
Sayangnya, euforia hari kemerdekaan itu hanya berlangsung sesaat bagiku. Karena nyatanya kehidupanku belum merdeka. Semenjak mendengar suara bel sore itu, kehidupanku kembali mendung, awan hitam itu datang lagi.
"Biar aku yang buka pintu," kata Reza.
Sewaktu aku hendak naik ke lantai atas untuk membersihkan diri, aku penasaran sebab tidak mendengar suara siapa pun di ruang tamu. Aku pun mengeceknya ke luar. Dan...
"Hai."
Aku terkejut begitu melihat Salsya berdiri di teras rumah kami. "Kamu? Kenapa bisa ada di sini?"
Salsya tidak menjawab. Aku pun langsung mengalihkan pandanganku ke Reza. "Kamu yang mengundangnya, Mas?"
Reza menggeleng.
"Aku tahu dari tag location postingan di instagram Aarin. Dan aku lihat mobil kalian terparkir di sini."
"Oh, lalu? Mau apa?"
"Aku... aku mau bertemu Reza."
"Ada apa? Ada yang ingin kamu bicarakan? Katakan saja," cerocosku.
Salsya tidak menyahut, dia melirik ke Reza seolah meminta pengertian darinya. Dia ingin bicara berdua dengan Reza, tanpa aku. Reza pun menurut, dia memintaku masuk.
"Tidak mau. Aku tidak akan mengizinkan kamu berduaan dengan perempuan lain."
Tetapi Reza malah meraih tanganku dan mengajakku masuk. "Sebentar, Sya," katanya.
Sama seperti dulu, aku tidak suka Reza bersikap lembut pada Salsya. Walau sebenarnya aku tahu seperti itulah karakter Reza, dia tidak mungkin bersikap kasar terhadap perempuan.
"Sudah empat bulan, dan kita sama sekali tidak pernah bertengkar semenjak kita menikah. Kita bahagia, kan? Kenapa harus merusaknya hanya karena kehadiran Salsya? Kamu tidak ingin kan Ihsan melihat hal buruk dalam rumah tangga kita?"
Kenapa? Kenapa aku yang harus mengerti? Ini membuatku sesak. "Kenapa aku tidak boleh dengar? Aku berhak, kan? Aku istrimu," ujarku yang hampir menangis karena penolakan Reza.
"Aku tahu. Tapi dia tidak akan bicara bila ada kamu. Bukankah itu lebih rumit? Mengharuskan kita menghadapinya lebih lama, iya kan?"
Usir saja. Ingin sekali aku mencetuskan dua kata itu. Tapi itu tidak akan berarti apa-apa, hanya akan memperpanjang perdebatan antara aku dan Reza.
"Tidak perlu memikirkan ini. Kamu naik, bersih-bersih. Siap-siap salat, sebentar lagi magrib. Aku menemui Salsya dulu. Dia juga pasti bertanya-tanya apa maksud ucapan kamu tadi. Karena dia tahunya kamu setuju--"
Aku mengangguk-angguk dengan tidak jelas karena kesal dan tidak punya pilihan. Atau ada? Mengamuk seperti orang gila untuk mengusirnya?
"Diamlah," potongku. "Aku--"
Tidak ada lagi kalimat yang bisa terucap. Aku naik ke lantai atas sembari mengusap air mata -- air mata pertama yang terlahir dari sakit hatiku -- dalam masa pernikahan kami yang baru seumur jagung.
__ADS_1
Sewaktu aku selesai mandi, Reza sudah ada di kamar, dia berdiri di pintu balkon dengan dua tangan terlipat di dada.
"Apa dia sudah pergi?" tanyaku.
Reza berbalik, lalu menggeleng. "Ini sudah malam. Izinkan dia bermalam di sini, ya?"
"Kamu meminta izin atau memberitahuku?"
"Aku...," Reza diam sesaat. "Meminta izinmu," katanya.
"Aku tidak mengizinkan. Ini Jakarta. Ada banyak hotel di sini."
"Sayang, dia takut kalau bermalam di hotel. Kamu kan tahu sendiri--"
"Persetan dengan traumanya. Kenapa aku harus peduli? Heh? Kenapa?"
Aku mulai mengamuk lagi, sementara Reza tidak bergeming, tapi dia juga tidak mencoba mengerti dan menuruti kemauanku.
"Oh, oke. Silakan jika kamu mau dia bermalam di sini. Aku cukup sadar diri. Aku sadar ini rumah kamu. Kamu berhak menentukan siapa pun untuk tinggal di sini." Kutinggalkan Reza, aku masuk ke ruang ganti dan menguncinya dari dalam.
Reza berusaha membujukku untuk keluar dan bicara baik-baik dengannya. Tetapi aku menolak dengan berteriak-teriak menyuruhnya keluar dari kamar.
...♡♡♡...
Aku mengiyakan dan membukakan pintu untuknya. Lalu seperti biasa, dia menasihatiku -- seperti biasanya. "Aku bukannya ingin ikut campur," ujarnya. "Tapi tidak baik memperlihatkan keadaan buruk rumah tanggamu di depan orang lain. Lagipula Mas Reza kan suamimu, kamu berhak menempelinya dua puluh empat jam, jangan memberikan celah untuk orang lain."
Celah? Celah apanya? Aku mendengus. "Mas Reza bahkan membukakan pintu lebar-lebar untuk perempuan itu. Bukan sekadar celah."
"Tapi dia milikmu. Kamu harus menjaga milikmu baik-baik. Dan dengar, aku tahu kamu tangguh dan sangat keras kepala. Aku juga tahu plus mengerti amarahmu. Tapi bersikap sedikit lunak dan butuh perlindungan -- kadang-kadang diperlukan, supaya lekakimu itu bisa menempatkan diri sebagai pelindung, bukan orang yang harus selalu kamu salahkan. Jadi, cairkan sedikit egomu. Oke?"
Aku menggeleng. "Bersikap seperti Salsya?"
"Terserah kamu menyebutnya apa. Tapi tidak ada salahnya mencoba. Lagipula, dia kan suamimu. Tidak ada salahnya bersikap seperti itu pada suami sendiri."
Yah, Ihsan benar. Justru Salsya yang tidak seharusnya bersikap seperti itu pada suamiku. "Baiklah. Akan kupikirkan." Ihsan mendelik. "Iya, akan kucoba, oke?"
Setelah kuiyakan, barulah Ihsan tersenyum. "Sini," katanya sambil menarikku ke dalam pelukannya. "Kamu sekarang sudah menjadi istri loh, masa selalu butuh nasihatku dan aku harus selalu memelukmu?"
Ucapan Ihsan membuatku malu. Sambil nyengir kukatakan, "Aku janji, akan berusaha bersikap lebih baik."
Ihsan lega, lalu melepaskan pelukannya. "Menurutku tidak ada salahnya meminta maaf duluan. Tapi terserah padamu. Yang penting kalian harus berbaikan, terserah siapa yang meminta maaf duluan."
Aku mengangguk. "Aku akan turun nanti," kataku.
Ihsan mengerti, dia pun mengangguk dan langsung permisi keluar dari kamarku.
__ADS_1
Tetapi, aku butuh waktu beberapa menit untuk menimbang-nimbang; apa sebaiknya aku yang keluar menemui Reza dan meminta maaf padanya, atau aku diam saja di kamar menunggunya datang. Tetapi seketika whatsapp dari Mayra membuatku bergegas turun.
》Reza sedari tadi di ruang salat, dan Salsya sudah mondar-mandir + bolak-balik ke sana, menunggu Reza keluar. Kalau boleh kusarankan, kamu jangan lengah. Maafkan suamimu. Aku tahu dia tidak pernah sengaja berniat menyakitimu. Dan, bagaimanapun juga dia itu imammu. Jaga sikapmu, ya.
《Yeah. Aku turun. Trims, May.
Sewaktu aku turun, Mayra dan Alfi tengah membujuk Tirta makan di meja lesehan di ruang makan, mereka langsung melirik ke arahku sewaktu aku menuruni anak tangga, karena antara koridor dan ruang makan itu plong -- tidak disekat dinding sama sekali. Pun pintu kaca di sisi kolam juga dibuka lebar-lebar. Rasa-rasanya waktu itu aku hanya melewati dan melihat mereka sekilas, tidak tersenyum apalagi bicara dengan mereka. Ketika aku memasuki ruang tamu, ada Salsya di sana, dia berdiri di dekat pintu ruang salat -- menunggu Reza. Saat itu aku berhenti sejenak, meski tidak bicara tapi jelas aku melotot dan menunjukkan muka masam kepadanya. Dan saat itulah aku melihat kalung di lehernya -- dengan model dan liontin yang sama persis seperti milikku. Aku pun langsung merabai leherku, memastikan kalungku masih berada di tempatnya. Itu bukan kalungku. Tapi bagaimana bisa kalung itu sama persis dengan milikku?
"Permisi, aku--"
Entah apa yang ingin dikatakan Salsya, aku tidak mau mendengarnya. Kubuka pintu ruang salat itu, aku masuk dan menutupnya kembali. Reza tengah salat isya waktu itu, sudah hampir selesai. Dia langsung menolehku begitu ia selesai salat.
"Sini," katanya.
Aku langsung menyuruk -- sungkem dan menciumi tangannya. Kutekan dalam-dalam semua rasa gengsiku. Dan aku lega ketika Reza menyentuh dan mengelus kepalaku dengan tangan satunya.
"Aku minta maaf," kataku. Aku tidak bisa mengucapkan kalimat permintaan maaf sepanjang rangkaian kata-kata yang biasa kutulis dalam novel. Tiga kalimat itu saja rasanya aku membutuhkan tekad bulat-bulat untuk membuka mulutku. Aku memang gengsian, terlebih sebenarnya aku merasa bukan aku yang bersalah dan seharusnya bukan aku yang meminta maaf duluan. Tapi sudahlah, kuangkat kepalaku dan aku minta maaf lagi beberapa kali. "Apa kamu marah padaku?"
Tidak. Aku tahu dia pasti bilang tidak. Please... kumohon katakan tidak.
Reza geleng-geleng kepala dan tersenyum sedikit. "Tidak. Tidak pernah dan tidak akan pernah." Dia menangkup wajahku dan meminta maaf -- juga -- padaku. Lalu mencium keningku. Kami berpelukan cukup lama untuk melebur rasa pahit yang ditimbulkan Salsya -- sebelum keluar dari sana karena perut Reza keroncongan, dia lapar.
"Makan, yuk? Aku lapar."
Aku mengangguk. Kami berdiri dan langsung ke dapur, dan makan di tepi kolam, tanpa meja, sambil mencelupkan sebelah kaki ke dalam air. Sembari bercanda dan menggosok-gosokkan kakinya ke kakiku, Reza tetap telaten menyuapiku, seperti dulu sebelum kami menikah. Karena selama di kampung kami tidak bisa bermesraan di luar kamar, sebab Reza malu jika ibuku melihat kami bermesraan.
"Mas, aku..."
"Apa? Katakan."
"Aku mau tanya sesuatu. Tentang... kalungnya Salsya."
"Bukan pemberianku," jawabnya cepat. "Aku jujur. Tolong percaya. Sumpah, itu bukan pemberianku. Demi Tuhan, aku jujur, aku tidak membohongimu sedikit pun. Percaya padaku, ya?"
"Bagaimana dengan foto di dalamnya? Apa dia memasang foto kamu?"
Reza diam dan menaruh piring ke atas meja terdekat -- sejangkauan tangannya. Jelas dia bingung harus menjawab apa. Jujur salah, bohong apalagi. Tapi pada akhirnya dia mengangguk. Dia membenarkan tebakanku. Katanya Salsya memasang foto mereka zaman mereka pacaran dulu. "Aku sudah bilang kalau aku keberatan, karena aku tidak mau melukai kamu. Tapi aku juga tidak bisa memaksa Salsya untuk memberikan sedikit pengertiannya untuk kamu. Aku..."
"Sudah. Bukan salah kamu." Aku mengangguk dan menelan ludah getir. "Aku... akan kucoba untuk mengerti. Bukan, maksudku akan kucoba untuk sabar. Sedikit."
Lagi-lagi Reza tersenyum lega. "Huh! Tidak apa-apa. Lebih baik sedikit, daripada tidak sama sekali." Reza mengangkat kedua kakiku ke atas pahanya dan menarikku ke dekatnya, sehingga tubuh kami saling menempel. Waktu itu Reza baru hendak menciumku, tapi percikan air dari benda yang terlempar dari atas balkon mengagetkan kami. Alfi dan Mayra cengengesan dari atas sana.
Dalam detik bersamaan, aku tidak sengaja melihat Salsya berdiri di balik dinding. Tapi aku pura-pura tidak melihatnya dan tidak menggubrisnya. Kubiarkan Reza menciumku, bahkan aku sengaja membalas dan menikmati ciuman itu. Aku ingin Salsya melihatnya dan menyadari bahwa Reza itu milikku. Dan aku sangat puas ketika melihat Salsya mengepalkan tangan saat Reza mencumbui leherku, aku tahu dia cemburu. Sakit, kan? Itu juga yang seringkali kamu lakukan, Sya.
"Sayang, ke kamar, yuk? Kita akhiri cerita buruk hari ini. Emm?"
__ADS_1