentar, Sayang. Kamu tunggu di sini."
What? Dia tak mengindahkan penolakanku.
Mereka berjalan sedikit menjauh beberapa meter dariku. Bicara pelan. Aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Malahan, aku seperti kambing congek dibuatnya. Sementara Salsya meraih dan menggenggam tangan Reza, nampak memohon sesuatu. Tak lama, dia pun memeluknya dengan girang. Tanduk merah di kepalaku pun langsung mencuat.
Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Entah berapa detik, dia tidak melepaskan Reza dan Reza juga tak melepaskan diri darinya. Seolah lupa kalau ada aku di sana.
Mereka membuat darahku mendidih. Tanganku mengepal gemetar. Aku ingin melangkahkan kaki dan menyingkirkan wanita itu. Ingin kulempar tubuh mungilnya dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya. Ingin kupatahkan tangannya yang berani-beraninya memeluk Reza di depan mata kepalaku.
"Jangan," ucap Ihsan yang menahan lenganku. Seakan dia tahu betul apa yang ingin kulakukan pada wanita sialan itu. Eh? Sejak kapan Ihsan di belakangku? Aku tidak menyadarinya. "Tolong, tahan emosi, oke?"
Aku melotot. "Lepas!" kataku.
Aku kembali melihat ke depan, Salsya sudah beberapa langkah meninggalkan Reza yang masih berdiri kaku di sana. Sampai Salsya jauh, dan pergi dengan motornya. Ihsan pun melepaskan cengkeraman tangannya.
Reza menghampiriku, tepat di hadapanku. Tapi hening, tak ada satu ucapan pun keluar dari mulutnya. Wajahnya menunduk. Persis sesaat setelah ia mengangkat wajahnya, aku melayangkan tamparan keras ke pipinya. Aku marah, sebab di mataku dia bersalah, dia membiarkan wanita itu menggenggam tangannya, bahkan memeluk tubuhnya, tubuh yang dulu pasti sering saling menempel -- lekat bak prangko. Dan sekarang terjadi lagi, persis di depan mata kepalaku, wanita yang baru saja ia perkenalkan sebagai calon istri di depan mantan pacarnya itu.
Merasakan sakit, ia pun langsung mengelus-elus pipinya, bekas tamparanku.
Aku kesal. Rasanya serba salah. Semua yang terjadi salah. Yah, salah. Benar-benar salah. Aku melangkah mundur, belok, dan lari.
Sesampainya di kamar, kudapati Aarin yang sedang duduk di atas tempat tidur. Dia nampak bingung melihatku yang sedang menangis.
"Kalau ada yang datang, tolong jangan dibuka, ya. Siapa pun. Aku mau tidur. Oke?"
Aarin hanya diam, tak mengiyakan, nampak bingung dan tak mengerti. Aku langsung menyelinap ke dalam selimut. Kuambil ponsel dan earphone. Kuputar musik dengan volume full. Aku tak bermaksud mendengar musik, hanya untuk menghindari pertanyaan dan ajakan bicara dari siapa pun. Sebab, hatiku perih, sakit, aku marah pada Reza yang seolah menyiramkan air garam di lukaku yang masih menganga. Aku takut dia akan kembali pada masa lalunya, meninggalkan luka baru yang lebih dalam dari lukaku yang sebelumnya. Aku takut -- takut kalah.
Yeah. Awan hitam itu datang lagi. Dan...
Dan...
Gelap.
__ADS_1
Obat yang kuminum mulai bereaksi, rasa kantuk mulai merayap, menjalar, membuatku terlelap.
Terima kasih, telah menutup kisahku malam ini.