
Harus kuakui, setelah lama tak tersentuh olehnya -- rasanya luar biasa nikmat dan hangat seperti malam pertama -- meski proses bercinta kali ini hanya dari belakang plus dengan posisi miring dan sama sekali tidak ada gerakan kasar. Sebab, aku tiba-tiba menjelma seperti pengantin baru; seorang mempelai wanita yang masih malu-malu.
"Trims, Kesayangannya Mas Reza," dia berbisik dengan senyuman dan tatapan mata yang membuatku salah tingkah.
Bibirku pun langsung merekah karena sikap manisnya kepadaku, dan senyuman bahagia tak hentinya mengembang menghiasi wajahku malam ini. "Sudah dong, Mas. Kamu membuatku malu," kataku.
Reza beringsut, duduk bersandar bantal di tempat tidur seusai kami melepas kangen malam itu. "Aku ingin mengobrol denganmu," katanya. "Kita belum pernah benar-benar mengobrol sejak kamu pulang."
"Dengan senang hati," kataku pelan. Aku merapatkan diri ke pelukannya sambil menahan selimut supaya tetap menutupi tubuhku yang sudah tak terbungkus apa pun. Lalu kusandarkan kepalaku di bahunya. "Mau membicarakan apa?"
Dia mengedikkan bahu. "Apa saja," katanya. "Aku hanya tidak ingin cepat-cepat tidur. Terlalu banyak waktu terbuang tanpamu." Dia menatapku tanpa kedip, seperti mata lensa yang ingin merekamku dan mengabadikan aku ke dalam ingatannya. Aku mendapat kesan bahwasanya ia takut kalau kehangatan keluarga kecil kami ini hanya untuk sesaat. Seolah ini hanyalah mimpi, dan saat ia terbangun dari tidur -- kenyataan akan segera menyeretnya kembali ke dalam kesendirian yang menyiksa.
Aku yang merasa bersalah kepadanya langsung meraih dan menciumi punggung tangannya dengan sepenuh hati. "Aku minta maaf karena sudah meninggalkan kamu terlalu lama. Aku salah karena sudah mengabaikan kewajibanku sebagai istri. Maafkan aku, Mas."
Reza menegakkan bahu dan sedikit bergeser menghadapku. "Bukan salahmu. Aku yang salah. Aku terlalu pengecut. Tapi aku janji--"
"Ssst.... Berhentilah berjanji."
Reza menggeleng, lalu mengangkat tangannya dan menaruhnya di atas kepalaku. "Baiklah, kali ini aku bersumpah, dan aku tidak akan mengingkari sumpahku. Aku tidak akan memedulikan Salsya lagi, sekalipun ia ingin mati, aku tidak akan lagi menghiraukannya. Aku tidak akan lagi mempertaruhkan kebahagiaan keluarga kita."
"Sungguh?"
"Demi Tuhan. Biar aku mati kalau aku mengingkarinya lagi."
__ADS_1
Kuhela napas panjang yang menyesakkan dada -- sesaat setelah menurunkan tangan Reza dari kepalaku. "Jujur, aku sulit untuk percaya. Tapi aku mau kita mencoba untuk memperbaiki segalanya. Tepat di momen tahun baru, kita mulai menata hidup kita yang baru. Kamu mau kan berjuang bersamaku?"
"Tentu." Tanpa ragu ia menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
"Oh ya, omong-omong soal tahun baru, kita barbekyuan yuk besok malam? Ini tahun baru pertama kita."
"Baiklah. Apa pun untukmu, Sayang."
"Uuuh... Nara sayang Mas Reza."
Reza tersipu malu. Cute sekali. Tapi sejenak kemudian, dengan tampang ragu-ragu dan sambil menatap mataku, dia menelusupkan tangannya ke bawah selimut, menempelkannya di atas perutku. Aku bisa merasakan denyut nadi di pergelangan tangannya. Sepertinya denyut nadinya seirama dengan denyut nadiku sendiri. Kami kompak.
"Mas boleh pegang perut kamu?"
Dia mengangguk. "Selamanya."
Kami saling menatap beberapa saat, cukup lama sampai akhirnya Reza tidak segan lagi menangkup wajahku dan mencium bibirku dengan bebas. "I love you," bisiknya ke telingaku hingga membuatku merinding.
"I love you more."
"Terima kasih sudah mau pulang. Kamu tahu kan tanpa kamu kehidupanku terasa hampa? Kamu penyempurna hidupku."
Aku tersenyum karena kata-kata manisnya yang melambungkan. "Kamu mau sekali lagi, ya?"
__ADS_1
Reza terkikik. "Kamu kali yang mau lagi. Iya kan?"
"Aku mah ikut saja. Kalau kamu masih mau, aku siap meladeni."
"Sanggup?"
"Mmm-hmm, apa pun untuk kamu."
Reza menyunggingkan senyuman manis. Sambil mencium bibirku dengan lembut, dia merebahkanku perlahan dan mulai bermain di telingaku. Aku mulai menikmati sentuhannya ketika kaki kanannya berusaha merenggangkan kakiku dan menyelip di antara kedua pahaku, sementara tangannya mulai menyelinap ke dalam selimut lalu turun membelai perutku. "Selamat tidur. Mimpi yang indah."
"Ih, dasar kamp--" Ups! Untung mulutku sempat mengerem. "Kamu mempermainkan aku? Hmm?"
Reza tertawa geli. "Capek, Sayang."
"Jangan iseng juga, Mas."
"Siapa yang iseng? Aku mengelus anak-anakku. Kamu yang geer," sahutnya.
Aku manyun, tapi dia selalu punya cara sendiri untuk membujukku. "Besok lagi ya, sebelum subuh, shower time. Sekalian kita mandi bareng. Hmm?"
"Baiklah. Berarti besok harus bangun lebih cepat. Setelah subuh temani aku ke pasar. Aku mau beli jagung, mau beli daging, ayam, ikan, terus... sosis, dan lain-lain. Huh, tidak sabar rasanya."
Reza mendekat ke wajahku dengan senyuman dan tatapan mata yang nakal. "Ingatkan aku mampir ke apotik," katanya. "Aku harus punya suplemen yang kamu butuhkan."
__ADS_1
"Monyet!" kataku nyaris tanpa suara di antara bingar tawanya yang terbahak. Dia terlihat sangat bahagia. Dan aku bersyukur, kami tidak melewatkan akhir tahun yang indah ini dalam kesendirian, dan aku juga bersyukur karena kami bisa menyambut awal tahun baru pertama kami ini berdua -- bersama. Yeah, meski suasana tahun baru di tahun ini tanpa kemeriahan dan letusan kembang api. Barbekyuan berdua dengannya itu sudah lebih dari cukup bagiku.