
Dimas mengaktifkan led projektor saat kami menyantap makan malam. Suasana makan malam yang sama seperti dua malam sebelumnya, di meja panjang dekat kolam, hidangan yang beraneka macam, dan lampu kerlap-kerlip yang berwarna-warni. Malam itu dia akan memutar beberapa video yang terekam dari kamera canggihnya.
Video pertama, mempertontonkan wajah Raline yang pucat pasi setibanya mereka di bandara, itu pengalaman pertama Raline naik pesawat, dia merasa cemas di sepanjang perjalanan.
Video kedua, video sewaktu Reza digerayangi para lelaki saat bermain game tempo hari. Sungguh menggelikan.
Kemudian video ketiga, video Zizi yang sedang ketakutan karena dijahili Dimas yang memutar suara tawa setan dari ponselnya di tengah malam. Zizi sangat penakut pada semua hal-hal yang berbau horor, aku juga sih, tapi sejauh ini Reza belum tahu tentang itu.
Video selanjutnya, video saat aku dikerjai, saat sepupu-sepupuku membiusku, merobek-robek pakaianku, lalu menorehkan pewarna merah yang menyerupai darah di seprai dan celanaku. Dalam video itu mereka tertawa terpingkal-pingkal sambil berjoget-joget. Begitu pun mereka yang menonton tayangan video itu tertawa senang bukan kepalang. Kecuali Reza yang hanya tersenyum tapi tak ikhlas.
Lalu video saat Raheel yang terjengkang masuk kolam karena terlalu fokus pada kamera, sementara kakinya memijak sesuatu yang membuatnya hilang keseimbangan.
Kemudian video Alfi dan Hengky yang dicium banci saat tiduran di tepi pantai. Hanya Dimas yang tahu kejadian itu sebelum video itu ditayangkan olehnya.
Lalu, video terakhir, yang merupakan surprise luar biasa bagi semua penonton. Video saat Ihsan menyatakan cintanya pada Aarin di balik batu karang di tepi pantai. Aarin yang menerima cintanya langsung mendapatkan hot kiss dari Ihsan. Aarin pun tak ragu membalas ciuman itu. Semua orang berteriak histeris menyaksikannya. Seketika pipi si gadis manis itu bersemu merah. Wow sekali. Aku pun ikut cengar-cengir dibuatnya.
Video-video itu dikemas apik oleh Dimas, dengan backsong dan emoticon-emoticon yang benar-benar pas. Yang lucu jadi semakin lucu, dan yang manis menjadi lebih manis. Tentu saja, Dimas harus menerima konsekuensi dari setiap orang yang ia tayangkan "aib lucu"-nya, tidak hanya umpatan liar, tapi juga pukulan gemas dari tiap orang setiap kali video berakhir satu persatu. Pun dari istrinya sendiri, Zizi, yang mencekiknya karena gemas saat tahu dia hanya dikerjai oleh suaminya sendiri. Padahal waktu itu dia jadi tidak bisa tidur sama sekali hampir semalaman.
"Masih ada satu video lagi, nih," ujar Dimas. "Tonton sampai kelar, wajib."
Awalnya semua orang antusias, tapi jadi melempem saat melihat aku menyanyikan lagu Kesepian milik Dygta, karena memang semua orang bahkan sudah menyaksikan sendiri -- secara langsung alias live -- saat aku bernyanyi di resepsi Zia, kecuali Aarin. Bahkan aku sendiri jadi tak seantusias seperti beberapa detik sebelumnya.
"Sori, Bro," terdengar suara Ari dalam video itu. Saat itulah semua orang kembali antusias. Sementara Reza yang awalnya bersender, mulai menegakkan bahu, siap-siap jadi bahan tontonan.
"Sepertinya lo benar-benar tidak punya kesempatan mendekati Inara. Mas Hengky baru bahas sedikit tentang lo, Inara sudah -- ya begitu, dibilang marah tidak juga, sempat mengoceh sih, terus kabur ke kamar."
"Percuma dong gue ke sini? Hmm... ya sudahlah, mau bagaimana? It's ok," kata Reza.
Dalam video itu, Reza yang memang sedari awal sudah memegang gitar -- langsung mengalihkan rasa kecewanya dengan lanjut bernyanyi, tanpa tahu kalau yang dilakukannya itu terekam kamera. Dimas saat itu pura-puranya hanya memegang kamera, tidak menunjukkan kalau dia sedang merekam seseorang yang sedang patah hati dan menelan getirnya sebongkah rasa kecewa hanya karena perasaannya tak tersambut. Reza menyanyikan lagu Perasaanku versi Adista atau dengan judul Pemujamu versi Mafia Band. Dalam video itu Dimas menyelipkan beberapa fotoku dengan berbagai ekspresi, ekspresi saat aku tertawa sampai ekspresi saat aku sedih. Awalnya Dimas merekam momen itu hanya karena dia suka Reza menyanyikan lagu-lagu pop dalam versinya -- versi Reza Dinata. Tapi siapa mengira kalau yang dilakukannya itu justru berguna sebagai bahan hiburan bagi semua orang.
Reza hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum menahan malu karena dijadikan bahan tontonan. Sementara aku mati-matian menahan bibirku supaya aku tidak kelepasan menertawainya. Padahal sumpah, perutku sampai keram karena Dimas mengedit video itu dengan efek emoticon tangisan yang lucu.
Dengan inisiatifku sendiri, kuambil gitar dari Ihsan yang duduk selang satu kursi dariku. Demi menghibur Reza yang sudah mati gaya di depan semua orang, kunyanyikan lagu Menemukanmu milik Seventeen, tapi dalam versi lebih slow.
Separuh langkahku saat ini
__ADS_1
Berjalan tanpa terhenti
Hidupku bagaikan keringnya dunia
Tandus tak ada cinta
Hatiku mencari cinta ini
Sampai kutemukan yang sejati
Walau sampai letih ku kan mencarinya
Seseorang yang kucinta
Ho... oooh...
Kini ku menemukanmu
Di ujung waktu ku patah hati
Cinta yang selamatkan hidupku
Kini ku telah bersamamu
Berjanji tuk sehidup semati
Sampai akhir sang waktu
Kita bersama tuk selamanya
Lagu itu sukses mengalihkan perhatian semua orang kepadaku. Tepukan meriah pun langsung menyambutku saat lagu itu berakhir.
Fiuhhh... walau sebenarnya aku gugup, tapi aku tetap nekat menyanyikan lagu berikutnya, Halalkan Aku dalam versi dangdut koplo, sebuah lagu yang berhasil memecah malam, semua orang ikut bergoyang. Ihsan yang pernah latihan menyanyi lagu itu denganku, langsung mengambil posisi sebagai kang gendang, padahal yang ia pukuli cuma toples besar berisi kerupuk. Tapi yang membuatku tak akan pernah lupa adalah reaksi Reza yang menyawerku dengan beberapa lembar si pink ber-nol lima, sebuah pengalaman yang menyenangkan, manis, dan lucu untuk dikenang. Suatu momen manis yang tercipta karena kenekatanku.
"Lagu terakhir, yuk semua cewek-cewek, ikut jingkrak-jingkrakkan," kataku. Kulirik Reza yang menggelengkan kepala dengan senyum lebarnya, lebih tepatnya dia tertawa. "Mas, sini," ajakku. Dia pun mendekat.
__ADS_1
Kunyanyikan lagu Lelakiku milik Melly Goeslaw, dengan sound speaker bervolume kencang hampir memecah gendang telinga. Masa bodohlah, khusus malam itu, seorang Reza Dinata melihat sisi lain dalam diri Inara Satria. Tapi, meski begitu, dia tetap Reza-ku, yang mencintaiku dengan segala kegilaan dan ketidak normalanku.
Atau mungkin dialah yang membuatku yang gila ini jadi semakin menggila? Mungkin.
Ups! Hujan -- pesta pun bubar.
"Ayo," ajakku sambil melangkahkan kaki. Tapi langkahku terhenti, kurasakan satu tangan Reza menarik tubuhku. Aku tersentak, tubuhku bergetar. Bukan karena tangan kirinya yang melingkar erat di pinggangku, ataupun tangan kanannya yang memeluk erat dari atas pundakku. Melainkan karena deru napasnya yang memburu menyapu telinga, juga sentuhan bibirnya yang lembut di tengkuk leherku, aku meremang, ciuman itu terasa hangat -- aku nyaris tak merasakan dinginnya hujan yang membasahi seluruh tubuh. Aku bahagia, sangat bahagia. Seperti ada sejuta kupu-kupu beterbangan menemani malam indah itu.
"Terima kasih," ucapnya.
"Untuk?"
"Segalanya."
"Katakan lebih spesifik."
"Terima kasih atas cinta yang kamu berikan untukku. Terimakasih telah membuatku bahagia, khususnya kebahagiaan yang kurasakan saat ini, semuanya karenamu."
Aku baru saja ingin merespons, tetapi alunan nada Tum Hi Ho menarik perhatianku. Kuarahkan mataku ke sumber suaranya. Aarin, gadis manis itu yang memutarnya. Dia mengisyaratkan kami untuk berdansa.
"Mau berdansa denganku?" tanya Reza. Terbujuk idenya Aarin.
"Dancing in the rain?"
"Yes, please?" katanya memohon.
"Oke. Aku mau."
Kurang lebih lima menit. Kukira pertunjukan malam itu sudah selesai, ternyata belum.
"Foto dulu satu kali dengan pose ini," kata Aarin. Dia menunjukkan pose ala Hrithik Roshan yang seakan ingin mencium Priyanka Chopra dalam film Agneepath. Aku berdiri di hadapan Reza sambil memejamkan mata.
"Fotonya akan lebih uwuww kalau Mas Reza lepas baju," seru Aarin tanpa malu, yang seketika dituruti oleh Reza.
Ihsan hanya tertawa melihat tingkah kekasihnya. Tentu saja, seperti Reza yang mencintaiku dengan segala kegilaanku, seperti itu juga cinta Ihsan terhadap Aarin. Yeah, karena cinta tumbuh dari dua pribadi yang memiliki banyak kesamaan. Ya kan?
__ADS_1