CCI

CCI
20


__ADS_3

Aku terbangun karena mendengar suara Reza yang memanggil namaku dan mengetuk pintu kamar kost. Aku yang masih mengantuk berat berusaha memasang telinga baik-baik. Aku takut itu hanya khayalanku karena semalam aku terus membayangkan dia. Terlebih jam di ponselku menunjukkan hari baru jam tujuh pagi. Sempat kudengar dia bertanya pada tetangga sebelah, entah siapa, orang itu hanya menjawab bahwa dia tidak tahu. Tidak lama kemudian ponselku berdering, Reza mendengar nada dering ponselku. Pasti dia berpikir berarti aku ada di dalam, hingga dia mengetuk pintu lebih keras. Aku mengumpulkan tenaga untuk bisa bangun dan berdiri.


Reza sempat terdiam melihat keadaanku setelah pintu terbuka. Sementara itu aku ambruk lagi ke tempat tidur dengan posisi telungkup menutup wajah. Lalu dia mendekat, duduk di sampingku, dan bertanya kenapa.


Aku memiringkan tubuhku, menghadap ke arahnya. Kuisyaratkan dia agar diam dengan menempelkan jari telunjuk ke bibirku. "Aku tidur dulu, boleh?"


Dia hanya menganggukkan kepala dan setelah itu agak hening beberapa saat.


"Mas," panggilku. Itu pertama kali aku memanggilnya Mas tanpa rasa canggung. "Kamu lagi santai? Atau lagi sibuk? Ada pekerjaan?" tanyaku.


"Aku santai. Kenapa?"


"Aku mau meminta sesuatu. Tapi kamu jangan berpikir macam-macam. Jangan berpikir yang aneh-aneh tentang aku," kataku ragu-ragu.


"Mau minta apa?"


"Emm... tolong peluk aku. Aku mau tidur dalam pelukan kamu. Apa boleh?"


Dia bengong sesaat. Mungkin dia merasa permintaanku itu aneh, atau aku yang menurutnya aneh. Tapi dia tidak menolak dan tidak bertanya kenapa, hanya langsung merebahkan tubuhnya di sampingku.


Aku menggeleng. "Tidak jadi, aku belum mandi," kataku begitu tersadar dengan keadaanku yang lecek seperti uang kertas seribuan.


"Tidak apa-apa. Ayo, tidur."


Aku memutar dan memunggunginya, lalu ia memelukku dari belakang. Aku merasa hangat, tenang, nyaman, lalu tertidur nyenyak dalam pelukannya, dan terbangun sekitar dua jam kemudian.


Kupandangi wajah lelaki di sampingku itu saat rasa kantukku sudah hilang. Awalnya aku melihat kamu sebagai Reza Rahadian, tapi sekarang tidak lagi. Sekarang aku melihat kamu sebagai diri kamu sendiri. Sebagai lelaki yang aku cintai. Kamu memang setampan Reza Rahadian, tetapi bukan itu yang membuat aku jatuh cinta. Melainkan karena cara kamu memperlakukan aku dan cara kamu mencintai aku. Terima kasih atas semuanya, Mas. Terima kasih juga Tuhan, Engkau mengirimkan dia untukku.


Sejenak kemudian, sewaktu aku menyentuh wajahnya -- untuk pertama kali -- dia langsung terbangun. "Sori. Aku..."


"Tidak apa-apa," katanya. Dia meraih tanganku yang refleks kutarik saat menyadari dia membuka mata. Lalu menangkupkannya lagi tanganku ke pipinya.


Aku tersenyum. Aku suka bisa menyentuh wajahnya meski masih terasa canggung. "Tidur saja kalau kamu masih mengantuk," kataku.


Dia menggeleng, lalu bangkit, berganti posisi dari tiduran ke posisi duduk, "Sini," katanya, menyuruhku pindah ke bantal di atas pangkuannya. Aku pun menurut. "Sekarang kamu cerita, kamu kenapa? Ada apa?"

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa," kataku. "Cuma tidak bisa tidur saja semalam. Aku nonton film Reza Rahadian tiga film sekaligus. Selesai salat subuh baru bisa tidur."


"Kenapa kamu sampai tidak bisa tidur?"


"Emm... tidak kenapa-kenapa," kilahku.


"Aku tahu kamu kenapa-kenapa. Tidak mungkin kalau tidak ada sesuatu."


Aku diam, aku bingung harus mengatakan apa. Reza bukan anak kecil yang bisa dibohongi. Dengan mudah dia bisa menangkap ketidakjujuranku.


"Sayang? Ada hubungannya dengan ayahmu?" tebaknya dengan tepat.


Aku duduk, lalu menekan keras kepalaku dengan kedua telapak tangan. "Yeah, tapi aku bingung mau mulai cerita dari mana. Emm... gara-gara kemarin aku bertemu dia di resto, kebetulan karyawan kamu bawa barang-barang aku, ada pakaian kamu juga. Jadinya si beliau itu salah paham, dia mengira aku perempuan... tidak benar. Terus... dia juga bilang Bunda seorang ibu yang tidak becus mengurus anak-anak."


"Kalau cuma itu tidak perlu kamu pikirkan. Ayahmu mungkin tidak mengenal kamu."


"Iya, aku memang tidak mempermasalahkan itu. Terserah dia mau berpikir apa saja. Aku cuma tidak suka dia mengusik aku dan Bunda."


Reza mengangkat dua alisnya, keningnya mengerut. Tersirat raut kebingungan di wajah tampannya.


Bak disambar petir di siang bolong, dia terdiam mendengar jawabanku, ekspresinya kaku, dia sempat membisu. "Kamu sendiri, bagaimana? Kamu bersedia? Apa kamu menerima perjodohan itu?"


Hah? Aku terheran kenapa dia malah bertanya seperti itu. "Dia tidak berhak sedikit pun tentang hidupku. Jelas aku tidak mau. Aku sama sekali tidak peduli dengan perjodohan itu, Mas. Aku cuma kesal karena dia datang lagi ke dalam hidupku, cuma itu."


Reza tidak bergeming. Dia hanya menatap tajam padaku, seolah mencari-cari kejujuran dari dalam diriku yang bisa ia temukan lewat tatapan matanya.


"Mas?"


Aku kaget, secepat kilat dia menyergapku, kedua tangannya menahanku dengan memegangi leherku. Dia mel*mat bibirku dengan kuat, sampai terasa sakit dan membuatku tidak bisa bernapas, namun terpaksa kutahan. Meski aku tidak berusaha berontak, aku tidak bersedia membalas ciumannya. Aku bahkan enggan menikmati ciuman itu. Bukan ciuman seperti itu yang kuinginkan. Saat itu aku menangkap emosi yang bergemuruh dan begejolak di dalam jiwanya. Dia meminta maaf setelah melepaskan ciumannya dari bibirku.


"Mas... kamu jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku tidak akan pernah menerima perjodohan itu. Aku tahu kamu kecewa kan karena kamu merasa takdir ini terulang lagi dalam hidup kamu? Tapi aku bukan seperti mantan kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu hanya karena dijodohkan dengan lelaki lain. Aku bisa berontak. Dia sama sekali tidak berhak menentukan masa depanku. Aku hanya ingin bersama kamu."


Euwww! Dia masih diam terpaku tanpa respons, tetap memandangiku dengan tatapan yang sama.


"Tatap lagi nanti. Aku mau mandi," kataku. Aku baru hendak berdiri, tapi malah tertahan dan terguling karena Reza. Ada perasaan yang berkecamuk di dalam dadaku.

__ADS_1


Ayo, cium dia. Nikmati bibirnya yang menggairahkan itu. Kau juga penasaran kan dengan keseksian yang ada di balik pakaiannya itu? Lihatlah kekuatannya, Dia punya otot-otot yang kekar. Cusss! Lakukan. Dia akan membuatmu merasa terbang sampai ke surga. Bisik si setan kecil di telingaku.


Aku menelan ludah. Mati-matian aku mengontrol diri. Kutepis semua pikiran-pikiran aneh yang terlintas di otakku. "Mas...," panggilku pelan. "Jangan khilaf." Dan, kami malah terbahak-bahak.


"Ya sudah. Mandi gih," katanya.


Aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap, hanya rambutku yang masih terbungkus handuk. Lagi-lagi Reza membuat jantungku berdebar-debar dengan memelukku dari belakang, dengan sengaja ia menenggerkan dagunya di pundakku.


"Kamu deg-degan?" tanyanya usil.


"Emm... sedikit."


"Rileks. Aku hanya ingin memelukmu."


"Kangen, ya?"


"Sangat. Kangen sekali. Rasanya berat kalau harus menunggu akhir bulan yang masih lama. Apalagi...." Dia mengedikkan bahu dan suaranya jadi parau. "Andai saja kamu mau pulang lebih cepat. Kita bisa segera bertemu Ibu dan Bunda."


"Kamu takut? Kamu tidak percaya padaku? Hmm?"


"Bukan," katanya. "Aku cuma takut takdir tidak berpihak padaku. Aku takut kehilangan kamu," katanya nampak pesimis.


Aku melepaskan diri dari pelukannya, lalu memutar tubuhku menghadapnya. Kuraih tangannya dan menggenggam tangannya degan kuat. "Mas, kamu ingatkan kamu pernah berjanji kalau kamu akan memperjuangkan aku? Tolong bilang kalau kamu pasti akan menepati janji itu?"


Reza melepaskan tangannya dari gengggamanku dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya, lalu mengecup keningku dengan lembut. "Aku masih ingat, dan aku masih berpegang teguh pada janji itu. Aku akan memperjuangkan kamu sampai akhir. Apa pun yang merintangi, aku akan tetap berusaha memperjuangkan kamu. Akan selalu memperjuangkan kamu. Aku janji." Lalu ia mendekapku dalam pelukannya, kami cukup lama dengan posisi seperti itu.


"Omong-omong, kenapa kamu tidak bilang kalau mau ke sini?" tanyaku.


"Sengaja. Aku mau memberi kamu kejutan. Tapi malah aku yang tekejut pagi-pagi melihat kamu seperti tadi. Biasanya kamu sudah bangun, sudah mandi, malah biasanya sudah dandan rapi."


"Oh," sahutku singkat.


"Aku beberapa hari di sini, terus nanti mau ke Solo. Empat atau lima hari lagi." Reza melepaskan pelukannya lalu menatapku. "Kamu ikut, ya? Temani aku. Mau?"


"Kenapa kamu minta ditemani? Tidak bisa jauh-jauh dari aku? Kangen terus, ya?"

__ADS_1


"Aku tidak perlu jawab," katanya. Dia menyentuhkan keningnya di sisi kepalaku dan berbisik, "Kamu tahu jawabannya. Aku ingin selalu bersama kamu."


__ADS_2